|XOXO SONGFIC SERIES| MY LADY

My lady-tile

XOXO songfic series

Title : My Lady

Author : HCV_2 | Main cast : Huang ZiTao & Kim Jung Rae

Length : Ficlet | Genre : Romance | Rating : T

Song : EXO – MY LADY

“Not a friend.. but boyfriend”

 

Bukan seorang teman

Aku ingin menjadi kekasihmu

Aku tidak sama dengan yang lain

Aku hanya seseorang yg ingin melindungimu

Hannyoung High School

 

Pagi itu langit nampak sangat cerah. Matahari bersinar terik namun tidak membuat mahluk dibawahnya kepanasan. Terlihat murid kelas 3A dan 3B diSMA Hannyoung sedang mengikuti pelajaran olahraga. Lapangan basket pagi itu sangat riuh dipenuhi suara ribut murid-murid yang berkumpul. Waktu menunggu kedatangan guru, mereka manfaatkan untuk memperbincangkan hal-hal yang menurut mereka menarik. Begitu pula dengan yang dilakukan dua orang gadis yang tengah duduk dipinggir lapangan. Membicarakan topik yang sedang hangat dibicarakan disekolah mereka. Atau lebih tepat disebut bergossip.

“Jungrae’ah? Apa kau sudah tau gossip tentang kakak kelas itu?” tanya seorang gadis  berkuncir kuda pada temannya yang sedang asik mengemut permen lollipop. Gadis yang ditanya hanya menggeleng.

“Yang benar? Topik itu sedang gencar-gencarnya dibicarakan. Benar kau tidak tau?!” tanyanya lagi kini dengan mata mendelik. Memperlihatkan ketidakpercayaannya. Gossip ini bahkan sudah menyebar keluar sekolah, mana mungkin murid sekolah ini sendiri tidak tahu?!

Gadis bernama Jungrae itu melepas lolipopnya lalu menoleh, “Memangnya gossip apa?” tanyanya dengan wajah innocent. Membuat teman didepannya melongo.

“Jungrae’ah? Apa kau hidup dijaman primitive? Kenapa gossip sehangat ini kau tidak tahu? Aissshh..”

Tsk.. memang sepenting apa gossip itu sampai aku harus mengetahuinya eoh? Gossip korea selatan dan korea utara sudah berbaikan? Atau gossip kalau presiden akan datang kesekolah kita? Gossip penting seperti itu?” sahut Jungrae sambil melanjutkan kegiatan mengemut lolipopnya. Cara bicaranya terdengar menantang. Jawaban yang malah membuat lawan bicaranya dongkol.

“Tidak bisa jawab kan Jungie?” ejeknya sambil menyenggol gadis yang sedang mempoutkan bibir disebelahnya.

“Iya. Gossipnya memang tidak sepenting itu. Jadi kau tidak perlu tahu” jawab Junghi ketus. Jungrae terkikik mendengar nada bicara temannya yang terdengar kesal. Seolah puas karna berhasil mengerjai sahabatnya itu.

Tanpa gadis manis itu sadari, diujung sana ada yang memperhatikannya. Memperhatikan gerak-geriknya dengan serius. Seolah dia adalah orang mencurigakan dan patut diselidiki. Mata tajam namja itu sama sekali tidak bisa lepas dari gadis berambut coklat yang duduk sekitar 7 meter disebelahnya. Sesekali namja itu tersenyum melihat tingkah Jungrae. Gadis itu adalah tontonan menarik baginya.

Namun suara peluit seketika memecah lamunannya. Namja itu tersentak lalu segera bangkit dan berbaris seperti yang murid lain lakukan. Sedikit terburu-buru sehingga tanpa sengaja membuat lengannya bersenggolan dengan sebuah bahu kecil.

“Ah maaf” ucapnya seraya menoleh ke si pemilik bahu.

“Oh tidak apa-apa Tao’ah” sahut Jungrae sambil tersenyum. Senyum yang seketika membuat jantung Tao berdegup cepat. Sebelum Jungrae menyadari wajah merahnya, Tao pun segera memalingkan wajah lalu mencari barisannya.

 

 

Bukan seorang teman

Sejak pertama aku melihatmu

Hanya satu yang bisa kukatakan

Sayang,, hanya dirimu

 

 

Team sudah dibagi dan team putra bermain lebih dulu. Murid yang dipilih untuk bermain tetap dilapangan sedangkan sisanya berpencar mencari tempat untuk menonton pertandingan basket antar kelas tersebut. Tao menjadi salah satu yang ikut bermain mewakili kelasnya. Kalau boleh jujur, sebenarnya dia malas. Bisa dibilang bosan karna sudah terlalu sering. Tapi akibat bujukan teman-temannya dengan alasan bahwa dia adalah anggota team basket sekolah maka diyakini bisa membuat kelasnya unggul akhirnya dia pun menyetujuinya.

“Semangat ya Tao’ah” seru Jungrae seraya berlari keluar lapangan. Tao menoleh lalu membalas senyum gadis itu. Seketika semangatnya terpacu, sebenarnya gadis itulah yang menjadi salah satu alasan. Karna Jungrae begitu mendukungnya untuk ikut serta, membuatnya bersedia memikirkan dua kali bujukan teman-teman sekelasnya.

Sambil berjalan mencari posisinya, Tao sama sekali tak melepas pandangannya dari Jungrae. Sungguh gadis yang sudah setahun ini disukainya itu seperti memiliki candu yang membuatnya terus ingin tersenyum melihatnya.

 

Pprrriiiiiittt

 

Peluit berbunyi nyaring, tanda bahwa pertandingan babak pertama dimulai. Pertandingan berlangsung sengit, kedua kelas sama-sama kuat. Para siswa lainnya juga terlihat sangat bersemangat mendukung teman-teman mereka.

Walau tidak semuanya mempunyai basic dalam basket, tapi permainan mereka bisa dibilang sangat bagus. Dengan sigap para pemain mengoper bola dan bergerak untuk mebobol keranjang lawan. Dan benar saja, point pertama didapatkan oleh Tao. Semua murid kelas 3B berteriak dan bertepuk tangan melihat kelas mereka unggul lebih dulu. Apalagi para siswi penggemar Tao, mereka berteriak histeris melihat aksi namja itu.

“Tao kau hebat!!”

Sebuah teriakan seseorang tertangkap telinganya. Padahal ada begitu banyak teriakan yang ditujukan untuknya, namun ada satu suara yang begitu ia kenal. Ia menoleh dan melihat Jungrae tengah tersenyum kearahnya. Gadis itu mengacungkan kedua jempolnya, membuat jantung Tao lagi-lagi bertingkah gila.

Tanpa terasa 20 menit berlalu begitu saja. Babak pertama selesai dan dimenangkan oleh kelas 3B. Para pemain pun mendapat waktu istirahat. Tao duduk dipinggir lapangan sambil mengelap keringat dengan sapu tangan yang ia bawa. Namun tak lama kemudian, tiba-tiba seorang gadis berdiri didepannya sambil menyodorkan sebotol air mineral.

“Ini minumlah”

Dengan gugup Tao meraih botol itu, “Terimakasih Jungrae’ah” sahutnya lembut sambil membalas senyum manis gadis itu.

“Permainanmu bagus sekali. Kau keren” ucap Jungrae sambil mengacungkan dua jempolnya lagi. Dengan segenap tenaga Tao berusaha menahan kegugupannya. Tak tahu seberapa senangnya dia mendapat pujian dari gadis yang sukainya itu.

 

Semua tergambar jelas diatas meja, terungkap tidak karuan

Aku begitu berdebar dan canggung mengakui cinta ini,

Apa kau siap untuk cinta ini?

 

Priiittt

 

Kali ini peluit berbunyi menandakan bahwa pertandingan team putra telah usai. Para pemain bersalaman diiringi sorak sorai para penonton. Pertandingan dimenangkan oleh kelas 3B dan secara sportif murid kelas 3A menerima kekalahan mereka. Tao dan rekan-rekannya berlari ketempat teman-temannya berkumpul. Semua bertepuk tangan seraya memberi selamat pada teman yang bermain. Semua.. termasuk Jungrae, gadis itu juga ikut memberi selamat pada 5 namja tersebut.

Tao perhatikan gadis yang tengah memberi selamat pada teman-temannya itu. Gadis itu memang terkenal mudah bergaul, hampir semua teman dikelas dekat dengannya. Bahkan teman diluar kelas pun banyak yang mengenalnya. Tapi terkadang keakraban Jungrae yang tak pandang bulu itu berhasil membuat Tao gelisah. Entah kenapa, perasaan namja itu agak kesal melihat kedekatan Jungrae khususnya dengan murid laki-laki. Dan itulah yang sedang terjadi saat ini, darah namja itu seperti mendidih melihat Jungrae terlihat begitu akrab dengan teman laki-lakinya yang lain. Kesal melihat gadis itu mengubar senyum manisnya untuk namja lain. Seolah ingin gadis itu hanya melihat pada dirinya.

“Baiklah sekarang giliran team putri! Harap para pemain memasuki lapangan!” perintah guru olahraga dari tengah lapangan. Para siswi yang telah dipilih pun mulai berlari ketengah lapangan. Jungrae yang menjadi salah satu wakil untuk kelasnya pun bersiap untuk bermain. Sebelum berlari tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata tajam seorang namja.

“Tao’ah doakan aku ya?” ucap Jungrae sambil mengepalkan sebelah tangannya. Tao yang tadinya sedang dirundung perasaan kesal mendadak kembali cerah setelah mendengar suara riang Jungrae.

Tao mengangguk, “Tentu saja! Kau pasti bisa”

 

Lebih indah dan berharga dari berlian, begitulah matamu

Disanalah, aku bermimpi untuk bersamamamu

Jangan pura – pura tidak tahu,

Angkat kepalamu dan tataplah aku

Jangan hindari mataku,

Aku tidak akan pernah menyerah untukmu

 

 

Pertandingan team putri pun berlangsung sengit. Skor imbang dengan nilai yang terbilang kecil untuk waktu yang sudah hampir 20 menit. Entah antara keduanya sama-sama kuat atau memang tidak bisa bermain basket. Para pemain malah kelabakan dengan permainan mereka sendiri. Terlihat seperti sedang mengejar ayam yang kabur dari kandangnya, pertandingan kali ini bukannya membuat tegang tapi malah berhasil mengocok perut.

Murid yang lainnya tetap dengan semangat memberi dukungan. Bertepuk tangan dan berteriak histeris ketika bola hampir saja masuk kedalam ring. Durasi pun habis dengan cepat. Peluit ditiup untuk memberitahu bahwa pertandingan pertama berakhir. Para pemain berhenti lalu berjalan kepinggir lapangan. Namun saat Tao hendak akan berjalan menghampiri Jungrae, matanya membulat melihat sebuah bola basket melayang ketempat Jungrae berdiri.

“JUNGRAE’AH AWAS!”

 

Bugh

 

Satu hantaman keras tepat mengenai kepala belakang Jungrae. Kepalanya mendadak pening dan pandanganya berputar-putar. Gadis itu pun jatuh ditanah. Semua manusia yang melihhat kejadian itu lalu berlari mengerumuni Jungrae. Begitu pula dengan Tao, dia menerobos masuk diantara kerumunan lalu dengan sigap mengangkat tubuh gadis tak sadarkan diri itu. Berlari untuk segera membawa Jungrae keUKS. Dengan ditemani Junghi, dia meminta ijin pada guru olahraganya.

“Apa yang terjadi?” tanya seorang guru cantik yang sedang bertugas diUKS pagi itu. Dia bangkit lalu menghampiri Tao yang terlihat agak beringsutan menggendong seorang siswi pingsan. “Baringkan dia disitu”

Mengikuti perintah gurunya, Tao pun membaringkan Jungrae disebuah ranjang paling kiri. Guru cantik itu kemudian memeriksa keadaan Jungrae. Wajah Tao dan Junghi terlihat cemas, takut jika terjadi hal buruk pada teman mereka. Tanpa sadar mereka menahan nafas saat guru cantik itu melakukan pemeriksaan.

“Dia terkena lemparan bola basket tadi” ucap Tao memberitahu kejadiannya. Sang guru hanya mengangguk sambil terus memeriksa Jungrae.

“Jungrae tidak mungkin gegar otak kan guru?” kali ini pertanyaan bodoh keluar dari mulut Junghi, membuat Tao melempar tatapan tajamnya pada gadis itu. Junghi hanya menelan kasar salivanya.

“Ishh jangan menatapku seperti itu. Aku kan hanya bertanya”

“Pertanyaannyamu itu mengerikan” jawab Tao ketus. Membuat Junghi merasa gondok. Jujur dia paling benci orang ketus semacam Tao.

“Hey? Aku heran, kenapa kau hanya bersikap manis pada Jungrae? Kenapa pada yang lainnya kau selalu ketus begini eoh? Aku jadi curiga kalau kau—“

“Diamlah. Ini UKS bukan tempat untuk berdebat” sahut Tao memotong kalimat gadis bersuara nyaring itu. Sengaja karna dia tahu kemana arah pembicaraan mereka. Mereka pun kembali memperhatikan guru yang sedang memeriksa Jungrae.

“Bagaimana guru  Lee?”

Guru Lee menghela nafas, “Dia tidak apa-apa. Hanya pingsan biasa. Dia tidak sampai mimisan sepertinya karna benturannya tidak terlalu keras. Sebentar lagi pasti dia sadar”

 

Hampirilah aku lebih dekat lagi

Saat kupeluk dirimu

Melodi mengalir indah menggelitik telingaku,

Jangan terlambat

 

“Akkhh”

“Jungrae’ah? Kau sudah sadar?” Tao bangkit dari duduknya saat mendengar ringisan Jungrae. Ia bantu gadis yang tengah berusaha untuk duduk itu.

“Terimakasih Tao’ah” ucap gadis cantik itu sambil membalas tatapan Tao yang sulit untuk dia artikan. Antara senang sekaligus khawatir, namja itu menatapnya lekat.

Jungrae tersenyum, “Aku tidak apa-apa. Tidak perlu sepanik itu” ucap Jungrae sambil menggoyang-goyangkan lengan kekar Tao. Namja itu mengangguk seraya menghela nafas.

“Kau menunggu disini sendirian?”

“Iya. Tadinya ada Junghi tapi gadis itu terlalu berisik jadi kusuruh dia kembali kekelas”

“Bocah satu itu memang punya stock suara lebih hingga membuatnya begitu boros hihihi” sahut Jungrae sambil terkikik. Melihat bagaimana gadis didepannya tertawa, Tao akhirnya merasa yakin kalau gadis itu memang tidak apa-apa. Namja itu tersenyum. Perlahan dengan begitu saja tangannya bergerak mengelus rambut panjang Jungrae. Jungrae yang tadinya asik tertawa mendadak diam, menatap Tao dengan bingung. Namun tak Tao duga, gadis itu malah menerima perlakuannya tanpa kecurigaan. Bahkan Jungrae terlihat menikmatinya. Sepersekian detik mereka larut dalam suasana manis itu sampai akhirnya suara langkah kaki terdengar memasukki ruangan itu.

“Kyaaa Jungrae’ah kau sudah bangun!! Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kau masih ingat aku kan? Iya kan?” seru Junghi tanpa jeda sambil memeluk erat tubuh Jungrae.

“Uhuk..uhuk.. Junghi’ah lepaskan aku.. uhuk.. terlalu erat” Jungrae menepuk-nepuk punggung sahabatnya, memperingatkan gadis bersuara nyaring itu untuk segera melepas pelukan mematikannya. Jungrae menghela nafas setelah lepas dari pelukan maut Junghi. Sementara Junghi hanya terkekeh seperti idiot.

“Untuk apa kau kesini?”

Tiba-tiba suara dingin Tao terdengar. Jungrae tersentak karna ia pikir Tao berkata begitu pada Junghi. Ia mendelik ketika sadar bahwa Junghi tidak datang sendirian. Antara tak mengerti atau pura-pura tidak mengerti, Taemin malah tersenyum membalas death glare namja disebelahnya.

“Tentu saja untuk menjenguk Jungrae kita yang manis” ucap Taemin sambil mencubit kedua pipi Jungrae. Pemandangan yang jelas-jelas membuat darah Tao mendidih. Tao memalingkan wajah sambil mendengus, berusaha untuk menahan emosinya.

“Kau sudah baikan kan Jungrae’ah?”

“Ne.. aku sudah sangat sehat. Lihat ini” Jungrae membengkokkan kedua lengannya bergaya ala binaragawan. Membuat Taemin, Junghi dan dirinya tergelak, sementara Tao hanya diam sambil menahan emosinya yang sebenarnya sedikit berlebihan. Apa yang sebenarnya membuatnya marah?

“Hahaha.. iya Jungrae kan gadis kuat. Hanya tertimpa bola basket bukan apa-apa untuknya” ucap Junghi sambil mengacungkan jempolnya kedepan.

“Benar.. Jungrae kita memang sangat kuat” lanjut Taemin sambil mengelus lembut pipi Jungrae. Mata Tao mendelik melihat kejadian itu. Dia tau Taemin dan Jungrae memang akrab karna rumah mereka yang berdekatan. Tapi apa perlu seperti itu? Tao mulai tidak tenang, udara disekitarnya mendadak terasa panas.

“Dasar penganggu” ucap Tao tiba-tiba. Semua menoleh kearahnya karna terkejut. Bahkan dirinya sendiri pun tak percaya dengan apa yang baru saja dia ucapkan.

“Siapa yang kau bilang pengganggu?” tanya Junghi tak percaya. Matanya menatap menantang kearah Tao. Tapi namja mata panda itu hanya diam. Sedang berusaha mencari jawaban yang masuk akal diotaknya.

“Hey panda?! Siapa yang kau bilang pengganggu eoh?” tanya Junghi lagi kali ini entah kenapa nada bicaranya terdengar meninggi. Mungkin agak kesal karna Tao tak menjawab pertanyaannya.

“Kalian berdua. Kau dan namja ini. Kalian membuatku muak” jawab Tao dingin sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu. Menyisakan 3 orang yang melongo mendengar pernyataannya. Taemin, Junghi dan Jungrae menatap punggung Tao yang berjalan pergi dengan tatapan tak percaya.

“A-apa yang baru saja dia katakan? Kita menganggu siapa? Dia dan kau ya Jungrae’ah?” tanya Junghi masih dengan ekspresi terkejut.

Taemin mengangguk, “Sepertinya dia kesal karna kita menganggu waktu berduanya dengan Jungrae”

“Aku akan bicara dengannya” ucap Jungrae seraya beranjak dari ranjangnya. Dia pun berlari keluar untuk segera mengejar Tao. Untungnya namja itu belum berjalan terlalu jauh, membuat kaki mungilnya berhasil menyusul namja itu.

“Tao’ah berhenti dulu” Jungrae genggam lengan kekar Tao dengan kedua tangannya. Namja itu menghentikan langkah lalu berbalik. Cukup terkejut melihat Jungrae tengah menunduk didepannya dengan nafas tersengal.

“Jungrae’ah?”

“Kenapa? Kenapa kau pergi begitu saja?”

“Maafkan aku.. aku hanya..”

“Kau… marah?” tanya Jungrae ragu-ragu. Setelah nafasnya mulai teratur, ia tatap wajah Tao. Namja itu malah terlihat kebingungan. “Kenapa? Kenapa marah pada Taemin dan Jung—“

“Bukan. Aku hanya marah pada Taemin” sahut Tao membenarkan dugaan gadis manis didepannya. Akhirnya Tao berani membalas tatapan Jungrae.

Jungrae mengernyit, “Apa?”

“Kau tidak mengerti? Baiklah aku akan jujur padamu sekarang” sedetik Tao menghela nafas. Mengambil ancang-ancang untuk memulai pernyatannya. “Aku kesal. Benar.. aku kesal pada Taemin karna dia selalu bersikap akrab denganmu. Mencubit pipimu, mengelus rambutmu, hal-hal seperti itu benar-benar membuatku membencinya. Kalau saja dia bukan temanku, pasti sudah kuhajar sampai mati”

“Tapi kenapa kau harus kesal? Taemin sahabatku, bagiku itu wajar”

“Bagimu iya. Tapi tidak untukku Jungrae’ah. Kau tau rasanya sesak hingga sulit bernafas?! Awalnya aku juga aku tidak mengerti kenapa harus merasa kesal setiap kali melihatmu dengan namja lain. Tapi semakin lama aku tahu perasaan ini special untukmu. Perasaan yang lebih dari sekedar teman..” Tao memotong kalimatnya. Jungrae menelan paksa salivanya. Tanpa sadar gadis itu menahan nafas menunggu kelanjutan perkataan Tao.

“Karna aku menyukaimu.. Jungrae’ah”

 

Bukan seorang teman

Aku ingin menjadi kekasihmu

Aku tidak sama dengan yang lain

Aku hanya seseorang yg ingin melindungimu

“Sudah satu tahun aku memendamnya. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama aku melihatmu disekolah ini”

Jungrae terpaku ditempatnya. Otaknya bergerak lambat untuk merespon. Pernyataan Tao berhasil membuatnya kehilangan kata-kata. Tao hanya menatap gadis didepannya dengan hati berharap-harap cemas. Menunggu respon gadis itu dengan jantung yang berdegup kencang.

“Hmph.. hahahaha.. Ya tuhan..hahaha”

Kali ini Tao yang terpaku. Matanya mendelik lalu berkedip berulang kali menatap Jungrae yang malah terbahak sambil memegangi perutnya. Apa ada yang lucu? Apa pernyataan cintanya terdengar seperti lelucon?

Beberapa detik berlangsung hanya di isi dengan suara tawa dari Jungrae, sementara Tao masih melongo tidak mengerti. Setelah berhasil meredakan tawanya, Jungrae pun kembali memfokuskan perhatian pada namja yang nampak kebingungan didepannya. Dia tahu Tao pasti heran.

“Aku pikir aku sudah bertepuk sebelah tangan” ucap Jungrae sambil bersedekap didada.

Tao mengernyit dalam, “Apa maksutmu?”

“Bertepuk sebelah tangan. Aku pikir rasa sukaku padamu hanya sepihak Tao’ah. Sejak awal saat baru 2 minggu aku bersekolah disini,  kau ingat aku pernah dituduh mencuri uang iuran kelas? Saat itu hanya kau yang teguh membelaku, disitulah aku terkesan padamu”

“Lalu apa artinya kau..”

“Ya.. aku juga sudah satu tahun menyukaimu Tao’ah”

 

Bukan seorang teman

Sejak pertama aku melihatmu

Hanya satu yang bisa kukatakan

Sayang,, hanya dirimu

Bukan seorang teman,

Sayangku, tidak akan pernah cukup untuk mengatakan ini,

Sayangku, sepenuhnya cintaku untukmu

 

 

(END)

10 thoughts on “|XOXO SONGFIC SERIES| MY LADY

  1. Annyeong annyeong kim jung rae hadir xixixi….
    Suka ceritanya, ringan🙂

    Klo butuh OC aku aja ya, sm sehun malah mau banget hahahaha….
    Ditunggu songfic selanjutnya ya dek ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s