Our Destiny (Chapter 9)

our destiny9----tile

 

Title : Our Destiny | Author : HCV_2

Main cast : Park Ji Eun(OC) Oh Sehun | Other cast : Kim Jong in, Luhan, Shin Taera (OC), Lee Soora (OC)

Genre : Romance, sad | Length : Chaptered | Rating : T

 

WARNING!! THIS NOT FOR SILENT READERS!!

 

Halohaaaaa… annyeooong.. apa kabar teman-temanku sekaliaaan????!!!! Huahahahahaha *pose pahlawan bertopeng* Maap ye maap, author gilanya kebiasaan kumat kalo udah ngepost. Ini semua karna author keliwat seneng soalnya setelah sekian lama mencuci otak, akhirnya fanfic author ada yang kelar jugaaaaaa huehehehehehe

Sumpah demi apa (gatau) author girang bgt pas sadar ternyata satu chapter fanfic ini kelar. Pas tahu kalo bakal dpt liburan seminggu author lgsung target pokoknya chapter 9 musti selese. Dan ternyata doa author terkabul *sujud syukur* Tapi sayang jadinya keknya rada kependekan, sebenernya sih pingin lebih panjang dari ini cuman karna waktunya udh kepepet mau sekolah lagi yah terpaksa deh di TBC dulu hehe. Author mohon maaf kalo misalkan hasilnya tidak memuaskan, ini author udh bwt sekuat tenaga disela liburan yang jarang-jarang author dapet. Dan entah kenapa pas author mulai nulis chapter ini feelnya dapet bgt, mungkin karna udah lama nggak nulis kali ya? Tau deh, pas kalian baca dpt feel juga atau nggak

Ok lah, untuk fanfic selanjutnya author bakal usahakan lanjutkan segera. Yah yang pasti nunggu dapet liburan sekolah lagi hohoho^^ Yang jelas author cuman mohon kesabaran dari para readers sekalian. Author bakal selesein semua fanfic kok. Author bakal bertanggung jawab (?) Jadi jangan mentang-mentang author keluar project baru langsung dikira author mengabaikan fanfic lama. Kasarnya  sih jangan nuduh sembarangan. Jujur author orangnya rada keras, susah diatur. Nggak suka didesak, ntar bisa-bisa ngambek, mental down, waduh parahnya lagi kalo udh kek gitu bisa-bisa fanfic yang sebenernya lagi ongoing malah beneran kagak pernah lanjut. Kan gawat=_=

Sip, udah panjang banget ini. Author cukupkan saja (?) mohon maaf atas keanehan cerita dan typo yang bertebaran. Manusia tidak ada yang sempurna bukan? Okay! Enjoy the story^^

 

SIDERS???? GET OUT! BYE!

 

 

“Didalam sini, ada 2 foto teman kecilku. Kau mau lihat? Mereka berdua sangat tampan” candanya sambil tersenyum kearah Luhan. “Dulu kami sangat dekat, tapi karna suatu hal kami bertengkar dan aku memutuskan untuk pergi. Haaah.. sekarang aku sangat merindukan mere—Ah kenapa aku malah mendongeng seperti ini? Maaf ya.. apa aku membuatmu merasa tidak—”

“Lee Soora?”

 

Deg

 

 Soora terdiam, perlahan ia menatap Luhan dengan mata yang berulang kali berkedip. Terkejut dengan nama yang diucapkan namja itu.

“Bagaimana kau bisa tahu namaku?”

 

 

Chapter 9

 

Suasana hening tiba-tiba menguasai. Bunyi jam yang berdetak diruangan itu seakan menjadi musik pengiring. Setelah Jieun meninggalkan mereka berdua, Sehun dan Jongin masih diam. Jongin berdiri didekat pintu dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celana. Ia tatap Sehun dengan ekspresi bingung, bukankah tadi Sehun bilang dia ingin bicara? Tapi kenapa sekarang dia hanya diam diatas ranjangnya? Jongin menghela nafas sambil memalingkan wajahnya. Lama kelamaan dia mulai bosan menunggu namja tirus itu. Haruskah dia yang lebih dulu memulai? Namun saat baru saja ia membuka mulutnya, Sehun memulai pembicaraan.

“Bagaimana keadaan Taera?” ucap Sehun akhirnya. Jongin mendadak diam, sedikit terkejut akan hal yang Sehun tanyakan. Namja itu menanyakan Taera? Aneh.. padahal sempat Jongin berpikir kalau hal yang akan dibicarakan Sehun adalah tentang kisah mereka dengan Jieun.

“Aku tidak salah dengar kan? Kau bertanya tentang Taera?”

Sehun berdecak. Mendengar nada bicara Jongin yang seperti mengejeknya membuatnya agak risih. Memang apa salahnya dia bertanya soal sahabat kecilnya?

“Memang kenapa? Aku hanya ingin tahu keadaannya. Setelah kejadian itu kami benar-benar putus hubungan. Walau aku masih kesal, tapi tidak aku pungkiri kalau aku mengkhawatirkannya”

Jongin tersenyum simpul. “Memang tidak salah kau bertanya tentang keadaannya. Aku tahu seberapa pun kau membencinya, sebagai seorang yang mengenalnya sejak kecil kau pasti menyayanginya. Tapi aku agak bingung, kenapa kau malah menanyakan keadaan Taera padaku?” sahut Jongin santai sambil mengendikkan bahunya. Dia dan Taera tidak dekat bahkan Jongin dan gadis itu cukup sering berdebat, tapi kenapa Sehun bisa punya pikiran untuk menanyakan keadaan Taera padanya? Apa hanya karrna belakangan ini Jongin sering menemani Taera menangis membuat mereka terlihat dekat?

“Aku dengar kemarin kau mengantar Taera pulang dalam keadaan mabuk”

“Iya memang. Aku tidak sengaja bertemu dengannya dibar kakak sepupuku. Dia mabuk berat saat itu. Tidak kusangka kemarahanmu bisa membuatnya kacau dan berantakan seperti itu. Aku benar-benar prihatin melihatnya” jelas Jongin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sehun menghela nafas lalu menunduk.

“Kebiasaannya tidak pernah berubah. Dia selalu begitu setiap kami bertengkar”

Jongin tersenyum tipis. Melihat ekspresi Sehun membuatnya tahu kalau sebenarnya perasaan Sehun dan Taera tidak sekeras yang biasanya terlihat. Terlihat jelas dimata namja itu kalau ia begitu menyayangi Taera. Sehun bersikap tegas selama ini pasti hanya untuk meyakinkan Taera bahwa sikap gadis itu salah. Sehun tahu kalau dia tidak mungkin bisa mencintai Taera karna itu dia berusaha membuat Taera berhenti menyukainya. Dia hanya tidak mau membuat Taera sakit hati pada akhirnya. Jongin mengerti, jika dia dalam posisi Sehun, namja itu yakin pasti akan melakukan hal yang sama.

“Ohya, aku tidak tahu apa Taera mengatakan ini secara sadar atau tidak padaku. Yang jelas kurasa kau perlu mengetahuinya” ucap Jongin yang sontak membuat Sehun menoleh kearahnya. Alis Sehun terangkat dan ekspresinya seperti menuntut jawaban cepat.

“Dia bilang dia akan pergi. Dia bilang dia akan melajutkan sekolahnya kePerancis. Kalau tidak salah dia bilang dia akan tinggal bersama kakek dan neneknya disana. Dia bilang dia ingin pergi karna tidak mau lebih menyusahkanmu lagi karna perasaannya. Dia bilang lebih baik dia pergi dari pada terus merasakan sakit hati. Dia bilang dia ingin belajar untuk merelakanmu. Dia hanya ingin kau bahagia bersama Jieun..” Jongin memaparkan apa yang Taera katakan padanya kemarin. Tatapan mereka tidak lepas, dan dapat Jongin lihat perubahan tatapan mata Sehun. Sehun hanya tersenyum kecut lalu kembali menunduk.

“Memang benar, yang dia katakan benar. Lebih baik dia pergi dari pada terus membuatku menjadi namja yang kejam”

“Sehun? Apa kau tidak bisa bicara baik-baik pada Taera? Setidaknya berhenti membuatnya berpikir kalau kau membencinya. Apa kau tidak kasihan melihatnya terus menangisimu?” Jongin berjalan mendekat keranjang Sehun. Entah kenapa suasana diruangan itu sedikit berbeda. Keduanya seolah serius dengan pembicaraan mereka kali ini.

Lagi-lagi Sehun tersenyum kecut, “Aku juga ingin melakukannya Jongin. Tapi Taera sedikit berbeda, obsesinya terlalu besar padaku. Aku takut jika nantinya dia kembali berharap padaku. Aku tidak mau membuatnya semakin tersakiti dari pada ini. Jika cara ini mampu membuatnya melupakanku, aku akan terus melakukannya” ucap Sehun seraya membalas tatapan Jongin. Namja berkulit gelap itu menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

“Baiklah. Ini semua terserah padamu. Apapun yang kau anggap baik, lakukanlah” ucap Jongin sambil menepuk pundak Sehun. Entah perasaannya saja atau memang akhir-akhir ini ia berubah menjadi orang bijak. Pada Taera dan sekarang pada Sehun, sepertinya ungkapan semua masalah pasti ada hikmahnya itu benar. Sebuah masalah memang mendewasakan seseorang.

“Lalu bagaimana dengan dirimu?” Sehun mendongak lalu menatap ekspresi bingung Jongin.

“Aku?”

“Maksutku, bagaimana perasaanmu pada Jieun? Apa kau benar-benar sudah merelakannya untukku?” tanya Sehun yang terdengar ragu-ragu. Memang pertanyaan itu terdengar agak menjurus tapi Sehun hanya ingin tahu. Jongin hanya tertawa pelan sambil memalingkan wajahnya, membuat Sehun mengerutkan dahinya. Apanya yang lucu?

Jongin menghela nafas berat, “Aku tidak mau munafik. Jujur aku sama sekali belum merelakan Jieun untukmu. Tapi aku tahu, aku tidak akan pernah bisa merubah perasaan Jieun padamu. Dia sungguh-sungguh mencintaimu Sehun. Itu yang membuatku harus merelakannya” sahut Jongin pelan namun terdengar tegas. “Mungkin memang tidak mudah melakukannya. Tapi untuk Jieun aku akan berusaha. Suatu saat nanti aku pasti akan tersenyum senang melihat Jieun bahagia bersamamu”

 

Deg

 

Sehun terdiam. Ucapan Jongin membuatnya terpaku. Ia seperti tidak yakin akan kata-kata Jongin. Bukan tidak yakin kalau namja itu suatu saat pasti merelakan Jieun, tapi tidak yakin apa ia benar-benar bisa membuat Jieun bahagia? Dengan keadaannya yang seperti ini, tidak salah kan kalau dia ragu? Dia takut kalau dia tidak mampu bertahan. Seharusnya Jongin bisa melihatnya sendiri kalau harapannya sedikit sulit untuk direalisasikan mengingat keadaan Sehun yang memburuk.

“Kau berjanji kan akan membuat Jieun bahagia? Oh Sehun?”

Sehun tersentak, “Ah? Te-tentu saja..”

 

 

 

¶¶¶¶¶

“Sudah berapa lama kau dikorea?”

“Sudah.. sekitar 4 bulan oppa” jawab Soora sambil menggaruk tengkuk lehernya.

Luhan hanya menghela nafas sambil menatap Soora dengan tatapan yang terlihat agak kesal. Sementara gadis didepannya terus menunduk. Sejak bertemu dikoridor beberapa menit yang lalu, lebih tepatnya setelah Luhan mengetahui kalau gadis pemilik jepitan itu benar-benar teman kecilnya, mereka terlibat pembicaraan serius. Mereka memutuskan untuk bicara dicafe didepan rumah sakit tempat Sehun dirawat. Mereka duduk berhadap dan ekspresi kesal Luhan tidak juga menghilang.

“Sudah selama itu dan kau belum mengabari kami?” tanya Luhan lagi tak percaya akan jawaban Soora. Luhan bukannnya marah atau kesal, tapi namja cantik itu hanya kecewa kenapa sudah kembali ke Korea tapi Soora sama sekali tidak menghubunginya ataupun Sehun? Luhan tahu mereka punya masalah yang cukup serius dulu. Tapi apa pantas jika dia bersikap seperti ini? Bagaimana pun mereka pernah berteman baik, bahkan sangat baik. Apa hanya karna masalah mereka dulu membuat Soora ingin menghilang selamanya dari kehidupan Luhan dan Sehun?

Soora meringis, “Mian oppa. Aku bukannya bermaksut bersembunyi atau apa. Aku hanya belum siap bertemu dengan kalian lagi. Apalagi dengan.. Sehun..” Soora menunduk seraya menggingit bibir bawahnya. Campuran antara ekspresi takut sekaligus menyesal tergambar diwajah manis Soora. Mendengar jawaban gadis manis didepannya, ekspresi Luhan mulai berubah. Luhan mulai merelaksasikan otot-otot diwajahnya. Melihat ekspresi Soora membuat Luhan sedikit menyesal karna sudah terlalu emosional. Luhan tahu memang pasti sulit untuk Soora setelah sekian lama tidak berhubungan dengan dirinya atau Sehun.

Luhan menarik nafas panjang lalu menghebuskannya, “Maafkan aku Soora, aku hanya sedikit terbawa emosi tadi”

“Tidak apa-apa. Aku sudah tahu kalau akan seperti ini. Kalau aku jadi oppa aku pasti juga akan marah” Soora mendongak seraya berusaha tersenyum. Jujur dia agak gugup sekarang. Mengingat pertemuan ini terjadi tiba-tiba membuatnya tidak mengerti harus bagaimana. Tidak Soora sangka akan secepat ini bertemu dengan Luhan. Dia benar-benar belum siap.

Suasana mendadak hening. Sepersekian detik mereka diam dan tidak ada yang bicara. Soora jelas sedang berusaha untuk menenangkan dirinya yang harus tiba-tiba dihadapkan dengan Luhan, orang yang sampai saat ini tidak ia pungkiri masih mengisi relung hatinya. Sedangkan Luhan sedang kebingungan mencari topik pembicaraan. Mungkin karna sudah sekian lama tidak bertemu dengan Soora. Apalagi melihat gadis kecilnya sudah tumbuh dewasa dan berubah menjadi bidadari cantik sekarang, membuatnya agak canggung.

“Bagaimana sekolahmu dijepang? Apa berjalan lancar?” pertanyaan itulah yang keluar dari mulut mungil Luhan. Agak kaku tapi setidaknya cukup untuk mencairkan suasana.

“Ah? Iya lumayan. Walau awalnya agak sulit untuk beradaptasi tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa”

“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Kau pasti punya banyak teman. Iyakan?”

“Yaah bisa dibilang begitu.. hehehe” sahut Soora sambil tersipu. Sepertinya rencana Luhan berhasil, kecanggungan yang tadi sempat terbentuk mulai berubah.

“Lalu kalau oppa bagaimana? Pasti sudah masuk perusahaan paman Oh kan? Jabatan oppa apa?” tanya Soora antusias. Luhan tersenyum, sekarang ia percaya kalau gadis didepannya adalah gadis kecilnya yang dulu. Selalu bersemangat dan ceria, dan bola mata coklatnya yang indah. Luhan sangat menyukainya.

“Iya, sekarang aku menjadi marketing manager. Bagaimana menurutmu?”

“Tentu saja sangat bagus! Perlahan-lahan oppa pasti akan menjadi direktur, lalu jadi presdir” Soora acungkan jempolnya kedepan lalu bersmile eyes didepan Luhan. Sebuah senyuman yang seketika membuat jantung Luhan berdetak cepat. Ia sendiri tidak mengerti, matanya seolah menangkap pemandangan itu sebagai pemandangan yang sangat indah. Sejak dulu, Luhan memang sangat menyukai senyuman Soora. Tapi melihat senyuman itu diumur mereka sekarang membuat perasaannya sedikit berbeda. Apalagi kalau boleh jujur, menurutnya kini Soora sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

Mata Soora berkedip berulang kali melihat Luhan yang melamun sambil memandanginya, “Oppa?” panggilnya sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Luhan. Namja itu seketika tersentak, dan dia mulai salah tingkah.

“Oppa tidak apa-apa?”

“Eh? Ti-Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja Soora”

“Baiklah..” jawab Soora sambil menganggukan kepalanya. Kali ini mereka diam lagi, sibuk menyeruput kopi yang sudah mereka pesan. Tapi seolah baru saja mengingat sesuatu, Soora membulatkan matanya lalu menatap Luhan.

“Ada apa?”

“Bukankah tadi oppa bilang, oppa sedang menjenguk adikmu yang ada dirumah sakit? Apa maksutnya itu.. Sehun?” pertanyaan Soora membuat Luhan sedikit tersedak. Jujur, Luhan juga baru menyadarinya. Luhan diam seraya meletakkan cangkir kopinya. Tatapan mata namja itu berubah sendu. Seolah mengerti, Soora menghela nafas.

“Benarkah itu? Apa.. penyakitnya kambuh lagi?” tanya Soora lagi,sedikit ragu seperti takut dengan pertanyaannya sendiri. Kali ini hanya dijawab anggukan kepala dari Luhan. Namja itu mendongak, dapat ia lihat ekspresi terkejut gadis itu. Butiran kaca juga menumpuk dimata indah Soora.

“Kenapa bisa kambuh lagi oppa?! Bukankah dulu dia sudah dioperasi dan dikemoterapi?” suara gadis berambut panjang kecoklatan itu bergetar. Luhan tau pasti Soora sangat terpukul, karna setau Luhan Soora mau pergi ke Jepang waktu itu karna yang dia tahu Sehun sudah sembuh dari penyakitnya.

“Penyakit kanker memang begitu. Jika tidak benar-benar bersih, selnya bisa tumbuh lagi Soora” jawab Luhan sekenanya, sebenarnya dia sendiri paling tidak kuat jika membahas apapun tentang penyakit adiknya. Tapi dia ingin tetap terlihat kuat.

“Lalu keadaannya sekarang bagaimana?”

“Dokter masih mengechek perkembangan sel kankernya”

Soora menghela nafas berat. Ia gigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan tangis. Seketika kenangannya bersama Sehun dulu terputar otomatis. Sehun, adalah sahabat yang paling disayanginya. Dia dan Sehun sangat dekat. Kemana pun Soora pergi, Sehun pasti ada disana. Sehun adalah orang yang paling tahu semua masalahnya. Sehun seolah punya sesuatu yang tidak dimiliki temannya yang lain. Membuat Soora nyaman untuk bercerita dan berbagi dengan namja itu. Sampai akhirnya tiba-tiba namja itu menyalah artikan kedekatan mereka. Membuat Soora memutuskan untuk menjauh.

“Soora?”

“Ne?”

“Sehun pasti merindukanmu. Kau tau? Sampai saat ini, dia masih menyimpan fotomu didompetnya. Tidakkah kau juga rindu padanya?” tanya Luhan lembut sambil menatap mata Soora yang sudah basah akan airmata.

“Tentu saja oppa. Aku bahkan sangat.. sangaaat merindukannya”

“Lalu? Kenapa tidak kau coba untuk menemuinya sekarang?”

Soora menunduk dalam, “Aku belum siap oppa..”

 

 

 

¶¶¶¶¶

Jongin berjalan menelusuri koridor rumah sakit menuju pintu keluar. Setelah pembicaraannya dengan Sehun selesai, dan setelah ia berpamitan dengan Jieun ia memutuskan untuk pulang. Entah ada apa, tuan Kim sudah memintanya untuk cepat pulang. Sambil berjalan Jongin memperhatikan sekelilingnya. Banyak pasien, suster ataupun dokter yang berlalu lalang. Sebenarnya dia benci rumah sakit. Dia sangat benci bau obat-obatan yang menyeruak disetiap sudut. Tapi demi Jieun dia menepis ketidaksukaannya itu.

Ketika sedang asik menikmati perjalanannya, mata Jongin secara tidak sengaja melihat seseorang. Ia berhenti lalu memperhatikan orang itu. Seseorang yang menggunakan kacamata hitam besar yang hampir menutupi sebagian wajah mungilnya. Seorang gadis berambut kemerahan yang sedang mengintip dibalik tembok seperti seorang maling. Dengan dahi yang berlipat Jongin memperhatikan gadis yang terasa familiar itu.

“Taera?” gumam Jongin ketika gadis itu membuka sedikit kacamatanya. Dengan langkah ragu, Jongin menghampiri gadis yang kini sedang bersandar ditembok tempatnya bersembunyi. Semakin dekat dan Jongin semakin yakin kalau gadis itu adalah Shin Taera.

“Hey!”

Taera seketika terkesiap ketika sebuah tangan besar menepuk pundaknya. Gadis itu sontak menoleh sampai kacamata besarnya hampir saja terjatuh. Mata Taera membulat melihat siapa yang sedang menatap bingung kearahnya.

“Jongin?”

“Kau sedang apa?” tanya Jongin sembari menatap aneh kearah Taera. Ia perhatikan penampilan Taera dari bawah keatas. Gadis itu memakai rok panjang yang menutupi seluruh kakinya. Selain itu dia juga memakai topi matahari ukuran jumbo berwarna ungu. Benar-benar penyamaran yang aneh.

“Aku sedang..umh… Eh? Tunggu dulu, kau mengenaliku?” Taera menunjuk dirinya sendiri sambil menatap Jongin tidak percaya. Matanya membulat dan mulutnya ternganga. Dengan penyamaran sehebat ini, bagaimana bisa Jongin mengenalinya? Tapi Jongin malah terbahak sambil menutup mulutnya.

“Ini karna kau terlalu aneh hingga aku bisa mengenalimu Taera” sahut Jongin dengan tawa yang tertahan. Taera mengerucutkan bibirnya sambil bersedakap. Ia sadar kalau ia sangat lucu dengan penampilan itu, tapi apa perlu Jongin menertawainya sampai begitu?

“Berhenti menertawaiku Jongin. Kau membuatku malu”

“Apa? Kau malu hanya karna aku tertawai? Jadi sebelumnya kau tidak malu dengan penampilan se-ekstream ini?!”

“Jongin!” bentak Taera sambil menghentakkan kaki kanannya. Jongin pun seketika berhenti tertawa. Matanya berkedip berulang kali melihat mata Taera yang sudah berkilat-kilat menatapnya. Tertanya kalau sedang marah, wajah seram Taera tidak kalah dengan wajah seram Jieun.

Jongin memamerkan gigi putihnya sambil mengacungkan v-sign. “Hehehe, iyaya aku tidak akan menertawaimu lagi. Maaf..”

Taera menghela nafas lalu membuka topi dan kacamatanya. Ia masukkan perlengkapan menyamarnya kedalam tas mahal yang ia bawa. Jongin diam sambil menunggu Taera selesai merapikan barang-barangnya.

“Kenapa menatapku seperti itu? Mau mengejekku lagi?” celetuk Taera setelah fokusnya sudah kembali pada Jongin. Namja itu hanya tersenyum simpul.

“Hey tidak baik berburuk sangka begitu pada orang yang sudah menolongmu” ucap Jongin santai sambil memasukan tangannya kedalam saku celana. Taera mendongak lalu membalas tatapan Jongin dengan ekspresi bingung.

“Bukankah aku sudah menolongmu dari penyamaran bodoh itu? Kalau saja aku tidak datang, mungkin sampai sekarang kau masih bertingkah seperti orang gila”

“HEY KIM JONGIN!” pekik Taera sambil memukul keras lengan kekar Jongin. Namja itu meringis sambil mengelus lengan kanannya yang terasa panas karna pukulan maut gadis yang masih memakai kemeja sekolah itu.

“Kau punya kekuatan seperti laki-laki ya Taera. Sakit sekali”

Taera mencibir, “Makanya berhenti mengejekku!” ucapnya seraya berkacak pinggang. Jongin lagi-lagi hanya terkekeh pelan.

“Baiklah, sekarang aku serius. Untuk apa kau menyamar seperti orang bodoh begitu eoh?”

“Eh? Itu.. untuk..”

“Kau ingin menemui Sehun kan?”

Taera mengangguk.

“Lalu? Untuk apa menyamar begitu?”

Taera hanya diam sambil menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jongin berdecak sambil memalingkan wajahnya.

“Kau takut?”

Taera mengangguk.

“Memangnya Sehun monster? Kenapa kau harus takut Taera?!” kali nada bicara Jongin benar-benar memperlihatkan ketidakpercayaannya. Kenapa menemui Sehun saja gadis itu harus menyamar? Jongin pun mulai berspekulasi aneh diotaknya. Apa mungkin otak Taera mengalami gangguan karna terlalu stress memikirkan hubungannya dengan Sehun?

“Aku takut Sehun tidak mau bertemu denganku. Aku hanya ingin melihat wajahnya, walau hanya sedetik itu tidak masalah. Asalkan aku bisa melihatnya. Aku takut jika dia melihatku dia akan pergi dan menghindar, karna itu aku menyamar”

Jongin menghela nafas, “Taera? Kau tidak akan pernah tahu jika kau tidak mencoba. Kenapa kau begitu yakin kalau Sehun tidak mau melihatmu? Apa dia pernah mengatakannya langsung padamu?”

“Dia pernah membentakku dan menyuruhku untuk menjauhinya. Kurasa itu artinya dia tidak ingin melihatku lagi” jawab Taera dengan suara yang mulai bergetar. Wajah dan matanya juga sudah memerah.

“Taera? Sehun mengkhawatirkanmu”

Taera seketika mendongak, “Eh?”

“Itu firasatku” sahut Jongin yang seketika membuat ekspresi Taera berubah. Jongin menipunya. Ia pikir Sehun benar-benar mengkhawatirkannya. Walau Taera tahu itu memang mustahil tapi dia tetap saja kecewa.

“Dengar, seberapapun Sehun marah padamu bukan berarti Sehun membenci dirimu sepenuhnya. Kau teman kecilnya Taera. Perasaan sayang itu pasti ada. Dan perasaan ingin memaafkan itu pasti juga ada. Ini hanya masalah waktu. Mungkin sekarang Sehun masih marah padamu, tapi aku yakin dia akan memaafkanmu jika kau berusaha. Kau hanya tidak boleh terus membuatnya terlihat seperti manusia yang kejam”

Taera hanya diam. Didalam hati ia membenarkan perkataan Jongin. Tapi ia hanya sulit untuk melakukannya. Mengingat bagaimana marahnya Sehun waktu itu padanya, membuat Taera sulit menghilangkan rasa takut dan persepsi bahwa  Sehun membencinya.

“Kau akan pergi kan?”

“Eh? Ke-kenapa kau bisa tahu?” mata gadis itu membulat menatap Jongin. Kenapa hari ini Jongin penuh kejutan? Ini sudah kesekian kalinya Jongin membuat mata Taera membulat.

“Sudah kuduga pasti kau tidak menyadarinya. Kemarin, saat kau mabuk berat. Kau mengatakannya sendiri padaku kalau kau akan pergi ke Perancis 5 hari lagi” sahut Jongin santai. Sementara Taera meringis sambil menepuk-nepuk keningnya seraya mengucapkan kata bodoh berulang kali.

“Kau tidak bermaksut menyembunyikannya dari Sehun kan Taera?”

“Itu..kurasa..”

“Kau harus mengatakannya. Gunakan kesempatan itu untuk sekaligus meminta maaf padanya. Jangan melarikan diri begitu saja. Kau memang sudah kalah, tapi kau tidak boleh kalah tanpa harga diri. Pergi tanpa berpamitan, membuat salah tanpa meminta maaf,  itu pengecut namanya. Bagaimana pun caranya minta maaf dan berpamitanlah dengan Sehun sebelum kau pergi”

Taera menghela nafas seraya mengangguk, “Baiklah..”ucapnya pelan namun pasti. Entah kenapa, akhir-akhir ini Taera merasa Jongin berbeda. Ada kharisma tersendiri yang ia tangkap dari Jongin. Jongin selalu berhasil membuat perasaannya menjadi lebih baik. Kata-kata namja itu terus saja berhasil meyakinkan Taera untuk mengikutinya.

Jongin tersenyum simpul, “Itu baru Shin Taera” ucap namja berkulit gelap itu sambil mengelus puncak kepala Taera. Agak terkejut, tapi gadis itu menyukainya. Perlahan kedua ujung bibir merah mudanya terangkat. Membalas senyum menawan Jongin.

“Terimakasih.. Jongin. Aku pasti akan terus mengingat semua jasa baikmu padaku”

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

“Apa yang kau bicarakan dengan Jongin?” tanya Jieun seraya menggeser kursi kedekat ranjang Sehun. Matanya mengerjap berulang kali memandangi Sehun yang hanya diam. Seakan menunggu, Jieun malah ikut diam sambil memiringkan kepalanya memandang Sehun.

“Chagiya?” panggil Jieun pelan sambil perlahan menyentuh pundak Sehun. Seketika Sehun terkesiap, ternyata dia benar-benar sedang melamun tadi. Sontak keterkejutan Sehun membuat Jieun refleks melepas tangannya. Sehun menoleh, dan didapatinya Jieun yang melihatnya bingung dengan kening yang berlipat-lipat.

“Kau kenapa? Apa ada masalah? Kenapa melamun begitu? Kau membuatku khawatir” Jieun menyerang Sehun dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Jelas saja, sikap Sehun terlalu aneh untuk gadis itu. Kenapa setelah bicara dengan Jongin, Sehun jadi begini? Jieun penasaran, apa yang sebenarnya mereka bicarakan tadi?

“Eh? Tidak, tidak ada masalah apapun. Aku hanya agak mengantuk setelah minum obat” sahut Sehun sambil berusaha tersenyum. Walau agak kaku, tapi Sehun hanya tidak ingin Jieun khawatir.

Jieun semakin menautkan alisnya, “Apa iya?” ucapnya merasa tidak yakin dengan jawaban Sehun. Ia merasa Sehun menyimpan sesuatu. Sehun menghela nafas lalu memutar posisi duduknya menghadap Jieun.

“Sungguh chagiya. Kau tidak percaya padaku?” tanya Sehun sambil mengelus puncak kepala Jieun. Sepersekian detik mereka saling menatap. Sehun seolah meyakinkan Jieun melalui tatapan matanya. Gadis itu akhirnya mengangguk.

“Baiklah aku percaya”

Sehun tersenyum, “Nah itu baru Jieun ku yang manis” Sehun cubit kedua pipi kekasihnya dengan gemas. Membuat Jieun meringis sambil memukul-mukul tangan putih Sehun. Jieun merengut seraya mengusap pipinya yang merah ketika Sehun melepaskan cubitan mautnya.

“Kau sudah makan?” tanya Sehun lembut sambil tersenyum. Senyuman indah yang begitu Jieun sukai. Gadis berambut panjang itu mengangguk tanda mengiyakan.

“Sebelum kesini aku sudah makan dengan Jongin”

“Makan siang berdua? Dengan Jongin?”

Jieun mengangguk mantap, “Yup” jawabnya santai yang dibalas dengusan dari Sehun. Wajah namja itu terlihat kesal.

“Kenapa?”

“Lain kali, makan siang disini saja bersamaku” ketus Sehun yang secara otomatis membuat Jieun mengernyit. Sikap otoriter namja itu mulai lagi. Sehun mengaduh ketika tiba-tiba saja sebuah sentilan keras membuat keningnya perih. Ia meringis sambil memegangi bagian keningnya yang disentil Jieun.

“Kau mulai lagi Oh Sehun”

“Memangnya kenapa? Aku tidak suka kalau kekasihku makan siang berdua dengan namja lain. Apalagi namja itu dulunya adalah sainganku. Bagaimana kalau Jo—Ah!” Sehun menghentikan kata-katannya ketika satu sentilan lagi mendarat dikeningnya. Ia tatap Jieun dengan tatapan kesal bercampur takut.

“Jongin itu sahabatku. Aku sudah biasa makan siang bersama dia dan dia tidak mungkin macam-macam. Hentikan pikiran negatifmu itu”

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya, “Iya iya aku tahu” sahut Sehun dengan nada malas. Jieun berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Perangai Sehun tidak pernah berubah. Tanpa memperdulikan cibiran kekasihnya, Jieun bangun lalu mengambil tasnya. Ia keluarkan sebuah buku tulis lalu menyodorkannya pada Sehun. Sedetik Sehun menatap buku didepannya kemudian mengalihkan pandangan pada Jieun.

“Ini buku catatan. Aku sudah mencatatkan pelajaran tadi untukmu agar kau tidak ketinggalan pelajaran. Ambillah..” Jieun dorong pelan buku berwarna merah itu untuk mempertegas tawarannya. Sehun tersenyum lalu mengambil buku tersebut. Sehun buka buku itu untuk melihat isinya. Dan senyum Sehun mengembang melihat bagaimana rapinya gadis itu mencatatkan catatan itu.

“Kau suka? Aku membuatnya serapi mungkin agar kau bisa mengerti”

“Aku suka. Sangat suka. Terimakasih ya chagiya?” sahut Sehun lembut. Lagi-lagi ia mengelus kepala Jieun. Dapat Sehun lihat senyum diwajah kekasihnya. Sangat murni dan indah. Rasanya seperti ada angin sejuk yang berhebus didada Sehun, membuat hatinya merasa nyaman.

Keduanya diam dengan mata yang terpaut satu sama lain. Senyuman juga tidak lepas dari wajah dua sejoli itu. Saat tenang dimana mereka bicara melalui perasaan mereka. Namun perlahan, hati Sehun merasakan sebuah getaran. Getaran menyakitkan yang semakin lama semakin perih. Lagi-lagi pikiran buruk tentang keadaan tubuhnya saat ini membuatnya ketakutan. Mengingatnya saja membuat Sehun seperti ingin menangis. Dengan agak bergetar, tangan Sehun turun mengelus pipi putih kekasihnya. Alis Jieun tertaut ketika ekspresi wajah Sehun berubah. Mata Sehun berubah sendu. Dapat Jieun lihat kegundahan hati Sehun disana.

“Sehun?” panggil Jieun pelan. Sehun tersentak dan dengan reflek menjauhkan tangannya.

“Katakan padaku. Kau pasti bohong jika kau bilang kau tidak punya masalah”

Sehun menghela nafas berat lalu menunduk, “Aku hanya takut”

“Takut? Takut kenapa?”

“Jieun…” Sehun mendongak, mempertemukan mata sendunya dengan kedua mata bening kekasihnya. Dengan menahan nafas, Jieun menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir mungil Sehun.

“Setiap manusia punya batas mereka masing-masing. Setiap kelahiran akan berakhir dengan kematian. Aku tidak tahu sampai kapan batas waktuku didunia ini. Tapi entah kenapa, rasanya sudah terlalu berat untukku..”

“Ke-kenapa.. kau bicara.. seperti itu?” ucap Jieun terbata. Ia mengerti kemana arah pembicaraan ini. Airmatanya tiba-tiba terjatuh, mendengar perkataan Sehun membuat dadanya terasa sesak.

“Dengar, apapun yang terjadi kau hanya harus selalu ingat kalau aku mencintaimu. Sampai kapapun hanya kau yang ada didalam hatiku. Jika aku pergi nanti, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Jangan menutup hatimu untuk namja lain. Kau juga harus tetap bahagia. Walau aku tidak disampingmu, aku akan—“

“HENTIKAN!” bentakkan Jieun seketika menghentikan perkataan Sehun. Perkataan yang menurut Jieun sudah terlalu jauh. Wajah dan mata gadis itu memerah. Tubuhnya bergetar dan airmatanya sudah mengalir deras. Apa yang baru saja Sehun katakan? Kenapa dia bicara seolah waktunya akan berhenti sekarang juga?

“Jangan bicara lagi Sehun. Jangan bicara hal-hal menakutkan seperti itu! Kau membuatku..” Jieun terisak pelan. Ia menangis sambil menutup wajahnya. Tanpa sadar, airmata Sehun juga sudah menumpuk. Sudah siap jatuh dan membasahi wajahnya yang tampan.

“Maafkan aku” Sehun turun dari ranjang lalu memeluk tubuh Jieun yang begetar karna menangis. Mata Sehun terpejam sambil mengelus lembut rambut panjang kekasihnya. Dadanya terasa sesak. Menarik nafas saja dia harus bekerja keras. Sehun menyesal telah membuat pujaan hatinya menangis.

“Aku tahu kau lelah. Aku tahu ini berat untukmu. Tapi kau tidak boleh bicara seperti itu. Apa kau sudah menyerah? Bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku jika semangatmu hanya sampai disini Sehun? Jika kau benar-benar mencintaiku, kau seharusnya berjuang. Berjuang dan berusaha untuk tetap berada disampingku” ucap Jieun disela isakannya. Sehun menghela nafas lalu melepas pelukannya. Perlahan ia menghapus airmata diwajah Jieun.

“Maafkan aku Jieun..”

“Ishhh! Untuk apa minta maaf?! Memang kau berbuat salah apa eoh?! Aku tidak mau mendengar kau meminta maaf padaku. Tapi aku mau kau bertahan untukku!” Jieun mulai kesal. Ia tepis tangan Sehun diwajahnya, membuat Sehun terkesiap. Kenapa hanya kata maaf yang terus Sehun katakan?!

“Sehun? Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Apapun bisa terjadi. Orang yang sudah meninggal saja bisa hidup kembali. Lalu kenapa kau tidak bisa sembuh? Sudah cukup kita berpisah dimasa lalu. Tidak akan kubiarkan takdir memisahkan kita lagi kali ini”

“Jieun..”

Jieun menangkup wajah tirus Sehun. Menatap tegas mata sipit namja itu. “Aku mohon. Bertahanlah untukku..Oh Sehun..”

Dengan satu gerakan cepat, Sehun menarik Jieun kedalam pelukannya. Memeluk gadis itu erat seolah takut gadis itu menghilang. Tubuhnya bergetar, namja itu menangis dalam diam.

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

Ceklek

 

Jongin menutup pintu kamar mandinya perlahan lalu berjalan menuju king bed-nya. Dengan menggunakan handuk kecil Jongin mengeringkan rambut hitamnya yang masih setengah basah. Ia menghela nafas seraya merebahkan diri diranjang besarnya. Menatap langi-langit kamarnya intens. Entah dari mana, bayang-bayang Jieun tiba-tiba muncul. Setelah pulang dari rumah sakit, Jieun sama sekali belum menghubunginya. Jongin ingat, dulu sewaktu Sehun belum hadir diantara mereka, setiap sore Jongin pasti mengunjungi Jieun diapartemennya. Baik diminta atau memang Jongin yang ingin menemui gadis manis itu. Yang jelas dulu hari-hari Jongin selalu diisi oleh Jieun.

Tapi sekarang berbeda, Jieun sudah punya seseorang yang selalu, pasti, dan memang harus ada disisinya. Seseorang yang gadis itu cintai dan begitu mencintainya. Walau agak kecewa, tapi posisinya sudah jelas tergeser. Entah kenapa hal itu membuat Jongin merasa kehilangan. Tidak melakukan suatu rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan membuat Jongin merasa ada yang kurang dalam dirinya.

“Apa aku telpon saja ya?” gumam Jongin pelan. Ia menghela nafas lalu duduk bersila diranjangnya. Bukannya ingin mengganggu waktu berdua Sehun dan Jieun. Dia hanya tidak tahan jika terlalu lama tidak mendengar suara Jieun.

Jongin diam. Ia tatap smartphone putih yang sudah ada ditangannya. Ia menimbang-nimbang kembali rencananya. Apa tidak apa-apa dia menghubungi Jieun sekarang? Lalu alasan apa yang akan dia berikan ketika Jieun menanyakan kenapa dia menelpon gadis itu nanti?

“Haaah!!” Jongin mengacak-acak rambutnya kasar lalu merebahkan tubuhnya lagi. Kali ini dia memejamkan matanya. Mencoba mendinginkan kepala yang kini penuh akan bayangan Jieun. Dia tidak boleh terus seperti ini. Dia bilang dia ingin berusaha merelakan Jieun. Apalagi dia sudah memutuskan untuk sekolah keluar negri. Kalau kondisi seperti ini saja tidak bisa ia hadapi. Bagaimana saat dia tinggal diAmerika nanti? Bisa-bisa dia mati gila hanya karna ingin bertemu dengan Jieun.

Jongin bangun lagi lalu berjalan menuju sofa didekat jendela kamarnya. Duduk disana lalu mengeluarkan buku sekolahnya. Baiklah. Kali ini dia mencoba mengalihkan pikiran dengan mengerjakan tugas sekolah. Dia ingat dia punya tugas matematika. Dengan bersemangat―atau lebih tepat dikatakan kesal―namja itu membolak-balikkan halaman bukunya.

Soal pertama. Dengan serius ia membaca soal mengenai trigonometri itu. Dia memang tidak sepintar Jieun, tapi dia tidak terlalu buruk dalam soal matematika. Dengan keyakinan penuh dia mencoba mengerjakan soal pertama. Sekitar 5 menit, orak-oreknya sudah mulai penuh satu halaman.

“Aisssshhh.. kenapa aku tidak mendapatkan jawabannya?! Caranya sudah benar kan?” gerutu Jongin kesal dengan dahi berkerut-kerut. Merasa putus asa, ia melempar pensilnya kesembarang tempat. Jongin bersandar disofa sambil memijiat-mijat keningnya yang terasa pening.

“Bodoh. Kau bodoh Kim Jongin!” ucap Jongin kesal. Kegiatan memijatnya berubah menjadi kegiatan menepuk-nepuk kening. Ya dia memang bodoh. Bagaimana bisa mengalihkan perhatian dengan mengerjakan soal berat semacam logaritma matematika? Pikiran namja itu saat ini sedang penuh dengan sahabatnya Park Jieun, dengan kondisi tenang saja belum tentu dia bisa menyelesaikan soal-soal itu. Salah-salah dia bisa gila karna pikirannya makin kalut.

“Jieun aku mohon. Jangan ganggu aku..”

 

Tok

 

Tok

 

Jongin tersentak ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya. Ia mengalihkan pandangannya pada pintu yang mulai terbuka.

“Ayah?”

“Jongin? Apa kau sedang sibuk?” ucap tuan Kim seraya berjalan mendekati putranya.

Jongin menegakkan posisi tubuhnya, “Tidak yah. Aku hanya sedang mencoba untuk belajar. Tapi.. sepertinya sedang tidak bisa”

“Eh? Kenapa tidak bisa? Apa kau mengalami kesulitan?” sahut tuan Kim seraya duduk disebelah Jongin.

“Yahh.. sepertinya begitu” jawab Jongin sambil mengelus tengkuk lehernya. Laki-laki berkacamata itu tersenyum, dia sangat senang karna putra satu-satunya itu rajin belajar. Dia jadi tidak cemas memikirkan masa depan usahanya nanti. Tuan Kim raih buku matematika Jongin lalu membaca buku diktat tersebut.

“Wah, soal logaritma ya? Kau kesulitan dibagian mana?” tanya tuan Kim lembut sambil tersenyum. Jongin menoleh dan menatap ayahnya agak bingung. Benar juga. Ayahnya tidak tahu kalau kesulitan Jongin bukan pada soal yang dia kerjakan. Tapi pada pikirannya yang tidak bisa berhenti memikirkan Jieun. Bukannya menjawab, Jongin malah mengehela nafas lalu menunduk.

Tuan Kim membenarkan posisi kacamtanya, “Hey ada apa? Ayah kan tanya kau kesulitan dimana? Kenapa kau malah menunduk?”

“Sudahlah yah. Tiba-tiba mood-ku untuk belajar sudah hilang”

“Sudah hilang? Kenapa cepat sekali? Sepertinya kau baru mencoba satu soal” ucap tuan Kim seraya melirik kertas orak-orek Jongin. Baru ada nomor 1 yang dilingkari dengan lingkaran besar dan orak-orek yang sudah ditutupi coretan disana.

“Sudah. Berhenti membahas soal itu. Ayah kesini pasti ada yang ingin dibicarakan kan?”

Tuan Kim menghela nafas, mungkin mood anaknya memang sedang tidak bagus. Ia bisa merasakan auranya. “Ini tentang keberangkatanmu ke Amerika. Ayah sudah mengurus tiket dan passportmu” ucap ayah Jongin sambil menyodorkan passport dan tiket pesawat yang ia bawa. Seperti terkejut, Jongin seketika menoleh.

“Sudah selesai?”

“Iya, kau akan berangkat seminggu lagi. Keberangkatanmu dipercepat karna kau harus mengikuti test masuk lebih dulu. Kau keberatan?”

“Ah tidak. Tentu saja tidak yah..” tandas Jongin cepat sambil mengambil tiket dan passport itu. “Tapi yah? Apa tidak apa-apa kalau aku masuk disemester 5 seperti ini?”

“Ayah rasa tidak. Asalkan kau mau berusaha kau pasti bisa. Ayah sudah mencari sekolah yang tidak terlalu jauh dengan materimu disini. Jadi ayah rasa kau tidak akan sulit beradaptasi”

Jongin menganggukkan kepalanya, “Hm.. baiklah kalau begitu”

Tuan Kim pun mengangguk sambil tersenyum simpul, “Bagus. Sepertinya semua akan berjalan lancar. Ohya? Apa kau sudah mengabari Jieun soal ini?” tanya ayahnya yang sontak membuat Jongin terdiam. Benar juga. Dia belum memberi tahu Jieun kalau dia akan pergi ke Amerika. Astaga! Kenapa dia bisa lupa?!

“Kau belum memberitahunya Jongin?” tuan Kim seolah membaca pikiran Jongin dari ekspresinya. Namja itu menoleh lalu menggeleng pelan.

“Hey? Kenapa kau belum memberitahunya? Ayah pikir Jieun adalah orang pertama yang akan kau beritahu”

“Sepertinya aku.. lupa yah” jawab Jongin pelan. Bagaimana ini? Sepertinya dia terlalu sibuk mengurusi urusan orang lain sampai dia lupa akan masalahnya sendiri. Ini masalah penting, dan hampir saja dia tidak memberitahu Jieun? Padahal baru saja dia menasehati Taera untuk tidak bersikap pengecut, tapi malah dirinya yang seperti itu.

“Apa iya? Benar kau hanya lupa? Bukan karna kau takut memberitahunya kan?”

“Eh?” Jongin lagi-lagi hanya bisa diam. Tiba-tiba saja dia berubah menjadi orang gagu. Sepertinya tebakan ayahnya benar lagi. Rasanya tidak mungkin dia lupa mengingat baru saja tadi dia berpikir tentang nasibnya yang akan gila jika berada diluar negri tanpa Jieun. Mana mungkin dia lupa. Mungkin benar, perasaan takut yang menghipnotis dan membuatnya seolah lupa akan hal itu.

“Jangan begitu Jongin. Kau harus cepat memberitahu Jieun. Menurut ayah, ini termasuk masalah yang sangat penting untuknya. Waktumu memang masih seminggu lagi, tapi lebih cepat lebih baik kan?” ucap tuan Kim sambil menepuk pundak Jongin. Jongin menghela nafas lalu mengangguk. Ia tatap passport dan tiket yang dia pegang. Masalahnya sekarang, bagaimana cara memberitahu Jieun? Jongin takut membuat Jieun semakin terpukul. Masalah gadis itu sudah cukup berat karna kondisi Sehun yang memburuk, haruskah dia membawa berita mengejutkan yang baru?

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

Siang yang cukup terik. Matahari terlihat bersemangat untuk membagi sinarnya hari itu. Tapi sayangnya, itu sama sekali tidak membuat Sehun mengurungkan niat untuk berjalan-jalan ketaman belakang. Namja itu terlalu bosan hanya tidur dan duduk diranjangnya. Karna itu, saat Jieun datang menjenguknya dia langsung meminta gadis itu untuk menemaninya bermain ketaman.

“Taman belakang adalah satu-satunya tempat terindah yang bisa dikunjungi dirumah sakit” ucap Sehun sambil menikmati perjalanannya menuju taman belakang. Tujuan wisatanya. Jieun tersenyum sambil mendorong kursi roda Sehun pelan. Namja itu terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Walau sedikit, tapi hati Jieun perlahan mulai lega.

“Baiklah tuan Oh. Kita sudah sampai” nada bicara Jieun sudah dibuat sangat mirip dengan suara pemandu wisata. Membuat Sehun terkekeh mendengarnya.

“Hahaha. Kau cocok sekali chagiya” Sehun mengelus kepala Jieun yang kini berdiri disebelahnya. Dibawah sebuah pohon rindang besar dipojok kiri taman ada sebuah bangku kayu. Mereka memilih untuk duduk disana. Dengan sedikit bantuan dari Jieun, Sehun turun dari kursi rodanya.

“Haah.. terlalu lama diranjang membuat kakiku lemas” keluh Sehun sambil memijat-mijat betisnya. Setelah meminggirkan kursi roda Sehun, Jieun mengambil tempat disebelah kekasihnya yang sedang tersenyum menikmati angin siang itu.

“Mau aku pijat?”

“Eh? Tidak usah. Nanti juga membaik. Aku hanya butuh lebih banyak beraktivitas”

Jieun berdecak, “Mana boleh kau banyak beraktivitas? Kau kan belum sembuh betul. Bagaimana kalau kau pingsan lagi eoh? Siapa yang akan repot?” ucap Jieun sambil hampir saja menyentil dahi Sehun. Sayangnya, namja itu berhasil lebih cepat menghindar.

“Iya iya aku tahu. Jangan serang aku dengan sentilan mautmu itu. Sakit” gerutu Sehun sambil mengelus-elus dahinya yang berhasil ia selamatkan. Jieun terkekeh pelan. Ia pandangi wajah tampan kekasihnya intens. Ucapan Sehun kemarin masih terngiang ditelinganya. Ucapan menyedihkan yang membuatnya ketakutan hanya dengan mendengarnya saja. Tapi berada dalam suasana siang ini bersama Sehun membuat suasana hatinya sedikit membaik.

“Jieun?”

“Ne?” Jieun tersentak. Sehun tiba-tiba berbaring dibangku panjang itu dengan paha Jieun sebagai bantalnya. Dari sudut itu Sehun memandangi wajah kekasihnya. Tetap terlihat cantik.

“Hey. Kenapa hanya memandangiku? Ayo elus..”

Alis Jieun terangkat, “Hah? Elus?”

“Begini” Sehun meraih tangan Jieun lalu menggerak-gerakkannya dikepalanya sendiri. Menggerakkannya perlahan sampai akhirnya Jieun melakukannya sendiri. Dengan lembut gadis itu mengelus kepala Sehun. Sesekali angin menerbangkan rambut Sehun hingga membuat Jieun harus merapikannya kembali. Sementara Sehun memejamkan mata menikmati gerakan tangan Jieun dikepalanya. Jieun tersenyum memandangi Sehun yang sedang terpejam. Namja itu terlihat manis saat tidur begitu.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat kearah mereka. Memperhatikan mereka dalam diam. Bola mata berwarna coklat itu memandang dengan tatapan sendu, lebih tepatnya kearah namja yang sedang tertidur dipangkuan seorang gadis. Wajah namja itu terlihat pucat, tapi raut wajahnya tetap terlihat tenang.

Soora menunduk sambil memegang kalungnya. Ia tatap foto dua orang anak laki-laki difoto itu. Pikirannya menerawang kemasa-masa cerianya bersama kedua bocah itu. Bermain dan bersenang-senang ketika belum ada beban dihati mereka. Masih begitu murni. Soora menghela nafas lalu mengembalikan fokusnya pada Sehun. Wajah namja itu tidak berubah, hanya saja jauh terlihat lebih dewasa. Kharisma itu tetap ada, sebuah kharisma dimana Soora pernah terjebak didalamnya.

Tak berapa lama, pandangan gadis itu bergesar kearah lain. Menatap seorang gadis yang tengah tersenyum sambil mengelus kepala Sehun. Dibalik senyuman itu, Soora tau ada kegelisahan yang teramat sangat dihatinya. Pasti dia, gadis yang diceritakan Luhan kepadanya. Gadis hebat yang berhasil meluluhkan hati Sehun.

“Jangan hanya dipandangi. Temui dan sapalah dia, Soora”

Sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar dipendengarannya. Soora sontak menoleh dan tentu saja dia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Gadis itu nampak terkejut. Apa sekarang dia sudah ketauan menguntit?

“Sudah sejak kapan Luhan oppa disini?” tanya Soora pelan sambil menyembunyikan wajahnya.

Luhan tersenyum, “Aku sudah mengikutimu sejak kau sampai. Tanpa sengaja aku melihatmu dikoridor kamar Sehun dan aku lihat kau sedang mengendap seperti seorang maling. Dari situ aku sudah tahu kalau kau akan menguntit Sehun seharian ini” sahut Luhan santai. Soora meringis sambil menggigit bibir bawahnya, itu yang biasa dia lakukan saat dia mulai gugup.

“Ayolah Soora buat apa menunggu lagi? Temuilah Sehun, toh kau sudah disini kan? Sehun pasti akan senang melihatmu”

“Apa iya? Kelihatannya malah tidak akan seperti itu”ucap Soora seraya tersenyum kecut. Wajahnya berubah sedih. Luhan menautkan alisnya bingung.

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Tentu saja. Sudah membuatnya kecewa dan aku bahkan melarikan diri tanpa berpamitan. Oppa pikir akan seperti apa perasaannya saat bertemu lagi denganku?”

“Kau tidak boleh berspekulasi sendiri tanpa tahu yang sebenarnya. Sudahlah ayo!”

Mata Soora membulat sempurna karna tiba-tiba tangan Luhan menariknya. Sempat terhuyung tapi Soora berhasil menstabilkan langkahnya. Jantung Soora berdetak cepat melihat kemana Luhan akan membawanya. Ia rasa namja berwajah cantik itu sudah gila. Bagaimana bisa dia membawa Soora kedalam situasi seberat ‘bertemu Sehun’ disaat dia belum benar-benar siap?!

“Oppa!” pekik Soora berusaha menghentikkan Luhan. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan ganggaman Luhan, tapi hasilnya nihil. Kekuatan Luhan tidak sebanding dengannya.

“Aku tidak punya kesabaran lebih untuk menunggu sampai kau siap Soora”

Langkah keduanya terhenti tepat didepan Jieun dan Sehun. Soora bersembunyi dibelakang Luhan, membuat Jieun sedikit bingung. Sementara Sehun mngernyit ketika hangat sinar matahari tidak lagi terasa diwajahnya. Perlahan ia membuka mata dan melihat Luhan tengah tersenyum. Dan anehnya lagi, ada seorang gadis dibelakang punggung kakaknya, tapi gadis yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

“Ada apa?” tanya Sehun seraya bangun dari posisi tidurnya. Ia duduk disebelah Jieun dengan ekspresi bingung. Gadis dibelakang Luhan terlihat ketakutan. “Dan.. siapa gadis dibelakangmu?” tanya Sehun lagi dan kali ini sukses membuat Soora berkeringat dingin. Ia meremas bagian belakang baju Luhan.

“Ah dia!” Luhan menarik tangan Soora, mengeluarkan gadis itu dari persembunyiannya. Seketika itu juga, tatapan matanya dan Sehun bertemu. Sehun tersentak, melihat mata coklat gadis didepannya membuat hatinya berdesir. Ia kenal mata itu.

“Annyeong..” sapa Soora sewajar mungkin. Jieun membalas Soora dengan senyuman, sementara Sehun masih diam menatap Soora. Membuat gadis itu semakin gugup. Luhan tahu, Sehun pasti merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan saat permata kali bertemu dengan Soora. Sehun pasti mengenalinya.

“Aku ingin kalian saling berkenalan. Jieun ini teman lamaku dan juga Sehun..” Luhan memotong kalimatnya, membuat Soora seketika menahan nafas. Dan Sehun, langsung menatap tajam kearah Luhan. Teman lama? Teman lama siapa yang dimaksut kakaknya?

“Namanya Lee Soora”

 

Deg

 

Sehun merasa mendapatkan pukulan telak didadanya. Nafasnya tercekat dan matanya tidak berkedip menatap Luhan yang dengan santai tersenyum. Namja itu tidak sedang bercanda kan? Soora dia bilang?! Soora hanya menunduk. Sungguh, matanya tidak berani menatap Sehun yang entah sedang berekspresi bagaimana. Yang dia dengar hanya suara riang gadis yang duduk disamping namja itu.

“Dan Soora, ini kekasih Sehun. Namanya Park Jieun..” ucap Luhan santai. Luhan terlihat tenang padahal jauh didalam lubuk hatinya ia merasakan sakit ketika menyebut Jieun sebagai kekasih Sehun.

“Salam kenal. Aku Park Jieun” sapa Jieun ramah. Soora mendongak untuk sekadar membalas senyum Jieun kemudian kembali menunduk saat menyadari Sehun sedang menatap tajam kearahnya. Luhan hanya menghela nafas. Situasi ini akan memburuk jika dia dan Jieun tidak pergi. Tatapan Sehun kearah Soora sudah sukses membuat dahi Jieun berkerut. Luhan tidak mau Jieun salah paham.

“Ah, Jieun? Bisakah kau menemaniku membeli minuman? Kita akan belikan sekalian untuk Soora dan Sehun”

Cukup lama gadis itu diam, lalu dengan agak ragu-ragu Jieun menganggukan kepalanya. Walau sebenarnya dia penasaran, tapi mungkin memang sebaiknya dia dan Luhan pergi. Aura Sehun terasa berbeda saat melihat gadis bernama Soora itu. Aura yang sebenarnya agak mengganggu Jieun. Entah kenapa dia malah merasa sedikit.. cemburu.

“Baiklah Soora, Sehun. Ngobrolah dulu. Kami akan segera kembali” ucap Luhan seraya berjalan meninggalkan Sehun dan Soora berdua. Jieun mengekor dibelakang Luhan, sekali ia menoleh dan melihat Sehun yang masih teguh menatap gadis yang menunduk didepannya. Tatapan yang sangat sulit diartikan Jieun.

Suasana hening menguasai. Hanya suara hembusan angin yang terdengar diantara mereka. Soora bahkan tidak berani menggeser posisi kakinya. Sehun menatapnya tajam seolah ingin menyergapnya sebagai mangsa. Soora menggigit bibir bawahnya sambil menjentik-jentik jari telunjuk dengan ibu jarinya. Demi apapun, menghadapi Sehun adalah hal yang paling ditakutinya saat ini.

“Kemana saja kau?” ucap Sehun akhirnya. Suara namja itu terdengar serak. Entah kenapa, dada Sehun terasa sesak hingga ia sullit sekali bicara. Bibirnya agak kaku, membuat bicara adalah hal berat yang bisa dia lakukan. Berlebihan? Tentu saja. Dia baru saja bertemu dengan cinta pertamanya. Gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta. Dan gadis pertama pula yang mencampakkan perasaannya.

Soora hanya diam. Dia juga sulit bicara. Rasanya sudah ingin menangis, bahkan tangannya mulai gemetaran. Sehun menghela nafas berat sambil memalingkan pandangannya. Sebuah tindakan yang akhirnya membuat Soora bisa bernafas lega. Setidaknya Sehun tidak lagi mengintimidasinya dengan tatapan tajam mata sipitnya.

“Ma-maafkan aku.. Se-Sehun..” ucap Soora pelan tapi cukup untuk didengar Sehun. Namja itu mendengus geli lalu kembali beralih pada gadis didepannya yang masih saja betah menunduk.

“Aku tidak memintamu untuk minta maaf. Aku tanya kau kemana saja? Lee Soora?”

Soora menelan paksa salivanya. Suara Sehun berubah dingin, membuat bulu kuduknya agak meremang. Cara bicara yang sama seperti saat Soora menolak perasaan Sehun. Aura yang sama seperti ketika dirinya mengatakan bahwa dia menyukai Luhan. Saat dimana Sehun membentak dan membuatnya menangis hebat.

“Aku pergi ke Jepang. Aku mengikuti ayahku yang mengurusi kantor cabangnya disana. Kurasa kau.. seharusnya sudah tahu..”

“Memang siapa bilang kalau aku tidak tahu?”

Tidak ada jawaban. Soora hanya diam. Kali ini dia benar-benar takut. Aura Sehun terasa menyeramkan. Dia bukan monster, dia manusia. Wajahnya tidak menyeramkan, tapi malah sangat tampan. Tapi Soora benar-benar tidak berani berkutik.

“Kenapa diam? Jika aku bertanya kau seharusnya menjawab, bukan diam”

“Kau bertanya kemana aku pergi. Aku pikir kau belum tahu”

“Aku memang sudah tahu karna Luhan hyung yang memberitahuku. Aku hanya belum mendengar langsung dari mulutmu Lee Soora..”

Soora menghela nafas pelan. Soora mengerti maksut ucapan Sehun. Dia menyindir. “Maafkan aku karna tidak memberitahumu waktu itu. Aku hanya—“

“Kau hanya ingin menghindariku kan?!”

Tidak menjawab. Lagi-lagi gadis itu diam.

“JAWAB PERTANYAANKU LEE SOORA! Kau ingin menghindariku kan?! Apa sebegitu tidak sukanya kau padaku eoh?! Bahkan saat kau kembali pun aku harus mengetahuinya dari Luhan hyung?!” bentak Sehun cukup keras. Beberapa pengunjung taman itu sempat mengalihkan perhatian kearah mereka. Soora terkesiap hingga secara tidak sadar ia mendongak. Menangkap mata Sehun yang sudah dipenuhi butiran kaca cair. Sehun hampir menangis. Seketika itu juga airmata Soora jatuh. Dadanya sesak dan tangannya gemetar hebat. Wajah Sehun terlihat marah tapi kesan sedih malah lebih mendominasi.

“Jawab Soora.. Kau membenciku?” Sehun seperti kehilangan tenaganya setelah berteriak. Suaranya kali ini terdengar parau.

Soora menggeleng cepat, “Tentu saja tidak. Mana mungkin aku membencimu Sehun. Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Sikapmu”

“Apa?”

“Sikapmu yang membuatku merasa kau membenciku. Sikapmu setelah aku menyatakan perasaanku padamu. Kau selalu menghindariku, bahkan setiap kita bertemu kau selalu memalingkan wajahmu. Saat aku menyapa, kau malah berlari pergi. Aku merasa mungkin karna kau marah sebab waktu itu aku sempat membentakmu. Tapi saat aku minta maaf, kau bilang tidak apa-apa. Lalu setelah itu? Tidak ada yang berubah. Kau terus menjauhiku. Bahkan tiba-tiba saja kau sudah tidak di Korea lagi. Pergi tanpa memberitahuku…”

Mata Soora membulat. Sehun menangis didepan matanya, dan dia cukup terkejut mendengar yang diucapkan namja itu. Benarkah itu? Benarkah dulu dia begitu terhadap Sehun? Sungguh, ia tidak sadar sudah bersikap sejauh itu.

“Maafkan aku Sehun, aku sama sekali tidak bermaksut menjauhimu. Mungkin saat itu aku hanya agak… takut. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak membencimu”

Sehun menghela nafas seraya menyeka airmatanya. “Kalau begitu, kenapa kau pergi?”

“Eh? Kau belum ta—“

“Aku sudah tahu. Aku hanya ingin memastikannya”

“Aku pergi karna aku tidak mau kau semakin membenci Luhan oppa. Waktu itu aku melihatmu membentak Luhan oppa dan menuduhnya merebutku darimu. Aku benar-benar sedih. Kalian sangat dekat tapi tiba-tiba kalian bertengkar hanya karna aku. Itu membuatku mengutuk diriku sendiri Sehun. Aku merasa bersalah”

“Jadi kau benar-benar berpikir bahwa jika kau pergi kau akan menyelesaikan semuanya?”

“Aku pikir jika aku tidak pergi kau akan berhenti menyukaiku. Melupakanku dan tidak lagi menuduh Luhan oppa”

“Lalu setelah bertemu dengan kami, apa menurutmu kau berhasil?” tanya Sehun yang membuat Soora mendongakkan kepalanya. Tatapan mereka bertemu. Soora cukup terkejut dengan pertanyaan Sehun, membuatnya berpikir dua kali untuk menlaahnya lebih baik.

Sepersekian detik setelahnya Soora menggeleng, “Aku.. tidak tahu..” jawabnya ragu-ragu. Sebuah jawaban pelan yang membuat Sehun menarik kedua sudut bibirnya.

“Kau tahu? Setelah kau pergi, aku malah semakin memikirkanmu Soora. Sempat terpikir olehku kalau mungkin aku sudah cinta mati padamu. Kupikir aku tidak akan mampu melupakanmu. Aku hampir frustasi dan hampir semua gadis yang menyukaiku aku jauhi..” Sehun bangkit dari duduknya. Agak tertatih tapi dia berhasil berdiri tegak.

“Maafkan aku Sehun..”

“Tidak apa-apa… Sebab, karna itu semua juga yang membuat aku bertemu dengannya. Gadis bernama Jieun itu yang akhirnya menyadarkanku bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan. Menyadarkanku bahwa mungkin kau memanglah bukan takdirku” ucap Sehun sambil tersenyum simpul. Ia mengelus pipi Soora pelan. Jujur, jantungnya berdetak cepat. Bisa bertemu dengan Soora setelah sekian membuatnya merasa senang, bahkan sangaaat senang.

“Jadi.. kau sudah memaafkanku Hunnie?”

“Tentu saja. Aku sudah memaafkanmu sebelum kau berpikir untuk memintanya Soora” sahut Sehun lembut seraya menganggukkan kepalanya. Senyuman belum juga lepas dari wajah namja itu. Jauh berbeda dari sebelumnya, wajah namja itu terlihat berbinar. Mata Soora membulat, saat Sehun tiba-tiba memeluknya. Sangat erat, bahkan rasanya ia sulit bernafas.

“Aku sangat merindukanmu Soora”

 

 

 

¶¶¶¶¶

Jieun dan Luhan berjalan menelusuri koridor rumah sakit dalam diam. Keduanya masing-masing membawa dua kaleng minuman. Satu untuk Sehun, satu untuk Soora, dan tentunya untuk diri mereka masing-masing. Sesekali ekor mata Luhan terlihat mencuri pandang kearah gadis disampingnya. Dia baru saja menjelaskan tentang hubungan Sehun dengan Soora. Dan setelah itu Jieun tak bicara apapun. Luhan sudah pastikan tidak akan ada kesalahpahaman. Dia tidak mengerti, entah apa yang membuat gadis itu diam.

“Tidak perlu dipikirkan Jieun, mereka sudah berakhir” ucap Luhan yang kemudian dibalas helaan nafas dari Jieun. Tidak menjawab, gadis itu malah menunduk.

Memang benar, seharusnya dia tidak perlu khawatir. Sehun sudah jadi miliknya dan lagi pula yang Soora sukai dulu bukanlah Sehun melainkan Luhan. Tapi entah kenapa hatinya gelisah dan takut. Mengingat bagaimana cara Sehun menatap Soora tadi membuatnya agak ragu. Apa dia tidak percaya pada Sehun? Tidak. Dia percaya pada Sehun, bahkan 100 persen penuh. Yang dia tidak percaya adalah cinta. Dia suka datang dan pergi tiba-tiba kan? Jieun hanya takut. Kalau perasaan Sehun kembali setelah melihat Soora lagi. Bagaimana kalau ternyata cinta lebih suka kalau Sehun bersama Soora dari pada Jieun?

Jieun menghentikan langkahnya mendadak saat Luhan tidak lagi melanjutkan langkah kakinya. Jieun tatap Luhan dengan mata yang berkedip berulah kali. Namja itu menghela nafas lalu memutar tubuh berhadapan dengan Jieun. Tatapan mereka bertemu.

“Jieun, tidak akan ada yang berubah. Tidak perlu takut Sehun akan pergi darimu karna itu adalah hal yang sangat mustahil. Berpikirlah positif. Kau membuatku khawatir karna terlihat gelisah begitu” ucap Luhan seakan membaca isi pikiran Jieun. Gadis itu mengerjapkan matanya lalu menangguk.

“Maafkan aku oppa..”

“Ya sudah ayo cepat. Mereka pasti sudah menunggu kita” Luhan melanjutkan kembali langkahnya. Jieun menghirup udara sejenak lalu menyusul Luhan. Mereka kembali berjalan beriringan dan kali ini Jieun terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Luhan tersenyum, sebenarnya dia ingin sekali meraih tangan Jieun lalu menggenggamnya. Tapi Luhan tahu posisinya. Dia tidak mau mengkhianati adiknya sendiri.

Mereka berbelok kearah taman. Masih berjalan dengan santai sampai akhirnya mata membulat saat mereka tidak melihat penampakan Sehun maupun Soora. Hanya ada kursi roda Sehun dibawah pohon. Luhan nampak bingung sementara Jieun seketika panik.

“Ke-kemana mereka?” ucap Jieun sambil menerawang kesekelilingnya, mungkin saja mereka hanya berjalan-jalan disekitar taman karna bosan hanya duduk dibawah pohon. Tapi sayang, taman itu tidak terlalu besar, dan baik Sehun ataupun Soora, Jieun tidak melihatnya sama sekali.

“Apa mungkin mereka sudah kembali kekamar?”

 

Drrrrrt

 

Drrrrtt

 

Luhan merogoh saku celananya. Ia tatap layar ponselnya yang bergetar dan melihat nama Soora tertera disana. Tanpa basa-basi namja itu mengangkat telpon tersebut.

“Soora? Kau dimana?” tanya Luhan yang secara otomatis membuat Jieun mengembalikan fokusnya pada Luhan. Mendengarkan pembicaraan namja itu dengan seksama.

“Sehun pingsan oppa! Dia sedang di UGD sekarang”

Mata Luhan membulat, “Apa? Sehun pingsan?!” pekik Luhan yang sukses membuat darah Jieun mendidih. Dia nampak terkejut bahkan dua kaleng minuman yang dia bawa terjatuh. Apa dia tidak salah dengar? Sehun pingsan lagi? Oh Tuhan entah kenapa firasat buruk lagi-lagi menggerogoti pikirannya.

“Baiklah. Tenanglah Soora, jangan menangis. Aku dan Jieun akan segera kesana”

 

Pip

 

Luhan memutuskan sambungan telponnya. Dia panik bukan main. Adiknya baru saja masuk UGD dan mendengar Soora terisak hebat diseberang sana membuat hatinya semakin tak karuan. Setelah memasukkan kembali ponselnya, Luhan menoleh kearah Jieun. Gadis itu terpaku dengan wajah yang sudah dialiri air mata. Luhan semakin sakit. Kenapa cobaan tidak kunjung berakhir, baru saja mereka cukup tenang karna kondisi Sehun yang mulai membaik tapi kenapa sekarang seperti ini? Luhan mungkin bisa lebih tenang karna sudah sering mendapat berita seperti ini, tapi Jieun? Gadis itu terlalu lemah.

Luhan gandeng tangan Jieun yang bergetar lalu mengajaknya segera menuju UGD. Dengan setengah berlari mereka segera menemui Soora. Untungnya lokasi UGD dengan taman tidak terlalu jauh hingga mereka bisa sampai dalam waktu 5 menit. Dikursi tunggu Luhan lihat Soora duduk sambil terisak. Sementara Jieun yang sedang digandengnya pun hanya diam sambil menangis. Lengkaplah sudah! Sekarang dia harus menenangkan dua gadis ini sekaligus padahal jauh didalam hatinya dia juga ingin sekali menangis.

“Oppa?” panggil Soora ketika menyadari Luhan sudah ada didepannya.

“Jieun duduklah disini” ucap Luhan menuntun Jieun untuk duduk disebelah Soora. Luhan berjongkok diantara kedua gadis yang sedang menangis itu. Seperti seorang ayah yang sedang berusaha menenangkan kedua putrinya, Luhan mengusap airmata Soora dan Jieun bergantian. “Tenanglah, semua akan baik-baik saja” Luhan berdiri lalu berjalan kearah pintu. Ia menggigit bibir bawahnya lalu bersandar ditembok disamping pintu ruangan tempat Sehun sedang diperiksa.

Jieun dan Soora sudah mulai tenang. Walau masih menangis tapi airmata mereka tidak sederas sebelumnya. Jieun menunduk sambil meremas ujung kemeja seragamnya. Ia berusaha untuk tenang seperti yang Luhan minta. Ia tidak mau membuat Luhan khawatir. Tapi otaknya sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Dia kalut dan pikiran buruk terus saja membayang-bayanginya. Ini sudah kesekian kalinya ia menangis didepan ruang UGD karna Sehun. Ia takut, terlalu takut. Bagaimana kalau kemungkinan terburuk yang paling ia takuti terjadi sekarang?

“Jieun!”

Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar memanggil nama Jieun. Sebuah suara yang memecah keheningan dan mengalihkan perhatian tiga orang yang tadinya sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mata Jieun membulat melihat Jongin dan Taera tengah berlari kearah mereka. Jieun menghela nafas. Sedikit merasa lega karna bisa melihat orang yang seperti biasa paling dibutuhkannya dalam kondisi seperti ini. Jongin langsung menghampiri Jieun dan berjongkok didepannya, sementara Taera langsung berdiri didepan pintu UGD. Menatap pintu didepannya dengan berharap-harap cemas.

“Bagaimana keadaan Sehun? Apa dokter belum keluar?” tanya Taera panik pada Luhan. Dia juga menangis dan tubuhnya juga gemetaran. Luhan yang ditatapnya hanya menggeleng.

“Tadi aku menelpon, kenapa tidak kau angkat?” tanya Jongin sambil merogoh saku jas seragamnya. Ia keluarkan sebuah sapu tangan kecil.

“Ponselku tertinggal dikamar Sehun” sahut Jieun sekenanya dengan suara serak dan pelan.

“Ya sudah, sekarang berhentilah menangis. Ini bukan seperti Jieun yang biasanya. Kuatlah..” ucap Jongin lembut sambil menyeka airmata Jieun dengan sapu tangannya. Jieun mengangguk, seperti biasa berada didekat Jongin selalu membuatnya lebih tenang saat hatinya mulai gundah. Jieun bahkan mulai berpikir, Apa dia akan kuat jika suatu hari nanti dia harus hidup jauh dari sahabatnya itu?

Soora kebingungan, karna tiba-tiba saja datang lebih banyak orang yang dia tidak kenal. Tidak. Awalnya dia memang berpikir seperti itu. Merasa tidak mengenal dua orang yang baru saja datang. Tapi setelah dia perhatikan, seorang gadis yang tengah mondar-mandir didepan pintu itu membuatnya penasaran. Ia seperti mengenalnya. Tapi.. dimana?

“Sudah berapa lama mereka didalam? Kenapa dokter belum juga keluar?!” Taera mulai kehabisan kesabaran. Ia terlalu panik hingga sedikit emosi, bahkan nada suaranya terdengar meninggi.

“Sabarlah Taera. Mungkin sebentar lagi mereka keluar” ucap Luhan mencoba menenangkan gadis yang masih terisak itu. Hanya Taera yang masih saja belum puas mengeluarkan airmata.

Soora terdiam mendengar nama yang baru saja Luhan sebut. “Taera? Kau Shin Taera?”

“Iya aku Shin Taera. Kau siapa?”

“Aku—”

 

Ceklek

 

Pintu ruangan itu akhirnya terbuka. Semua seketika menoleh dan menatap seorang dokter yang keluar dengan tatapan berharap-harap cemas. Semua berjalan mendekati sang dokter yang memejamkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya itu. Melihat ekspresi bingung dokter itu membuat semua merasakan firasat buruk. Bahkan airmata Jieun mulai jatuh lagi.

“Bagaimana keadaannya dok?” tanya Luhan takut-takut.

Dokter Han menghela nafas, “Sel kankernya sudah sangat menyebar. Tidak kusangka mereka tumbuh sangat cepat. Otak kanan Sehun mengalami kerusakan yang paling parah. Keadaan ini membuat otaknya sudah terlau lemah untuk menopang semua aktivitas tubuhnya. Dan dia sekarang hilang kesadaran. Dia koma”

“Kami tidak tahu sampai kapan dia akan koma. Tapi kami akan mengusahakan yang terbaik untuk Sehun” lanjut dokter Han sambil menepuk pundak Luhan. Jieun terhuyung kebelakang, kakinya seketika melemas karna terkejut. Luhan menghela nafas sambil mengigit bibir bawahnya. Bagaimana kondisi Sehun bisa separah itu?

“Dan Luhan-sshi bisa tolong hubungi dokter Lee? Setelah itu datang keruanganku bersamanya”

Luhan mengangguk, “Baik dok” ucap Luhan sebelum akhirnya dokter Han pergi meninggalkan mereka. Luhan segera mengambil ponselnya lalu mencari kontak dokter Lee, dokter pribadi Sehun. Sambil menunggu telponnya tersambung, Luhan menepuk pundak Jongin. “Tolong jaga gadis-gadis ini dulu. Aku akan segera kembali” ucapnya yang dibalas anggukan dari Jongin.

Jongin mengalihkan pandangan pada 3 gadis didepannya. Semua sedang menangisi Sehun. Tapi pandangannya terfokus hanya pada satu gadis berambut lurus panjang. Gadis yang sedang terisak sambil menunduk. Sekarang keberanian yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah menguap begitu saja. Melihat kondisi gadis itu membuatnya memikirkan dua kali untuk melanjutkan rencanya. Jika dilihat kebelakang, sebenarnya hari ini dia dan Taera datang untuk rencana yang sama. Taera berniat memberitahu Sehun kalau ia akan pergi ke Perancis, sementara Jongin berniat untuk memberitahu jieun kalau dia akan pergi ke Amerika. Tapi ia rasa dia sudah gila kalau ia berani memberitahu Jieun sekarang. Apa dia ingin membuat Jieun mati karna serangan jantung?

Sementara Soora dan Taera juga sama. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Soora sangat terpukul, dia dan Sehun baru saja berbaikan tapi musibah sudah begitu saja terjadi. Apalagi Taera, dia mungkin yang paling terpukul saat ini. Dia datang untuk minta maaf pada Sehun sebelum dia pergi ke Perancis. Keberangkatannya tinggal 4 hari lagi dan sekarang dia mendapat kenyataan kalau Sehun sedang koma? Bagaimana mungkin dia bisa tenang? Mungkin dia takut tidak akan sempat meminta maaf pada Sehun jika dia pergi keluar negri sebelum Sehun sadar. Tapi hal yang lebih membuatnya takut adalah bagaimana jika ternyata Sehunlah yang meninggalkannya lebih dulu?

Tiba-tiba saja dua orang suster keluar sambil mendorong ranjang rumah sakit. Ada seorang pemuda tampan yang berbaring diatasnya. Semua menatap Sehun yang terkulai lepas tak berdaya diatas ranjang itu. Tapi sambil memandang Sehun, Jieun terus bicara dalam hati. Dia percaya Sehun bisa mendengarkannya.

“Aku mohon Sehun.. bertahanlah..”

 

 

 

 

¶¶¶TO BE CONTINUED¶¶¶

 

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!!

 

61 thoughts on “Our Destiny (Chapter 9)

  1. Iya thorrr jgn sad ending,trus jg lama bener keluarnya sdh gak sbran lg nihhh lanjutannya dgn the twelve power of olympian TT

    • Tunggu ya chingu ;_; maaf banget nih. Aku skrg udh kelas 3 dan tugas sm ulangan lg banyak. Jd susah dpt waktu nulis😦 *bow
      Tapi aku bakal usaha lanjutin. Pasti slse kok fanficnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s