State it(Chapter 2)

State it(2)--tile

Title : State it | Author : HCV_2

Main cast : Oh Sehi (OC), Xi Luhan, Byun Baekhyun | Other cast : Yoon Sojin(OC), Lay, Chanyeol, Joonmyeon, Sehun, Tao, Kyungsoo, Jongdae

Genre : Romance, Friendship, Family | Length : Chaptered | Rating : T

―NOT FOR SILENT READERS―

Annyeoong~~~~ Ciat ciat ciat!! HCV_2 kemballi lagi setelah berabad-abad bertapa digununng kidul (งˆ▽ˆ)ง hohohoho

Sebelumnya author mau mohon maaf yang sebesar-besar-besar-besarnya untuk para readers sekalian. Maaaaaaaaaaffffff banget updatenya lama. Ini semua salah tugas sm ulangan yang terus ngebebel otak author sampe stress dan sulit dapet ide serta waktu untuk nulis fanfic. Author pikir setelah penjurusan tugas bakal lebih sedikit tapi eh malah rasanya lebih banyak dari pada kelas sepuluh dulu=_= Nah karna kebetulan minggu ini author lagi dapet libur hari raya, makanya author usahakan bwt ngepost fanfic. Sumpah author girang banget karna STATE IT Chapter 2 akhirnya kelaaarrr!!!!! Aaaaaaa senangnya!!! *teriak-teriak kyk org gila*

Maaf buat readers yang nunggu *emg iya ada yang nungguin?* fanfic Our Destiny atau TTPOO :s author masih belum sempet bwt lanjutin cerita itu. Nah nanti kalo author udh dapet liburan lagi, pasti author usahain bwt ngelanjutin ya^^

Okeeehlah dari pada makin panjang dan gaje, mending langsung aja kecerita. Maaf atas typo dan cerita yang aneh. Maklum authornya aja rada gila. Happy reading guys^_^

 

 

SILENT READERS!!! PLEASE GO AWAY!!!!

 

 

 

Sehi melambaikan tangannya didepan wajah Luhan, “Hey orang aneh” ucapnya. Namun Luhan tak menggubris. Tatapannya belum lepas dari Baekhyun.

 

“Baekhyun? Byun… Baekhyun?”

 

 

Chapter 2

 

 

Sehi tatap kedua mata Luhan bingung. Mata namja itu terlihat begitu mengenal Baekhyun, apalagi mendengar Luhan memanggil nama lengkap Baekhyun membuat Sehi semakin penasaran.

 

“Kau mengenal Baekhyun?” tanya Sehi memiringkan kepalanya memandang Luhan yang masih saja memperhatikan Baekhyun diseberang sana. Sehi berdecak karna merasa terabaikan.

 

Luhan pun masih terlalu sibuk, dengan bodohnya dia hanya diam sambil memikirkan sendiri kebenaran dugaan otaknya. Dugaan apakah benar Baekhyun yang ada didepan matanya adalah Baekhyun yang ia cari? Lalu bukankah seharusnya dia berlari dan bertanya langsung pada Baekhyun?

 

Luhan terus memperhatikan Baekhyun. Meneliti wajah namja itu. Walau ia sendiri tidak yakin, tapi menurutnya wajah namja itu benar-benar merefleksikan wajah Baekhyunnya diumur mereka sekarang. Namun tak berapa lama, matanya mendelik ketika melihat Baekhyun mulai berjalan pergi.

 

“Hey aneh! Jika kau memang tidak berniat untuk berkunjung sebaiknya kau per—“

 

Belum saja Sehi menyelesaikan kalimatnya, Luhan sudah berlalu bergitu saja. Tanpa basa-basi namja itu berlari mengejar Baekhyun. Mata Sehi mengikuti Luhan yang tengah berlari, ia tatap namja itu dengan kekesalan penuh dihatinya. Sehi mulai dongkol, padahal dia yang berniat tak mengacuhkan namja itu tapi malah dirinya yang tidak ditanggapi. Dengan segenap kesabaran yang masih tersisa, Sehi kembali melanjutkan kegiatan promosinya. Ia berusaha tak terganggu dengan sikap menyebalkan namja yang dianggapnya aneh itu.

Mata Luhan tak mau berpaling, seraya berlari ia terus memperhatikan Baekhyun. Ia takut kehilangan jejak mengingat keadaan di festival itu cukup padat akan manusia yang berlalu lalang. Bahkan namja berwajah cantik itu tak memperdulikan orang-orang yang terlihat kesal karna ia tabrak. Luhan terlalu terburu-buru.

 

 

Bugh

 

 

“Aduh!”

 

Kali ini tabrakan terjadi cukup keras, hingga tubuh namja itu terhuyung kebelakang akibat dari benturan didadanya. Ia meringis sambil mengelus dada bidangnya. Namun mata Luhan mendelik melihat seorang gadis terduduk dengan pernak-pernik yang berserakan ditanah. Gadis itu meringis memegangi dahinya.

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya Luhan seraya berjongkok. Gadis itu hanya menggeleng sambil terus mengelus dahinya yang memerah.

 

“Dahimu kelihatannya.. terluka” ucap Luhan hati-hati.

 

“Tidak apa-apa. Hanya lecet sedikit” sahut gadis berambut hitam panjang itu. Dia berjongkok lalu merapikan barang-barangnya yang berserakan. Dilihat dari seragamnya, bisa dipastikan dia adalah siswi sekolah itu. Dan yang berserakan itu pasti barang-barang yang ia jual distandnya.

 

Kini Luhan kebingungan, lebih baik membantu gadis yang sudah ia tabrak itu atau melanjutkan kegiatan mengejar Baekhyun yang sudah tak terlihat lagi. Tapi Luhan tahu bagaimana harus bertanggung jawab. Sebagai laki-laki sejati, mana boleh dia meninggalkan seorang gadis dalam keadaan seperti itu begitu saja. Setidaknya dia harus membantu gadis itu merapikan barang-barangnya yang terjatuh.

 

“Terimakasih” ucap gadis itu sambil akhirnya menatap wajah Luhan. Luhan hanya tersenyum sambil mengangguk. Tapi dahinya mengernyit melihat ekspresi gadis didepannya. Mata gadis itu mendelik seperti terpana. Mungkinkah dia terpesona melihat Luhan? Apa wajahnya terlalu tampan atau malah menyeramkan?

 

Luhan mengerjapkan matanya, “Apa ada yang salah?” Luhan memperhatikan dirinya sendiri. Takut jika ternyata memang ada yang salah pada dirinya.

 

“Eh? Ti-Tidak ada apa-apa” ucap gadis itu seraya kembali merapikan barang-barangnya. Luhan hanya mengendikkan bahu, ia tidak mau terlalu ambil pusing. Yang terpenting adalah bereskan ini dengan cepat lalu kembali mencari Baekhyun. Entah kenapa hatinya bersikeras kalau Baekhyun itu adalah Baekhyun teman kecilnya. Ia yakin akan dapat banyak petunjuk dari namja itu.

 

Beberapa detik kemudian, semua sudah dimasukan kembali kedalam kerangjang kecil yang gadis itu bawa. Mereka pun berdiri, dan tanpa sengaja Luhan melihat nametag didada gadis itu.

 

“Maaf sudah merepotkanmu” ucap gadis itu seraya membungkuk. Luhan mendelik, ia pun segera membalasnya dengan membungkukkan badan juga.

 

Luhan tersenyum, “Tidak apa-apa Sojin-sshi. Ini juga salahku” Ia tahu gadis itu akan terkejut. Dan benar saja, mata gadis itu mendelik sambil menatap luhan dengan tatapan ‘bagaimana kau bisa tahu namaku?’ Dengan santai Luhan menunjuk nametag diseragam gadis itu.

 

“Ah nametagku ya” ucap Sojin sambil tersenyum.

 

“Baiklah. Aku harus pergi sekarang. Ada urusan penting yang harus diselesaikan. Lain kali kita bicara lagi ya Sojin-sshi. Sampai jumpa”

 

Setelah mendapat anggukan kepala dari Sojin, Luhan pun melanjutkan kegiatannya mengejar Baekhyun. Dengan setengah berlari Luhan berlalu meninggalkan gadis yang kelihatan masih terpesona akan ketampanannya itu. Sojin perhatikan punggung Luhan yang berlari menjauh. Sedetik Sojin tersenyum kemudian memutar tubuh kembali berjalan menuju standnya. Tapi baru saja 3 langkah, dengan cepat ia berbalik lagi. Matanya mengedar mencari seseorang, tapi sayang orang yang dicarinya sudah tidak terlihat lagi.

 

“Seharusnya aku menanyakan namanya” keluh Sojin sambil menghela nafas pelan.

 

Tapi lagi-lagi gadis cantik itu tersenyum. Ia mengingat kembali kejadian barusan. Walau singkat tapi pertemuannya dengan Luhan benar-benar membuat hatinya tak karuan. Wajahnya, suaranya, senyumnya, benar-benar menempel dipikiran Sojin. Mungkinkah dia jatuh cinta pada pandangan pertama?

 

“Sojin?! Apa yang kau lakukan disana?! Cepat bawa kemari barang-barangnya?!”

 

Lamunan Sojin seketika pecah mendengar suara nyaring temannya yang memanggilnya dari stand. Dengan segera Sojin mengangguk lalu berlari.

 

“Iya aku datang Hani”

 

 

 

***

 

Dengan langkah gontai Sehi menelusuri gang rumahnya. Tinggal beberapa blok lagi untuk sampai kerumah kecil nan nyamannya. Sepanjang hari ini ia sudah bekerja keras, menjual kaos-kaos itu hingga berhasil terjual habis. Walau lelah, tapi ia senang ia bisa banyak menyumbang untuk sesamanya yang membutuhkan. Sehi tersenyum sambil menatap langit senja sore itu, hari ini dia sudah membuat kenangan menyenangkan yang baru bersama teman-temannya. Dan setidaknya ditahun terakhirnya disekolah itu, dia sudah melakukan satu kegiatan berguna.

 

3 blok lagi menuju rumahnya, Sehi menoleh saat melewati sebuah rumah yang baru saja berpenghuni disebelah kirinya. Sejenak dia diam sambil memandangi rumah bergaya minimalis itu. Tak berapa lama, ia menggelengkan kepalanya lalu kembali berjalan. Ingatan tentang kejadiannya dengan Luhan pagi tadi lagi-lagi muncul. Masih penasaran, kenapa Luhan kelihatannya begitu mengenal Baekhyun? Apa mungkin mereka saling mengenal?

 

“Hahh.. sudahlah tidak usah dipikirkan” Sehi mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia memilih untuk melupakan dulu masalah itu. Sehi terlalu lelah, ia hanya ingin segera sampai dirumahnya dan beristirahat.

 

“Aku pulang!” seru Sehi seraya melepas sepatunya. Gadis itu terlihat berantakan, mungkin terlalu lelah karna sudah berjualan satu hari ini. Tanpa merapikan sepatunya dirak, ia berjalan gontai keruang tamu. Ia lihat adik dan kakaknya sedang bersantai seraya menikmati camilan yang berjejer dimeja.

 

“Haahh lelah sekali…” ucap Sehi sambil merebahkan dirinya disofa. Ia lirik segelas jus jeruk yang ada didepannya. Ia tahu itu pasti milik Sehun, namun dengan tingkat kehausan yang sudah maksimal itu memunculkan niat jahat diotaknya. Sambil melirik Sehun yang sedang asik menonton televisi, perlahan ia berusaha mengambil jus itu.

 

 

Plak

 

 

“Aduh!”

 

“Jangan mengambil jus orang sebarangan! Kalo mau buat sendiri” Dengan tatapan yang masih terfokus pada acara ditelevisi, Sehun memukul tangan kakaknya yang baru saja ingin mencuri jus miliknya. Sehi meringis merasakan perih ditangannya yang dipukul Sehun. Walau tidak terlalu keras tapi berhasil membuat tanda kemerahan disana.

 

“Dasar pelit!” Sehi mencibir sambil mendengus kesal kearah Sehun. Namja yang sedang asik memakan camilan itu tak menggubris, terlalu sibuk makan dan menonton. Dengan kesal Sehi bangun lalu berjalan kearah dapur untuk mengambil minumannya sendiri.

 

“Bagaimana festivalnya hari ini Sehi?” tanya Joonmyeon saat Sehi kembali dari dapur.

 

“Ramai oppa. Banyak sekali yang datang. Mungkin karna hari ini hari minggu” jawab Sehi sambil ikut memakan camilan bersama Sehun. Namja yang tadinya sibuk dengan tontonannya sekarang beralih memandangi kakaknya yang terihat lusuh. Sadar sedang dipandangi, Sehi menoleh dan seperti biasa beradu tatapan tajam dengan adiknya.

 

“Apa?!” tanya Sehi kesal.

 

“Kau itu perempuan noona. Tidak bisakah kau mandi dan bersihkan dirimu dulu?”

 

“Memangnya kenapa?! Aku kan lapar. Apa salahnya makan dulu?”

 

“Astaga.. pantas saja tidak ada namja yang tertarik padamu. Lihat saja kelakuanmu ini” Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Bagaimana bisa ada gadis semacam kakaknya? Sehun itu suka gadis yang bersih dan selalu terlihat cantik, bukan gadis tomboy dan berantakan seperti kakaknya.

 

Sehi berdecak, “Diamlah Sehun! Hari ini moodku sedang tidak baik. Jangan sampai aku menjambak rambutmu nanti” Sehi mengambil satu toples camilan lagi dari atas meja. Terlalu malas berbagi camilan dengan adiknya yang cerewet itu, jadi lebih baik ia mengambil makanannya sendiri. Dengan santainya gadis itu makan sambil menaikkan kedua kakinya kesofa. Suho dan Sehun hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Mungkin memang sebaiknya gadis itu dibiarkan saja. Terlalu keras kepala hingga tidak bisa dinasehati. Mereka pun melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.

 

“Kalian tahu tidak? Tadi namja mandarin aneh itu datang kesekolahku. Isshh aku benar-benar kesal melihatnya. Sudah cukup kemarin, kenapa hari ini aku juga harus bertemu dengannya?” ucap Sehi dengan mulut yang penuh makanan. Ia memasang ekspresi kesal yang sebenarnya terlihat lucu.

 

“Benarkah? Jadi Luhan hyung benar-benar datang kefestival? Ah aku pikir dia tidak akan kesana” sahut Sehun dengan nada yang malah terdengar gembira. Sehi memandang Sehun dengan tatapan bingung.

 

“Sebenarnya aku yang merekomendasikannya untuk datang kefestival sekolah. Dia bilang dia ingin jalan-jalan, tapi dia tidak tahu harus pergi kemana. Jadi aku tawarkan untuk datang kesekolah, kebetulan kan sedang ada festival”

 

“Ohh jadi kau dalangnya! Dasar! Karna kau aku jadi bertemu dengan wajahnya yang menyebalkan itu tahu!” seru Sehi sambil menjewer telinga Sehun. Sehun memegangi tangan Sehi ditelinganya sambil meringis.

 

“Aduhduhduhduh.. memangnya kenapa?! Hanya melihatnya saja kenapa noona harus kesal?! Lagipula siapa saja boleh kesana kan!”

 

“Heh dengar ya! Aku masih dendam pada namja itu jadi melihat wajahnya saja rasanya aku sudah ingin menjambak rambutnya”

 

“Iyaya kalau begitu maafkan aku. Dia bertanya padaku jadi kan aku harus memberitahunya. Mana aku tahu kalau dia benar-benar datang kesana. Ayolah noona lepaskan tanganmu! Sakit!” rengek Sehun sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya memohon. Sehi mendengus sambil berkacak pinggang dengan sebelah tangannya yang bebas. Joonmyeon akhirnya menyerah, mendengar keributan yang dibuat kedua adiknya membuatnya tidak konsentrasi membaca.

 

“Sudahlah Sehi lepaskan tanganmu. Kasihankan Sehun. Ini juga tidak sepenuhnya salah adikmu” ucap Joonmyeon berusaha melerai pertengkaran yang menurutnya tidak penting itu. Kenapa meributkan orang yang berkunjung kefestival? Sehun benar, siapapun boleh datangkan?

 

Sehi menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak bisa oppa. Ini semua jelas salah Sehun. Kalau saja dia tidak memberitahu si mandarin aneh— Eh? Tunggu dulu. Bagaimana dia bisa bertanya hal semacam itu padamu Sehun?”

 

“Akan kujawab tapi lepaskan dulu tangan noona!” sahut Sehun memukul pelan tangan kakaknya. Sehi melirik keatas sambil memegangi dagunya, menimbang-nimbang permintaan Sehun. Joonmyeon hanya menghela nafas melihat kelakukan kedua adiknya. Dia pun memilih untuk pergi kedapur.

 

“Ya! Hyung mau kemana?! Bantu aku lari dari nenek sihir ini dulu!”

 

Sehi tersentak lalu menatap Sehun tajam, “Kau bilang aku apa?!”

 

“Ini sudah jam 7, aku mau menyiapkan makan malam!” seru Joonmyeon yang dibalas ringisan oleh Sehun. Entah kenapa jeweran Sehi rasanya semakin keras. Perlahan Sehun menoleh dan tersentak melihat gadis itu menatapnya tajam.

 

“Berani mengataiku nenek sihir lagi Oh Sehun? Aku tidak segan-segan menjewer telingamu sampai lepas!”

 

“Ah iyaiya aku tidak akan bilang begitu lagi. Aku janji!” Sehun membuat tanda v-sign lalu mengacungkannya keatas. Sehi mengangguk lalu melepaskan tangannya dari telinga Sehun. Namja itu menghela nafas lalu mengelus telinga yang sudah lebih merah dari tomat.

 

“Sekarang jawab. Bagaimana bisa dia bertanya hal seperti itu padamu?”

 

“Bagaimana apanya? Dia bertanya kan karna dia tidak tahu” sahut Sehun acuh tak acuh, terlanjur kesal karna Sehi sudah membuat telinganya bengkak.

 

“Bukan begitu. Maksutku kalian kemarin bertemu, berpapasan atau bagaimana?”

 

Sehun mendongak lalu menatap gadis yang tengah bersedekap itu dengan tampang kesal. Dia bingung, kenapa gadis itu bertanya hal tidak penting semacam itu? Sehun bangun lalu beradu tatap dengan Sehi.

 

“Noona tidak tahu? Aku dan Luhan hyung sudah berteman sekarang. Kemarin kami bertemu untuk ngobrol”

 

Sehi mendelik, “A-Apa?! Berteman kau bilang?!” pekik Sehi yang sontak membuat Sehun terkejut dan menutup telinganya. “Bagaimana bisa kau berteman dengannya?!”

 

“Bisa saja. Kami berkenalan dan ternyata aku dan dia punya banyak kesamaan. Kami cocok jadi teman”

 

“Tidak! Tidak bisa! Kau tidak boleh berteman dengannya!”

 

Sehun mengernyit, “Kenapa? Kenapa noona melarangku? Hakku mau berteman dengan siapa saja kan”

 

“Iya tapi dia namja tidak baik Sehun. Kau tidak boleh berteman dengannya”

 

“Ah sudahlah! Noona ini cerewet sekali. Lebih baik kau mandi sana!” ucap Sehun seraya berlalu meninggalkan Sehi sendirian. Lebih baik membantu Joonmyeon dari pada harus bertengkar dengan gadis aneh seperti Sehi. Hanya karna masalah pribadi, mana boleh dia melarang orang lain untuk berteman?

 

“Hey Sehun! Kau mau kemana?! Aku belum selesai!”

 

“Berisik!” Sehun menutup telinganya seraya mempercepat langkahnya menuju dapur. Sehi mendengus sambil menghentakkan kakinya. Tak mau kalah, ia pun menyusul Sehun kedapur. Melanjutkan peperangan mereka disana.

 

 

 

 

***

Luhan termenung dibalkon lantai dua rumahnya. Matanya tak berkedip menatap bintang yang malam itu terlihat sangat indah. Banyak dan bersinar terang. Bukannya tanpa alasan ia menatap bintang-bintang itu, ia ingat dulu Ai juga sangat suka bintang. Mereka sering menghabiskan waktu bersama ditaman untuk menatap bintang dimalam hari. Tapi semenjak gadis manis itu kembali kekorea, Luhan hanya melakukan hal itu seorang diri. Sedikit kesepian, dan terkadang berharap gadis itu kembali sehingga mereka bisa melakukannya bersama lagi.

 

Luhan menghela nafas pelan. Setiap kali melihat bintang, bayangan gadis kecil itu pasti muncul dipikirannya. Senyuman manis yang selalu membuat Luhan merasa hangat setiap kali melihatnya. Tatapan mata lugu yang sangat Luhan sukai. Luhan meridukannya. Sangat merindukannya.

 

“Sekarang kau pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik Ai” Luhan memeluk kedua kakinya lalu meletakkan dagunya diatas lutut. Masih dengan tatapan tertuju pada bintang-bintang dilangit Luhan mencoba mengingat masa-masa manisnya dengan gadis itu. Luhan tidak tahu, kenapa sampai sekarang ia belum bisa melupakan Ai. Padahal sudah beberapa kali Luhan mencoba menjalin hubungan dengan gadis lain, namun apa? Dihatinya masih saja terukir nama Ai.

 

Tiba-tiba Luhan teringat akan kejadian pagi tadi. Baekhyun. Dia belum berhasil bertemu dengan namja itu. Sekolah itu terlalu luas dan hari itu terlalu ramai untuk ia telusuri sendiri. Padahal ia yakin, Baekhyun yang dia lihat tadi adalah Baekhyun teman kecilnya. Baekhyun yang memperkenalkannya pada Ai. Baekhyun―teman sekaligus saingannya.

 

“Kalau aku berhasil menemui Baekhyun, aku yakin aku langsung bisa bertemu dengan Ai” Luhan melepaskan tangannya. Ia bersandar pada tembok dibelakangnya lalu memejamkan mata. Luhan masukkan tangannya ke saku celana, berniat untuk mengambil kalung yang selalu ia bawa. Namun mata namja itu membulat.

 

“Ke―Kenapa tidak ada?” gumam Luhan sambil mencoba merogoh sakunya yang lain. Saku belakang celananya. Saku jaketnya. Saku kemejanya. Tapi hasilnya―Nihil.

 

Luhan bangkit lalu kembali meraba sakunya. Mungkin saja kalung itu terselip. Luhan mulai panik, ia tidak menemukan kalung itu dimanapun pada pakaian yang dikenakannya. Tidak biasanya ia tidak membawa kalung itu. Otaknya pun mulai berharap-harap cemas, apa mungkin sudah…. Hilang?!

 

Luhan berlari cepat masuk kedalam rumah. Mencoba mencari kalung itu dikamarnya. Mungkin ia tidak sengaja lupa memasukannya saat mengganti baju tadi. Luhan mengobrak-abrik kamarnya. Tidak peduli bagaimana pun ia harus menemukan kalung itu.

 

“Jangan hilang lagi. Aku mohon…” lirih Luhan pelan.

 

Lay keluar dari kamarnya karna mendengar suara berisik didalam rumah. Lay mengerjapkan matanya melihat Luhan yang kelihatan panik sambil mengobrak-abrik kamarnya sendiri.

 

“Ada apa Lu?”

 

Luhan menghentikan kegiatannya. Ia menghela nafas lalu berbalik menghadap Lay yang nampak bingung melihatnya. Biasanya Luhan selalu menjaga kamarnya agar tetap rapi, tapi kenapa kali ini kebalikannya?

 

“Apa kau melihat kalungku?”

 

“Kalung? Tidak. Aku tidak melihatnya” sahut Lay santai. Jawaban yang jauh dari harapan Luhan.  Luhan berkacak pinggang sambil mengigit bibir bawahnya. Ia perhatikan lagi kamarnya yang sudah berantakan.

 

“Kalau bukan disini dimana lagi?” lirih Luhan lemah. Entah kenapa kehilangan kalung itu rasanya ia ingin sekali menangis. Luhan duduk ditepi ranjangnya seraya menunduk.

 

“Tunggu! Apa kalungmu hilang?” tanya Lay yang langsung dijawab anggukan pelan oleh Luhan. Mata namja bernama asli Zhang Yixing itu mendelik. “Yang benar?! Kenapa bisa hilang?”

 

“Aku tidak tahu. Tadi pagi masih bersamaku. Tapi tadi saat aku ingin mengambilnya tiba-tiba saja tidak ada disaku celanaku”

 

“Apa mungkin terjatuh. Coba chek lagi Lu, jangan-jangan saku celanamu berlubang”

 

“Tidak Lay, saku celanaku baik-baik saja”

 

Lay menghela nafas, “Lalu dimana?”

 

Luhan menutupi wajahnya dengan tangan. Menyembunyikan wajahnya yang sudah mulai memerah. Takut sekali kehilangan kalung itu. Ia ingat saat itu, saat dimana kalung itu pernah hilang beberapa hari sebelum Ai pergi.

 

 

 

―“Xiaolu? Ayo kita main kesana!” seru seorang gadis kecil berkuncir dua sambil menunjuk sebuah padang rumput luas didepannya. Seorang bocah laki-laki berwajah tampan disebelahnya tersenyum sambil mengangguk.

 

“Ayo!” ucapnya sambil menggandeng tangan gadis itu berlari kesebuah pohon besar nan rindang ditengah padang rumput itu. Mereka meletakkan tas sekolah diatas sebuah batu besar dibawah pohon. 

 

“Kita main petak umpet ya Ai?”

 

“Umh.. baiklah. Tapi kau yang jadi duluan”

 

“Baiklah. Aku hitung sampai 10!” ucap Luhan sambil berjalan mendekati batang pohon. Ia menutupi wajahnya dengan lengan kanannya. Kemudian Luhan sandarkan lengan, berikut dengan wajahnya pada batang pohon tersebut.

 

Seiring dengan hitungan Luhan, Ai mencari tempat bersembunyi. Gadis itu memilih tempat dibelakang pohon kecil yang berjarak 10 meter dari tempat Luhan. Setelah selesai menghitung, Luhan pun mencari gadis yang tengah bersembunyi itu. Hingga tanpa terasa hari sudah mulai senja. Permainan sudah berlangsung 7 ronde. Dan kini Luhan mendapat gilirannya lagi, tapi tiba-tiba saja ia mendengar suara tangisan. Luhan pun mencoba mencari sumber suara tangisan itu.

 

“Ai? Kenapa kau menangis?!” Luhan berjongkok didepan Ai yang menangis dibelakang sebuah pohon. Wajah gadis itu merah dan pipinya sudah basah akan airmata.

 

“Hiks.. kalungku Lu..hiks..kalungku hilang..”

 

Ai menangis sejadinya, Ia bilang kalung itu peninggalan terakhir ayahnya. Luhan tidak tega. Hingga mereka pun memutuskan untuk mencari kalung itu bersama-sama. Semalaman, seharian hingga tiba waktunya Ai pergi, mereka belum juga berhasil menemukan kalung tersebut.

 

Tanpa terasa hari itu adalah malam terakhir Ai diChina. Ai tidak diijinkan untuk pergi lagi, jadi Luhan terpaksa mencarinya sendirian. Semalaman, bahkan Luhan tidak pulang karna itu. Ia bertekad akan menemukan kalung itu sebelum Ai pergi.

 

Matahari sudah terbit dan dia belum menemukan apapun. Luhan sempat putus asa dan berniat untuk menyerah. Namun keberuntungan ternyata masih berada dipihaknya. Saat dalam perjalanan pulang, matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda berkilauan disalah satu ranting pohon yang tidak terlalu tinggi. Ia berlari menuju pohon itu, ia yakin benda perak itu adalah kalung Ai.

 

Ia berlari secepat yang ia bisa saat ia lihat mobil Ai sudah akan berangkat. Kaki kecilnya berusaha untuk segera menghampiri Ai yang mulai memasuki mobilnya. Ia berteriak keras, tapi gadis itu tidak mendengarnya. Suara nyaringnya masih terlalu kecil untuk jarak sejauh itu. Luhan seketika mendelik saat melihat mobil keluarga Ai mulai melaju. Ia lebih mempercepat larinya. Namun sayang, kaki mungilnya tentu tidak sebanding dengan kecepatan sebuah mobil. Mobil itu sudah terlalu jauh.

 

“Haahh… haahhh…” Luhan yang tidak kuat untuk berlari lagi akhirnya terhenti. Berdiri sembari membungkuk dan memegangi lututnya. Nafas Luhan terdengar berantakan sekali. Wajahnya memerah dan keringat mengaliri kulit putihnya. Luhan tatap kalung perak berbentuk hati ditangannya. Tanpa sadar, ia sudah menangis.

 

“Ai.. aku sudah.. menemukan kalungmu”―

 

 

 

 

“Maafkan aku Ai..” bisik Luhan sambil mengepalkan tangannya. Lay tahu, kalung itu sangat berarti untuk Luhan. Luhan sangat menjaga kalung itu. Ia mendekat kemudian menepuk pundak Luhan.

 

“Tenanglah Lu. Kalung itu pasti ketemu. Dimana tepatnya terakhir kali kau melihat kalungmu?”

 

“Dibus saat aku menumpang ingin pergi kefestival sekolah Sehu―”

 

 

Deg

 

 

Luhan ingat sekarang. Setelah turun dari bus, saat ia berjalan-jalan difestival bahkan saat ia mengejar Baekhyun ia masih menggenggam kalung itu. Dan saat mengejar Baekhyun dia sempat menabrak seorang gadis yang membawa beberapa accsesoris dagangannya.

 

“Jangan-jangan bercampur dengan dagangan gadis itu!”

 

Lay mengernyit, “Dagangan siapa?”

 

 

 

 

***

“Noona? Sepertinya hari ini aku akan pulang terlambat lagi” ucap Sehun sambil memasukkan tangan kesaku celananya. Sehi yang berjalan disebelahnya menoleh sambil memicingkan mata kearah Sehun. Mengisyaratkan kecurigaan. Sehun hanya berdecak dengan pandangan tetap lurus kedepan.

 

“Aku latihan dengan Jongin. Midtest tinggal beberapa hari jadi aku harus memantapkan gerakanku. Jangan berpikir yang macam-macam” peringat Sehun pada Sehi yang sudah mengembalikan pandangannya kedepan. Gadis itu bersedekap sambil mengerucutkan bibirnya.

 

“Sehun? Aku heran kenapa kau senang sekali menari? Lihatlah pelajaranmu disekolah. Nilainya jeblok semua, tapi nilai ekstrakulikulermu? Jauh diatas rata-rata”

 

“Memangnya kenapa? Setiap orang kan punya kesukaannya masing-masing”

 

“Bukan begitu. Kalau begini caranya, seharusnya kau itu masuk sekolah seni bukan sekolah regular. Percumakan kalau kau juga tidak tertarik dengan pelajaranmu disekolah” ucap Sehi sambil mengerjapkan matanya. Sehun tersenyum miring lalu menghentikan langkahnya. Otomatis kaki Sehi juga berhenti tepat disebelah Sehun. Sehi tatap mata Sehun yang menatap malas kearahnya.

 

“Lucu noona bicara seperti itu padaku. Memangnya dulu saat aku minta bantuan noona untuk membujuk Joonmyeon hyung agar mengijinkanku masuk sekolah seni, noona bilang apa?” Sehun bersedekap seraya membungkukan badan. Menyamakan wajahnya dengan Sehi. Sehi melirik keatas mencoba mengingat.

 

“Tidak tahu. Memangnya apa?” Sehi memasang ajah innocentnya didepan Sehun. Namja itu menghela nafas berat, padahal ia pikir akan mendapat jawaban berarti dari kakaknya.

 

“Noona bilang, kenapa kau ngotot sekali ingin masuk sekolah seni? Memang apa bagusnya? Bukankah lebih baik sekolah disekolah regular. Dimasa depan nanti kau akan mudah mendapat pekerjaan Sehun” Sehun tirukan ekspresi dan gaya bicara kakaknya saat itu. Suaranya dibuat cempreng agar mirip seperti suara Sehi. Tapi gadis didepannya hanya melongo. Mata Sehi mengerjap berulang kali melihat Sehun.

 

“Benarkah? Jadi aku bicara begitu ya?” tanya Sehi polos. Membuat Sehun mendadak merasa geram. Kakaknya ini memang menyebalkan. Sehun mencibir lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan perasaan kesal.

 

“Hey Sehun? Tunggu aku!” Sehi berjalan cepat menyamai langkah panjang adiknya. “Memang benar ya aku bicara begitu?” tanya Sehi lagi yang langsung dibalas ekspresi kesal dari Sehun. Sehi akhirnya mengalah.

 

Beberapa meter lagi dan mereka akan sampai disekolah. Beberapa murid sudah terlihat berlalulalang disekitar mereka. Langkah kakak beradik itu terangkai hingga mereka sampai digerbang sekolah.

 

“Sehi?!”

 

Sehi berhenti saat baru saja ia melangkahkan kaki memasuki sekolah. Sehun juga ikut berhenti, penasaran akan suara yang memanggil kakaknya. Mereka lihat Baekhyun tengah berlari kearah mereka sambil tersenyum.

 

“Noona? Aku masuk duluan ya?”

 

“Hmm..” Sehi mengiyakan permintaan Sehun. Sedetik kemudian Sehi mengembalikan pandangan pada Baekhyun yang seketika sudah ada didepannya. Keduanya berbalas senyum, lalu berjalan beriringan.

 

“Berangkat dengan Sehun lagi?”

 

“Iya. Lalu kau? Kenapa sendirian?”

 

“Hari ini mereka bilang akan berangkat lebih siang. Jadi aku berangkat sendiri”

 

“Ohh begitu..”

 

Suasana hening. Mereka menelusuri koridor dalam diam. Sehi mengeratkan genggamannya pada tali ransel yang ia kenakan. Ingatan tentang kejadian kemarin muncul lagi. Sehi gigit bibir bawahnya seraya menimbang-nimbang tindakan yang ingin ia lakukan. Salahkah jika ia bertanya langsung pada Baekhyun tentang Luhan?

 

Sehi lirik Baekhyun yang masih berjalan dengan tenang. Entah kenapa perasaannya ragu. Gadis itu merasa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk bertanya hal seperti itu. Sehi menghela nafas lalu mengangguk.

 

“Nanti saja kutanyakan”

 

“Ng? Tanya apa?”

 

Sehi seketika menoleh, ia terkejut karna suaranya ternyata sampai ditelinga Baekhyun. Sehi tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

 

“Bu―bukan apa-apa” sanggah gadis itu kemudian berjalan cepat kedalam kelasnya. Sehi bernafas lega karna Baekhyun tak bertanya lagi. Segera ia mempercepat langkah menuju bangku tempatnya duduk. Tapi seketika langkah kaki itu terhenti. Matanya tidak sengaja menangkap benda yang dibawa salah satu teman sekelasnya.

 

Ia berbalik lalu berhenti disebelah temannya yang duduk dibangku nomor dua dari depan. Mata Sehi menatap benda ditangan gadis berambut panjang itu lekat. Sang gadis yang tadinya sedang berbincang dengan teman-temannya itu pun nampak kebingungan melihat tingkah Sehi. Ia mendongak dan menatap Sehi dengan dahi berkerut.

 

“Sehi kau kenapa?”

 

“Kalung itu.. milik siapa Sojin?” sahut Sehi dengan mata yang masih tertuju pada kalung perak berbentuk hati itu.

 

“Ini kalungku. Memang kenapa?”

 

“Kalungmu?”

 

Sojin memutar bola matanya, “Iya ini kalungku. Memangnya ada apa kau menanyakan kalung ini?”

 

“Kalung itu.. mirip seperti punyaku. Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Sehi yang kini semakin membuat Sojin bingung sekaligus kesal. Kenapa Sehi mendadak ingin tahu seperti ini?

 

“Ini kalungku. Dari mana aku mendapatkannya memang apa urusanmu? Dasar aneh”

 

“Tapi kalung itu mirip seperti kalungku Sojin” ucap Sehi pelan namun terdengar menuntut.

 

“Lalu kenapa? Siapapun bisa punya barang yang bentuknya mirip” sahut Sojin acuh tak acuh. Ia mengalihkan kembali pandangannya dari Sehi. Cukup kesal, karna entah kenapa Sehi bersikap seolah Sojin telah mencuri kalung miliknya. Teman-teman Sojin pun kebingungan melihat sikap Sehi. Mereka mulai berbisik-bisik.

 

Sojin menghela nafas, “Memangnya kalungmu hilang?” kali ini Sojin mencoba bertanya dengan nada lembut. Walau terdengar agak dibuat-buat. Sojin tahu memang tidak salah Sehi bertanya jika memang kalung yang ia pegang sangat mirip dengan miliknya. Siapa saja pasti bisa curiga.

 

“Ti―Tidak”

 

“Ya sudah. Lalu kenapa memusingkan milikku lagi? Pergi sana!”

 

“Biar aku melihatnya dulu!” Sehi mencoba mengambil paksa kalung itu. Tapi sayang, gerakannya kalang cepat dengan Sojin. Sojin lebih dulu mengangkat tangannya.

 

“Issh! Kau ini apa-apaan sih?! Kalungmu kan tidak hilang lalu kenapa mengklaim kalau kalung ini adalah milikmu. Didunia ini siapapun bisa punya barang yang sama persis!”

 

“Aku tidak mengklaim. Tapi aku hanya―”

 

“Hanya apa?! Aku tidak mengijinkanmu melihatnya. Sudah sana pergi!” Sojin mendorong pelan tubuh Sehi untuk menjauh. Sehi menunduk lalu berbalik menuju bangkunya. Entah kenapa perasaannya kuat mengatakan kalau ada sesuatu yang harus ia tahu dari kalung itu.

 

“Ada apa?” Baekhyun duduk disebelah Sehi. Ia tatap Sehi yang masih belum melepas pandangan matanya dari Sojin. Tak mendapat jawaban, Baekhyun lalu menepuk pundak gadis yang duduk sebangku dengan Kyungsoo itu.

 

“Kenapa dengan kalung Sojin?” tanya Baekhyun lagi saat Sehi sudah menoleh kearahnya.

 

“Kalungnya mirip seperti milikku yang hilang dulu. Kau ingatkan aku pernah kehilangan kalungku saat tinggal diChina?”

 

“Ah kalung pemberian ayahmu itu?”

 

“Iya. Kalung Sojin mirip sekali dengan kalung itu” Sehi mengangguk lalu kembali menatap Sojin yang sedang berbincang-bincang dibangkunya.

 

“Mungkin hanya mirip. Itu kan benda yang diperjual belikan. Siapa pun bisa punya barang yang mirip. Kau bahkan punya duplikat kalung itu yang dibelikan oleh pamanmu kan?”

 

“Kalung buatan ayahku berbeda. Ayahku sangat suka dengan bunga bermahkota 4. Dan dikalunganya ada bunga dengan 4 mahkota dibagian tengah. Selain itu ada inisial ayahku dibagian belakangnya. Lihat! Kalung duplikatku saja tidak sama dengan buatan ayahku Baekhyun” Sehi mengeluarkan kalung yang ia kenakan. Ia tunjukkan liontin kalungnya pada Baekhyun. Agar namja itu bisa lihat, sekalipun mirip tapi sentuhan tangan setiap orang itu berbeda. Pasti ada yang membedakannya!

 

“Lalu kalung Sojin?”

 

“Aku tidak tahu. Dia tidak mengijinkanku untuk melihatnya” sahut Sehi pelan seraya menunduk. Baekhyun tersenyum simpul lalu menepuk pundak gadis itu.

 

“Mungkin memang hanya kebetulan mirip. Lagipula kalungmu sudah hilang 9 tahun yang lalu. Apalagi kalung itu hilang diChina”

 

 

 

 

***

Siang itu cukup terik, sekitar jam 2 siang. Luhan membungkuk sambil memfokuskan matanya pada tanah disekitarnya. Meneliti setiap inchi tanah yang ia pijak untuk menemukan sebuah benda berharga yang ia duga terjatuh ditempat itu. Ini kesempatan yang sangat ia tunggu-tunggu. Sejak jam 10 pagi Luhan sudah menunggu didepan gerbang sampai waktu jam pulang sekolah. Hanya untuk satu hal, yaitu mencari kalung berharganya. Bahkan semalam ia sama sekali tidak bisa tidur karna memikirkan kalungnya.

 

Sudah satu jam berlalu dan Luhan mulai merasakan punggungnya pegal karna terus membungkuk. Keringat sudah mengucur dan membasahi kulitnya. Luhan yang sudah tidak kuat akhirnya berhenti lalu menegakan tubuhnya. Ia menghela nafas sambil memukul-mukul pelan bagian pinggangnya yang ngilu. Mata Luhan mengedar, memperhatikan lagi daerah sekitarnya.

 

“Kenapa tidak ada?” lirih Luhan sambil menggaruk kepala belakangnya. Ia ambil sebuah sapu tangan disaku celana lalu menyeka keringat diwajahnya. Tak berapa lama, ia pun kembali mencari. Berjalan mendekati semak-semak didekat gedung. Mungkin saja kalung itu terlempar dan masuk kesana. Terdengar mustahil? Tapi apa salahnya mencoba.

 

Beberapa detik kemudian, samar-samar ia dengar ada langkah kaki yang berjalan mendekat. Tapi Luhan tetap fokus. Sampai akhirnya ia merasa langkah kaki itu berhenti disebelahnya.

 

“Kau sedang apa disini?”

 

Luhan mendongak ketika merasa mengenal suara orang tersebut. Dan benar saja, seorang gadis berambut panjang tengah menatapnya tajam. Namun kerutan kecil didahi gadis itu menjelaskan kebingungannya.

 

“Kau lagi..” ucap Luhan seraya menegakkan kembali tubuhnya.

 

“Kau.. tidak sedang memata-mataiku kan?” tanya Sehi lagi dengan nada yang terdengar agak ragu.

 

“Eh? Buat apa aku memata-mataimu eoh? Memangnya aku kurang kerjaan?”

 

“Siapa yang tahu? Bisa saja kau masih dendam padaku lalu memata-mataiku untuk balas dendam—“

 

Tsk.. Jangan bicara sembarangan” potong Luhan jengkel. Ia heran kenapa pikiran gadis didepannya sangat kenak-kanakan. Mana mungkin Luhan membuang waktunya dengan berjemur disiang yang terik itu hanya untuk memata-mata gadis semacam Sehi?

 

“Aku kesini untuk mencari sesuatu” ucap Luhan menjawab pertanyaan Sehi yang belum terjawab. Sehi mengangguk-anggukan kepalanya sambil membuat bentuk O dihurufnya.

 

“Yasudah. Kalo begitu selamat mencari” sahut Sehi sembari melengos begitu saja meninggalkan Luhan. Awalnya Luhan hanya diam, namun seketika ide muncul diotaknya.

 

“Hey tunggu dulu!” cegat Luhan yang seketika membuat Sehi menghentikan langkah. Dengan malas gadis itu berbalik.

 

“Ada apa?”

 

“Aku ingin tanya, apa kau kenal siswi yang bernama Sojin? Dari warna dasinya sepertinya dia satu angkatan denganmu. Kemarin dia menjual accecoris perempuan difestival”

 

Sehi tertegun mendengar nama yang disebut Luhan. Tidak langsung menjawab, sejenak dia berpikir apa Sojin yang Luhan maksut adalah Sojin teman sekelasnya? Tapi Sojin yang mana lagi yang satu angkatan dengannya dan menjual accecoris perempuan difestival kemarin? Luhan menunggu dengan harap-harap cemas. Tanpa sadar ia menahan nafas ketika Sehi mulai membuka mulutnya.

 

“Oh Kau? Bukankah kau namja yang menabrakku kemarin?”

 

Sebuah suara tiba-tiba menyela diantara kedua manusia tersebut. Keduanya menoleh karna penasaran. Mata Luhan mendelik melihat siapa yang muncul dibelakangnya. Gadis berambut panjang yang sangat ia harapkan untuk ditemui. Bahkan tatapan namja itu terlihat sangat berbinar, seperti melihat sesosok malaikat penolong muncul dihadapannya.

 

“Ne! Aku namja yang kemarin. Kau Sojin kan?” Luhan terlihat begitu antusias. Berbeda dengan Sehi yang terlihat bingung melihat tingkah Luhan. Ia curiga kenapa Luhan mencari Sojin? Dan kenapa namja itu terlihat begitu gembira? Dari jarak 2 meter itu, mata Sehi terus memperhatikan Luhan dan Sojin.

 

Sojin tersenyum, “Ne aku Sojin”

 

“Ahh kebetulan sekali aku sedang mencarimu Sojin-sshi”

 

“Wah kalau begitu kebetulan juga. Sejak tadi aku berharap bisa bertemu lagi denganmu” sahut Sojin masih sambil menunjukkan senyum manisnya. Tapi matanya menangkap objek lain. Sedikit risih saat menyadari Sehi sedang memperhatikan dirinya dan Luhan. Ditambah lagi dengan tatapan Sehi kearah mereka. Membuatnya tidak nyaman.

 

“Benarkah?! Kalau begitu pas sekali. Aku ingin tanya soal—“

 

“Ah bagaimana kalau kita bicara ditempat lain? Lebih enak kalau kita bicara ditaman” tanpa persetujuan lebih dulu, Sojin menarik tangan Luhan dan mengajaknya ketaman sekolah. Agak terkejut sebenarnya, tapi Luhan hanya menuruti. Lagipula memang ada baiknya mereka mencari tempat lain yang teduh mengingat keringat Luhan yang sudah bercucuran karna kepanasan.

 

Sehi mendelik karna tiba-tiba dua manusia didepannya pergi tanpa berpamitan. Ia mendengus sambil berkacak pinggang. “Dasar gadis genit”

 

 

 

***

 

Langkah mereka terus terangkai. Mereka sudah sampai diarea taman, tapi Sojin masih saja berjalan sembari menarik tangan Luhan. Mungkin karna terlalu gugup, pikirannya seakan sulit untuk menentukan tempat mana yang bagus untuk berhenti. Bagaimana pun, ia sudah terlampau terpesona oleh ketampanan Luhan sejak pertama bertemu. Membuatnya merasa senang bisa bergandengan tangan seperti sekarang.

 

“Ah sudah disini saja. Kurasa tempatnya sudah cukup bagus” ucap Luhan yang seketika menghentikan langkah Sojin. Mereka berhenti dibawah sebuah pohon pinus besar. Dengan segara Sojin melepas tangan Luhan. Tangan gadis itu sedikit gemetar, ia gugup sekaligus malu setengah mati.

 

“Jadi begini Sojin-sshi, aku kemari ingin—“

 

“Aku tahu. Kau kesini mencari ini kan?” Sojin merogoh saku jas sekolahnya, mengeluarkan sebuah benda perak cantik dari dalam sana. Mata Luhan mendelik, terkejut sekaligus senang melihat benda berharga yang sejak tadi ia cari ada dihadapannya sekarang.

 

“Syukurlah! Ternyata benar dugaanku. Akhirnya aku menemukannya” Luhan girang setengah mati. Tangannya secara otomatis mengambil kalung itu dari tangan Sojin. Gadis itu terkekeh melihat tingkah Luhan.

 

“Kalung itu pasti sangat berharga”

 

Luhan mengangguk, “Ini milik temanku”

 

“Milik temanmu? Atau kekasihmu?” tanya Sojin dengan tatapan menyelidik. Bermaksut untuk bercanda tapi entah kenapa pertanyaan itu membuatnya takut mendengar jawaban Luhan. Bagaimana kalau ternyata Luhan sudah jadi milik orang lain? Apa harapannya akan pupus begitu saja?

 

“Saat ini masih teman..” sahut Luhan lembut. Jawabannya yang membuat Sojin tertegun. Apa iya, dia merasakan patah hati secepat ini?

 

“Terimakasih banyak ya Sojin-sshi. Aku sempat berpikir kalau kalung ini tidak akan ketemu. Kau memang malaikat penolongku. Sekali lagi terimakasih” ceroscos Luhan sambil berulang kali membungkukkan badannya. Sojin hanya terkekeh, baginya tingkah Luhan sangat berlebihan tapi sangat lucu.

 

“Iya sama-sama. Tidak perlu sampai seperti itu..umhh..”

 

“Luhan. Namaku Xi Luhan” ucap Luhan sambil memamerkan senyum manisnya. Senyum yang pasti langsung membuat Sojin membatu dan matanya sulit berkedip.

 

“Sojin-sshi?” panggil Luhan sambil melambaikan tangan didepan wajah Sojin.

 

“Ah ne?”

 

“Lagi-lagi kau diam seperti itu. Apa ada yang salah lagi pada diriku?”

 

“Ah tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya terkejut, namamu terdengar seperti nama orang China. Tapi wajahmu benar-benar seperti orang korea. Selain itu lafalmu juga sangat bagus”

 

Luhan tersenyum sambil menggaruk tengkuk lehernya, “Iya, itu karna aku sudah pernah kekorea beberapa kali. Selain itu ibuku juga orang korea”

 

“Ohh jadi begitu. Lalu kalau boleh tahu, kali ini kau korea untuk apa? Berlibur?”

 

Luhan menggeleng pelan seraya tersenyum simpul, “Aku mencari seseorang”

 

“Mencari seseorang? Siapa?”

 

“Dia..“

 

“Hey Sojin!” tiba –tiba suara teriakan menyela pembicaraan mereka. Luhan dan Sojin pun menoleh kearah seorang gadis diujung taman yang tengah melambai kearah mereka.

 

“Ah iya aku akan segera kekelas! Kau duluan saja!” sahut Sojin yang kemudian dibalas anggukan oleh gadis berambut sebahu itu. Setelah gadis itu pergi, Sojin dan Luhan kembali berhadapan.

 

“Kau sudah harus pergi?”

 

“Ne. Sepertinya ekskulku sudah akan dimulai, aku harus kekelas sekarang”

 

“Baiklah. Sekali lagi terimakasih Sojin-sshi”

 

Sojin bersmile eyes didepan Luhan, “Sama-sama. Dan… tidak perlu seformal itu, panggil Sojin saja. Baiklah, kalau begitu aku kekelas dulu ya Luhan. Sampai jumpa!” ucap Sojin sembari berjalan meninggalkan Luhan. Sesekali gadis itu menoleh dan tersenyum.

 

“Lain kali, aku akan mentraktirmu makan sebagai ucapan terimakasih!” pekik Luhan yang dibalas acungan jempol dari gadis manis itu. Luhan tersenyum lalu melambaikan tangannya.

 

Tak berapa lama, Sojin sudah tak terlihat lagi dari pandangan Luhan. Namja itu menghela nafas lalu mengedarkan pandangan kesekitarnya. Tiba-tiba ingatan tentang Baekhyun muncul lagi. Ide untuk mencoba mencari Baekhyun hari itu pun datang. Setelah memastikan kalungnya benar-benar sudah masuk kedalam saku celana, Luhan pun memutuskan untuk mulai pencarian. Ia berjalan kedalam gedung kelas 3, dengan harapan besar bisa bertemu dengan teman kecil yang sudah lama terpisah. Jujur, keinginannya bertemu dengan Baekhyun tidak hanya untuk Ai tapi karna ia juga sangat merindukan namja itu.

 

Ia telusuri koridor sekolah yang sudah mulai sepi itu. Ekskul pasti sudah banyak yang selesai. Sambil merangkai langkahnya, Luhan memperhatikan sekelilingnya. Perasaan rindu akan masa-masa SMAnya pun muncul. Masa yang kata orang adalah masa yang paling indah. Dan baru saja setahun yang lalu Luhan menamatkan masa itu.

 

“Apa iya aku bisa menemukan Baekhyun disini” gumam Luhan sambil terus berjalan tanpa tahu kemana tempat pasti ia berjalan. Dia jelas tidak tahu seluk beluk gedung itu mengingat ini pertama kalinya ia kesana.

 

 

Krrrrrrriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggggggg

 

 

Tiba-tiba suara nyaring bel terdengar. Bukan dering bel sekolah, melainkan bel pertanda ada kebakaran. Suasana pun seketika gaduh. Para murid seketika berteriak dan berlarian keluar gedung untuk menyelamatkan diri.

 

“Kebakaran?!”

 

Luhan pun ikut panik dan segera berlari mengikuti yang lainnya. Sialnya dia kini ada dilantai tiga, membuatnya harus berlari lebih cepat untuk sampai dibawah. Saat sedang berlari kencang untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba ada yang menabraknya dari belakang. Luhan mengaduh ketika ia tersungkur dilantai. Parahnya lagi, kalung disaku celananya terpental cukup jauh.

 

“Aissh..” dengan segera Luhan bangun lalu berlari menuju kalungnya. Tapi sepertinya ia sedang sial, saat baru saja tangan putihnya menjulur bermaksut ingin mengambil kalung tersebut, secara tidak sengaja kalung itu lagi-lagi tersenggol oleh kaki murid yang sedang berlari hingga terpental lebih jauh kedepan sebuah pintu ruangan.

 

“Hey!” teriak Luhan kemudian kembali berlari lebih kencang. Bagaimana pun jangan sampai kalung itu hilang lagi. Setelah sampai, dengan cepat ia meraih kalung perak miliknya. Tidak mau kalung itu terpental kemana-mana lagi. Ia pun memasukan kalungnya kembali kesaku celana. Dan ketika baru saja Luhan ingin melanjutkan aksi menyelamatkan dirinya, tiba-tiba suara tangisan mengalihkan perhatiannya. Nampaknya suara itu berasal dari dalam ruangan didepan tempatnya berdiri. Awalnya ia ragu, ini keadaan genting dimana ia seharusnya kabur menyelamatkan diri seperti yang lainnya tapi bagaimana jika ternyata suara itu benar-benar tangisan orang yang butuh pertolongan?

 

Penasaran dengan suara isakan yang ia dengar, Luhan mengintip untuk memastikan. Kebetulan pintu ruangan itu sedikit terbuka. Ruangan itu dipenuhi alat olahraga, dan karna sedikit gelap membuat penglihatan Luhan agak terganggu. Bingo! Mata Luhan mendelik ketika melihat seorang gadis tengah menangis sambil menutup telinganya didalam sana. Gadis itu berjongkok dipojok ruangan. Luhan pun berlari masuk dan berjongkok didepan gadis itu.

 

“Pencuri dompet!?” ucap Luhan ketika menyadari ternyata gadis itu adalah Sehi. Tapi Sehi hanya sibuk menangis, tubuh gadis itu gemetaran dan ia terlihat begitu ketakutan.

 

“Ayo! Kita harus pergi dari sini!” Luhan mencoba menarik tangan Sehi, namun tubuh gadis itu seakan membeku. Wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi kulit putihnya. Luhan mengernyit, “Ada apa denganmu?!” tanya Luhan, menyadari ada yang tidak beres dari gadis itu.

 

“Kau baik-baik saja?! Kau pucat seka—Hey! Hey! Kau kenapa?!”

 

Luhan semakin panik karna Sehi tiba-tiba tak sadarkan diri. Ia tepuk-tepuk pipi gadis itu, mencoba membangunkannya.

 

“Hey! Ayo bangun! Aissh bagaimana ini?!”

 

 

 

 

 

((To Be Continued))

 

N/B : NO SIDERS! NO PLAGIAT! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!

4 thoughts on “State it(Chapter 2)

  1. akhirnya keluar juga aaaahhhhh…..
    benerkan yang dicari luhan itu sehi…
    tapi kenpa kenal juga sama baekhyun yaaah..???
    apa baekhyun juga pernah tinggal di cina..???

  2. Annyeong thor🙂
    Aku readers baru ff author😀
    Sbnernya aku belum baca yg chap 1 nya, wkwkwk

    Tapi lain kali bakalan aku baca kok.
    Next ya thor🙂

  3. Aku baru berkunjung kemari lagi setelah sekian lama…
    Dan nemu chapter 2 ini.. Oh wow ini penantian panjang banget eon ..

    Dan jujur aja.. Aku melongo pas baca awalnya.. Aku lupa jalan ceritanya di chapter 1.. Hehe lupa siapa si bekyun ini..
    Tapi pas lanjut baca.. Akhirnya inget lagi.. Itupun dg susah payah nginget2 nya.. Kkk~

    sipp next chapternya ditunggu… Saat liburan hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s