| XOXO SONGFIC SERIES | PETERPAN

 

peterpan

XOXO songfic series

Title : Perterpan

Author : HCV_2 | Main cast : Song Haneul – Kim Joonmyeon

Length : Ficlet | Genre : Romance, sad | Rating : T

Song : EXO – PETERPAN

Poster by Elevenoliu @Cafeposter

“It’s not going to be the end of our story
Because I’m going to meet you again”

Kubuka buku catatan yang sudah usang ini, halaman terbuka

Dan masih terlukis dengan jelas, gambaranmu disana

Bergetar tubuh ini, saat memori tentangmu yang selama ini kulupakan kembali menyapa

Ini sungguh menyedihkan, karena aku tidak bisa kembali ke masa itu

 

― Busan, 12 Mei 2014. 07.00 KST ―

 

Sinar hangat matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah jendela sebuah kamar yang benuansa serba putih. Disebuah rumah kecil minimalis yang pagi itu nampak sangat sepi. Hanya terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Tak berapa lama pintu kamar mandi itu terbuka. Menampakkan sesosok namja tampan dengan kaos putih dan celana jeans sepanjang lutut.

Joonmyeon mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sembari berjalan mendekati jendela kamarnya. Ia sibak korden kamarnya, membuat pemandangan desa diluar jendela terlihat jelas. Pemandangan yang asri dengan banyak pohon dan bunga yang bermekaran. Pemandangan musim semi yang jelas terlihat begitu berbeda dengan yang biasa ia lihat diSeoul. Namja berambut kecoklatan itu tersenyum sambil memejamkan mata merasakan terpaan hangat sinar matahari pagi dikulitnya. Sudah hampir satu tahun ia tidak datang ketempat itu. Tempat yang telah membuat kenangan yang begitu berarti dalam kisah percintaannya.

“Aku rindu tempat ini” gumam Joonmyeon seraya mengedarkan matanya memperhatikan kamar sederhana itu. Tak ada yang berubah, ia merasa seakan kembali kemasa 2tahun lalu. Masa ketika ia masih bersama kekasihnya. Setiap musim semi ia dan kekasihnya selalu menyempatkan mengunjungi rumah itu untuk berlibur sekaligus mengunjungi kampung halaman kekasihnya. Bermain dikamar itu, berjalan-jalan didesa, semua kenangan itu masih begitu terasa. Seolah baru terjadi kemarin.

Joonmyeon menghela nafas lalu tersenyum kecut. Ya itu semua kini hanya sebuah kenangan. Kenangan indah yang tidak tahu kapan akan ia rasakan lagi. Joonmyeon lingkarkan handuk kecilnya dileher lalu berjalan kearah rak buku. Ia memang sudah membayar orang untuk membersihkan rumah itu 2 minggu sekali, tapi mau bagaimana pun rumah itu tak berpenghuni jadi akan lebih mudah berdebu. Ia tiup debu yang menutupi album photo berwarna coklat ditangannya. Joonmyeon tersenyum lalu dengan antusias membawa buku itu kesofa didekat jendela.

Senyum Joonmyeon mengembang ketika melihat photo seorang gadis cantik di album itu. Seorang gadis yang mampu membuat jantung Joonmyeon berdetak cepat ketika melihat senyumnya. Seorang gadis yang dulu sempat mengisi hari-harinya.

Ia buka lembar demi lembar album photo yang menyimpan setiap kenangannya dengan kekasihnya itu. Namun semakin lama senyum manis diwajahnya memudar. Mengingat semua kenangan itu entah kenapa membuat hatinya terasa perih. Kini mereka sudah tidak bersama lagi dan Joonmyeon tahu ia tidak akan pernah bisa kembali kemasa itu. Tapi ia rindu, sangat rindu pada gadis yang hingga saat ini masih mengisi relung hatinya itu. Ia akui sudah 2 tahun mereka berpisah tapi ia belum juga bisa melupakan gadis itu. Terlalu sulit karna Joonmyeon terlalu mencintainya.

“Andai kita bisa bertemu lagi Haneul. Sekali saja..” lirih Joonmyeon pelan sembari mengusap salah satu photo close up gadis bernama Haneul itu. Mengusapnya lembut seolah itu adalah wajah asli Haneul. Tanpa sadar airmata sudah jatuh membasahi wajah tampannya. Namun seketika ia tersentak saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya.

“Myeonnie!!! Apa kau sudah selesai?!”

Terdengar suara cempreng seorang gadis dari luar kamarnya. Joonmyeon meringis seolah baru saja ingat akan sesuatu ia menepuk dahinya. Tanpa menjawab Joonmyeon segera mengusap airmatanya lalu meletakkan kembali album photo yang ia pegang dirak.

“Myeonnie!! Kau sedang apa? Aku masuk ya?”

Teriak gadis itu lagi yang sontak membuat mata Joonmyeon membulat. Tentu saja! Ia sedang ganti baju, bisa gawat kalau gadis itu masuk.

“Tidak Jihan! Jangan masuk dulu. Aku belum selesai” jawab Joonmyeon sambil membongkar isi kopernya mencari baju.

“Apa? Belum selesai? Kau ini laki-laki atau perempuan eoh? Dandannya lama sekali, tsk

“Maafkan aku, tapi sebentar lagi aku akan keluar”

“Issh, ya sudah. Awas ya 5 menit lagi kau habiskan waktumu hanya untuk menangis, akan ku dobrak pintu ini”

Joonmyeon seketika diam. Bagaimana gadis itu kalau tadi dia tadi menangis? Apa tanpa sadar ia sudah terisak keras hingga terdengar sampai keluar kamar? Tidak. Ini pasti karna Jihan sudah 10tahun menjadi sahabatnya. Gadis itu sudah sangat mengenal Joonmyeon dan sudah 2 tahun ini ia selalu menemani Joonmyeon di hari peringatan kematian kekasihnya seperti sekarang. Jihan sudah hafal ritual menangis Joonmyeon. Karna itu dia tahu.

Joonmyeon tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya, “Dasar bocah itu. Aku yang seharusnya tanya dia itu laki-laki atau perempuan”

 

Terbang bersama Tinkerbell akan ku temui dirimu di Neverland bersama semua kenangan ini

Ditempat itu, dimana kita bisa kembali saling memandang dan tersenyum

Aku akan menjadi Peterpanmu, Lelaki yang berhenti ditengah waktu

Aku akan selalu bersamamu dan selalu mencintaimu, meski canggung kadang menyapaku

 

 

― Busan, 25 Januari 2010. 14.00 KST ―

 

[Joonmyeon pov]

Hari sudah cukup siang tapi udara dingin masih sangat terasa. Bahkan hanya dengan sekali menghela nafas mulutku sudah mengeluarkan asap putih yang mengepul. Aku merapatkan mantelku untuk mengurangi udara dingin yang sejak tadi sudah menusuk-nusuk kulitku. Disinilah aku, disebuah persimpangan jalan kecil sedang menunggu seseorang. Seseorang yang baru kemarin aku temui. Seorang gadis berambut panjang yang sejak pertama kali bertemu sudah berhasil memikat hatiku.

Aku tidak tahu namanya, aku tidak tahu dimana ia tinggal, aku sama sekali tidak mengenalnya. Ini pertama kalinya aku kedesa ini lagi untuk berlibur terhitung sejak 5 tahun yang lalu. Dan kemarin saat aku dan sahabatku Jihan berjalan disekitar jalan ini aku tidak sengaja ditabrak oleh seorang gadis bersepeda. Seorang gadis yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan sekarang, aku menunggu disini berharap aku bisa bertemu dengannya lagi. Jihan bilang aku sudah gila, tapi sungguh ini pertama kalinya aku bertemu dengan gadis yang sejak awal hanya dengan tatapannya saja sudah membuat jantungku berdebar kecang. Sensasi yang belum pernah aku rasakan bahkan selama 3 kali aku berpacaran sebelumnya. Aku tahu gadis itu special.

“Ahh ini sudah lewat 30 menit dari jam kemarin. Apa yang Jihan katakan benar kalau dia tidak akan lewat sini lagi?” ucapku sambil melirik jam tanganku. Kemarin aku bertemu dengannya yang sedang memakai seragam sekolah. Aku pikir mungkin ini adalah jalur pulangnya dari sekolah. Tapi sudah lewat setengah jam, dan ia belum juga datang. Apa penantianku akan sia-sia?

Sedikit khawatir dan putus asa, aku menerawang ke sekelilingku. Hingga akhirnya samar-samar dari arah yang berlawanan aku lihat seorang gadis tengah berjalan sendirian. Aku menyipitkan mataku untuk memastikan. Dan ketika mantel gadis itu tertiup angin, bisa aku lihat ia memakai seragam yang sama dengan gadis yang kemarin. Seketika senyumku mengembang, merasa bahagia karna usahaku sepertinya akan membawa hasil.

Aku mulai gugup, gadis itu sudah semakin dekat. Apa yang sekarang harus aku lakukan? Menyapanya sambil tersenyum lalu mengatakan kalau aku yang kemarin ia tabrak? Atau berpura-pura tidak tahu, menabraknya ketika berjalan dan bersikap seolah semua hanya kebetulan?

Tapi diluar dugaan. Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Membuatku harus berlari untuk mencari tempat berteduh. Sambil berlari aku mengumpat. Padahal tinggal sedikit lagi kan? Aisshhh..

 

Bugh

 

“Aduh!”

“Astaga. Apalagi ini? Sudah cukup sial karna rencanaku gagal hanya karna hujan. Sekarang aku harus jatuh digenangan air karna ditabrak seseorang? Lengkaplah sudah penderitaanku” aku mengumpat kesal tanpa memperdulikan orang yang menabrakku dari belakang itu. Sampai akhirnya aku mendengar suara yang terasa familiar. Kata maaf yang sepertinya aku pernah―Oh jangan-jangan! Dengan cepat aku mendongak dan benar saja, suara itu sama persis seperti yang kemarin aku dengar.

“Oh bukankah kau orang yang kemarin aku tabrak dengan sepeda?” ucap gadis itu sambil menunjukku. Aku hanya menatapnya tanpa berkedip seraya mengangguk. Sungguh dia sangat cantik.

“Benarkah?! Astaga, aku minta maaf. Sungguh aku sama sekali tidak sengaja. Aku―”

“Ah tidak apa-apa. Aku tahu kau juga sedang buru-buru karna hujan” sahutku sambil berdiri. “Ohya, sebaiknya kita cari tempat untuk berteduh dulu. Hujannya deras sekali” Aku berusaha setenang mungkin. Aku tidak mau terlihat bodoh karna gugup.

Gadis itu mengangguk “Ditoko itu saja” tunjuk gadis itu kesalah satu mini market yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Aku pun mengikutinya, sambil bersorak riang dalam hati aku memandanginya dari belakang.

Kami berdiri berdampingan didepan mini market yang kelihatannya sedang sepi. Suasana agak kaku, membuatku semakin gugup apalagi jantungku sama sekali tidak bisa tenang. Aku pandangi gadis yang tengah merogoh isi tasnya itu. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu mengusap wajahnya. Tanpa sadar kedua ujung bibirku terangkat, sungguh gadis itu benar-benar manis.

“Ini lap dulu wajahmu” ucapnya tiba-tiba sambil menyodorkan sapu tangannya padaku. Agak terkejut aku jadi sedikit salah tingkah. Aku raih sapu tangan berwarna biru muda itu dengan kedua tanganku.

“Terimakasih”

“Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karna sudah menabrakmu” ucapnya cangggung sambil mengelus tengkuk lehernya. Aku tahu dia pasti merasa bersalah sudah menabrakku. Bahkan 2 kali.

Aku tersenyum, “Tidak perlu secanggung itu. Aku tidak apa-apa. Yang penting aku tidak sampai terluka kan”

Gadis itu mengangguk, “Baiklah. Ohya apa kau tinggal disini? Kenapa aku tidak pernah lihat wajahmu ya? Bukannya apa-apa, tapi aku kenal banyak orang yang tinggal disekitar sini. Tapi aku tidak pernah melihatmu. Kau pindahan?”

“Bukan. Aku kesini hanya berlibur. Dan rumahku juga tidak didekat sini. Aku hanya sedang berkeliling”

“Berkeliling? Diudara sedingin ini?”

“Eh? I-iya begitulah” jawabku salah tingkah. Sepertinya aku memang tidak pandai berbohong. Alasanku memang agak sulit diterima akal sehat. Hanya orang gila yang mau berkeliling ditengah salju yang sedang tebal begini. Ya, sampai saat ini orang gila itu adalah aku. Walau awalnya aku khawatir, tapi sepertinya gadis itu tidak terlalu memusingkan alasanku. Dia hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali memandangi hujan yang semakin deras.

“Umh.. boleh aku tahu… siapa namamu?”

Gadis itu menoleh, “Oh tentu. Namaku Song Haneul” ucapnya ringan sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat darahku mendidih hingga rasanya wajahku memanas.

“Kalau kau?”

“Ak-Aku Kim Joonmyeon”

 

Masih lekat dalam ingatanku, saat menolongmu dari sekelompok pengganggu

Sejak saat itu, aku berani menunjukan isi hatiku bahkan memberimu satu ciuman

Hatiku terbang terlempar ke puncak awan

Bagiku kau lebih cantik dari Wendy atau Cinderella

Hanya dirimu satu – satunya yang membuat hatiku berdebar

Sesaat itu aku mulai jatuh untukmu, dengan mata bersinarku

 

― Seoul, 05 Agustus 2010. 21.00 KST ―

 

[Author pov]

“Ahh kenapa dia tidak mengangkat telponku?” gumam Joonmyeon kesal sambil memandang ponsel yang ia pegang. Namja itu menghela nafas lalu merebahkan tubuh di king-bed nya. Ia pejamkan matanya sejenak lalu memandangi langit-langit kamarnya sambil berpikir. Sepersekian detik setelahnya ia bangkit lalu duduk bersila diranjangnya.

“Apa aku ke apartementnya saja ya?” ucap Joonmyeon sambil bersedekap didada. Wajahnya nampak serius menimbang-nimbang keinginannya. “Ah tapi ini sudah cukup malam. Laki-laki lajang seperti aku mengunjungi gadis perawan yang tinggal sendirian dimalam seperti ini kan tidak baik” ucap Joonmyeon lagi menjawab pertanyaannya sendiri. Merasa frustasi ia mengacak-acak rambut kecoklatannya brutal. Joonmyeon kemudian mengambil ponselnya lagi, mencari nama Song Haneul di kontaknya lalu mencoba mengubungi gadis itu lagi.

“Ayolah Haneul jangan buat aku gila sendiri seperti in—”

“Yeoboseyo”

Wajah Joonmyeon mendadak bersinar karna akhirnya suara yang sejak tadi sudah ingin dia dengar akhirnya tertangkap oleh telinganya. Senyum Joonmyeon mengembang sempurna diwajah tampannya.

“Akhirnya Haneul!! Kau mengangkat telponku juga. Kemana saja kau eoh?”

“Maafkan aku oppa. Tadi aku sedang sibuk mempersiapkan rancanganku untuk test besok jadi tidak dengar kalau ada telpon”

“Ishh.. kau tahu aku sudah hampir mati gila karna mengkhawatirkanmu. Jadi sekarang kau belum pulang? Mau aku jemput?”

“Ah tidak usah, sekarang aku sudah didekat rumahmu. Aku mau memberikanmu sesuatu. oppa sedang dirumah kan?”

“Apa? Malam-malam begini? Seharusnya kau bilang padaku. Aku kan bisa menjemputmu Haneul”

“Kalau aku minta oppa mejemputku kenapa harus kerumah oppa lagi. Aku bisa memberikanmu dikampus kan”

“Ish dasar kau ini. Lalu sekarang kau sudah sampai dimana? Aku tidak yakin kau ingat jalan kerumahku. Kau kan baru pernah kesini satu kali”

“Hehehe itu dia oppa. Aku rasa sekarang ini aku sedikit tersesat”

Joonmyeon menghela nafas, “Aku tahu ini akan terjadi. Ya sudah kau ada dimana? Biar aku jemput”

“Umh.. aku juga kurang yakin, tapi disini ada sebuah mini market dan sebuah toko daging disebelah—Ah! Ponselku!”

 

Tuuuut tuuut

 

“Haneul? Halo Haneul?!” Joonmyeon mendadak panik. Sambungannya tiba-tiba saja terputus dengan teriakan Haneul diakhir pembicaraan mereka. Apa ada yang terjadi pada gadis itu? Joonmyeon sejenak berpikir, mencoba menerka-nerka dimana kiranya Haneul tersesat.

“Didekat toko daging disebelah mini mar—Tunggu! Disitukan!” Mata Joonmyeon membulat saat dia ingat dimana tempat Haneul berada sekarang. Wajahnya yang semula panik menjadi semakin panik. Ia baru sadar kalau didekat tempat itu ada sebuah tempat bermain billiard yang penuhi banyak preman.

Dengan segera Joonmyeon mengambil jaketnya lalu berlari kegarasi rumahnya. Setelah mesin motornya menyala, dengan cepat ia mengendarai motor sport hitamnya menuju tempat yang berjarak 5 gang dibawah gang rumahnya. Hati Joonmyeon benar-benar khawatir sekarang. Preman ditempat itu sering sekali menganggu orang yang lewat dijalan itu saat jam seperti ini. Ayahnya saja pernah mereka ganggu apalagi gadis cantik seperti Haneul?!

“Awas saja ya! Kalau mereka berani menyentuh sehelai saja rambut Haneul? Mereka akan aku bunuh” umpat Joonmyeon sambil mempercepat laju motornya.

Joonmyeon berbelok kekiri dan ia lihat preman-preman itu sedang tertawa sambil mengelilingi seseorang. Merasa sudah cukup dekat, namja bermarga Kim itu memarkirkan motornya. Ia lihat Haneul sedang berusaha mengambil tasnya yang direbut oleh salah satu preman berbadan cukup besar. Joonmyeon semakin geram, rahangnya mengeras dan darahnya mendidih. Melihat gadis yang disukainya itu dipermainkan membuatnya marah.

“Cepat kembalikan tas dan ponselku!” teriak Haneul kencang. Tapi bukannya takut, preman-preman itu malah tertawa terbahak.

“Wah kau berani sekali ya manis” ucap preman berkepala plontos itu sambil mencoba mengelus dagu Haneul. Namun dengan cepat gadis itu menepisnya.

“Jangan ganggu dia!” teriak Joonmyeon keras membuat semua mata ditempat itu tertuju padanya.

”Oppa!” teriak Haneul dengan ekspresi yang agak sulit diartikan. Antara senang, tekejut sekaligus tidak percaya Joonmyeon ada dihadapannya sekarang dengan tampang menantang para preman-preman itu. Bukannya apa-apa, dia hanya ragu. Ia tahu Joonmyeon sama sekali tidak bisa bela diri apalagi melawan preman-preman itu.

“Oppa? Ohh jadi dia pacarmu ya?” ucap preman bertato paling banyak itu sambil berjalan mendekati Joonmyeon yang berdiri dengan wajah garangnya. Jujur, dalam hati Joonmyeon agak gentar. Ia belum pernah berkelahi sekalipun. Apa dia bisa menghadapi ini?

“Memangnya kau mau apa kalau kami tetap mengganggu pacarmu eoh?”

“A-aku akan.. aku akan menghajar kalian semua!”

“Hahahaha.. kau mau mengjaharku? Baiklah kau begitu kemari. Lawan aku”

“Tidak oppa! Jangan lakukan itu! Nanti kau terluka!” teriak Haneul dengan wajah khawatir. Joonmyeon menelan kasar salivanya. Ia tidak bisa bela diri tapi ia tidak bisa mundur disini. Bukan hanya untuk keselamatan Haneul tapi ini juga untuk harga dirinya didepan gadis itu. Bukankah dia datang kesini dengan tekad untuk menolong Haneul?

“Kau terlalu banyak berpikir anak muda! Rasakan ini!”

 

Bugh

 

“Akhh”

“Oppa!”

Semua preman ditempat itu tertawa melihat Joonmyeon tersungkur ditanah. Haneul berlari bermaksut menolong Joonmyeon, tapi dengan segera preman lainnya menahan gadis itu. Pipi kiri Joonmyeon terasa perih karna tonjokan keras preman itu. Dengan agak tertatih ia berusaha berdiri. Ia usap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Tapi ia masih mencoba terlihat tangguh, ia tatap preman itu dengan wajah kesal.

“Lihatlah, sekali pukul saja kau sudah jatuh begitu. Tapi mau mencoba menantang kami. Cih” ejek preman itu membuat Joonmyeon semakin kesal. Ia kepalkan tangan kanannya erat.

“Diam kau!”

 

Bugh

 

Joonmyeon berhasil. Walau preman itu tidak sampai terjatuh seperti dirinya tapi setidaknya dia berhasil mendaratkan pukulannya dipipi kiri preman itu. Joonmyeon tersenyum miring.

“Beraninya kau! Rasakan ini!”

Baru saja preman itu akan mendaratkan pukulannya lagi, tiba-tiba suara sirine mobil polisi terdengar. Preman-preman itu mendadak panik. Para preman itu berlari saat melihat beberapa polisi tengah berlari menghampiri mereka. Dengan sigap polisi-polisi itu mengrebek tempat bermain billiard itu. Walau agak bingung kenapa polisi mendadak datang, tapi Joonmyeon bersyukur karna ia dan Haneul bisa selamat. Joonmyeon ambil tas Haneul yang dibuang oleh preman yang menghajarnya tadi lalu berjalan mendekati Haneul.

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku yang seharusnya tanya begitu pada oppa. Lihat wajahmu. Jadi babak belur begini kan?” ucap Haneul khawatir sambil menangkup pipi kanan Joonmyeon. Namja itu tersenyum, dadanya bergetar. Ia suka Haneul mengkhawatirkannya.

“Sudahlah hanya babak belur sedikit kan”

“Maaf, kalian berdua bisa ikut kami sebentar? Kami ingin meminta beberapa keterangan” ucap seorang polisi yang tiba-tiba menghampiri mereka. Tanpa basa-basi Joonmyeon dan Haneul pun mengikuti polisi itu mendekati mobilnya.

Setelah selama 15 menit dimintai keterangan, akhirnya Joonmyeon dan Haneul diijinkan untuk pulang. Sesampainya dirumah Joonmyeon, Haneul langsung pergi kedapur untuk mengambil es untuk mengompres wajah Joonmyeon yang babak belur karna sok menjadi pahlawan.

“Aduh! Pelan sedikit” ringis Joonmyeon saat dinginnya es ditangan Haneul menyentuh lebam dipipi putihnya.

“Kalau saja paman penjual daging itu tidak menelpon polisi, aku tidak tahu sudah jadi apa oppa sekarang”

“Hey, aku begini kan karna ingin menolongmu. Seharusnya kau bilang terimakasih sambil memelukku. Bukannya mengejekku begini” rungut Joonmyeon agak kecewa. Sudah susah payah ia memberanikan diri untuk melawan preman itu hanya agar dia bisa menolong Haneul. Tapi gadis itu malah mengejaknya sekarang.

Haneul memutar bola matanya, “Iya aku tahu. Aku ucapkan terimakasih. Puas?” ucap Haneul malas sambil terus mengompres luka Joonmyeon.

“Nah begitu dong. Itu baru Song Haneulku” Joonmyeon tersenyum sambil mengelus kepala Haneul. Sebuah senyuman manis yang mendadak membuat Haneul terdiam. Melihat senyum Joonmyeon dengan jarak sedekat itu membuatnya gugup.

Tatapan mereka bertemu, beberapa detik mereka hanya saling memandang. Mengagumi keindahan wajah satu sama lain. Perlahan tangan Joonmyeon turun, mengelus pipi Haneul lembut. Jantungnya berdetak cepat. Dalam otaknya ia berpikir, merasa yakin kalau inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Ya, mengungkapkan perasaan yang sudah beberapa bulan ini menyiksanya.

“Haneul, aku menyukaimu”

“Eh?” mata Haneul membulat. Tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar dari mulut Joonmyeon.

“Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu Haneul. Maukah kau.. menjadi kekasihku?” ucap Joonmyeon agak ragu. Takut jika pernyataannya ini akan mendapat penolakan. Ia tatap Haneul yang nampak berpikir dengan harap-harap cemas. Tak berapa lama gadis itu tersenyum lalu mengangguk.

Senyum Joonmyeon mengembang sempurna, “Benarkah? Kau mau?”

“Iya. Aku mau oppa”

Dengan satu gerakan cepat Joonmyeon memeluk Haneul erat. Sangat bahagia bahkan rasanya kakinya sudah tidak lagi menginjak bumi. Cukup lama sampai akhirnya Joonmyeon melepas pelukannya lalu menatap mata Haneul lekat. Membuat gadis itu agak bingung. Namun mata gadis itu membulat ketika Joonmyeon malah mendekatkan wajahnya. Apa namja itu mau menciumnya?

Haneul pejamkan matanya ketika sapuan hangat Joonmyeon mendarat dibibir merah mudanya. Sangat lembut hingga membuat Haneul terbuai. Dapat Haneul rasakan perasaan Joonmyeon disana. Bukan ciuman atas dasar nafsu semata, tapi ciuman atas dasar cinta.

 

Kita selalu bersama, aku akan terus berpegang padamu

Kuulurkan tangan ini, tapi kau pergi menjauh

Tolong jangan tinggalkan aku,

Aku bagian dari masa lalumu ada disini,

Dimana kau berada?

Pipi meronamu, Terasa seperti berjalan diatas awan,

kecantikanmu membuat hatiku berdebar

Seperti caramu tersenyum lembut pada saat itu,

andai kau bisa terbang ke pintu hatiku yang terbuka

 

― Busan, 12 Mei 2014. 11.00 KST ―

 

“Joonmyeon ayo bangun. Joonmyeon?!” ucap Kyuhyun sedikit berteriak. Agak kesal karna orang yang ia bangunkan belum juga membuka matanya. Kyuhyun mendengus sambil tersenyum licik. Pikiran kotornya untuk mengerjai sahabatnya itu muncul. Ia dekatkan wajahnya ketelinga Joonmyeon, perlahan ia menarik nafas dalam-dalam bersiap untuk berteriak sekencang-kencangnya. Tapi baru saja dia ingin membuka mulut.

“TIDAK! HANEUL!” pekik Joonmyeon seraya bangkit dari sandarannya pada kursi. Membuat Kyuhyun terdiam ditempatnya dengan kening berlipat. Ia baru menyadari nafas Joonmyeon tesengal dan wajahnya berkeringat. Pasti namja bersuara lembut itu mimpi buruk lagi.

“Dasar. Lagi-lagi mimpi tentang Haneul. Kau tidak bosan eoh?” cibir Kyuhyun sambil menegakkan kembali posisi tubuhnya. Joonmyeon memang sering seperti ini. Bermimpi buruk tentang Haneul dihari peringatan kematian gadis itu. Joonmyeon hanya menunduk untuk menenangkan dirinya.

Kyuhyun menghela nafas, “Teganya kau tidur sementara temanmu sibuk menyiapkan semua kebutuhan untuk peringatan kematian kekasihmu. Benar-benar tidak bertanggung jawab..tsk

“Maaf. Ini pasti karna semalam aku sulit tidur” jawab Joonmyeon sambil meringis. Ia tidak enak hati, padahal dia yang dengan semangat mengajak sahabat-sahabatnya pergi keBusan untuk hari penting ini tapi dia malah tertidur pulas dimobil.

“Oya? Dimana Jihan?”

“Dia sedang membeli air mineral” jawab Kyuhyun sekenanya lalu turun dari mobil. Ia berjalan menuju bagasi untuk mengambil barang-barang untuk peringatan kematian Haneul.

Joonmyeon hanya diam. Masih ia ingat betul kejadian dimimpi yang barusan ia alami. Saat ia dan Haneul berjalan-jalan ditaman, bercanda tawa, dan kegiatan-kegiatan romantis lainnya. Sampai akhirnya tiba-tiba suasana berubah mencekam. Haneul tiba-tiba saja berlari meninggalkan Joonmyeon. Namja itu mengejarnya tapi Haneul semakin jauh berlari. Sampai akhirnya gadis itu sampai diujung tebing, Haneul berbalik lalu melambaikan tangan kearah Joonmyeon. Gadis itu tersenyum sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya kebelakang hingga terhempas kedasar tebing. Sungguh mimpi yang mengerikan.

Joonmyeon tiba-tiba tersadar dari lamunannya saat ia dengar suara kaca mobil disebelahnya berbunyi karna diketuk. Ia menoleh dan terlihatlah wajah kesal Kyuhyun disana. Walau tidak terdengar tapi Joonmyeon tahu kalau Kyuhyun sedang berteriak diluar sana. Dapat ia baca dari gerakan bibir Kyuhyun yang menyuruhnya untuk cepat turun dari mobil. Setelah mengusap airmata dipipinya Joonmyeon pun membuka pintu mobil.

“Ishh.. Apa sih yang kau lakukan didalam?! Cepat bantu aku!”

“Iya iya baiklah” Joonmyeon pun mengekor dibelakang Kyuhyun. Mengikutinya mengambil beberapa barang yang akan mereka bawa kemakam Haneul.

“Yaampun. Kalian belum selesai juga? Hanya mengularkan barang sedikit itu saja lama sekali” ucap Jihan yang baru datang setelah membeli air mineral. Ia berdecak sambil menggelengkan kepalanya melihat kedua sahabatnya yang belum juga selesai mengeluarkan barang dari bagasi.

“Salahkan Joonmyeon” sahut Kyuhyun ketus yang dibalas rungutan dari Joonmyeon.

“Ya sudah ayo cepat. Sudah mulai mendung, nanti keburu hujan”

Setelah semua sudah siap, 3 sahabat itu pun berjalan masuk ke pemakaman. Joonmyeon masih saja diam. Ditanggal ini, seperti biasa kesedihannya atas kepergian Haneul menjadi dua kali lipat.Ditanggal inilahTuhan mengambil nyawa gadis yang dicintainya dalam sebuah kecelakaan mobil. Pada tanggal inilah malaikat datang menjemput Haneul, mengajaknya pergi hingga membuat mereka tidak bisa bertemu lagi.

“Hey Joonmyeon?” panggil Kyuhyun yang membangunkan Joonmyeon dari lamunannya.

“Sampai kapan kau mau seperti ini eoh? Menangis untuk seseorang yang jelas-jelas tidak akan pernah bisa kau temui lagi. Memangnya kau tidak mau menikah, punya anak dan hidup bahagia seperti orang lain? Kau mau membujang selamanya hanya karna Haneul?” tanya Kyuhyun yang dijawab helaan nafas dari Joonmyeon.

“Kyuhyun benar. Bagaimana pun Haneul pasti ingin kau bahagia Myeonnie”

“Siapa bilang aku tidak mau bahagia? Aku juga mau. Tapi bagaimana aku bisa mencari pengganti Haneul jika tidak ada yang bisa membuat hatiku tertarik lagi? Aku hanya belum menemukan yang sesuai dengan hatiku lagi. Ini kan hanya masalah waktu”

Kyuhyun mendengus sambil memalingkan wajahnya, “Heh. Ini bukan karna kau belum menemukannya. Tapi karna kau selalu menghindarinya. Kau terlalu menutup hatimu Joonmyeon. Kau sendiri yang membuat cinta yang datang tidak bisa memasukinya”

Mereka sampai didepan makam Haneul. Joonmyeon tak menanggapi ucapan Kyuhyun dan langsung menyiapkan riual untuk Haneul. Kyuhyun dan Jihan juga memilih untuk tidak membahasnya lagi. Mungkin benar Joonmyeon hanya butuh waktu. Setelah ritual selesai dan memberi salam pada Haneul sebentar, seperti biasa Jihan dan Kyuhyun akan meninggalkan Joonmyeon sendirian.

“Kami akan menunggu dimobil ya Myeonnie”

“Jangan terlalu lama. Langit makin gelap, sepertinya akan hujan lebat”

Joonmyeon mengangguk, “Iya aku tahu. Kali ini aku tidak akan lama” ucapnya pada Kyuhyun dan Jihan sambil tersenyum. Setelah melihat dua sahabatnya itu pergi, Joonmyeon lalu berjongkok disamping makam Haneul sambil tersenyum. Ia usap batu nisan Haneul dengan lembut, seolah sedang mengelus kepala gadis itu.

“Hai chagi, apa kabar? Maaf sudah lama tidak mengunjungimu. Belakangan ini aku agak sibuk jadi tidak bisa sering kesini” ucapnya lembut sambil terus mengelus nisan Haneul. Suasana seketika hening, Joonmyeon hanya menangis dalam diam. Tangannya juga mulai gemetaran.

“Haneul.. aku sangat merindukanmu” lirih Joonmyeon disela isakannya. Ia menunduk sambil mengigit bibir bawahnya yang bergetar karna menangis. Sepersekian detik Joonmyeon merasakan ada yang menyentuh pipinya. Mengusap airmata yang mengalir dipipi putihnya. Saat Joonmyeon mendongak, matanya membulat melihat seseorang gadis berjongkok disampingnya sambil tersenyum.

“Haneul? Benarkah kau Haneul?”

Tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum sangat manis. Senyuman yang sangat sangat sangat Joonmyeon rindukan. Perlahan tapi pasti Joonmyeon mengulurkan tangan kanannya kedepan. Ia berniat menyentuh pipi gadis bergaun putih didepannya. Namun saat ujung jarinya mengenai kulit bersinar Haneul, gadis itu seketika menghilang. Lenyap seperti sebuah debu yang tertiup angin.

Awalnya Joonmyeon terkejut. Tapi kemudian ia tersenyum sambil memandangi telapak tangannya. Jujur ia berharap ingin lebih lama bertemu Haneul. Ia ingin lebih lama memandang wajah manis gadis itu. Tapi tidak apa-apa, Tuhan sudah cukup baik memberinya kesempatan untuk bertemu Haneul sekali lagi. Ia tidak boleh meminta lebih.

Joonmyeon menghela nafas lalu kembali menghadap makam Haneul, “Aku tahu semua ini belum berakhir Haneul. Kita belum berpisah. Kau belum mengucapkan kata putus padaku kan?”

“Mungkin Kyuhyun dan Jihan benar. Aku tidak bisa seperti ini terus. Kau juga pasti ingin aku bahagia. Kalau begitu bolehkah aku mulai mencoba membuka hatiku tanpa harus melupakanmu?”

“Haneul.. aku percaya reinkarnasi itu ada. Mungkin kali ini kita belum berjodoh, tapi aku berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi. Memulai kisah kita dari awal dengan akhir yang bahagia. Aku berjanji kau tidak akan hanya jadi masa laluku Haneul, tapi akan jadi milikku dimasa depan nanti”

 

Kau berada dalam kisah dongenku, Dan kau selalu disini selamanya, sayangku

Aku masih saja gugup, tanpa dirimu hatiku hanyalah pulau tak berpenghuni

Kutulis semua tentangmu dalam memoriku, yg takan pernah terhapus, sayangku

Hatiku masih terus berlari, Hati ini tanpamu hanyalah…

Berapa banyak kau berubah seiring berputarnya sang waktu

Aku sampai pada halaman terakhir tulisan tentangmu

Tetapi aku tidak berani untuk membacanya, akan kuhapus semua kalimat sedih

Cerita kita tidak akan pernah berakhir

Karena kita akan bertemu lagi

―END―

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!

2 thoughts on “| XOXO SONGFIC SERIES | PETERPAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s