The Twelve Power Of Olympians(Chapter 9)

cover chap9--vert

Title : The Twelve Power Of Olympians

Title chapter : Struggle | Author : HCV_2

Main cast : Kim Hana(OC), Kai

Other Cast : EXO, Han Hyo sun(OC) | Genre : Fantasy, Romance, Brothership, Friendship | Length : Chaptered

 

WARNING THIS NOT FOR SILENT READERS

 

Halloo semuaaaa~~~~ HCV_2 COMEBACK AGAIN!!!! Yuhuuuuu~~~ *teriak pake toa* *dilemparin sendal*

Huahahahaha.. akhirnya teman-teman.. setelah berabad-abad bertapa digunung kidul akhirnya saya pun berhasil menyelesaikan fanfic nista nan jahanam ini. Yaa tuhaan.. asli author kerja keras bgt buat lanjutin ini cerita. Banting otak bwt cari ide, dan banting tangan bwt ngetik secepatnya *kiasan lu aneh thor* Apalagi author mengerjakannya disaat-saat galau karna liburan hari raya author udah mau selese. Hueee banyak ceritanya yang masih pingin author bwt tapi otak udah mumet gegara inget kalo liburan tinggal beberapa hari lagi (╥_╥). Dan setelah ini dijamin author bakal dijejal dan siksa dengan ulangan dan tugas. Duuuh ane belum siap mental! Tapi yasudah lah ya.. kalo kata ayah author *cih sok amat panggil ayah* “Udah tugas nggak usah dipikirin. Jalanin aja sebisamu” Aseek aseek babe aye sok bijak wkwkwk

Oya? Walau agak telat *udah telat banget kale* Author dan segenap kru HCV mau ngucapin selamat hari raya Galungan dan Kuningan buat para readers yang MUNGKIN ada yang beragama Hindu^^ hehe.

Ahh iya satu lagi. Author tak akan pernah habis-habisnya memberi nasihat untuk para readers yang membaca cerita disini atau teman-teman yang suka membaca fanfiction buatan orang lain. Mohon hargailah authornya, berilah sedikit apresiasi bwt mereka. Walau ceritanya jelek sekalipun, cobalah memberi jejak atau tanda kalau anda sekalian pernah membaca ceritanya. Karna tanpa sadar, komentar dari readers itu memberi semangat tersendiri buat authornya *nah skrg aye yg sok bijak* Jadi author minta tolong usahakanlah untuk membinasakan kebiasaan menjadi SILENT READERS itu.

Contohnya kek di wordpress ini. Author liat viewnya lumayan banyak eh tapi komennya cuman seupil. Bukannya gimana sihh cuman curiga aja kalo wordpress ini banyak hantunya. Dan author bingung.. saking modernnya jaman, sekarang hantu aja bisa baca ya? Ckckck Author jadi pingin bgt ngeprotect tapi author juga males ribet dan author tahu kalo kalian males ribet juga kan? Nah makanya kalau gitu jadilah readers yang baik dan berilah jejak jika anda membaca cerita disini. Ok?! Siplahh ini udah panjang banget=_=’ Author nggak tahu ceritanya bagus atau malah tambah aneh. Tapi author harap tidak mengecewakan ya *deep deep bow* Lanjut kecerita aje ye~~

 

SILENT READERS??? GO AWAY!!!!

 

“Aku takut kalau para Lucifer itu juga berhasil mengalahkanmu lalu menjadikanmu sebagai tumbal mereka juga. Aku takut..kehilanganmu Jongin’ah.. hiks.. karna aku.. aku juga mencintaimu”

 

Deg

 

Chapter 9

 

Jongin terpaku ditempatnya. Bahkan tangannya yang tadi mengelus punggung Hana pun diam tak bergerak. Dadanya bergemuruh ketika mendengar ucapan gadis itu. Ia berkedip berulang kali mencoba untuk menalaah maksutnya. Benarkah yang baru saja ia dengar?

“Jongin.. kenapa kau hanya diam?” tanya Hana yang sontak membuat Jongin tersadar dari lamunannya. Seketika Jongin melepas pelukannya lalu meletakkan punggung tangannya didahi Hana dan membuat dahi gadis itu mengkerut.

“Kau tidak sedang sakit kan Hana’ah? Apa ini karna kau kedinginan”

“Aisssh.. aku tidak sedang bercanda Jongin’ah!” Hana tepis tangan Jongin dari dahinya lalu berkacak pinggang didepan Kai.

“Lalu yang kau katakan barusan..”

“Isssh.. kau ini bodoh atau apa eoh?! Masa kau tidak mengerti!” ucap Hana sambil mempoutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya kesamping.

“Jadi kau benar-benar.. mencintai.. aku?” tanya Jongin sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Ne!”

“Benarkah?!”

“IYA KIM JONGIN! AKU MENCINTAIMU! Kau puas?!”

 

Greeeep

 

Seketika Jongin memeluk erat tubuh Hana. Memeluknya sangat erat bahkan hingga membuat Hana kehabisan nafas. Kai sangat senang, darahnya mendidih hingga membuat wajahnya terasa panas.

“Ya! Jongin! Uhuuk! He..hentikan!”

“Ah Mianhae! Aku terlalu senang Hana’ah..hehe” ucap Kai seraya melepas pelukannya. Wajah keduanya mulai bersemu merah.

“Maaf karna aku terlambat menyadarinya. Maaf karna telah membuatmu salah paham akan perasaanku Jongin’ah..” Hana menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba gatal karna gugup. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.

Kai tersenyum, “Tidak apa-apa.. yang terpenting kan sekarang kau sudah menjadi milikku? Iya kan..” goda Kai sambil menaik turunkan alisnya didepan Hana.

Hana terkekeh, “Hmpph.. enak saja! Memang siapa bilang aku mau menjadi milikmu?” ucapnya sambil bersedekap didada.

“Aku yang bilang. Kalau kau sudah bilang kau mencintaiku, itu berarti kau harus menjadi miliku!” tak mau kalah, Kai mengangkat dagunya sambil berkacak pinggang.

“Ya! Kenapa kau jadi otoriter begitu?!”

“Biar saja! Yang penting sekarang Kim Hana sudah menjadi kekasihku..” seru Kai sambil tertawa dan memeluk paksa Hana.

“Hahaha.. Dasar!” ucap Hana sambil memukul pelan punggung Kai. Mereka pun terbawa suasana. Mereka tertawa sambil mempererat pelukan mereka. Kai memejamkan mata sambil menikmati wangi rambut Hana yang manis. Wangi susu yang membuatnya merasa nyaman. Perlahan Kai melepas pelukan gadis itu lalu menatapnya lurus-lurus. Hana mengernyit karna Kai memberi tatapan yang seolah-olah namja itu akan menerkamnya.

Tapi perlahan wajah Kai malah semakin dekat. Hana memejamkan mata ketika deru nafas mereka bertemu. Dan jantungnya hampir saja melompat keluar ketika merasakan sentuhan Kai dibibirnya. Dengan lembut Kai melumat bibir merah muda Hana. Kali ini tidak lagi diluar kesadaran, tapi dengan didasari akan cinta. Awalnya Hana merasa takut, tapi perlahan ia mulai menikmatinya. Wajah mereka memerah dan nafas mereka memburu ketika Kai memperdalam tautannya. Semakin lama Kai semakin menuntut lebih, membuat Hana meremas lengan bajunya sementara namja itu mempererat rangkulannya dipinggang Hana.

“Hahaha lihat itu, wajahmu seperti kepiting rebus!” seru Kai ketika melihat wajah Hana merah padam.

“Hey! Berkacalah dulu.. wajahmu juga memerah tau” cibir Hana sambil memputkan bibirnya. Kai hanya terkekeh melihat sikap marah Hana yang menurutnya lucu.

“Eheem.. ehemmm.. Maaf apa aku mengganggu?”

Tiba-tiba suara bass seorang namja menghentikan kegiatan dua sejoli itu. Mereka berbalik dan mendapati Chanyeol tengah berdiri sambil bersandar disebuah pohon. Mata mereka membulat dan keduanya salah tingkah.

“Hyung? Sejak kapan.. kau ada disana?” tanya Kai agak gugup.

Chanyeol tersenyum mengerti akan kegugupan dua sejoli itu, “Tenang saja.. aku tidak akan mengatakannya pada siapapun tentang yang kalian lakukan. Jadi jangan khawatir” ucap Chanyeol santai sambil menegakkan kembali tubuhnya.

“Jadi.. oppa.. melihatnya?” tanya Hana dengan wajah terkejut sekaligus memerah, Chanyeol hanya terkekeh melihat ekspresi terkejut gadis itu.

“Tentu saja! Pemandangan romantis seperti itu siapa yang mau melewatkannya? Sudahlah ayo cepat pulang! Kakakmu pasti khawatir kalau kita pergi terlalu lama. Apalagi ini sudah hampir jam 2 pagi. Jangan sampai ia mengomeliku..” ucap Chanyeol seraya berjalan menghampiri bisonnya. Tapi Kai dan Hana malah diam ditempat, rasa malu benar-benar terlihat diwajah mereka.

Chanyeol menghela nafas, “Hey sudah tidak perlu merasa malu begitu! Orang yang baru resmi jadi sepasang kekasih menurutku wajar kalau berciuman. Sudah! Ayo cepat naik!”

 

 

*****

“Aigoo.. Romantis sekali” ucap Jonghyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kisah cinta yang mengharukan..” lanjut Taemin sambil menopang dagunya dimeja.

Diruangan luas bernuansa menyeramkan itu kini tengah berkumpul 7 mahluk yang terlihat serius menyaksikan drama romantis yang ditayangkan oleh bola krystal berukuran bola sepak yang terpajang dimeja. Mereka duduk melingkar disebuah meja bundar besar diruangan itu. Ada 6 namja dan satu yeoja. Sang gadis duduk didepan sambil bersedekap. Terlihat jelas kalau posisinya disana adalah sebagai pemimpin.

Namun berbeda dengan peserta lain, diantara para Lucifer yang memakai pakaian serba hitam dengan raut wajah yang terlihat penuh kelicikan itu ada seorang namja yang duduk satu garis lurus dengan satu-satunya wanita diruangan tersebut. Namja itu terlihat pucat dan tubuhnya penuh dengan luka. Darah didahinya juga sangat banyak namun terlihat sudah mulai mengering.

Sambil menahan sakit yang teramat sangat, namja itu berusaha untuk tidak terlihat lemah. Dengan sekuat tenaga ia terus menegakkan kepalanya dan menyaksikan apa yang sedang menjadi tontonan para iblis didepannya. Kai dan Hana.. dua mahluk yang baru saja resmi menjadi sepasang kekasih itu tak sadar jika mereka sedang dibuntuti. Krystal itu milik Onew, krystal yang terhubung dengan mata supernya.

Jonghyun menghela nafas, “Tapi.. tidakkah itu berarti kita salah sasaran Yuri’ah?” tanyanya pada yeoja bernama Yuri itu. Tak menjawab, gadis itu hanya menyeringai sambil terus menatap bola krystal didepannya.

“Jonghyun hyung benar. Sepertinya kita salah telah mengubah strategi. Membuang Chanyeol begitu saja hanya untuk dia. Walau hanya satu tingkat, tapi medusa pasti akan senang jika ia mendapatkan yang lebih kuat” ucap Key membenarkan perkataan Jonghyun. Yuri hanya tersenyum lalu menatap tajam kearah namja yang sudah kehabisan tenaga didepannya.

“Tidak ada yang salah sama sekali dengan rencana kita”

Taemin mengernyit, “Tidak ada? Bagaimana bisa? Awalnya kita mengubah strategi dan mengganti mangsa karna ingin memancing Austrin itu. Karna kita pikir gadis itu sangat mencintai Sehun. Dan pasti akan rela melakukan apa saja untuk Sehun. Kita pikir awalnya kita bisa mendesak gadis itu untuk menyerahkan Krystalnya dengan menggunakan Sehun. Tapi ternyata sekarang hasilnya berbeda. Yang Hana sukai adalah Kai bukan Sehun. Jadi percuma kita membawa Sehun kemari” ucap Taemin panjang lebar memaparkan ulang rencana mereka. Walau sedikit terhenyak mendengar rencana para iblis itu tapi Sehun berusaha menahan keterkejutannya. Tidak mau kalah, Sehun terus membalas tatapan tajam Yuri.

“Sebenarnya ada satu lagi yang kau lupakan Taemin’ah. Membawa Sehun kemari bukanlah hal yang percuma” ucap Yuri seraya menoleh kearah Taemin. Melepaskan tatapan dari Sehun yang semakin memucat. Sehun mengernyit mendengar ucapan Yuri, mulai tidak mengerti dengan apa yang iblis-iblis itu bicarakan. Apalagi ditambah konsentrasinya yang mulai melemah mengingat luka ditubuh namja itu yang sangat parah dan stok cakranya juga mulai menipis.

Yuri menyeringai lalu bangkit dari kursinya, “Kita dapat banyak keuntungan jika menggunakannya sebagai tumbal. Selain dia termasuk keturunan terkuat, membunuhnya juga pasti akan melemahkan Hana. Walau kini gadis itu memilih Kai, namun terlihat jelas kalau baginya Sehun sangatlah beharga. Dia adalah seorang Parakletos, tugas utamanya adalah menolong malaikatnya. Tapi jika satu malaikatnya mati, bukankah itu artinya dia gagal?”

“Dan dia akan terguncang” ucap Minho menyambung penjelasan Yuri. Tapi lebih terlihat seperti sedang bergumam sambil berpikir. Semuanya hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan pemimpin mereka, mencoba untuk tetap mendengarkan dengan seksama.

“Benar sekali. Selain itu ada satu lagi”

“Satu lagi?” sahut Onew sambil menoleh kearah Yuri yang lagi-lagi memfokuskan tatapanya pada Sehun. Sehun balas tatapan Yuri sambil mengkerutkan dahinya. Seolah secara tidak langsung bertanya melalui tatapannya itu.

Yuri mengangguk, “Dia masih menyatu dengan manusia itu kan? Nah membunuh Sehun, itu berarti secara otomatis membunuh gadis itu. Dan itu juga adalah salah satu keuntungan. Gadis itu tahu banyak tentang keberadaan kita, membunuhnya maka kita sudah melenyapkan salah satu sumber informasi para malaikat bodoh itu”

“Ahhh benar juga ya” Taemin menjetikkan jarinya sambil tersenyum lebar. Baru menyadari bahwa apa yang dikatakan Yuri itu benar. Ternyata rencana mereka tak hanya sebatas apa yang dia pikirkan.

Minho mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum, “Kau pintar Yuri’ah” ucap Minho sambil menatap Yuri. Yuri balas senyum Minho lalu menepuk tangannya.

“Tunggu! Tunggu sebentar! Bukannya jika kita membunuh salah satu dari mereka yang bersatu karna kutukan cinta, maka salah satu diantaranya akan kembali seutuhnya?” tanya Jonghyun tiba-tiba saat Yuri baru saja membuka mulut. Gadis itu menghela nafas menahan kata-kata yang sebenarnya sudah sampai diujung lidahnya.

Key bersedekap sambil berdecak, “Kutukannya akan menghilang jika salah satu dari mereka membunuh diri mereka sendiri. Berbeda jadinya jika dia dibunuh oleh orang lain hyung” dengan malas Key menjelaskan pada Jonghyun. Namja itu pun menganggukan kepala sambil membuat bentuk O dimulutnya. Key menggeleng heran, kakaknya yang satu itu memang sedikit punya masalah dalam daya pikir otaknya.

“Tapi aku heran noona. Kita tahu jika para malaikat itu melibatkan manusia kedalam misi mereka. Bukankah ada larangan keras untuk membawa manusia masuk ke Concordia? Tidak menutup kemungkinan mereka akan dihukum mati karna itu. Nah kenapa tidak kita gunakan kesempatan itu untuk menjatuhkan 12 malaikat sialan tersebut? Maka kita akan menang telak” ucap Taemin mengeluarkan pemikirannya. Ia tatap Yuri yang tersenyum mendengar ucapannya.

“Tidak.. kita akan pernah menggunakan cara kotor seperti itu. Itu terlalu pengecut Taeminnie..” sahut Yuri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kearah Taemin. Setelah tak ada lagi yang bertanya, Yuri menepuk tangannya sekali lagi. “Baiklah. Rencana akan tetap berjalan seperti yang sebelumnya. Besok akan ada banyak pekerjaan yang harus kita lakukan jadi beristirahatlah dengan baik. Selamat tidur” ucap Yuri memberi intrupsi. Setelah mendapat anggukan kepala dari rekan-rekannya, gadis itu pun berjalan keluar menuju pintu. Melihat sang pemimpin sudah menghilang dibalik pintu, 5 namja mantan prajurit Olympus itu lalu berdiri dan bermaksut untuk ikut beristirahat.

“Taemin’ah? Minho’ah? Bawa dia keruang isolasi” ucap Onew memberi perintah pada namja bertubuh jangkung yang duduk disampingnya dan seorang namja cantik didepannya. Minho mengangguk menerima perintah pimpinannya, sementara Taemin agak terlihat kecewa. Padahal baru saja ia bersemangat untuk segera berbaring diranjangnya yang nyaman.

Onew dan rekannya yang lain pun keluar, menyisakan Minho, Taemin dan Sehun diruangan itu. Minho menyeringai menatap Sehun yang terkulai tak berdaya dikursinya. Seberapa pun namja itu berusaha terlihat kuat, kenyataannya dia sudah kalah telak. Dengan luka separah dan sebanyak itu, cakra yang bisa dibilang sekarat, ditambah tidak didapatkannya pengobatan sama sekali, lengkaplah sudah penderitaan namja itu.

“Cih.. lihatlah dirimu. Benar-benar menyedihkan. Ckckck” Minho berdecak sambil menatap jijik kearah Sehun. Sehun membuka mulutnya bermaksut untuk menjawab, namun sayang.. kekuatannya terlalu minim bahkan suaranya pun sangat sulit ia keluarkan.

Taemin menaikkan salah satu ujung bibirnya, “Sekarang kau pasti senang hyung. Dendammu secara tidak langsung sudah terbalaskan”

“Ya..bisa dibilang begitu” sahut Minho sambil tersenyum senang.

“Sedikit demi sedikit.. dan perlahan.. jika kita sudah dapatkan Krystalnya maka seluruh dunia ini akan jadi milik kita. Ya tuhan aku tidak sabar untuk itu hyung”

Minho mengangguk mantap, “Benar sekali. Semuanya menjadi milik kita. Semuanya… tanpa terkecuali” ucapnya dengan pandangan yang masih terfokus pada Sehun.

“I-itu tidak ak-akan pernah.. terjadi” ucap Sehun akhirnya. Setelah paksaan keras dari dalam dirinya, akhirnya suara namja itu berhasil keluar. Walau agak terbata dan singkat, tapi Sehun merasa lega karna ia akhirnya bisa menyampaikan apa yang ada dipikirannya.

Taemin menoleh lalu mendengus geli, “Ya ampuuun. Dikondisimu seperti ini kau masih juga membuang tenaga untuk berkoar begitu. Hey dengar ya, lebih baik kau diam dan simpan sisa tenagamu untuk bertahan hidup. Kami tidak mau jika kau mati sebelum upacara. Dasar!” Taemin menoyor kepala Sehun keras. Semakin membuat darah namja itu mendidih saking kesalnya. Namun apa daya, dia hanya bisa diam karna kondisinya yang terlalu lemah.

“Sudahlah Taeminnie. Lebih kita bergegas. Tidak perlu menghiraukan orang naif seperti dia” ucap Minho yang langsung dijawab anggukan kepala oleh namja berambut mangkok disampingnya.

Setelah melepas tali yang melillit tubuh Sehun, Minho dan Taemin lalu membawa namja itu keruang isolasi. Dengan sedikit kesulitan mereka membopong tubuh Sehun. Sehun terlalu lemah. Untuk berdiri saja dia tidak bisa, tentu itu yang menyulitkan Minho dam Taemin untuk membawanya. Ditambah banyaknya darah yang mengalir ditubuh Sehun, semakin membuat kedua namja itu merasa jijik.

“Kalau saja bukan untuk upacara persembahan. Aku tidak mungkin rela mengotori tanganku dengan membawamu seperti ini. Aiisssh..” ucap Taemin sambil terus membantu Minho menyeret Sehun menuju ruang isolasi.

“Jangan banyak mengeluh dan lakukan saja Taeminnie”

Setelah menuruni beberapa anak tangga, mereka pun sampai dibasement markas tersebut. Taemin membuka kunci pintu jeruji besi salah satu ruangan, dan Minho kemudian menghempaskan tubuh Sehun dengan kasar kedalamnya. Sehun tersungkur dilantai. Ia meringis ketika luka bakar dilengannya bergesekan dilantai. Sangat perih dan Sehun hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

“Selamat istirahat Sehunnie. Dan berusahalah untuk bertahan sampai upacaramu nanti”

 

 

*****

 

 

Hana membuka mata bulatnya perlahan. Sedikit kesulitan akibat rasa kantuk yang sepertinya masih enggan untuk pergi dari dirinya. Matanya masih terlalu berat untuk terbuka sempurna. Dengan masih menyipit mata indah gadis itu melirik kearah jam dinding yang terpajang ditembok.

“Hoaahmm.. masih jam 8 pagi” gumamnya sambil merentangkan kedua tangannya lebar. Merenggangkan otot-otot tubuhnya yang masih terasa kaku setelah tidur nyenyak semalam.

Gadis itu bersila diatas ranjang lalu menatap lurus kearah benda transparan didepannya. Pantas dia tidur sangat nyenyak kemarin, dia sangat lelah.. bahkan ia sama sekali tidak bermimpi. Mendapat tekanan berat pada mental sekaligus fisiknya. Pulang jam 2 pagi setelah berlarian kesana kemari mencari namja yang baru saja resmi menjadi kekasihnya. Menangis dan fustasi karna memikirkan sahabatnya yang kini sedang menjadi sandera para Lucifer. Tentu saja, siapapun dalam posisinya pasti akan sangat kelelahan.

“Sehun..” Hana menunduk dalam ketika peristiwa buruk tentang Sehun kembali merasuki pikirannya. Gadis itu menghela nafas berat lalu mengambil krystal yang ia simpan dibawah bantal tidurnya. Ia tatap krystal itu lekat. Sangat lekat seperti ingin memecahkan krystal itu melalui tatapan matanya.

“Apapun pasti akan lakukan asal kau selamat Sehunnie. Aku berjanji..”ucap Hana sambil mengangguk mantap. Hana masukkan krsytal biru itu kedalam saku piyamanya. Gadis itu beranjak dari ranjang kemudian menyibak korden kamarnya. Namun seketika ia menghentikan kegiatan ketika telinganya menangkap sesuatu. Obrolan para malaikat Olympus dirumah itu. Sepertinya mereka sedang berkumpul dilantai bawah.

“Issh.. pagi-pagi begini sudah ribut”

 

Deg

 

Hana tertegun, dan ia terpaku ditempatnya. Otaknya secara otomatis memutar kembali kejadian satu hari yang lalu. Hari dimana ia terbangun dari mimpi dan mendapati para namja itu sudah berkumpul dilantai bawah. Proses awal bagaimana Sehun tertangkap dan menjadi sandera para iblis tersebut. Sepersekian detik setelahnya, Hana lalu berlari menuju lantai bawah. Gadis itu mendadak merasa takut. Takut jika kejadian menyeramkan tersebut kembali terulang. Siapa yang tahu jika para namja itu berkumpul ternyata untuk melawan para Lucifer yang kembali menyerang? Setelah beberapa malaikat pergi mereka kalah lalu satu lagi menjadi korban? Tidak boleh!

“Kalian mau kemana?” tanya Hana cepat ketika ia sampai dianak tangga terakhir.

Kai menoleh, “Hana’ah kau sudah bangun?! Woaah.. hebat sekali!” seru Kai sambil menunjuk Hana dengan mata mendelik. Seolah tidak percaya gadis itu ada dihapannya sekarang.

Mengerti dengan maksut ucapan Kai, Hana berdecak kesal. “Issh.. dasar kau! Aku tahu apa yang kau pikirkan”

“Itu pasti. Kau itu kan beruang tidur. Diteriaki dengan michropon pun kau biasanya sulit sekali bangun. Tapi sekarang..”

Tsk.. kau itu mengejekku atau apa eoh?” gerutu Hana sambil menjewer telinga Kai keras. Menariknya sekuat tenaga hingga telinga namja itu memerah.

“Akhhh.. iya iya maafkan aku Hana’ah” ringis Kai sambil memegang tangan Hana yang menjewer telinganya. Dengan tampang memelas namja itu memohon ampun kepada gadis berambut hitam tersebut.

“Hey sudah-sudah.. kenapa  pagi-pagi sudah bertengkar” relai Baekhyun sambil mencoba melepas tangan Hana dari telinga Kai. Gadis itu menurunkan tangannya lalu bersedekap dengan bibir yang mengerucut.

Hana menunjuk Kai, “Dia yang mulai”

Tak menanggapi, Kai terlalu sibuk mengelus telinganya yang terasa perih. Tenaga Hana memang mirip tenaga laki-laki. Kalau saja tidak direlai Baekhyun, Kai rasa telinganya sudah putus. Lagi pula, Kai merasa aneh sekaligus kecewa. Baru saja kemarin ia dan Hana bersikap mesra tapi dalam semalam mereka kembali berubah seperti kucing dan anjing.

Chanyeol yang melihat adegan itu pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Ckckck.. kurasa yang kulihat semalam itu hanyalah mimpi” ucapnya pelan namun cukup untuk didengar oleh 3 orang disebelahnya. Baekhyun, Kai dan Hana langsung menoleh. Berbeda dengan Kai dan Hana yang terlihat terkejut, Baekhyun malah ikut tersenyum penuh makna. Chanyeol tersentak ketika melihat tatapan terkejut Kai dan Hana kearahnya.

Namja bertubuh tinggi itu berdehem lalu tersenyum, “Oya? Tadi kau bertanya kami akan kemana kan Hana’ah?” ucap Chanyeol mengalihkan pembicaraan. Hana tersentak ketika ia baru ingat akan hal itu.

“Ahh iya.. kalian mau kemana pagi-pagi begini?” tanya Hana kemudian. Membuat Chanyeol menghela nafas lega karna rencananya berhasil.

“Kemana lagi? Tentu saja melanjutkan penyelidikan” jawab Baekhyun enteng sambil mengendikkan bahunya.

Hana menoleh, “Penyelidikan?”

“Ne.. Sesuai dengan yang Hyosun katakan kalau markas Lucifer itu ada dibagian selatan Concordia, dan salah satu putra tuan Kim ada yang tinggal diAdena yang adalah salah satu wilayah diselatan Concordia. Jadi kami akan mencoba menyelidiki kesana. Mungkin kami bisa menemukan petunjuk”

Mendengar penjelasan Kai, Hana mendadak berubah antusias. Dengan bersemangat ia menatap 3 namja didepannya bergantian, “Bolehkah aku ikut? Aku mohon ijinkan aku ikut. Aku ingin membantu kalian” pinta Hana sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Memasang wajah sememelas mungkin agar permohonannya diterima.

Chanyeol mengangguk, “Kurasa boleh” sahut Chanyeol yang langsung membuat Hana tersenyum lebar. Walau jawabannya agak ragu namun terdengar nada yakin disana.

“Baiklah kalau begitu aku ganti baju dulu. Hanya 5 menit! Kalian tunggu aku ya?!” seru Hana seraya berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Chanyeol, Kai dan Baekhyun hanya tersenyum melihat betapa bersemangatnya gadis itu. Mereka senang, keceriaan gadis itu sudah kembali. Apalagi Kai, dia merasa dunianya sangat sempurna jika bisa melihat senyum manis Hana.

Kai tersenyum semakin lebar ketika tiba-tiba memori tentang kejadian semalam teringat. Manis sekali.. ciuman itu seolah masih terasa dibibirnya. Masih terasa hangat dan Kai ingat jelas bagaimana rasanya. Mungkin tidak akan ada yang percaya, tapi jujur hanya Hana satu-satunya gadis yang pernah merasakan ciumannya.

Baekhyun dan Chanyeol merapat, memperhatikan Kai yang terlihat berbeda dari biasanya. Keduanya menatap namja berkulit gelap itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Wajah Kai terlihat cerah, siapun yang melihatnya pasti akan langsung menebak kalau namja itu sedang bahagia. Sadar kalau sedang diperhatikan, Kai menoleh dan mengernyit saat mendapati dua namja disebelahnya sedang menaik turunkan alis kearahnya.

“A-apa?” tanya Kai mendadak salah tingkah. Tidak menjawab, 2 namja itu malah terus tersenyum. Kerutan didahi Kai semakin rapat. Namun ia mendelik ketika menyadari sesuatu.

“Hyung! Kau..” pekik Kai sambil mengarahkan telunjuknya kearah Chanyeol. Namja bermata bulat itu tersenyum lebar sembari menggaruk tengkuk lehernya.

“Maaf Jongin’ah. Aku tidak bisa menyimpan cerita semanis itu sendirian jadi.. aku menceritakannya pada Baekhyun heheh”

Baekhyun mengangguk, “Tenang saja. Aku akan menutup mulutku Jongin’ah” ucap Baekhyun sambil bertingkah seolah-seolah sedang menutup resleting dimulutnya. Kai menghela nafas dan menatap Chanyeol tak percaya.

“Sungguh hanya pada Baekhyunnie. Aku.. tidak menceritakannya pada siapapun lagi” Chanyeol mengacungkan dua jarinya keatas. Meyakinkan Kai jika apa yang dia katakan itu benar.

“Baiklah. Aku percaya pada kalian berdua. Ini tidak main-main, aku mohon jangan sampai Suho hyung tahu” ucap Kai yang langsung dijawab anggukan mantap dari keduanya.

“Apa itu? Apa yang tidak boleh aku ketahui?”

Chanyeol, Kai dan Baekhyun terlonjak ketika sebuah suara yang mereka kenal terdengar dibelakang mereka. Ketiga namja itu berbalik dan mata mereka membulat ketika mendapati Suho sudah berdiri sambil melipat tangannya didada.

“Cepat katakan. Apa yang kalian sembunyikan dariku eoh?”

“Umhh itu..Umh..”

“Aku sudah siap! Ayo berangkat!” seru Hana tiba-tiba sambil berlari menuruni tangga. Teriakan yang secara otomatis membuat semua perhatian beralih pada gadis itu. Suho perhatikan adiknya yang terlihat sudah rapi. Tanpa Suho sadari, ketiga namja yang hampir ketahuan tadi menghela nafas bersamaan. Merasa lega dan secara tidak langsung berterimakasih pada Hana, karna kedatangan gadis itu sudah menyelematkan mereka.

Suho mengernyit menatap Hana yang kini ada dihadapannya, “Siap? Siap untuk apa?”

“Untuk penyelidikan. Aku kan mau ikut dalam penyelidikan hari ini”

“Apa? Siapa bilang kau boleh ikut?! Tidak boleh. Kau diam saja disini. Ini berbahaya, oppa tidak mau kau celaka”

 

 

*****

 

[Sehun Pov]

 

Sambil meringis aku berusaha menegakkan kembali tubuhku yang tergeletak dilantai. Banyaknya luka membuat setiap jengkal tubuhku terasa perih. Sedikit terseok aku berusaha untuk lebih dekat dengan tembok dan bersandar disana. Aku menghela nafas sambil menatap langit-langit ruangan itu intens. Menahan rasa sakit yang menjalar disekujur tubuhku. Aku menggigit bibir bawahku. Aku gulung bajuku keatas untuk memastikan luka yang ada disana.

“Akhh..” ringisku lagi saat aku mencoba untuk menutup robekan luka diperutku yang sedikit terbuka. Rasanya sudah lebih baik dari kemarin. Aku yakin ini pasti karna Hyosun. Kami menyatu dan dia pasti sudah mendapatkan pengobatan dari Lay hyung. Dia mendapatkan luka yang sama denganku tapi tak separah milikku, dan begitu pula dengan obatnya. Jika hanya dia yang mendapat pengobatan, aku juga akan mendapat imbasnya walau tidak sepenuhnya tapi lukaku bisa sedikit membaik.

“Hana’ah..” gumamku begitu saja. Tanpa sadar nama itu keluar dari mulutku. Aku menunduk dengan mata yang mulai memberat. Menyalahkan diriku sendiri yang entah kenapa jadi selemah ini. Kalah dari Minho dan membuat beban teman-temanku bertambah. Aku tidak bisa menyalahkan Hyosun, sebagai malaikat hebat sedikitnya cakra tidak bisa dijadikan alasan karna bagaimana pun seharusnya aku bisa bertarung dengan lebih baik.

Aku mendongak lalu memandang kedua telapak tanganku. Entah kenapa pikiran bodoh untuk mencoba elemenku diruangan itu tersirat. Dengan sekuat tenaga aku berusaha mengendalikan udara disekitarku. Memfokuskan pikiran hanya untuk sekedar bisa membuat pusaran kecil ditanganku. Namun hasilnya…―Nihil.

“Bodoh!” umpatku sambil meninju lantai. Memang bodoh..kenapa aku mencoba hal yang sia-sia? Ruangan ini adalah ruang isolasi. Ruangan yang membuat mahluk didalamnya tidak bisa mengendalikan cakra yang otomatis membuatnya tidak bisa menggunakan kekuatannya.

 

Tap

 

Suara langkah kaki terdengar menggema. Aku terhenyak lalu menoleh kearah jeruji besi yang menghalangiku dari dunia luar. Dengan sedikit waspada menunggu siapa yang datang pagi itu. Dan akhirnya aku berdecak ketika melihat sosok tinggi itu muncul dengan membawa sepiring makanan ditangannya.

“Ohh.. kau sudah bangun adikku?” ucap Minho dengan senyum yang dibuat-buat. Senyum mengejek yang membuatku ingin menghilangkannya dengan tinjuku kewajahnya. Tak menjawab aku hanya menatap tajam kearahnya. Minho berjongkok lalu memasukkan piring yang ia bawa melalui celah dibagian bawah jeruji. Aku mengernyit menatap piring tersebut.

Minho mendengus geli, “Sudah kami bilangkan kalau kami tidak mau kau mati sebelum ritual Posteriori nanti” ucap Minho menjawab pertanyaan yang tersirat dimataku. Sebuah jawaban yang kini memberikanku giliran untuk mendengus geli karna mendengarnya.

“Cih.. Lebih baik aku mati agar kalian tak mendapatkan apa-apa dari pada aku harus memakannya. Toh setelah itu aku juga tetap akan mati dibunuh kalian kan? Jadi tidak perlu repot-repot memberiku makan”

Minho mengangguk, “Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu. Aku lebih senang jika kau mati lebih cepat. Tapi ya mau bagaimana lagi, ini perintah pimpinanku” sahut Minho ringan sambil mengendikkan kedua bahu lebarnya.

“Bodoh”

“Apa kau bilang?”

“Kau bodoh. Seperti anak kecil hyung”

Minho menatapku tajam. Terlihat jelas kilatan marah dimatanya. “Beraninya kau bicara seperti itu bocah tengik”

“Sudah berapa umurmu hyung? Tidak bisakah kau bersikap dewasa? Pantas jika Jihyun tidak menyukaimu. Lihatlah.. kau pendendam. Dan sifat pendendam itu sangat menjijikkan” ucapku sambil membalas tatapan tajam Minho. Kupikir rasanya aku sudah gila. Berkata seperti itu pada namja emotional seperti Minho artinya cari mati.

“Cih.. kelihatannya kau sudah benar-benar bosan hidup ya tuan Oh?” sahut Minho dengan seringai diwajahnya. Terlihat jelas kalau ia sudah terpancing, tapi sepertinya dia berusaha menahan amarahnya. Minho menghela nafas, “Sudahlah jangan membuatku mengamuk sepagi ini. Lebih baik makan saja makananmu” Namja itu berdiri lalu sedikit merapikan pakaiannya.

“Kenapa kau lakukan ini hyung?” ucapku yang seketika membuat namja yang berniat pergi itu menghentikan langkah. Ia berbalik lalu menatapku bingung. “Apa yang kau inginkan? Kepuasan apa yang sebenarnya kau cari dengan melakukan kejahatan seperti ini hyung?!” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi. Mataku mulai memberat. Kali ini aku bicara didasari atas kepedulian pada kakak sepupuku bukan kebencian pada musuhku. Sedih.. tentu saja. Bagaimana pun dia tetaplah kakak sepupuku. Keluargaku. Minho hanya diam sambil memandangku.

“Kau pasti tahu perbuatan ini salah. Membunuh semua mahluk didunia ini apa akan membuatmu bahagia? Tidakkah itu malah akan membuatmu merasa kesepian nantinya? Semua mahluk itu hidup berdampingan, saling membutuhkan hyung”

“Itulah alasannya..”

Aku mengernyit, “Apa?”

“Itulah alasan mengapa aku melakukannya. Aku ingin menghapuskan filosofi itu. Menghapuskan persepsi menjijikan seperti itu. Aku ingin membinasakan orang-orang munafik dan naif seperti kalian. Membangun anggapan baru bahwa manusia masing-masing bisa hidup dengan kekuatannya sendiri. Membuang pepatah bahwa cinta dan kasih sayang adalah segalanya. Oya? Kata membunuh itu.. kau harus menggantinya dengan kata menyeleksi. Yang kuat akan bertahan dan yang lemah seperti kalian akan dihancurkan”

“Hyung kau itu bukan Tuhan! Kau tidak bisa mengatur hidup manusia seenakmu seperti itu!” ucapku penuh emosi. Mendengar perkataan Minho sudah membuat darah ditubuhku mendidih. Menumpuk diubun-ubun dan rasanya ingin meledak. Kenapa dengan mudahnya dia berkata seolah hidup manusia adalah sebuah mainan?

“Ya aku tahu.. aku mungkin bukanlah Tuhan. Tapi untuk saat ini aku dan kolonikulah yang sedang memegang kendali penuh atas hidupmu dan semua mahluk dibumi ini. Hanya tinggal satu langkah lagi, jika kami sudah mendapatkan Krystal itu.. maka kau dan kolonimu yang menjijikan itu akan.. MATI”

 

 

*****

[Author pov]

 

“Waah mereka pasti orang kaya raya. Lihatlah rumah ini, besar sekali” Hana mendongak sambil menatap rumah didepannya dengan mata yang tak berkedip. Ia perhatikan gedung bertingkat tersebut dengan tatapan kagum. Kai yang berdiri disampingnya hanya terkekeh melihat tingkah gadis manis itu. Menurutnya agak memalukan, melihat rumah sebesar itu saja sudah seperti melihat istana kerajaan. Setelah semua rekannya sampai, mereka pun masuk kedalam rumah megah tersebut.

Disela-sela keterpanaan Hana terhadap benda mewah didepannya, gadis itu seketika terhenyak ketika ia rasakan sebuah tangan kekar menggenggam tangannya. Hana menoleh dan semburat merah bersemu dipipinya saat ia lihat Kai tersenyum kearahnya.

“Mau sampai kapan memandangi rumah ini terus eoh? Ayo masuk.. semua sudah didalam” ajak Kai seraya menarik tangan Hana. Dua sejoli itu berjalan beriringan masuk kedalam rumah bernuansa putih itu. Tapi keterpanaan Hana belum selesai. Saat memasukki rumah itu pun mata Hana tak berkedip. Persis seperti bagaimana saat ia pertama kali memasuki markas EXO dan saat pertama kali memasuki Departemen Kementrian. Ia mulai merasa sepertinya semua orang diNegri Concordia itu adalah seorang konglomerat. Bagaimana tidak? hampir setiap tempat yang ia kunjungi dinegri itu terlihat sangat mewah dan mempesona. Wajar kalau ia berpikiran seperti itu kan?

“Apa kabar tuan Kim?” sapa Suho kepada laki-laki paruh baya yang berjalan dengan kursi roda. Laki-laki itu tersenyum ramah membalas sapaan Suho seraya menghampirinya.

“Kabarku baik. Sudah lama sekali tidak bertemu Suho-sshi”

Suho mengangguk, “Ne paman. Tapi.. kenapa tempat ini sepi sekali?” tanya Suho sedikit sungkan. Berhati-hati terhadap pertanyaannya.

“Ya begitulah. Sekarang hanya aku yang tinggal ditempat ini. Semenjak para Lucifer itu kembali berulah, Leeteuk meminta agar keluarga kami pindah ketempat yang lebih aman. Dia takut jika para Lucifer tersebut kembali mengincar keluarga kami”

“Lalu kenapa paman masih disini?” tanya Chanyeol tidak sabar. Raut wajahnya terlihat terkejut. Bagaimana tidak? Seorang laki-laki paruh dengan keterbatasan pada kakinya tinggal sendirian ditempat yang berbahaya itu. Ia kagum dengan keberanian laki-laki berumur sekitar 45 thn tersebut.

Tuan Kim tersenyum, “Ini peninggalan ayahku. Aku tidak mau meninggalkannya begitu saja. Lagi pula anak-anakku sering mengunjungiku dan menemaniku disini. Jadi tidak akan apa-apa” jawabnya dengan nada lembut. Hana yang ikut serta dalam pembicaraan itu terlihat agak terharu. Walau sebenarnya ia sedikit tidak mengerti, tapi ia mencoba untuk menahan dulu rasa ingin tahunya.

“Lalu apa yang ingin kalian cari kemari?”

“Kami ingin mencari beberapa berkas harta peninggalan professor Kim. Terutama harta yang dimiliki disekitar Adena. Menurut informasi yang kami dapat markas para Lucifer pasti ada disekitar Adena” jelas Baekhyun memaparkan tujuan mereka kepada tuan kim.

“Ne.. Saat aku dengar kalian tengah mencari tahu tentang markas iblis-iblis itu. Aku sempat memeriksa beberapa berkas harta ayahku. Dan aku sempat melihat satu tempat yang ayahku miliki, tapi tidak ia wariskan pada siapapun diantara kami” ucap tuan Kim dengan raut wajah yang berubah serius. Informasi yang mampu membuat 5 mahluk lainnya diruangan itu terkejut. Mata mereka membulat sambil menatap tuan Kim tak percaya.

“Benarkah itu paman? Bisa kau tunjukan berkasnya pada kami?” tanya Chanyeol dengan nada dan ekspresi yang menuntut. Laki-laki paruh baya itu mengangguk, lalu memutar balik kursi rodanya. Ia berjalan lurus menuju ruang tengah rumah luasnya. Satu persatu prajurit Olympus itu mengekor dibelakang tuan Kim.

Hana masih tak melepaskan tatapannya dari laki-laki paruh baya itu. Menatapnya intens dengan rasa penasaran yang tersirat dimatanya. Kai yang menyadari hal itu menghela nafas. Ia tahu ada banyak yang gadis itu ingin tanyakan. Tapi ia tidak tahu apa yang membuat Hana menahan rasa penasaran itu. Biasanya gadis itu cerewet.

“Minho yang membakar kaki tuan Kim..” ucap Kai pelan namun cukup untuk tertangkap telinga gadis disebelahnya. Hana berhenti lalu menoleh kearah Kai. “Setahun yang lalu saat para Lucifer menyerang kediamannya. Anaknya menjadi sandera Minho. Dia bermaksut untuk menolong anaknya yang hampir saja dibunuh namja itu. Tapi tepat saat Minho mengeluarkan kobaran apinya, tuan Kim berlari meraih putrinya dan kobaran api Minho pun malah mengenai kedua kaki tuan Kim hingga lumpuh”

Hana tertegun mendengar cerita Kai. Ia terharu dan sedih. Ternyata sudah begitu banyak yang para Lucifer itu lakukan. Berulah kesana kemari hingga menimbulkan banyak korban. Entah kenapa Hana mulai merasa beban dipundaknya semakin berat. Ternyata tugasnya tidak hanya sebatas menolong 12 malaikatnya saja, tapi nasib seluruh dunia kini ada ditangannya. Lalu bisakah ia menyelesaikan tugas itu dengan baik?

“Hey Hana’ah?” Kai lambai-lambaikan tangannya didepan Hana. Hana menghentikan lamunannya lalu tersenyum kearah Kai.

“Kau tidak perlu khawatir. Kita pasti bisa mengalahkan mereka” ucap Kai seolah mengerti apa yang sedang gadis itu rasakan. Hana mengangguk. Hatinya berdesir menatap tatapan teduh Kai kearahnya. Sangat hangat dan nyaman.. itulah alasan mengapa hatinya memilih Kai. Namja itu selalu mampu membuat hatinya merasa nyaman ketika bersamanya.

“Hana’ah?! Bisa kau bantu aku sebentar?”

“Tentu oppa” sahut Hana kearah Chanyeol yang memanggilnya. Sejenak gadis itu menatap Kai. Ia lihat namja itu sedang menatap seseorang. Dan ia tersenyum ketika menyadari kekasihnya sedang bertengkar dengan Chanyeol melalui sorot mata mereka. Kai kesal karna Chanyeol menganggu detik-detik indahnya bersama Hana. Gadis itu terkekeh melihat tingkah dua namja itu. Lalu dengan satu gerakan cepat ia mengecup pipi namja didepannya. Kai nampak terkejut, dan begitu pula dengan Chanyeol yang menyaksikan peristiwa itu. Kai memegang pipinya sambil menatap Hana yang berlari menghampiri Chanyeol dengan mata yang tak berkedip.

“Aku dapat jackpot sepagi ini” gumam Kai sambil mengelus-elus pipinya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Jantungnya berdegup cepat, hingga membuat kakinya sedikit sulit melangkah. Dengan pelan ia mengikuti teman-temannya memasuki ruang kerja Tuan Kim.

 

 

*****

 

 

Dengan agak tertatih Hyosun bangun dari posisi berbaringnya. Sambil memegang perban dilengannya ia berusaha duduk tegak diatas ranjang. Hyosun mengigit bibir bawahnya sambil mengintip luka bakar dibalik perban yang ia pegang. Entah kenapa luka itu kembali terasa perih padahal kemarin sudah sempat membaik. Hyosun mendelik ketika ia lihat luka itu kembali terbuka dan mengeluarkan nanah yang membuat perbannya basah.

“Sehun’ah.. apa kau baik-baik saja disana?” ucap Hyosun parau sambil berusaha menahan airmatanya yang sudah akan jatuh. Ia tahu sebab kenapa lukanya seperti itu lagi. Pasti karna Sehun tersiksa diluar sana. Hyosun pun menangis lagi, membayangkan bagaimana keadaan Sehun dimarkas para Lucifer tersebut membuatnya tak bisa menahan perih dihatinya.

Tak berapa lama sampai akhirnya ia mulai tenang. Berhasil menahan emosi dan berhenti menjadi cengeng. Gadis itu beranjak dari ranjangnya lalu membuka korden yang kemarin tak berhasil ia buka. Beberapa lukanya sudah mulai membaik, setidaknya kini ia sudah bisa berjalan. Hyosun membuka jendela lalu memejamkan matanya mneikmati desiran angin yang menerpa kulit putihnya. Ia sangat suka suasana pagi di Concordia, udara pagi yang menyejukkan ditambah pemandangan yang indah mampu membuat hatinya merasa tenang. Berbeda dengan diSeoul yang hanya dipenuhi gedung-gedung pencakar langit.

 

Ceklek

 

“Hyosun’ah kau sudah bangun?”

Hyosun berbalik lalu tersenyum kearah Lay yang datang dengan membawa beberapa obat ditangannya. Hyosun pun berjalan menghampiri namja itu.

“Bagaimana dengan lukamu? Apa sudah membaik?” tanya Lay sambil meletakkan beberapa obat yang dia bawa diatas meja.

Hyosun mengangguk, “Ne oppa. Tapi ada satu luka dilenganku yang terbuka lagi”

Lay mendongak, “Benarkah? Coba aku lihat” ucap Lay seraya meraih lengan kanan Hyosun. Cukup terkejut melihat perban yang sudah basah akan nanah, perlahan Lay membuka perbannya. Alisnya terangkat keatas melihat luka bakar yang cukup besar itu.

“Ini pasti karna Sehun kan oppa..”

Lay mengangguk ragu, “Mungkin..” ucapnya pelan. Merasa sakit jika mengingat hal tersebut. Tapi namja itu berusaha kuat, ia tersenyum simpul kearah Hyosun lalu mengambil beberapa obat yang dia bawa. Hyosun duduk ditepi ranjang sembari membiarkan Lay mengobatinya.

Dengan lihai Lay meneteskan beberapa ramuan keluka Hyosun. Gadis itu meringis karna rasa perih yang menjalar ditangannya ketika obat Lay menyentuh lukanya. Setelah memberi obat selesai, Lay merentangkan telapak tangannya dan sebuah cahaya hijau pun muncul. Hyosun terpana melihat telapak tangan Lay yang kini bercahaya. Namja itu kemudian meletakkan telapak tangan bercahayanya itu diatas luka Hyosun. Perlahan nanah luka Hyosun mulai mengering, lukanya pun sudah tak terlihat basah dan merah seperti sebelumnya. Rasa perih pun sudah tak Hyosun rasakan lagi. Dengan hati-hati Lay kemudian menutup kembali luka tersebut dengan perban baru.

“Oppa pandai sekali. Aku penasaran bagaimana para malaikat pengobatan seperti oppa belajar cara-cara seperti ini”

“Aku juga terkejut saat pertama kali aku datang kemari. Waktu itu kami para malaikat pengobatan mendapat pengenalan singkat tentang obat-obatan ditempat ini. Dan aku terkejut karna begitu saja aku hafal semua jenis obat yang digunakan diConcordia. Mereka bilang tanpa belajar, naluri tabib kami akan keluar dengan sendirinya. Dan benar, perlahan aku terbiasa dengan kelebihanku”

Hyosun mengangguk-anggukan kepalanya, “Ohh.. aku juga ingin sekali bisa mengobati orang lain, karna itu aku bercita-cita ingin jadi dokter”

“Waah cita-cita yang mulia.  Kalau begitu kau perlu belajar dengan rajin Hyosun’ah” ucap Lay sambil mengelus pelan puncak kepala Hyosun.

Gadis itu tersenyum malu, “Ne pasti oppa” ucapnya sambil mengangguk mantap. “Tapi oppa.. yang lain mana? Kelihatannya sepi sekali”

“Mereka sedang melakukan penyelidikan. Oya? Kau belum sarapan kan? Akan aku buatkan bubur. Kau tunggu sebentar ya?”

“Ne oppa”

Lay berbalik lalu berjalan keluar ruangan. Hyosun menghela nafas, sejenak berpikir apa yang sebaiknya dia lakukan sembari menunggu Lay. Gadis itu pun memutuskan untuk merapikan ranjangnya.

“Akhh..”

Tiba-tiba suara ringisan seseorang menghentikan kegiatan gadis berambut hitam itu. Ia menoleh kearah seorang gadis yang terbaring lemah diranjang berjarak lima langkah disebelah ranjangnya. Dengan hati-hati Hyosun mencoba mendekati gadis bertubuh jangkung tersebut.

“Kau.. baik-baik saja?” tanya Hyosun hati-hati. Takut jika ia membuat gadis yang baru saja sadar itu terkejut. Tapi gadis cantik itu tak menjawab, masih sibuk berusaha untuk mendudukan diri. Melihat gadis itu tertatih, Hyosun pun mencoba memberi bantuan. Setelah berhasil duduk tegak, gadis itu menoleh kearah Hyosun yang menolongnya.

Sooyoung megernyit, “Kau siapa?”

Mendengar pertanyaan Sooyoung, Hyosun tertegun. Baru menyadari kalau kebaradaannya dirahasiakan. Karna keberadaannya diConcordia tak urung bisa membuat 12 prajurit Olympus itu dijatuhi hukuman mati. Seketika Hyosun bingung, bagaimana dia harus menjawab? Mengatakan dengan gamblang kalau dia adalah manusia? Mana mungkin!

“Umh.. aku..”

 

Ceklek

 

“Ohh Sooyoung’ah kau sudah bangun?”

Kedua gadis itu menoleh kesumber suara dan melihat Luhan berjalan masuk. Hyosun pun menghela nafas lega. Ternyata Tuhan masih menyayanginya dengan mengirim malaikat penolong.

“Apa kau sudah merasa lebih baik?”

Sooyoung mengangguk, “Ne begitulah. Ini berkat Lay..” jawab Sooyoung sambil tersenyum. “Oya? Bagaimana dengan teman-temanku yang lain. Apa mereka baik-baik saja?”

“Iya mereka baik-baik saja. Selain itu kalian juga sudah dipindahkan kemarkas yang baru. Lebih dekat dengan Departemen Kementrian. Leeteuk hyung takut kalau kalian diserang lagi saat kalian belum sembuh total seperti ini”

“Maafkan kami. Bukannya membantu kalian kami malah menyusahkan kalian” ucap Sooyoung pelan seraya menundukkan kepala.

“Tidak apa-apa.. Jangan menyalahkan diri sendiri begitu. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita bisa mengalahkan iblis-iblis sialan itu” ucap Luhan berusaha memberi semangat. Hyosun yang berdiri dibelakang Luhan hanya diam menyimak pembicaraan dua malaikat tersebut. Sejauh ini pembicaraan masih teralihkan dari pembahasan dirinya.

“Oya lalu bagaimana dengan Sehun? Dia menolong kami kemarin” tanya Sooyoung yang sedetik itu juga membuat Luhan terdiam. Terlalu bingung untuk memilih jawaban yang tepat. Takut jika membuat gadis yang baru pulih itu merasa bersalah.

“Dia.. tertangkap”

Sooyoung mengernyit, “Tertangkap?”

“Ne.. Minho berhasil mengalahkannya dan membawanya sebagai tumbal untuk ritual Posteriori”

Sooyoung terdiam dengan mata yang membulat. Terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Bagaimana bisa? Setahu dirinya Sehun adalah lawan yang cukup untuk Minho. Seketika Sooyoung rasakan butiran kaca cair menghalangi penglihatannya. Perasaan bersalah pun lagi-lagi menggerogoti hatinya.

“Bagaimana bisa Luhan’ah? Walau pun Minho Selma terkuat tapi aku yakin dengan kemampuannya Sehun pasti bisa melawan Minho”

Luhan menunduk membahas masalah ini membuat dadanya mulai sesak. Terlalu menyakitkan untuknya, apalagi Sehun adalah teman yang paling dekat dengannya. Hyosun pun mulai merasakan matanya memanas. Hyosun meremas bagian belakang kaos Luhan.

“Iya jika Sehun memiliki seluruh cakranya. Tapi saat itu cakra Sehun hanya separuh jadi dia bisa dengan cepat kehabisan cakra”

“Separuh? Apa maksutmu?”

“Dia terkena kutukan cinta”

Mata Sooyoung mendelik, “Apa? Dengan siapa Luhan’ah?” tanya Sooyoung dengan nada yang menuntut jawaban cepat. Tapi bibir tipis Luhan hanya diam. Sooyoung pun perlahan mengalihkan tatapannya pada gadis yang sejak tadi bersembunyi dibelakang Luhan. Melihat begitu banyak luka ditubuh gadis itu membuat Sooyoung menebak.

“Dengan dia?” ucap Sooyoung sembari mengarahkan telunjuknya pada Hyosun. Luhan mengangguk tanda mengiyakan. Sementara Hyosun semakin merapatkan dirinya dengan Luhan. Takut karna topik pembicaraannya sudah kembali kepadanya.

“Tapi.. siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya diConcordia. Apa dia malaikat baru?”

Luhan menggeleng, “Bukan..”

“Bukan? Lalu?”

Jantung Luhan mulai berdegup cepat karna gugup. Takut untuk mengaku tapi ia tidak mau berbohong. Sementara Luhan bersiap untuk menjawab, Hyosun remas baju Luhan semakin kuat. Tak kalah dari Luhan, jantungnya berdetak cepat dan keringat dingin mulai ia rasakan mengucur dipelipisnya. Sedetik Luhan menoleh kearah Hyosun seolah meminta persetujuan, tapi gadis itu hanya menggeleng dengan raut wajah cemas. Namja berwajah cantik itu menelan paksa salivanya seraya kembali memandang Sooyoung yang terlihat tidak sabar menunggu jawaban keluar dari mulutnya.

“Dia.. manusia..”

 

 

*****

 

Dengan serius Hana membaca berkas ditangannya. Dahinya mengkerut karna tidak mengerti apa yang tertulis diberkas itu. Yang ia lihat hanya angka dengan jumlah yang besar, kolom-kolom dengan kode-kode yang sama sekali tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia heran apa semua berkas-berkas diruangan itu isinya sama seperti yang ia pegang? Lalu bagaimana cara malaikat-malaikat itu membacanya? Kelihatannya mereka semua mengerti.

Tsk.. apa ini? Apa ini semua jumlah uang yang dimiliki professor itu?” decak Hana sambil terus membolak-balikkan kertas ditangannya. Ia lirik rekan-rekannya yang terlihat serius membaca berkas ditangan mereka masing-masing. Raut wajah mereka terlihat serius, tak ada ekspresi kebingungan seperti dirinya. Ia menerka-nerka, ini antara dia yang salah ambil dokumen atau memang mereka adalah orang indigo yang bisa membaca kode-kode tertentu.

Hana lirik lagi dokumen ditangannya. Ia mulai merasa kesal, tak bisa membaca apapun lebih baik ia tutup dan meletakkannya kembali. Hana mendengus lalu berjalan bermaksut menghampiri Kai yang duduk dipojok ruangan. Namun tiba-tiba ada tangan kekar yang menggenggam tangannya. Hana berhenti lalu menoleh.

“Apa?” tanya Hana pada Chanyeol. Namja itu menggelengkan kepalanya kekanan yang Hana tahu itu adalah sebuah kode. Hana mengernyit karna tidak mengerti akan kode tersebut.

“Ikut aku” bisik Chanyeol sambil menunjuk pintu keluar. Setelah meletakkan kembali berkas yang ia pegang, Chanyeol mengajak Hana keluar dari ruangan tersebut. Walau agak bingung kenapa Chanyeol mengajaknya keluar saat semua sedang serius, tapi ia mencoba untuk menurut.

“Ada apa?” tanya Hana pada Chanyeol yang kini bertingkah seperti seseorang pencuri yang tengah bersembunyi. Ia menoleh kesekelilingnya memastikan tidak orang disana. Hana pun merapatkan kerutan didahinya melihat tingkah namja pemilik elemen api tersebut.

“Ayo kita keluar” ucap Chanyeol pelan tapi mampu membuat Hana terdiam. Mata Hana membulat dengan alis terangkat mendengar ajakan Chanyeol.

“Keluar? Kemana?”

“Menemui.. Youngra”

Mata Hana mendelik. Salahkah yang baru saja dia dengar? Chanyeol mengajaknya menemui siapa? Youngra?! “Apa?! Maksut oppa apa? Kita kan dilarang kedunia manusia. Bagaimana bisa oppa mengajakku menemui Youngra?” bisik Hana sepelan mungkin. Ia mengerti, jadi karna ini Chanyeol bertingkah seperti buronan.

“Umh.. jadi begini Hana’ah. Sebenarnya aku sudah pernah beberapa kali melakukan ini. Diam-diam aku sering kedunia manusia untuk melihat keadaan adikku, keluargaku dan… Youngra”

“Woaah kau gila oppa” ucap Hana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak dia sangka namja sejenis Chanyeol bisa melakukan hal seenekat itu.

“Bagaimana? Aku tahu kau sangat merindukan Youngra. Akhir-akhir ini kau mendapat tekanan karna masalah kita yang semakin rumit. Aku lihat kau juga sudah tak secerah dulu. Karna itu aku ingin kau sedikit mendapat hiburan. Aku pikir dengan melihat Youngra atau keluargamu sebentar bisa membuatmu merasa lebih baik” ucap Chanyeol lembut. Hana hanya diam sambil menatap kedua mata bening Chanyeol. Ia terhenyak, ketulusan terlihat dari mata itu. Tidak Hana sangka, Chanyeol begitu memikirkan dirinya.

“Kita hanya perlu berhati-hati maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi kalau kau memang tidak mau, aku juga tidak masalah”

Cukup lama gadis itu diam. Memikirkan segala konsekuensi yang terjadi jika ia melakukan hal gila itu. Memang tidak Hana pungkiri kalau rencana Chanyeol sebenarnya langsung disetujui oleh hatinya.Tapi otaknya masih berpikir logis tentang kenyataan akan posisinya saat ini. Karna kalau mereka ketahuan melanggar aturan negri Concordia, maka mereka akan dijatuhi hukuman yang berat.

Dengan tidak sabar Chanyeol menunggu jawaban yang keluar dari bibir mungil Hana. Setelah sekitar 2 menit, akhirnya dia bisa bernafas lega ketika gadis itu menganggukan kepalanya.

“Tapi apa benar tidak akan apa-apa?”

Chanyeol mengangguk, “Asalkan kita hati-hati. Sudah sekitar 5 kali aku melakukannya dan aku bisa pulang dengan selamat. Kau hanya perlu mengikutiku. Arrachi?”

Hana mengangguk mantap, “Arraseo oppa”

“Baiklah lebih baik kita pergi sekarang sebelum semuanya sadar”

Chanyeol dan Hana pun berjalan mengendap menuju pintu keluar. Bersembunyi agar ketiga temannya yang sedang sibuk itu tidak mengetahui mereka pergi. Sebenarnya Hana merasa agak egois, disaat semua rekannya sibuk memastikan informasi yang tuan Kim berikan, disaat mereka sudah semakin dekat dengan markas para Lucifer tersebut, tapi mereka malah pergi menemui sanak saudara mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Tawaran Chanyeol terlalu menggiurkan untuk ditolak.

“Ayo cepat naik” ucap Chanyeol sembari menarik tangan Hana yang masih saja celingukan memperhatikan sekitarnya. Dengan sedikit bantuan Chanyeol, Hana duduk sempurna dipunggung seekor burung Phoenix raksasa. Setelah semua muatannya naik burung itu pun lepas landas.

Tak sampai setengah jam, burung itu sudah terbang jauh dari rumah tuan Kim. Hana duduk didepan Chanyeol sambil menikmati pemandangan dibawahnya. Ia terpana.. negri Concordia itu memang seperti negri dongeng. Namun Hana nampak sedikit bingung, kenapa sudah sejauh ini burung raksasa itu belum juga berhenti? Lagi pula ini negri yang berbeda dengan dunia manusia, apa hanya terbang mereka bisa berpindah tempat?

“Oppa?”

“Ne?”

“Sampai kapan kita akan terbang?”

“Sebentar lagi, kita akan sampai diportal”

Hana mengernyit, “Portal?”

“Iya.. portal yang menghubung—Ahh iya. Kau belum tahu pintu keluar masuk negri ini dengan dunia manusia ya Hana’ah?” tanya Chanyeol yang membuat Hana sedikit berpikir. Benarkah dia belum tahu?

“Ahh iya oppa. Seingatku saat pertama kali aku kemari aku berteleportasi dengan Jongin jadi dalam sedetik tanpa sadar aku sudah disini”

“Nah makanya sekarang akan aku tunjukkan. Itu.. kau lihat kan ada awan yang berbentuk lingkaran disana?” ucap Chanyeol sambil menunjuk lurus sebuah awan berjarak sekitar 500 meter dari posisi mereka. Hana ikuti arah telunjuk Chanyeol lalu mengangguk.

“Ne aku lihat oppa. Yang berwarna hitam itu kan?”

“Betul sekali. Awan itulah yang menghubungkan antara dunia manusia dengan Concordia. Awan itu disebut portal. Isitilahnya mirip seperti lorong waktu. Hanya dengan melewati lubang awan itu, dalam waktu 1 menit kita sampai didunia manusia” jelas Chanyeol pada Hana. Gadis itu mengangguk-anggukan kepala sambil membuat huruf O dibibirnya.

“Hebat sekali ya. Tapi oppa aku agak bingung. Kalau memang ini bukan didunia manusia, lalu negri ini sebenarnya disebelah mananya bumi? Kenapa harus menggunakan portal untuk pergi kedunia manusia?”

Chanyeol meringis sambil mengendikkan bahunya, “Entahlah. Kami tidak diberi pengetahuan lebih soal dimana letak pasti Concordia berada. Tapi yang jelas aku pernah dengar kalau sebenarnya ini juga masih ada dibumi. Hanya saja tidak terlihat. Kalau tidak salah, ada disalah satu bagian dilangit bumi”

“Langit bumi?” gumam Hana mencoba menelaah penjelasan namja dibelakangnya. Mulai bingung, kenapa hal-hal mustahil dan terdengar aneh ia temukan dinegri ini? Sepertinya dunia ini memang dunia fantasy. Atau jangan-jangan ternyata dia sedang bermimpi?

“Hana’ah bersiaplah kita akan melewati portal”

 

 

 

*****

 

“Sekolahku!!!!” pekik Hana seraya turun dari burung raksasa yang ditumpanginya. Ia melonjak kegirangan melihat dimana dirinya sekarang. Ia rentangkan tangan sambil menatap kagum gedung bertingkat dihadapannya. Chanyeol tersenyum menatap gadis berambut panjang itu. Ia senang sekali melihat senyum manis Hana.

“Mana bocah cerewet itu?” gumam Hana dengan nada senang sambil memperhatikan satu-persatu murid yang keluar dari gerbang sekolahnya. Mencari seseorang yang sudah sangat begitu ia rindukan. Chanyeol pun memasang matanya mencari Youngra. Bagaimana pun alasannya mau pergi bukan hanya sekedar untuk Hana, dia tidak mau munafik kalau sebenarnnya ia juga sangat ingin bertemu Youngra.

Chanyeol mendelik lalu menunjuk kearah seorang gadis berpita merah yang baru saja keluar gerbang, “Itu disana!”

Dengan cepat Hana mencari arah telunjuk Chanyeol. Menatap objek yang ditunjuk namja itu dengan tatapan yang sarat akan kerinduan. Ia lihat sahabat berpita merahnya tengah berlari dengan wajah riang. Entah sejak kapan, airmata sudah menumpuk dipelupuk matanya. Rasanya ingin sekali Hana berlari lalu memeluk gadis berkuncir kuda tersebut.

Tak berbeda dengan Hana, Chanyeol juga menatap Youngra lekat. Sangat senang bisa melihat gadis itu lagi. Gadis yang sangat ia rindukan, gadis yang hingga saat ini masih mengisi relung hatinya. Seperti yang Chanyeol bilang dulu dia sangat sering datang untuk menengok Youngra, tentu saja tanpa gadis itu ketahui. Dan sekarang sudah hampir setahun sejak terakhir kali ia melihat Youngra, tentu sekarang ia merasa sangat bahagia.

Namun kedua mahluk itu mengernyit ketika mereka lihat Youngra berjalan kesebuah mobil sedan yang terparkir didepan sekolah. Keduanya bingung, terutama Hana yang sangat mengenal gadis itu. Setahu dirinya Youngra belum diperolehkan mengendarai mobil sebelum lulus SMA. Tapi ia menyadari satu hal, seseorang yang seingatnya punya jenis mobil yang persis sama. Namun ia tidak terlalu yakin, ia perhatikan lagi mobil itu dengan seksama.

“Tumben dia tidak naik bus” ucap Chanyeol sambil terus memperhatikan Youngra.

“Mobil itu kan!” pekik Hana sambil menunjuk ke plat mobil sedan berwarna silver tersebut. Dan bersamaan dengan itu, keluarlah seorang namja berwajah tampan dari dalam mobil. Sambil tersenyum namja itu membukakan pintu untuk Youngra.

“Su-Suho.. hyung?!”

“Ahh benarkan! Aku hafal nomor plat mobil Joonmyun oppa” pekik Hana sambil menjentikkan jarinya. Kedua mahluk itu nampak terkejut melihat namja bersuara lembut itu datang menjemput Youngra. Pikiran mereka mulai menerawang. Apa mungkin.. sekarang mereka berdua sudah..

“Ayo oppa kita ikuti mereka!” seru Hana sambil menarik paksa tangan Chanyeol yang masih terpaku ditempatnya. Hana mengerti bagaimana terkejutnya namja itu. “Ayo oppa cepat! Kita harus tahu kemana mereka pergi!”

“I-Iya baiklah..” ucap Chanyeol menuruti Hana. Dia pun memerintahkan bisonnya untuk terbang mengikuti mobil Joonmyun. Burung raksasa itu pun terbang menelusuri jalan raya tanpa ada yang menyadari keberadaan mereka. Sampai akhirnya mereka mendarat dihalaman sebuah rumah sakit. Dahi mereka mengkerut melihat Joonmyun dan Youngra masuk kedalam rumah sakit tersebut.

“Siapa yang sakit? Apa jelmaan Hyosun?”

Hana menggeleng sambil mendengus malas, “Mana mungkin. Hyosun kan tidak punya jelmaan oppa”

“Ahh iya benar juga ya.. heheh” ringis Chanyeol sambil mengelus tengkuknya.

“Ya sudah. Ayo ikuti saja!” Hana tarik tangan kekar Chanyeol masuk kedalam gedung. Berjalan agak cepat agar tidak kehilangan jejak.

“Apa mungkin mereka pacaran?”

“Kurasa tidak oppa. Youngra masih terlihat malu-malu didekat Joonmyunnie oppa. Tingkahnya masih seperti dulu. Tapi anehnya Joonmyunnie oppa yang malah terlihat berbeda”ucap Hana mencoba menelaah apa yang dia lihat. Sementara Chanyeol mulai merasa hatinya terguncang, benarkah jika kini sudah tidak ada kesempatan lagi untuknya?

Chanyeol dan Hana berhenti didepan sebuah kamar yang Youngra dan Joonmyun masuki. Sedetik mereka saling menatap lalu mengintip dikaca kecil dipintu kamar tersebut. Dan mereka pun mendelik melihat siapa yang dirawat diruangan itu.

“Jongdae?!” pekik mereka bersamaan saat melihat Jongdae duduk diatas ranjang rumah sakit. Selain itu mereka juga dikejutkan dengan adanya jelmaan Hana disana.

“Pantas hari ini dia tidak bersamamu Hana’ah. Ternyata kau sedang dirumah sakit menemani Jongdae. Dan mungkin karna ini Suho hyung menjemputnya kesekolah..” ucap Chanyeol yang malah terdengar seperti bersyukur.

“Tapi.. kenapa Jongdae dirawat?”

“Umh.. dilihat dari kakinya yang diperban mungkin dia jatuh atau semacamnya. Tapi Hana’ah kau juga kelihatannya terluka, lihat itu ditanganmu juga ada kapas obat” ucap Chanyeol sambil menunjuk jelmaan Hana yang sedang duduk disebelah ranjang Chen.

“Tangan?” gumam Hana sambil berpikir. Ia tatap Chanyeol yang juga sedang melihat kearahnya.

“Coba gulung lengan bajumu” ucap Chanyeol yang dijawab anggukan oleh Hana. Gadis pun lalu menggulung lengan baju ditangan kanannya. Ia terkejut ketika melihat luka goresan yang cukup panjang disana.

“Akkh..” Hana meringis ketika ia mencoba memegang luka tersebut. “Tadi pagi baik-baik saja”

“Mungkin lukanya baru Hana’ah”

Hana mengangguk, “Mungkin..” gumamnya masih sedikit bingung. Kenapa ia sama sekali tidak sadar kalau ada luka ditangannya? Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, Hana dan Joonmyun keluar dari ruangan tersebut. Chanyeol menarik tangan Hana untuk minggir sedikit. Walau mereka tak terlihat tapi bukan berarti mereka bisa berdiri seenaknya.

“Ahh mereka pasti pulang kerumah. Aku ingin ikut oppa..” ucap Hana sambil memandangi Joonmyun dan jelmaannya yang berjalan menjauh. Namja itu menggeleng sambil menghela nafas.

“Tidak bisa Hana’ah.. kita tidak bisa pergi terlalu jauh” Chanyeol memegang pundak kiri gadis itu. Hana menunduk sambil merengut.

“Aku ingin lihat kondisi ibu dan ayahku..”

Chanyeol tersenyum simpul, “Mereka pasti baik-baik saja” ucapnya berusaha menguatkan gadis itu. Chanyeol mengerti betul bagaimana perasaan Hana. Dulu saat dia masih anggota baru dia juga sering sekali berpikir untuk kabur dan pulang kerumah.

“Maaf nona.. bisa permisi sebentar?” sebuah suara lembut seketika membuat Hana dan Chanyeol menoleh. Keduanya nampak terkejut karna ada seorang suster yang bicara pada Hana. Berulang kali gadis itu mengedipkan matanya. Tidak percaya dengan yang terjadi. Kenapa suster itu bisa melihatnya?

“Nona? Bisakah anda minggir sebentar? Saya ingin masuk kedalam” ucap suster itu mengulang perkataannya.

“Aku?” tanya Hana sambil menunjuk dirinya sendiri. Suster itu pun menjawab dengan sebuah anggukan kepala.

Hana dan Chanyeol yang masih tampak bingung itupun akhirnya menggeser posisi berdiri mereka yang memang tepat berada didepan pintu kamar disebelah kamar Jongdae. Mereka perhatikan suster yang memasuki kamar bernomor 45 itu. Setelah suster tersebut menghilang dibalik pintu mereka kemudian saling menatap dengan pertanyaannya yang sama dipikiran mereka.

“Suster itu bicara pada kita?”

“Sepertinya hanya padamu Hana’ah.. tapi bagaimana bisa?” Chanyeol mengernyit sambil berusaha berpikir. Mencari tahu dimana letak kesalahan yang terjadi. Dan matanya mendelik ketika ia temukan sesuatu diotaknya. “Ah Hana’ah kau pasti—“

 

Ceklek

 

Pintu kamar sebelah terdengar terbuka dan membuat Chanyeol langsung memotong ucapannya. Suara derap kaki terdengar berjalan keluar dari pintu. Dengan kewaspadaan dan terbata-bata, Chanyeol dan Hana menoleh. Mata bulat dua mahluk itu semakin bulat ketika mereka lihat Youngra juga sedang menatap bingung kearah mereka.

“Lo Hanie? Kenapa masih disini? Bukankah kau tadi pulang bersama Joonmyunnie oppa?”

 

*****

Langit Concordia siang itu masih begitu cerah. Hal baik yang membuat 4 orang prajurit Olympus itu memilih untuk melakukan penyelidikan melalui udara. Seekor unicorn dan seekor naga terlihat terbang bebas diangkasa dengan masing-masing 2 orang penumpang dipunggung mereka. 2 bison itu terbang disekitar wilayah Adena untuk membantu pemiliknya mencari tahu tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat ritual para iblis negri itu.

Mereka membagi tugas, 4 orang menyelidiki markas Lucifer, 4 orang mencari tahu tempat ritual Posteriori, dan 3 orang lagi menjaga markas sekaligus 2 orang gadis yang masih dirawat dimarkas mereka. Setelah semuanya pas mereka pun menjalankan tugas masing-masing.

Kris perhatikan daratan dibawahnya, meneliti setiap tempat yang dapat ia lihat dari ketinggian itu. Namja itu menyipitkan mata untuk lebih memfokuskan daya jangkau penglihatannya. Sudah sekitar 4 jam mereka mengelilingi daerah Adena, terbang kesana kemari dan sesekali mendarat ditempat yang mereka lihat mencurigakan. Namun usaha mereka belum juga menemukan hasil seperti yang diinginkan.

“Apa benar terbang kemari hyung? Daerah ini daerah perhutanan Adena” tanya Kyungsoo pada Kris yang masih terlihat serius dengan objek dibawahnya. Kyungsoo sedikit merasa salah, yang ia lihat dibawah hanya hutan yang membentang luas. Apa mungkin tempat ritual itu akan diadakan disana? Tak menjawab namja yang terbang bersamanya hanya diam. Kyungsoo pun tak ingin cerewet, ia ikuti saja kemana Kris memerintahkan naganya untuk terbang.

“Dimana sebenarnya tempat yang dikatakan Hyosun? Kita sudah sampai didaerah paling selatan Adena. Dan setelah ini hanya akan ada hutan” ucap Tao yang mengendarai unicorn Lay bersama Xiumin. Raut wajah namja itu sedikit tertekuk karna putus asa. Ia mulai merasa tidak yakin, apa benar tempat ritual itu ada di Adena?

Xiumin tersenyum mendengar keluhan adiknya, “Mungkin sebentar lagi kita akan sampai Tao’ah. Bersabarlah..” ucap namja mungil itu sambil terus memperhatikan hutan luas dibawahnya.

“Iya sejak tadi aku juga sudah sabar hyung. Tapi sekarang aku mulai lelah. Sudah hampir 4 jam kita terbang, tapi tidak menemukan apa pun” dengus Tao sambil bersedekap didada.

“Itu disana!” teriak Kris yang seketika mengalihkan perhatian rekan-rekannya. Namja itu menunjuk kebawah, tepatnya kearah sebuah gerombolan yang tengah berjalan ditengah hutan. Keempat namja itu mendelik melihat gerombolan itu adalah gerombolan para iblis musuh mereka. Mereka pun memustuskan untuk mengikuti gerombolan tersebut. Tapi dengan cepat mereka bersembunyi ketika salah seorang dari gerombolan itu menoleh.

Kris menatap Xiumin lalu mereka berdua mengangguk bersamaan. Mereka pun memerintahkan bison mereka untuk turun. Mendarat dibalik pohon besar tempat mereka bersembunyi.

“Kita ikuti mereka” ucap Kris memberi intrupsi pada rekan-rekannya. Keempat namja itu lalu mengendap mengikuti gerombolan Lucifer itu. Menggunakan semak-semak atau pepohonan untuk menyembunyikan diri mereka.

Kris berada dibarisan terdepan, karna memang dalam penyelidikan ini dialah yang ditunjuk sebagai pemimpin. Cukup lama mereka menelusuri hutan tersebut dan sejauh ini tak ada yang menyadari gerak-gerik mereka. Mereka terus berjalan ketimur mengikuti gerombolan tersebut.

 

Kreek

 

Tak sengaja Tao menginjak ranting pohon yang terjatuh. Seketika semua Lucifer tersebut menoleh kebelakang. Dengan sigap 4 prajurit Olympus itu mencari tempat bersembunyi terdekat. Kewaspadaan mereka meningkat, takut jika iblis-iblis itu menyadari keberadaan mereka.

“Siapa disana?!” teriak salah satu pemimpin pasukan. Memang sedikit konyol, sudah jelas tidak akan ada yang menjawab panggilannya. Kyungsoo, Kris, Xiumin dan Tao tetap bersembunyi. Bahkan mereka menahan nafas saking tegangnya.

Sepersekian detik setelahnya, mereka dengar gerombolan itu mulai melanjutkan langkah mereka. Kris mengintip sedikit untuk memastikan. Dan ia menghela nafas karna mereka tidak ketahuan. Ia mengangguk memberi kode pada rekannya yang lain. Mereka kemudian melanjutkan aksi menguntit mereka.  Tak lama kemudian, samar-samar dibalik pepohonan mereka lihat lapangan luas mulai terlihat. Mereka pun berhenti karna sudah tak ada lagi pepohonan yang bisa mereka gunakan untuk bersembunyi. Mereka lihat Lucifer tersebut terus berjalan lurus menuju sebuah bangunan ditengah lapangan rumput luas tersebut. Bangunan dari batu-batu besar yang tak beratap.

“Ini pasti bagian tengah dari hutan” ucap Xiumin sedikit berbisik yang langsung disetujui oleh rekan-rekannya. Bangunan tersebut cukup luas dan banyak terlihat para Lucifer sedang bergotong royong untuk membersihkan tempat tersebut. Selain itu mereka juga melihat Onew dan Key yang sedang memantau kerja pasukannya.

“Sudah pasti disini tempatnya” Kyungsoo mengangguk-anggukan kepalanya yakin. Seolah apa yang ada pikirannya sudah pasti benar.

“Akhhh..” tiba-tiba Kris meringis sambil memegang kepalanya. Membuat ketuga temannya sedikit terkejut.

“Kau tidak apa-apa?”

Kris mengangguk, “Aku baik-baik saja hyung” sahut Kris menjawab kekhawatiran Xiumin. Setelah merasa lebih baik, Kris pun mendongak. “Baiklah.. kalau begitu lebih baik kita pergi dulu dari sini. Aku takut kalau tiba-tiba ada gerombolan lain yang datang”

Setelah merasa sudah mendapatkan apa yang mereka cari. Keempat namja itu pun beranjak dari tempat mereka berdiri. Tapi baru beberapa langkah, Tao berhenti.

“Kita tidak terbang hyung?” tanya Tao pada Kris yang berjalan paling depan. Kris menoleh kebelakang lalu menggeleng.

“Tidak.. kalau kita terbang dari sini maka Onew bisa langsung merasakan cakra kita. Jadi lebih baik kita berjalan kaki dulu sampai tempat nagaku dan unicorn Lay” ucap Kris seraya mengembalikan arah jalannya. Xiumin yang memperhatikan Kris tiba-tiba mengkerutkan dahinya. Merasa seperti ada yang aneh pada namja tinggi itu. Aura yang namja itu pancarkan tiba-tiba terasa berbeda dari biasanya. Namun tak ingin menyimpulkan terlalu cepat, ia pun tetap mengikuti intrupsi adiknya itu.

Semuanya mengikuti Kris dari belakang. Mengikuti kemana arah namja itu berjalan. Arah yang menurut Kris adalah arah yang benar untuk kembali pada bisonnya. Awalnya semua berjalan tanpa keraguan, namun setelah hampir setengah jam semuanya mulai merasa aneh. Tempat yang mereka lewati sepertinya sama dari yang sebelumnya. Xiumin pun semakin yakin akan dugaannya.

“Kris’ah? Tidakkah kita sudah melewati tempat ini sebelumnya?” ucap Xiumin memberikan pendapatnya. Tapi tak menggubris, Kris terus melanjutkan langkah kakinya.

Tao mengangguk, “Xiumin hyung benar. Aku juga merasa sudah melewati tempat ini 3 kali hyung” lanjutnya membenarkan pendapat Xiumin. Tapi ketiga namja itu mengernyit sambil saling menatap ketika Kris masih tetap tak menanggapi perkataan mereka. Xiumin akhirnya tak tahan. Ia menarik lengan Kris hingga tubuh namja itu berbalik. Dan ketiga namja itu mendelik melihat apa yang terjadi pada pimpinan mereka.

“Dia dikendalikan!” seru Xiumin sambil mundur dari posisinya. Dua namja dibelakangnya pun melakukan hal yang sama. Tatapan Kris nampak kosong, tubuh namja itu juga terasa dingin ditambah lagi bola matanya yang berubah berwarna merah.  Semua tahu kalau itu adalah ciri bagi orang yang cakranya sedang dikendalikan.

Tao menggeleng tak percaya, “Bagaimana bisa?”

“Krystal..” gumam Kyungsoo pelan. Tao yang mendengar ucapan namja bermata belok itu mengernyit menatap Kyungsoo.

“Krystal?”

Kyungsoo mengangguk, “Hanya Krystal yang punya kemampuan mengendalikkan cakra..”

“Tapi Krystal kan bukan—“

“Kyungsoo oppa benar. Ini aku..”

 

Deg

 

Kyungsoo, Xiumin dan Tao menoleh ketika mereka dengar suara perempuan yang mereka kenal. Dan mereka pun terkejut ketika dua orang gadis dan seorang pria berwajah cantik berdiri didepan mereka sambil tersenyum sinis.

“Krystal’ah? Victoria noona? Kenapa kalian bisa..”

Key tersenyum, “Ucapkanlah selamat datang pada anggota baru kami”

 

 

 

 

 

――To be continued――

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!

65 thoughts on “The Twelve Power Of Olympians(Chapter 9)

  1. Thor lnjtan ny kpan? Ngak sbar nich.., udh pnasaran bnget, gmana nsib ny sehun trus gmana ama si kris.. Cptan publish ya thor hehehe #maksa 😛

  2. mianhae sebesar-besarnya baru komen sekarang dan di part ini…………*bow*
    soalnya baru ketemu ni ff……jeongmal mianhae….harap memaklumi……

    aku lihat koment” yg lain ,,, next chapnya belum ada ya……?????

    kpn nich next chapternya……semua readers pasti penasaran……!!!!

  3. wah makin penasaran nih ceritanya. duh sekian lama aku ga ngelanjutin baca ff ini jd rada linglung. kayanya aku hrs baca dari chapter 1 lagi hihi. daebak deh thor buat ff nya!^^

  4. Waahhh makin seru ini ceritaa. Jadi enggak sabar baca lanjutannya ^^ … tapi kayaknya lanjutannya belum ada yaa😥 ,

  5. Lanjut thor next chapnya, penasaran knp krystal sma victoria berkhianat
    ditunggu kelanjutannya thor

  6. Wah.. Seru banget fanfic nya😀 kapan thor lanjutan fanfic nya jadi gak sabar ๑ˆ⌣ˆ ๑

    Aku sebenarnya sih gak setuju kalau Hana sama si Kim Jongin (╥﹏╥). Aku lebih setuju kalau Hana sama Sehun Oppa ♫♪♫ (ɔ ˘⌣˘)~♡. Tapi apa boleh buat sepertinya jalan ceritanya akan seperti itu tidak seperti yang kuharapkan (⌣_____⌣ ) Hmmm ◦°◦ºº. Apalagi kalau sampai Sehun Oppa sama Hyosun aku tambah gak setuju lagi (╥﹏╥).

    Oke kayaknya kepanjangan ya aku komennya😀 hhehehe.

    Ditunggu ya thor kelanjutan fanficnya diharapkan secepatnya dilanjutin karena rasa penasaraan ini tidak bisa dibendung lagi (╥﹏╥).

    ▁▆▆▆▁
    .(⌒,^)*(y)
    . ►o◄/ oke ditunggu kelanjutannya thor.

  7. thor chapter 10 nya mana???? udh dicari cari kok ngga ketemu…..
    mian baru sekarang aku ngomen soalnya baru tau ff ini dari temen..🙂 mianhae nae
    di tunggu nya chapter selanjut nya…..😀

  8. Annyeong^^ aku new readers loh😀
    Sebelumnya maaf karna aku baru komen di chap ini, itu karna aku baru nemuin ffnya hari ini dan akhirnya aku jadi ketagihan baca sampai akhir😀
    Aku suka bgt sama kai di cerita ini dan nggak sbar pengen liat endingnya🙂
    Ditunggu next chapnya yaa~

  9. aduh chapter 10 nya belum jadi;
    buat author tlong chapter 10 cpat diselesain udah banyak yg nunggu tu,FIGHTING!!!!
    maaf baru komentar sekarang y.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s