Be My Love (Chapter 4)

01152_HD-vert

Title     : Be My Love “Chapter 4”

Author  : HCV_1

Cast      : Kim Joonmyeon | Han Na Young | etc.

Genre   : Romance , little freak, little sad, family

Length : Chaptered

Rating  : T

 

Halo! Author freak dan gak jelas ini balik lo *para pengunjung wordpress pada ngelempar sandalnya ke author*

Nyahahahahahahahahahaha *ketawa ala-ala cewek anime yang lebai* engga tau? Udah gak usah dipikirin ribet ah kalo di jelasin*

Maaf ya author baru update sekarang *sembah sujud*lebay lu thor*

Dan akhirnya apa yang author pengen itu terkabul bahkan jauh dari perkiraan author. Sesuai janji author yang bakalan bikin “Be My Love” ini panjang engga kesampean *timpuk pake parang* auothor mendadak banyak ide dan chapter endingnya pun sudah siap. Bukan sepenuhnya sih masih 3 paragraf, tapi nant itu yang author kembangin.

Terima kasih doanya dan terimakasih mau nunggu sampe kiamat karena ff ini bakalan di post pas kiamat *mulai ngaco*

Ok deh happy reading

 

 

WARNING

FF INI HANYA BOLEH DIBACA OLEH ORANG YANG SIAP MENTAL

MEMBACA FF NISTA DAN ANEH INI

Saat akan membalikkan badan dan berlari dari Joonmyeon, Nayoung terpeleset dan  karena Joonmyeon saat itu ada di dekat Nayoung dengan refleks yang cepat ia menarik Nayung agar tidak jatuh. Namun tidak disangka tarikan Joonmyeon itu terlalu kencang, hingga akhirnya membuat Nayoung oleng ke belakang. Dan terjadilah adegan seperti di film-film. Yang tanpa di sengaja Tao melintas, dan melihat kejadian yang mebuat wajahnya langsung memerah dan berteriak keras.

“Maaf”

Ucap mereka berdua bersamaan, Nayoung langsung menunduk karena malu. Dan Joonmyeon memalingkan wajahnya. Tao masih menatap dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ia kemudian menarik ujung bibirnya sedikit.

“Bibi kau tidak boleh mendekati hyung ku yang tampan ini! Awas saja kau mendekatinya” ancam Tao yang sudah sadar dari keterpukauannya terhadap adegan yang barusan ia lihat.

Nayoung hanya mendengus kesal. Ingin rasanya ia melempar Tao dengan barang-barang yang ada di sekitarnya, agar mulut anak itu diam dan tidak menunjukkan wajah yang mengesalkan lagi. Nayoung kemudian beralih menatap Joonmyeon, ia tidak berani menatap Joonmyeon lekat. Ia masih merasakan sentuhan tangan Joonmyeon yang melingkar erat di pinggulnya.

Joonmyeon yang merasa dirinya sedang diperhatikan, ia menatap Nayoung dengan seksama. Hingga akhirnya tatapan mereka berdua bertemu. Namun bukan debaran-debaran aneh yang dirasa oleh Joonyeon, namun rasa kesal yang muncul.

“Pabo”

Nayoung menjulingkan matanya lagi, kemudian ia membalikkan badannya bersiap untuk—berjalan tentunya karena ia sudah mengambil hikmah dari kejadian yang ia alam barusan. Joonmyeon hanya bisa mendesis dengan ucapan dan tingkah laku Nayoung.

“Pabo”

Nayoung berucap pelan. Ia memukul kepalanya agar apa yang barusan terjadi padanya itu hanyalah mimpi.

“Hei bibi cepat buatkan aku sarapan” perintah Tao. Jam baru menunjukkan pukul 07.00 tapi Tao sudah mulai beraksi lagi. Nayoung hanya mampu menarik nafas secara perlahan untuk mengontrol emosinya yang gampang naik turun. Ia menunggu waktu yang tepat.  Ia dengan segera memsang wajah tersenyum.

“Kau ingin sarapan apa ?” Nayoung tetap memasang wajah tersenyum di hadapan Tao.

Tao yang melihat hal tersebut hanya tersenyum sinis. “Hei bibi, apa yang kau rencanakan ? Biasanya kau pasti mengucapkan sumpah serapah mu padaku” Tao berkata sinis. Nayoung yang sudah mersakan kepalanya akan meledak hanya menarik nafas. Ia masih menahan kesabarannya. “Aku tidak ingin merusak hari yang indah ini” jawab Nayoung terlihat santai. Tapi di dalam hatinya ia sudah sagat geram.

Joonmyeon yang melihat kejadian itu hanya diam saja. Ia tidak mau ikut capur dalam peperangan dua mahluk liar itu. Ia membuka Koran pagi, dan mulai membacanya tanpa menghiraukan dua mahluk liar yang mulai beradu tatapan.

Beberapa menit sampai akhirnya sarapan pagi pun siap. Seperti biasa, Tao mengeluarkan kecamannya terhadap hasil masakan Nayoung. Nayoung hanya diam saja, karena ia tahu biarpun tampilannya buruk tetap saja Tao akan memakannya sampai tak bersisa. Karena Tao sangat suka rasa masakan Nayoung dan sangat membeci tampilan dari masakan Nayoung.

“Hyung, bagaiman kalau hari ini kita ke pergi ?” Joonmyeon menghentikan kegiatan makannya. Ia meminum seteguk susu hangat. “Baiklah, tapi aku yang menentukan tempatnya” ucap Joonmyeon kemudian. Nayoung menatap dengan tatapan senang, sudah lama ia tidak pergi berlibur.

“Hei bibi kau tidak boleh ikut, kau harus menjaga rumah. Enak saja kau ikut, lalu siapa yang akan menjaga rumah ini ?” ucap Tao galak. Nayoung menunduk, ia sudah amat geram terhadap Tao.

Tatapan mata Nayoung meredup, ia kemudian mengambil piring kotor yang ada di meja makan. Ia langsung membawa seluruh piring kotor ke dapur dan mencucinya.

Joonmyeon menatap Tao datar. “Kenapa hyung ? Lagi pula untuk apa kita mengajaknya” ucap Tao membela diri dari tatapan Joonmyeon. “Selesaikan urusan mu” ucap Joonmyeon pergi meninggalkan Tao di meja makan.

“Untuk apa hyung membela bibi itu, lagi pula untuk apa dia ikut ? Ia hanya akan menjadi parasit” gerutu Tao.

Dalam beberapa saat Nayoung sudah berada di belakang Tao. Dan…..

 

“AAAAKKKKKKHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!”

 

“Rasakan ini bodoh”

 

“SAAAKKKIIITTTTT!!!”

 

“Sakit ?”

 

“AKKKKHHHHHHHHH!!!!!!!”

 

Joonmyeon yang mendengar teriakan itu langsung berlari menuju arah suara. Ya, suara itu terdengar dari arah dapur. Ia berlari ke dapur,  dan melihat apa yang menjadi sumber teriakan. Joonmyeon terkejut dengan apa yang ia lihat.

“Untuk apa hyung membela bibi itu, lagi pula untuk apa dia ikut ? Ia hanya akan menjadi parasit” gerutu Tao. Ucapan Tao itu terdengar oleh Nayoung yang sedang mencuci piring. Kepala Nayoung langsung terasa berdenyut hebat. Piring yang ada dalam genggamannya sudah hampir pecah karena ia sudah tidak bisa menahannya.

“Mulut mu itu menyebalkan..” desisnya.

Tanpa banyak isyarat lagi, Nayoung langsung melancarkan aksi brutalnya.

“Rasakan ini, ini serangan dari seorang parasit” desis Nayoung. Tao hanya bergidik ngeri dengan apa yang ia alami sekarang ini. Nayoung menjambak rambut Tao dari arah belakang dan terlebih lagi jika Nayoung mengamuk maka dunia ini akan hancur.

“AWWWWW!!!!”

Tao berteriak  kesakitan karena bibirnya ditarik oleh Nayoung. Dan rambutnya dijambak keras oleh—Nayoung tentunya. Ia sudah merasakan akan mati di tangan gadis berwatak bengis ini.

Joonmyeon yang melihat Nayoung yang semakin menjadi-jadi langsung melerai keduanya.

“Nayoung! Hentikan!” bentak Joonmyeon. Nayoung langsung melemahkan kekuatannya. Ia merasa dirinya seolah menuruti perintah dari Joonmyeon. Nayoung hanya diam menunduk.

Tao nampak meringis kesakitan.

“Mian…” ucap Nayoung masih menunduk.

“Dasar kau bibi jelek” ucap Tao kesusahan karena bibirnya masih terasa sakit akibat tarikan maut Nayoung. Tao menatap Nayoung tajam. Namun Nayoung masih saja menunduk.

“Tao, kau haru sminta maaf padanya sekarang!” perintah Joonmyeon. Tao terkejut mendengar ucapan hyungnya itu. Namun apa daya, tatapan tajam Joonmyeon menaklukan nyali Tao.

“Bibi, aku minta maaf”

Nayoung hanyan diam, Tao kesal karena Nayoung tidak memberikan tanggapan apapun. Ia mendekati Nayoung. Memegang pundak Nayoung. Tao terkejut…ia terkejut karena badan Nayung bergetar. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang.

“Nayoung, maafkan aku” bisik Tao lembut. Getaran pada tubuh Nayoung berhenti. Nayoung menatap Tao lurus. Tao diam, ia tak mampu berkata apapun. Tatapan Nayoung itu seolah-olah mampu masuk ke dalam dirinya yang paling dalam. Entah mengapa tatapannya itu seolah-olah menusuk jantungnya , hingga Tao merasakan bahwa hati Nayoung terluka. Luka yang sangat amat dalam.

Tao diam seribu bahasa, sampai akhirnya Nayoung tersadar dari keterdiamannya. Ia tersenyum. Ada sedikit rasa bersalah dalam senyumannya itu.

“Mianhae Tao…” ucap Nayoung.

Tao terhenyak, ia sadar sekarang akan suatu hal yang pasti.

“Mianhae, seharusnya aku yang meminta maaf. Aku yang selalu menjek-jelekkan mu” sesal Tao.

Nayoung hanya membalas dengan senyuman.

“Gomawo…” bisik Nayoung pelan saat berjalan melewati Joonmyeon. Joonmyeon hanya diam. Nayoung pergi ke kamarnya. Ia ingin menenangkan dirinya sejenak.

[Nayoung Pov]

“Apa yang kulakukan tadi ?” sesalku. Aku merasa bersalah pada Tao karena menyerangnya secara brutal. Awalnya aku hanya berniat memberinya pelajaran saja, tapi kenapa aku menjadi sangat brutal. Apa ada yang salah pada diriku.

Appa, ada apa denganku ?

Eottokhe ?

“Bibi! Cepat turun!”

Aku mendengar suara Tao dari bawah, tepatnya teriakannya. Aku langsung turun ke bawah.

[Nayoung Pov End]

“Hei bibi, cepat ganti bajumu jika kau ingin ikut” ucap Tao meberitahu. Nayoung yang mendengar hal tersebut langsung melonjak kegirangan. Ia melompa senang seperti anak kecil. Joonmyeon yang melihat dari kejauhan hanya bisa mendengus.

“Baiklah, tunggu sebentar” Nayoung langsung berlari ke kamarnya berganti pakaian dan membawa barang-barang yang ia butuhkan. Senyum sumringah tidak bisa lepas dari kedua sudut bibirnya.

“Aku yang akan menentukan kemana kita akan pergi” Joonmyeon berhasil membuat Tao menurut, sebelum ia mengusulkan tempat-tempat wisata panjang lebar. Yang mungkin bisa dibuat buku yang berjudul ‘usulan wisata Tao’.

“Kajja, aku sudah siap” seru Nayoung sambil menunjukkan perlengkapan yang ia bawa termasuk makanan untuk dimakan nanti siang.  Ia sudah sangat siap untuk pergi.

“Ayo naik ke mobil” seru  Joonmyeon. Tao terlihat sangat sumringah, walaupun tadi ada kejadian buruk yang menimpanya. Matanya terlihat berbinar-binar. Saat sampai di Korea yang ia lakukan pertama kali adalah mencari Joonmyeon. Jadi ia tidak sempat menikmati tempat wisata yang ada di Korea. Mereka menaiki mobil.

Sesampainya di  taman yang cukup Jauh dari Seoul…

“Waaahhhh…sudah lama aku tidak ke sini” Nayoung membentangkan tangannya. Ia menikmati aroma rumput dan bunga yang bercampur. Dan ia menghirup udara segar yang ada di sana.

“Bibi bantu aku menurunkan barang-barang ini” ucap Tao. Ia cukup krepotan dengan barang-barang yang dibawa oleh Nayoung. Nayoung segera menghampiri Tao. Ia mengambil setengah dari barang yang dibawa  Tao.

“Kita duduk disana saja” Tao menunjukkan tempat untuk duduk. Mereka berdua meletakkan barang bawaannya disana. Tepat dibawah pohon sakura yang sedang mekar jadi sinar matahari terhalang oleh bunga-bungan sakura yang indah itu. Nayoung langsung menyiapkan allas duduk dan menyiapkan makanan. Mengingat perjalanan mereka cukup lama, dan jam sudah menunjukkan siang hari. Ia mengeluarkan makanan.

Tao dan Joonmyeon nampak menikmati pemandangan. Danau yang indah terbentang luas, suasana yang nyaman dan bunga sakura yang bermekaran. Mereka sangat menikmatinya.

“Makanan sudah siap!” seru Nayoung.

Tao dan Joonmyeon mendekat. Mereka berdua sudah merasa kelaparan sejak tadi, namun pemandangan yang indah mampu mengalihkan rasa lapar mereka.

“Bibi! Apa ini ?” Tao nampak heran dengan bentuk makanan yang dibuat oleh Nayoung.

“Kau itu terlalu banyak protes, cepat makan” seru Nayoung. “Atau kau tidak ingin makan ya?” ancam Nayoung dengan senyum menyeramkannya. Tao langsung bungkam, ia bisa merasakan hawa kejam dari Nayoung. Ia sedikit bergidik mengingat kejadian yang tadi.

“Ahhhh kenyang” ucap Tao. Tao melirik kea rah Joonmyeon. Joonmyeon nampak asik membaca buku tebal yang dibawanya. Tao melihat kesekitar mencari Nayoung,  tapi ia tak terlihat. Ia sudah dari tadi menghilang dengan membawa perlengkapannya.

“Hyung, aku ingin bertanya padamu..” ujar Tao pada hyungnya itu. Joonmyeon masih sibuk membaca buku. “Kenapa hyung setuju untuk di jodohkan dengan bibi yang aneh itu?” tanya Tao penasaran. “Setauku hyung sangat tidak suka perjodohan…”

Joonmyeon nampak masih membaca bukunya. Tao menatap Joonmyeon lekat, menanti jawaban yang keluar dari mulut hyungnya itu. Joonmyeon menyelipkan pembatas buku, lalu menutup buku tebalnya itu. Ia menatap jauh…

Tao hanya diam, ia tidak bertanya lagi. Ia  dengan sabar menunggu kata-kata yang kelar dari mulut Joonmyeon. Kini ia menatap danau yang ada di depannya. Ia menarik nafas dalam-dalam.

“Kau akan tahu alasannya suatu saat nanti” ujar Joonmyeon. Ia kembali mengambil buku tebalnya, dan membaca buku itu lagi. Tao hanya memandangnya lekat. Sedikit terkejut dengan jawaban Joonmyen. Namun ia bisa mengerti, mengerti apa maksud dari jawaban Joonmyeon. Mengerti bahwa Joonmyeon tidak ingin menjawabnya sekarang, megerti bahwa waktulah yang akan menjawab semuanya. “Kau selalu begitu hyung…” ucap Tao.

Tao berdiri, ia mencoba mencari Nayoug. Ia melihat dair kejauhan, Nayoung nampak duduk di pinggir danau. Ia kemudian berjalan menghampiri Nayoung. Dan…..

“Huuuuwaaa, bibi kau mendapatkan ikan yang besar” seru Tao sedikit heboh. Baru saja ia sampai, ia sudah meliahat Nayoung strike, ia berhasil mendapatkan ikan yang ukurannya cukup besar. Tao terlihat sangat takjub. “Ambil peralatan pancing di dalam keranjang itu” perintah Nayoung, ia masih fokus dengan ikan yang ia dapatkan tadi. dengan lihai ia melepaskan kait pancing yang ada di mulut ikan.

Tao takjub dengan apa yang dilihatnya, “Yaaaa…bibi kau ahli sekali melepasakan kait di mulut ikan itu”. “Kau pikir aku ini hanyalah gadis yang bisanya hanya memasak dan bersih-bersih…” Nayoung sedikit menyombongkan dirinya.

“Cepat duduk disini, dan jangan berisik” perintah Nayoung.

Tao mengambil posisi duduk di sebelah Nayoung. Ia melemparkan kail pancing ke air. Tapi sayang lemparannya dekat. Nayoung hanya memperhatikan cara Tao yang salah dalam melempar kail. Nayoung tersenyum kecil.

“Kau pegang punya ku, aku akan menunjukkan car a yang benar” Nayoung menyerahkan pancingannya pada Tao, ia mangambil pancingan Tao dan menunjukkan cara yang benar.

“Pertama kau tentukan arah lemparan, lalu kau harus tau seberapa tenagamu untuk melempar. Seperti ini” Nayong mencontohkan cara melempar pada Tao. Tao mendengus kesal, karena Nayoung lebih ahli darinya. Nayoung melempar kail pancing “Nah, seperti ini. Jadi lemparan mu akan tepat”.

Nayoung menyerahkan pancingan yang ada ditangannya pada Tao, “Sekarang kau harus sabar menunggu tangkapan mu”. “Kau berisik sekali sih bibi” ucap Tao kesal.

Tak berapa lama, Nayoung berhasil mendapatkan ikan. Tapi Tao tak kunjung mendapatkan tangkapannya. “Bibi, kau curang” seru Tao. Nayoung tertawa melihat ekspresi wajah Tao. “Lihat saja aku pasti akan mendapatkan ikan yang sangat besar” ujarnya sedikit angkuh.

“Apa aku boleh bergabung?” suara Joonmyeon terdengar dari arah belakang. “Ayo hyung kita kalahkan bibi ini, kau dan aku akan membentuk tim yang kuat” ujar Tao seperti anak kecil. “Jumon juga ikut bergabung. Ambil saja pancingan di  dalam itu” Nayoung menunjuk keranjang yang ada di dekat Tao. Joonmyeon mengambil pancingan dan memasang umpan.

“Hyung, kau harus melemparnya dengan benar. Sebelumnya kau hharus menentukan arah lemparan. Kau harus mengatur …” jelas Tao, seperti yang dikatakan Nayoung tadi. Tapi belum selesai Tao menjelaskan, Joonmyeon sudah melempar kailnya. Dan lemparannya lumayan jauh. Tao langsung diam. Ia mem-poutkan bibirnya kesal. Ia merasa dialah yang paling payah.

“Kau harus menikmatinya Tao” ujar Joonmyeon.

Tao semakin kesal.

-Hening-

“Huuuaaa aku mendapatkan ikan, sepertinya ikan yang besar” seru Tao. Ia dengan semangat menggulung tali pancingan itu. “Lihat saja, ikan yang kudapat pasti lebih besar” ujar Tao.

Namun, Nayoung dan Joonmyeon juga merasakan umpannya sudah dimakan oleh ikan. Dengan santai mereka menarik ulur ikan itu. Tao masih dengan semangat dan tentunya—heboh menarik si ikan.

Nayoung sudah melepaskan kail yang mengait mulut si ikan. Ikan yang didapatnya cukup besar. Ikan yang di dapat Joonnnmyeon juga sudah diangkat, dan akan die pas kailnya. Tao…Tao masih sibuk dengan urusan menggulung.

“Hahahahaha ikan ku pasti lebih besar dari kalian” ujarnya dengan gaya angkuh. Dan…

PPAAASSHHH

Tawa Nayoung meledak. Ia tidak bisa berhenti tertawa, hingga perutnya terasa sakit.

Joonmyeon juga ikut tertawa.

Yang tertangkap hanyalah ikan yang ukurannya  tiga kali lebih kecil dari ukuran ikan yang didapat Nayoung. “Kalian, curang! Kalian pasti bekerja sama mengerjaiku” ucap Tao kesal. Ia tidak terima.

Nayoung tersenyum, ia ingat dulu ia juga seperti Tao. Ia bisa mengerti perasaan Tao yang kesal.

“Memancing itu bukanlah perlombaan, kau harus menikmatinya” ujar Nayoung. Joonmyeon hanya mengangguk membenarkan kata-kata Nayoung. “Hei gadis liar, tidak seperti biasanya mulut mu mengeluarkan kata-kata bijak. Biasanya juga hanya sumpah serapah yang keluar” ujar Joonmyeon, kemudian tersenyum evil. Nayoung hanya mendengus.

“Tapi kata-kata mu memang benar. Kau sudah mengertikan Tao?” tambah Joonmyeon lagi.

Tao hanya mengangguk.

“Aku akan mencobanya lagi” ucap Tao kembali semangat.

Mereka memancing hingga langit sudah mulai berwarna jingga bercampur oranye. Dan Tao dengan mulutnya yang berisik itu akhirnya berhasil mendapatkan ikan yang ukurannya lebih besar dari ikan-ikan yang sebelumnya ia dapatkan.

Nayoung tersenyum, ia merasa seperti mendapatkan kenangan lama, kenangan yang hilang bersama ayahnya dulu.

Andai appa ada di sini, bersama kami…

Pasti akan jauh lebih menyenangkan….

Nayoung menatap danau, entah mengapa ia merasakan perasaan yang aneh.

“Hei bibi, ayo cepat. Kau mau ku tinggal disini ?” seru Tao. Yang sudah bersiap masuk ke dalam mobil. Nayoung manatap Joonmyeon. Ada sebuah senyuman indah yang terukir di sana. Nayoung mengerjapkan matanya, untuk memastika ia tidak salah melihat. Namun senyum itu menghilang.

“Hei gadis liar, cepat” ujar Joonmyeon. Nayoung mem-poutkan bibirnya kesal. Ia berjalan sambil menggerutu karena Joonmyeon terus memanggilnya gadis liar.

KRINGGGG

KRIINNGGGG

KRRRIIINNNGGG

Nayoung langsung terlonjak kaget dari tidurnya. Bagaimana tidak, saat ia melihat jam weker yang berbunyi nyaring itu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dengan segera ia berlari ke kamar mandi. Ia buru-buru mandi dan berpakaian. Setelah berpakaian seragam lengkap dan melingari jam tangan berwarna cokelat ditangannya, ia langsung mengambil tasnya dan langsung melesat menuruni tangga.

Ia langsung menuju meja makan, dan menyambar segelas susu yang ada di meja. Mengambil roti panggang kemudian di masukkan kedalam mulutnya. Ia mngunyah dengan tergesa-gesa. Setelah roti panggang yang ada di tangannya habis, ia langsung meminum susu  untuk melancarkan tenggorokannya yang mapet akibat memakan roti dengan terburu-buru.

Dua pasang mata tampak memperhatikannya, yang satu dengan tatapan takjub dan yang satunya lagi dengan tatapan mengejek. Namun mereka berdua sama-sama heran dengan apa yang mereka lihat.

“Aku berangkat dulu” ujar Nayoung. “Tunggu, apa kau mau pergi k sekolah dengan sandal kodok mu itu?” ujar Joonmyeon. Nayoung menatap ke bawah, tepanya kea rah kakinya.  Ia kembali manatap Joonmyeon, kemudian ia menunjukkan giginya yang putih pada pria itu. “Untung saja kau mengingatkan ku Jumon”. Namun suara gelak tawa terdengar, tawa itu milik Tao. “Bibi kau itu sudah tua ya” ujarnya.

Namun ucapan Tao itu tidak digubris oleh Nayoung. Ia langsung melesat mengambil sepatu dan memakainya. Setelah beres ia berpamitan, “Baiklah, au berangkat” serunya dengan suara lantang agar suaranya terdengar.

Joonmyeon hanya tersenyum sinis, sedangkan Tao masih tertawa karena kejadian tadi. “Hyung, apa ia akan terlambat ke sekolah?” tanya Tao berhenti tertawa dan mulai memasang wajah serius.

Joonmyeon menghentikan kegiatan sarapannya, ia membereskan piring kotor yang ia gunakan termasuk piring dan gelas yang tadi di gunakan Nayoung. Ia lalu mengambil tas dan bersiap berangkat ke sekolahnya.

“Yaaaa…hyung! Akh..kenapa pagi ini tidak ada yang menggubris ucapan dan pertanyaan ku sih?” ujarnya kesal. Ia menghentikan omelannya dan merapikan alat-alat yang ia gunakan untuk sarapan dan bergegas untuk berangkat sekolah.

“Nayoung” panggil sebuah suara saat Nayoung sibuk memperhatikan jam tangannya. Ia berjalan dengan langkah cepat mengingat waktu yang sangat sempit. Nayoung menghentikan langkah cepatnya dan menoleh kearah suara. Disana berdiri pria yang berwajah malaikat, berbeda dengan Joonmyeon dan Tao yang berwajah iblis. Pria itu tersenyum manis kea rah Nayoung, Nayoung membalasnya dengan senyum juga.

“Kau terlambat ya ?” tanyanya masih dengan senyum yang melekat di kedua sudut bibirnya. Nayoung hanya mengangguk malu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Aku juga terlambat, tapi aku senang setidaknya ada yang ku ajak terlambat” ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya. Nayoung diam, ia terpana dengan apa yang tadi pria itu katakan dan lakukan. Ia menatap punggung pria itu.

Aku seperti mengenal senyuman itu…

Nayoung melihat jam tangan, lima menit lagi. “Arrgghhh, lima menit lagi gerbang akan ditutup. Luhan sepertinya kita harus berlari mulai sekarang” ucap Nayoung. Luhan menoleh kebelakang, ia segera menggenggam erat tangan Nayoung. Kemudian mereka berlari bersama sambil bergandengan tangan.

Dan……

Apa daya, pintu gerbang sudah di kunci oleh penjaga sekolah. Ia memegang prinsip murid yang terlambat tidak boleh masuk melewat gerbang yang dijaganya.

Mereka berdua mencoba menghirup udara, karena mereka berlari secepatnya. Mereka sedikit kelelahan karena sepagi ini harus berlari menuju sekolah.

“Mian Nayoung, mungkin kita kurang cepat” ucap Luhan sedikit tersenyum, menutupi rasa bersalahnya. Nayoung tertawa. “Kenapa kau tertawa ?” Luhan bertanya pada Nayoung. “Kau meminta maaf pada ku, padahal bukan kau yang salah” ucap Nayoung. Nayoung menepuk pundak Luhan. Ia meminta Luhan untuk mengikutnya. Luhan mengangguk, karena ia tidak tahu apa yang akan dlakukan oleh Nayoung.

“Kita lewat sini saja” ucap Nayoung, ia  menarik tempat sampah yang ada di dekatnya. Kemudian ia menaiki tempat sampah itu. “Jangan mengintip” seru Nayoung pada Luhan. Luhan tersenyum nakal. Nayoung mulai memanjat tembk yang tidak terlalu tinggi itu. Tidak terlalu susah baginya karena ia lumayan ahli dalam hal panjat memanjat. Sampai akhirnya ia sudah berada di atas.

“Luhan, ayo cepat” ucap Nayoung, Luhan mulai melakukan hal yang sama dengan Nayoung. Mereka berdua akhirnya berada di atas tembok, “Aku turun duluan” ucap Luhan. Ia langsung melompat dari atas dengan selamat. “Ayo, lompat” Luhan mengangat kedua tangannya bersiap menangkap Nayoung. Nayoung tanpa ragu melompat dan ia langsung ditangkap oleh Luhan. “Gomawo” ucapnya. Luhan menganggukan kepalnya samba tersenyum. “Ayo cepat, sebelum kelas di mulai” uca Nayoung, Luhan hanya mengangguk tanda mengerti. Mereka berjalan cepat, namun mencoba untuk tidak menimbulkan suara.

“Ehemmm…” sebuah suara terdengar dari belakang. “Luhan, jangan berisik. Nanti kita kan ketahuan” ucap Nayoung dengan suara kecil. “Bukan aku” ucap Luhan dengan suara yang kecil juga.

“Kalian…ayo ke ruangan saya sekarang”

Nayoung terkejut, ia menoleh ke belakang. Matanya membesar, dan mulutnya terbuka lebar. “Nayoung, jangan pasang wajah seperti itu” bisik Luhan. Nayoung langsung menutup mulutnya. Namun ia masih shock. “Tenang saja, itu hanya Lee songsangnim” ucap Luhan menenangkan Nayoung.

Hanya saja, setiap Nayoung terlambat ia tidak pernah tertangkap seperti sekarang ini.

Disini Nayoung berada, membawa alat-alat perangnya. Ia menghela nafasnya panjang. “Kuping ku sakit mendengar ocehan panjang Lee songsaengnim” keluhnya.

Luhan hanya tertawa mendengar keluhan Nayoung. Ia kemudian mulai menggunakan alat perangnya tanpa banyak mengeluh seperti Nayoung.

“Akkhhh kenapa kita di suruh membersihkan toilet sih ? Kenapa tidak lari keliling lapangan sekolah saja. Itu lebih mudah dari pada membersihkan toilet. Luhan! Kenapa kau mengusulkan untuk membersihkan toilet ?” Nayoung mulai menggerutu kesal karena toilet yang mereka bersihkan merupakan toilet utama yang ukurannya besar.

Luhan hanya tersenyum pada Nayoung. Nayoung terperanjat diam, entah apa yang ia rasakan dalam hatinya.

DEG

DEG

DEG

Aku ingat senyum itu! Senyum itu milik—

 

-TUBERCOLOSIS-  

BIG THANKS TO : TUHAN YANG MAHA ESA karena berkat rahmanyalah author bisa melanjutkan ff ini

HCV_2

HCV_3

Dan juga para readers tercintah

 

 

Behind the scene (disarankan untuk tidak membaca ini tanpa pengawasan para bias) :

HCV_2 : Oi ff lu gimana tuh? Gak ada kabarnya

HCV_1 : Bentar lagi cari sember inspirasi broh,  biarkan wkatu yang menjawab

HCV_2 : Ok deh, tapi diselesaiin ya

HCV_1 : Sip beroh, eh broh buatin cover dong. Buat dipajang dilaptop biar gue kalo kalap make laptop

gue inget sama ff gue terus bisa gue ratapi tu ff

HCV_2 : Aneh-aneh aja lu, ok deh beroh gue buatin

Setelah cover selesai dibuat dan dipajang di laptop HCV_1. Sesuai dugaan HCV_1, ia pun kalap mencari inspirasi dengan menonton anime perang dan pembunuhan. Dan setelah anime yang ada di laptopnya habis di tonton ia pun mematikan laptopnya. Saat mematikan laptop sekitar pukul setengah 1 malam, HCV_1 pun meratapi nasib ffnya yang tidak jelas itu. Karena merasa bersalah ia pun mulai membuat cerita 1 paragraf pendek yang hanya berisi dua kalimat.

HCV_1 : Kapok gue nonton anime sampe kalap begitu, semuanya jadi gak keurus (Sambil garuk-garuk pantat dan ngupil. Dan upilnya itu di temple di baju HCV_2)

 

 

-Thanks for reading-

7 thoughts on “Be My Love (Chapter 4)

  1. luhaaaaannnnn senyumanmu itu manis kekekekeke ^^
    wuahhhh nayoung mulai inget luhan itu siapa ya?
    di tunggu next chpternya ( ^◡^)
    fighting ヽ(^o^)ノ

  2. Setelah sekian lama ff ini ga dilanjutin, akhirnya di update jugaa

    Pingin nyakar Tao dengan Joonmyeon thor! Kesel banget!!

    Wah, Nayoung sudah ingat Luhan nii?

    Next chap nya jgn lama” pls ;_;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s