| XOXO SONGFIC SERIES | XOXO

XOXO4-tile

XOXO songfic series

Title : XOXO

Author : HCV_2 | Main cast : Hwang Eun Woo – Kim Jong Dae

Length : Ficlet | Genre : Romance | Rating : T

Song : EXO – XOXO

An X for a soft kiss.. An O for a circled hug

Sebuah X adalah cium untuk satu ciuman yang lembut

Sebuah O adalah untuk satu pelukan

Mungkin kau sudah mengetahui hal itu

“Jadi kali ini kau akan memberikannya?”

“Apa? Memberikan apa?” sahut namja yang tengah sibuk menulis surat sambil tersenyum-senyum sendiri. Lawan bicaranya malah menghela nafas berat, terdengar kecewa dengan tanggapan temannya.

“Apa lagi? Tentu saja yang sedang kau tulis itu”

Mendengar ucapan temannya, namja berwajah tampan itu segera menoleh. “Apa? Surat ini maksutmu?! Mana mungkin Jonghyun’ah. Mana berani aku memberikan ini padanya”

“Hey Kim Jongdae. Sampai kapan kau akan seperti ini? Kalau kau terus seperti ini cintamu tidak akan pernah terbalaskan” sahut Jonghyun setengah kesal. Jongdae hanya mempoutkan bibirnya sambil menatap secarik kertas yang ada didepannya. Dia menghela nafas.

“Aku tahu. Aku akan memberikannya saat aku sudah siap nanti” ucap Jongdae seraya kembali menulis kata-kata manisnya dikertas itu. Agak malas menanggapi temannya yang dia tahu sedang gondok karna sikap tak acuhnya. Permasalahan ini terlalu sering dibahas tapi tak pernah menemukan jalan keluar. Itulah sebabnya kenapa Jongdae malas membicarakannya. Jonghyun terlalu cerewet, selalu saja memaksanya untuk bergerak cepat padahal menurutnya masih banyak waktu untuk mempersiapkan diri lebih matang.

“Isshh.. kau selalu berkata seperti itu. Memangnya kapan kau akan siap oeh?”

“Ya nanti”

“Nanti kapan? Saat dunia sudah kiamat?” tanya Jonghyun bertubi-tubi dengan nada yang terdengar menantang. Jongdae mendengus lalu menoleh kearah Jonghyun yang sedang bersedekap didada dengan angkuh.

“Pokoknya nanti dasar cerewet. Sudah kau diam saja. Tsk

“Heh sekarang aku tanya padamu..” Jonghyun menegakkan posisi duduknya. Lalu membalas tatapan kesal Jongdae kearahnya. “Memangnya apa sulitnya sih? Kau kan hanya tinggal memberikannya pada Eunwoo lalu biarkan dia membacanya. Beres kan?!”

Tsk..ini tidak semudah yang kau bayangkan Jonghyun’ah. Sudahlah lebih baik kau diam dan jangan campuri urusanku. Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan” sahut Jongdae pelan namun terdengar tegas. Setelah melipat suratnya, ia pun bangkit dan bermaksut untuk pergi. Namun baru saja ia berjalan 5 langkah, seketika ia terpaku melihat siapa yang baru saja berjalan masuk kedalam café. Matanya terlihat berbinar bahkan tak berkedip melihat seorang gadis berambut panjang itu. Dapat ia rasakan jantungnya yang mulai bertingkah gila. Sementara Jonghyun hanya berdecak melihat tingkah sahabatnya.

“Jongdae’ah kau juga disini?” tanya gadis itu seketika membuat Jongdae tersentak. Namja itu hanya celingukan seperti orang kebingungan. Mungkin karna terlalu gugup.

“Jongdae?”

“Ahh iya Eunwoo’ah. Kau kesini sendirian?” tanya Jongdae yang langsung dijawab anggukan mantap oleh gadis manis didepannya. Jongdae pun hanya tersenyum, bingung harus bicara apalagi. Entah kenapa setiap kali berhadapan dengan Eunwoo otaknya berjalan lambat. Terlalu fokus akan objek indah yang menguasai pikirannya.

“Umh.. Baiklah. Kalau begitu aku cari tempat duduk dulu ya Jongdae’ah”

“Eh? I-Iya baiklah” sahut Jongdae tergagap. Sedikit kecewa karna bukan itu yang seharusnya dia katakan. Namun saat baru saja Eunwoo akan berjalan pergi, reflek tangan Jongdae memegang lengan Eunwoo.

“Ada apa?” tanya gadis manis itu lembut.

“Mau… aku temani?”

Sejenak Eunwoo berpikir lalu menganggukkan kepalanya “Tentu saja boleh”

 

 

Hari demi hari, diam-diam aku menulis surat untukmu

Dan itulah yang kutulis dibagian akhirnya

Meskipun aku tidak pernah memberikannya kepadamu

 

 

Kira-kira 20 menit berlalu, dan obrolan berlangsung alot. Jongdae tau ini akan terjadi, dia selalu saja gugup setiap kali berhadapan dengan gadis yang satu ini. Otaknya bergerak lambat, setiap kali ingin memulai pembicaraan pasti hanya pertanyaan konyol yang keluar dari mulutnya. Menanyakan kabar, pelajaran dikampus dan hal-hal tidak penting lainnya. Bahkan ketika Eunwoo menanyakan hal yang seharusnya bisa menjadi topik yang bagus, dia malah hanya menjawab ala kadarnya. Membuat topik itu selesai tanpa makna yang berarti.

“Oya? Kudengar kau ditunjuk sebagai asisten salah satu dosen dikelasmu. Apa itu benar?” lagi-lagi Eunwoo yang memulai. Jongdae hanya tersenyum malu-malu sembari mengelus tengkuknya.

“Iya itu benar Eunwoo’ah”

“Wahh kau hebat sekali. Ini baru semester awal tapi kau sudah bisa menjadi asisten dosen. Kau pasti pintar sekali” ucap Eunwoo yang secara otomatis membuat wajah namja didepannya bersemu merah. Tak tahu seberapa senangnya Jongdae mendapat pujian dari gadis yang disukainya.

“Ah tidak juga. Mungkin aku hanya beruntung” sahut Jongdae sambil tersenyum simpul. Dengan sekuat tenaga ia berusaha bersikap natural. Dia tidak mau terlihat kampungan didepan Eunwoo. Jonghyun pernah bilang padanya, menjaga image itu penting.

Lagi-lagi kehabisan topik pembicaraan. Keduanya hanya diam sambil menikmati pesanan masing-masing. Eunwoo mulai terlihat sibuk dengan gadgetnya sementara Jongdae menggigit bibir bawahnya sambil berpikir. Mengubek-ubek isi otaknya untuk mencari topik baru. Tapi beginilah dia jika sudah didekat Eunwoo, otaknya yang kata Jonghyun superior itu berubah menjadi dibawah rata-rata. Merasa mulai putus asa, Jongdae melirik Jonghyun yang masih belum pergi dari tempatnya. Sambil tersenyum mengejek namja berambut blonde itu memerhatikan Jongdae dan Eunwoo.

Dari jarak sekitar 3 meter itu Jongdae menatap Jonghyun dengan tatapan minta tolong. Jonghyun terkenal playboy dikampusnya, dia sangat berpengalaman dalam mendekati gadis-gadis. Jongdae yakin namja itu lebih dari tahu apa yang harus Jongdae lakukan dalam situasi seperti sekarang. Jonghyun mengambil sisa kertas Jongdae dimejanya lalu menulisinya. Sepersekian detik kemudian namja itu memperlihatkan apa yang dia tulis pada Jongdae.

‘Ngobrol saja seperti bagaimana kau ngobrol denganku dan yang lain. Jangan gugup. Buat dia merasa nyaman denganmu’

Dengan menyipitkan mata Jongdae  membaca tulisan temannya. Jongdae mengaruk kepalanya, kemudian kembali menatap Jonghyun dengan tatapan yang mengisyaratkan pertanyaan ‘bagaimana caranya?’

Jonghyun menepuk dahinya frustasi. Bagaimana bisa namja berotak superior itu berubah menjadi idiot hanya karna seorang gadis? Ia ingin menulis lagi tapi ia kehabisan kertas. Jonghyun pun memanggil seorang pelayan dan meminta secarik kertas. Setelah menulis apa yang ingin ia sampaikan, namja yang pandai menyanyi itu kembali memperlihatkan tulisannya pada Jongdae.

‘Carilah topik yang kau dan dia sama–sama tau. Bagaimana agar pembicaraan bisa berjalan natural dan menyenangkan’

Jongdae menghela nafas. Kenapa namja itu tidak juga mengerti, kalau topik pembicaraanlah yang menjadi masalahnya saat ini.

“Jongdae kau kenapa?”

Tiba-tiba suara Eunwoo mengagetkan namja frustasi itu. Jongdae menatap Eunwoo lalu tersenyum kaku. “Tidak apa-apa. Aku hanya―”

 

Drrrrttt

 

Drrrrtt

 

Suara getar ponsel Eunwoo mendadak menyela pembicaraan mereka. Eunwoo merogoh tasnya lalu mengambil smartphone putihnya. Mengangkat telpon dari seseorang diseberang sana. Jongdae meningkatkan kerja telinganya, ingin tahu kira-kira siapa orang itu. Namja yang juga terkenal dengan suara merdunya itu mengernyit ketika menangkap maksut dari pembicaraan Eunwoo. Kelihatannya seseorang yang menelpon gadis itu akan datang ketempat mereka sebentar lagi.

“Dari.. siapa Eunwoo’ah?” tanya Jongdae ragu-ragu setelah Eunwoo memutuskan sambungan telponnya.

“Dari Howon. Dia bilang akan kemari”

Jongdae nampak agak terkejut, “Howon? Apa maksutmu Lee Howon?” tanya Jongdae dengan alis terangkat keatas. Eunwoo pun menjawabnya dengan sebuah anggukan. Howon adalah teman satu kelas Jongdae dikampusnya dan namja dancer itu sangat terkenal. Setahunya Howon digilai oleh gadis-gadis diuniversitas mereka. Tapi tidak namja itu sangka Eunwoo mengenalnya. Bahkan dari cara bicara mereka, dua orang itu sepertinya akrab.

“Kau mengenal Howon?”

“Ne. Kami sangat dekat. Dia itu―Ah kau mau kemana?” Eunwoo memotong ucapannya saat melihat Jongdae yang tiba-tiba saja berdiri. Gadis itu mengernyit. Entah hanya perasaannya saja atau memang Jongdae terlihat agak kesal. Tapi apa yang membuatnya kesal?

“Aku ketoilet sebentar”

 

 

Bagaimana kabarmu hari ini? Adakah sesuatu yang istimewa?

Hanya kata-kata seperti itu yang melewati kepala ku

Sebenarnya hatiku sangatlah dalam, lebih dalam dari lautan

Kata-kata yang sebenarnya ingin aku katakan adalah jadilah milikku

 

Setelah termenung cukup lama, dengan tergesa-gesa Jongdae membasuh wajahnya. Ia menghela nafas lalu menatap kecermin didepannya. Menatap dirinya sendiri yang terlihat kacau. Entah kenapa, setelah mendengar kalau Eunwoo dan Howon dekat membuat perasaannya campur aduk. Padahal kata ‘dekat’ yang diucapkan Eunwoo masih belum bisa diartikan secara pasti.

“Kenapa aku sekesal ini?” ucapnya pada dirinya sendiri. Setelah agak tenang, ia mengambil tisu lalu membersihkan wajah tampannya. “Tenanglah Jongdae. Jangan panik, semuanya belum berakhir” ucap Jongdae menyemangati diri sendiri. Setelah wajahnya bersih dari air, ia kembali menatap ke cermin. Kali ini dengan tatapan tegas. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Namun seketika ia tersentak ketika mendadak Jonghyun muncul dibelakangnya.

“Kau menganggetkanku. Sedang apa kau disini?” tanya Jongdae sok bersikap tenang. Padahal hatinya sedang bergemuruh sekarang.

“Hey aku yang seharusnya bertanya begitu. Kau sedang apa disini?”

“Kau pikir apa yang bisa dilakukan ditoilet? Tidur siang?” sahut Jongdae sambil membuang tisu ditangannya. Jonghyun mendengus kesal.

“Iya. Aku pikir kau sedang tidur siang disini karna sudah 15 menit dan kau belum juga keluar” ucap Jonghyun sambil menatap jam tangannya. Jongdae yang tadinya sok bersikap tenang seketika terkejut. Ia berbalik sambil menatap Jonghyun tak percaya.

“Selama itu?!”

“Ne. Kurasa Eunwoo sudah berlumut menunggumu disana” jawab Jonghyun seraya melipat tangan didada. Jongdae meringis sambil menepuk jidatnya. Ia sama sekali tidak sadar sudah pergi selama itu.

“Aku tahu kau sedang menenangkan diri disini. Ada apa? Apa kau mendapat berita mengejutkan?”

“Jangan sok tahu” sahut Jongdae sembari berjalan keluar toilet. Tak mau ketinggalan Jonghyun pun mengekor dibelakang namja itu.

“Itu kebiasaanmu bodoh. Setiap mau menenangkan diri kau pasti membasuh wajahmu ditoilet”

Tak menggubris ucapan temannya, Jongdae terus berjalan cepat untuk kembali kemejanya. Jangan sampai Eunwoo berpikir yang aneh-aneh karna dia terlalu lama pergi ketoilet. Jonghyun lagi-lagi mendengus kesal. Temannya yang satu ini memang sering sekali tak mengacuhkannya. Namun saat sedang sedang asik bersumpah serapah dibelakang Jongdae ia terkesiap karma tak sengaja menabrak namja yang tiba-tiba berhenti itu.

“Hey!” gerutu Jonghyun sambil mengelus kepalanya yang berbenturan dengan kepala Jongdae. Tapi Jongdae hanya diam, terlalu terkejut melihat pemandangan didepannya. Penasaran dengan apa yang membuat temannya berhenti tiba-tiba, Jonghyun menengok dan alisnya pun terangkat. Melihat Eunwoo sedang bedua dengan seorang namja yang ia kenal. Mereka tengah ngobrol dan terlihat begitu mesra. Sekali Howon terlihat mengelus kepala Eunwoo. Membuat nafas Jongdae naik turun karna kesal.

“Ah jadi ini yang membuatmu harus pergi ketoilet”

“Diam kau”

Jonghyun maju selangkah lalu menepuk sebelah pundak Jongdae. “Masih belum berakhir Jongdae’ah”

“Apanya? Kau lihat saja mereka. Siapapun bisa lihat kalau mere―”

“Pastikan dulu. Kau tidak boleh menilai hanya dengan melihat luarnya saja”

“Tapi Jonghyun’ah”

“Sudah ayo cepat jalan”

 

Ketika kau bersamaku, kau tampak begitu merasa nyaman

Kau terus bercanda denganku

Setiap kali kau tersenyum.. senyum putih mu

Apakah hatimu berkata ya atau tidak?

Beri aku tanda X atau O

Karna menunggu sangat tidak menyenangkan

 

“Oh Howon kau sudah sampai?” ucap Jongdae ketika sampai dimejanya. Eunwoo mendongak lalu menghela nafas melihat Jongdae. Seperti bersyukur karna namja itu akhirnya kembali juga.

“Jongdae kenapa lama sekali?”

“Tadi aku menerima telpon dari ayahku jadi sedikit lama” ucap Jongdae tenang. Jonghyun tersenyum, pasti namja itu sudah memikirkan alasan itu sejak tadi. Eunwoo hanya menganggukkan kepalanya. Namun raut wajahnya terlihat agak terkejut melihat Jonghyun berdiri disamping Jongdae.

“Ah tadi aku bertemu Jonghyun ketika berjalan kemari”

“Hai Eunwoo. Hai Howon” sapa Jonghyun santai. Howon dan Eunwoo tersenyum membalas sapaannya. “Bolehkan aku bergabung?”

“Tentu saja. Ayo duduklah” sahut Howon ramah. Jongdae dan Jonghyun pun duduk berdampingan. Jonghyun terlihat santai tapi Jongdae terlihat sangat kaku. Jonghyun berdecak melihat tingkah teman kecilnya itu.

“Santai saja” bisik Jonghyun ditelinga Jongdae. Namja berambut hitam itu menganggukan kepalanya.

“Jonghyun’ah kau tidak memesan makanan?” tanya Eunwoo sambil tersenyum.

“Ah tidak, nanti saja”

Eunwoo mengangguk, “Baiklah”

“Eunwoo’ah? Kau dan Howon kelihatannya akrab. Sepertinya.. ada sesuatu diantara kalian” tanya Jonghyun dengan tatapan menyelidik. Eunwoo dan Howon hanya tersenyum, tapi justru Jongdae yang malah terlihat kelimpungan.

“Kenapa Jonghyun bertanya hal seperti itu?” batin Jongdae.

“Ya memang tidak banyak yang tahu. Sebenarnya kami punya hubungan khusus” jawab Howon sambil tersenyum penuh makna dan menekankan nada pada kata ‘khusus’. Membuat Jongdae seketika terdiam, seperti ada ledakan didadanya hingga membuatnya terasa sesak. Apa maksut hubungan khusus yang dikatakan Howon?

“Oh benarkah? Hubungan apa?” tanya Jonghyun lagi sambil tersenyum jahil. Membuat Eunwoo tersipu.

“Ah apa-apaan kalian. Kami kan hanya―”

“Sudahlah Jonghyun’ah. Kenapa kau bertanya hal-hal pribadi seperti itu. Lihat kan Eunwoo jadi malu” ucap Jongdae sok bijak. Jonghyun menoleh dan menatap Jongdae dengan tatapan yang seolah mengatakan ‘Apa-apaan kau ini’

“Hey kau kenapa Jongdae’ah. Aku kan hanya ingin tahu” ucap Jonghyun sambil merangkul pundak Jongdae. Tanpa Howon dan Eunwoo ketahui, diam-diam Jonghyun berbisik ditelinga Jongdae. “Ada apa denganmu? Aku melakukan ini untuk menolongmu bodoh”

“Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri” ucap Jongdae yang sontak membuat Jonghyun terkesiap. Namja itu mengatakannya terang-terangan. Dengan volume yang dapat didengar Eunwoo dan Howon.

“Apa? Barusan kau bicara apa Jongdae’ah?” tanya Howon tidak mengerti. Sementara Jonghyun hanya meringis.

“Apa hubunganmu dengan Eunwoo? Kau pacaran dengannya?”

Eunwoo mengernyit, “Jongdae’ah kau kenapa?”

“Aku tidak peduli kalian pacaran atau tidak. Yang jelas aku akan menyatakannya padamu sekarang” Jongdae berdiri lalu menatap Eunwoo lekat. Gadis itu hanya memperdalam lipatan didahinya. Ia balas tatapan tegas Jongdae dengan ekspresi bingung. Sementara Jonghyun malah mengerjapkan matanya berulang kali. Tak dia sangka Jongdae seberani ini.

“Me-menyatakan apa?”

“Dengarkan saja Eunwoo’ah”

 

Haruskah aku mengambil keberanian dan memberitahu mu?

Tulisan tangan ku yang jelek, surat memalukan ini

Keempat kata-kata ini tidak cukup

Seperti seorang laki-laki, aku akan menunjukkan pada mu melalui tindakanku

 

“A-apa yang akan dia lakukan?” tanya Eunwoo ketika melihat Jongdae malah berjalan menuju panggung kecil yang disediakan dicafe tersebut. Jonghyun hanya bisa menggeleng, ia juga terkejut dengan tindakan namja yang berteman dengannya sejak dibangku SMP itu. Baru kali ini dia melihat Jongdae senekad itu.

Jongdae naik kepanggung lalu bicara dengan pemain piano yang sejak tadi menghibur para pengunjung dengan dentingan pianonya. Sepersekian detik kemudian, dia berjalan ketengah dan mengambil microphone. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu meghembuskannya.

“Aku ingin menyanyikan lagu ini untuk seseorang yang aku sukai. Orang yang sejak hari pertama masuk unviersitas membuatku jatuh hati. Kepribadiannya yang manis, wajahnya yang cantik, suaranya yang lembut, semuanya membuatku hampir gila” Jongdae memotong pidatonya, tatapannya tetap tidak lepas dari Eunwoo. “Aku tidak tahu ada hubungan apa sebenarnya kau dengan Howon. Tapi aku tidak sanggup jika menyimpan perasaan ini lebih lama. Jika akhirnya aku hanya akan dapat penolakan, itu tidak masalah. Tapi aku hanya ingin kau tahu. Aku menyukai—Ah bukan. Aku mencintaimu.. Hwang Eunwoo..”

 

Deg

 

Suara sorakan dan tepuk tangan terdengar dari pengunjunng yang lain. Eunwoo terdiam. Tanpa ia sadari mendengar pidato singkat Jongdae membuatnya bangkit dari tempat duduknya. Matanya dan Jongdae masih terpaut. Jantungnya seketika berdetak cepat dan perasaannya campur aduk. Antara senang dan juga terkejut. Benarkah Jongdae mencintainya?

Musik pun mengalun pelan. Mulai mengiringi Jongdae yang ingin mengeluarkan suara merdunya untuk Eunwoo.

“Salmyeosi immatchun xneun kiss. Donggeurake aneun oneun hug. Hoksi beolsseo algo isseulkka oh. Haruharu mollae sseun pyeonji. Geureoke kkeuteumage jeogeotji. Geuraebwatja jun jeok eobtjiman ah~”

Jongdae menyanyikan lagu yang mewakili isi hatinya pada Eunwoo. Tidak hanya Eunwoo, semua pengunjung café itu juga terlihat menikmati lagu Jongdae. Memasuki refrain pertama, Jongdae turun dari panggung lalu berjalan menghampiri Eunwoo. Ia raih tangan Eunwoo kemudian mengajaknya naik keatas panggung. Dapat Eunwoo rasakan darahnya mendidih karna gugup. Ia yakin wajahnya sudah merah sekarang.

Jongdae tak lagi menyanyikan lagunya, ia biarkan musik mengalun begitu saja. Eunwoo mendelik ketika namja itu malah berlutut sambil mengulurkan tangan didepannya.

“Eunwoo.. maukah kau menjadi kekasihku?”

Eunwoo menutup mulutnya dan airmata mulai menumpuk dipelupuk matanya. Tidak ia sangka akan mendapatkan hal semanis ini. Sepersekian detik Eunwoo hanya menatap Jongdae, membuat namja itu berharap-harap cemas. Tapi perlahan gadis itu mengulurkan tangannya lalu mengangguk pelan.

“Aku mau” jawab Eunwoo sambil tersenyum.

Mata Jongdae membulat. Seketika ia berdiri sambil menatap Eunwoo tak percaya. Benarkah yang barusan ia dengar? Eunwoo menerimanya? Lagi-lagi sorak-sorai dan terpuk tangan terdengar. Melihat sebuah pernyataan cinta diterima, membuat semua pengunjung juga turut tersenyum senang.

“Be-benarkah kau menerimaku?”

“Ne”

“Ta-tapi Howon..”

“Howon itu kakak sepupuku Jongdae’ah. Sejak tadi aku ingin mengatakannya, tapi kau selalu memotong ucapanku”

Jongdae mendengus sambil memalingkan wajahnya. Merasa malu pada dirinya sendiri. Jadi selama ini dia kesal akan hal yang tidak pernah ada? Sejenak Jongdae menatap kedua mata bening Euwoo lekat. Lalu dalam satu gerakan cepat ia mencium bibir merah muda gadis itu lembut. Singkat tapi cukup membuat Eunwoo membulatkan matanya.

Jongdae tersenyum, “X untuk ciuman. Dan O..” perlahan Jongdae menarik Eunwoo kedalam pelukannya. “Untuk sebuah pelukan” ucap Jongdae seraya mempererat pelukannya. Eunwoo pun membalas pelukan namja itu.

“Aku mencintaimu Eunwoo”

“Aku juga mencintaimu.. Kim Jongdae”

 

 

Ketika aku tertidur seperti aku sedang memikirkanmu

Aku membuka tangan ku dan masuklah kedalam kehangatanku

Aku XOXO dirimu, memelukmu dalam pelukanku XOXO

Seperti aku merasa gugup dan sungguh-sungguh

Bibirku hampir menyentuh bibirmu

Aku XOXO dirimu, setiap hari didalam mimpiku XOXO

Beri aku XOXO L.O.V.E

Kau XOXO L.O.V.E ku

 

 

 

 

(END)

8 thoughts on “| XOXO SONGFIC SERIES | XOXO

  1. Hahaha….
    Chen chen aka kim jongdae lucu bgt sih dsni😀
    Nice ff dek, ditunggu songfic selanjutnya ^^

    Keep writing nde ^^9

  2. Huaaa! aku telat update T^T
    Mianhae, tapi buagus banget😀
    Kejadian nyata ternyata di FF ini ada :3

    Gomawo chingu, di tunggu FF SONGFIC lainnya \(‘ ‘

  3. wkwkwk jongdae lucu banget sih
    segitu gugupnya ketemu pujaan hati
    tapi keren banget meskipun pemalu akhirnya
    bisa juga nyatain cintanya
    lanjut thor
    HWAITING!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s