Love Stories

Love stories2-vert

Title : Love Stories

Author : HCV_2

Main cast : EXO-K and their girls

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Warning!! This Not for Silent Readers!!

―――

 

Annyeong everyone~~ HCV_2 is back~ Yuhuuu~~~  ҉(˘▽˘҉) (҉˘▽˘)҉

Akhirnya author nista ini kembali setelah 2 minggu hiatus dari dunia fangirl.. fiuuuh seneng bgt rasanya uts udah selese. Sumpah ikut uts seminggu ini capek bgt=_= soal essaynya itu bikin tangan rasanya mau putus saking banyaknya nulis. Tapi untunglah semuanya berjalan lancar, walau kebagusan nilai tidak bisa dipastikan

Okeh lupakan masalah uts.. sekarang ini kita sedang membicarakan soal fanfic. Kali ini saya datang membawa fanfic oneshoot yang saya harap bisa menghibur sementara para readers yang pasti sudah mulai kesal karna saya belum juga melanjutkan fanfic chaptered saya yang ngambang nggak jelas itu=_= Tapi serius author baru aja selese uts jadi belum sempet lanjutin fanfic jadi mohon permaklumannya kalo fanficnya belum bisa dipost *deep deep deep deep bow* Apalagi uts baru aja selese eh saya udh langsung dikasih rumor kalo Myungsoo(infinite) selingkuhan saya ternyata udah punya pacar *nangis diketek luhan* Duuuh author langsung shock dan ngblank. Jangankan lanjutin fanfic mau tidur aja susah (╥_╥) Padahal agensinya udah bilang kalau mereka cuman temen, tapi sayang bukti terlalu banyak dan sulit percaya kalau bukan Myungsoo yang ngomong langsung (•̯͡.•̯͡)

Karna itu saya butuh untuk menenangkan diri. Tahu kau ultimate bias kita udh punya pacar kalian pasti ngerti kan gimana rasanya? Nyeseknya tu berasa dunia udh mau kiamat. Author sedih ampe uring-uringan dirumah😥 Nggak bisa ngaku-ngakuin pacar kek yg biasa dilakuin fangirl lain ke biasnya itu rasanya sakit bgt *Alaynya mulai kumat*

Okay curcolnya sekian aja.. Oya? Fanfic ini udh keduluan dipost di exoff lo. Pas author kirim, author pikir bakal dipost beberapa bulan lagi yaah nggak taunya beberapa minggunya udh dipost. Nah author kelabakan deh, blm sempet dipost disini eh udh dipost disana duluan. Tapi gpp lah ya, author post lagi kali aja ada yang blm baca^^ Sip lets chek this out guys~

 

SILENT READERS OUT!!!!!!

 

 

-Morning story-

 

Prang

Suara berisik terdengar memecah keheningan pagi itu. Samar-samar namun terdengar cukup mengganggu. Seorang namja yang tadinya masih tertidur pulas mendadak mengernyitkan dahi mendengar suara riuh dari luar kamarnya. Namja itu menggeliat diatas king bednya lalu menatap langit-langit kamarnya intens. Ia masih mencoba kembali mengumpulkan kesadarannya setelah semalaman terbuai dialam mimpi. Ia lirik jam beker yang terpajang cantik dimeja sebelah tempat tidurnya.

“Jam setengah 7..” gumamnya sambil bersila diatas ranjang.

Prang

Suara berisik terdengar lagi dari lantai dasar rumahnya. Ia kembali mengernyit dalam. Bingung apa yang sudah terjadi didalam rumahnya sepagi ini. Ia beranjak dari ranjang lalu berjalan keluar kamar. Sepertinya otaknya sedang bekerja lambat karna baru saja bangun tidur, ia masih belum menyadari kalau seseorang sudah membuat onar didalam rumahnya.

Dengan langkah santai sambil meregangkan otot-otot tubuhnya dia berjalan keluar kamar. Ia kembali mengkerutkan dahi ketika melihat lampu kamar disebelah kamarnya menyala dengan pintu terbuka lebar.

“Hyemi? Kenapa lampu kamarnya menyala?” gumamnya pada diri sendiri. Ia berjalan kedalam kamar tersebut untuk memastikan sang pemilik kamar baik-baik saja.

“Mimi? Kau sudah bangun?” panggil namja bermata belok itu sambil menengok kedalam kamar.

“Kyaaaa!!!!”

Namja itu terlonjak ketika suara teriakan tiba-tiba terdengar. Ia berbalik dengan mata bulat yang semakin membulat. Ia menepuk dahinya ketika ia akhirnya menyadari sesuatu. Segera ia berjalan cepat menuruni tangga rumahnya. Berbelok dari ruang tamu kearah dapur. Dan benar saja matanya membulat lebih sempurna lagi ketika ia lihat dapurnya berantakan.

Bahan makanan tergeletak dimana-mana. Meja dapurnya yang berwarna putih juga kotor akan bumbu-bumbu masakan yang berserakan. Ia menggelengkan kepala melihat dapur cantiknya berubah menjadi kapal pecah. Sementara sang pembuat onar masih bergeming dengan kegiatan memasak—atau lebih tepatnya kegiatan mengacak-acak dapur— nya tanpa sadar kalau sang pemilik dapur tengah memperhatikannya. Ia terus mengaduk-ngaduk masakan dipenggorengannya.

“Lee Hye Mi? Apa yang kau lakukan pada dapurku?” ucap namja itu lembut namun cukup tegas.

Gadis berkuncir kuda itu tersentak lalu terdiam diposisinya. Ia nampak terkejut mendengar suara namja itu. Dengan gerakan terbata-bata ia membalikkan tubuhnya. Gadis bernama Hyemi itu tersenyum lebar sambil meringis ketika matanya bertemu dengan mata bulat namja tampan didepannya.

“Oppa… sudah bangun ya? Sejak.. kapan?” tanyanya canggung sambil menggaruk tengkuk lehernya.

Gadis itu nampak kusut. Sebagian poni panjangnya terlepas dari ikatan rambutnya. Celemek, lengan baju bahkan pipinya juga penuh noda bumbu masakan.

Namja itu berjalan mendekat, “Lagi-lagi kau mencoba untuk bereksperimen ya?”

“Ya! Sudah kubilang aku mau memasak bukan bereksperimen! Isssh..” dengus Hyemi kesal sambil bersedekap didada. Tapi namja itu malah tidak menunjukan reaksi yang Hyemi inginkan, dia malah tergelak sambil mematikan kompor.

“Ya! Do Kyungsoo oppa stop it!” rengut Hyemi semakin kesal.

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya berusaha menahan tawa. Ia berbalik kemudian menatap lembut gadis yang masih memalingkan wajah sambil mempoutkan bibirnya.

“Lihat tempat ini, berantakan sekali kan? Yang seperti ini kau bilang sedang memasak?”

“Iya! Inilah cara memasakku” sahut Hyemi sembari membalas tatapan namja disebelahnya.

“Hmpph.. hahaaha”

“YA! YA! Kyungie oppa!! Stop laughing at me!!” rengek Hyemi sambil memukul-mukul lengan Kyungsoo yang masih terbahak.

“YA! Stop or I will crush your kitchen?!” ancam Hyemi sambil menunjuk kearah Kyungsoo yang masih asik tertawa.

“Sekarang saja sudah sehancur ini. Kau mau hancurkan seperti apa lagi Mimi’ah?”

“Aiisshhh I’m serious!”

“Ne Ne Ne Arraseo..” ucap Kyungsoo mengalah sambil menetralkan kembali nafasnya yang terengah sehabis tertawa. Ia tersenyum simpul lalu mengelus puncak kepala Hyemi lembut, “Ya sudah kau minggir dulu. Akan kubuatkan sarapan” ucapnya sambil mendorong punggung Hyemi pelan menuju meja makan.

“Duduk yang manis disini.. Otte?” ucapnya lalu berbalik lagi menuju dapur. Ia ambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas lalu mulai membuat sarapan.

“Haaa.. Lagi-lagi seperti ini..” gumam Hyemi pelan sambil menopang dagunya dimeja makan. Ini sudah kesekian kalinya ia mencoba memasak diam-diam. Entah membuat sarapan, makan siang, atau makan malam semua sudah ia coba tapi tak ada yang berhasil. Akhirnya tetap saja Kyungsoo yang akhirnya turun tangan. Keahlian sahabat kecil yang sudah 6 bulan menjadi kekasihnya itu memang tidak perlu diragukan lagi dalam memasak. Tanpa sekolah tinggi pun namja itu sudah bisa disebut sebagai Chef.

Hyemi termenung sambil memandang kekasihnya yang dengan lihainya berkutat didapur. Sudah setahun ini Hyemi menumpang tinggal dirumah Kyungsoo setelah ia kembali dari Jepang. Ia termenung sambil merutuki dirinya sendiri. Kapan dia bisa memasak seperti Kyungsoo? Tak sampai setengah jam bau harum sudah menggelitik hidung mungil Hyemi. Ia menegakkan punggungnya ketika melihat Kyungsoo berjalan mendekat dengan dua piring nasi goreng ditangannya.

This is it! Special food for my special girl” seru Kyungsoo sambil meletakkan kedua piring dimeja makan. Ia pun mengambil posisi duduk disebelah Hyemi. Tapi Hyemi hanya diam sambil menatap sepiring nasi goreng didepannya.

Kyungsoo mengeryit bingung, “Why? Kau tidak mau nasi goreng ya?” tanyanya lembut tapi sedikit panik.

Hyemi menggeleng, “Bukan itu..”

“Lalu?”

“Kenapa terus saja seperti ini? Aku kan hanya berusaha membuatkanmu makanan tapi kenapa akirnya selalu oppa yang malah membuatnya untukku?”

Kyungsoo tersenyum sambil mengelus pipi gadis manis disampingnya pelan, “You don’t like it?

Hyemi menggeleng cepat, “Tentu saja tidak! Aku bahkan sangat senang. Tapi.. aku hanya… malu… Sebagai seorang gadis setidaknya kan aku harus bisa memasak. Aku juga ingin seperti gadis lainnya yang bisa membuat masakan spesial untuk kekasihnya. Sesekali aku ingin memasakan makanan untuk oppa, bukan oppa terus yang memasak untukku. Bagaimana mau menjadi istri yang baik jika memasak saja tidak becus?” rungut Hyemi sambil menunduk lesu. Kyungsoo tersenyum lalu memutar kursinya dan Hyemi hingga kini mereka duduk berhadapan. Tersentak, Hyemi lalu mendongak dan tatapan mereka bertemu. Tatapan teduh Kyungsoo membuat jantung Hyemi berdegup kencang.

“Dengar Mimi’ah.. I love you just the way you are. Tidak perduli kau bisa memasak atau tidak. Untuk menjadi istriku kau hanya perlu mencintaiku dengan sepenuh hatimu. Bisa memiliki hati dan cintamu saja aku sudah bahagia..” Kyungsoo tangkup pipi putih Hyemi dengan kedua tangannya lalu menatap kedua mata bening gadis itu intens. Wajah Hyemi bersemu merah karna gugup. “Tapi jika kau memang serius ingin belajar memasak aku sih tidak masalah. Aku malah sangat senang. Asalkan jangan belajar diam-diam lagi, kan lebih bagus jika aku yang mengajarimu? Selain itu juga untuk mencegah tindakkan pengancuran pada dapurku lagi hihiihi..”

“Ya oppa!”

“Ne.. I’m just kidding Mimi’ah” ucap Kyungsoo seraya mengacak-acak rambut Hyemi lembut. Keduanya tersenyum manis menikmati waktu kebersamaan mereka. Tapi nafas Hyemi seketika tercekat ketika wajah Kyungsoo malah semakin dekat dengan wajahnya. Dengan cepat ia memutar tubuhnya kekanan untuk menghindar. Tapi sayang tangannya malah tidak sengaja menyenggol sendok dimeja didekat piringnya hingga terjatuh.

“Aisssh..” dengus Hyemi kesal. Ia berdiri lalu mendorong kursinya kebelakang untuk mengambil sendok yang jatuh didekat kakinya. Kyungsoo terkekeh melihat tingkah gadis dihadapannya. Ia tau gadis itu bermaksud menghindar. Sementara Hyemi dengan terbata mengambil sendok yang terjatuh itu. Dia gugup bukan main. Tadi itu.. bukankah Kyungsoo bermaksud menciumnya? Oh Tuhan sepanjang hubungan mereka, mereka hanya pernah satu kali berciuman dihari ulang tahun Kyungsoo.

Dugh

“Aduuuh!” Hyemi meringis memegang kepalanya yang membentur meja ketika hendak kembali berdiri. Sontak Kyungsoo pun berjongkok lalu mengelus kepala Hyemi yang terbentur.

“Gwaenchanayo?” tanya Kyungsoo agak panik sementara Hyemi hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala.

“Apa ini yang sakit?” tanya Kyungsoo seraya mengelus lembut kepala Hyemi. Lagi-lagi Hyemi hanya mengangguk. Saking gugupnya hingga membuat bibirnya kelu. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik, kedua masih diam dalam posisi mereka. Sampai akhirnya Hyemi mulai membuka mulutnya.

“Oppa ak—“

Sebuah benda halus tiba-tiba mendarat dibibir merah muda Hyemi. Membungkam mulutnya yang baru saja hendak berkata. Sangat lembut hingga membuatnya terbuai. Ciuman hangat dipagi hari diakhir musim dingin. Ciuman manis dari orang yang dicintainya.

 

 

µµµµµ

-Anniversary-

 

Tap

Seorang gadis manis berambut panjang kecoklatan berjalan memasuki kelasnya yang pagi itu nampak sepi. Waktu menunjukkan pukul 06.20, memang terlalu pagi untuk sampai dikampus. Bahkan saking sepinya, suara derap kakinya terdengar menggema. Hanya ada 2 orang siswi dikelas itu. Yang satu sedang sibuk mendengarkan music sedangkan satu lagi hanya diam sambil memperhatikan kedatangan temannya dengan dahi mengkerut.

“Yeonhi’ah? Tumben sepagi ini kau sudah sampai disekolah? Biasanya kau datang 5 menit sebelum kelas dimulai” celetuk seorang gadis berkacamata yang duduk dibangku didepan meja guru.

“Iyaa karna hari ini aku tidak berangkat dengan Baekhyunnie oppa jadi aku bisa datang lebih pagi” jawabnya sambil memasukkan tasnya kedalam loker yang ada dibelakang ruang kelas.

“Ohh begitu.. tapi ada apa? Biasanya dia over protectif padamu..”

Yeonhi mengendikkan bahu, “Entahlah.. dia bilang jangan tanya. Dia hanya bilang kalau dia ada urus—Eh? What is this?” ucap Yeonhi sambil memutar tubuhnya. Tangannya memegang setangkai bunga mawar merah.

“Itu apa? Sudah jelas itu bunga mawar”

I know this is a rose Nana’ah. But why this flower could be here?” jawab Yeonhi setengah malas sambil memutar bola matanya.

“Mana aku tahu. Itu ada suratnya kan? Kau buka saja” jawab gadis berambut sebahu itu acuh tak acuh sambil memutar kembali posisi duduknya.

“Benar juga ya” gumam Yeonhi pelan sambil mencopot kertas kecil yang terikat ditangkai bunga mawar merah itu. Ia buka kertas berwarna soft pink itu kemudian membaca isinya.

Saat cinta kita pertama kali disatukan. Hari bahagia ketika kau menerima cintaku. Datanglah.. aku menunggumu..

-Your love-

Yeonhi mengernyit, sedikit sulit menelaah arti dari tulisan dikertas itu. Ia berjalan kebangkunya yang ada di deret kedua setelah bangku Nana. Ia termenung mencoba memikirkan maksutnya.

“Dari siapa Yeonhi’ah?” karna penasaran, Nana kembali memutar posisi duduknya. Tapi ia mengernyit ketika Yeonhi menjawabnya dengan mengendikkan bahu.

In the letter?

“Tidak ada nama pengirimnya. Dan.. coba kau baca. Apa kau mengerti maksutrnya?” ucap Yeonhi sambil menyodorkan kertas tersebut. Nana membaca isi kertas itu dengan seksama. Ia mendongak lalu menatap wajah innocent Yeonhi malas.

“Kau ingat hari ini hari apa?”

“Tentu saja. Sekarang hari sabtu..” sahut Yeonhi enteng.

Nana menghela nafas, “Sekarang tanggal 2 Maret Yeonhi’ah. Coba kau pikir. Adakah hal spesial pada tanggal itu?”

Yeonhi meletakkan telunjuknya didahi. Mulai berpikir seperti yang Nana perintahkan. Dan ia pun meringis saat otaknya baru saja ingat akan sesuatu. Ia menepuk dahi lalu tersenyum lebar kearah Nana.

“Hari ini.. hari jadi hubunganku dengan Baekhyunnie oppa Nana’ah” jawab Yeonhi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Sudah kuduga. Surat ini pasti dari Baekhyun oppa. Dia memintamu datang ketempat saat kau menerima cintanya. Kau ing—“

Belum selesai Nana menyelesaikan kalimatnya, Yeonhi sudah menyambar kertas ditangannya lalu berlari keluar kelas. Nana hanya menggeleng kemudian kembali melanjutkan kegiatannya membaca buku. Sementara Yeonhi berlari menuju tempat bersejarahnya bersama kekasih hatinya.

“Apa karna ini oppa tidak menjemputku? Aisshh bodoh! How could I forget my own anniversary?

Tak berapa lama, kini gadis manis itu sampai ditaman belakang kampus tepatnya didepan sebuah pohon besar nan rindang. Ia menunduk sambil menopangkan sebelah tangannya dipohon untuk menetralkan kembali nafasnya. Tanpa sengaja tangannya meraba bagian kasar pada batang pohon tersebut. Ia mendongak lalu seulas senyum terlihat diwajahnya ketika melihat sebuah ukiran kasar disana.

Ukiran namanya dan Baekhyun dengan gambar hati diantaranya. Seketika semburat merah muncul dikedua pipi putihnya ketika mengingat bagaimana saat Baekhyun menyatakan perasaannya ditempat itu. Namun tiba-tiba kakinya merasa menginjak sesuatu. Ia menunduk dan matanya membulat ketika ia lihat kakinya menginjak tangkai dari bunga mawar yang tergeletak disana. Segera ia ambil bunga itu lalu membuka dan membaca lagi isi kertas yang terikat cantik ditangkainya.

Tidak ada yang sempurna. Semua pasti memliki kekurangan. Seperti hubungan percintaan.. tidak selalu semanis yang dibayangkan. Ada saat dimana hubungan itu diuji. Kau ingat?

-Your love-

Yeonhi lagi-lagi mengernyit karna tak mengerti maksut yang ingin disampaikan oleh kalimat itu. Otaknya memang tidak terlalu pintar dalam menelaah hal-hal seperti ini. Bekerja dua kali lipat dari biasanya untuk mendapatkan arti dari kalimat dikertas itu. Setelah sepersekian detik, akhirnya gadis itu menjentikkan jari.

“Balkon!” serunya seraya kembali berlari masuk kedalam gedung kampus. Ia menaiki tangga menuju balkon lantai dua kampusnya. Tempat dimana ia biasa menyendiri jika sedang butuh ketenangan.Dan di balkon itu pula, dia dan Baekhyun pernah bertengkar hebat. Bertengkar karna kesalah pahaman. Bahkan ditempat itu ia sempat meneriakan kata putus pada Baekhyun. Namun hubungan mereka bisa kembali membaik setelah pembicaraan dengan kepala dingin. Tentu saja dengan bantuan sahabat-sahabat mereka.

Sesampainya disana, dengan segera ia mengedarkan pandangannya. Tapi hasilnya..—Nihil. Tempat itu kosong. Yeonhi memegang lututnya seraya membenarkan deru nafasnya. Ia berjalan kesebuah bangku yang ada dipojok balkon. Saat baru saja ingin menjatuhkan diri kebangku itu, matanya menangkap setangkai bunga mawar lagi tergeletak disana.

Yeonhi menghela nafas berat, “Bunga mawar lagi? Berapa tempat lagi yang harus aku datangi oppa?” gumamnya sembari mengambil bunga mawar tersebut. Lagi-lagi ada secarik kertas terikat ditangkainya. Namun satu yang berbeda, ada selembar foto yang terselip dibawahnya. Sebuah foto yang menunjukkan gambar ketika Yeonhi sedang tersenyum. Tersenyum sangaaat manis. Tentu foto itu diambil secara diam-diam hingga senyum itu nampak sangat natural.

Sebuah lagu cinta yang menggambarkan indahnya perasaan ini. Perasaan bahagia karna bisa bersamamu, memilikimu dan berbagi indahnya cinta denganmu. Kau.. gadis yang sangat aku cintai.. Jung Yeonhi..

-Your love, Byun Baekhyun-

“Dasar..” gumam Yeonhi seraya tersenyum simpul. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Membaca isi surat dari sang terkasih membuatnya terharu. Namun masih belum mengerti apa yang sebenarnya Baekhyun siapkan untuknya. Gadis itu hanya duduk sambil berpikir.

“Lalu sekarang apa? Dimana Baekhyun oppa? Apa hanya ini?”

Beberapa detik gadis itu berpikir, “—Ah! Aku tau!” Yeonhi bangkit dari duduknya lalu segera turun dari balkon. Dengan setengah berlari dia menelusuri koridor sekolahnya yang kini sudah mulai ramai.

Tap

Sampailah gadis itu didepan sebuah ruang musik. Ia tatap pintu berwarna coklat didepannya seraya menarik nafas dalam-dalam. Perlahan ia putar kenop pintu tersebut dan matanya membulat ketika ia lihat sebuah gambar hati berukuran jumbo terpampang disalah satu tembok ruangan itu. Seolah terhipnotis, tanpa sadar Yeonhi berjalan mendekat. Ia berjalan lurus dengan mata yang tak lepas dari bentuk hati tersebut. Dan matanya mulai berkaca-kaca lagi ketika ia lihat ternyata bentuk hati itu dibuat dari kumpulan cetakan foto. Semua foto dirinya yang tengah tersenyum.

Dengan mata tertutup, aku berdoa untuk semua ini
Perlahan,akan kudekap erat, dirimu penjaga hatiku
Hari ini adalah kesempatanku,
untuk memluai semuanya

Aku berjanji, akan selalu baik padamu
Seperti dalam doaku, semuanya akan berlalu bahagia
Langkah awal
untuk mewujudkan mimpi kita

Sebuah lantunan suara merdu tiba-tiba terdengar. Yeonhi tersentak lalu segera membalikkan badan. Dan airmatanya tak terbendung saat ia lihat Baekhyun tengah bernyanyi sambil memainkan piano.

Mengapa mata ini menjadi berbinar?
Mengapa hati ini berdebar begitu gila?
Aku tidak akan lupa semua ini, disaat sesak menjadi sesuatu yang berharga

Semua berawal dari impianmu, kata – katamu yang bahkan lebih berharga dari air matamu
Melampaui manisnya nektar di surga
Karena kau lah, baby baby baby, baby baby baby

Aku berjanji padamu, semua ini tidak akan berakhir
Diriku yang hanya akan melihat padamu

{Translate lirik EXO – BABY}

 

“Oppa..” panggil Yeonhi saat Baekhyun telah menyelesaikan lagunya. Namja berwajah cantik itu berbalik lalu tersenyum simpul kearah gadis yang masih terisak diposisinya.

Baekhyun menghela nafas, “Don’t cry honey..” ucap Baekhyun seraya bangkit lalu berjalan menghampiri kekasih hatinya. Ia tangkup wajah Yeonhi dengan kedua tangannya lalu memberi tatapan teduhnya pada gadis itu.

“Kau menyiapkan ini untukku?”

“Tentu saja. Memang untuk siapa lagi chagiya?” sahut Baekhyun sambil mengusap airmata Yeonhi. “Do you like it honey?

Yeonhi mengangguk mantap, “Ne.. neomu johayo oppa”

“Tapi masih ada yang kurang chagiya. Mana fotonya?”

“Eh? Oh! Iya ini oppa” jawab Yeonhi seraya menyodorkan sebuah foto yang ia dapatkan dibalkon tadi. Baekhyun hanya tersenyum tanpa mengambil foto tersebut. Ia malah memutar tubuh Yeonhi kembali menghadap bentuk hati ditembok.

“Itu lihat, ditengah-tengahnya masih berlubang. Letakkan foto itu agar bentuk hatinya menjadi sempurna..” ucap Baekhyun sambil menunjuk bagian tengah bentuk hati itu yang memang masih belubang. Mengikuti intrupsi Baekhyun, Yeonhi mengangguk lalu berjalan mendekat. Dengan agak berjinjit ia meletakkan foto tersebut hingga bentuk hati itu benar-benar sempurna.

Baekhyun tersenyum, “Kau tau kenapa aku menggunakan fotomu ketika tersenyum untuk membuat ini?” tanya Baekhyun yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Yeonhi.

“Karna hanya dengan melihat senyum manismu sudah cukup membuat hatiku merasa bahagia chagiya. Senyummu adalah segalanya bagiku. Akan aku lakukan apapun, asal kau bahagia dan selalu tersenyum ceria..” ucap Baekhyun setengah berbisik ditelinga Yeonhi, yang secara otomatis membuat semburat merah diwajah gadis itu.

“Tapi aku penasaran, apa oppa membuat ini sendirian?”

No! I made it with love and my heart honey

“Ya! Gombal!” seru Yeonhi sambil menerjang Baekhyun dengan pukulan bertubi-tubi.

“Ya chagiya appo!” ringis Baekhyun sambil mengelus-elus lengannya yang perih karna pukulan kekasihnya. Sementara Yeonhi hanya terkekeh sambil menutup mulutnya.

“Apa-apaan ini? Kekasih susah payah membuatkan kejutan malah mendapat pukulan. Sekarang kekasih sedang kesakitan kau malah tertawa.. Tsk” rungut Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya imut.

“Ne I’m sorry oppa. Yang mana yang sakit? Sebelah sini?” tanya Yeonhi sambil mengelus-elus lengan Baekhyun.

Sambil melirik Yeonhi, Bekhyun tersenyum nakal. “Bukan yang itu chagiya.. But this one” ucap Baekhyun manja sambil menunjuk-nunjuk pipinya. Merasa dipermainkan, Yeonhi malah mencubit pipi Baekhyun. “Nhe nhe chahiya.. akhu berthanda” ringis Baekhyun sambil menggosokkan kedua tangannya memohon pada Yeonhi.

“Makanya jangan macam-macam pada Jung Yeonhi” ucap Yeonhi sambil berkacak pinggang didepan Baekhyun.

“Ne aku tau.. kekasihku ini memang hebat”

Of course!

“Oya ada satu kejutan lagi chagiya”

Yeonhi menurunkan tangannya, “Eh? Masih ada lagi?”

“Ne. Ini yang terakhir. Kau masih menyimpan tiga suratku kan?”

Yes..” jawab Yeonhi cepat seraya merogoh saku jaketnya. “This..”

“Nah sekarang kau balik kertas itu. Di bagian belakangnya ada tulisan” ucap Baekhyun sambil tersenyum penuh makna. Seolah bagian ini adalah  bagian yang paling ia tunggu-tunggu. Ia tatap kekasihnya dengan tatapan tidak sabar. “Apa tulisannya?”

Seraya membalikkan ketiga kertas itu satu persatu, Yeonhi membaca tulisannya. “I.. Love.. You

I love you too” dengan satu gerakan cepat, Baekhyun menarik tengkuk leher Yeonhi lalu memberi sapuan hangatnya pada bibir mungil kekasihnya. Mata Yeonhi membulat karna gerakan tiba-tiba namja tampan itu. Bahkan jantungnya hampir saja melompat keluar. Disela-sela ciuman yang semakin memanas itu Yeonhi menyunggingkan senyum. Mengingat semua kejutan yang Baekhyun berikan hari ini padanya. Ia berdoa dalam hati, semoga ulang tahun hubungan mereka ini tidak hanya sampai tahun yang ke-3 tapi bisa hingga 3000 tahun lamanya..

 

 

µµµµµ

-Propose-

 

“Ahhh kemana sebenarnya bocah itu..” desah seorang gadis bertubuh jangkung seraya merebahkan diri kesofa ruang tamunya. Ia tatap layar ponselnya penuh harap. Menunggu sang terkasih menghubunginya lewat ponsel tersebut. Tapi sayang sejak pagi tadi, layar itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda yang ia inginkan.

“Ya! Park Chanyeol! Kenapa seharian ini kau sama sekali tidak mengubungiku? Bahkan telpon dan pesanku pun tidak kau tanggapi.. Aissshhh” ucap gadis cantik itu sambil menekan-nekan layar smartphonenya dengan telunjuk. Seolah sedang berbicara langsung dengan orang yang fotonya terpilih menjadi wallpaper diponsel itu.

Ia menghela nafas berlebihan sambil meletakkan ponselnya dengan kasar. Kesal? Tentu saja.. hampir setengah hari dan sang kekasih belum juga menghubungi. Ditambah dengan sendirian di rumah membuat gadis berkaki jenjang itu semakin merasa bosan. Perlahan ia memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan diri.

Ting

Tong

Suara bel rumahnya berbunyi, membuatnya tersentak lalu membuka mata. Dengan malas ia bangkit lalu berjalan kearah pintu.

“Selamat siang nona, benarkah ini rumah Park Eun Jung?..” ucap seorang lelaki paruh baya yang berdiri didepan pintu rumahnya sambil membawa sebuah kotak besar. Lelaki itu bertanya ramah seraya tersenyum.

“Iya benar saya sendiri.. ada apa ya?”

“Ini ada kiriman untuk nona” ucap lelaki itu sambil menyodorkan sebuah kotak besar yang ia bawa. Kotak berwarna merah jambu dengan pita cantik diatasnya.

“Ohh baiklah..” jawab Eunjung seraya mengambil kotak tersebut. Setelah menandatangani tanda terimanya, Eunjung pun masuk lalu meletakkan kotak besar itu diatas meja ruang tamu. Ia tatap kotak yang dihias cantik itu bingung.

“Apa ini dari Chanyeol?” gumam gadis berambut panjang itu sembari membuka kotak tersebut. Dan dahinya pun mengkerut ketika ia lihat sebuah gaun putih ada didalamnya. Ia keluarkan gaun putih panjang itu dari dalam kotak. Dan ia pun terpana melihat gaun tersebut. Sangat cantik.. mirip seperti gaun pengantin, hanya saja terlihat lebih sederhana. Gaun yang jika ia gunakan akan menutupi seluruh kakinya itu memiliki hiasan pita cantik dibagian belakang. Ketika sedang asik dengan gaun cantik yang baru ia dapat, matanya tidak sengaja menangkap sebuah kertas putih tertinggal didalam kotak. Ia ambil kertas itu lalu membaca isinya.

Dear, Jungie

Kau sudah dapatkan gaunnya kan? Aku yakin kau pasti suka^^ Dan aku juga yakin kau pasti bingung kenapa aku mengirimimu gaun. Iya kan? Nah jika kau ingin tau, gunakan gaun itu sekarang lalu ikutlah dengan orang yang aku perintahkan untuk menjemputmu. Ada sesuatu yang khusus aku siapkan untukmu.

From : Yeollie mu yang tampan^^

“Sudah kuduga..Dasar bocah tengik itu” ucap Eunjung seraya menutup lagi kertas itu. Ia tatap gaun putih itu sejenak, lalu membawanya kelantai dua. Ia masuk kedalam kamar lalu mulai bersiap-siap. Setelah membersihkan diri, ia pun memakai gaunnya.

Pretty..” gumam gadis itu ketika ia lihat refleksi dirinya dikaca. Gaun itu nampak sangat sempurna ditubuhnya yang ramping. Ditambah dengan tubuhnya yang tinggi membuat ia terlihat makin anggun. Setelah puas memperhatikan dirinya dikaca, ia pun segera memoles wajah cantiknya. Dengan sedikit make up dan rambut yang digulung keatas, ia pun terlihat semakin mempesona.

Ting

Tong

Eunjung tersentak ketika bel rumahnya kembali berbunyi nyaring. Ia segera bangkit lalu turun kelantai bawah. Walau agak kesulitan dengan gaun panjangnya tapi Eunjung berhasil sampai didepan pintu rumahnya. Seorang namja berjas hitam pun menampakkan diri dibalik pintu.

“Nona Park Eunjung?” ucap namja itu sambil membungkuk dan tersenyum ramah pada Eunjung.

“Ne.. apa kau orang yang..”

“Benar.. saya orang yang tuan muda perintahkan untuk menjemput nona. Apa nona sudah siap?” sahut namja itu ramah masih sambil menunduk.

Tidak menjawab, Eunjung hanya diam sambil berpikir. Takut jika orang didepannya ternyata hanya seorang penipu yang menyamar menjadi orang suruhan kekasihnya. Namun dengan cepat ia tepis pikiran buruk itu, karna sadar bahwa itu pemikiran yang terlalu berlebihan. Saat sudah merasa yakin, Eunjung mengangguk tanda mengiyakan. Setelah mengunci pintu rumahnya, Eunjung pun mengikuti namja berjas itu masuk kedalam mobil yang sudah terparkir rapi didepan rumahnya.

Mobil itu melaju membawa Eunjung kesuatu tempat. Dengan rasa penasaran Eunjung duduk sedikit gelisah didalam mobil. Pukul 11 dan matahari sudah semakin tinggi. Dengan gaun indah nan cantik itu, Eunjung mulai menerka-nerka apa rencana Chanyeol sebenarnya. Sudah hampir setengah jam, dan sang pengendara mobil belum juga memarkirkan mobilnya.

“Ehm.. Boleh aku tau kita akan kemana?” tanya Eunjung berhati-hati. Entah sejak kapan ia mulai merasa gugup.

“Maaf nona.. tuan muda tidak mengijinkan saya untuk memberi tau nona” ucap namja itu sopan. Eunjung yang tadinya menunggu jawaban dengan semangat seketika berubah lesu. Sampai akhirnya mobil itu kini berhenti. Berhenti didepan sebuah gereja kecil. Setelah namja yang mengantarnya membukakan pintu mobil, gadis itu turun.

Eunjung mengernyit, “Gereja?” tanyanya pada namja itu.

“Tuan muda meminta saya agar mengantar nona hingga didepan gereja saja. Dia bilang nona harus masuk sendirian..”

Eunjung pun berbalik lalu menghela nafas. Entah kenapa jantungnya berdebar. Penasaran dengan apa yang sebenarnya disiapkan Chanyeol khusus untuk dirinya. Dengan ragu-ragu Eunjung mengangkat gaunnya lalu berjalan masuk kedalam gereja. Baru saja melangkahkan kaki hingga ambang pintu masuk gereja, gadis itu terpaku ketika melihat bagian dalam gereja tersebut.

Disisi kanan dan kiri altar terdapat lilin-lilin kecil yang cantik. Helai bunga mawar juga bertebaran disepanjang altar. Ada hiasan bunga dikursi dan dinding gereja. Tempat itu sungguh terlihat seperti lokasi untuk pernikahan. Ditambah lagi dengan seorang namja yang tengah berdiri diujung altar. Seorang namja jangkung bertuxedo putih yang tengah tersenyum kearahnya.

“Chanyeol..” gumam Eunjung ketika tatapannya dan Chanyeol bertemu. Eunjung pun melanjutkan langkahnya. Persis seperti seorang mempelai wanita yang tengah berjalan di altar, Eunjung berjalan pelan dengan tatapan yang tak lepas dari Chanyeol.

Chanyeol mengulurkan tangannya ketika Eunjung tinggal beberapa langkah sampai didepannya. Eunjung raih uluran tangan Chanyeol lalu berdiri disebelah namja itu. Chanyeol memutar tubuhnya berhadapan dengan Eunjung.

You look so beautiful baby..” ucap Chanyeol sambil tersenyum puas. Ia perhatikan gadisnya dari atas kebawah dengan tatapan penuh makna. Sementara Eunjung merasakan wajahnya memanas karna pujian Chanyeol. Ia tau pasti wajahnya memerah sekarang.

“Kau yang menyiapkan ini semua?” sahut Eunjung yang kemudian dibalas anggukan mantap dari Chanyeol.

“Apa karma ini kau tidak menghubungiku seharian ini?”

Chanyeol mengelus tengkuk lehernya, “Maaf aku sengaja mematikan ponselku karna ingin kosentrasi menyiapkan kejutan ini Jungie’ah” jawab Chanyeol sambil tersenyum lebar menunjukan deretan giginya yang rapi.

“Lalu.. sekarang apa?”

Mendengar pertanyaan kekasihnya, Chanyeol tersenyum simpul lalu bersimpuh didepan Eunjung. Terkejut dengan tindakan namja itu, mata Eunjung membulat dengan alis terangkat. Chanyeol meroggoh saku tuxedonya lalu mengelurkan sebuah kotak beludru berwarna merah. Kotak berbentuk hati yang cantik. Jantung Eunjung berdegup cepat menunggu Chanyeol membuka kotak tersebut.

Will you marry me?” ucap Chanyeol pelan namun cukup membuat Eunjung kehilangan seribu bahasanya. Matanya membulat menatap Chanyeol dan benda cantik didalam kotak tersebut bergantian. Sebuah cincin berlian sederhana namun terlihat cantik. Chanyeol memang sangat tau bagaimana selera kekasihnya. Eunjung tidak terlalu suka sesuatu yang terlihat berlebihan.

“Kurasa ini waktu yang pas untuk mengatakannya padamu. Sebentar lagi aku akan menyelesaikan gelar sarjanaku, dan aku juga akan segera masuk keperusahaan keluargaku. Kupikir dengan usia 4 tahun hubungan kita, sangat cocok untuk segera berjalan kebagian yang lebih serius Jungie’ah”

Setelah sepersekian detik terdiam, Eunjung pun melonggarkan otot wajahnya. Ia tersenyum simpul kearah Chanyeol, “Pernikahan bukan sesuatu yang mudah Yeollie’ah. Perlu banyak persiapan, baik materi maupun mental. Aku pernah bilang padamukan, kalau aku ingin menikah satu kali dalam seumur hidupku?”

Chanyeol mengangguk, “Aku tau Jungie’ah. Karna itulah aku ingin menikah denganmu. Karna aku ingin jadi satu-satunya namja dalam hidupmu..” jawab Chanyeol pelan namun sangat yakin.

Are you sure?

Yes baby.. because I love you so much

“Aku adalah tipe gadis yang keras Yeollie’ah. Jika kita menikah mungkin tidak jarang aku akan merepotkanmu. Jadi aku tanya sekali lagi. Kau yakin ingin menikah denganku?”

Why not? Kita berpacaran selama 4 tahun Jungie’ah. Aku sudah sangat mengenalmu. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak yakin” jawab Chanyeol tenang. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Akhirnya Eunjung pun mengulurkan tangan kanannya.

Yes I will baby..

Mendengar jawaban Eunjung, seketika senyuman lebar terulas diwajah tampan Chanyeol. Matanya berbinar dan wajahnya merona behagia. Ia keluarkan cincin berlian dari kotaknya, lalu segera menyematkannya dijari manis Eunjung. Setelah cincin itu tersemat cantik dijari lentik gadisnya, Chanyeol pun kembali berdiri.

“Nah sebentar lagi kau resmi menjadi nyonya Park.. Jungie’ah” ucap Chanyeol sambil tersenyum bangga.

Eunjung menaikkan sebelah alisnya, “Hey Park Chanyeol? Kau lupa kalau marga kita sama? Tanpa kau lamar pun aku bisa menjadi nyonya Park”

“Eh? Benar juga ya.. heheh”

“Tapi.. Setelah menerima satu sama lain, biasanya diupacara pernikahan apa yang dilakukan oleh sepasang mempelai ya?” ucap Chanyeol sambil berpura-pura berpikir. Eunjung terkekeh mendengar pertanyaan kekasihnya lalu menjawabnya santai.

Kissing?

Chanyeol mengangguk mantap, “Yes. You’re right baby.. so should we..” sahut Chanyeol dengan tatapan nakalnya. Setelah mendapat anggukan kepala dari Eunjung, tanpa ragu ia mengunci gadis itu dengan sebuah ciuman. Ciuman menuntut namun tetap lembut. Ciuman manis yang didasari oleh cinta. Cinta yang mereka harapkan adalah cinta sejati untuk selamanya.

 

 

µµµµµ

-Forgive-

 

Angin musim dingin bertiup cukup kuat. Walaupun hari ini adalah hari terakhir musim dingin tapi udara dingin masih sangat terasa. Dan ditengah udara dingin inilah, seorang gadis berambut hitam panjang tengah duduk disebuah bangku taman ditengah kota. Duduk untuk menunggu seseorang yang sudah hampir satu setengah jam belum juga menampakkan batang hidungnya.

Tsk.. kebiasaan terlambatnya yang paling aku benci” gumam gadis itu sambil melirik jam tangannya dengan tatapan kesal.

Ini sudah kesekian kalinya kekasihnya datang tak tepat waktu. Dan ini sudah kesekian kalinya pula ia menunggu berjam-jam hanya demi menunggu sang terkasih datang. Ia sendiri tak mengerti, ia tahu kekasihnya hobi datang terlambat, ia sendiri tahu kalau dirinya sangat tidak suka menunggu. Tapi entah kenapa, mengingat kalau dia tengah menunggu orang yang dicintainya membuat ia tak bisa pergi begitu saja. Mungkin karna.. Cinta?

“Huuuh.. haruskah aku menyerah dan pergi?” ucap gadis cantik itu sambil mengedarkan pandangannya. Berharap orang yang ditunggunya datang. Tapi sayang ia tak menangkap sosok yang ia tunggu. Ia menghela nafas berlebihan lalu sambil merengut bangun dari duduknya bermaksut untuk pergi. Namun..

“Minyoungie!!!”

Sebuah pekikan keras terdengar, gadis cantik itu berbalik dan ia hanya menghela nafas kesal melihat sosok yang tengah berlari kearahnya. Gadis itu merengut sambil bersedekap didada.

“Kemana saja? Ini sudah terlambat 1 jam 45 menit. Tuan Oh Sehun?!” ucap Minyoung dengan nada yang tegas pada namja yang tengah menetralkan kembali nafasnya itu. Sehun berkacak pinggang sambil menggigit bibir bawahnya. Ia meringis dan nafasnya terdengar memburu. Sepertinya ia baru saja lari marathon.

“Maafkan.. aku Minyoungie..” sahut Sehun dengan terbata.

Minyoung mendengus geli sambil memalingkan wajahnya, “Kapan kebiasaan terlambatmu ini akan sembuh Sehunnie? Setiap kali kita ada janji kau sering sekali terlambat. Kau tau aku hampir beku menunggumu disini sendirian?!” ucap Minyoung dengan raut wajah yang sangat jelas menyiratkan kekesalannya.

“Iya aku tahu aku salah Minyoungie. Tapi aku janji aku tidak akan mengula—“

“Jawabanmu selalu itu. Kau selalu mengubar janji kalau kau tidak akan mengulanginya. Tapi apa? Sekarang sudah kedua kalinya kau terlambat setelah kau mengucapkan janjimu yang sebelumnya Sehunnie”

“Tapi Minyoung—“

Minyoung membalikkan tubuh, “Sudahlah Sehunnie. Ini sudah terlalu siang untuk pergi kencan. Lebih baik kau pulang saja” ucap Minyoung pelan namun terdengar tegas.

“Tunggu dulu! Biar aku jelaskan Minyoungie” tandas Sehun cepat sembari berjalan kedepan Minyoung. “Bukan tanpa alasan aku terlambat Minyoungie. Aku terlambat karna tadi aku membantu Chanyeol hyung menyiapkan kejutan untuk Eunjung noona”

“Ohh.. jadi kau mengabaikan kekasihmu sendiri hanya untuk membantu orang lain menyiapkan kejutan untuk kekasihnya. Begitu? Bagus sekali ya..”

Mendengar jawaban kekasihnya, Sehun mendadak lesu. “Minyoungie..”

“Sudahlah.. aku ada janji dengan Hyemi untuk membuat tugas disekolah. Aku pergi dulu” ucap Minyoung seraya berlalu meninggalkan Sehun yang nampak putus asa.

Sehun berbalik lalu menatap Minyoung yang berjalan pelan meninggalkannya. Ingin menghentikan kepergian kekasihnya itu, namun ia tahu jika hanya usaha seperti ini akan jadi usaha yang sia-sia. Karna itu, ia ingin menyiapkan sebuah permintaan maaf yang lebih, agar Minyoung bisa melihat kesungguhannya. Dengan segera Sehun meronggoh saku mantel bulunya lalu mengeluarkan smartphonenya.

Pip

“Yeoboseyo?”

“Hyung! Kau harus tanggung jawab! Minyoung sekarang marah padaku karna aku terlambat menemuinya”

“Ya! Kenapa aku yang bertanggung jawab? That’s your problem. Kau sendiri yang lupa kalau punya janji dengan kekasihmu”

“Hey aku tidak mungkin lupa kalau kau tidak menyuruhku untuk membantumu. Ah pokoknya aku tidak mau tahu! Ini salahmu hyung. Giliranmu yang sekarang harus membantuku”

“Aishh.. Iyaya baiklah. Kau dimana?”

“Di taman kota dekat sekolahku”

“Oke aku kesana sekarang”

Pip

Minyoung berjalan dengan malas memasuki gedung sekolahnya. Sedikit kecewa.. padahal ia berharap Sehun berlari lalu mengejarnya untuk minta maaf. Tapi harapannya hancur, karna hingga ia berjalan sejauh ini Sehun sama sekali tidak terlihat mengejarnya.

Ia telusuri koridor sekolahnya menuju ruang kelasnya yang ada dilantai dua. Hari sabtu adalah hari bebas untuk siswa sekolahnya. Sebenarnya hari sabtu dan minggu adalah hari libur. Namun tidak sedikit siswa yang datang kesekolah untuk bermain, berlatih ataupun berlajar bersama. Beberapa ekskul olahraga juga banyak diadakan hari sabtu. Karna itu sekolahnya hari itu ramai seperti hari sekolah biasanya.

“Minyoung’ah” panggil seorang gadis manis yang tengah berdiri didepan kelasnya. Gadis itu tersenyum lalu menghampirinya. “Kemana saja? Kenapa lama sekali?”

“Maaf Hyemi’ah, tadi ada sedikit masalah..” sahut Minyoung sambil berjalan beriringan dengan Hyemi masuk kedalam kelas. Mereka memutar beberapa bangku hingga mereka bisa duduk berhadapan.

So..What about your date today?” tanya Hyemi yang otomatis membuat Minyoung terpaku. Minyoung menghela nafas sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Melihat wajah lesu sahabatnya, Hyemi tau apa yang terjadi.

“Isshh.. si cadel itu memang perlu diberi pelajaran. When he would stop too late?!” ucap Hyemi mengepalkan kedua tangannya. Ia memasang wajah kesal yang malah membuatnya terlihat lucu.

“Wajah imutmu itu tidak cocok sok galak Hyemi’ah. Sudahlah lupakan masalah bocah aneh itu. What about you? Apa rencanamu berhasil kali ini?”

“Uhh mana mungkin. Lagi-lagi aku hanya mendapatkan tertawaan dari Kyungie oppa” ucap Hyemi sambil mempoutkan bibirnya. Sementara Minyoung hanya terkekeh. Sahabatnya ini sangat cute. Dia dan Kyungsoo memang sangat cocok.

“Tapi Minyoung’ah ada satu yang membuatku sangat senang hari ini. You know what?” tanya Hyemi yang dijawab gelengan kepala oleh Minyoung. Hyemi memajukan tubuhnya kearah Minyoung, “Tadi pagi.. aku dan Kyungie oppa.. berciuman” bisik Hyemi dengan menekankan kata berciuman dan nada bicaranya terdengar begitu gembira.

Minyoung terkekeh, “Apa hebatnya? Kissing is a normal thing for me. Aku dan Sehun sering berciuman” ucap Minyoung sambil menaikkan dagunya sombong.

“Kalian berdua kan memang pasangan mesum” cibir Hyemi sambil bersedekap didada. Minyoung tertawa terbahak mendengar jawaban sahabatnya.

“Kim Minyoung! Please forgive me!

Sebuah suara teriakan tiba-tiba terdengar. Merasa mengenal suara itu, Minyoung dan Hyemi saling menatap lalu segera berlari kejendela kelas. Dan mata mereka membulat ketika melihat pemandangan dibawah sana. Sehun.. namja itu tengah berdiri ditengah lapangan basket sambil membawa spanduk besar bertuliskan ‘Aku minta maaf’ Ia berteriak dengan pengeras suara ditangannya. Semua siswa juga berkumpul disana untuk menonton aksi namja tampan itu.

“Aku tahu aku sering membuatmu kesal karna kebiasaan terlambatku. Aku tahu, jika aku ada diposisimu aku juga akan sangat marah.Tapi sungguh.. aku tidak pernah sama sekali bermaksut untuk membuatmu menunggu seperti tadi Minyoungie” teriak Sehun lagi yang kemudian membuat seluruh siswa yang berkumpul disana bersorak sorai.

“Aku mohon maafkan aku. Aku tidak sanggup kalau kau marah padaku. Aku tidak akan bisa tenang Minyoungie. Karna itu, aku tidak akan pergi dari sini sampai kau memaafkanku”

Tanpa sadar, airmata gadis itu terjatuh. Minyoung terdiam sambil menutup mulutnya. Tak percaya kalau Sehun akan bertindak sejauh itu. Ia mulai merasa bersalah karna sempat kecewa pada namja itu. Tanpa pikir panjang lagi, Minyoung segera menghambur keluar kelas. Meninggalkan Hyemi yang tersenyum manis melihat sahabatnya.

Dengan mata yang memburam karna dipenuhi airmata, Minyoung berlari cepat untuk sampai kelapangan basket. Ia terobos kerumunan manusia yang cukup banyak memenuhi lapangan basket sekolahnya. Sampai akhirnya ia berhenti satu langkah didepan Sehun. Tatapan mereka bertemu dan Sehun pun tersenyum simpul. Dengan satu gerakan cepat Minyoung memeluk kekasihnya yang sontak mendapat seorakan dan siulan dari teman-temannya.

Stupid! Why did you embarrass yourself?

“Apapun asalkan kau memaafkanku, akan kulakukan Minyoungie” sahut Sehun santai namun terdengar tulus. Membuat Minyoung semakin tak bisa membendung airmatanya karna terharu. “So.. do you forgive me baby?”

Minyoung mengangguk, “Hmm..”

Semua bersorak lagi, tak sedikit dari mereka yang malah ikut gembira. Dan beberapa gadis juga terlihat iri melihat aksi Sehun untuk kekasihnya. Sehun dan Minyoung melepas pelukan mereka lalu saling menatap dan tersenyum.

“Sehun’ah cium Minyoung!” celetuk seorang namja yang sontak membuat semua mata menoleh kearahnya. Namja itu tersenyum lebar. Namja yang menjadi sebab kenapa Sehun terlambat menemui Minyoung. Dan namja itu juga yang kini membuat semua orang disana ikut berteriak agar Sehun dan Minyoung berciuman.

“Isshh.. Kenapa Chanyeol oppa ada disini?!”

“Dia yang membantuku menyiapkan semua ini. Tapi kenapa dia berteriak seperti itu?! Sial..” Sehun dan Minyoung mulai gugup. Mereka tidak mungkin berciuman didepan orang sebanyak itu.

Sehun tersenyum, “Maaf teman-teman.. kalau yang satu itu adalah privasi. Jadi.. kami tidak bisa melakukannya disini” ucap Sehun setenang mungkin sambil menggandeng tangan Minyoung keuar dari kerumunan. Dan tentu saja, tindakan namja itu membuat teman-temannya berteriak kecewa.

Mereka berdua pun berlari kebelakang gedung sekolah. Berhenti dibawah sebuah pohon besar. Saling menatap lalu tertawa bersama. Mengingat aksi gila yang baru saja mereka lakukan.

“Terimakasih sudah mau memaafkanku Minyoungie”

Minyoung mengangguk, “Ne.. lain kali berusalah untuk tidak terlambat.. arrachi?” sahut Minyoung yang dijawab anggukan mantap dari Sehun. Minyoung tersenyum manis, dan membuat Sehun tidak bisa menahan dirinya.

Perlahan namja itu menghapus jarak diantara keduanya. Mengerti akan tindakan kekasihnya, Minyoung memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut yang ia rasakan dibibir merah mudanya. Ia merasakan ketulusan disentuhan itu. Tulus dan hanya mereka berdua yang dapat merasakannya.

 

 

µµµµµ

-Belief-

 

“Baiklah sudah ditentukan. Yang akan mewakili sekolah kita dalam lomba kali ini adalah Kim Jongin dari kelas 3-B dan Yoon Ahjung dari kelas 3-A” ucap seorang guru muda didepan kelas.

Sore itu disebuah ruang kelas tengah diadakan pemilihan kandidat yang akan mewakili sekolah dalam perlombaan dance tingkat nasional. Waktu pemilihan memang sengaja diadakan diluar jam sekolah agar tidak menganggu jam pelajaran. Dan yang berkumpul sore itu hanya siswa-siswa terpilih yang sudah diseleksi dari seluruh siswa sekolah itu.

Seorang gadis cantik yang juga menjadi salah satu siswi diruangan itu pun nampak kecewa mendengar hasil yang diumumkan gurunya. Ia menghela nafas sambil membenamkan kepalanya pada kedua tangan yang terlipat diatas meja.

“Itu adalah keputusan dari seluruh juri jadi ibu harap tidak ada diantara kalian yang keberatan. Tidak terpilih kali ini bukan berarti kemampuan menari kalian tidak bagus. Tapi mungkin kalian hanya belum beruntung. Jadi jangan putus asa dan terus belajar lagi. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Baiklah sekian untuk pertemuan kita hari ini. Terimakasih dan sampai jumpa..” ucap guru cantik itu lalu berjalan keluar ruang kelas. Setelah guru itu menghilang dibalik pintu, suasana kelas seketika riuh. Hampir semua siswa yang tidak terpilih terlihat kecewa. Bahkan banyak dari mereka yang tanpa basa-basi langsung menghambur keluar kelas.

“Jihannie!!” panggil seorang namja kepada gadis berambut panjang yang tengah berjalan cepat keluar kelas. Namja yang awalnya duduk bersebelahan dengan gadis itu pun segera mengejarnya.

“Jihannie kau mau kemana?” panggil namja itu lagi, namun gadis cantik itu tetap bergeming sambil melanjutkan langkahnya. Namja itu menghela nafas sambil tetap mengikuti gadis bernama Jihan itu. Ia pikir mungkin gadis itu sedang kesal karna gagal dalam seleksi kali ini.

“Menyebalkan” gumam Jihan sambil melempar tasnya kebangku panjang disisi kanan ruang latihan dance sekolahnya. Ia berkacak pinggang sambil memejamkan matanya.

“Sudahlah.. mungkin kau masih bisa ikut diperlombaan lainnya chagiya..” ucap namja berkulit gelap sambil menggenggam tangan kekasihnya. Tapi namja itu tersentak ketika Jihan melepas paksa tangannya.

“Jihannie kau kenapa? Aku tahu kau kecewa tapi apa perlu semarah ini? Kau masih punya kesempatan dilomba lain nanti”

Jihan berbalik lalu menghela nafas, “Bukan itu Jonginnie. Aku tidak marah karna tidak terpilih tapi aku hanya.. hanya merasa terganggu karna yang terpilih adalah Ahjung” sahut Jihan yang berhasil membuat dahi Jongin mengkerut.

“Apa? Untuk apa merasa terganggu hanya karna Ahjung?”

“Kau ingatkan dulu Ahjung pernah menyukaimu? Bahkan dia nekat menyatakan perasaannya padamu didepan kelas kita Jonginnie. Kau pikir bagaimana perasaanku sekarang? Khawatir? Iya sangat khawatir..” jawab Jihan sedikit panik kemudian menghepaskan diri kebangku panjang disebelah tasnya.

Jongin tersenyum penuh makna, “Ahh.. are you jelous honey?

“Bukan cemburu.. tapi lebih tepatnya takut. Aku hanya ragu apa mungkin Ajung akan konsisten menggunakan kesempatan ini hanya untuk perlombaan?”

“Maksutmu kau berpikir kalau Ahjung akan menggunakan kesempatan ini untuk mendekatiku lagi.. begitu?” Jongin ambil posisi duduk disebelah kekasihnya lalu meletakkan tasnya disebelah kanannya.

Jihan mengendikkan bahu, “Bisa saja kan? Who’s know?” jawab Jihan acuh tak acuh yang malah membuat Jongin terkekeh. Jihan menoleh lalu menatap Jongin tajam. “Kenapa kau malah tertawa?” tanya Jihan sedikit kesal. Segera Jongin menghentikan tawa ketika tatapannya dan Jihan bertemu, gadis itu nampak sedang tidak bagus untuk diajak bercanda.

Listen.. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan Jihannie. Aku ini milikmu. Disini.. hanya ada dirimu. Kau tak perlu takut aku akan berpaling chagiya. Karna aku sangat mencintaimu” ucap Jongin lembut sambil menepuk pelan dadanya. Jihan menghela nafas lalu bangkit dari duduknya.

“Sekarang mungkin hanya aku. Tapi siapa yang tahu setelahnya kau..” sahut Jihan dengan kalimat menggantung yang otomatis membuat Jongin ikut berdiri.

You don’t believe me honey?” jawab Jongin dengan nada tak percaya.

“Bukan tidak percaya Jonginnie.. tapi.. hanya ragu?” jawab Jihan pelan yang lebih terdengar seperti pertanyaan. Jongin menghela nafas lalu memutar tubuh Jihan berhadapan dengannya. Ia tatap kedua mata bening gadis itu lekat.

“Kau ingat bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan hatimu? Bagaimana aku menghadapi kakakmu yang over protective itu? Seberapa lama aku menunggu hingga kau akhirnya menerima perasaanku. Apa kau pikir aku akan menyia-nyiakan perjuanganku itu begitu saja hanya karna seorang gadis yang menjadi partnerku dalam lomba?”

Jihan menunduk, menatap mata Jongin membuatnya merasa bersalah. Jongin benar.. namja itu menempuh perjalanan panjang untuk bisa bersama dirinya. Tapi kenapa ia masih juga ragu?

I’m sorry Jonginnie..”

Jongin tangkup wajah Jihan dengan kedua tangannya, “Trust me honey.. I’am yours” ucap Jongin kemudian dengan nada suara yang lembut. Jihan tersenyum lalu mengangguk. Membuat Jongin mampu menghela nafas lega. Jongin balas tersenyum lalu medekatkan wajahnya dengan wajah Jihan. Membuat nafasnya dapat dirasakan jelas oleh gadis itu. Namun sayang, ketika bibir mereka hampir saja bertemu Jihan mendadak memalingkan wajahnya.

“Sudah sore! Ayo pulang.. Chanyeol oppa bisa marah kalau aku pulang terlalu sore” ucap Jihan sedikit gugup sambil berjalan mengambil tas ranselnya. Dapat ia rasakan wajahnya memanas karna tindakan Jongin. Jongin hanya tersenyum sambil ikut menyandang tasnya.

“Yaa namja super over protective itu bisa mengamuk nanti” jawab Jongin dengan nada bercanda sambil mengekor dibelakang Jihan. Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan. Walau Jihan masih belum sepenuhnya lega, tapi ia berusaha agar Jongin tidak merasakan keraguannya. Ia takut kalau namja itu tersinggung karna perasaannya.

“Hujan?!” ucap Jihan setengah berteriak ketika mereka sampai dilobi gedung sekolahnya. Melihat hujan yang mengguyur deras sore itu membuat mood nya semakin hancur. “Bagaimana ini? Aku tidak bawa payung” rengut Jihan sambil menghentakkan kaki kanannya. Mereka bicara sedikit berteriak mengingat suara hujan yang mengalahkan suara mereka.

“Ah bagaimana ini? Aku juga tidak bawa payung chagiya dan hebatnya lagi hari ini aku tidak bawa motor..”

“Apa aku hubungi Chanyeol oppa saja agar menjemput kemari?” tanya Jihan pada Jongin yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh namja itu.

Jihan menaikkan alisnya, “Lalu bagaimana kita bisa pulang Jonginnie?”

Jongin tersenyum lalu melepas jaket kulitnya. Ia retangkan jaket itu dikepalanya dan Jihan. “How about this?” tanya Jongin dengan jarak wajah dengan Jihan sekitar 10cm. Membuat Jihan merasakan gejolak didadanya. Menatap wajah kekasihnya sedekat itu membuatnya tersipu. Dengan canggung, Jihan membalas senyuman Jongin.

Okay.. dalam hitungan ketiga kita lari. Arrachi?” ucap Jongin yang dijawab anggukan oleh Jihan. “Satu.. Dua.. Tiga!”

Mereka pun menghambur menerobos hujan dengan berpayungkan jaket kulit Jongin. Keduanya berlari sambil tertawa. Setelah keluar gedung sekolah mereka segera berlari menuju halte.  Dan disitulah Jihan berangsur melupakan keresahannya. Ia tersenyum memandangi Jongin yang duduk disebelahnya. Ia tahu Jongin pasti tidak akan menyakitinya. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa tidak seharusnya ia ragu pada namja yang sudah 1 tahun ini menjadi kekasihnya.

“Sepertinya tidak ada orang dirumah..” ucap Jihan sambil membuka pintu rumahnya. Keduanya basah kuyup. Memayungkan diri dengan jaket memang tindakan yang sia-sia. Wajah dan hidung mereka memerah karna udara yang sedingin es. Jihan berjalan kekamar mandi lalu membawakan Jongin handuk kecil.

“Lap dulu kepalamu.. Akan aku ambil kan baju ganti. Mungkin ada baju Chanyeol oppa yang bisa kau pakai” ucap Jihan seraya berlari kelantai dua rumahnya. Jongin mengangguk lalu meletakkan tasnya disofa. Tak sampai 15 menit setelah Jihan mengganti baju, gadis itu datang dengan membawa sebuah T-shirt berwarna merah.

“Ini Jonginnie kau bis—Kyaaa!!” pekik Jihan sambil menutup wajah dengan baju ditangannya. Jantungnya berdegup tak karuan karna pemandangan yang baru saja ia lihat. Wajahnya juga memanas dan ia yakin sudah memerah. Jongin hanya terkekeh melihat reaksi kekasihnya.

“Jonginnie what are you doing?! Kenapa buka baju disini?!”

“Memangnya kenapa? Bajuku basah Jihannie. Sudah seharusnya aku buka kan? Bagaimana kalau aku kena flu?” sahut Jongin santai sambil terus mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Iya tapi kau bisa ganti baju dikamar mandi kan?”

“Hihihi.. Iya maaf. Tapi tidak perlu seperti itu .. lagi pula aku hanya membuka baju tidak sampai membuka celana. Kau tidak perlu setakut itu chagiya..” ucap Jongin sambil berjalan menghampiri Jihan lalu mengambil T-shirt merah yang menutupi wajah gadis itu. Ia tersenyum, ternyata mata Jihan juga tertutup. Gadis itu memang lugu.. tapi keluguannya itulah yang membuat Jongin tertarik.

Jongin letakkan handuknya dikepala Jihan. Jihan tersentak lalu membuka matanya. Dengan lembut Jongin mengeringkan rambut gadis manis itu. Ia tersenyum ketika mata Jihan menatapnya polos. Apalagi dengan semburat merah diwajah gadis itu, membuat Jongin tak bisa berhenti tersenyum. Jihan tatap wajah Jongin intens. Ia pun semakin merasa yakin. Ia tahu kalau rasa ragunya pada Jongin salah besar. Ia percaya.. Jongin tidak akan mengkhianatinya.

“Jongin..”

“Ne?”

“Maafkan aku..”

Jongin mengangguk, “Permintaan maaf diterima” jawab Jongin santai sambil terus melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut Jihan.

But promise.. You’re not going to destroy my belief

Yes.. I swear! I’m just yours honey..” ucap Jongin sambil mengacungkan dua jarinya keatas. Jihan menghela nafas lalu tersenyum lega. Jongin balas tersenyum lalu mengedipkan sebelah mata. Sementara Jihan mengedipkan matanya berulang kali ketika wajah Jongin malah semakin dekat. Jantungnya berdegup kencang dan ia pejamkan matanya erat. Ia ingin menghindar tapi entah kenapa kakinya tak mampu bergerak. Sampai akhirnya..

Ting

Tong

“Aissshh” desah Jongin kesal karna rencanya lagi-lagi gagal. Ia tegakkan kembali tubuhnya lalu berkacak pinggang.

“Ak..aku buk..buka pintu dulu” dengan gugup Jihan berjalan menuju pintu. Ia memang tidak terlalu bisa menghadapi situasi seperti tadi. ‘Terlalu polos dan tidak berpengalaman’ itulah yang biasa teman-temannya katakan tentangnya.

“Oppa? Kenapa baru pulang?” ucap Jihan saat ia lihat Chanyeol yang ada dibalik pintu.

“Iya tadi setelah dari gereja, aku pergi membantu Sehun dulu. Makanya ak—Jongin? Kau juga ada disini?” ucap Chanyeol ketika matanya menangkap seorang namja juga ada diruang tamunya. Namun menyadari Jongin yang tengah memakai baju membuat mata Chanyeol membulat. “Kau..kau.. kenapa kau tidak memakai bajumu tadi?! Dan.. kalian hanya berdua? Katakan! kalian tidak melakukan apa-apa kan?” tanya Chanyeol panik sambil menunjuk Jongin dan Jihan bergantian.

Jongin menyeringai sambil menyandang tasnya, “Heh.. kau pikir apa yang kami lakukan hyung?” tanya Jongin acuh tak acuh. “Sudahlah, Jihannie aku pulang dulu ya?” Jongin kecup kening Jihan lalu berjalan keluar tanpa menanggapi wajah Chanyeol yang terlihat panik. Jihan mengangguk lalu mengantar Jongin keluar.

“Hey! You two! Katakan dulu kalian tidak melakukan apapaun kan?!” tanya Chanyeol lagi dengan nada suara yang naik satu oktaf.

“Kalau kami melakukannya memang kau mau apa hyung?!” teriak Jongin sembari menuruni tangga teras rumah Jihan. Jihan hanya terkekeh melihat tingkah kekasih dan kakaknya. Mereka selalu saja bertengkar.

“KAU HANYA AKAN TINGGAL NAMA KIM JONGIN!”

Teriakan Chanyeol terdengar menggema, bahkan Jihan dan Jongin yang sudah berada didepan gerbang dapat mendengar dengan jelas. Jongin mendengus geli lalu tersenyum kearah Jihan.

“Hati-hati dijalan..”

Jongin mengangguk, “Hm..Aku pulang dulu” ucapnya lalu berbalik. Namun ketika kakinya baru akan melangkah.

“Jongin?”

“Ne?”

Dengan satu gerakan cepat, Jihan mengecup bibir namja itu. Ciuman singkat namun berhasil membuat hati Jongin luluh lantah. Terkejut karna ini kejadian langka. Biasanya gadis itu selalu menghindar, namun sekarang bahkan dia yang memulai lebih dulu. Tapi itu membuat Jongin senang, karna itu setidaknya bisa menggantikan dua rencanya yang gagal.

Honey.. I wanna tell you something special..

Really? What’s that?

I love you..” bisik Jongin tepat ditelinga Jihan. Deru nafas Jongin yang menyentuh lembut telinga Jihan membuat gadis itu tersipu. Sedetik setelahnya, Jongin mengecup pipi Jihan. Jihan tersenyum lalu balas mencium pipi kekasihnya.

“Tidurlah lebih awal, besok kita kan berangkat pagi-pagi. Good night.. have a nice dream honey..

Good night too..” ucap Jihan sambil melambaikan tangannya pada Jongin yang berjalan menjauh. Ia tersenyum sambil memandangi punggung namja yang dicintainya itu. Kim Jongin.. seorang namja yang ia cintai, namja yang ia percaya untuk menyimpan cintanya dan memiliki hatinya.

 

 

µµµµµ

 

-Special day-

 

Sorry guys.. I’am late” seru Chanyeol seraya memasuki sebuah ruangan bernuansa putih. Semua temannya sudah berkumpul. Ia pun mengambil tempat duduk disebelah Kyungsoo.

“Kemana saja?” tanya Sehun sambil merapikan blazer hitamnya.

“Tadi aku harus mengantar Eunjung mengambil buket bunga untuk Minah noona” sahut Chanyeol kemudian ditanggapi anggukan kepala dari rekan-rekannya.

Baekhyun menjentikkan jarinya, “Aaah What about Eunjung? Did she accept you yesterday?” tanya Baekhyun antusias. Chanyeol hanya menjawabnya dengan senyuman penuh makna. Membuat semua temannya mengerti tanpa harus dijelaskan.

“Ne seorang Park Chanyeol memang tidak bisa ditandingi. Tanpa mempermalukan diri ditengah lapangan basket pun kau akan berhasil meluluhkan hati para gadis” celetuk Jongin yang seketika membuat perhatian Sehun teralihkan padanya.

“Kau sedang menyindirku Jong?” tanya Sehun sambil memicingkan sebelah mata kearah Jongin. Jongin hanya mengendikan bahu dan membuat Sehun mencibir kearahnya.

What happen?” tanya Kyungsoo pada Chanyeol yang nampak mengerti apa yang dimaksut Jongin dan Sehun.

Chanyeol tertawa kecil, “Sehun berulah lagi. Untuk yang kesekian kalinya membuat Minyoung marah. Untung aku membantunya”sahut Chanyeol sambil menepuk-nepuk dadanya sombong.

“Ya! Kalau aku tidak membantumu menyiapkan kejutan, aku tidak mungkin terlambat hyung?!” tandas Sehun tidak terima sambil menunjuk kearah Chanyeol yang terkekeh.

“Begitu juga denganku. Because someone suddenly came, my plan failed yesterday” ucap Jongin sambil memainkan game diponselnya. Mendengar ucapan Jongin, Chanyeol menghentikan tawa lalu menoleh.

“Hey Kim Jongin! Kalau kau berani macam-macam pada adikku. Akan kubantai kau hidup-hidup!”

“Hmphh benar.. Jihan terlalu polos untuk namja pervert sepertimu Jong” ucap Sehun seraya menyeruput jus jeruknya. Seketika Jongin menghentikan permainannya lalu melirik Sehun.

“Kau pikir siapa yang sudah merubah Minyoung jadi seperti sekarang eoh? Dulu sepupuku itu juga gadis yang polos, tapi setelah bersamamu dia berubah. Kalau kuadukan pada bibi Go, kau tidak akan dapat restu Oh Sehun”

Sehun mencibir, “Just try it Jong..

Are you sure Mr.Oh? Kau tahu, masalah Minyoung bibi Go sangat memepercaiku. Satu kali aku mengakatan kau namja mesum, dia tidak akan mempercaikan Minyoung padamu selamanya”

“Hey Stop it! Dasar bocah-bocah mesum. Kalian berdua itu sama saja” Chanyeol menjitak kepala Jongin dan Sehun dengan kedua tangannya. Kedua namja itu meringis sambil mengelus puncak kepala mereka yang sakit.

“Sudah-sudah. Ini hari special Joonmyeon hyung tidak baik kalau kalian malah bertengkar”

“Baekhyun hyung benar. Lebih baik kita lihat kondisi Joonmyeong hyung. Aku ingin tahu apa yang dia lalukan dibalkon sejak tadi” Kyungsoo bangun lalu merapikan pakaiannnya. Ia pun berjalan kearah balkon yang kemudian diikuti oleh yang lainnya.

“Hyung? Kenapa merenungnya lama sekali? Aku pikir karna terlalu gugup kau lompat dari sini” celetuk Jongin sambil menepuk pundak namja bertuxedo putih yang tengah terdiam dibalkon lantai dua sebuah penginapan. Tatatapannya menerawang kearah pemandangan indah didepannya. Wajah tampannya terlihat pucat.

“Su..sudah jam berapa ini?” tanya Joonmyeon terbata. Ia bahkan enggan memalingkan pandangannya.

Baekhyun tersenyum, “20 menit lagi menuju saat-saat bersejarahmu hyung”

Come on hyung bersemangatlah sedikit. Aku yakin kau pasti bisa..” ujar Kyungsoo berusaha memberi semangat untuk Joonmyeon.

Joonmyeon menghela nafas lalu mengangguk mantap, “Ne.. Semua akan berjalan dengan lancar jika kita menghadapinya dengan tenang. Aku ingat kata-kata Minah itu..”

Chanyeol terkekeh, “Ne.. hadapi dengan tenang hyung. Dan ingat jangan lupa berbagi pengalaman padaku ya? Aku kan sebentar lagi akan jadi mempelai juga. Hihihi”

“Ne terutama pengalaman pada bagian terpentingnya. Is it true hyung?” sahut Sehun sambil menaik turunkan alisnya kearah Chanyeol. Sementara Chanyeol hanya mengernyit tak mengerti.

“Bagian terpenting itu maksutnya saat malam pertama. Iya kan Hun?” jawab Jongin yang dijawab anggukan mantap dari Sehun. Mereka terkekeh lalu ber-high five. Namun mereka meringis lagi ketika jitakan Chanyeol kembali mendarat dikepala mereka.

“Mesum!”

 

―――

 

You look so pretty sis..” ucap Eunjung pada seorang gadis bergaun putih yang tengah merefleksikan dirinya dicermin.

“Ne.. your dress is very beautiful eonni” Hyemi tersenyum sambil mengacungkan jempolnya pada gadis manis itu.

“Joonma yang memilihkan gaun ini.. hihihi” jawab gadis itu sambil tersipu malu. Dengan gaun indah yang membalut tubuh rampingnya membuat ia terlihat sangat cantik. Setelah merasa puas bercermin, gadis itu berbalik lalu duduk disofa.

Time is running very fast right? Tidak kusangka Minah eonnie dan Joonmyeon oppa sudah akan menikah” ucap Yeonhi dengan ekspresi yang terlihat sedih.

Jihan mengeryit, “Kenapa eonnie malah terlihat sedih?”

“Aku hanya merasa takut kehilangan. Dulu setiap punya masalah, aku selalu berkonsultasi dengan Minah eonni. Setelah eonni dan Joonmyeon oppa menikah, aku hanya takut tidak memiliki tempat curhat lagi”

“Hey kenapa berpikir begitu? Walau aku sudah menikah tapi bukan berarti aku tidak ada waktu lagi untuk kalian. Kapanpun kau atau yang lainnya membutuhkan bantuanku, aku pasti akan membantu semampuku” jawab Minah seperti biasa dengan senyum teduhnya.

“Hey hey hey.. ini hari kan hari bahagia, tidak seharusnya kita malah bersedih begini” sahut Minyoung sambil bangkit dari duduknya. Ia merapikan dress birunya lalu mengambil buket bunga mawar putih diatas meja.

“Sehun bilang paman Han akan kemari. Ayo bersiap” lanjut Minyoung sambil mengulurkan tangan pada Minah.

Don’t nervous .. everything’s gonna be alright eon” ucap Jihan seraya menyodorkan buket bunga pada Minah untuk ia bawa ke altar. Minah menarik nafas dalam-dalam lalu mengambil buket bunga tersebut. Ia pegang buket bunga itu didepan dadanya.

“Kegugupan jangan ditakuti tapi dinikmati. Kau pernah mengatakan itu padaku” ucap Eunjung sambil menepuk pundak Minah. Minah menoleh lalu membalas senyum Eunjung.

Ceklek

“Minah’ah ayo.. semua sudah menunggu” panggil seorang lelaki paruh baya sembari berjalan menghampiri Minah. Minah raih uluran tangan ayahnya lalu merangkulnya.

 

―――

 

Lonceng berbunyi.. didalam sebuah gereja kecil namun berarsitektur mewah kini berkumpul beberapa orang yang diundang untuk menyaksikan dua sejoli mengucap janji suci. Gereja dihias dengan berbagai nuansa putih hingga terlihat sangat manis.

“Semangat hyung” ujar Kyungsoo pada Joonmyeon sebelum akhirnya duduk dideretan terdepan bangku tamu. Joonmyeon menghela nafas lalu menyemangati dirinya sendiri didalam hati. Jantungnya berdegup cepat menunggu kedatangan sang mempelai wanita. Sangat gugup menunggu saat-saat bersejarah dalam hidupnya. Saat dimana ia akan mengikat kekasihnya dengan benang merah pernikahan. Mengikatnya hingga gadis itu akan menjadi miliknya seutuhnya.

Beautiful..” gumam Joonmyeon ketika matanya menangkap sosok gadis cantik tengah berjalan di altar. Gadis itu tersenyum manis dengan tatapan yang tak lepas dari Joonmyeon. Seolah terhipnotis kedua ujung bibir namja itu juga tertarik hingga membentuk senyuman.

Jantung Minah bergemuruh saat kakinya melangkah dialtar. Kegugupannya mencapai tingkat maksimal saat ini. Melihat sang pujaan hati tengah menunggunya diujung sana dengan senyuman, membuatnya merasa senang sekaligus gugup.

Semua memori indahnya bersama Joonmyeon seketika terputar otomatis seperti sebuah film pendek. Saat mereka pertama kali bertemu disebuah seminar. Ketika mereka mulai mengenal satu sama lain, lalu memutuskan untuk memulai sebuah hubungan percintaan. Ia ingat bagaimana senyum Joonmyeon selalu menemaninya. Bagaimana perhatian namja itu terus membuatnya bahagia. Semua kenangan indah yang membuatnya merasa seperti gadis paling beruntung didunia. Tapi semua masa indah itu sudah menjadi masa lalu.. dan kini ia tengah berjalan menuju masa depannya, berjalan menuju jenjang yang lebih serius. Tidak lagi bermain-main dengan status kekasih tapi berusaha membangun masa depan dalam sebuah keluarga baru.

“Are you ready sweetheart?” ucap Joonmyeon seraya meraih tangan Minah. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk kearah Joonmyeon.

“Baiklah kita akan mulai pembaktiannya. Joonmyeon-sshi dan Minah-sshi apa kalian siap?” tanya sang pendeta yang kemudian dibalas anggukan kepala dari kedua mempelai. Sang pendeta menarik nafas sejenak lalu berucap dengan lantang “Saudara Kim Joonmyeon, bersediakah anda menikah dengan saudari Han Minah? Menerimanya apa adanya, merawat dan mengasihinya baik dalam suka dan duka, kaya dan miskin, sehat dan sakit sampai maut memisahkan kalian?” tanya sang pendeta.

Joonmyeon menarik nafas sejenak lalu menoleh kearah Minah. Ia tersenyum lalu mengangguk, “Iya saya bersedia..” ujarnya tegas.

“Saudari Han Minah, bersediakah anda menikah dengan saudara Kim Joonmyeon? Menerimanya apa adanya, merawat dan mengasihinya baik dalam suka dan duka, kaya dan miskin, sehat dan sakit sampai maut memisahkan kalian?”

“Ne” jawab Minah mantap.

“Baiklah.. Sekarang saya tetapkan kalian sebagai suami istri yang sah. Kalian bisa bertukar cincin sekarang” ujar sang pendeta dengan wajah berseri.

Joonmyeon tersenyum lega lalu memutar tubuhnya menghadap Minah. Saling menatap lalu tersenyum senang. Chanyeol sebagai pembawa kotak cincin, maju kedepan lalu menyerahkan cincinnya pada Joonmyeon. Joonmyeon pun mengambilnya lalu menyematkan cincin berlian cantik itu di jari manis Minah dan begitu pula dengan Minah.

“Nah ini dia sesi terbaik dari acara pernikahan hihihi..” gumam Sehun pelan sambil terkekeh. Ucapan yang sontak membuat Minyoung mencubit lengannya. “Auch! Its hurt baby!” ringis Sehun sambil mengelus lengannya.

“Sssstt.. Shut up Hunnie” bisik Minyoung sambil menempelkan jari telunjuknya dibibir Sehun. Sehun mendengus lalu mengangguk malas. Keduanya pun kembali memfokuskan pandangan kedepan. Melihat Joonmyeon dan Minah yang sedang melanjutkan acara. Wajah Joonmyeon semakin dekat dengan wajah Minah. Sementara Minah hanya memejamkan mata erat. Dan gadis itu pun terbuai ketika merasakan sentuhan lembut Joonmyeon di bibirnya. Melumat bibirnya lembut penuh perasaan. Tak begitu lama mereka melepas tautannya lalu menempelkan kening mereka.

I love you..” ucap Minah lembut.

Joonmyeon tersenyum lalu berbisik, “I love you too sweetheart..

Keduanya lalu berpelukan dan mendapatkan tepuk tangan dari para tamu. Begitu bahagia hingga keduanya tak bisa berhenti mengubar senyum. Inilah bagian klimaks dari perjalanan cinta mereka. Setelah berhasil menempuh setiap tahap dengan baik, akhirnya mereka berhasil mengikat hubungan mereka dengan janji suci. Sebuah janji yang mereka harap hanya mereka ucapkan satu kali untuk satu cinta dalam seumur hidup mereka.

 

 

(END)

8 thoughts on “Love Stories

  1. wahaha..
    sebenernya ffnya udah pernah aku baca di wp sebelah, tapi karna romantis banget. jadi gak bosen bacanya.
    hwaiting terus thor nulisnya. wkk

  2. Waaahhhhhh ngajak berantem ni , baru buka wp udah nongol aja cerita cinta2annya dio
    Woooooo dio hanya milik ku seorang.
    Thor2 , bacanya ntar aja ya kalo hati ku udh siap *alaynya kumat
    Ceritanya bagus thor *apaan sih blm d baca juga *d plototin si eneng author
    Komentar TBC…..

  3. Test~ ehem (?)
    Baru buka wp ini lagi, eh ada ff baru.. Ff cadangan pengganjal (?) ff lain ya eon kkk~
    so swettttt~~ pas kyungsoo, masih tahap persiapan terbang, pas baekhyun, mulai merebahkan (?) sayap, pas chanyeol, siap2 melayang, pas sehun sama jongin, mulai melayang, pas joonmyeon~ busshhhh (?) aku terbang~~ hahaha *abaikan
    paling suka pas baekhyun tu, anniversary uuu~
    ya udahlah ya, takut kepanjangan *udahkali* komennya.. Ff cadangan ini udah cukup,, tp our destiny sm olympians (?) nya jangan lama2 ya eon :3 HWAITING!!🙂

  4. Aaaaiiishhhh~~~~~
    Sumpah sumpah thor yg pas bagian baekhyun-yeonhi sama chanyeol-eunjung aku ngerasain feelnya dapet banget, sampe nangis karena terharu!!!!
    Good job thor, u are so daebak!!! ^^9
    *peluk cium author*

    Bisa kali bikin sequelnya baekhyun-yeonhi hahaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s