Our Destiny (Chapter 8)

Our destiny8---vert

Title : Our Destiny | Author : HCV_2

Main cast : Park Ji Eun(OC) Oh Sehun | Other cast : Kim Jong in, Luhan, Shin Taera (OC)

Genre : Romance, sad | Length : Chaptered | Rating : T

 

 

WARNING!! THIS NOT FOR SILENT READERS!!

Annyeoooooooonnggg!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! I’m back! I’m back! I AM BACK!!! Hohoho *pose kyk pahlawan bertopeng* *mulai rusuh*

Huehehehe author gila nista berotak aneh ini kembali lagi dan kali ini membawa cerita yang sudah ngegantung selama berabad-abad OUR DESTINY!!! Hiyaaaaaaa *thor lu ngapain?=_=* Maaf ya author rada gila. Ini karna saking senangnya bisa update-in fanfic ini (╥_╥) Setelah uts usai, tugas dan ulangan jadi ringan bgt disekolah jadi author dpt banyak waktu bwt lanjutin fanfic. Makanya author langsung ngebut ngerampungin plot terus cepet-cepetan nulis takutnya waktu luangnya keburu limited lagi. Dan setelah perjuangan panjang, setelah cukup sering begadang dan nggak nyentuh buku akhirnya author bisa selesein chapter 8 ini (งˆ▽ˆ)ง Duuh rasanya lega bgt. Tapi saya nggak yakin kalo jadinya bagus =_= author malah ngerasa ceritanya agak maksa. Tapi nggak tahu deh menurut kalian gimana.

Tapi ya sudah lah ya. Yang penting fanficnya udah update dan author sudah mengusahakan dengan sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik *caelah* Kalau terjadi kekurangan pada cerita author mohon maaf sekalii *deep deep bow* Siip biar nggak kelamaan *kyknya udah lama* Langsung aja kita capcuss ke cerita~~~~~

HEY YOU SIDERS, IF YOU READ MY FANFICTION?  I’LL KILL YOU!!

 

 

“SEHUNNIE!! BANGUNLAH!!! Kau kenapa? Aku mohon bangun!!” Jieun menggoyang-goyangkan tubuh namja yang terkulai tak sadarkan diri itu. Banyak orang yang melintas didaerah itu, datang mengerumuni mereka.

 

Chapter 8

 

Sore itu, walau sebagian besar siswa sudah meninggalkan sekolah namun tak sedikit yang masih menghabiskan waktunya disekolah untuk bermain, mengikuti ekskul atau mengerjakan tugas bersama teman-teman. Perpustakaan pun hari itu nampak sangat ramai pengunjung. Ada yang sedang mambaca atau hanya sekedar melihat-melihat buku. Semua siswa disekolah tahu bahwa perpustakaan adalah tempat untuk mencari buku, namun tidak untuk yang satu ini. Seorang siswa laki-laki yang malah menggunakan perpustakaan sebagai tempat untuk tidur siang.

 

Drrrt

 

Drrrt

 

Jongin terkisap merasakan ponselnya bergetar. Ia menguap sambil menggeliat, masih dengan mata tertutup. Namun karna ponselnya ngotot untuk segera ditanggapi, dengan perasaan kesal Jongin pun membuka mata lalu merogoh saku celananya. Ia mengintip membaca tulisan yang tertera dilayar ponselnya.

“Ayah?” gumamnya masih dengan mata setengah terbuka. Setelah membenarkan posisi duduknya, ia mengusap layar ponselnya.

“Ne yah ada apa?”

“Kau dimana? Kenapa jam segini belum pulang?”

Jongin menguap sambil menutup mulutnya. Takut jika ayahnya mendengar dan memarahinya karna bersikap tidak sopan. “Ahh iyaya maaf yah, aku ketiduran diperpustakaan.. heheh” Jongin meringis seraya mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk.

“Tsk dasar.. kebiasaan burukmu itu kapan akan berubah eoh?” tanya tuan Kim yang dijawab gelengan kepala oleh Jongin. Sebuah gerakan yang pasti tidak bisa dilihat oleh ayahnya. “Lalu sekarang kau dimana? Sudah mengirimkan berkasnya?”

“Masih diperpustakaan. Berkas? Berkas ap—Ah iya yah.. aku hampir saja lupa! Maafkan aku! Akan segera aku kirim” ceroscos Jongin cepat. Ia meringis sambil menggigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa dia lupa mengantarkan berkas ayahnya?

“Dasar kau ini. Kenapa bisa sampai lupa?! Berkas itu harus segera diisi agar Eunhyuk bisa melengkapi laporannya bulan ini”

“Ne yah. Maaf.. aku janji akan segera mengantarnya”

“Ya sudah. Antarkan sekarang! Jangan lupa beritahu Eunhyuk kalau laporan itu harus diserahkan 2 hari lagi. Mengerti?”

“Ne”

“Dan ingat setelah itu langsung pulang, jangan keluyuran kemana-mana lagi”

“Iya ayah. Sudah selesai belum? Ayah seperti memberi perintah pada anak kecil saja. Cerewet sekali” rungut Jongin dengan nada malas. Ayahnya memberi peringatan ini dan itu, seakan sedang bicara dengan anak kecil.  Dan lagi.. bukankah berkasnya harus cepat diantar?

“Tsk kau ini”

“Ya sudah ya yah. Sampai jumpa dirumah”

 

Pip

 

Jongin memutuskan panggilan ayahnya. Ia tahu ayahnya pasti marah-marah diujung sana, karna menurut ayahnya tidak sopan jika memutuskan panggilan terlebih dulu kalau sedang menelpon dengan orang yang lebih tua. Jongin terkadang kesal karna ayahnya sangat mejunjung tinggi sopan santun, menurutnya itu terlalu primitif untuk hal-hal yang kecil. Bukankah umurnya sudah lebih dari 17thn? Dia sudah tahu bagaimana harus bersikap.

Jongin bangkit lalu merapikan seragamnya. Ia regangkan otot-otot tubuhnya, lalu menerawang kesekelilingnya. Ia sandang tas ranselnya lalu melirik jam tangan di pergelangan kirinya, namja itu pun menyeringai melihat pukul berapa sekarang. Sudah 3 jam dia tertidur dan tidak ada yang mengusiknya, dia yakin tempatnya sangat strategis. Namun seringai itu mendadak hilang saat ia apa yang harus lakukan sekarang. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah namja itu memang mendapat amanat dari ayahnya untuk mengantarkan berkas laporan keuangan untuk kakak sepupunya.

“Aisssh menyebalkan sekali. Andai saja aku punya kakak atau adik, aku pasti tidak akan menderita sendirian seperti ini” gerutu namja itu seraya berjalan keluar perpustakaan.

Dalam perjalanan menuju pintu keluar, Jongin meneliti orang-orang yang ada diperpustakaan sore itu. Ia tertegun ketika menangkap pemandangan dibangku pojok perpustakaan. Ada dua orang murid laki-laki dan perempuan yang sedang terkikik sambil menatap buku didepan meraka. Pemandangan yang menurutnya tidak asing. Benar.. dulu Jieun dan dirinya juga sering melakukan hal seperti itu. Menghabiskan waktu diperpustakaan untuk meminjam buku pelajaran, namun bukannya membaca buku itu mereka malah menertawai gambar-gambar yang sebenarnya wajar namun mereka bayangkan kebentuk yang tidak wajar. Terkadang mereka memodifikasi gambar-gambar pada surat kabar yang tersedia diperpustakaan menjadi gambar yang lucu. Kemudian untuk menghindari kemarahan petugas perpustakaan, mereka meletakkan surat kabar yang dicorat-coret itu pada tumpukan terbawah.

Jongin terkekeh sendiri mengingat kebiasaan buruknya dengan Jieun itu. Tidak tahu sudah berapa banyak surat kabar yang mereka corat-coret. Yang jelas sampai sekarang mereka masih belum ketahuan. Sambil mengingat-ingat kejahilan mereka disekolah, tanpa sadar kakinya sudah membawanya sampai ditempat parkir. Ia berhenti tepat disebelah mobilnya. Jongin menghela nafas seraya bersandar dimobil.

“Kurasa itu tidak akan pernah terulang” ucapnya lirih. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Mengingat Jieun kini sudah jadi milik seseorang membuat pikirannya melayang. Melayang kejaman dimana dulu ia berkhayal bagaimana jika ia menjadi kekasih Jieun, berkhayal tentang hal-hal apa yang akan ia lakukan saat Jieun sudah resmi menjadi kekasihnya. Jujur.. dulu dia sering berkhayal tentang hal seperti itu, tapi sekarang? Semua itu..―Pupus

Sejenak Jongin memejamkan matanya seraya mengambil nafas. Ia buka mata lalu menghela nafasnya. Namja itu mengepalkan tangan seraya mengangguk mantap. Mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa menemukan cinta sejatinya suatu saat nanti.

“Pasti” gumamnya pelan lalu berbalik arah meninggalkan mobilnya. Setelah keluar dari gerbang sekolahnya, ia berbelok kekanan menuju halte bus. Tepat saat dia sampai dihalte tersebut, bus datang. Ia naik lalu duduk dibangku belakang dipojok kiri.

Jongin bersandar pada jendela disebelahnya, menatap pemandangan diluar jendela. Entah kenapa pikirannya menerawang, membayangkan hal yang lagi-lagi hanya membuat hatinya perih. Airmata begitu saja terjatuh dipipinya, Jongin tersentak lalu segera menghapusnya. Tentu saja! Laki-laki menangis? Itu memalukan.

15 menit kemudian, bus berhenti. Sekitar 500m lagi untuk sampai dibar milik kakak sepupunya. Jongin berjalan sambil merapatkan jas sekolahnya. Udara malam itu cukup dingin, mungkin karna musim dingin sebentar lagi datang. Sesekali Jongin mengadahkan kepala menatap langit malam yang penuh bintang. Ia ingat, Jieun sering menatap bintang jika gadis itu mulai merasa kesepian. Jujur.. sebenarnya ia ingin sekali menghubungi Jieun saat ini, namun berulang kali ia mengurungkan niatnya. Setahunya Jieun sedang bersama Sehun, jadi dia tidak ingin mengganggu.

“Hyung?!” seru Jongin saat masuk kedalam bar dan melihat kakak sepupunya yang sedang berbincang dengan salah seorang karyawan. Kakak sepupunya menoleh lalu tersenyum.

“Akhirnya kau datang Jonginnie. Kemana saja kau? Sejak tadi ayahmu terus menelpon menanyakan kau sudah datang atau belum”

Jongin meringis sambil mengelus tengkuknya, “Heheh.. maaf. Aku kemari naik bus jadi agak sedikit lama”

“Ya sudah. Kalau begitu mana berkasnya?” tanya namja bermata sipit itu sambil mengulurkan tangannya. Jongin pun segera merogoh tas guna mengambil berkas yang diberikan ayahnya pagi tadi. Ia keluarkan sebuah amplop besar berwarna coklat lalu menyerahkannya pada Eunhyuk.

“Ayah bilang berkas itu harus diserahkan 2 hari lagi hyung”

“Hmm.. baiklah” ucap Eunhyuk sambil mengechek berkas-berkas yang dibawa adik sepupunya itu. Ia mengangguk setelah merasa berkasnya lengkap lalu memasukkan kembali.

“Hmm$%&#@1&%#”

Jongin menangkap sebuah gumaman aneh ditelinganya. Ia menoleh mengikuti sumber suara dan melihat seorang gadis tengah mabuk dibangku yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia mengernyit melihat gadis itu, merasa seperti mengenalnya.

“Tsk.. gadis itu. Sejak tadi belum berhenti minum juga” decak Eunhyuk saat matanya mengikuti arah kemana Jongin menoleh.

“Siapa hyung?”

“Tidak tahu. Sejak tadi siang dia minum disini. Entah sudah berapa botol yang dia habiskan. Dia kuat sekali. Sudah berulang kali kami mencoba untuk menyuruhnya berhenti tapi dia tetap bersikeras” sahut Eunhyuk sambil menggeleng heran. “Oya? Seragam sekolahnya sama sepertimu Jong. Cobalah kau lihat, siapa tahu kau mengenalnya. Hentikanlah dia. Tidak baik kalau dia minum terus seperti itu” lanjut Eunhyuk mencoba meminta tolong pada Jongin. Tapi namja berkulit gelap itu hanya diam, masih berusaha mengenali gadis itu seraya menimbang ucapan kakaknya.

“Sehunnie kau jahat. Kau sudah#$%*!@#^&”

 

Deg

 

Jongin terpaku, “Shin Taera?”

“Kau mengenalnya?”

“Ya, dia teman sekelasku. Sebentar biar kupastikan” ucap Jongin seraya berjalan menghampiri Taera. Perlahan Jongin mendekat, gadis itu nampak kusut dan berantakan. Bau alkohol menyeruak hingga membuat hidung Jongin terasa panas. Jongin meringis sambil menutup hidungnya ketika sampai dibangku Taera.

“Shin… Taera? Kau kah itu?”

Taera mendongak, “Oh Hai. Kau Jongin kan? Hahaha.. teman senasib. Bagaimana aku bisa juga ada disini? Ahhh aku tahu, kau pasti ingin minum juga kan? Kau tahu, minum bisa melepas semua stressmu” ucap Taera setengah sadar. Nada bicaranya terseret seperti sedang bergumam.

“Taera’ah kau minum terlalu banyak. Ayo hentikan” sahut Jongin seraya berusaha mengangkat tubuh Taera. Bermaksut mengajak gadis itu pergi namun gadis itu menepis tangan Jongin.

“Ahhh aku tahu aku tahu. Kau mana mungkin butuh minuman seperti ini. Kau kan tidak sebodoh diriku. Aku orang bodoh yang membuat semua ini terjadi namun juga orang yang menangisinya. Cih.. aku memang orang tidak tahu diri. Berbeda denganmu, kau lebih baik dariku. Bahkan sangaaaaaaat jauuuuh” Taera melebarkan tangannya seolah mempertegas kata jauh yang ia maksutkan. Jongin hanya menggaruk kepalanya bingung. Tak tahu bagaimana cara mengangkut gadis yang mabuk berat itu.

“Jieun tidak membencimu. Jieun masih menganggapmu sebagai sahabat baiknya. Dia masih bisa tersenyum padamu, bicara dan berbagi denganmu. Tapi aku? Cih.. kurasa menatapku saja Sehun tidak akan sudi” lanjut gadis itu seraya menunduk. Raut wajahnya berubah sedih dan matanya mulai berkaca-kaca.

Jongin menghela nafas seraya duduk didepan gadis itu, mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini. Ia tahu keadaan ini pasti berat untuk Taera. Ia tahu jadinya pasti akan seperti ini, “Taera’ah berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Ini tidak sepenuhnya salahmu. Kau hanya perlu mengambil sisi positifnya”

“Eh? Bagaimana bisa aku berhenti menyalahkan diriku sendiri? Sekarang Sehun membeciku Jongin’ah. Karna siapa? Karna kebodohanku sendiri. Kurasa aku sudah terlihat sangat menjijikan dimatanya sekarang” suara isakan perlahan mulai terdengar dari mulut gadis itu. Butiran kaca cair juga sudah mengalir deras dipipi putihnya.

Taera mengusap airmatanya, “Kau tahu Jongin’ah? Saat pertama kali aku mendengar Jieun adalah takdir Sehun, aku sangat sedih dan kecewa. Entah kenapa rasanya hatiku sangat perih. Seketika aku kehilangan akal sehatku, semuanya ingin kulakukan agar Jieun menjauh. Agar dia tidak bisa bersama Sehun. Rasanya ingin sekali melenyapkan Jieun selamanya. Aku gila kan?” Taera diam sejenak, ia tersenyum seolah menertawakan dirinya sendiri sekaligus berusaha membenarkan suaranya yang mulai bergetar. “Aku menyukai Sehun sejak kecil. Mungkin orang berpikir cintaku saat itu hanya cinta lumrah seorang anak kecil. Tapi itu salah.. karna sejak kecil Sehun sudah selalu memenuhi otakku. Sejak kecil ia menjadi patokan dalam hidupku. Berbuat baik agar Sehun merasa kagum, menjadi pintar agar Sehun bangga padaku, semua dilakukan untuk Sehun. Sehun, Sehun dan Sehun. Hidupku seolah hanya terpatok padanya. Namun apa? Semua itu hanya hal sia-sia. Aku merasa Tuhan tidak adil Jongin’ah. Aku yang bekerja keras kenapa tidak mendapatkan apapun? Tapi kenapa Jieun yang sejak awal hanya duduk manis malah mendapatkan semuanya? Kenapa?”

Tangis gadis itu akhirnya pecah. Ia terisak sambil membenamkan wajahnya di kedua tanganya yang terlipat diatas meja. Jongin hanya bisa menghela nafas. Sungguh saat ini ia merasa sedang bercermin. Kejadiannya benar-benar sama, apa yang Taera alami persis seperti kisah hidupnya. Tapi bedanya, Jongin bisa menjaga emosinya untuk tidak melakukan hal sejauh Taera. Hingga nasibnya bisa lebih baik dari gadis berambut kemerahan itu.

“Jangan menyesali semua yang sudah terjadi Taera’ah. Kau memang tidak bisa mengubahnya, tapi kau masih bisa memperbaikinya”

“Bagaimana? Bisakah  kau memberitahuku bagaimana caranya Jongin’ah? Sehun sudah terlanjur membeciku, baginya sudah tidak ada maaf untukku lagi”

“Pasti ada.. Sehun tidak mungkin sekejam itu. Aku yakin Taera’ah..”

 

 

¶¶¶¶¶

Airmata mengalir deras diwajah manis seorang gadis yang tengah menunggu dengan kecemasan yang mencapai tingkat maksimal. Dengan gelisah ia menunggu didekat ruang UGD disebuah rumah sakit. Jantungnya tak bisa berhenti bergemuruh, darahnya mendidih dan hatinya sungguh gelisah. Menunggu sang terkasih yang tiba-tiba jatuh pingsan tak sadarkan diri dan kini sedang mendapat pertolongan medis. Ia tak bisa menahan isakannya, terlalu cemas akan hal yang akan terjadi pada kekasihnya. Apalagi saat ini ia hanya sendirian, tak ada yang menjadi tumpuan untuk bersandar.

Dengan tangan yang gemetaran Jieun mencoba menghubungi lagi. Menghubungi seseorang yang paling ia harapkan ada disisinya saat ini. Seseorang yang paling bisa membuatnya lebih tenang.

“Jonginnie kau dimana?” lirih Jieun ketika panggilannya tak mendapat balasan. Ia menghela nafas lalu menunduk. Pikirannya melayang, tak bisa berhenti memikirkan hal buruk yang seharusnya dibuang jauh-jauh. Pikirannya kalut.. situasi ini sungguh sangat tak ia harapkan.

Baru 10 menit.. tapi rasanya sudah 10 jam, dokter yang menangani Sehun belum juga keluar ruangan. Jieun sudah menghubungi Luhan dan Jongin, Luhan bilang dia sudah dalam perjalanan. Tapi Jongin? Sudah hampir 15 kali Jieun menelpon, namja berkulit gelap itu tidak juga menjawabnya. Pesan pun sama sekali tak dibalas. Jieun mulai putus asa.. berteriak dalam hati, kenapa disaat seperti ini sahabatnya itu malah tidak bisa dihubungi?

“Jieunnie?!”

Jieun mendongak saat telinganya mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh kesumber suara dan melihat seorang namja cantik tengah berlari kearahnya. Kesesakkan sedikit memberinya celah untuk bernafas, akhirnya ada yang menemaninya sekarang.

“Luhan oppa” ucap Jieun parau. Luhan berhenti didepan Jieun seraya menetralkan deru nafasnya. Ia tatap wajah Jieun yang penuh airmata, entah kenapa hatinya merasa perih. Tak cukup mendapat pukulan berat bahwa adiknya masuk rumah sakit, ia semakin terpukul melihat gadis yang dicintainya terlihat kacau.

Luhan menunduk lalu menangkup wajah Jieun. Menghapus airmata yang mengalir deras diwajah gadis itu. “Sudah tidak apa-apa.. Sehun akan baik-baik saja. Aku yakin” ucap Luhan lembut. Bukannya berhenti, Jieun malah semakin terisak.

“Ini semua salahku oppa. Kalau saja aku tidak membiarkan Sehun mengendarai sepeda sejauh itu, dia pasti tidak akan seperti ini” ucap Jieun disela isakkannya. Perlahan Luhan membawa gadis itu kedalam dekapannya. Berharap gadis itu merasa lebih tenang.

“Tidak.. kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri Jieunnie. Mungkin kodisi Sehun memang sedang tidak baik hari ini. Ini sama sekali bukan salahmu”

“Tapi oppa bagaimana kalau Sehun—“

“Sssst.. kau jangan berpikiran seperti itu. Sehun adalah namja yang kuat. Aku yakin dia akan baik-baik saja” ucap Luhan lembut sambil mengelus-elus rambut panjang Jieun. Jieun pun mulai merasa tenang, ucapan semangat seperti itu memang ampuh untuk kondisi seperti ini. Perlahan Luhan melepas pelukannya lalu duduk di sebelah Jieun.

“Orangtua kalian… tidak kemari?” tanya Jieun hati-hati. Luhan menoleh lalu tersenyum.

“Tidak, mereka sedang di China. Aku tidak menghubungi mereka karna tidak ingin membuat mereka khawatir”

Jieun mengangguk, “Begitu..”

“Oya? Sejak tadi kau hanya sendirian disini?” tanya Luhan yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Jieun.

“Orang yang membantu kami sudah pergi. Dia bilang sedang ada urusan penting” lanjut Jieun seraya menunduk. Matanya masih terasa panas, walau ia sudah mulai tenang tapi airmata masih begitu memenuhi pelupuk matanya. Sulit untuk dibendung. Ia tidak ingin Luhan cemas melihatnya menangis lagi, karna itu ia bermaksut menyembunyikannya. Seketika hening menguasai, keduanya diam seolah kehabisan topik pembicaraan. Luhan juga masih sangat berhati-hati, berusaha untuk mengontrol perasaannya.

“Sehun memang sering seperti ini..” ucap Luhan yang akhirnya memecah keheningan yang sempat terbentuk. Jieun tersentak lalu menoleh kearah Luhan. Ia tatap Luhan yang tengah memandang tembok didepannya. Tatapan namja itu terlihat sendu.

“Seperti yang kau tahu, setiap kali kelelahan Sehun sering mimisan dan pingsan. Bahkan ia pernah koma. Kami tahu dia lelah dengan penyakit ini. Sejak awal tahu kalau kankernya sudah stadium akhir, kami sudah membujuknya untuk kemoterapi setelah mengikuti operasi. Tapi seperti yang kau tahu juga, Sehun orang yang keras kepala. Sekali dia bilang tidak maka tidak ada yang bisa kami lakukan”

“Kenapa dia tidak mau dikemo?”

Luhan tersenyum simpul, “Dia bilang dia tidak mau rambutnya rontok lagi. Dia bilang dia tidak mau ketampanannya hilang lagi. Katanya dia sudah menderita dengan penyakit ini, sekarang hanya wajah tampan yang dia punya. Haruskah dia kehilangan ketampanannya juga? Itu yang selalu dia katakan. Dia bilang sudah cukup merasakan penderitaan dikemoterapi sebelumnya, dia tidak ingin kesakitan itu diulangi lagi” jelas Luhan sembari menatap Jieun lembut. Jieun hanya menghela nafas, kesesakkan tak kunjung hilang dari dadanya. Mendengar cerita Luhan tadi membuat hatinya semakin perih. Kenapa harus kekasihnya? Kenapa harus Sehun yang menderita seperti itu?

 

Ceklek

 

Pintu ruang UGD tiba-tiba terbuka, seorang dokter keluar dengan raut wajah yang cukup sulit diartikan. Jieun dan Luhan bangun lalu menghampiri dokter tersebut. Luhan didepan dan Jieun berada satu langkah dibelakangnya.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Luhan tanpa basa-basi. Dokter itu hanya menghela nafas, membuat Jieun dan Luhan semakin berharap-harap cemas.

“Dia sudah membaik” ucap dokter itu akhirnya. Luhan dan Jieun pun mampu bernafas lega. Secercah kecerahan muncul di wajah keduanya.

“Namun keadaannya cukup sulit. Kami harus melakukan CT scan secara berkala untuk memastikan perkembangan sel kankernya. Dia akan dipindahkan ke ruang perawatan dan harus mendapat perawatan intensif agar kondisinya tidak memburuk lagi” lanjut laki-laki paruh baya berusia kira-kira 35thn itu. Luhan mengangguk mengerti sementara Jieun lagi-lagi hanya menghela nafas. Dia senang Sehun sudah membaik, tapi kondisi itu apakah akan bertahan lama?

“Kami akan usahakan yang terbaik” ucap sang dokter sembari menepuk pundak Luhan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Luhan dan Jieun. Sepersekian detik setelahnya, dua orang suster keluar dengan membawa Sehun yang masih tertidur menuju ruang perawatannya. Luhan berbalik lalu menatap Jieun yang tak bisa melepaskan tatapannya dari Sehun.

“Lebih baik kau pulang” ucap Luhan yang sontak membuat Jieun menoleh.

“Eh? Tapi aku..”

“Aku tahu kau pasti lelah. Tapi Sehun sudah tidak apa-apa, biar aku yang menjaganya. Besok kau juga masih harus sekolah kan? Kau lebih baik istirahat. Biar aku hubungi Jongin untuk menjemputmu kemari” Luhan merogoh sakunya, mengambil ponsel bermaksut untuk menelpon Jongin. Namun baru saja akan menekan tombol, Jieun seketika mencegahnya.

“Tidak apa-apa biar aku pulang naik taksi saja”

“Baiklah.. kalau begitu biar kupanggilkan”

 

 

¶¶¶¶¶

Jongin berjalan gontai memasuki rumahnya sambil menepuk-nepuk punggungnya yang terasa pegal. Seperti biasa banyak pelayan rumahnya yang menyambut kedatangannya. Menanyakannya berbagai macam hal yang mungkin perlu disiapkan namun Jongin hanya diam, malas untuk menanggapi jika memang ia tidak butuh apapun. Ia baru saja pulang sehabis mengantar Taera pulang keistananya. Menggendong gadis itu agar dengan selamat sampai dirumah membuat punggungnya pegal. Jarak rumah gadis itu cukup jauh, dan sialnya mereka sama-sama tidak membawa mobil.

“Akkh.. apa aku sudah setua itu?” gumam Jongin seraya menaiki tangga rumahnya sambil terus menepuk-nepuk punggungnya. Pikirannya masih belum bisa lepas dari Taera.  Ia prihatin pada gadis itu. Memang benar kalau ternyata Tuhan sangatlah adil. Taera gadis yang cantik, kaya raya dan juga pintar tapi kekurangan gadis itu terletak pada kisah cintanya. Terlalu menyedihkan.. sama seperti dirinya? Iya.. Jongin merasa mereka senasib.

Jongin merebahkan diri diKingbed-nya, menatap langit-langit kamarnya intens. Pikirannya melayang, dan kata-kata Taera melintas diotaknya.

“Aku akan menyerah.. Aku terlalu lelah Jongin’ah”

Kalimat itu terus terngiang ditelinga Jongin. Entah kenapa seperti memprovokasinya untuk melakukan hal yang sama. Jongin menghela nafas, ia raih figura foto yang terpajang dimeja sebelah ranjangnya. Menatap foto difigura tersebut dengan tatapan sendu. Foto yang memperlihatkan gambarnya dengan Jieun pada masa sekolah dasar. Senyum manis keduanya mengembang, senyum seorang anak kecil yang terlihat masih begitu murni.

“Kenapa tumbuh dewasa itu rumit Jieunnie? Tidak bisakah kita tetap seperti dulu?” ucap Jongin sambil mengusap foto tersebut. Ia tersenyum sekilas lalu meletakannya kembali. Lagi-lagi ia hanya menghela nafas lalu berjalan kearah rak buku dipojok kamarnya. Ia ambil salah satu buku tebal lalu mencari pertengahan buku tersebut. Terdapat secarik kertas disana, kertas berwarna soft pink yang manis. Jongin tersenyum simpul lalu membuka kertas itu.

 

Hai Jieunnie^^

Selamat ya! Lagi-lagi kau berhasil meraih juara kelas. Waah Jieunnie ku memang hebat! Kau tidak pernah melewatkan setiap tahunmu ya? hahaha tidak seperti aku, Hyuna atau Hyunji -_- meraih 10 besar saja suatu keajaiban untuk kami. Aku ingin sekali memberimu hadiah Jieunnie tapi aku bingung ingin memberimu apa. Aku merasa kau begitu istimewa hingga hadiah dalam bentuk apapun rasanya tidak pantas untukmu. Aku berlebihan ya Jieunnie? Heheheh

 

Jongin terkekeh sendiri membaca tulisannya. Surat yang ditulis diakhir tahun keduanya di SMA. Sebenarnya sedikit merasa dirinya sendiri menjijikan. Sangat pengecut. Untuk apa mengungkapkan hal seperti itu saja harus dengan surat? Jongin berjalan kearah sofa berwarna merah maroon didekat jendela kamarnya lalu melanjutkan bacaannya.

 

Tapi sebenarnya bukan itu tujuanku mengirim surat ini Jieunnie. Ada sesuatu yang ingin sekali aku ucapkan, tapi entah kenapa sangat sulit bagiku untuk mengungkapkannya langsung padamu. Karna itu aku menulis surat. Sudah lama sekali aku memendamnya.. memendam perasaanku padamu. Sejak kecil sebenarnya aku sudah menyukaimu. Tapi karna aku terlalu pengecut baru sekarang aku berani mengatakannya. Mengatakan bahwa aku menyukaimu ah bukan sekarang sudah jadi.. Aku mencintaimu Jieunnie…

Maukah kau menjadi kekasihku?

 

―Jongin―

 

Jongin berdecak setelah selesai membaca suratnya. Ia bersandar disofa lalu mengarahkan pandangannya pada pemandangan diluar jendela. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Kenapa waktu itu ia harus membatalkan niatnya untuk memberi surat itu pada Jieun? Bukankah tidak kecil kemungkinan jika Jieun akan menerimanya pada saat itu. Saat ketika Jieun belum bertemu dengan takdirnya―Sehun.

 

Tok

 

Tok

 

Jongin tersentak ketika tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Ia menoleh dan melihat pintu kamarnya perlahan terbuka. Ayahnya datang berkunjung dan Jongin pun segera membenarkan posisi duduknya.

“Ayah?”

“Bagaimana? Berkasnya sudah kau antar?” tanya ayahnya seraya berjalan menghampiri Jongin.

Jongin mendengus, “Kesini hanya ingin menanyakan soal itu? Kenapa tidak tanya pada Eunhyuk hyung saja agar lebih pasti? Ayah tidak takut aku berbohong?” sahut Jongin malas sambil menghempaskan tubuhnya lagi. Ia kira ayahnya datang untuk apa, ternyata hanya menanyakan hal itu lagi.

Tuan Kim tersenyum, “Tsk.. kau ini. Ayah kan hanya memastikan. Kenapa tanggapanmu seperti itu eoh?” ucap tuan Kim sembari mengambil tempat disebelah putranya.

“Itu karna ayah seperti meragukanku”

“Tentu saja tidak. Ayah mempercayaimu Jonginnie.. sangat” ucap laki-laki berumur 45thn itu sambil mengacak-acak rambut putra satu-satunya itu. Jongin hanya mengangguk malas. “Oya? Ayah dengar kau pulang tidak membawa mobil. Dimana mobilmu?”

“Aku tinggal disekolah. Aku sudah meminta supir Hong untuk mengambilnya” jawab Jongin sambil memainkan kertas ditangannya. Gerakan yang menarik perhatian ayahnya.

“Apa itu? Boleh ayah lihat?”

“Ah bukan apa-apa yah” dengan sigap Jongin menghindar dari gerakan ayahnya yang hendak merebut kertas itu dari tangannya.

Melihat respon anaknya, tuan Kim hanya tersenyum penuh makna, “Surat cinta ya?” tanya tuan Kim menyelidik membuat Jongin mendadak salah tingkah.

“Bukan” tandas Jongin cepat dengan nada yang terdengar gugup. Ayahnya hanya tersenyum, mengerti dengan situasi itu. Walau Jongin bilang tidak tapi matanya menjawab ‘Iya’. Walau sebenarnya ingin lebih lama menggoda putranya, namun tuan Kim lebih memillih untuk tidak membahasnya lagi.

“Baiklah ayah mengerti” ucap tuan Kim yang dibalas helaan nafas dari Jongin. “Jonginnie? Bagaimana kabar Jieun? Sudah lama sekali ayah tidak bertemu dengannya”

Jongin tersenyum kecut, kenapa mendadak membahas Jieun? Tidak adakah topik lain? “Dia baik-baik saja. Bahkan sepertinya sedang sangat baik. Ayah tau? Dia baru saja punya kekasih” ucap Jongin dengan nada yang dibuat senang. Sedikit terkejut, mengapa malah topik itu yang dia bahas? Tapi ya.. menurutnya ayahnya perlu tau tentang hal itu. Karna ayahnya sangat menyayangi Jieun, dia pasti ingin tahu siapakah orang yang mungkin akan menjadi pendamping hidup gadis itu.

Ayahnya sontak menoleh sambil mendelik, “Benarkah?” tanya tuan Kim yang dijawab anggukan mantap dari Jongin.  “Waaah siapa pemuda hebat yang berhasil meruntuhkan pertahanan Jieunnie?”

“Namanya Oh Sehun yah. Dia anak salah satu konglomerat korea”

Tuan Kim nampak berpikir, seolah berusaha mengenali nama Sehun, “Ahh keluarga Oh ya? Sepertinya ayah tau. Dia memiliki kakak laki-laki kan?”

“Ne. Namanya Luhan”

“Oh ayah pernah bertemu dengan kakaknya di seminar. Baguslah.. ayah yakin keluarga Oh adalah keluarga yang baik” ucap tuan Kim sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Jongin juga hanya mengangguk. “Lalu kau bagaimana?”

Jongin tertegun, ia menoleh dengan tatapan bingung. “Eh?”

“Ayah pikir kau menyukai Jieun”

 

Deg

 

Jongin terdiam, pertanyaan ayahnya berhasil membuat bibirnya kelu. Terkejut kenapa ayahnya bisa mengetahuinya. Apa terlihat begitu jelas? Jongin diam sepersekian detik, ia memikirkan jawaban yang bagus. Lebih baik menjawab Iya lalu ketahuan kalau ia sedang patah hati atau menyangkalnya lalu bersikap seolah semuanya baik-baik saja?

“Aku sudah merelakannya yah” ucap Jongin akhirnya setelah diam cukup lama. Ayahnya sontak tersenyum lalu menepuk pundak putranya.

“Putra ayah memang hebat. Bukankah lebih bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia?” ucap ayahnya lembut. Membuat Jongin merasakan kehangatan dihatinya. Dia dan ayahnya memang sangat dekat, membuat Jongin merasa nyaman bercerita pada ayahnya. Dan itu membuat tuan Kim sangat mengerti bagaimana perasaan putranya.

“Kau pasti akan menemukan takdirmu nanti Jonginnie”

“Ne yah.. aku tahu”

“Ya sudah ayo turun, sepertinya makan malamnya sudah siap” ucap tuan Kim seraya bangkit dari duduknya. Baru saja berjalan selangkah, panggilan Jongin membuat tuan Kim berhenti.

“Ada apa?”

“Aku sudah mempertimbangkan penawaran ayah. Aku.. mau sekolah ke Amerika”

Tuan Kim tersenyum, “Ayah ingin mengirimmu ke Amerika untuk sekolah bukan untuk pelarian. Kau mengerti itu kan?”

Jongin menghela nafas lalu mengangguk. “Aku mengerti yah. Sudah kubilangkan aku sudah mempertimbangkannya? Aku tidak akan mengecewakan ayah” ucap Jongin sambil menatap tegas ayahnya. Seolah memperlihatkan kemantapan hati akan keputusannya.

“Baiklah jika memang itu keputusanmu. Ayah akan persiapkan segalanya, mungkin dalam 2 minggu kau bisa berangkat”

“Apa?! Dua.. Dua minggu?!”

“Apa dua minggu terlalu cepat? Kalau memang kau belum siap ayah akan—“

“Tidak yah. Aku setuju. Aku berangkat 2 minggu lagi”

 

 

¶¶¶¶¶

 

Ceklek

 

Perlahan Luhan melangkahkan kaki memasuki ruangan adiknya. Berusaha untuk tidak mengganggu istirahat sang adik yang masih terkulai lemas diatas ranjang. Dengan perasaan setengah lega Luhan berjalan menghampiri Sehun. Ia tatap adik sematawayang itu intens seraya menghela nafas. Ia baru saja mengantar Jieun pulang. Sedikit khawatir karna sepertinya gadis itu terlihat masih begitu memikirkan Sehun, ia takut terjadi sesuatu pada gadis yang jujur masih begitu ia cintai itu.

Luhan memejamkan mata sejenak berusaha untuk menenangkan pikirannya. Dia bilang ia sudah merelakan Jieun, memaafkan Sehun yang sempat salah paham padanya. Tapi mengapa hatinya masih begitu berat? Ia lalu berjalan kearah jendela untuk menutup korden. Namun ia terkesiap ketika pintu ruangan tersebut tiba-tiba terbuka. Namja berwajah cantik itu berbalik dan melihat seorang suster muncul dibalik pintu.

“Permisi.. apa anda wali saudara Oh Sehun?” tanya sang suster ramah.

Luhan mengangguk, “Iya, ada apa?”

“Dokter Han ingin menemui anda diruangannya”

“Ah baiklah” setelah menutup korden, ia kemudian berjalan mengikuti suster tersebut menuju ruangan dokter Han yang mengatasi Sehun. Sedetik ia menoleh kearah Sehun kemudian menutup pintu.

Dengan langkah pelan Luhan mengikuti suster tersebut. Sedikit berharap-harap cemas sebenarnya, takut jika apa yang ingin dibicarakan sang dokter adalah hal buruk tentang kondisi adiknya. Seraya menelusuri koridor rumah sakit itu, Luhan perhatikan beberapa orang yang berlalu lalang. Luhan tersenyum melihat beberapa pasien anak kecil yang tengah berlarian dikoridor, bermain dengan teman seusianya atau menghabiskan waktu bersama keluarganya. Ada juga beberapa suster dan dokter rumah sakit yang tengah mengobrol dengan beberapa pasien. Pemandangan hangat yang membuat hati Luhan berdesir.

Saat tengah asik memperhatikan orang-orang disekelilingnya, tiba-tiba mata Luhan terpaku pada pemandangan didepannya. Entah kenapa matanya tak bisa lepas dari senyum orang itu. Senyum manis seorang gadis yang sedang bermain bersama seorang gadis kecil dikursi roda. Senyum gadis itu terlihat begitu tulus. Sebuah senyuman yang terasa begitu familiar dimatanya. Luhan hanya tersenyum, lalu mengembalikan fokus matanya untuk berjalan.

“Sebutkan kata kuncinya!”

 

Deg

 

Luhan terdiam, kakinya seketika berhenti melangkah. Darahnya mendidih dan jantungnya berdetak cepat mendengar teriakan itu. Sontak dengan sigap ia berbalik lalu menerawang kesekelilingnya. Mencoba mencari tahu dari mana asal teriakan tadi. Teriakan yang melontarkan kata-kata yang sangat ia kenal. Namun.. ―Nihil. Tak menemukan apapun, Luhan hanya menghela nafas. Tapi walau tak yakin, entah kenapa matanya lagi-lagi tertuju pada gadis itu. Ia tatap gadis yang tengah membagi-bagikan balon tersebut. Senyum itu.. sungguh membuat hati Luhan bergemuruh.

“Permisi.. kita sudah sampai. Anda boleh masuk” ucap suster yang mengantarnya. Luhan terkesiap lalu berbalik. Sekali lagi suster tersebut mempersilahkan Luhan untuk masuk keruangan didepannya. Luhan pun mengangguk seraya memasuki ruangan itu.

“Anda wali Oh Sehun?” tanya sang dokter menyambut kedatangan Luhan. Lagi-lagi namja itu terkesiap. Pikirannya mendadak tidak fokus akibat penasaran dengan kata-kata yang baru saja ia dengar. Luhan mengangguk gugup lalu duduk dibangku.

“Aku kakaknya dok”

“Begini.. tadi dokter pribadi Sehun sudah menelpon. Dia bilang dia akan membiarkan Sehun dirawat disini. Kami akan bekerja sama untuk merawatnya. Apa kau setuju?” ucap dokter Han memberi informasi. Luhan hanya mengangguk seraya tersenyum.

“Ah baiklah. Apapun yang baik untuk Sehun dok” jawab Luhan ramah. Dia yang sebenarnya menelpon dokter Lee, dokter pribadi Sehun. Tidak Luhan sangka dokter Lee malah menghubungi dokter Han.

“Selain itu, ada beberapa yang ingin saya sampaikan tentang kondisi Sehun saat ini..” ucap dokter Han dengan raut wajah yang berubah serius. Luhan menelan salivanya kasar seraya membenarkan posisi duduknya. “Kami melihat perkembangan sel kankernya sudah parah. Seperti yang kita tahu, kanker Sehun sudah stadium akhir. Dan parahnya lagi sel kankernya sudah mulai menyebar keorgan lain. Kami takut penyebarannya akan meluas dan akan merusak organ lain ditubuhnya..”

Luhan hanya diam, ia kehilangan seribu bahasanya. Inilah hal yang paling ia takutkan. Saat-saat ketika penyakit adiknya sudah diambang batas maksimal. “Tidak adakah cara untuk menyebuhkannya dok?”

Sepersekian detik dokter Han diam lalu kembali menatap Luhan, “Aku dengar setelah mengetahui kankernya masuk stadium akhir dan mengikuti operasi, Sehun tidak mau mengikuti kemo?”

Luhan mengangguk lemah, “Iya dok”

“Itu sangat disayangkan. Seharusnya setelah operasi, ia melanjutkannya dengan kemoterapi. Walau tidak 100 persen tapi kemoterapi mampu membersihkan sisa-sisa sel yang belum terangkat. Atau paling tidak kemoterapi bisa menghambat perkembangan sel kankernya”

Luhan menunduk, “Sehun anak yang keras kepala dok. Karna pernah gagal dengan kemoterapi saat kankernya masih stadium 3 dia merasa mengikuti kemoterapi adalah hal yang sia-sia. Dia bilang percuma menghamburkan uang, menahan kesakitan dan penderitaan jika akhirnya sel kankernya tumbuh lagi”

Dokter Han menghela nafas lalu menatap Luhan lurus-lurus. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk Sehun” ucap dokter Han lembut. Luhan hanya mengangguk lemah. Tak tau harus menjawab apa. Sangat terpukul karna keadaan seperti ini.

“Baiklah dok.. kalau begitu aku permisi dulu” pamit Luhan seraya bangun dari duduknya. “Aku mohon tolong bantu adikku” lanjutnya dengan raut wajah memohon.

Dokter Han mengangguk mantap, “Aku akan berusaha” sahut dokter tersebut sebelum akhirnya Luhan keluar dari ruangannya.

Setelah kembali menutup pintu, Luhan bersandar. Kakinya terasa begitu lemas bahkan pikirannya mulai tidak tenang. Ia pejamkan matanya sambil memijat-mijat pelipisnya. Kenapa masalah begitu beruntun? Baru saja masalah kisah cinta Sehun dan Jieun terselesaikan, kini mereka harus mendapat masalah baru karna kondisi Sehun yang memburuk? Luhan mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia menegakkan kembali tubuhnya lalu melangkah kaki untuk kembali kekamar Sehun.

 

Bugh

 

“Akkh..”

Tiba-tiba ia mendapat benturan keras didadanya. Untungnya kaki namja itu masih mampu berdiri. Luhan meringis sambil mengelus dadanya. Namun ia langsung mengalihkan pandangannya saat suara ringisan lain terdengar. Dan matanya pun membulat ketika melihat seorang gadis terduduk dilantai dengan buku-buku yang berserakan. Ditambah lagi gadis itu ternyata adalah gadis yang tadi sempat mengusik pikirannya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Luhan seraya berjongkok. Gadis itu megangguk lalu tersenyum kecut. Sepertinya ia malu sendiri.

“Maaf aku sudah menabrakmu” ucapnya sambil menggaruk tengkuk lehernya. Luhan hanya tersenyum simpul.

“Tidak apa-apa aku juga salah. Tadi aku tidak memperhatikan sekelilingku” Luhan berusaha bersikap ramah. Walau sebenarnya hatinya masih gelisah karna berita yang baru saja ia dengar. Tapi Luhan berusaha terlihat baik. Gadis itu mengangguk lalu segera merapikan buku-bukunya yang berserakan. Luhan pun berusaha membantu. Ia rapikan beberapa buku didekat kakinya sambil sesekali melirik gadis berambut coklat panjang itu. Luhan makin penasaran.. entah kenapa tatapan mata gadis bermata coklat itu terasa sangat familiar.

“Ini..” ucap Luhan sembari menyodorkan buku yang ia pungut. Dengan sedikit beringsutan gadis itu tersenyum lalu mengambilnya. Luhan perhatikan gerak-gerik gadis yang tengah merapikan barang bawaannya itu. Tapi seketika sesuatu menarik perhatiannya. Ia terpaku melihat kalung yang melingkar dileher jenjang gadis manis tersebut.

“Kalung itu..” gumam Luhan pelan. Dahinya mengernyit dalam, karna lagi-lagi merasa mengenal kalung tersebut. Sementara Luhan sibuk dengan pikirannya, gadis itu malah terlihat masih sibuk dengan buku-buku dan kertas-kertasnya yang berantakan. Saking terburu-burunya ia jadi sulit untuk merapikannya.

“Sekali lagi aku minta maaf” ucap gadis itu setelah barang-barangnya cukup rapi. Tapi Luhan tak menjawab. Tanpa gadis itu sadari tatapan Luhan masih tertuju pada kalungnya.

Gadis itu mengernyit karna tak menadapat respon. Ia berdehem lalu mengulang perkataannya. “Aku bilang sekali lagi aku minta maaf”

Luhan tersentak, “Eh? I-Iya.. Permintaan maaf diterima” sahut Luhan sambil tersenyum namun terlihat kaku. Gadis itu mengangguk lalu segera melanjutkan larinya sambil berteriak.

“Terimakasih sudah membantu merapikan bukuku ya. Sampai jumpa!”

Luhan berbalik untuk memperhatikan gadis yang berlari menjauh itu. Ia menghela nafas. “Ada apa denganku? Kenapa semua hal tentang gadis itu terasa familiar? Aiisshh..” ucap Luhan sambil menggaruk kepalanya frustasi. Entah ini karna pikirannya yang sedang kalut akan masalah atau karna ia memang mengenal gadis itu? Luhan pun berbalik bermaksut untuk melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Tapi tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu dilantai. Luhan mengernyit lalu mengambilnya.

“Ini pasti milik gadis itu” ucap Luhan ketika melihat bahwa benda itu adalah sebuah jepitan rambut berbentuk pita. Kerutan didahi Luhan semakin dalam. Apalagi ini? Jepitan itu pun membuatnya merasa seperti mengenal gadis itu? Dia rasa dia mulai gila.

Luhan perhatikan benda itu intens. Mencoba untuk memaksimalkan ingatannya. Mungkinkah ia benar-benar mengenal gadis itu? Dan alisnya pun terangkat ketika melihat sebuah inisial terukir di jepitan rambut itu.

“SR?” gumamnya pelan. Namun seketika otaknya berpikir otomatis. Memutar beberapa memori yang sudah lama terkubur. Ia ingat semasa ia kecil ia pernah mengenal seorang gadis manis yang memiliki mata indah seperti gadis itu. Ia ingat dia pernah memberi sebuah liontin untuk gadis itu dan gadis itu sangat suka memakai pita dirambutnya.

“Mungkinkah dia.. Soora?”

 

 

¶¶¶¶¶

Kriiiing

 

Suara jam weker berbunyi nyaring. Membuat sang penyetel terkesiap dari tidurnya. Jieun mengucek matanya lalu dengan gerakan terbata-bata berusaha mematikan alarmnya.  Ia bangun lalu duduk diranjang, masih berusaha untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya. Ia menghela nafas. Sebenarnya dirinya sendiri merasa tidak yakin apakah semalam ia benar-benar tidur. Karna rasanya sejak kemarin hingga sekarang, otaknya tak bisa berhenti memikirkan kekasihnya.

“Sehunnie..” gumam Jieun pelan. Ia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Berusaha keras untuk tidak menangis lagi. Ia lelah.. semalam suntuk ia sudah mengeluarkan airmatanya. Tidak tau apakah masih ada yang tersisa. Setelah merasa sudah cukup tenang, Jieun beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju kamar mandi.

Tak sampai 15 menit, gadis itu sudah selesai membersihkan dirinya. Dengan seragam yang sudah rapi, ia berjalan menuju meja rias. Menatap refleksi dirinya dicermin. Kacau.. itu kesan yang ia dapat. Matanya bengkak dan ia lihat kantung mata mulai menampakkan diri. Jieun hanya bisa menghela nafas, lalu mengikat rambut panjangnya. Ia sama sekali tak peduli bagaimana penampilannya saat ini. Karna yang ia butuh saat ini hanya satu.. ―Sehun

Setelah menyandang tasnya, Jieun berjalan keluar kamar. Sama sekali tak berniat untuk sarapan, ia langsung mengambil sepatunya. Ketika baru saja ingin mengikat tali sepatu.. gerakan gadis itu terhenti. Lagi-lagi perihnya memanas. Seperti luka yang tersiram alkohol, perih… perih sekali ketika mengingat kondisi kekasih hatinya. Jieun termenung menatap sepatunya. Beban dihatinya terlalu berat untuk ia tampung sendirian. Ia butuh seseorang.. seseorang sebagai tempatnya bersandar.

Jieun merogoh saku jas seragamnya untuk mengambil smartphonenya. Jieun menghela nafas sambil menatap sendu layar ponselnya. Tak ada tanda-tanda yang ia harapkan.

“Jongin.. kau dimana?” lirihnya sambil menunduk. Sejak kemarin namja itu tak bisa dihubungi sama sekali. Jieun mulai ragu.. apa benar Jongin sudah merelakannya untuk Sehun? Atau ternyata masalah itulah yang membuat Jongin sama sekali tak ingin bertemu dengannya lagi? Sepersekian detik diam, akhirnya Jieun melanjutkan kegiatannya. Setelah mengunci pintu ia berjalan menelusuri koridor apartemennya dengan langkah gontai. Dulu Jongin.. Sehun.. dan sekarang tidak ada yang menjemputnya sama sekali. Merasa kesepian? Tentu saja..

Didalam lift.. Jieun lagi-lagi ingat masa itu. Masa ketika Sehun dan dia masih seperti anjing dan kucing. Masa ketika semuanya masih berjalan baik. Airmatanya seketika jatuh begitu saja, mengingat masa indah itu, ia takut.. sangat takut masa itu takkan terulang lagi. Sambil menunduk gadis itu menangis dalam diam. Sungguh tak pernah ia bayangkan, kisah cintanya akan serumit ini. Ia tahu ia berlebihan, tapi entah mengapa hatinya merasa sangat ketakutan. Takut kehilangan orang yang saat ini sangat berarti baginya..

“Sehunnie..”

 

Ting

 

Liftnya berhenti. Jieun menghapus airmatanya lalu berjalan menuju pintu keluar gedung apartemennya. Namun ia mengernyit ketika samar-samar ia lihat seseorang yang ia kenal berjalan kearahnya. Seorang gadis dengan kondisi yang terlihat mirip sepertinya. Mata gadis itu bengkak, namun karna riasan membuatnya tak terlalu terlihat.

“Shin Taera?” ucap Jieun ketika gadis itu sampai didepannya. Jieun mengernyit tapi Taera malah tersenyum lembut.

“Kau sudah akan berangkat sekolah ya? Baru saja aku ingin keapartemenmu” ucapnya dengan nada ramah. Nada dan ekspresi wajah yang membuat Jieun bingung. Ini bukan Taera yang ia kenal.

Taera berdehem, “Kau pasti bingung kan? Aku datang pagi-pagi begini ditambah dengan sikapku yang pasti menurutmu… aneh” Taera nampak canggung. Ia menggaruk tengkuk lehernya sambil tersenyum kaku. Melihat Jieun hanya diam, ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan gadis didepannya.

“Aku dengar Sehun.. masuk rumah sakit lagi”

“I..Iya. Ia mendadak pingsan kemarin” jawab Jieun gugup. Jujur sikap hangat Taera membuatnya sedikit.. takut.

Taera mengangguk, “Ini sudah kesekian kalinya kan?” tanya Taera yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Jieun. Taera menghela nafas lalu menunduk. Matanya mulai terasa berat, pembahasan ini selalu berhasil membuat hatinya perih. Ibarat seperti monster didalam hati yang jika dibangunkan bisa mencabik habis hatinya.

“Dokter bilang dia sudah membaik sekarang” ucap Jieun berusaha untuk tetap tenang. Ia lihat Taera mulai menangis, ia tidak ingin pembicaraan mereka terhenti karna tangisan. Taera hanya mengangguk sambil terus berusaha mengusap airmatanya.

“Jieun’ah”

“Ne?”

“Aku mohon jaga Sehun..” ucap Taera yang seketika membuat Jieun tertegun. Taera mendongak lalu menatap Jieun yang terlihat cukup terkejut. “Sehun sangat mencintaimu.. aku mohon jangan kecewakan dia Jieun’ah”

Taera menghela nafas lalu melanjutkan kata-katanya, “Sama seperti Jongin, aku juga tidak akan menerima jika kau berani menyakiti Sehun. Kau juga tahu keadaannya kan? Disaat seperti ini, dia pasti sangat membutuhkanmu. Jangan tinggalkan dia, temani dia menghadapi masa-masa sulit ini. Selalu pastikan dia meminum obatnya dengan teratur. Marahi dia jika dia mulai tidak taat. Beri dia senyuman dan semangat saat dia mulai putus asa. Usap airmatanya saat ia menangis.. dan..hiks..” Taera menghentikan kalimatnya. Suaranya bergetar dan airmata jatuh bertubi-tubi. Tenggorokannya tercekat, membuatnya sulit untuk melanjutkan kalimatnya. Sementara Jieun mulai merasakan panas dimatanya, airmatanya juga sudah mulai menumpuk. “Dia begitu berarti untukku Jieun’ah..karna itu aku ingin dia bahagia. Dan kau.. adalah seseorang yang pasti bisa membuat itu terjadi. Aku sudah lelah, lelah mengejar apa yang tidak bisa aku dapatkan, apa yang memang bukan ditakdirkan menjadi milikku. Karna itu aku akan berhenti.. dan akan melepaskannya”

“Taera’ah”

“Apapun yang terjadi kau harus selalu disisinya.. Berjanjilah Jieun’ah” ucap Taera sambil menatap lurus-lurus kedua mata bening Jieun.

Jieun mengangguk, “Pasti..”

 

 

¶¶¶¶¶

“Apa ponselku ada disini?” tanya Jongin pada Eunhyuk yang terlihat sibuk dengan berkas-berkas ditangannya. Eunhyuk mendongak dan menatap wajah panik adik sepupunya.

“Ponsel?”

“Iyaa.. ponselku hilang. Aku tidak menemukannya dimana pun dirumah. Aku pikir semalam tertinggal disini. Apa tidak ada?” tanya Jongin dengan nada yang semakin frustasi. Eunhyuk hanya diam berlagak seperti sedang berpikir.

“Eunsoo? Apa kau melihat sebuah ponsel saat bersih-bersih tadi?” tanya Eunhyuk pada salah satu karyawannya yang terlihat sedang membersihkan bar.

“Tidak bos” sahut sang karyawan yang langsung membuat harapan Jongin melayang. Ia menghela nafas sambil menggaruk-garuk kepalanya kasar.

“Coba kau cari ditempat lain. Mungkin terjatuh saat kau dalam perjalanan kemari” ucap Eunhyuk memberi solusi. Ia lanjutkan kegiatannya mengisi berkas-berkas ditangannya. Jongin berpikir, mencoba mengingat lagi tempat apa saja yang dia kunjungi kemarin.

“Apa mungkin jatuh diperpustakaan?” tanya Jongin pada dirinya sendiri.

“Mingkin saja” jawab Eunhyuk enteng dengan tatapan yang masih fokus pada berkasnya. “Kenapa ponselmu hilang kau panik sekali eoh? Kau kan bisa membelinya lagi, bahkan yang lebih mahal”

Tsk.. Hyung tidak tahu saja. Didalam ponsel itu ada semua berkas-berkas berhargaku. Kenanganku” ucap Jongin sambil menepuk-nepuk dadanya. Tapi Eunhyuk malah tersenyum meremehkan, membuat Jongin mendengus kesal lalu memutuskan untuk berjalan pergi. “Aku pergi dulu” ucapnya tanpa basa-basi berjalan keluar bar.

Ia masuk kedalam mobil lalu bersandar pada kursi. Ia pejamkan matanya frustasi. Bingung kemana lagi ia harus mencari ponselnya itu. Dirumah bahkan ia sudah mengerahkan seluruh pelayannya untuk mencari, namun hasilnya nihil. Ponsel itu sangat berharga.. benar. Didalam ponsel itu ia menyimpan semua kenangannya bersama Jieun. Kenangan yang ia yakin tidak akan pernah terulang lagi.

“Akan kucoba mencari diperpustakaan” ucapnya seraya mulai menginjak pendal gas mobil sportnya. Dengan kecepatan yang cukup tinggi ia melajukan mobilnya menuju sekolah. Dengan harapan besar bahwa ponselnya bisa ditemukan ditempat itu.

Dalam waktu 15 menit perjalanan, Jongin sudah memarkirkan mobilnya disekolah. Dengan terburu-buru ia berlari menuju perpustakaan tempatnya tidur siang kemarin. Terlalu pagi.. perpustakaan masih sangat sepi, membuatnya lebih mudah untuk mencari. Sambil menggigit bibir bawahnya, Jongin meneliti tempatnya tidur kemarin. Di lorong terakhir tempat buku-buku lama disimpan. Tempat yang paling jarang disentuh oleh pengunjung termasuk petugas perpustakaan. Dengan harap-harap cemas ia mencari.. 1 menit.. 5 menit… 10 menit.. ―Nihil

“Aissshh dimana dia?!” keluh Jongin kesal sambil mengacak-acak rambutnya. Ditempat itu tak ditemukan apapun. Namun tak menyerah, ia memutuskan untuk menelusuri setiap lorong perpustakaan. Berharap mungkin saja ponselnya jatuh saat ia berjalan keluar. Lorong pertama.. lorong kedua.. lorong ketiga.. lorong keempat.. Jongin mulai semakin putus asa. Hampir 45 menit sampai semua sudut perpustakaan sudah ia telusuri, tapi ia tak menemukan apa yang ia cari. Bertanya pada penjaga perpustakaan juga sia-sia. Penjaga itu bilang kalau dia tak menemukan ponsel apapun.

Dengan langkah putus asa namja itu berjalan keluar. Kehabisan ide, tenaga sekaligus harapan. Apa mungkin ditemukan orang lalu diambil begitu saja? Jongin menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya ditembok.

“Kenapa tidak ada juga? Lalu hilang dimana? Aiisshh.. aku bisa gila” umpat Jongin semakin tak karuan. Ia menghela nafas lalu berbalik, bermaksut untuk berjalan keruang kelas. Namun baru saja berbalik, matanya membulat melihat seorang gadis berlari kearahnya.

“Jongin’ah?” panggil gadis itu sambil tersenyum.

Awalnya ia terkejut namun Jongin lalu tersenyum simpul, “Cepat sekali sembuhnya?” gumam namja itu pelan.

“Aku mencarimu kemana-mana” ucap Taera dengan nada yang terdengar riang. Cukup aneh sebenarnya, bukankah kemarin gadis itu benar-benar kacau? Jongin hanya menyambutnya dengan senyuman manis. Bagaimana pun ia senang karna gadis itu tak larut dalam kesedihannya.

“Ada apa memangnya kau mencariku?”

“Untuk mengucapkan terimakasih. Terimakasih sudah mengantarku pulang. Dan terimakasih sudah menjadi.. tempatku bercerita kemarin” sahut Taera terlihat malu-malu. Jongin masih belum berhenti tersenyum.

“Tidak apa-apa. Itulah gunanya teman..” jawab Jongin lembut. Taera terhenyak mendengar jawaban Jongin. Kata ‘teman’ yang namja itu ucapkan membuat hatinya berdesir. Benarkah Jongin sudah menganggapnya teman?

“Oya? Aku juga ingin mengembalikan ini..” ucap Taera seraya mengeluarkan sesuatu dari jas seragamnya. Sebuah benda berwarna putih yang sejak tadi setengah mati namja tampan itu cari.

Jongin mendelik, “Ponselku!” pekiknya lalu dengan sigap merebut benda itu dari tangan Taera. Gadis itu cukup terkejut karna gerakan cepat Jongin. Tidak ia sangka reaksi namja itu akan sangat gembira.

“Ahh akhirnya ketemu” Jongin  tatap ponselnya dengan tatapan tak percaya. Sangat senang karna benda berharganya akhirnya kembali.

Taera tersenyum, “Kau sepertinya senang sekali”

“Tentu saja. Sejak tadi aku sudah mencari benda ini mati-matian. Aku pikir tidak akan ketemu”

“Ponselmu pasti jatuh saat kau menggendongku kemarin. Aku menemukannya didekat tempat tidurku”

“Ahh iya. Kenapa tidak terpikir olehku untuk mencarinya di rumahmu ya? Aissh” ucap Jongin sambil menepuk dahinya.

Taera terkekeh, “Kau panik pasti karna disitu banyak kenanganmu dengan Jieun kan?” tanya Taera yang mendadak membuat senyum Jongin menghilang. Taera tertegun. Apa dia salah bicara?

“Ah maaf. Kemarin aku melihat-lihat galerimu..” sahut Taera mendadak guugup. “Sungguh hanya itu. Aku tidak membuka folder apapun selain galerimu” lanjut Taera sambil menggoyangkan tangannya didepan Jongin. Tapi namja itu hanya diam menatap Taera. Gadis itu jadi semakin salah tingkah.

“Oya? Terakhir ada pesan dari Jieun. Sepertinya dia mencarimu. Selain itu juga ada sekitar 15 panggilan tak terjawab dar—Ah.. sungguh aku tak membaca satu pun pesan masukmu. Aku hanya melihatnya tapi tidak membuk—“

“Aku mengerti. Kau tidak perlu sepanik itu. Aku percaya padamu”

 

Deg

 

Taera tertegun. Ucapan Jongin lagi-lagi membuat dadanya bergemuruh. Darahnya mendidih dan membuat wajahnya terasa panas. Percaya? Jongin mempercayainya? Setelah semua kejahatan bodoh yang ia lakukan, Jongin masih bilang bahwa namja itu mempercayainya? Sementara Jongin mulai memeriksa isi ponselnya, Taera hanya memandang wajah tampan Jongin lekat. Ia kagum dengan pribadi Jongin yang menurutnya.. sangat hangat. Namun tiba-tiba raut wajah Jongin berubah. Seperti terkejut dengan yang ia baca.

Taera mengernyit, “Ada apa? Apa yang Jieun katakan?”

“Aku harus pergi sekarang. Terimakasih sudah mengembalikan ponselku” ucap Jongin seraya berlari meninggalkan Taera yang masih terlihat bingung. Tanpa basa-basi berlari meninggalkan gadis itu begitu saja.

Setelah membaca semua pesan Jieun, Jongin mendadak panik. Bodoh! Itu yang dia katakan pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia menghilangkan ponselnya? Jieun menghubunginya berkali-kali. Gadis itu tengah terpuruk, disaat gadis itu membutuhkannya tapi ia malah menghilang. Bisa Jongin bayangkan, bagaimana sedihnya jika ia dalam posisi Jieun.

“Maafkan aku Jieunnie..” gumam Jongin masih sambil berlari. Perasaanya menggebu, ingin segera menemui gadis itu dan melihat kondisinya. Tempat pertama yang ia tuju.. ruang kelas. Jongin menghambur masuk dan langsung memfokuskan pandangannya pada bangkunya dan Jieun. Tidak ada sang pemilik bangku, tapi tasnya sudah ada disana. Jongin menghela nafas lalu berbalik. Ia melanjutkan langkahnya, kini menuju tempat yang menurutnya akan didatangi Jieun dalam kondisinya saat ini.

 

Ceklek

 

Jongin membuka pintu atap sekolahnya. Dengan nafas yang memburu Jongin menerawang kesekelilingnya. Bingo! Ia temukan seseorang yang ia cari. Sejenak Jongin diam sambil membenarkan deru nafasnya. Lalu dengan langkah pelan Jongin berjalan menghampiri Jieun. Gadis itu berdiri termenung sambil menatap pemandangan luas didepannya. Jongin terhenyak melihat tatapan Jieun.. pilu dihatinya kembali menyeruak menggerogoti perasaan namja itu. Mata Jieun sungguh menyiratkan semua rasa sakit dihatinya. Kalau seperti ini Jongin menjadi ragu akan keputusannya. Sanggupkah Jongin meninggalkan Jieun? Apa ia akan tetap tenang saat jauh dari gadis itu nantinya?

“Jieunnie?” panggil Jongin pelan. Jieun tersentak lalu memutar tubuhnya. Matanya membulat melihat siapa yang tengah tersenyum kearahnya. Seketika butiran kaca cair menumpuk dipelupuk mata dan memberontak ingin segera jatuh membasahi pipinya. Akhirnya.. suara lambut itu ia dengar.

“Jonginnie” tangisnya pecah dan gadis itu terisak keras. Seolah mengeluarkan semua kesesakan didadanya melalu isakan itu. Jongin hanya tersenyum, ia berjalan mendekat lalu memeluk gadis itu pelan. Ia elus kepala Jieun lembut, berusaha menenangkan gadis yang tengah dirundung masalah itu. Jieun memejamkan matanya  sambil menikmati kehangatan tubuh Jongin. Pelukan ini, pelukan yang selalu mampu membuatnya merasa lebih tenang. Pelukan yang sejak semalam ia cari.

“Kemana saja? Kemana tidak bisa dihubungi?” ucap Jieun disela isakkannya. Ia memukul-mukul punggung Jongin sambil menghentakkan kakinya seperti anak kecil.

“Maafkan aku. Kemarin ponselku tidak sengaja hilang. Tapi untunglah sudah ketemu karna itu aku langsung segera menemuimu. Kemarin kau pasti bingung. Iya kan?”

Jieun mengangguk, “Tentu saja. Disaat aku butuh kau malah tidak ada. Kau tahu aku sudah seperti anak ayam yang kehilangan induknya? Kau bukannya menenangkanku tapi malah membuatku semakin gelisah Jonginnie” ceroscos Jieun sambil memukul-mukul punggung sahabatnya lagi. Tapi pukulan gadis itu seakan tak terasa apapun, Jongin hanya tersenyum.

“Aku tahu. Park Jieun kan memang tidak bisa jauh dari Kim Jongin”

“Issh.. bodoh!” rungut Jieun sambil mempoutkan bibirnya. Jongin hanya terkekeh, sepertinya usaha untuk mecairkan suasana berhasil. Perlahan ia melepas pelukannya lalu menangkup wajah Jieun. Ia usap airmata gadis itu.

“Semua akan baik-baik saja. Aku yakin”

Jieun mengangguk, “Semoga” jawabnya pelan. Gadis itu mulai tenang, ia juga sudah bisa mengontrol isakannya.

“Bagaimana keadaan Sehun?”

“Dokter bilang dia sudah membaik. Tapi ia harus rawat inap dirumah sakit”

“Mau menjenguknya?”

“Tentu saja. Kau antarkan aku ya?”

Jongin mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah”

 

 

¶¶¶¶¶

 

“Kau sudah meminum obatmu?” tanya Luhan seraya memasukki kamar Sehun. Sehun hanya mengangguk dengan mata yang masih fokus pada game diponselnya. Tapi Luhan curiga, dalam masalah ini ia sulit mempercayai adiknya. Sehun sering berbohong, mengatakan bahwa ia sudah meminum obat padahal ia menyembunyikan obat itu disakunya. Luhan mengernyit sambil menatap Sehun dengan tatapan menyelidik. Awalnya Sehun diam, mencoba untuk mengabaikan kakaknya. Tapi semakin lama ia mulai merasa risih.

“Iya ya akan aku makan” Sehun mematikan ponselnya lalu mengambil obat yang ia sembunyikan disaku bajunya.

Luhan menghela nafas, “Ayolah Sehunnie. Jangan seperti ini terus. Kau ingin sembuh kan? Kau tidak kasihan pada Jieun?” ucap Luhan dengan nada lembut. Sehun mengangguk malas. Jujur ia sendiri juga tak mau seperti ini. Ia marah karna membuat kekasihnya sendiri merasa kesakitan. Benar.. marah pada dirinya sendiri. Ia mulai berpikir kenapa tidak pergi selamanya saja dari pada perlahan-lahan membuat hati orang yang dicintainya hancur?

“Aku tahu.. aku takkan mengulanginya lagi” ucap Sehun lemah. Setelah menelan obatnya, Sehun meletakkan air lalu bersandar pada kepala ranjangnya. Menatap langi-langit kamar rumah sakit itu intens. Beberapa detik suasana kamar menjadi hening. Luhan juga tengah sibuk dengan buku ditangannya.

“Haahh.. Aku merindukan Jieun” gumam Sehun sambil mengusap-usap wajahnya. Baru semalam ia tidak bertemu Jieun tapi rasanya sudah seperti 1 tahun. Berlebihan? Iya.. bukankah memang seperti itu orang yang sedang jatuh cinta. Apalagi ia dan Jieun baru saja resmi berpacaran, membuatnya merasa ingin selalu didekat gadis itu. Melihat senyumnya.. menyentuh wajahnya.. mengelus kepalanya.. semuanya.. karna dipikirannya saat ini hanya ada Jieun.

“Bersabarlah.. ini masih jam sekolah. Nanti juga dia akan menjengukmu” ucap Luhan acuh tak acuh. Sehun mendengus lalu memutar tubuhnya menghadap Luhan. Menatap namja berwajah cantik itu lekat.

“Pasti dokter bilang sudah tidak ada harapan lagi kan hyung?”

 

Deg

 

Luhan terhenyak.. baru saja ia ingin membalik halaman bukunya. Gerakannya terhenti lalu ia mendongak menatap Sehun yang tengah menatapnya. Luhan belum menjawab, masih diam sembari mencari jawaban terbaik diotaknya. Ia tidak mau membuat Sehun merasa putus asa karna jawabannya nanti.

“Kenapa kau bicara seperti itu Sehunnie?” itulah kalimat yang menurutnya terbaik. Balik bertanya yang dijawab helaan nafas dari lawan bicaranya.

“Karna aku merasakannya hyung. Sudah semakin berat dan semakin menyakitkan” jawab Sehun dengan nada pasrah. Luhan tertegun, seperti mendapat pukulan didadanya, entah kenapa rasanya sakit. Melihat raut wajah adiknya, membuatnya dadanya terhimpit. Sehun terlihat sangat lelah.

Luhan meletakkan bukunya lalu berjalan menghampiri Sehun yang tertunduk. Ia pegang pundak adik kesayangannya itu. “Kau pasti bisa bertahan Sehunnie..”

Sehun menyeringai, ia tatap kedua mata bening Luhan, “Berhenti memberikanku harapan palsu hyung. Aku merasakannya, aku yang merasakan kesakitan ini. Setiap orang punya batas tenaganya masing-masing”

“Aku tahu.. tapi tidak ada yang tidak mungkin Sehunnie. Jika kau punya kemauan, apapun bisa terwujud”

 

Ceklek

 

Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Luhan dan Sehun terkesiap lalu menoleh kearah pintu. Melihat siapa yang muncul dibalik pintu membuat senyum Sehun seketika mengembang. Sebenarnya Luhan pun sama, hanya saja ia menyembunyikan perasaan senangnya itu. Tak ingin ada salah paham lagi.

“Jieunnie” ucap Sehun dengan wajah yang berseri. Tak berbeda dengan Sehun, Jieun pun terlihat begitu antusias. Melihat orang yang sejak kemarin ia khawatirkan ternyata sudah bisa menyambutnya dnegan senyuman. Senyuman yang sangat manis.

“Kau sudah bangun Sehunnie?” sahut Jieun dengan nada riang seraya menghampiri Sehun. Keduanya lalu berpegangan tangan sambil saling menatap. Perlahan Sehun mencium pipi Jieun lalu memeluk gadis yang mulai berkaca-kaca itu. Mereka hanyut dalam pelukan hangat, seolah tak menyadari ada dua orang lagi diruangan itu. Dua orang yang merasakan perih dihatinya melihat pemandangan itu. Ya.. Luhan dan Jongin hanya diam memandangi peristiwa romantis didepannya.

“Kenapa menangis?”

“Bodoh! Bodoh! Sehunnie bodoh!” pekik Jieun sambil memukul-mukul punggung Sehun. Gadis itu merengek dipelukan kekasihnya. Tapi Sehun hanya tersenyum. Menerima pukulan bertubi-tubi gadisnya dengan senang hati.

“Sudah kukatakan kan jangan sampai kau kelelahan. Akhirnya apa?! Kau jadi seperti ini kan? Kau tahu aku hampir mati karna panik kemarin?!”

“Maafkan aku” hanya itu yang Sehun katakan. Ia terlalu menikmati pelukan hangat itu. Tapi Sehun tersentak ketika mendadak Jieun melepas pelukan mereka.

“Lain kali aku mohon mengertilah dengan kondisimu sendiri..” ucap gadis itu sambil menangkup wajah tirus Sehun. Sehun mengangguk sambil tersenyum. Sudah seperti orang gila, Sehun tak bisa menghilangkan senyum manis diwajahnya. Terlalu bahagia bisa melihat wajah manis itu lagi didepannya.

Luhan berdehem, “Aku akan keluar dulu. Aku harus mengurus administrasi rumah sakit. Kalian ngobrollah” ucap Luhan sedikit gugup. Setelah mendapat ijin dari 3 orang lainnya, Luhan berjalan keluar kamar. Luhan tidak berdalih, dia memang harus mengurus administrasi. Tapi.. jauh didalam lubuk hatinya tidak bisa dipungkiri bahwa ia memang merasa terlalu sesak didalam sana.

Dan sekarang tinggal tiga orang, Jongin sebenarnya kesal. Luhan curang, kenapa ia ingin lega sendiri dan meninggalkan Jongin sendirian? Haruskah ia mencari alasan agar bisa keluar juga?

“Apa kabar Sehun’ah?” sapa Jongin dengan nada yang terdengar kaku.

“Aku baik..”

Jongin mengangguk – anggukan kepalanya, “Baguslah”

“Jieunnie?”

“Ne?”

“Bisa tinggalkan kami berdua?”

“Eh?” Jieun melongo, sedikit lamban mengerti ucapan Sehun. Jongin pun nampak terkejut dengan permintaan Sehun yang diluar dugaan itu. Tumben ingin bicara berdua dengannya, apa Sehun ingin mengajaknya bertengkar lagi?

“Aku ingin bicara dengan Jongin. Tolong keluarlah sebentar chagiya” sahut Sehun lembut sambil mengusap pipi putih Jieun. Jieun pun mengangguk , ia tatap Jongin sebentar. Setelah mendapat anggukan kepala dari sahabatnya, Jieun pun merasa yakin untuk meninggalkan dua namja itu.

 

¶¶¶¶¶

Luhan berjalan-jalan ditaman rumah sakit sambil menikmati udara siang itu. Ia sudah membayar biaya administrasi dan memilih untuk bermain ditaman. Dengan tangan yang masuk kedalam saku celana, Luhan berkeliling. Ia perhatikan setiap pasien yang tengah menikmati siang ditaman itu. Wajah mereka nampak pucat, tapi senyum mereka terlihat tulus. Membuat Luhan seolah terhipnotis untuk menarik kedua ujung bibirnya juga. Memamerkan senyum angel miliknya.

Luhan menghela nafas sambil terus berjalan. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis kecil menangis dibawah pohon. Gadis itu merengek sambil menatap keatas pohon. Luhan pun mengikuti arah mata gadis itu dan melihat sebuah balon udara tersangkut diranting pohon tersebut. Luhan berjalan mendekat, lalu berjongkok.

“Apa itu balonmu gadis kecil?” tanya Luhan lembut. Gadis itu menoleh kearah Luhan lalu mengangguk.

“Tidak sengaja terlepas dari tanganku”

Luhan tersenyum, “Jangan menangis lagi, akan oppa ambilkan untukmu” ucap Luhan sambil mengusap lembut airmata dipipi gadis berkuncir dua itu. Luhan berdiri lalu mengulurkan tangannya. Tidak sulit bagi Luhan untuk meraih balon tersebut, karna untungnya balon itu tersangkut didahan yang tak jauh dari jangkauannya.

“Horeee oppa hebat!” pekik gadis itu ketika melihat Luhan berhasil mengambil balon ungunya. Gadis itu bertepuk tangan sambil menloncat kegirangan. Luhan menunjukkan smile eyesnya seraya mengembalikan balon tersebut.

“Jangan sampai terlepas lagi ya?” ucap Luhan sambil mengelus puncak kepala gadis kecil itu. Gadis itu mengangguk mantap.

“Hmm.. terimakasih ya oppa peterpan”

Alis Luhan tengrangkat, “Peterpan?”

“Iya.. karna wajah oppa tampan seperti peterpan” ucap gadis itu sambil mengelus pipi Luhan. Luhan terkekeh, lalu meletakkan jari telunjuk dibawah bibir merah mudanya seperti sedang berpikir.

“Kalau oppa peterpan.. berarti kau tingkerbell nya?”

“Umh.. kurasa bukan”

“Bukan? Lalu siapa?”

“Kekasih oppa nantinya” jawab gadis itu polos. Lagi-lagi Luhan tersenyum, entah kenapa ia merasa hangat. Bicara dengan gadis kecil itu membuat hatinya merasa nyaman.

“Hyora’ah? Ayo kembali kekamar. Sudah waktunya tidur siang” panggil seorang wanita muda kearah mereka. Luhan dan gadis kecil itu menoleh.

“Baik bu!” pekik gadis bernama Hyora itu. “Sudah ya oppa. Aku harus tidur siang dulu. Sampai jumpa lagi oppa peterpan” pekik gadis itu seraya berlari kearah ibunya. Luhan berdiri sambil terus memandang gadis manis itu. Ia pikir mungkin dulunya Jieun semanis itu juga. Luhan melambaikan tangan ketika ia lihat teman kecilnya melambai kearahnya. Dan ketika sedang asik tersenyum pada Hyora, mata Luhan tanpa sengaja melihat seseorang. Seseorang yang sejak semalam membuatnya penasaran setengah mati.

Setelah memastikan Hyora tak terlihat lagi, Luhan segera berlari menghampiri gadis yang berada dikoridor didekat taman. Gadis itu nampak seperti sedang mencari sesuatu. Dan Luhan sepertinya tahu apa yang gadis berambut coklat itu cari.

“Hey kau?!” panggil Luhan setelah mereka sudah cukup dekat. Gadis yang terlihat sedang sibuk itu terkesiap dan mengalihkan pandangannya kearah Luhan. Ia mengernyit sedikit bingung. Namun setelah Luhan sudah berada didepannya, ia menjetikkan jari dengan alis terangkat.

“Kau yang aku tabrak kemarin kan?” tanya gadis itu sambil menunjuk Luhan. Dengan nafas yang terengah Luhan menganggukan kepalanya. “Tapi ada apa ya?”

Luhan merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan sebuah benda dari perak, “Kau pasti mencari ini kan?” ucap Luhan seraya menyodorkan sebuah jepitan berbentuk pita kepada gadis didepannya. Gadis itu mendelik lalu meraih benda yang disodorkan Luhan. Gadis itu tatap Luhan dengan mata yang berkedip berulang kali.

“Sepertinya terjatuh saat kita bertrabakan kemarin” jawab Luhan seperti membaca pikiran gadis bermata coklat itu. Gadis itu mengangguk sambil membentuk huruf O dibibirnya.

“Ahh lagi-lagi aku harus berterimakasih padamu ya.. hihihi” ucap gadis itu sambil terkekeh.

“I-Iya” jawab Luhan terbata. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang, membuatnya tidak bisa bersikap tenang. Ia rasa senyum gadis itu terlalu manis.

“Kau kelihatannya bukan pasien disini.. ngomong-ngomong sedang menjenguk siapa?”

“Adikku”

Gadis itu mengangguk, “Ahh.. begitu..”

“Kalau kau?”

“Aku? Aku juga menjenguk adikku. Tapi adik sepupu”

Beberapa detik tidak ada pembahasan, keduanya diam. Gadis itu sibuk memasang jepitan yang dikembalikan Luhan dirambutnya. Sedangkan Luhan nampak bingung memikirkan pertanyaan yang tepat untuk mencari jawaban atas keingintahuannya. Ia tidak mau terburu-buru.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” ucap Luhan akhirnya setelah beberapa detik sibuk dengan pikirannya sendiri. Gadis itu mengangguk tanda mengiyakan.

“Kalungmu.. mirip seperti yang kumiliki dulu” ucap Luhan hati-hati. Takut jika nanti ia salah bicara.

“Benarkah? Ini kalung pemberian teman kecilku dulu..” jawab gadis itu enteng sambil memegang kalungnya. Ia tidak sadar kalau jawabannya itu membuat namja didepannya terdiam.

“Didalam sini, ada 2 foto teman kecilku. Kau mau lihat? Mereka berdua sangat tampan” candanya sambil tersenyum kearah Luhan. “Dulu kami sangat dekat, tapi karna suatu hal kami bertengkar dan aku memutuskan untuk pergi. Haaah.. sekarang aku sangat merindukan mere—Ah kenapa aku malah mendongeng seperti ini? Maaf ya.. apa aku membuatmu merasa tidak—”

“Lee Soora?”

 

Deg

 

Soora terdiam, perlahan ia menatap Luhan dengan mata yang berulang kali berkedip. Terkejut dengan nama yang diucapkan namja itu.

“Bagaimana kau bisa tahu namaku?”

 

 

 

 

¶¶¶To Be Continued¶¶¶

 

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!!

Buat yang menunggu TTPOO nya mohon ditunggu dulu ya. Fanfic yang satu itu ceritanya tingkat tinggi sekali jadi butuh waktu untuk mikiran ide nya. Butuh waktu tenang bwt dapetin ide yang bagus. Makanya mohon kesabarannya. Author janji bulan ini pasti update. Berhubung seminggu lagi author udah bakal libur hari raya, author bakal memanfaatkan waktu itu untuk lanjutin fanficnya. Jadi mmohon sabarr ya^^ Thanks for your understanding guys~~ *wink

WE ARE ONE!!!

67 thoughts on “Our Destiny (Chapter 8)

  1. annyeonghaseyo! ^^ new reader here~

    lagi cari2 ff hunnie yang bikin kretek eh ketemu Our Destiny, ni ff kece bgt thor.. oh ya, saking serunya lupa comment di chap2 sbelumnya, mian hehe ><

    coba deh thor, nnt klo udh selese ffnya dibuat buku aja wkwk~ pasti bnyk yg beli.. lanjutttttt~~~

  2. its amazing ,daebak (y) kapan terusanya ni thor, tpi akhirnya pasti park jieun sendiri dan terus memikirkan sehun, haha tpi tetep daebak, jangan lama2 ya terusanya, kita tunggu

  3. Haloooo author, aku new reader disini //bow// Hallaw berikan aku waktu dan ruang untuk sedikit berkomentar ya haha :v

    Aku udh baca ff ini dr chapter 1 barusan dan finallyyyyyyy…..maygathh ini ceritanya seru. Cius nggak bohong deh. Aku kira ini udh mendekati ending, tapi ternyata kok enggak ya? Ah jgn buru2 di-end-kan ya authorr. Perpanjan lg aja ini ff hehe soalnya aku suka bgt.
    Entahlah rasanya masih greget tiap kali inget HunHan musuhan disini, syukurnya udh enggak skrng. Dan Luhan ketemu Soora? Oh my, ini yg aku tunggu2 >< Smg bakalan ada lovey-dovey disini. Dan sepertinya Luhan -soora bakalan jadi kapel fav baru disini hahay~

    Ah udh deh ya komen aku kayaknya panjang bgt udah. Intinya aku mintaa maaf nih buat authornya krn baru komen di chapter ini pdhl drtd sore bacanya dr chapter 1, mian thor /bow/ Dan yah, please… bikin ff ini happy eding ya. nggak rela bgt dah kalo ini ff jadi sad ending -_- Next chap ditunggu authorrrr!~~~ :))) semangat nulisnya ya! ^^

  4. Keren banget… wah, luhan ktemu lagi nih sama soora😮 alurnya tambah menarik n bikin pnasaran, next n keep writing ok😉

  5. Curiga sehun bakal minta jongin buat jaga jieun kalo dia udah ga ada nanti…..
    Huaaah
    Jangan bikin sehun matii please ㅠㅜ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s