Be My Love (Chapter 5)

COVER BE MY LOVE-tile

Title     : Be My Love “Chapter 5”

Author  : HCV_1

Cast      : Kim Joonmyeon | Han Na Young | etc.

Genre   : Romance , little freak, little sad, family

Length : Chaptered

Rating  : T

“SAY NO TO PLAGIAT!”

Haloo~ author ababil ini balik bawa lanjutan ff chapter yang engga jelas gimana ceritanya ini. Mian author lagi engga pengen ngepost ff ini karena tertarik anime dan tidur *lah maksudnya apa ya*

Ok deh dibanding kalian lama-lama baca curhatan author yang engga bermutu dan engga jelas ini mending langsung ke cerita aja deh.

Happy reading !!!

 

 

 

“Yosh, selesai” ucap Nayoung semangat. Ia mengacungkan tinjunya di udara. Akhirnya pekerjaan membersihkan toilet sudah diselesaikannya. Nayoung memperhatikan wajah Luhan yang nampak serius itu.

 

Tapi dimana? Siapa? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?

 

“Nayoung, kajja!” Luhan mengajak Nayoung untuk meletakkan alat-alat perang mereka yang berupa sikat dan alat-alat pembersih toilet lainnya di gudang sekolah. Waktu sudah menunjukan pukul 17.45. Sekolah juga sudah mulai gelap. Jadi mereka berdua bergegas menaruh alat-alat yang mereka gunakan tadi.

 

“Nayoung, apa kau pernah dilupakan oleh seseorang ?” tanya Luhan tiba-tiba saat mereka berjalan menuju halte bus. Nayoung nampak bingung dengan perkataan Luhan yang secara tiba-tiba itu. Luhan menatap bulan yang bersinar terang, ia menghela nafasnya berat. Ia mencoba menikmati pancaran sinar bulan.

 

“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau tanyakan itu” ucap Nayoung jujur. Luhan menunduk kebawah. Nampak ekspresi Luhan sedikit berbeda dari biasanya, Nayoung tahu itu. “Lupakan” ucap Luhan dengan nada suara yang sedikit dingin. Nayoung hanya diam dalam bingung.

 

Luhan tersentak, ia diam sejenak. “Lupakan saja ne” Luhan menoleh kea rah Nayoung. ia mulai tersenyum lagi. Senyum seperti yang biasanya. Entah apa yang dipikirkan Nayoung saat itu. Selama di jalan Nayoung hanya diam.

 

Mereka akhirnya sampai di halte bus, mereka menaiki bus dan duduk berdampingan. Nayoung hanya memandangi pemandangan malam dari kaca bus. Ia enggan untuk berbincang dengan Luhan. Luhan menatap Nayoung, kemudian ia tersenyum penuh arti tanpa Nayoung tahu.

 

“Mianhae Nayoung, tidak apakan kalau kau pulang sendirian. Aku tidak bisa mengantarmu” ucap Luhan sambil mencakupkan kedua tangan didepan wajahnya. Nayoung hanya tersenyum seperlunya. Suasana hatinya sedang tidak bagus.

 

Mereka berdua akhirnya berjalan terpisah. Nayoung berjalan dengan langkah gontai. Badannya terasa pegal dan otaknya sedang tidak bisa berpikir.

“Yaaa…kenapa kau pulang terlambat sih bibi ? Perutku sudah lapar” Tao mulai menceramahi Nayoung. Namun hal itu tak digubris oleh Nayoung. “Tao, aku sudah memesankan makanan untuk mu. Kau hanya tinggal membayarnya saja jika makanannya sudah sampai” ucap Nayoung, ia menyerahkan uang untuk membayar makanan yang sudah ia pesan. Lalu ia berjalan menaiki tangga, ia hanya ingin segera merebahkan dirinya dikasur.

 

Joonmyeon yang melihat Nayoung bersikap seperti itu hanya diam. Ia menatap Nayoung lekat sampai ia tidak terlihat lagi di tangga. Sedangkan Tao, ia memulai aksi protesnya. Walaupun itu hanya buang-buang tenaga dan tidak ada yang mendengarkan tapi ia tetap melancarkan aksi protesnya untuk melampiaskan rasa kesalnya.

 

TING

TONG

 

“Tenanglah perut, makanan sudah datang” ucap Tao seperti orang gila karena bicara pada perutnya sendiri. Joonmyeon hanya meliriknya sekilas.

“Haahhh” Nayoung menghela nafas berat, ia masih memikirkan apa yang Luhan tanyakan tadi. Pertanyaan Luhan masih saja terngiang-ngiang di pikirannya. Hal itu sangat mengganggunya, bahkan ia tidak bisa memejamkan mata hanya karena sebuah pertanyaan itu. ‘Nayoung, apa kau pernah dilupakan oleh seseorang’ terasa seperti menghantui benak Nayoung.

“Aku harus menyegarkan badan ku agar pikiran ku segar” Nayoung berjalan ke kamar mandi.

Setelah beberapa menit ia sudah merasa lebih baik. Ia menyeka rambut hitam panjangnya dengan handuk.

Nayoung melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya mash dengan handuk di atas kepalanya.

“Bulan purnama”

Ia menatap bulan, dengan tatapan mata menerawang.

Apa kau tau apa maksud pertanyaan itu? Aku tidak mengerti, tapi kenapa pertanyaan itu seolah-olah mampu menusuk ku? Menusuk hati ku hingga terasa sakit…

“Appa, kapan kau kembali? Banyak sekali pertanyaan yang ingin ku tanyakan padamu” gumam Nayoung dengan tatapan mata sedih. Ia benar-benar membutuhkan ayahnya, entah mengapa ia sangat-sangat merindukannya, aroma tubuhnya, suaranya, tatapannya, dan kasih sayangnya yang begitu sangat ia  rindukan. Nayoung menutup matanya, mencoba menikmati sinar bulan untuk menenangkan hatinya yang sedang tidak karuan itu.

 

-oOo-

 

[Joonmyeon Pov]

“Kenapa aku tidak bisa tidur nyenyak?” ucap ku. Aku berusaha membuat diri ku terlelap namun sia-sia. Aku melangkahkan kaki ku menuju balkon, bersender di pintu balkon kamar sambil bersedekap dada. Menatap bulan yang bersinar terang.

“Bulan purnama”

 

Apa yang dilakukannya disana? Kenapa pandangan mata mu seolah-olah bertanya sesuatu? Apa yang mengusik pikiran mu dari tadi? Mungkinah karena kau merindukan ayah mu?

 

Tanpa kusadari mata ku ini terus mengarah padanya, dan aku mencoba mengalihkan pandanganku darinya. Saat aku melihat ke arahnya lagi….

 

DEG

 

[Joonmyeon Pov End]

 

Nayoung masih menatap rembulan yang bersinar penuh itu, ia kemudian menoleh kesamping. Dan….

Ia tersenyum, senyum seperti malaikat. Joonmyeon yang melihat itu hanya mampu memandang dengan perasaan yang tidak menentu.

Nayoung yang tersenyum seperti malaikat yang sedang disinari sinar rembulan penuh. Seakan-akan ia meihat seorang bidadari yang turun dari surga.

 

DEG

 

DEG

 

Ia memegang dadanya, jantungnya berdetak dengan keras.

 

Ekspresi itu tiba-tiba berubah. Nayoung masuk ke kamarnya dengan langkah terburu-buru. Selang beberapa menit kemudian ia keluar lagi dengan membawa sesuatu di kedua tangannya.

Ia melemparkan salah satunya ke balkon Joonmyeon. Joonmyeon mengambil alat itu dan menggoyang-goyangkannya. Nayoung nampak memberi isyarat untuk menempelkannya di kuping.  Joonmyeon mengikuti apa yang diberitahu Nayoung tadi.

Itu adalah alat komunikasi sederhana yang terbuat dari gelas plastik yang di beri tali.

“Yaaa Jumon, kau bisa mendengar ku?” suara Nayoung terdengar dari alat komunikasi parallel itu. “Ada apa?” Joonmyeon membalas dengan nada suara seperti tidak tertarik.

 

“Aku ingin bertanya padamu” ucap Nayoung, Joonmyeon hanya diam. “Apa kau pernah merasa dilupakan?”

Hening, Nayoung hanya menatap Joonmyeon. Joonmyeon hanya menunduk diam.

“Aku pernah dilupakan….”

“Tapi…”

“Aku akan mebuatnya untuk mengingat ku kembali”

Nayoung tersentak, ia tidak mengira jawaban Joonmyeon akan seperti itu. Ia merasa ada yang mendorongnya, mendorongnya untuk mengingat sesuatu. Sesatu yang hilang….dulu

 

“Gamsahamnida Joonmyeonssi” Nayoung mengucapkan terimakasih dangan tersenyum. senyum tulus dari lubuk hatinya.

 

DEG

 

Joonmyeon tersentak. Senyum itu, senyum yang akan selalu ia ingat.

Joomyeon tersenyum….

 

Senyuman itu….kembali….

Nayoung membaca berulang kali pesan yang dikirim oleh ayahnya itu. Ia tidak menyangka ayahnya akan segera pulang. Pulang ke ruma….ia sudah sangat merindukan ayahnya.

“Hei gadis liar, kau terlihat sedikit pucat” ucap Joonmyeon. Tao menatap Nayoung. Ia mengamati Nayoung dengan seksama.

“Bibi apa kau sakit ?” nampak jelas di wajah Tao ia khawatir. “Lebih baik aku saja yang membuat sarapan, aku tidak mau kau sakit. Akan repot jadinya” ucap Tao, ia beranjak menuju dapur.

“Cihh, tetap saja kau tidak mau rugi” ucap Nayoung, ia memejamkan matanya sejenak sambil menengadahkan kepala.

Joonmyeon hanya melihatnya, ia bangun dari duduk santainya. Lalu meraba dahi Nayoung, hangat. Nayoung membuka matanya, ia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Joonmyeon padanya. Jika Tao melihat hal itu sudah pasti ia akan berteriak histeris dan mengeluarkan segala ultimatum kejamnya untuk Nayoung.

“Apa kau tidur dengan nyenyak semalam?” Joonmyeon menatap Nayoung yang sedikit pucat itu. Namun Nayoung memalingkan wajah. Ia ingat semalam setelah ia mendapat jawaban dari Joonmyeon hatinya sudah tenang. Semalam saat Nayoung akan memejamkan matanya di kasur, entah kenapa ia merasa perasaannya tidak enak. Saat ia akan terlelap ia melihat sesuatu yang aneh.

Tapi kenapa ada tiga orang? Dan laki-laki itu bersama perempuan itu muncul, kemudian ada seorang pria lagi muncul. Mereka nampak akrab, dan kemudian mereka menghilang bersama, meninggalkan aku di kegelapan sendirian….

Nayoung mengerutkan dahinya. Matanya nampak memandang jauh.

“Jangan terlalu dipikirkan” Joonmyeon meletakkan telunjuknya tepat di tengah dahi Nayoung. Sehingga kerutan di dahi Nayoung hilang.

“Eheemmm…sarapan sudah siap” Tao muncul dari dapur dengan membawa dua piring di tangannya. Ia menatap Nayoung dan Joonmyeon heran, karena mereka berdua sedikit gugup. Joonmyeon dengan sikapnya yang sinis dan sedikit dingin itu langsung menuju meja makan. Tao menatap Nayoung dengan tatapan bertanya, namun Nayoung malah membalas dengan gelengan.

Tao meletakkan makanan yang ia bawa, kemudian ia mengambil sesuatu lagi di dapur. Ia membawa sebuah mangkuk dan meletakkannya tepat di depan Nayoung.

“Nah bibi, kau harus memakan bubur yang aku buat ini sampai habis. Awas saja kalau sampai tersisa” Tao mengancam sambil mengernyitkan bibirnya. Nayoung menatap bubur yang ada di hadapannya. “Kau sering mengoceh tentang tampilan makanan yang kubuat. Kau juga membuat makanan dengan tampilan yang sama jeleknya seperti ku” Nayong mulai mengomentari masakan yang dibuat Tao. ”Apa aku akan pergi ke surga setelah makan bubur yang kau buat ini?” Nayong tersenyum mengejek.

“Cih, dengan sikap mu itu kau tidak akan pergi ke surga. Sudah untung kau diterima di neraka” balas Tao. Nayoung mendengus kesal.

“Selamat makan” ucap Tao, ia langsung menyendok omurice yang ia buat namun ia menunggu sampai Nayoung dan Joonmyeon memakan masakan yang ia buat. Joonmyeon dan Nayoung pun mulai menyendok makanan yang ada dihadapannya, mereka memasukkan makanan yang mereka sendok kedalam mulut dan mulai mengunyah dan….hening—

“Asin…”

Ucap Joonmyeon dan Nayoung berbarengan, “Tidak terlalu asi…” Tao mulai memakan hasil masakannya. Sampai akhirnya ia menelannya dan wajahnya berubah merah. “Memang asin” ucapnya menundukkan kepala, ia sedikit malu karena masakannya tidak seperti masakan Nayoung.

“Haahhh setidaknya ini adalah usaha mu” ucap Nayoung, ia menyendok kembali buburnya tanpa memikirkan rasanya yang terlalu asin itu.

Akhirnya Tao dan Joonmyeon pun melakukan hal yang sama seperti Nayoung. Tao tersenyum melihat apa yang dilakukan Nayoung.

“Hei gadis liar, ayo ikut aku” ucap Joonmyeon dari dalam mobil sportnya. Nayoung terdiam, ia tidak habis pikir Joonmyeon akan mengijinkannya menaiki mobil mahalnya. “Kau itu lama sekali, cepat” Joonmyeon berkata sinis.

Nayoung membuka pintu mobil dan duduk di sebelah kursi pengemudi. Ia memasang sabuk pengaman. Dan mobilpun mulai melaju.

Tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Mereka berdua hanya diam, hanya alunan musik yang meramaikan suasana.

“Kau sudah meminum obat?” Joonmyeon pun memulai pembicaraan. Nayoung mengangguk. Joonmyeon kembali diam. Hening….

“Kau sudah membawa obat mu?” tanya Joonmyeon lagi. “Sudah” Nayoung menjawab seperlunya. Hening kembali…

“Jumon, terimakasih sudah mengkhawatirkan ku” ucap Nayoung. Joomyeon sedikit terkejut,”Karena ayah mu menitipkan mu pada ku”. Nayoung diam. “Sepertinya jika aku hanya diam begini, penyakit akan cepat masuk ke dalam tubuh ku” ujar Nayoung memulai pembicaraan.

“Kau itu bodoh ya” Joonmyeon berkata dengan nada sedikit sinis. “Yaaa…kalau aku bodoh lalu Tao itu apa? Dia berada dalam bodoh tingkat akut, kau tahu itu” Nayoung tidak terima dikatakan bodoh, apalagi itu dikatakan oleh Joonmyeon.

Nayoung cemberut, “Kau tahu jika orang mengatai orang lain bodoh, dia yang akan bodoh” Nayoung mulai mengeluarkan mitos-mitos ciptaannya sendiri. “Kau yang mengatakan tadi, berarti kau yang akan bodoh” Joonmeon menyerang balik Nayoung. “Tidak, bodoh” ucap Nayoung mengatai Joonmyeon.

“Lihat kau yang mengatakan orang lain seperti itu” ucap Joonmyeon masih dengan nada sinisnya. Dan mereka pun sibuk berdebat dengan topik ‘kau yang bodoh’.

Sampai akhirnya mereka telah sampai di sekolah Nayoung.

“Sudah sampai” ujar Joonmyeon. Nayoung tidak menyadari bahwa ia sudah sampai di sekolahnya. Ia menatap dengan tatapan bengong. “Lihat siapa yang bodoh” ucap Joonmyeon sambil menunjukkan smirknya. Nayoung baru menyadari ia sudah sampai di sekolahnya.

“Tidak  kau yang bodoh,  dasar bodoh” ucap Nayoung sambil turun dari mobil. “Dan terimakasih sudah mengantarkan ku” ucap Nayoung sesaat ia akan menutup pintu mobil Joonmyeon.

Tanpa Nayoung sadari Joonmyeon tersenyum, ia tersenyum karena perkataan Nayoung yang terakhir  tadi. ‘Tidak kau yang bodoh, dasar bodoh’.

Joonmyeon manatap punggung Nayoung, ia ingin memastikan Nayoung masuk ke dalam sekolahnya dengan selamat.

Setelah Nayoung menghilang dari pandangannya ia mulai meninggalkan sekolah Nayoung.

“Cih…”

“Nayoung, kau melihatnya tadi. Bagaimana bisa kau diantar oleh tunangan mu?” Jieun mulai menanyai Nayoung, karena ia terkejut dengan apa yang ia lihat tadi.

“Aku masih belum percaya, bagaimana bisa dia berbaik hati mengantarkan mu ke sekolah dengan mobil mewahnya”

Nayoung hanya diam, ia menatap Jieun kesal.

“Kau tidak mengkhawatirkan ku yang terlihat pucat ini? Kau malah menanyai ku hal-hal yang tidak perlu ku jawab” Nayoung melancarkan aksi protesnya pada Jieun.

“Astaga Nayoung, kau bisa sakit? Orang seperti mu ini bisa sakit? Ini keajaiban Tuhan” Nayoung melotot mendengar perkataan Jieun.

“Kau terlihat pucat, kau sudah meminum vitamin dan obat?” tanya Jieun. “Tidak aku tadi hanya memakan bara api” ujar Nayoung. Jieun kesal dengan jawaban Nayoung.

“Sudah, kau membuat ku kesal saja. Dan terimakasih sudah mengkhawatirkan ku” ucap Nayoung. Jieun tersenyum.

 

TEEETTTT

 

TEEETTTT

 

Jam pelajaran pun akan dimulai, tiba-tiba Luhan datang dan langsung duduk di sebelah Nayoung. Nayoung tersenyum kearah Luhan, namun Luhan hanya diam. Ia tidak mempedulikan Nayoung.

Hingga akhirnya Park songsaengnim masuk dan menyuruh mereka membuka buku catatan mereka.

“Akhirnya pelajaran hari ini selesai” Nayoung mengehmbuskan nafas berat. Entah mengapa ia merasa ia tidak enak badan dan ia mendapatkan firasat yang tidak baik.

“Nayoung, temui aku di atap sekolah sekarang hanya sendirian” ucap Luhan. Kemudian Luhan pergi meninggalkan Nayoung. Nayoung tidak terlalu mengerti tujuan Luhan mengajaknya bertemu di sana.

“Nayoung kajja” ajak Jieun. “Maaf Jieunie aku ada sedikit urusan, kau duluan saja” ucap Nayoung dengan wajah bersalah. “Ya sudah, kau hati-hati. Kalau kau merasa tidak enak badan, kau hubungin saja aku atau tunangan mu itu untuk menjemput. Pai~” ucap Jieun. Nayoung membalas dengan anggukan mantap.

Nayoung memastikan apakah Jieun sudah pulang apa belum. Dan nampak dari jendela kelasnya Jieun sudah keluar dari gerbang sekolah. Nayoung pun berjalan menuju atap sekolah. Ia menaiki tangga yang sepi karena tidak ada yang berani naik kea tap sekolah karena dilarang.

“Nayoung, maaf aku menyuruh mu untuk ke sini’ ujar Luhan. Ia memalingkan wajahnya dari Nayoung, hal itu malah membuat Nayoung bingung. Ia benar-benar tidak mengerti tujuan dan maksud Luhan menyuruhnya  ke sana.

Luhan menatap Nayoung, entah tatapan apa yang dirasakan oleh Nayoung. Tapi ia mulai mengingat tatapan itu. Tatapan yang terluka, marah, senang, kecewa semuanya  tergambar dalam mata Luhan. Nayoung mundur selangkah. Ia tidak kuat melihatnya.

Ada sedikit ingatan-ingatan kecil yang muncul dalam kepala Nayoung. Kepalanya mulai berdenyut. “Nayoung, gaenchanna?” Luhan memegang pundak Nayoung. Nayoung melihat sedikit bayangan buram. Bayangan seorang anak laki-laki yang menanyakan hal yang sama seperti Luhan katakan tadi. Ia tidak melihat jelas bagaimana rupa anak laki-laki itu.

“Nayoung, gaenchanna?” tanya Luhan lagi, setelah mengguncangkan sedikit badan Nayoung. Nayoung pun terperanjat sadar. Ia menatap lurus ke depan.

“Nayoung” panggil Luhan. Nayoung memandang Luhan lalu mencoba tersenyum. Luhan menatap kedua bola mata Nayoung, Nayoung hanya diam. Seolah-olah tatapan Luhan itu merasuk ke dalam dirinya, merasuk dalam kepalanya dan merasuk ke dalam—ingatannya.

Nayoung sadar, kepalanya semakin sakit. Dan perasaannya semakin tidak enak. Ia harus segera mengakhiri semua ini. Harus!

“Luhan kenapa kau mengajakku bertemu di sini?” tanya Nayoung langsung ke inti. Luhan tersenyum, senyum yang sama dengan senyum yang Nayoung lihat saat mereka berdua di hukum membersihkan toilet.

Luhan diam, ia semakin mendekati Nayoung. Kemudian….

 

[Luhan Pov]

“Apa kau tidak mengerti apa yang kurasakan?” Aku menunggu di atas sini sendirian.

 

Kau tau apa yang kurasakan selama ini? Bahkan kau tidak tahu aku, bahkan kau melupakan segalanya…

Segalanya telah hilang…segala hal yang berharga dalam hidup ku

 

Kutatap langit yang cerah ini, memejamkan mata ku. mencoba menikmati suasana yang sangat indah ini.

“Mungkin kau akan merasakan sakit, maafkan aku” ucap ku dengan penuh penyesalan.

“Tapi ini harus ku lakukan” aku pun tersenyum.

 

CKLEK

 

[Luhan Pov End]

 

Nayoung sudah dalam pelukan hangat Luhan, Nayoung benar-benar terkejut. Ia tidak bisa berpikir. Ia seolah hanyalah orang yang tidak berjiwa.

“Kau dan aku akan bersama selamanya”

Ingatan buram kembali muncul di dalam kepala Nayoung. Ia melihat seorang anak laki-laki bersama dengan anak perempuan mereka nampak akrab, dan mereka menautkan kelingking merek untuk saling berjanji akan selalu bersama selamanya. “Aku akan selalu ada bersama mu, melindungi mu. Jadi jangan khawatir” ucap anak laki-laki itu, yang dibalas anggukan oleh anak perempuan itu. Merekaun tertawa dengan jari kelingking yang masih bertautan.

Tautan keduanya pun lepas dan anak perempuan itu mulai memudar, memudar….hingga akhirnya—lenyap.

Anak laki-laki itu menangis, menangis sejadi-jadinya dan akhirnya anak laki-laki itupun lenyap…

Nayoung kembali sadar, ia mendorong Luhan hingga ia bisa lepas dari pelukannya.

“Aku tidak tahu, aku tidak mengerti…mereka selalu mengganggu ku, selalu muncul dalam mimpiku” ucap Nayoung lemah. Tatapannya menerawang.

“Kenapa? Kenapa mereka selalu muncul?” tanya Nayoung mulai melangkah mundur. Ia memegang kepalanya yang berdenyut semakin keras. Perasaannya juga semakin tidak karuan.

“Nayoung…” panggil Luhan. Luhan mendekat ke arah Nayoung.

“STOP! Berhenti!” pekik Nayoung. Luhan diam. Ia hanya menatap Nayoung dengan tatapan menusuk.

 

DRRRTTT

DRRRTTT

 

Ponsel Nayoung mulai berbunyi, ia segera mengambilnya dari saku seragamnya dan mengangkat telfon itu.

“Yeoboseyo?” ucanya berusaha untuk bicara senormal mungkin.

“Nayoung, ini paman. Kau taukan ayah mu akan pulang hari ini?”

“Ne ahjussi” jawab Nayoung. Nayoung mengenali suara pria itu, itu adalah ayah Joonmyeon. Teman baik ayahnya.

“Pesawat yang di tumpangi ayahmu…”

“Apakah penerbangannya tertunda?” tanya Nayoung.

“Tidak, pesawat yang di tumpangi oleh ayahmu jatuh…maafkan paman Nayoung”

Nayoung mematikan panggilan itu. Matanya kosong.

 

Ponsel Nayoung mulai berbunyi lagi. Ia langsung mengangka telfon itu tanpa melihat siapa yang menefon.

“Nayoung, kau dimana? Ada sesuatu hal yang harus kau tahu. Cepat beri tahu di mana kau sekarang” suara Joonmyeon nampak tergesa-gesa. Nayoung langsung menutup panggilan itu.

“Nayoung…” panggil Luhan lagi, ia mncoba mendekati Nayoung lagi. Air mata Nayoung mengalir perlahan.

 

TES

 

Tatapannya masih kosong. Dan entah dari mana datangnya pikiran itu, ia langsung berlari, berlari meninggalkan Luhan disana. Berlari sekencang-kencangnya. Berlari tanpa arah tujuan.

Hujan turun dengan lebat, ia tidak mempedulikan hal itu. Yang ia tahu hanyalah berlari…berlari dan terus berlari…

Hujan yang menghapus air mata yang memaksa untuk keluar itu. Nayoung berlari cukup jauh dan…

 

BRRUUAAKKK

 

Ia terjatuh di genangan lumpur yang berisi batu dan kerikil tajam. Nayoung terluka, tapi ia tidak peduli. Ia menangis sejadi-jadinya. Biarlah hujan yang menemaninya saat ini, biarlah wajah dan tubuhnya terluka karena hatinya sudah sangat terluka….

Ayahnya, ayah yang ia sayangi meninggalkannya…meninggalkannya untuk selamanya….

Ia menatap langit yang sudah berwarna gelap, hujan pun sudah mereda…ia menatap bulan yang sudah muncul seakan-akan mengasihani—dirinya. Tangisanya…tangisannya sudah berhenti , ia berdiri dan melangkah. Melangkah tak tentu arah…biarlah ia melangkah tanpa tujuan. Biarlah tubuhnya bergerak sendiri, ia tidak peduli itu. Ia sudah tidak peduli akan apapun.

“Hyung, ponselnya tidak bisa di hubungi” desah Tao. Ia terlihat sangat khawatir. Joonmyeon duduk di ruang makan, kedua tangannya nampak menyangga kepalnya. Ia memjamkan matanya, mencoba untuk berpikir dengan tenang.

Yang bisa mereka lakukan hanyalah menanti, menanti Nayoung pulang. Menanti…ya menanti….

“Bibi, kenapa kau mematikan ponsel mu? Aku sangat khawatir pada mu” ucap Tao.

Tao nampak berjalan kesana kemari, ia menggigit kukunya. Raut wajahnya kacau, ia hanya ingin Nayoung pulang. Tidak masalah jika Nayoung menjambak dan meranirk bibirnya lagi. Yang terpenting Nayoung pulang, pulang ke rumah. Pulang dengan selamat.

Joonmyeon, ya Joonmyeon hanya duduk. Ia melipat tangan kanannya di atas meja makan dan menggunakan tangan kirinya sebagai penopang kepalanya. Telapak tangan kirinya memegang kening yang tidak terasa sakit. Ia hanya memikirkan keadaannya, dimana ia sekarang, apa yang ia lakukan sekarang, kapan ia akan pulang.

Setelah menunggu berjam-jam dan langit juga semakin pekat hingga bulan pun bersinar…

“Bibi apa yang….”

Tao yang hendak mengomeli Nayoung seketika diam setelah melihat keadaan Nayoung yang kacau. Ia menutup mulutnya rapat, ia melihat jelas sekali rasa sakit yang dirasakan oleh Nayoung.

Nayoung berjalan taka tentu arah, sampai akhirnya langkah kakinya yang menuntunnya kembali ke rumah. Rumah yang penuh kenangan baginya.

Ia puldang dengan keadaan yang kacau, noda lumpur menghiasi hampir seluruh badannya termasuk rambutnya. Kaos kakinya robek karena beresekan dengan kerikil tajam sehingga kakinya pun lecet. Dan wajahnya, wajahnya terdapat beberapa luka gores akibat jatuh tadi.Keadaannya benar-benar kacau. Tapi ia tidak mempedulikan bagaimana penampilannya sekarang, ia hanya tidak ingin memikirkan apapun. Ia hanya berharap ini semua adalah mimpi, tidak pernah terjadi dan hanya sebuah lelucon.

TES

TES

TES

Tsk…..”

Air mata Nayoung mengalir, ia mendesis dan jatuh  pingsan…..

-oOo-

[Nayoung Pov]

“Appa!!!” pekik ku. Aku melihat ayah dari kejauhan, ia nampak tersenyum. Senyum yang kurindukan, tapi seorang wanita muncul. Aku terus memanggilnya namun ia tidak pernah melihat kearah ku. Ia menatap wanita itu dengan tatapan lembut. Tak beberapa lama aku melihat seorang anak laki-laki. Ayah memeluknya erat, sangat erat. Tapi aku tidak tahu wanita dan anak laki-laki itu.

Aku berusaha memanggilnya terus menerus namun tetap tidak ada yang memperhatikan. Seolah-olah aku ini tidak ada, seolah-olah aku ini tembus pandang. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya.

Aku tak tahu harus bagaimana, namun aku melihat seberkas cahaya. Cahaya itu seolah-olah membimbingku…

Dan sebuah suara muncul, entah dari mana…

“Nayoung” aku mengenal suara itu, itu suara ayah. “Appa!” pekik ku.

“Nayoung, putri ku. Appa ingin kau kuat, apapun yang terjadi jangan menyalahkan diri mu ataupun orang lain. Appa tidak ingin putrid appa yang cantik ini terus bersedih. Maafkan appa tidak bisa menemanimu. Apapun yang terjadi tetaplah kuat, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Appa menyayangi mu”

Suara itu lenyap…

“Appa, appa!” pekik ku. “Appa, aku juga sangat menyayangi mu” air mata ku pun jatuh, menciptakan sebuah lubang. Lubang hitam yang semakin besar dan akupun jatuh ke dalam lubang hitam itu. Lubang itam itu berubah menjadi putih dan dalam lubang itu mulai muncul beberapa kenangan. Kenangan indah, baik, buruk, menyedihkan, mengecewakan. Tapi ada beberapa yang tidak terlalu jelas.

Aku mulai membuka mata ku, aku merasakan ada kompres di atas keningku. Saat akan bangun sebuah tangan menggenggam tangan ku erat. Ku alihkan pandangan ku ke jam kecil yang ada di atas nakas, pukul 03.00. Aku menatap wajahnya, wajahnya yang sangat tenang dan serasa damai, angin berhembus pelan seolah membelai ipiku lembut. Seolah-olah menunjukkan bahwa ia iktu berduka cita, seolah-olah menunjukkan dukungannya padaku yang rapuh ini.

Aku menatap wajahnya lama karena tidak tahu harus bagaimana. Sakit rasanya jika aku memikirkan ayah. Aku belm sanggup mengenang ayah, tepatnya belum menerima jika ayah harus dikenang. Hati ku merasa lebih tenang dari sebelumnya saat melihat pria yang masih tertidur ini.

Namun ia kemudian terbangun, ia mengusap matanya dan tersenyum ramah padaku. Senyum yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Dan saat aku menatapnya lagi untuk sepersekian detik…

 

GREP

 

DEG

DEG

DEG  

 

To Be Continue

Maaf kalo penulisan dan ceritanya berantakan, dan author minta maaf sebesar-besarnya udah buat kalian nunggu lama banget sampe kalian tumbUh lumut + jamur + akar gara-gara uthor engga pingin lanjut ff ini.

LEAVE YOUR COMMENT !

 

 

 

4 thoughts on “Be My Love (Chapter 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s