| XOXO SONGFIC SERIES | Baby Don’t Cry

BDC-tile

XOXO songfic series

Title : Baby Don’t Cry

Author : HCV_2 | Main cast : Kim Sooji & Kim Jongin

Length : Ficlet | Genre : Romance, sad | Rating : T

Song : EXO – BABY DON’T CRY

As inevitable as it seemed that we’d miss, I know we loved just as much

 

Buanglah semua perasaanmu untuku, jangan kau ragu lagi

Bulan pun menutup matanya, melihat betapa kejamnya diriku

Andai aku adalah lelaki yang berbeda, berharap semua ini hanya lelucon

Akan kuhapus semua lukamu dengan cinta ini

 

Angin musim semi berhembus pelan, menerpa kulit putih seorang gadis yang tengah melamun sambil memandangi sebuah desk kalender ditangannya. Gadis itu tersenyum dan perasaan senang benar-benar tergambar diwajahnya. Ia duduk disalah satu bangku taman, dihalaman kampusnya.

Tubuhnya ada disana tapi sepertinya pikirannya melayang amat jauh. Ia sama sekali tidak menyadari kalau seseorang gadis berkaca mata tengah berdiri sambil bersedekap dibelakangnya. Memandanginya yang tersenyum-senyum sendiri dengan tatapan kesal bercampur bingung.

“Hey Kim Sooji!” pekik gadis bermata empat itu tepat ditelinga Sooji.

“YATUHAN!” Sooji terkesiap. Tangannya reflek bergerak dan tanpa sengaja mengenai wajah gadis bermata empat itu.

“Aduh!” ringis gadis berambut pirang sebahu itu sambil mengusap hidungnya yang terbentur paling keras dengan tangan Sooji. Sooji seketika berbalik lalu memperlihatkan senyuman bodoh yang seolah berkata ‘maafkan aku, aku tidak sengaja’ kearah sahabatnya yang terlihat sangat kesal. Sambil membenarkan posisi kacamatanya, gadis itu duduk disebelah Sooji.

“Di panggil berulang kali tidak dengar dan sekarang memukul wajahku sampai kacamataku lepas. Kau sungguh keterlaluan Sooji”

“Maafkan aku Jiae. Aku kan tidak sengaja. Lagipula salahmu juga tiba-tiba mengagetkanku kan” ucap Sooji memelas sambil mengusap usap kedua telapak tangannya kearah Jiae.

Jiae menghela nafas, “Iya iya kau kumaafkan”

“Nah! Itu baru Jiae temanku” Sooji menjentikkan jarinya lalu kembali menatap kalender yang ia pegang. Jiae memutar bola matanya, sahabatnya yang satu ini memang sedikit unik.Walau agak ceroboh tapi Sooji punya hati yang sangat lembut. Jiae menoleh dan lagi-lagi mengernyit dalam melihat sahabatnya itu lagi-lagi tersenyum sendiri sambil memandangi kalender. Dia rasa Sooji sudah gila.

“Hey bodoh. Apa sih yang sedang kau lakukan? Dari tadi memandangi kalender sambil tersenyum seperti itu. Kau seperti orang gila”

“Ohh ini. Kau lihat ini Jiae” Sooji memperlihatkan lembaran bulan Mei pada Jiae. Sahabatnya itu hanya mengernyit bingung. Memang apa istimewanya kalender itu? Tapi telunjuk Sooji tiba-tiba mengetuk-ngetuk sebuah tanggal yang dilingkarkan dengan spidol berwarna pink.

“Tanggal ini yang adalah hari ini adalah hari jadiku dengan Jongin” ucap Sooji girang. Jiae hanya mengangguk sambil membentuk huruf O dibibirnya.

“Jadi sudah satu tahun sekarang?”

Sooji mengangguk mantap, “Tidak kusangka aku akan bertahan sampai sekarang dengan Jongin. Aku senang sekali Jiae” Sooji menopang dagu dengan kedua tangannya dimeja lalu mulai menunjukkan senyum bodohnya lagi.

“Ya kalau begitu aku juga ikut senang. Lalu ada rencana apa kalian hari ini?”

“Kau tahu Jiae? Jongin bilang dia akan menyiapkan malam special untukku. Romantis sekali kan? Ahhhh aku beruntung sekali punya kekasih seperti dia”

“Ohh jadi apa karna itu dia tidak kuliah hari ini?” ucap Jiae sambil mengeluarkan sebuah novel dari dalam tasnya.

Sooji menoleh dan ekspresinya berubah agak terkejut, “Dia tidak kuliah?”

“Iya, tadi aku tidak melihatnya dikelas. Memangnya dia tidak bilang padamu? Sepasang kekasih seharusnya saling tahu kan? Ya, walaupun memang tidak harus semuanya sih”

Sooji tertegun, memang tidak salah Jongin tidak memberitahunya karna tidak setiap kehidupan kekasihnya harus dia ketahui. Tapi ia hanya mulai merasa kalau hubungannya dengan Jongin mulai merenggang. Jujur saja, belakangan ini Jongin dan dia jarang menghabiskan waktu berdua, intensitas mereka bersama sudah agak berkurang. Jongin juga kadang lupa memberitahunya beberapa hal penting yang seharusnya dia tau sebagai kekasih Jongin. Entah kenapa ini sebenarnya mulai membuatnya merasa takut.

“Hey bodoh! Ada apa? Kenapa mendadak kau melamun begitu?”

Sooji tersentak, “Ah ti-tidak, tidak ada apa-apa”

“Sudah tidak usah terlalu khawatir. Mungkin Jongin hanya terlalu sibuk mengurus kejutannya, sampai lupa memberitahumu”

 

Setelah kelam menghampirimu,janganlah kau menangis malam ini

Setelah semua ini terjadi, janganlah kau menangis malam ini

Semua ini akan berlalu dengan cepat

Cintaku akan tetap melindungimu, Aku mohon janganlah kau menangis malam ini

 

 

Disebuah café bergaya minimalis namun cukup elite. Pengunjung siang itu nampak sangat ramai, cukup banyak para pengunjung berjas, dan berpakaian mewah datang untuk menikmati waktu istirahat siang mereka. Namun tak sedikit juga para remaja muda datang untuk bersantai sambil menikmati secangkair kopi atau teh disana. Salah satunya seorang pemuda berambut blonde yang tengah duduk sendirian sambil memutar-mutar ponselnya dimeja.

Jongin nampak sedang berpikir ditengah lamunannya itu. Ia bolos kuliah dan sudah sejak pagi ia duduk disana tanpa beranjak sedetik pun. Bahkan kopi yang ia pesan sama sekali berlum terjamah. Jongin terlalu sibuk akan perasaan gelisah dan pikiran bingung yang ia rasakan saat ini. Untungnya café itu milik salah seorang kakak sepupu Jongin jadi ia tidak malu untuk duduk disana seharian.

“Lama juga dia rapat” gumam Jongin seraya membenamkan wajah ke kedua tangannya yang terlipat diatas meja. Jongin menghela nafas, beban pikirannya cukup berat saat ini. Tak sampai sepuluh detik, ia kembali mendongakkan kepalanya, tepat saat sepasang kekasih memasuki café itu. Ia perhatikan sepasang sejoli yang kini sudah duduk dibangku mereka. Wajah mereka terlihat sangat bahagia. Bisa Jongin lihat mereka begitu saling mencintai.

“Arghh.. perasaan ini semakin menggangguku. Apa yang harus aku lakukan Sooji?” Jongin menggerutu sambil mengacak-acak rambutnya. Ya, dia memang sedang memiliki sebuah masalah akan perasaannya pada Sooji ―kekasihnya. Bukannya mereka sedang bertengkar atau apa, tapi Jongin hanya makin merasa ragu akan cintanya. Hubungan mereka semakin merenggang. Ia jarang merindukan saat-saat bersama Sooji lagi. Bisa dibilang, ia mulai bosan.

“Jadi kau masih disini”

Jongin tersentak ketika ada yang menepuk pundaknya. “Oh. Rapatmu sudah selesai?”

“Begitulah..” ucap namja bertumbuh tinggi itu seraya mengambil tempat didepan Jongin. Jongin hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

Minho mengernyit melihat ekspresi wajah Jongin, “Hey ada apa? Kau keliatan gelisah. Kalau kau khawatir masalah kejutanmu malam ini, kau tenang saja. Semuanya akan beres ditanganku. Ruang VIP itu sudah aku siapkan untukmu dan Sooji” ucap Minho santai sambil menyeruput kopi Jongin yang sudah dingin.

Jongin tersenyum miring, “Bukan itu hyung. Aku sedang memikirkan hal lain”

“Oh, memang ada masalah lain apa?”

“Ini masalah hubunganku dengan Sooji. Lebih tepatnya tentang perasaanku pada Sooji” ucap Jongin seraya menunduk. Minho memandangi Jongin, menunggu kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan adik sepupunya itu.

“Hyung? Entah kenapa aku merasa perasaan sayangku pada Sooji seperti sudah berkurang. Semakin lama hubungan kami semakin terasa hambar. Bahkan aku mulai merasa tidak nyaman dengan status hubunganku sendiri”

Minho menghela nafas panjang, “Akhirnya disini juga kau berada Jonginnie” ucap Minho yang seketika membuat Jongin memandangnya.

“Bagaimana ya? Sebenarnya perasaan seperti itu wajar dialami oleh sepasang kekasih atau suami istri. Dalam hal apapun, setiap orang pasti akan pernah mencapai titik dimana mereka merasa bosan akan hal yang mereka sukai. Hidup itu bergerak seperti roda kan? Kau tidak akan bisa selalu merasa senang”

“Lalu apa yang harus aku lakukan hyung? Perasaan ini semakin membuatku tidak nyaman. Terkadang aku malah merasa tidak nyaman berada didekat Sooji sebagai kekasihnya. Aku malah merasa menyakitinya karna itu”

“Yaah.. mau bagaimana lagi. Jika kau sudah merasa tidak bisa bersamanya lagi, kenapa tidak berhenti disini saja?” ucap Minho santai sambil menyeruput kopi Jongin lagi. Sementara Jongin cukup terkejut mendengar solusi yang kakaknya itu berikan. Haruskah dia berhenti?

“Dengar, akan jadi tidak baik jika kau terus melanjutkan hal yang membuatmu merasa tidak nyaman. Selain untuk dirimu, ini juga akan menyakiti Sooji. Memang tidak mudah menjalin hubungan, ada banyak pasangan yang berkahir dalam tahap ini tapi ada juga pasangan yang mencoba bertahan dan pada akhirnya mereka berhasil melewatinya. Mungkin jika kau bertahan sedikit lagi, kau dan Sooji akan bisa melewatinya. Tapi itu semua tergantung padamu, aku hanya tidak ingin kau menyesal Jonginnie”

 

 

Percaya akan satu sama lain, kita menautkan takdir ini

Mencintai satu sama lain, tapi sekarang tidak ada pilihan lain selain berakhir

Seperti sinar matahari saat kau tersenyum, keindahan yg tidak bisa di biaskan kata – kata

yang berakhir pedih, meruntuhkan pertahananku

 

 

Sooji memandang refleksinya dicermin. Dia sendiri terpukau melihat dress yang ia kenakan sangat pas ditubuhnya. Gaun itu sangat simple namun tetap terlihat mewah. Pilihan Jongin memang tepat, namja itu sangat pintar memilihkannya pakaian.

“Kalau saja waktu itu aku tidak mengikuti kata Jongin, mungkin aku tidak akan dapat dress secantik ini hihi” Sooji terkikik sendiri mengingat kejadian 3 hari yang lalu saat mereka pergi untuk membeli dress itu. Perdebatan yang cukup membuat mereka malu dipusat perbelanjaan. Sepersekian detik setelahnya, Sooji akhirnya sadar kalau ia harus segera bersiap. Ia berjalan kearah meja rias dan duduk disana. Sooji pun mulai memoles wajah cantiknya dengan make up lalu segera menata rambut panjangnya.

Tak cukup lama baginya untuk berdandan, karna ia tidak terlalu suka dengan make up yang berlebihan. Selang beberapa detik setelah ia meletakkan lipsticknya dimeja, ponselnya bergetar. Sooji raih smartphone hitamya dan melihat nama Jongin tertera dilayar tersebut.

 

Pip

 

“Ya chagi?”

“Apa kau sudah selesai berdandan?”

“Ahh tentu saja. Kau sudah sampai ya?”

“Iya. Aku baru saja sampai”

“Baiklah kalau begitu aku akan segera keluar”

“Hmm.. baiklah”

 

Pip

 

Dengan segera Sooji meraih tas kecilnya diatas ranjang lalu keluar dari kamar. Dengan setengah berlari ia menuruni tangga rumahnya. Bagaimana pun ia tidak mau terjatuh karna ia sedang menggunakan sepatu yang cukup tinggi. Tepat saat ia keluar dari pintu, ia melihat Jongin tersenyum kearahnya. Sooji terpukau, namja itu sangat tampan dengan jas berwarna hitam yang ia kenakan.

“Kau cantik sekali chagiya” ucap Jongin saat Sooji sampai didepannya. Gadis itu tersipu, bisa dipastikan ada semburat merah dipipinya. Sebenarnya Jongin cukup sering memujinya, tapi malam ini malam special hingga membuat pujian kali ini juga special.

“Kau juga sangat tampan chagiya” balas Sooji sambil tersenyum. Namja itu balas tersenyum, tapi entah kenapa Sooji merasa seperti agak berbeda. Entah perasaannya saja atau memang sedang ada yang dipikirkan kekasihnya itu. Jongin pun berbalik lalu membukakan pintu mobilnya untuk Sooji. Dan mereka pun segera menuju café tempat mereka akan merayakan hari jadi mereka.

Sepanjang perjalanan Jongin terus teringat pembicaraannya siang tadi bersama Minho. Dia dilanda dilema, antara melanjutkan ini semua atau memang ia harus berhenti sampai disini. Tidak ia pungkiri kalau ia memang masih menyayangi Sooji, tapi disatu sisi dia juga sudah merasa tidak kuat.

“Jongin?”

“Ah n-ne?”

“Ne? Kau tidak dengar sejak tadi aku bicara denganmu?” Sooji menatap Jongin tidak percaya. Sudah sejak tadi ia berceloteh tentang dress cantiknya, kejadian lucunya dengan Jiae dikampus, sampai menanyakan kenapa namja itu tidak kekampus tadi pagi. Tapi Jongin malah hanya menjawabnya dengan kata “Ne”?

Jongin seketika salah tingkah, jangan sampai Sooji tau kalau saat ini dia sedang punya masalah. “O-oh, maafkan aku chagi. Mungkin aku terlalu memikirkan kejutan untuk hari ini sampai-sampai tidak menghiraukanmu. Aku hanya takut kalau kau tidak suka dengan kejutannya”

Tsk, mana mungkin aku tidak menyukai kejutan yang sudah susah payah disiapkan oleh kekasihku?! Kau tidak perlu takut chagiya. Apapun asalkan itu tulus, aku akan menerimanya dengan perasaan bahagia”

 

Deg

 

Jongin tertegun, mendengar ucapan Sooji barusan membuatnya seperti mendapatkan sebuah kode. Sooji bilang apapun asalkan itu tulus? Lalu bagaimana jika cintanyalah yang mulai tidak tulus untuk Sooji?

 

Dimalam yang menyedihkan ini ( seaakan langitpun akanl runtuh), janganlah kau menangis malam ini

keadaan yang sangat sesuai, janganlah kau menangis malam ini

Aku harus merelakanmu pergi, saat butiran air matamu terjatuh

Cintaku akan terus teringat, Aku mohon janganlah kau menangis malam ini

 

“Nah sudah sampai”

“Oh, bukankah ini café milik Minho oppa?” tanya Sooji pada Jongin yang terlihat sibuk mencari sesuatu didashboard mobilnya.

“Iya, aku meminta bantuan Minho hyung untuk menyiapkan kejutannya” ucap Jongin seraya mengeluarkan sebuah kain berwarna merah. “Sekarang kau pakai ini dulu” Jongin tutup mata Sooji dengan kain merah tersebut. Lalu dengan hati-hati menuntunnya masuk kedalam café yang malam itu terlihat agak sepi.

“Oh ini dia tamu special kita” ucap Minho menyambut kedatangan Jongin dan Sooji.

“Minho oppa, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu” ucap Sooji girang. Memang keluarga Jongin yang ia kenal hanya Minho dan mereka cukup dekat.

“Kabarku baik Sooji” jawab Minho lembut. Ia lirik Jongin yang menunduk sambil tersenyum pahit. Minho tahu, saat sekarang ini pasti keadaan yang sulit untuk Jongin. Lebih baik dia biarkan Jongin segera menyelesaikan urusannya.

“Baiklah, kalau begitu silahkan ketempat kalian. Bersenang-senanglah”

Jongin dan Sooji melanjutkan langkah menuju ruangan yang sudah disiapkan untuk mereka. Dengan sabar Jongin menuntut Sooji, dan dengan perasaan riang Sooji merangkai langkah kakinya. Sampai tibalah mereka disebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan VIP yang sudah dihias sedemikian rupa agar terlihat cantik malam itu. Dengan lembut Jongin melepas kain yang menutup mata kekasihnya.

“Sekarang kau bisa membuka matamu”

Perlahan Sooji membuka mata, dan bersamaan dengan itu sebuah lantunan musik dari biola dan dentingan  piano terdengar. Sooji terpana melihat begitu indahnya ruangan tempatnya berada sekarang. Banyak lilin yang menghiasi ruangan itu, dan pemandangan diluar jendela juga sangat indah. Dipojok ruangan ada dua orang pemain biola dan seseorang yang memainkan piano. Musik pengiring malam itu semakin menambah kesan romantisnya. Dia tidak bisa berhenti tersneyum, ini pertama kalinya ia mendapat kejutan manis seperti ini.

“Kau suka?”

Sooji mengangguk mantap, “Sangat”

“Baiklah, kalau begitu ayo duduk” Jongin menarik kursi lalu mempersilahkan Sooji untuk duduk.

“Woah, ini steak daging sapi kan?”

Jongin tersenyum simpul,“Makanan kesukaanmu”

Sooji lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Makan malam ini terlalu sempurna untuknya. Ia sangat senang bahkan rasanya ia ingin sekali menangis. Apalagi kejutan ini disiapkan oleh seseorang yang paling special dalam hidupnya, membuatnya makin berarti.

“Jangan cuma tersenyum sambil memandangiku begitu. Lebih baik kau makan sebelum steaknya dingin” ucap Jongin lembut. Sooji pun mengangguk lalu mulai memakan steak kesukaannya itu dengan riang. Jongin tersenyum lirih sambil memandangi Sooji yang terlihat begitu bahagia. Haruskah dia menghancurkan kebahagiaan itu sekarang?

Cukup lama mereka hanya diam dan menikmati makanan dipiring mereka masing masing. Jongin terlalu gelisah hingga membuatnya sulit berpikir dan mencari topik pembicaraan, walau dia terlihat makan tapi sebenarnya dia sama sekali tidak menikmatinya. Sooji pun begitu, entah apa yang membuatnya tidak secerewet biasanya. Sooji hanya merasa aura Jongin sedikit berbeda membuatnya agak bingung dan menjaga sikap.

“Kenap―”

“Sooji?”

“Hihihi.. tadi diam, diam semua. Sekarang malah bicara bersamaan. Lucu sekali, hihihi” Sooji terkekeh sendiri. Ia tidak sadar kalau Jongin kali ini sedang serius. Sampai ia menyadari kalau ternyata Jongin tidak ikut tertawa bersamanya, ia pun akhirnya berhenti. Entah kenapa melihat Jongin serius seperti itu membuat perasaannya tidak enak.

“Maaf, bisa kalian tinggalkan kami berdua” ucap Jongin pada pemain musik dibelakangnya. Sooji mengernyit bingung, tapi ia tidak bertanya. Sampai akhirnya diruangan itu benar-benar hanya tinggal mereka berdua.

“Sooji? Boleh aku mengatakan sesuatu?”

Gadis itu mengangguk, “Tentu saja”

“Aku ingin.. kita berhenti sampai disini”

 

Diatas rasa nyeri, diambang pintu perpisahan

Aku yang begitu kejam, aku akan terus ada untukmu

 

 

Sooji terpaku sambil memandang Jongin dengan mata yang tak berkedip. Ia mencoba menelaah dengan pasti ucapan Jongin. Salahkah yang baru saja dia dengar? Jongin bilang, dia ingin berhenti? Seketika wajah Sooji terasa panas, airmata seketika naik dan memenuhi matanya. Dadanya sesak dan ia sulit bicara.

“Maaafkan aku Sooji. Aku tahu ini terlalu mendadak. Aku hanya sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Aku juga tidak mau menyakitimu tapi kalau bersamamu tapi tidak ada perasaan yang tulus itu sama saja membohongimu kan? Jujur aku masih menyayangimu, tapi..”

“Tapi kenapa? Apa aku berbuat salah padamu?! Apa kau tidak suka pada sikapku? Tidak apa-apa Jongin katakan saja, aku berjanji akan berusaha berubah untukmu. Aku―”

“Bukan. Bukan Sooji, ini bukan salahmu. Ini―”

“Apa ada… wanita lain Jongin?” ucap Sooji disela isakannya. Airmata gadis itu mengalir deras. Suara dan tubuhnya bergetar hebat. Dia benar-benar terpukul, bagaimana bisa Jongin mengajaknya berhenti dihari dimana ia pikir adalah hari yang paling membahagiakan? Seolah dadanya terhimpit, ia sangat sulit bernafas.

Jongin menghela nafas, “Tidak! Ini bukan karna salahmu atau salah orang lain.Ini salahku Sooji. Aku yang salah karna tidak bisa menjaga perasaanku. Aku salah karna tidak bisa bertahan untukmu. Aku yang bodoh Sooji” suara Jongin juga terdengar lirih. Jujur ini sangat berat untuknya. Ia tidak mau menyakiti Sooji, dia juga tidak mau menjadi orang yang kejam. Tapi disaat yang sama dia juga tidak bisa mempertahankan ini semua lebih lama. Tidak menjawab, Sooji hanya menangis sambil menutup wajahnya.

“Maafkan aku Sooji. Aku yakin, suatu hari nanti kau pasti akan bertemu dengan seseorang yang akan menemanimu sepanjang hidupmu. Cinta sejatimu” Jongin beranjak dari duduknya lalu meletakkan sebuah kotak berwarna pink didepan Sooji sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.

Setelah mendengar suara pintu ditutup, Sooji menyandarkan tubuhnya. Terlalu lemas untuk segera bangun dan pergi dari tempat yang sekarang baginya adalah sebuah neraka. Ia terisak hebat sambil memegangi dadanya. Terlalu sakit dan sesak. Jadi inilah akhirnya, perasaan takut yang selama ini ia rasakan akhirnya terjadi.

Beberapa menit setelah ia mulai merasa cukup tenang, ia menegakkan kembali tubuhnya. Dan matanya pun menangkap sebuah kotak pink disebelah piringnya. Dengan tangan yang gemetaran ia meraih kotak tersebut. Perlahan dibukanya kotak itu, ada sebuah foto disana. Foto mereka berdua yang sedang tersenyum riang. Sooji ingat foto itu diambil saat mereka sedang berlibur ke pulau Jeju diawal hubungan mereka. Saat dimana mereka sedang begitu saling mencintai.

“Kenapa secepat ini Jongin? Kenapa?” Sooji lagi-lagi terisak. Mengingat kenangan itu lagi membuatnya tak kuasa menahan tangis. Jika boleh, ia ingin sekali kembali kemasa itu sekarang juga dan waktu berhenti disana. Sooji mengernyit ketika baru menyadari kalau ada secarik kertas lagi didalam kotak itu. Sebuah surat dari Jongin―Mantan kekasihnya.

Saat kau membaca surat ini bisa dibilang aku sudah jadi mantan kekasihmu.

Maafkan aku Sooji, aku tahu ini terlalu kejam tapi aku tidak mau mempertahankan apa yang membuatku merasa tidak nyaman. Kalau terus kita lanjutkan ini juga akan jadi tidak baik untukmu. Tidak perlu cemas, kau gadis yang baik. Aku yakin kau akan menemukan yang lebih baik dari aku nanti. Seseorang yang akan membahagiakanmu selamanya.

Jangan menangis lagi Sooji. Aku bukan orang yang pantas untuk kau tangisi. Kau sudah lihat fotonya kan? Aku ingin kau tersenyum seperti dalam foto itu. Aku tahu kau bukan gadis yang lemah. Aku ingin setiap kali klita bertemu nanti kau tunjukan padaku senyum manis yang sangat aku sukai itu. Jangan menangis, aku minta tolong padamu jangan membuatku merasa bersalah.. Sooji

 

-Jongin-

 

Ku serahkan diri ini padamu, meski kau tidak mengenalku

Aku mohon jangan menangis, tersenyumlah meski itu hanya sebuah kepalsuan

Cahaya bulan terpancar dari matamu

Malam sunyi yang berlalu penuh kesakitan

Setelah kelam menghampirimu, malam ini kau jangan menangis

Semua ini akan berlalu dengan cepat

Cintaku akan tetap melindungimu, jadi malam ini kau jangan menangis

 

 

“Jongin! Cepat bangun!” pekik seorang gadis berpakaian rapi yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang. Jongin perlahan membuka mata dan melihat kakaknya berdiri disebelah ranjangnya dengan raut wajah kesal.

“Jongin cepat bangun! Atau kau akan kusiram dengan air!”

Tsk.. iya aku bangun. Ini sudah kan?! Kau puas?!” Jongin duduk diranjangnya dengan mata yang masih setengah terbuka. Mendengar teriakan buas kakaknya jelas ia takut untuk tidak segera bangun.

“Dengar ya?! Aku tidak mau kau bolos kuliah lagi hari ini. Kemarin aku sudah kena marah ibu karna Minho melaporkanmu”

Jongin mendongak, ia mendelik menatap kakaknya, “Apa? Dia melaporkanku?!”

“Iya. Dan siapa yang kena marah? Aku Jongin! Ibu sangka aku tidak becus menjagamu disini. Awas kalau kau sampai bolos hari ini. Akan kubunuh kau!” bentak kakaknya sebelum akhirnya gadis berblazer putih itu berjalan keluar kamar. “Cepat mandi dan ganti jasmu. Bau alkohol”

Jongin mengernyit, dia baru sadar kalau dia tidur tanpa mengganti bajunya kemarin. Dan benar kata kakaknya, bau alkoholnya menyengat sekali. Ini pasti karna dia minum terlalu banyak semalam. Kepalanya pun masih terasa pening.

“Haaah..” Jongin menghela nafas seraya bersila lalu menundukkan kepalanya. Ia pejamkan matanya sebentar, masih begitu ia ingat kejadian semalam. Kejadian pahit dimana ia sudah menjadi orang yang kejam. “Maafkan aku Sooji” lirihnya pelan dan airmata jatuh dari mata indahnya. Jongin menangis dalam diam. Ia mengeluarkan semuanya, kepedihan yang berusaha ia tahan semalam. Bukannya dia mau menyembunyikan sisi lemahnya, tapi ia hanya tidak mau membuat keadaan semalam semakin menyedihkan.

Jongin ambil ponsel dari dalam saku jasnya seraya menghapus airmata dipipinya. Entah kenapa ia malah mengchek hal yang tidak mungkin terjadi. Ya, biasanya setiap pagi Sooji pasti akan mengiriminya pesan selamat pagi. Dia memang bodoh, mereka sudah berakhir lalu untuk apa Soojin tetap mengiriminya pesan?

 

Drrrt

Drrrt

 

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Mata Jongin mendelik melihat nama yang tertera disana.

“Sooji?!”

From : Sooji

Selamat pagi Jonginnie! Ayo bangun jangan sampai kau terlambat kuliah^^

Haha, mungkin terkesan tidak tahu diri aku mengirimimu pesan seperti ini lagi disaat kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku bisa melakukan apa yang kau minta disuratmu. Aku janji aku akan tersenyum setiap kali kita bertemu. Kita akan tetap jadi teman kan Jongin? Dan ini akan jadi pesan selamat pagiku yang terakhir untukmu^^

Status : Reading

 

Saat mentari pagi menyapa

Sinar mentari yang menginatkanku padamu

Air mata yang tertahan akhirnya terjatuh

 

 

 

 

(END)

 

N/B : NO SIDERS! NO PLAGIAT! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!

5 thoughts on “| XOXO SONGFIC SERIES | Baby Don’t Cry

  1. Admiiinnn… Authooorr…
    Ff the twelve power of olympians itu begimana lanjutnyaa???
    Kok gak keluar” lanjutnya?? Keburu lumutan yehet
    Wkkwkwk
    Thanks before😀
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s