| Freelance | I’ll Try It

i'll try it-tile

Title                  : I’ll Try It

Main Cast         : Oh Se Hun

Jung Soo Jung

Son So Eun

Xi Lu Han

Rating              : PG-13

Length             : One Shoot

Author              : http://exmgrmd12.wordpress.com/ (@Maghresarmd)

 

 

Berjalan di tepi jalan seorang diri tanpa di temani siapapun. Itulah yang Soo Jung lakukansambilterus berjalan dengan suasana hatinya yang sedang kacau. Ia terus menggerutu dibawah teriknya matahari Kamis itu.

Gadis itu mengedarkan pandangannya sebelum menyebrangi jalan. Ia melangkahkan kakinya dengan malas untuk segera menyebrang. Tidak disangka, saat berjalan di tengah zebra cross tangannya ditahan dan ditarik oleh seseorang dari arah berlawanan dan membawanya kembali ketempat sebelumnya.

“Ikut aku…”

Gadis itu kaget saat mengetahui Se Hun yang menarik lengannya.

“Tidak!”

Soo Jung berusaha keras melepaskan genggaman tangan Se Hun dari lengannya.

Melihat tingkah Soo Jung, Se Hun menjadi kesal dan akhirnya ia melepas genggaman tangannya di lengan gadis itu.

“Kau mau aku ajak baik-baik atau aku paksa?!” Se Hun menatap gadis di depannya dengan tatapan tajam.  “Kau sungguh keras kepala, Soo Jung!” Lanjutnya keras.

Soo Jung mendelik sambil tertawa kecil.

“Kenapa? Apa kau baru tahu bahwa aku ini menyusahkan? Ya sudah, kau temui saja So Eun yang tak pernah kau anggap susah!” Ujar gadis itu dengan penekanan nada di akhir ucapannya.

Mendengar nama So Eun, Se Hun mengerutkan keningnya, lalu menggelengkan kepalanya. “Ini semua tidak ada masalahnya dengan Son So Eun!” Sanggah Se Hun.

Soo Jung mendengus kesal, lalu mendapatkan mata Se Hun yang terus menatapnya.

“Kalau bukan So Eun, siapa?!” Bentak Soo Jung sambil melipat kedua tangannya di dada, tidak memperdulikan orang yang berlalu lalang di sekitarnya.

“Lu Han. Ini semua karena hyung ku, Soo Jung..”

Jawaban Se Hun membuat Soo Jung tersenyum sinis. “Lu Han- Lu Han-Lu Han lagi? Ada apa denganmu? Se Hun, kau selalu saja menyalahkan Hyung mu? Se Hun dengar aku. Selama ini aku tidak pernah punya sahabat yang mau mengertikan diriku…”

Soo Jung diam menghela nafas.

“Dan sekarang! Aku sudah menemukannya. Lu Han, hyung mu…kenapa kau tak bisa menerima?”

“Soo Jung, berapa kali lagi aku harus bilang padamu? Aku percaya padamu dan aku tahu apa yang kamu lakukan pasti sudah kau pikirkan akibatnya, tapi untuk kali ini maaf…”

Se Hun memegang kedua bahu Soo Jung.

“Aku tak bisa percaya begitu saja… aku tahu hyung ku hanya memanfaatkan mu saja.”

“Apa kau tidak berpikir kalau So Eun juga memanfaatkanmu, huh? Se Hun, gadis itu mempunyai perasaan padamu, dia suka padamu, apa kau tak tahu? Dan kau masih dekat dengannya.”

Se Hun melepaskan gengaman tangannya di bahu Soo Jung.

“Apa kau tak sadar? Perlakuanmu sudah membuatku ini sedih dan sakit hati. Walau aku tahu kau tidak berniat melakukannya, tapi tanpa kau sadari kau telah melakukannya, Soo Jung.”

Soo Jungdiam untuk berpikir sejenak. Se Hun tetap menatap gadis didepannya itu.

“Aku tak suka kau dekat dengan hyungku—”

“—Dia hanya ingin merebutmu dari ku saja, Soo Jung.” Ulang Se Hun dengan lirih.

“Seharusnya kau percaya saja padaku, Se Hun!” Sanggah Soo Jung bersikeras.

Se Hun menggelengkan kepalanya.

“Soo Jung! Bagaimana caranya untukmu agar bisa mendengarkan kata-kataku? Aku hanya ingin kau menjauhi Lu Han hyung saja. Tidak lebih.”

“Itu berlebihan, Se Hun. Cobalah kau mengenal hyung mu lebih dalam lagi. Kau pasti akan merasakan kalau dia adalah orang yang baik. Hyung mu tidak pantas mendapat penghinaan yang sudah kau berikan padanya, Se Hun. Kau adiknya!”

“Lalu, apa pantas So Eun menerima penghinaan yang kau berikan juga, huh?” Sehun mulai emosi. Manik matanya mengisyaratkan kemarahannya pada Soo Jung.

“Ini semua tidak ada urusannya dengan So Eun!”

“Tapi kau sudah men-judge gadis itu, Soo Jung!”

“Kalau itu memang kenyataan kau mau apa, Se Hun?”

“Soo Jung, Son So Eun adalah orang yang baik….”

“Kalau memang itu kenyataannya. Tidak seharusnya ia mendekatimu dengan cara menyingkirkanku, Se Hun!”

Soo Jung sudah lelah. Ia sudah jenuh dengan hubungannya dengan pria didepannya. Ia tidak tahu lagi harus menjelaskan semuanya pada Se Hun yang tetap keras kepala.

~

Se Hun menjatuhkan dirnya diatas ranjang kamar tidurnya. Pria itu menatap langit-langit kamarnya dengan gundah. Pikirannya melayang entah kemana. Bingung dengan semua yang sudah terjadi dengannya hari ini. Ia bingung apa yang ada di pikiran Soo Jung gadisnya akhir-akhir ini.

Se Hun selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai gadis itu.

Kenapa Lu Han yang selalu ia bela?

Kenapa Soo Jung tidak mau mendengarkan perkataannya sedikit, pun?

Sungguh. Se Hun tidak akan pernah bisa jika ia harus berpisah dengan gadis itu. Se Hun sangat mencintainya.

“Kau tidak mengerti Soo Jung.” Ucap Se Hun memandang foto Soo Jung yang menjadi wallpaper ponselnyaitu.

Tak beberapa lama. Ponselya bergetar dan terteralah nama Lu Han disana.

“Hyung”

Se Hun menyunggingkan bibirnya tepat setelah ia mengucapkan kata itu.

Mau apa dia menghubungi? Apa Lu Han ingin mengucapkan selamat padanya untuk kejadian yang menimpa Se Hun hari ini? Se Hun benar-benar berpikir bahwa mengenalkan Soo Jung kepada Lu Han adalah bencana besar.

Se Hun dan Lu Han adalah saudara kandung. Keduanya memiliki paras yang sempurna. Keduanya juga banyak memiliki kesamaan di banyak bidang. Bidang seni misalnya, walaupun Lu Han lebih menyukai dunia tarik suara bukan berarti suara Se Hun tidak bagus. Se Hun lebih memilih dunia tari ketimbang dunia tarik suara. Menurutnya dunia tari adalah hidupnya, ia dapat menggambarkan suasana hatinya melalui tarian. Begitu juga dengan Lu Han.

Se Hun dan Lu Han adalah dua pria yang sangat sempurna.

Hanya satu yang membedakan keduanya, yaitu kepribadian. Lu Han adalah pria dewasa sedangkan Se Hun kekanakan. Mungkin itu semua faktor umur, tahun ini Se Hun akan menginjak 17 tahun dan Lu Han akan lebih tua 2 tahun darinya saat ini.

Tapi apa pantas seseorang yang sudah berusia 17 tahun harus tetap memilik sifat kekanakan? Keegosian luar biasa? Dan sifat masa bodohnya yang sering menjengkelkan orang-orang disekitarnya.

Oh Se Hun.

Semua sifat itu ada pada diri pria itu.

Walaupun begitu Se Hun sama dengan Lu Han. Ia tetap orang yang penyayang. Ia akan melindungi siapapun yang ia sayangi agar tetap aman. Walaupun caranya dengan menggunakan keegoisannya, Se Hun tetap dikategorikan dalam pria yang penyayang.

Jung Soo Jung. Gadis itu telah 8 bulan menjalani hubungan dengan Se Hun. Ia telah terbiasa dengan sifat kekanakan pria itu dan bisa memaklumi semuanya. Soo Jung adalah gadis yang baik hati walau sifat keras kepalanya juga sama seperti yang dimiliki oleh Se Hun.

Tepat pada tanggal 19 April 2012 Se Hun mengenalkan dirinya pada Lu Han di acara ulang tahun Lu Han 2 bulan yang lalu.

Lu Han adalah pria yang baik. Ia sangat dewasa dimata Soo Jung, karena itulah gadis itu mulai menjadikan Lu Han sebagai tempat curhatnya. Mereka berdua sering menggunakan waktu kosongnya untuk pergi ke suatu tempat hanya untuk sekedar bercakap bersama. Tentu saja dengan izin Se Hun.

Awalnya Se Hun memperbolehkan Soo Jung pergi bersama hyungnya karena saat itu ia memang  sedang disibukkan oleh pertandingan futsal yang akan diadakan sekolahnya. Jadi ia pikir akan lebih baik jika meminta Lu Han untuk menjaga Soo Jung selagi dirinya sibuk saat itu.

Tapi, beberapa minggu terakhir ini. Se Hun merasa ada kejanggalan dalam hubungannya dengan Soo Jung. Gadis itu menjadi lebih jarang menghubunginya. Saat bertemu pun Soo Jung lebih sering memainkan ponselnya ketibang mendengarkan cerita Se Hun.

Dan beberapa waktu lalu saat istirahat sekolah, Se Hun menemukan ponsel Soo Jung yang diletakan dimejanya begitu saja.Tanpa ada angin yang menyuruhnya, ia segera mengambil ponsel gadisnya dan tersenyum saat setelah ia melihat potret dirinya di wallpaper ponsel itu.

Tapi, sesaat kemudian senyumnya memudar ketika ada pesan masuk yang ternyata pengirimnya adalah Lu Han. Keningnya berkerut. Ia langsung membuka pesan itu.

 

 

 

From : “LuGe^^”

Kau dimana Soo Jung? Aku sudah menunggumu di taman sejak tadi.

Aku membawakanmu sesuatu. Cepat kemarilah!

Dan jangan biarkan Se Hun tahu J

 

Rahang Se Hun mengeras begitu membaca pesan itu. Ponsel Soo Jung di genggamnya dengan erat. Se Hun berusaha menahan emosinya yang sudah memuncak. Hatinya seperti teriris sembilau. Keringat dipelipisnya sudah mengucur sejak ia membaca pesan itu.

Apa maksudnya ini semua? Mengapa ia tidak boleh tahu tentang pertemuan mereka?

***

Merasa sudah siap. Se Hun segera melesat keluar rumah tanpa memperdulikan panggilan Ha So ahjumma yang teriak memanggil namanya itu sejak tadi.

Tidak sampai 20 menit, kini Se Hun tiba di sekolahnya, ia merapikan sedikit rambutnya dan kali ini ia tampak sedikit berbeda.

“Soo Jung tunggu aku.”

Berangkat pagi-pagi kesekolah bukan alasan untuk Se Hun kalau bukan untuk menemui gadis yang ia cintai. Tadi pagi tepat pukul 05:55 Soo Jung sudah menghubungi Se Hun dan menyuruhnya untuk segera bangun dan menyuruhnya untuk lebih awal datang ke sekolah.

Entah apa yang mendorong Se Hun untuk segera melaksanakan perintah Soo Jung. Dengan semangat dan senyum yang terus mengembang diwajahnya, Se Hun sudah siap hanya 15 menit untuk pergi ke sekolah dan menemui Soo Jung di taman.

Tiba di taman, Se Hun tidak melihat tanda-tanda adanya orang di tempat itu. Ia melirik jam tangannya.

06.20 KST.

Apa ini terlalu pagi? Atau memang Soo Jung akan datang sedikit terlambat?

Se Hun memutuskan untuk duduk di bangku taman tempat biasa ia sering tempati bersama Soo Jung ketika membolos dari kelas kimia.

Ia tertawa dalam diam mengingat semua kenangan dirinya bersama Soo Jung di tempat ini. Mulai dari pertama ia melihat gadis itu saat kelas X dan sampai ia mulai berani menyatakan perasaannya pada gadis itu di tempat ini.

Semua mereka lakukan di tempat ini untuk menghabiskan waktu bersama. Ciuman pertamanya yang hampir diketahui oleh penjaga sekolah pun mereka lakukan di tempat ini. Semua kenangan-kenangan itu ada pada tempat ini.

Se Hun menghela nafasanya sambil tersenyum sendiri. Ia memandangi seluruh pojok di taman ini. Sampai beberapa saat ia mendengar suara orang yang asik bercakap-cakap sambil tertawa lepas di luar pagar.

“Hey! Rusa jelek! Aku tidak gendut! Kau yang gendut! Dasar jelek!”

Suara itu—

Soo Jung?

Se Hun. Pria itu berdiribangun dan memandangi pemandangan yang tidak enak ketika melihat Lu Han yang membukakan pintu mobil untuk Soo Jung dan selanjutnya kedua orang itu bergandengan tangan mesra tidak peduli pada orang-orang disekitarnya.

Se Hun diam. Dia merasakan hatinya tertusuk ribuan sembilau. Sekali lagi, ia merasa terkhianati. Semua yang ia duga adalah benar. Itu semua kenyataan.

Lu Han dan Soo Jung?

Hyung dan pacarnya— apa mereka benar-benar hanya sebuah teman?

Se Hun terduduk kembali.

Ia benar-benar merasa terkhianati oleh Soo Jung orang yang ia sangat cintai dan Lu Han saudara yang ia anggap benar-benar baik.

“Soo Jung, apa kau bisa tertawa sebahagia itu setelah kau membuat janji padaku? Aku menunggumu disini sejak tadi. Membayangkan apa yang akan kita bicarakan setelah pertengkaran kemarin.”

“Apa kau bisa tertawa sebahagia itu setelah pertengkaran kita? Apa kau selalu seperti itu saat kita selesai bertengkar?”

Se Hun lagi-lagi terdiam. Ia mencoba mengatur nafasnya. Membiarkan angin menerpa rambut hitamnya yang baru ia tata rapi tadi pagi.

“Apa Soo Jung dan Se Hun benar-benar sudah putus?”

“Soo Jung dan Lu Han benar-benar pacaran saat ini!”

“Soo Jung yang bilang kemarin padaku.”

“Ini hebat! Soo Jung putus dengan Se Hun dan pacaran dengan kakak nya!”

“Apa kau tak mengira bahwa Soo Jung adalah gadis jalang?”

Telinga Se Hun sakit mendengar semua itu. Telinganya hampir pecah ketika seseorang bilang bahwa Soo Jung adalah gadis jalang. Itu tidak benar! Soo Jung adalah gadis baik.

“Setidaknya aku pernah merasakan kebaikan Soo Jung—“ “—dulu.”

“Apa itu semua benar?” “—apa kau benar-benar berpacaran dengannya dan mencampakanku?”

Pria itu bergumam. Suaranya terdengar sangat lirih dan perih. Sama seperti hatinya saat ini.

“Apa kau bahagia disampingnya?” Se Hun bertanya dalam hati sembari melihat Soo Jung yang masih bercakap-cakap dan tertawa bersama dengan Lu Han di luar sana.

“Se Hun?”
Se Hun mengalihkan pandangannya pada wanita yang baru saja memanggil namanya itu.

“So Eun?”

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya So Eun tersenyum pada Se Hun.

Sepertinya gadis di depannya itu benar-benar tidak tahu mengenai apa yang sedang ia lakukan disini. Juga tidak melihat Soo Jung dan Lu Han diluar sana.

Se Hun memutuskan untuk menggeleng. “Aku hanya ingin mencari angin.” Singkatnya sambil tersenyum tipis.
So Eun pun mengangguk mengerti, kemudian tidak sengaja ia melihat Soo Jung dan Lu Han diluar sana yang sedang berpelukkan.

Matanya terbelangak. Sedetik kemudian ia jadi tahu apa yang sedang Se Hun lakukan sejak tadi disini.

“Apa—“

Kata-kata So Eun terhenti begitu melihat ke samping sosok yang ia ajak bicara tidak ada dan ternyata pria itu pergi meninggalkannya sendirian.

So Eun terlihat berpikir dan kemudian ia berlari mengejar Se Hun.

“Apa kau tidak apa-apa?”

Se Hun menghentikan langkahnya. Ia menatap sosok di sampingnya dengan jengkel. Pertanyaan apa itu? Konyol. Bagaimana bisa gadis itu menanyakan kalimat itu setelah ia tahu apa yang terjadi pada Se Hun sejak tadi.

“Ummm— Apa kau tahu itu?” tanya So Eun hati-hati.

Se Hun menghela nafas. “Tahu.”

“Lalu, mengapa kau tidak menghentikannya?”

“Aku tidak mau merusak kebahagiaan Soo Jung.”

“Se Hun, kau ini pacarnya. Jadi kau boleh melakukan apa saja ke pacar mu! Bukan malah seperti ini—“

Se Hun langsung menatap So Eun tajam. Gadis itu mulai berkata aneh-aneh yang membuat Se Hun tidak suka. Pria itu ingin memarahinya, tapi ia sudah tak punya tenaga lagi untuk mengeluarkan kata-katanya. Ia hanya menggeleng pelan.

“Aku tidak sanggup jika harus memisahkan mereka.”

“Kalau begitu, kau harus melepaskannya Se Hun. Putuskan Soo Jung!”

Se Hun kaget. Ia tidak percaya jika So Eun akan berbicara seperti itu dan menyuruhnya yang tidak-tidak. Ia menatap gadis itu bingung.

“Relakan dia—“

“Aku tidak bisa—“ ucap Se Hun hati-hati. “Kau harus tahu, So Eun. Aku mencintainya. Bahkan mungkin beberapa saat lagi aku akan gila karena kenyataannya aku memang sangat mencintainya. Dia adalah nafasku dan dia adalah segalanya bagiku.” Se Hun menundukkan kepalanya, ia terlalu frustasi memikirkan semua ini.

So Eun terlihat shock begitu mendengar bahwa Soo Jung adalah segalanya bagi Se Hun. Ia melihat pria itu yang terlihat begitu frustasi. Pria itu terduduk dilantai, So Eun sangat sedih melihatnya. Ia sakit melihat Se Hun seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi? So Eun sudah terlanjur mencintai Se Hun sejak sebelum Soo Jung merebut Se Hun darinya. Sejak sebelum Soo Jung bertemu dengan pria itu dan sejak sebelum Se Hun bertemu dengan gadis itu.

“Se Hun, kau adalah pria yang baik. Kau tidak pantas di perlakukan seperti ini.“ So Eun menepuk pundak Se Hun, mencoba memberi semangat untuk pria itu. “Kau tidak boleh diam saja, Se Hun. Kau harus membalasnya. Kau dapat melakukannya asal kau mau—“

Se Hun mendongakkan kepalanya. Menoleh pada So Eun dengan kening berkerut dan alis terangkat.

Siapa yang membalas siapa?

Se Hun menghela nafas beratnya. “Sudah, lah! Aku bingung! Kau terlalu berisik, So Eun!”

So Eun sendiri hanya diam, ia memperhatikan raut muka pria di hadapannya itu. Pria itu menatap sesuatu di depannya dengan tatapan kosong. Sudah benar-benar seperti orang gila.

“Se Hun—“

“So Eun, hentikan! Kau tak tahu bagaimana perasaanku saat berada di dekat Soo Jung. Setiap aku disampingnya, perasaanku selalu tenang dan hatiku—“ Se Hun mendadak kehilangan seluruh nafasnya, ia memegang dadanya yang sesak sebelah kiri. “Terasa damai— bahkan jantung ini akan berdetak lebih cepat dari biasanya.“ Se Hun tersenyum lemah, ia mengatakan dengan penuh perasaan.

So Eun berdiri begitu mendengar ucapan Se Hun.

“Hentikan! Se Hun tolong dengarkan aku. Soo Jung, gadis itu sudah tidak baik lagi untukmu, dia sudah membuatmu sakit. Dulu aku bisa menerimamu bersama Soo Jung karena aku pikir gadis itu dapat membahagiakanmu, tapi kenyataannya—“

Suara So Eun melemah, matanya tidak dapat lagi membendung air mata. Ya. Gadis itu menangis dihadapan Se Hun seolah meminta sesuatu pada pria itu.

“Soo Jung sudah membuatmu terluka, Se Hun. Aku tak bisa membiarkan itu, aku tak ingin kau sakit, Se Hun. Aku tak ingin!”

Se Hun mendongakkan kepalanya menatap So Eun yang berdiri. Gadis itu juga menatapnya dengan penuh harap. “Apa maksudmu?”

“Aku mencintaimu. Bahkan sebelum kalian di pertemukan oleh Tuhan. Aku sakit ketika tahu bahwa kau dan Soo Jung berpacaran. Aku mencoba untuk melupakanmu. Tapi, semuanya tidak bisa hilang begitu saja. Ini sangat sulit. 8 bulan terakhir ini adalah sangat sulit untukku.” Perlahan tangis So Eun mulai meledak.

“Maaf. Aku tidak tahu kalau kau semenderita itu, Son So Eun.” Se Hun menundukan kepalanya kembali.

“Tentu saja, kau tak tahu!”

Se Hun menatap gadis yang sudah berada di depannya. Ia menatap gadis itu bingung. “Apa maksudmu?”

So Eun tertawa perih sebelum melanjutkan kata-katanya. “Orang yang ada di pikiranmu selama 8 bulan itu hanya Soo Jung. Kau tidak akan pernah memikirkan perasaan orang lain. Terutama aku— aku mencintaimu, Se Hun.”

“Tapi maaf. Aku benar-benar tidak pernah bisa membalas cintamu—“

Son So Eun terlihat shok. Ia menatap Se Hun yang menunduk. “Aku mohon, sekali saja—“ So Eun menatap Se Hun penuh harap. “Kita coba pelan-pelan, aku tak akan memintamu membalas cintaku itu sekarang. Aku akan menunggumu, setahun, dua tahun, tiga tahun, atau bahkan empat tahun sekalipun aku akan tetap menunggumu, Se Hun. Asal kau selalu berada di sampingku. Aku sanggup.”

“Kau gila!” Se Hun berdiri dari tempatnya dan mencoba melangkahkan kakinya, tapi So Eun menahannya.

“Se Hun—“ Ia menahan lengan pria itu dengan tangannya yang bergetar.

Se Hun menghela nafasnya. “Itu percuma. Kenyataan jika aku tak bisa bersama Soo Jung itu sama saja dengan aku sudah mati, nyawa ku sudah ada bersama Soo Jung. Aku tak akan mendapatkan nyawaku, aku tidak akan bisa hidup.”

“Apa segitu penting, kah, Soo Jung untuk mu,  Se Hun? Apa tak bisa kau gantikan dengan orang lain?” tanya So Eun dengan perasaan yang kacau dan sedih.

“Aku tak bisa. Maafkan aku, So Eun. Lebih baik, kau lupakan aku. Aku sudah bilang, bahwa aku tidak bisa menerima cintamu.”

“Aku sudah mencobanya, tapi itu semua tidak berpengaruh apa-apa. Aku juga sangat ingin melupakanmu, tapi cinta datang dari hati. Aku merasa tak akan bisa melupakanmu, Se Hun.”

“Tapi kau harus melupakanku, So Eun—“

“Aku sudah bilang aku tak bisa!” So Eun berteriak dengan keras. Se Hun terus memaksanya, itu membuat hatinya sangat sakit. “Apa kau bisa melupakan Soo Jung? Tidak, kan? Begitu juga denganku, Se Hun. Aku tak bisa melupakanmu begitu saja…”

“Kalau begitu anggap saja aku sudah mati.”

Se Hun mengalihkan pandangannya dari So Eun. Gadis itu tidak percaya Se Hun bisa mengatakan itu. Air matanya kembali jatuh. So Eun terdiam kaku. Tak mampu lagi untuk mengutarakan kata-katanya kembali untuk membuat Se Hun menerimanya.

“Sudah, lah. Aku tak ingin kau sakit lebih dari ini— lebih baik, kau segera melupakanku.” Se Hun mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan So Eun sendirian.

So Eun merosot dan terduduk dilantai yang dingin. Ia tidak mengira bahwa Se Hun akan setega ini dengan melakukan ia seperti ini.

“Se Hun— kau akan menyesal karena telah membuatku sakit. Kau akan menyesal, Se Hun! Kau tahu? Karma akan berlaku untuk siapa saja. Kau pasti akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini. cepat atau pun lambat. Kau pasti akan merasakannya!!!”

So Eun menjerit dengan sedihnya. Suara samar So Eun terdengar oleh Se Hun dari 10 langkah tempat So Eun terduduk lemah. Ia mendengarnya. Rasanya sangat perih dan menyakitkan.
Tapi, pria ini tidak menghentikan langkahnya dan terus berjalan dengan tatapan kosong. So Eun langsung menitikkan air matanya yang kesekian kali untuk semua masalah yang terjadi saat ini.

“Aku sudah merasakannya! Rasanya sakit. Sangat sakit, kau benar, So Eun. Aku sudah merasakannya. Tapi, aku sama sekali tidak pernah menyesal. Aku akan terus mencoba membahagiakan orang yang aku sayang. Jika aku memang sudah gila, aku akan mencoba merebut Soo Jung dari Lu Han kembali. Aku akan mencobanya. Dan aku berharap kau akan mendapatkan orang yang menyayangimu seutuhnya, So Eun. Ya. Aku hanya bisa berharap.” ucap Se Hun dalam hati sambil terus berjalan dengan perasaan yang tak menentu.

FINN—

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s