| Freelance | What’s Going On (Chapter 1)

What's Going On b-tile

Written: @araiemei

Cast:

Kim Seojung | Park Chanyeol | Lee Hyena | Do Kyungsoo

Kim Jongin | Kim Woobin

Rate: PG

Semenjak tadi pertanyaan besar yang menggelayuti benaknya ialah apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya saat ini? Sudah berapa kali ia mondar-mandir di kamarnya–duduk di sofa sambil menimang-nimang handphone lalu berjalan menuju meja rias untuk mematut kembali penampilannya.

Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Ia tidak pernah menyukai warna merah muda, tapi hari ini, ia mengenakan dress dengan warna itu. Ia bukanlah tipe gadis yang mengikuti fashion dengan baik, tapi semenjak beberapa hari yang lalu, dia sibuk menyiapkan apapun untuk kesempurnaan penampilannya. Dan, ia tidak tahu bagaimana caranya berdandan seperti gadis-gadis feminim kebanyakan, tapi sekarang, ia bahkan meminta perias dari salon langganan ibunya untuk datang membantunya.

Ia masih tidak mengerti, apa yang sedang terjadi sebenarnya.

Ia baru saja memainkan aplikasi piano di handphonenya saat layar benda persegi di tangannya itu berubah tampilan. Seseorang menelponnya.

Nde, yeobeosaeyo. Eonni eodiseo?” cerocosnya begitu sudah menempelkan benda persegi itu ke telinganya.

“Oh, Seojung ah. Eonni sudah di cafe tempat biasa kita ketemu. Tidak perlu menjemput eonni. Eonni berangkat bersama Mister Dio.”

Seojung terdiam sejenak. Bukan apa-apa, hanya saja tebakannya benar. Hyena pasti membawa laki-laki itu.

“Oh,” sahutnya, “geurae. Aku akan ke sana. Gidaryeo!

Lima menit setelah panggilan itu diputus, Seojung belum beranjak sama sekali dari posisinya. Ia tetap duduk terdiam di atas sofa yang diletakan berhadapan dengan jendela kaca besar kamarnya.

Pandangannya menerawang.

Mister Dio. Mengingat nama itu dia tersenyum samar.

Apakah karena ia sudah memperkirakan laki-laki itu akan turut datang ke acara reuni kecilnya bersama Hyena hari ini, maka ia memutuskan untuk memberikan penampilan seperfect mungkin? Lalu apa gunanya jika di sana nanti–kemungkinan besar yang terjadi–dia hanya akan menjadi obat nyamuk di antara dua orang yang sudah menjalin hubungan sejak lama itu?

Seojung lagi-lagi bertanya, ‘What’s going on with me?’

Sebelum akhirnya beranjak mengambil handbag dan kunci mobilnya.

Mobil itu terparkir di depan sebuah cafe kecil di area Cheongdam dong. Seorang gadis mengenakan dress merah muda keluar dari balik pintu mobil yang terbuka. Penampilannya benar-benar menunjukan statusnya sebagai penghuni area resident elit di apgunjeong dong. Ia melangkah dengan pasti memasuki cafe tersebut, sesaat menyisir pandangannya untuk menemukan orang yang sudah memiliki janji dengannya hari ini.

Hingga akhirnya, pandangannya pun tertuju pada punggung seorang perempuan yang mengenakan jaket merah menyala. Perempuan itu tengah duduk dengan seorang laki-laki berkemeja abu-abu di meja yang berdekatan dengan kasir. Begitu merasa yakin, ia melangkahkan kakinya untuk lebih masuk ke dalam cafe itu.

“Oh, sudah sampai?’ tanya Hyena yang segera berdiri begitu Seojung tiba di depan mereka, ‘Jinja bogoshipo,” serunya lantas menghambur memeluk tubuh Seojung.

Nado bogoshipo,” jawab Seojung membalas memeluk Hyena.

Sejenak setelah merenggangkan pelukan mereka, Hyena memperhatikan Seojung, lantas tersenyum, “Kau banyak berubah ternyata dua tahun ini,”

Mwoya?” dalih Seojung yang mengundang Hyena untuk tertawa semakin lebar.

Arraseo. Duduklah!” ucapnya.

Seojung pun mengambil bangku di depan Hyena–yang sudah pasti juga berhadapan dengan laki-laki itu. Sedetik sempat terjadi kontak mata di antara mereka, sebelum Seojung dengan segera mengalihkan pandangannya, dan tersenyum ke arah Hyena.

“Kau mau?–Oh! Eonni tahu! Capucino latte?”

Seojung menganggukan kepalanya mantap.

“Tahu dari mana?” tanyanya.

“Aku mengenalmu berapa lama, sih? Kita pernah satu kamar saat di California, kau tidak ingat?”

Seojung tertawa lepas mendengarnya, “Arraseo! Arraseo! Capucino latte!”

Dan mereka tertawa lagi. Kecuali satu orang di antara mereka. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Masih terlihat menenggelamkan diri dengan bacaannya.

Sesekali Seojung melirik selagi menunggu pesanannya tiba. Orang itu tidak peduli sekeliling sama sekali sepertinya. Dalam hati Seojung tergelitik untuk menyapanya terlebih dahulu. Entah itu menanyakan kabar atau menanyakan prihal buku apa yang tengah dibacanya. Tapi, dengan cepat ia mengurungkan niatnya. Karena ia tahu, itu bukan untuk memperbaiki suasana, tapi malah akan memperburuk keadaan. Ia bahkan tidak bisa memperkirakan seberapa besar kekuatannya untuk bertahan di tempat itu.

Duduk di antara orang yang sudah dianggapnya seperti saudara dan laki-laki yang dulu pernah menyita perhatiannya.

Hampir setengah jam di sana, Seojung merasa kemampuan aktingnya semakin terasah. Dia tertawa lebar saat Hyena menguak cerita-cerita mereka sewaktu menjadi anggota pertukaran beberapa tahun yang lalu. Bagaimana pengalaman itu telah membuat hubungan mereka tidak lagi sebagai rekan, tapi sudah seperti saudara kandung.

Mereka memiliki kesamaan yang terasa seperti sebuah kebetulan. Tapi, itulah yang membuat keduanya benar-benar kompak.

Di awalnya semuanya terkesan menyenangkan. Mungkin karena perasaan rindu satu sama lain, sehingga cerita yang dilontarkan memang dari hati.

Tapi, lama kelamaan, Seojung merasa semuanya hanya sebagai menu penutup yang hambar. Ia berusaha menceritakan hal-hal konyol, dan tertawa untuk apa yang diucapkannya. Sementara hatinya sendiri bertanya, ‘Apa yang baru saja kuceritakan?’

Hyena pun seperti tertawa dibuat-buat.

Espressomu tinggal sedikit. Mau pesan lagi?” Hyena mengalihkan perhatiannya ke arah laki-laki di sampingnya.

Laki-laki itu mengangkat kepalanya dari buku bacaannya. Menggeleng pelan menjawab pertanyaan Hyena, “Anni,” dan ia tersenyum.

Seojung pun memalingkan wajahnya saat itu. Berusaha menekan perasaannya, dan menegaskan pada dirinya sendiri bahwa semua sudah berakhir. Bahwa rasa itu sudah tidak ada lagi. Lenyap. Semenjak ia tahu hubungan yang sudah terjalin begitu hangat di antara mereka, Seojung pikir tidak ada alasan lagi untuknya menyebut-nyebut nama orang itu dengan ekspresi berlebih.

Dan, ia hadir di sini bukan untuk menjadi obat nyamuk, badut, dan semacamnya, tapi sebagai adik seorang Hyena. Meskipun bukan adik kandung, setidaknya waktu yang mereka habiskan selama satu bulan menjalani pertukaran pelajar ke California sudah cukup untuk menegaskan kedekatan di antara mereka.

Hyena sudah menganggapnya adik, dan ia sudah menganggap Hyena sebagai kakaknya.

Ia tidak mungkin menyakiti hati saudaranya sendiri, bukan?

Do Kyungsoo hanya pernah menjadi mentornya saat menjalani masa-masa semester yang sulit. Bukan orang yang disediakan orang tuanya untuk menjalani kencan buta dengannya.

Dan untuk perasaannya waktu itu, ia yakin itu hanya sebuah rasa kagum. Tidak lebih. Ia kagum saat melihat kemampuan Kyungsoo memecahkan rumus-rumus sulit yang hampir membuat Seojung ingin menenggelamkan diri ke sungai Han. Bagaimana kemampuan bahasa inggris laki-laki itu yang di atas rata-rata, dan… perhatian lebih yang juga pernah didapatkannya dari laki-laki itu. Seojung segera menepis pemikiran terakhirnya.

“Kapan ya Chanyeol berangkat ke London?” Seojung mencoba memulai obrolan yang nyaman lagi, meskipun ia sendiri tidak tahu alasan kenapa ia mengangkat topik itu.

“Oh iya!” balas Hyena, “aku dengar beritanya kemarin. Sepertinya sebentar lagi.”

“Dia hebat. Aku salut dengannya,” ucap Seojung sambil memainkan cangkir lattenya.

Hyena di hadapannya mengulum senyum memperhatikannya.

“Kakak sepupuku cukup dekat dengan ayahnya. Betapa beliau sangat salut dengan Chanyeol. Seolah-olah tidak ada anak yang lebih berbakti di dunia ini selain anaknya.”

Hyena akhirnya tergelak.

“Tapi, kau menyetujuinya, kan?”

Seojung mengedikkan bahunya, “Sepertinya.”

“Dia memang tipe lelaki idaman. Sudah baik, pintar lagi.”

“Cukup, eon, cukup!”

Hyena menampilkan senyum menggoda, “Wae?” tanyanya menyelidik, “kau cemburu? Merasa tidak terima aku memujinya?”

Seojung mengerjapkan matanya, “YA!” pekiknya saat itu juga, tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang gelagapan, “eonni…,”

Hyena tertawa terbahak-bahak karenanya. Seojung mendecih menahan perasaan jengkel. Tidak menyadari jika sosok lain di meja lain di dalam cafe itu memperhatikan mereka bertiga–lebih banyak ke arahnya.

“Eonni waeyo? Tawamu terlalu keras. Orang-orang memperhatikan kita,”

Mendengar Seojung memprotes sikapnya, Hyena mencoba menahan dirinya agar tidak tertawa semakin keras lagi. Ia menarik napas dalam-dalam supaya tawanya berhasil; direda.

Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Seojung, “Kau sadar?” tanyanya dengan suara setengah berbisik, “Dua meja di samping kanan kita siapa?”

Seojung masih tidak mengerti, ia masih menampilkan ekspresi datarnya, sampai akhirnya Hyena berucap lagi, “Dari tadi ia ada di sini juga ternyata,”

Seojung mulai merasa hal aneh yang menjalari hatinya, “Dia siapa maksudnya?”

Hyena tidak menjawabnya dengan suara lagi, tapi dengan gerakan kepalanya yang mengarah kepada, …. kepada…

“Chanyeol sunbae?” ucap Seojung lirih. Tidak menyangka orang yang sedari tadi mereka ceritakan berada di dekat mereka.

Beberapa saat dia terpaku. Chanyeol duduk di salah satu meja di cafe ini dengan laptopnya. Dan, ia baru menyadarinya sekarang.

Seojung ingin menenggelamkan dirinya saat itu juga.

“Hey! Seojung ah!” Hyena mencoba menyadarkan Seojung, “Seojung ah!” panggilnya lagi, dan kali ini berhasil. Seojung kembali menatap ke arahnya dengan ekspresi wajah yang lucu. Hyena ingin tertawa lagi sebenarnya, tapi ia menahannya.

“Kau kenapa? Aku bisa memanggilkannya ke sini.”

“YA!” seru Seojung saat itu juga, “geumanhae!”

“Aku serius,” sahut Hyena, “aku bisa memintanya bergabung di sini.”

Tidak sempat Seojung mencegah, Hyena sudah lebih dulu melakukan aksinya, “Park Chanyeol!–Hey!”

Seojung merosotkan tubuhnya, dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja begitu Hyena beranjak menghampiri Chanyeol.

Ia bisa mendengar suara mereka yang berbincang-bincang sejenak sebelum akhirnya Chanyeol berhasil digiring oleh Hyena ke meja mereka.

Seojung sungguh sangat ingin lari saat itu, namun sebuah suara menahannya, “Setidaknya dia bisa membantumu supaya tidak terlihat sendirian, kan?” Seojung membulatkan matanya. Kyungsoo baru saja mengeluarkan suara, dan entah kenapa ia merasa tersinggung mendengarnya.

“Maksudmu?” tanyanya cukup tajam.

Namun, dua orang manusia itu sudah datang di antara mereka. Hyena mempersilahkan Chanyeol duduk di samping Seojung. Dan, Seojung mencoba untuk menampilkan ekspresi yang baik saat Chanyeol menyapanya. Mereka bersalaman dan saling bertanya kabar. Membuatnya lupa dengan apa yang telah dikatakan Kyungsoo beberapa saat sebelumnya.

Chanyeol masih seperti dua tahun yang lalu. Ramah, dan selalu membuat Seojung nyaman berbicara dengannya. Senyaman saat mereka beradu akting di acara perpisahan di California waktu itu.

“Kau kapan berangkat ke London?” tanya Hyena di tengah-tengah obrolan mereka.

“Masih dua minggu lagi,” jawab Chanyeol.

“Berarti masih bisa menghadiri acara ulang tahunnya Seojung, dong? Dia akan merayakannya minggu depan.”

Seojung mulai merasa tegang di bangkunya. Bukan apa-apa, melihat sikap Hyena yang akhir-akhir ini sering memasang-masangkan dirinya dengan Chanyeol, membuat keadaan sedikit canggung memang. Ia tidak berani menatap wajah Chanyeol lebih lama saat laki-laki itu mengajaknya berbicara. Padahal dulunya tidak seperti ini. Dia biasa-biasa saja apabila bersama Chanyeol saat mereka masih di California. Tapi, sekarang…

Seojung sendiri bingung.

“Oh, ya?” Chanyeol beralih menatap Seojung, “kau akan berulang tahun minggu depan?”

“Eh? N-nde. Minggu depan,” jawabnya.

Chanyeol tersenyum, “Tapi, maaf. Sepertinya aku tidak bisa datang. Waktuku di Seoul hanya tersisa empat hari lagi. Setelah itu aku akan kembali ke Gwangju.”

“Yah, sayang sekali kalau begitu,” ucap Hyena begitu mendengar penjelasan Chanyeol.

Seojung cepat-cepat mengangkat cangkir lattenya, dan menyesapnya.

“Aku ke sini pun hanya karena permintaan ayahku,” kata Chanyeol.

“Permintaan apa?” Hyena bertanya lagi.

“Ini agak aneh sebenarnya. Tapi yaa, namanya juga orang tua. Dia menginginkan aku untuk mendapatkan seseorang yang bisa menemaniku ke Inggris. Ayahku sudah mencarikannya, dan aku diminta untuk menemui.”

Seojung seketika merasa merindung.

Hyena yang mendengar penjelasan Chanyeol nampak mengerutkan keningnya dan memajukan sedikit tubuhnya.

“Maksudmu…, seorang istri?”

Chanyeol menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua lengannya di depan dada, lantas mengedikan bahunya, “Mungkin, bisa dibilang begitu.”

Oh my God!” ucap Hyena seraya menepuk jidatnya. Chanyeol terlihat bingung dengan ekspresi perempuan itu.

Waeyo?” tanyanya heran.

Sementara yang ditanya malah memandang ke arah Seojung. Gadis itu memasang wajah polosnya. Ia tidak mengerti apa maksud tatapan Hyena.

“Aku tidak tahu akan serumit ini,” ucapnya menggeleng-gelengkan kepala, “Chunhyang benar-benar akan kehilangan Myeongryeong.”

EONNI!”

Hello, … ini fanfiction pertama yang aku publish di sini. Masih dengan berbagai macam kekurangan dan sebagainya. Mohon dimaklumi yaa😀 hahahaha…

Terimakasih sudah membaca. Terimakasih untuk admin yang sudah bersedia memposting tulisan ini, dan lebih terimakasih lagi kepada yang bersedia memberi komentarnya. Semoga ceritanya nggak hambar ya, dan ada pesan yang bisa diambil di dalamnya. Aku masih pemula dan masih perlu banyak belajar.

Oh, ya… Salam kenal yaa. Mari kita berteman🙂😀

Note: Fanfiction ini juga aku publish di sini, di https://exohighschool.wordpress.com, dan di blog pribadiku.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s