State it(Chapter 1)

State it2-vert

Title : State it | Author : HCV_2

Main cast : Oh Sehi (OC), Xi Luhan, Byun Baekhyun | Other cast : Lay, Chanyeol, Joonmyeon, Sehun, Tao, Kyungsoo, Jongdae

Genre : Romance, Friendship, Family | Length : Chaptered | Rating : T

 

WARNING THIS NOT FOR SILENT READERS!!

 

Annyeong guys~~~~ Sayaaa kembali lagi~~ Huoooooooooo awuuuuu~ *joged wolf bareng Luhan*

Haai saya kali ini datang membawa ff chatered baru saya lo *sombong bgt pdhl yang lama aja blm kelar=_=* hohoho author nggak tau ini updatenya kecepetan atau nggak yang jelas ini semua karna 2 minggu lagi author bakal ada UTS jadi dijamin bakal dikeroyok tugas sm ulangan harian lagi, nah makanya author post umpung lg ada waktu senggang heheh

 

Sebelumnya author minta maaf sebesar-besarnya bwt yang nungguin ff OD sm TTPOO nih karna ff nya kagak update-update sampe sekarang. Author udh mengusahakan sebisa mungkin untuk ngelanjutinnya tp itu dia.. sepertinya tugas dan ulangan masih demen bgt ganggu otak saya sampe sussah dpt ide (╥_╥) Padahal niat tu guede bgt buat nulis, tangan juga udh berasa gatel bgt eh malah ide yg kagak bisa diajak kompromi=_= Otak tu rasanya mumet tiap hari gegara tugas. Makanya author minta maaaaaaaaaaaaaaaaafffffff bgt readers semuanya, tapi author bakal usahain jadi secepetnya ya~ author mengharapkan permaklumannya~~~

 

Okelah sekian dari saya~ untuk ff ini mudah-mudahan aja bisa jadi penghibur sementara ya~ Semoga tidak mengecewakan^^ Siip lets enjoy the story guys~

 

PLAGIATOR???? NO! NO! NO!

SILENT READERS??? NO! NO! NO!! *nari bareng Luhan*

 

 

“Ikut kami kekantor polisi” ucap Lay sambil tiba tiba menarik tanganku.

 

“Eh?! Apa-apaan ini! Ke..kekantor polisi??”

 

 

[END SEHI POV]

 

 

 

Chapter 1

 

 

Disalah satu pos polisi didekat halte bus tempat kejadian. Sampai disana Sehi, Luhan dan Lay langsung disambut oleh seorang polisi muda yang memang sedang bertugas. Dia duduk disalah satu meja diantara 4 meja dikantor yang berukuran sedang itu. Di kantor itu memang sedang ada beberapa kasus kecil yang ditangani oleh polisi lainnya.

 

“Woah.. dia tampan sekali. Apa dia seorang malaikat?” pikir Sehi sambil menatap terpana kepada namja jangkung yang ada dihadapannya. “Ahhh~ namanya Wu Yi Fan. Seperti nama orang China..” ucapnya dalam hati saat membaca nama yang tertera didada namja itu.

 

“Kalau semua polisi seperti dia mungkin pencuri bukannya berkurang tapi malah bertambah banyak, apalagi yeoja-yeoja genit disekolahku mungkin semua berubah profesi menjadi pencuri hanya untuk menemui dia, hihihi” pikir Sehi lagi yang kali ini ditambah senyum aneh diwajahnya.

 

“HEEY! OH SEHI!! APA YANG KAU PIKIRKAN DISAAT PENTING SEPERTI INI! AHH PABO!!” Sehi meringis sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Entah mengapa dengan bodohnya dia memikirkan hal setidak penting itu disaat sepenting ini.

 

“Ada yang bisa saya bantu?” sang polisi tampan memulai pembicaraan, membuat ketiga orang didepannya mengalihkan perhatian padanya.

 

“Begini pak, kami kesini untuk melaporkan seorang pencuri kecil yang sudah mencuri dompet teman saya” ucap Lay dengan nada sedikit bersemangat.

 

“Benar anda yang telah mencuri dompet orang ini?”

 

“Eh? Bukan pak! Demi tuhan! Saya juga tidak tau kenapa tiba-tiba dompet itu bisa ada ditas saya. Saya disini juga korban” tandas Sehi cepat sambil mengacungkan kedua jarinya.

 

“Dia berkomplot pak, dari pencuri satu lalu ditransfer ke pencuri lainnya, agar tidak meninggalkan bukti tapi ternyata mereka ketahuan” tuduh Lay lagi yang membuat Sehi semakin geram. Sehi menoleh lalu menatap Lay tajam.

 

“Hey jangan sembarangan bicara. Ditransfer? Apanya yang ditranfer?! Kau pikir aku ini mesin ATM. Jangan menuduh jika kau tidak punya bukti” balas Sehi dengan nada bicara yang naik satu oktaf.

 

“Cih.. Butuh bukti apalagi? Sudah jelas kalau dompet itu ada di tasmu, itu sudah menjelaskan semuanya” balas Lay sambil memutar bola matanya.

 

Luhan yang duduk ditengah-tengah Lay dan Sehi hanya bisa menghela nafas, “Lay tenanglah sedikit” bisik Luhan sambil memegang pundak sahabatnya yang terbawa emosi.  Luhan bingung dengan sahabatnya itu. Kenapa dia begitu mempermasalahkan ini semua padahal dia yang pemilik dompet itu saja sebenarnya tidak ingin membesar besarkan masalah seperti ini.

 

“Sudah cukup!” teriak namja berambut blonde itu dengan suara bassnya yang sontak membuat Sehi dan Lay menghentikan perdebatan mereka. Polisi muda itu pun mulai bicara lagi setelah semuanya cukup tenang.

 

“Bisa anda jelaskan seperti apa ciri-ciri siswa SMA yang mengambil dompet ini?”

 

“Seragamnya mirip seperti gadis ini hanya saja dia tdk memakai jas, kira kira tingginya 180 cm dan..”

 

“Nah lihat itu! Jelas-jelas bukan aku pencurinya” ucap Sehi memotong penjelasan Lay. Darahnya mulai mendidih karna kesal, hanya karna kasus konyol seperti ini ia sudah jelas-jelas terlambat kesekolah.

 

“Iya.. tapi dia pasti komplotanmu!”

 

“Baiklah, kalau kasusnya seperti ini akan jadi sangat sulit karna walaupun dompet ada di tas gadis ini tapi tidak bisa dipastikan bahwa dia pencurinya. Karna mungkin gadis ini memang benar-benar tidak mengenal atau tidak mengetahui kalau ada orang yang memasukkan dompet ini kedalam tasnya. Mungkin siswa SMA itu sengaja mengalihkan perhatian pada orang lain agar dia bisa kabur” ucap Yi Fan sedikit menjelaskan.

 

“Nah kalian dengarkan? Tidak bisa kalau asal menuduh” ucap Sehi bangga sambil tersenyum puas. Apalagi mendapat pembelaan dari polisi tampan yang bisa dibilang sangat menarik hatinya.

 

Setelah cukup lama diam dan tidak berkomentar, Luhan pun akhirnya mengeluarkan pendapatnya, “Iya.. lebih baik tidak perlu dibesar-besarkan. Kami hanya kehilangan uang 10 dolar jadi lebih baik lepaskan gadis ini” Luhan bicara lembut dalam bahasa mandarin. Polisi tampan itu mengangguk menyetujui apa yang di katakan Luhan.

 

“Tapi bukankah tidak baik melepaskan pencuri begitu saja? Bisa-bisa di lain waktu dia melakukan hal yang lebih parah lagi dari ini” ucap Lay dan lagi-lagi belum bisa berhenti menuduh gadis berkulit putih susu itu.

 

Luhan menghela nafas mendengar ucapan sahabatnya, “Iya Lay, apa yang kau katakan itu memang benar tapi bukti yang kita miliki belum bisa mengatakan bahwa gadis ini benar-benar pencurinya” namja berwajah cantik itu mencoba untuk meyakinkan sahabatnya. Sementara itu Sehi hanya diam, hanya bisa mendengar tapi tidak mengerti yang tiga namja itu bicarakan. Ia tatap ketiga namja itu bergantian dengan tampang polosnya.

 

“Baiklah, kalau sudah seperti ini keputusan hanya ada ditangan pemilik dompet. Ingin membebaskan gadis ini atau tidak?” tanya Yi Fan pada Luhan dengan bahasa mandarin.

 

“Lepaskan saja dia” kata Luhan lembut langsung tanpa basa-basi. Sejak tadi kata itu yang sebenarnya ingin dia katakan. Ia benar-benar malas membesar-besar kasus semacam ini.

 

“Baiklah kalau memang itu keputusan pemilik dompet. Kamu saya bebaskan” ucap Yi Fan kali ini dengan bahasa korea sambil tersenyum pada gadis berambut kecoklatan itu. Sebuah kalimat yang akhirnya bisa membuat Sehi bernafas lega.

 

“Benarkah? Akhirnya…. Ini yang namanya keadilan” Sehi melonjak kegirangan. Ia mecakupkan kedua tangannya seolah berterimakasih pada Tuhan. Di penjara karna hal yang tidak dilakukannya? Hal itu takkan terjadi. Dan tanpa gadis itu sadari, seorang namja yang duduk disebelahnya tersenyum melihat tingkahnya. Tersenyum tipis namun terlihat tulus, Luhan pun beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju pintu keluar. Sementara Lay masih tidak terima dengan keputusan Luhan. Dia mengejar Luhan dan meraih lengannya.

 

“Luhan’ah? Kenapa kau melepaskannya?”

 

“Sudah Lay cukup. Bukankah kita  jauhjauh pergi kekorea bukan untukurusan seperti ini. Lagi pula kita tidak kehilangan nyawa hanya karna uang 10 dolar kan? Sudah lupakan saja masalah ini. Kaja!” Luhan menarik tangan sahabatnya dan mengajaknya pergi dari kantor polisi itu. Lay menghela nafas lalu dengan terpaksa mengikuti Luhan.

 

Sementara Sehi masih dikursinya dan terus mengucapkan terimakasih pada polisi nan tampan yang hanya mengangguk sambil tersenyum membalasnya. Sebenarnya gadis itu masih ingin ditempat itu agar bisa menatap wajah tampan Yi Fan yang sangat berkharisma lebih lama. Tapi saat matanya tak sengaja melihat jam dinding di kantor polisi itu, Sehi pun terbelalak melihat sudah jam berapa sekarang.

 

“Omo sudah jam segini? Aduuhh gawat! matilah aku sekarang!” ucapnya sambil menepuk keningnya. Ia meringis lalu bangun dari duduknya, “Umhh.. sudah dulu ya pak polisi.. sekali lagi terimakasih banyak! Annyeong..” ucapnya sambil sedikit berlari keluar dari kantor polisi yang hampir saja membuat sejarah besar jika saja dia tidak dibebaskan. Sementara polisi tampan itu hanya membalas dengan sebuah senyuman diwajah angry birdnya.

 

 

 

 

****

Dalam perjalanan sepulang dari kantor polisi Sehi sangat senang karna ternyata masalah ini tidak diperpanjang apalagi ia mendapat kesempatan bertemu dengan polisi setampan Yi Fan. Tapi masalahnya sekarang adalah bagaimana caranya ia kesekolah? Yeoja manis itu sudah terlambat dan bahkan jam pertama sudah selesai. Mana mungkin dia kesekolah setelah terlambat hampir 3 jam? Sehi pun hanya berjalanan tanpa tujuan dan hanya terus mengerutu pada dirinya sendiri.

 

“Kesekolah tidak mungkin. Aku bisa kena semprot Heechul songsaengmin. Gawat kan kalau aku kehilangan telingaku akibat terbakar mendengar ocehan guru killer itu. Tapi kalau pulang kerumah.. Joonmyeon oppa marah tidak ya? Aiissh.. bagaimana ini?!” gumam Sehi sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri. “Ini semua karna dua bocah mandarin yang aneh itu, sekarang aku jadi terlambat kesekolah” gerutu yeoja itu sambil mengepalkan kedua tangannya.

 

“Sehi’ah?!”

 

Tiba tiba ada suara yang membooming telinga gadis itu. Dari suara beratnya ia tau siapa pemilik suara itu. Ia berbalik lalu membalas senyum namja itu malas.

 

“Hey kenapa kau bisa ada disini? Kau tidak sekolah? Lalu kenapa garuk-garuk kepala? Kepalamu gatal?Atau kau belum keramas?” namja bertubuh tinggi itu berlari menghampiri Sehi sambil melontarkan pertanyaan bertubi-tubi yang membuat Sehi memutar bola matanya.

 

“YA YA YA.. Banyak sekali pertanyaanmu..” rungut Sehi sambil mempoutkan bibirnya.

 

“Hahahah.. miaan. Baiklah akan aku tanya satu per satu” ucap namja itu sambil tersenyum. Ia menghela nafas, “Kau sedang apa disini? Bukankah ini jam sekolah?”

 

“Ituu karna.. aku… umhh..”

 

“Kenapa? Jangan bilang kalau kau bolos sekolah” ucap namja itu sambil menunjuk Sehi dan menatapnya dengan tatapan menyelidik.

 

“Eh? Mana mungkin! Aku ini anak baik-baik mana mungkin bolos!” tandas Sehi cepat sambil mengoyangkan kepala dan kedua tangannya.

 

“Lalu?”

 

“Umhh.. aku terlibat kasus tadi”

 

“Mwo? Kasus? Kasus apa?” tanya sahabat yang biasa ia panggil si tiang itu sambil membelalakan matanya.

 

Aissh.. kenapa ekspresinya seperti itu? Dia pasti mengira aku terlibat kasus yang tidak-tidak=_=

 

“Hey Park Chanyeol! Tidak usah berlebihan sampai melotot seperti itu, mata mu jadi lebih besar dari mata Kyungsoo tau” ucap Sehi sambil mengusap mata Chanyeol yang melotot lalu bersedekap didada. “Aku terlibat kasus konyol yang sebenarnya tidak aku lakukan. aku dituduh..”

 

“Eh? Kenapa bisa seperti itu? Memangnya kau dituduh melakukan apa?”

 

“Kita cari tempat duduk dulu.. nanti akan aku jelaskan semuanya” ucap Sehi seraya menarik tangan Chanyeol kesebuah bangku taman yang ada beberapa meter didepan mereka. Mereka duduk berdampingan dan sesuai janji, Sehi pun menceritakan setiap inchi dari kejadian pagi itu pada sahabatnya.

 

Chanyeol adalah salah satu sahabat baik Sehi. Dia berumur satu tahun lebih tua darinya dan dari sahabat-sahabatnya yang lain. Selain statusnya sebagai mahasiswa, namja bertubuh tinggi itu juga sedang mengelola salah satu café milik keluarganya yang terletak tidak jauh dari rumah Sehi. Bisa dibilang diantara semua sahabatnya, Chanyeollah yang paling dekat dengannya.

 

“Wahh.. untung saja pemilik dompetnya baik. Jadi kau bisa bebas” ucap Chanyeol setelah mendengar semua cerita Sehi. Ia mengusap usap dadanya dengan sedikit memperlihatkan giginya yang rapi dan indah pada gadis disebelahnya.

 

Sehi menoleh, “Mwo? Baik apanya? Karna dia aku hampir saja jadi nara pidana” tandas Sehi dengan tegas menyalahkan ucapan Chanyeol.

 

“Tapi kan yang ngotot menuduhmu itu temannya bukan si pemilik dompet”

 

“Tapi tetap saja kan, kalo dia memang benar-benar baik dia pasti sudah melepaskanku tanpa harus ke kantor polisi. Tapi apa? Dia hanya diam melihat temannya berlaku seperti itu, artinya dia memang niat membuat nama baikku tercoreng” sahut Sehi sambil bersedekap didada. Ia sangat tidak terima mendengar Chanyeol membela si namja mandarin aneh itu. Baginya mau bagaimanapun namja itu sudah salah besar padanya.

 

“Aigoo.. Ne ne arraseo, yang penting sekarang kan masalahnya sudah selesai” ucap Chanyeol sambil menepuk-nepuk pundak Sehi. “Lalu sekarang kau mau kemana?”

 

Sehi menghela nafas, “Nah itu dia yang jadi masalah sekarang.. aku juga bingung”

 

“Kalau boleh aku sarankan lebih baik kau pulang saja, jelaskan pada Joonmyeon hyung. Dia pasti mengerti. Dari pada kau harus menjelaskan pada gurumu yang sungguh tidak pengertian heheh” ucap Chanyeol memberi saran sambil terkekeh. Entah kenapa bagi Sehi saran itu lebih terdengar seperti bisikan setan.

 

Apa itu? tawa yang menyesatkan

 

Sehi mengelus tengkuk lehernya seraya mempertimbangkan saran―bisikan sesat― sahabatnya, “Benar juga sih.. awalnya rencanaku juga seperti itu tapi… Aduhh bagaimana ya.. Ahhh… Ya sudahlah. Aku pulang saja. Dari pada habis dimarahi guru dan dituduh membolos lebih baik aku pulang. Terimakasih ya Channie sudah mau menjadi tempat curhatku. Sekarang aku sudah merasa lebih baik dari pada sebelumnya” ucap Sehi sambil beranjak dari tempat duduknya lalu tersenyum kearah Chanyeol.

 

Chanyeol mengangguk, “Ne.. aku inikan sahabatmu.. menghiburmu sudah menjadi tugasku” sahutnya lalu mengacungkan jempolnya pada Sehi.

 

“Gurae.. kalo begitu sampai jumpa nanti sore Channie. Aku dan yang lain akan main ketempatmu ya? Annyeong” pekik Sehi sambil bergegas pergi meninggalkan namja jangkung itu. Chanyeol balas lambaian tangan gadis itu dengan senyumnya yang mempesona.

 

***

 

 

Sore hari….

Sehi sudah menjelaskan biduk permasalahan pada Joonmyeon kakaknya. Joonmyeon mengerti dan ia pun aman. Bahkan kakaknya juga membantu menjelaskan semuanya pada Heechul songsaengnim wali kelasnnya lewat telpon.

 

Sore itu Sehi dan Joonmyeon sedang beristirahat diruang tamu. Sambil menunggu adik laki-laki mereka yang sudah sesenja ini belum pulang. Sehi dan namja berkulit putih itu duduk sambil menonton televisi sambil juga mengerjakan tugas sekolah mereka masing-masing. Tiba-tiba suara tombol pengaman rumah mereka terdengar dan mereka tau siapa yang datang.

 

“Akuu pulaang~” salam Sehun sambil melepas sepatunya.

 

“Kemana saja kau? Kenapa jam segini baru pulang?” tanya Sehi mengintrogasi.

 

“Ah miiaan..Tadi sebelum pulang aku latihan dance dulu karna ada gerakan baru yang harus aku pelajari untuk midtes bulan depan hehe”

 

Joonmyeon menghela nafas, “Yang satu pulang lebih cepat dari seharusnya bahkan bolos sekolah sedangkan yang satu lagi pulang lebih lama dari seharusnya. Ckckck” ucap Joonmyeon sambil menggelangkan kepalanya namun dengan perhatian yang masih tertuju pada buku yang dibacanya.

 

“Eh? Memang siapa yang bolos?” tanya Sehun antusias sembari duduk disofa lalu meminum jus jeruk yang terpajang manis diatas meja.

 

Sontak mata Sehi membulat lalu memukul punggung adiknya, “Ya ! Sehunnie! itu jus ku tau, Kenapa kau malah meminumnya?!” Sehi berteriak dan mngambil jus jeruk miliknya dari tangan Sehun.

 

“Uhuuk.. Yaa! Noona ini apa-apaan? Aku kan sedang minum, kalau aku mati tersedak bagaimana? Lagipula aku hanya minta sedikit” gerutu Sehun yang kesal karna kakaknya mengambil jus itu begitu saja disaat dia belum selesai meminumnya.

 

“Makanya jangan minum jus orang sembarangan.. tanya-tanya dulu ini milik siapa” cibir Sehi sambil memidahkan jusnya disebelah kanan tempatnya duduk.

 

“Hey.. sudah-sudah. Hanya karna masalah jus dan kehausan kalian sampai bertengkar seperti ini. Sehunnie, nanti hyung yang akan membuatkanmu jus jadi lebih baik kau ganti baju dulu sana” Joonmyeon berusaha menghentikan pertengkaran kedua adiknya yang selalu seperti Tom and Jerry itu.

 

“Nahh ini baru… Joonmyeon hyung memang yang paling baik. Memangnya kau dasar nenek-nenek pelit” cibir Sehun kearah Sehi yang dibalas mehrong dari gadis itu.

 

“Sudah mandi sana! Kau bau sekali” Sehi mendorong Sehun agar bangun dari sofa.

 

“Eh? Tapi yang tadi belum dijawab. Siapa yang bolos?? Pasti noona!” Sehun menunjuk Sehi, ia memicingkan sebelah mata untuk menegaskan kecurigaannya.

 

“Sudahlah tidak penting. Sana cepat mandi!” kali ini Sehi beranjak dari tempat duduknya lalu menarik tangan adiknya.

 

“Issh.. iyaya aku mandi sekarang..”

 

Ting

 

Tong

 

Suara nyaring bel rumah mereka berbunyi. Sehi pun melepaskan genggaman tangannya dari Sehun lalu berjalan menuju pintu.

 

Ting

 

Tong

 

“Iyaaa.. sebentar”

 

Ceklek

 

“Annyeonghaseyo~”

 

“Ne Annyeo—Eh? Kau?!“

 

Belum selesai gadis itu membalas salam sang tamu, seketika suaranya tercekat ditenggorokan. Terkejut saat melihat wajah tamu tersebut. Bahkan tangan gadis itu masih pada posisi menunjuk wajah sang tamu yang juga nampak terkejut.

 

“Kau.. bukankah kau gadis yang tadi?”

 

“Ke..kenapa kau bisa ada disini? Apa kau masih belum percaya kalau aku bukan pencuri lalu mencariku hingga kemari? Iya?” tanya Sehi gugup. Entah kenapa ia malah ketakutan melihat namja itu ada dihadapannya sekarang.

 

Dengan cepat namja itu menggeleng, “Aniyoo, aku kesini mau..”

 

Jeder

 

Sehi menutup pintu tanpa menunggu namja berwajah cantik itu menyelesaikan kalimatnya. Ia terlalu panik dan takut. Dan tingkahnya ini malah semakin membuatnya terlihat seperti pencuri yang bersembunyi.

 

“Ini gawat!” gumam Sehi sambil bersender dibalik pintu dengan wajah panik. Entah sejak kapan keringat dingin membasahi keningnya.

 

“Apanya yang gawat?”

 

Sebuah suara lembut tiba-tiba memecah kepanikan Sehi. Ia mendongak dan melihat Joonmyeon tengah berjalan menghampirinya.

 

“Tamunya siapa? Kenapa kau kelihatan panik sekali?” tanya Joonmyeon heran melihat wajah panik adiknya.

 

“Umhh..itu oppaa..tamunya itu.. umh..”

 

“Itu kenapa? Tamunya kenapa?” tanya Joonmyeon tidak sabar.

 

“Tamunya itu yang tadi menuduhku mencuri oppa” jawab Sehi akhirnya setelah menarik nafas panjang. Jawaban yang membuat Joonmyeon cukup terkejut.

 

“Mwo? Kenapa bisa?”

 

“Aku juga tidak tau. Apa mungkin dia mau menuntutku lagi oppa? Aigoo.. Eotteokhae?” ucap Sehi panik sambil mengacak-acak rambutnya.

 

“Ya mana mungkin. Kita coba bicara baik-baik dulu. Minggir.. biar oppa yang bicara” Joonmyeon menggelengkan kepalanya memberi kode agar gadis itu menyingkirkan tubuhnya dari pintu. Tanpa sadar, Sehi menahan nafas melihat kakaknya memutar kenop pintu.

 

“Annyeonghaseyo” sapa Joonmyeon dengan lembut sambil memamerkan senyum angelnya. Luhan yang tadinya bingung karna Sehi menutup pintu begitu saja dan mengacuhkannya terkejut mendengar suara Joonmyeon. Ia berbalik lalu membalas salam Joonmyeon.

 

“Ah.. Annyeonghaseyeo”

 

“Mianhe, sikap adikku tadi tidak sopan. Kalau boleh tau ada apa ya?”

 

“Oh ne gwaenchanayeo.. aku kesini hanya ingin memberi salam sebagai tetangga baru. Namaku Luhan” ucap Luhan sambil tersenyum seraya membungkukkan badan sebagai tanda perkenalan.

 

“Ohh jadi kau warga baru disini? Ah maaf atas kesalah pahamannya. Joonmyeon imnida” sahut Joonmyeon memperkenalkan dirinya dengan nada ramah.

 

“Iya, aku juga ingin minta maaf tentang kejadian tadi. Itu semua diluar dugaan, kami sama sekali tidak bermaksud menuduh adikmu”

 

“Ah ne gwaenchanayeo.. ini juga karna kecerobohan adikku”

 

“Oh iya, aku juga membawa sedikit kue sebagai tanda perkenalan. Semoga kau dan adikmu suka. Dan rumahku ada 3 blok dari sini, jika ingin berkunjung datanglah” ucap Luhan ramah sembari menunjukkan lokasi rumahnya. Mata Joonmyeon pun mengikuti arah telunjuk Luhan.

 

Joonmyeon mengangguk, “Oh ne baiklah. Terimakasih dan bangapseumnida Luhan-sshi”

 

“Ne nado.. Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu” pamit Luhan lalu membungkukan badannya. Setelah mendapat anggukan kepala dari Joonmyeon, Luhan pun berbalik lalu berjalan kekanan menuju rumahnya. Joonmyeon tersenyum memperhatikan Luhan yang belum berlalu dari jangkauan penglihatannya.

 

“Benar-benar pemuda yang baik dan ramah. Aku heran kenapa dia benar-benar tidak sesuai dengan yang digambarkan Sehi” gumam Joonmyeon sambil menggelengkan kepala mengingat ucapan Sehi ketika menggambar sosok Luhan padanya. Setelah Luhan tak tertangkap oleh penglihatannya lagi, Joonmyeon pun masuk kerumah. Tapi baru saja ia membuka pintu..

 

Bugh

 

“Aduuhh!”

 

“Yaa.. kau sedang apa?!” pekik Joonmyeon ketika melihat Sehi terduduk dilantai. Gadis itu meringis sambil memegangi dahinya yang memerah akibat terbentur pintu yang tiba-tiba terbuka.

 

“Ya oppa! Kenapa tidak bilang kalau mau buka pintu?!” gerutu gadis itu sambil berusaha berdiri. Sementara Joonmyeon malah terkekeh sambil menutup mulutnya, membuat Sehi makin kesal.

 

“Hmphh.. Bagaimana mau bilang? Oppa kan tidak tau kalau kau masih disini. Oppa kira kau sudah masuk. Lagi pula apa yang kau lakukan sambil menempelkan telinga dibelakang pintu seperti itu? Kau menguping?”

 

“Eh? Itu.. Bisa dibilang iya..” jawab Sehi sambil mengelus tengkuk lehernya yang tidak gatal. “Ini kan karna aku penasaran untuk apa orang aneh itu datang kemari” lanjut Sehi kemudian bersedekap didada.

 

“Lalu apa kau dengar apa yang kita bicarakan?”

 

“Ye? kalau ituu.. aku dengar sih tapi tidak terlalu jelas heheh” sahut Sehi sembari tersenyum lebar seperti orang bodoh.

 

“Huu dasar!” cibir Joonmyeon sambil mengacak acak rambut adiknya yang sekarang terlihat konyol dengan tingkahnya. Sehi hanya meringis sambil merapikan kembali rambut panjangnya. “Sudahlah.. ayo masuk” Joonmyeon membalikkan tubuh Sehi lalu mendorongnya untuk masuk bersama.

 

Namun dengan cepat Sehi menepis tangan Joonmyeon lalu kembali berbalik, “Tidak mau! Katakan dulu orang aneh itu kesini mau apa?! Dia tidak menuntutku kan?” tanyanya sambil berkacak pinggang didepan Joonmyeon.

 

Joonmyeon menghela nafas, “Kalau dia kesini mau menuntutmu oppa tidak mungkin sesantai ini kan Sehi’ah? Jadi kau pikir bagaimana?” jawab namja berkulit putih itu sambil memutar bola matanya.

 

“Lalu dia kesini untuk apa?” tanya Sehi sambil menurunkan kembali tangannya.

 

“Dia hanya ingin memberi salam sebagai tetangga baru” jawab Joonmyeon santai sambil berlalu meninggalkan Sehi yang seketika terdiam ditempat. Nafasnya tercekat dan matanya berkedip berulang kali. Setelah beberapa detik mecerna jawaban kakaknya, ia lalu berbalik.

 

“APA? TETANGGA BARU?!”

 

 

***

 

 

Seorang namja berwajah cantik berjalan dengan senyum mengembang. Entah kenapa setelah mengunjungi sebuah rumah dan melihat seseorang yang ternyata tinggal disana membuat hatinya gembira. Satu blok lagi untuk sampai didepan gerbang rumahnya, Luhan masih tertawa kecil sembari mengingat kejadian yang baru saja ia alami.

 

“Dia lucu sekali..” gumamnya sambil menatap langit senja yang memamerkan warna yang mempesona. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Setelah masuk kedalam rumah, ia tersenyum ketika melihat sahabatnya masih duduk didepan televisi.

 

“Bagaimana lu? Sudah selesai silahturahminya?” tanya Lay dengan tatapan yang masih terkofus pada tivi sembari mengganti-ganti salurannya.

 

“Ne.. untung saja rumah digang ini sedikit, aku jadi tidak terlalu lelah” sahut Luhan seraya berjalan kedapur. Ia menuang air lalu meneguknya dalam satu tarikan nafas.

 

Lay terkekeh, “Hahaha.. Iya kalau tidak urat senyummu pasti sudah putus lu”

 

“Hahaha itu seharusnya tidak akan terjadi kalau kita membagi tugas. Bukankah begitu sahabatku?” tanya Luhan dengan nada menyindir, bahkan tawanya pun dibuat-buat.

 

Lay mengendikkan bahunya, “Heeyy itu kan idemu sendiri. Sudah kubilang perkenalannya seiring berjalan waktu saja. Tapi kau yang ngotot untuk mengunjungi tetangga satu persatu. Ya bukan salahku jika aku tidak membantu..”

 

“Issh dasar!” ucap Luhan sambil menendang kaki Lay. Tidak terlalu keras tapi cukup membuat namja itu meringis. “Pandai sekali kau mencari alasan” Luhan lalu mengambil tempat disebelah Lay.

 

“Iya aku pintar mencari alasan dan kau akan selalu menendangku jika aku mulai melakukannya. Iya kan?” sahut Lay malas. Iya terlihat kesal karna Luhan terlalu sering menendang kakinya.

 

Luhan tersenyum, “Baiklah aku minta maaf. Jangan kesal begitu..” canda Luhan sambil menyenggol lengan Lay. “Tapi Yixing’ah? Kau tau, selama aku berpetualang tadi aku menemukan sesuatu yang hebat”

 

“Apa?”

 

“Gadis  itu.. ternyata dia juga tinggal disini” sahut Luhan cepat dan otomatis membuat Lay juga menoleh dengan cepat kearahnya.

 

“Gadis? Gadis siapa maksutmu?”

 

“Gadis si pencuri dompet” ucap Luhan dengan menekankan nada bicaranya. Wajahnya juga terlihat berbinar, seolah hal yang ia temukan adalah sebuah harta karun. Cukup terkejut mendengar berita dari sahabatnya itu, mata Lay membulat dan alisnya terangkat.

 

“Gadis yang tadi pagi? Yang benar?” tanyanya antusias sambil menggeser posisi duduknya.

 

Luhan mengangguk, “Ne.. Aku juga tidak percaya bisa seperti ini. Tapi saat aku membagikan kue tadi aku mengunjungi rumahnya. Sederet dengan rumah kita, hanya 3 blok dari sini”

 

“Woah ternyata pepatah bahwa dunia ini sempit itu benar ya? Ckckck” ucap Lay sambil menggeleng heran. “Lalu bagaimana reaksinya saat melihatmu?”

 

“Hmphh.. dia sangat terkejut dan panik, dan dengan begitu saja dia membanting pintu didepan wajahku. Dia pikir aku datang karna ingin menuntutnya” jelas Luhan sambil tertawa kecil mengingat kejadian itu.

 

Lay mengembalikan posisinya menghadap ketelevisi, “Memang begitu seharusnya kan? Kau seharusnya menuntut orang yang sudah mencuri dompetmu. Bukan malah memberinya kue” jawab Lay yang sontak membuat ekspresi senang Luhan berubah.

 

“Hey sudah kubilangkan jangan membahas masalah itu lagi?”

 

“Ne ne arraseo”

 

Luhan menghela nafas lalu bersender dibadan sofa. Ia mengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruang tamunya, “Tapi Yixing’ah? Gadis itu… manis ya?” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Apa? Manis? Manis dari mana? Dia terlihat seperti bocah menyebalkan lu”

 

“Hey ayolah, terlepas dari dendammu itu. Aku tahu menurutmu dia juga manis” goda Luhan yang langsung membuat Lay memicingkan mata kearahnya.

 

“Ya Ya Ya Xi Luhan!? Apa-apaan ini? Jangan bilang kau tertarik pada gadis yang kau bilang manis itu?

 

Mendengar sindiran Lay, Luhan sontak kembali menegakkan tubuhnya lalu menatap tajam kearah sahabatnya. “Hey aku kan hanya bilang dia manis. Bukan berarti aku tertarik padanya kan?”

 

“Siapa yang tahu arti dari kata manis itu?”

 

Tsk, kau mau aku tendang lagi eoh?” ancam Luhan sambil mengangkat kakinya mengambil ancang-ancang. Melihat Lay menggelengkan kepala, Luhan pun membatalkan niatnya. “Tapi Yixing’ah? Entah kenapa aku seperti mengenal gadis itu. Tatapan matanya itu.. seperti seseorang yang sudah kukenal lama”

 

Lay menghela nafas malas sambil memutar bola matanya, “Dasar! Kurasa kau benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu lu. Sampai kau bicara omong kosong seperti itu”

 

“Berhenti bicara kalau aku menyukainya Lay’ah. Kau lupa tujuan utamaku kekorea untuk apa?”

 

“Ne.. untuk mencari cinta masa kecilmu kan? Baik-baik Luhannie, aku hanya bercanda” ucap Lay lalu mengelus punggung Luhan yang terlihat mendadak emosi. Lay tersenyum lalu bangun dari duduknya, “Sudah ya lu. Aku lelah, aku ingin istirahat. Selamat malam.. kau sebaiknya juga cepat tidur” Lay kemudian berjalan menuju kamarnya dilantai dua. Setelah Lay berlalu, Luhan menghela nafas lalu menunduk. Ia keluarkan sebuah kalung perak berbentuk hati dari dalam saku celananya. Ia tatap kalung itu intens. Sebuah kalung yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.

 

“Kau tahu Ai? Aku seperti melihatmu dalam dirinya”

 

 

 

***

 

“Hari ini cafemu ramai sekali ya?” ucap Sehi memulai pembicaraan. Ia menggeser jus didepannya lalu menyeruputnya perlahan. Seperti biasa hampir setiap malam Sehi dan sahabat-sahabatnya menghabiskan waktu luang di cafe milik Chanyeol, hanya sekedar bercanda atau sambil mengerjakan tugas, itu sudah seperti kebiasaan. Malam itu Sehi dan sahabat-sahabatnya kesana hanya untuk sekedar bermain dan menenangkan diri. Apalagi setelah mengalami semua kejadian tak terduga hari ini Sehi butuh sahabat-sahabatnya untuk melepas semuanya.

 

 

Chanyeol mengangguk sambil tersenyum bangga, “Iya begitulah.. hehehe”

 

“Woah.. kalau begitu sekali kali seharusnya kau mentraktir kami sebagai tanda bersyukur. Iya kan teman-teman?” ucap Jongdae mulai menggoda Chanyeol sambil merangkul pundak namja bertubuh jangkung itu.

 

“Umh.. baiklah”

 

Jongdae menoleh, “Eh? Jjinja?” sontak persetujuan Chanyeol itu membuat namja bersuara melengking itu terkejut. Jongdae tatap Chanyeol dengan mata yang berkedip berulang kali, tidak percaya candaannya malah disetujui oleh Chanyeol.

 

Chanyeol mengangguk mantap, “Ne.. aku serius” kata Chanyeol sambil tertawa.

 

“Woaaah.. kalau begitu bagus! Terimakasih hyung~” pekik Tao sambil memeluk manja Chanyeol. Chanyeol menghela nafas malas sambil melepaskan tangan Tao dari pinggangnya. Namja yang biasa ia panggil anak panda itu memang baik saat ada maunya saja.

 

“Hu dasar.. panggil hyung saat ada maunya saja” cibir namja bermata belok yang duduk bersebelahan dengan Tao yang dibalas mehrong oleh Tao.

 

“Chanyeol’ah? Apa kau serius ingin mentraktir kita semua? Kau tidak takut bangkrut? Kau tau kan bagaimana porsi Sehi, Jong dae dan Tao saat makan enak? Apalagi gratis..” Baekhyun terkekeh sambil menyurup minumannya. Ejekan yang otomatis membuat ketiga orang yang disebutkan menoleh dengan memicingkan mata kearahnya.

 

“Uhuk! Tidak kok.. aku hanya bercanda. Hehe” sangkal Baekhyun cepat yang seketika membuat ketiga orang itu tersenyum kompak.

 

“Hahaha.. sungguh aku akan traktir kalian. Sudah lama kan aku tidak mentraktir kalian semenjak aku lulus SMA?”

 

Sehi mengangguk-anggukan kepalanya, “Ne benar.. dulu disekolah kau yang paling sering mentraktir kami. Tapi sekarang? Setiap hari uang saku selalu raib” ucap Sehi sembari mengingat-ngingat masa lalunya. Semua temannya mengangguk setuju.

 

“Ah bukankah besok hari festival musim semi disekolah? Lalu bagaimana dengan persiapan kalian?”

 

“Sudah beres Yeollie’ah. Pulang dari sini kami akan mengambil barang-barang”

 

Mendengar jawaban Baekhyun, Chanyeol tersenyum simpul “Ohh bagus kalau begitu, semoga stand kalian laris manis ya?”

 

“Oya? Tapi ngomong-ngomong bagaimana denganmu Sehi’ah? Kudengar kau masuk kantor polisi tadi, sampai kau harus bolos sekolah” tanya Tao yang dengan cepat mengganti topik. Wajahnya tampak antusias bahkan ia menggeser kursinya lebih dekat dengan Sehi.

 

“Eh? Itu.. sudah tidak apa-apa. Semuanya sudah beres” sahut Sehi sambil tersenyum.

 

“Oh baguslah.. lain kali kau harus lebih hati-hati. Jangan lalai hanya karna game diponsel” ucap Kyungsoo memberi nasehat yang dibalas anggukan malas oleh Sehi.

 

“Ne Kyungsoo eomma”

 

“Benar-benar ya, kalau aku jadi kau Sehi’ah aku pasti sudah mengamuk dikantor polisi karna dituduh seperti itu” ucap Tao dengan nada tegas sambil mengepalkan kedua tangannya dan ditambah ekspresi marah yang dibuat-buat.

 

“Haha.. kau berlebihan Huang zitao” kata Kyungsoo sambil tertawa renyah seraya medorong kepala Tao.

 

“Oh iya? Kalian tau tidak? Ada kenyataan yang lebih dashyat lagi dari pada berita tentang kasus itu” ucap Sehi bersemangat yang membuat perhatian semua sahabatnya itu terfokus padanya.

 

“Berita apa?” tanya Chanyeol enteng sambil meminum kopinya yang sudah mulai dingin.

 

“Namja mandarin yang tadi menuduhku sekarang tinggal didekat rumahku dan resmi menjadi tetangga baruku. Hebat sekali kan?”

 

“Mwo? Yang benar?” tanya Tao dengan kedua alis yang terangkat keatas.

 

“Iyaa, aku juga terkejut karna dia tiba-tiba datang kerumahku. Aku pikir dia akan menuntutku lagi. Tapi ternyata.. lebih parah dari itu..” jawab gadis bermata bulat itu seraya menghela nafas berat.

 

“Kenapa lebih parah? Bukankah lebih baik dia datang sebagai tetangga baru dari pada kau harus dituntut?” tanya Baekhyun lembut. Pertanyaan yang dengan cepat membuat Sehi menoleh kearahnya.

 

“Tentu saja lebih parah jika ia menjadi tetanggaku. Kau pikir seberapa malasnya aku melihat wajahnya yang menyebalkan itu?” sahut Sehi dalam satu tarikan nafas. Wajahnya yang terlihat kesal membuat Baekhyun mengerti.

 

Sehi menunduk lemah, “Hidupku akan suram sepanjang masa kalau begini ceritanya”

 

“Ah iyaya aku mengerti. Ya sudahlah.. jangan terlalu dipikirkan. Kalau kau memang sangat kesal, anggap saja dia tidak pernah ada dikomplek rumahmu. Mungkin hanya butuh waktu sampai kau terbiasa” jawab Baekhyun sambil menepuk pundak Sehi yang terlihat suntuk. Sebuah perhatian yang membuat 4 namja lainnya menatap mereka dengan tatapan penuh makna. Sadar sedang dipandangi, Baekhyun menoleh dan keempat namja itu sontak tersenyum licik. Tatapan teduh dan nada lembut yang selalu Baekhyun berikan pada Sehi membuat semua sahabatnya merasakan sesuatu diantara mereka.

 

Baekhyun mengernyit, “Apa yang kalian pikirkan?” tanya Baekhyun sambil menatap bergantian keempat temannya. Sehi lalu mendongak dan ikut mengernyit melihat ekspresi keempat namja didepannya. Keempat namja itu mencakupkan kedua tangan masing-masing lalu memiringkan kepala.

 

“Romantis sekali!!”

 

 

***

 

 

Byurrr

 

“KYAAAA!!!!!”

 

“Akhirnya…” gumam Joonmyeon seraya menghela nafas dan mengelus dadanya. Melihat Sehi akhirnya terbangun dari tidurnya membuat namja itu akhirnya bisa memasang wajah lega. Namun berbanding terbalik dengan sang kakak, wajah Sehi malah terlihat kesal. Tubuhnya basah kuyup dan ia segera menatap tajam namja yang berdiri disebelah tempat tidurnya sambil menggenggam sebuah ember kecil.

 

“OPPA!!! KENAPA OPPA MENYIRAMKU DENGAN AIR?!!”

 

“Kau tidur seperti orang mati Sehi’ah. Kau pikir seperti apa lagi oppa harus membangunkanmu?! Hampir setengah jam kami berdua berusaha membangunkanmu, tapi kau hanya menggeliat diranjang”

 

[flashback]

 

Pukul 8 pagi, matahari sudah terbangun dari tidurnya dan siap menerangi dunia hari ini. Langit cerah dan burung sudah berkicau riang. Namun berbeda dengan suasana pagi hari ini, seorang gadis berambut panjang malah masih meringkuk diatas ranjangnya. Alarmnya hanya bicara sendiri karna orang yang di ajak bicara tidak meresponnya. Alarm itu berbunyi hampir 20 menit tapi sang penyetel alarm belum juga menampakkan tanda-tanda akan  bangun. Sampai akhirnya seorang namja berwajah tampan masuk dan mematikan alarm lalu terpakasa membangunkan gadis kerbau itu secara manual. Percobaan tidak hanya dilakukan satu kali tapi berulang kali.

 

“Sehinie? Ireona!” ucap Joonmyeon sambil mengguncang tubuh situkang tidur, namun gadis itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi.

 

“Yaa! Sehinie! Ireona!!” Joonmyeon berteriak tepat ditelinga Sehi tapi percobaan tetap gagal. Joonmyeon menghela nafas lalu keluar dari kamar.

 

Tak lama kemudian seorang namja lagi masuk kedalam kamar, kali ini bukan Joonmyeon tapi Sehun dia menarik bantal tidur, menarik selimut, sampai menarik boneka yang selalu gadis itu peluk saat tidur, tapi reaksi Sehi hanya menggeliat di tempat tidur lalu kembali tertidur pulas.

 

“Yaaa!!! Noona ini manusia macam apa?!” gerutu Sehun meneriaki Sehi yang masih tertidur pulas. Sehun mendengus lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghebuskannya. Ia membungkukkan badan lalu mendekatkan bibirnya ditelinga Sehi.

 

“Sehi noona? Ireona.. Ini sudah siang, bukankah noona ikut festival hari ini? Jangan sampai kau terlambat” ucap Sehun lembut tapi Sehi sama sekali tak merespon dan hanya menggaruk-garuk telinganya.

 

“YAAA!!! OH SEHI! Ayo bangun! Ini sudah jam 7 pagi! Kau mau terlambat ke festival?!” Sehun berteriak kencang sambil menarik-narik tangan kakaknya.

 

“Ohhh…@#$%&*@#”

 

“AISH JJINJA! DIA INI MANUSIA ATAU APA?!” gerutu Sehun sambil mengacak-acak rambutnya. Sangat putus asa karna rencananya tak ada yang berhasil.

 

Bruak

 

Tiba-tiba Joonmyeon membuka pintu kamar sambil memasang wajah serius. Ia menyeringai lalu mengangkat sebuah ember kecil berisi air yang ia bawa pada Sehun. Alis Sehun terangkat melihat apa yang kakak laki-lakinya bawa. Namun ekspresi terkejut seketika berubah menjadi seringai penuh makna.

 

“Kita selesaikan sekarang Hunnie”

 

[flashback end]

 

 

“Masih ingin protes?” tanya Sehun sambil melipat tangannya didada. Sedangkan Sehi hanya meringis sambil tersenyum pahit.

 

“Sudah cepat bangun. Lihat ini jam berapa, teman-temanmu pasti sudah menunggumu” ucap Joonmyeon seraya berjalan keluar kamar.

 

“Dasar kerbau” cibir Sehun seraya mengekor dibelakang Joonmyeon. Setelah kakak dan adiknya menghilang dibalik pintu, Sehi menghela nafas lalu melirik jam weker disebelah tempat tidurnya. Sontak mata gadis itu melongo melihat angka berapa yang ditunjuk oleh kedua jarum jam tersebut.

 

“Astaga! Jam setengah sembilan?!” pekik Sehi sambil beranjak ari ranjangnya. Ia ambil handuk lalu berlari kekamar mandi.  Namun langkahnya terhenti ketika ia lihat layar ponselnya tiba-tiba menyala.

 

From : Baekhyun

Subject : Sehi’ah kau dimana? Cepatlah

 

Sehi’ah kenapa belum datang juga? Kau dimana? Festivalnya sudah akan dimulai.

 

Status : Reading

 

Sehi menepuk-nepuk dahinya meratapi kesalahannya sendiri. Selain pesan dari Baekhyun itu, masih ada 5 panggilan tak terjawab dari Jongdae, 8 panggilan dari Baekhyun, 3 panggilan dari Tao dan 4 panggilan dari Kyungsoo, selain itu juga ada total 15 pesan sahabat-sahabatnya yang mungkin sudah kesal karna dia belum juga datang.

 

“Bodoh!!!!”

 

 

***

 

 

Musim dingin sudah berhenti dan kini saatnya untuk mengucapkan salam pada bunga dan dedaunan yang mulai tumbuh begitu indah. Musim semi adalah musim yang paling Sehi sukai, menurutnya musim semi adalah musim yang paling indah karna bisa melihat kembali bunga-bunga dan dedaunan tumbuh dengan keindahannya yang baru setelah tersiksa didinginnya musim dingin. Gadis itu selalu berharap bisa seperti bunga-bunga itu setelah melepas semuanya dimusim gugur, membuang semua kegerahan hati dimusim panas, lalu membuang semua kebencian dimusim dingin dan akhirnya bisa tumbuh menjadi lebih baik di musim semi.

 

Tapi sayang, kecerobohannya sudah membuat hari pertama musim berharga itu berantakan. Karna semalam pulang terlalu larut dari café Chanyeol, ia bangun kesiangan dan terlambat datang kesekolah padahal hari ini disekolahnya sedang mengadakan festival musim semi dan ini adalah pertama kalinnya Sehi dan teman-temannya ikut dalam festival tersebut. Mendengar hasil festival musim semi kali ini akan disumbangkan untuk panti asuhan dan beberapa orang yang membutuhkan, membuat mereka tertarik untuk ikut

 

“Dimana Sehi? Kenapa dia belum juga datang? Beberapa kaos ada ditangannya, bagaimana bisa kita membuka stand dengan kaos sedikit ini?” keluh Tao sambil mondar-mandir didepan stand mereka. 15 menit lagi acara akan dimulai dan orang yang mereka tunggu tak kunjung datang.

 

Tsk..Dia sama sekali tidak membalas pesan atau telpon” gerutu Jongdae sambil menatap ponsel ditangannya. Berharap layar ponselnya menyala karna Sehi menelpon atau mengiriminya pesan. Namun sayang, sudah hampir satu jam ponselnya tak memberikan tanda apapun.

 

Baekhyun menghela nafas, “Aku yakin sebentar lagi dia datang” ucap Baekhyun sambil menepuk pundak Jongdae. Sontak ketiga temannya menoleh sambil memicingkan mata kearah namja berambut blonde itu, membuat Baekhyun menelan kasar salivanya.

 

“Berhenti membelanya” ucap ketiga temannya kompak.

 

“Sudah 7 kali kau mengucapkan kalimat itu Byun Baekhyun. Tapi apa? Pujaan hatimu itu tidak juga datang” ucap Kyungsoo acuh tak acuh.

 

“Pu-pujaan hati? Hey kau bicara apa Do Kyungsoo?!” ucap Baekhyun mendadak salah tingkah. Kata ‘pujaan hatimu’ yang Kyugsoo ucapkan membuatnya mendadak gugup.

 

Tao mendengus, “Tidak perlu mengelak Baekkie’ah. Dengan wajah memerah begitu sudah sangat terlihat jelas” lanjut Tao yang semakin membuat Baekhyun semakin tertegun. Namun saat baru saja membuka mulut untuk membela diri, sebuah teriakan ketika mengejutkan keempat namja itu. Dan tentunya membuat para namja itu bisa bernafas lega.

 

“TEMAN-TEMAN!!!” pekik Sehi dari kejauhan. Ia berlari dengan 2 kantong besar ditangannya. Nafasnya terengah dan wajahnya nampak kusut. Melihat gadis itu tertatih membawa 2 kantong besar tersebut, Tao dan Baekhyun pun berlari untuk membantunya.

 

“Haahh.. ma-maaf.. aku.. terlambat” ucap Sehi terbata sambil berusaha menetralkan deru nafasnya.

 

“Tidak apa-apa.. yang penting kan kau sekarang sudah disini” sahut Baekhyun lembut sambil mengambil satu kantong dari tangan Sehi. Tao hanya berdehem mendengar Baekhyun lagi-lagi membela gadis itu.

 

“Kemana saja? Kenapa baru datang?” tanya Kyungsoo ketika Tao, Baekhyun dan Sehi sampai distand.

 

Sehi tersenyum lebar sambil mengelus tengkuknya, “Hehe maaf.. karna semalam pulang larut aku jadi bengun kesiangan”

 

“Memang dasarnya kau saja yang tukang tidur. Aku dan yang lainnya bisa tidak kesiangan” sahut Jongdae sambil bersedekap didada, berlagat seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya.

 

“Ya sudahlah. Lebih baik segera merapikan kaos-kaos ini. 10 menit lagi festivalnya akan dibuka. Kajja!”ajak Kyungsoo yang kemudian disetujui oleh semua rekannnya. Tao, Kyungsoo dan Jongdae pun segera mengambil beberapa kaos dari dalam kantong lalu menatanya. Sementara Baekhyun malah sibuk merogoh sakunya.

 

“Ini lap dulu keringatmu” ucap Baekhyun seraya menyodorkan sapu tangan pada Sehi. Gadis itu tersenyum lalu mengambil sapu tangan itu.

 

“Terimakasih”

 

“Ya Ya Ya! Ini bukan saatnya untuk mengumbar keromantisan. Cepat bantu kami” ucap Kyungsoo yang otomatis membuat Baekhyun dan Sehi tersentak lalu segera megambil bebetapa kaos untuk ditata.

 

Baru beberapa menit festival dibuka, namun pengunjung yang datang sudah cukup ramai. Pengunjung yang datang tidak hanya dari kalangan pelajar tetapi banyak warga-warga disana yang datang untuk ikut menikmati acara keluarga dihari minggu itu. Apalagi melihat spanduk besar yang menyebutkan bahwa hasil festival akan digunakan untuk amal membuat makin banyak orang yang tertarik untuk datang. Beberapa stand juga terlihat sangat ramai pengunjung, termasuk stand milik Sehi dan kawan-kawan. Karna lokasi stand mereka yang terbilang strategis dan barang yang mereka tawarkan cukup menjual membuat stand mereka laris manis.

 

“Woaah sepertinya ide untuk menjual pakaian murah dengan kualitas distro untuk remaja itu adalah ide yang sangat bagus ya?” ucap Tao dengan nada senang. Wajahnya berbinar melihat stand mereka yang padat pengunjung remaja seusia mereka.

 

Kyungsoo tersenyum bangga, “Ide siapa dulu?” ucapnya sambil bersedekap didada.

 

Mereka berlima berbagi tugas, Tao dan Baekhyun sebagai penjaga didalam stand, Kyungsoo sebagai kasir sedangkan Jongdae dan Sehi bertugas sebagai sales didepan stand untuk menarik para pengunjung agar datang kestand mereka. Mengingat kecerewetan kedua manusia itu membuat Kyungsoo memberikan tugas penting tersebut pada Sehi dan Jongdae.

 

“Pulang dari sini suaraku pasti habis” ucap Sehi sambil menggosok-gosok lehernya.

 

“Iya tidak apa-apalah. Kita kan melakukannya untuk amal. Ayo semangat!” ucap Jongdae sambil menepuk-nepuk pundak Sehi lalu kembali melanjutkan tugasnya. Sehi tersenyum lalu mengangguk, ia pun melanjutkan tugasnya juga. Namun ia tersentak ketika matanya menangkap seseorang yang sedang berkunjung ke stand didepan standnya. Ia menyipitkan mata untuk memaksimalkan penglihatannya. Dan matanya sontak membulat ketika ia sadar siapa orang itu.

 

“Bocah mandarin aneh itu?! Kenapa dia bisa ada disini?! Aissshh..” pekiknya sambil menatap heran kearah namja itu. Jarak yang tidak terlalu jauh antara stand satu dengan stand lainnya, membuat namja yang sedang melihat-lihat buku itu menangkap suara teriakan Sehi. Dengan cepat Sehi memalingkan wajah ketika namja itu menoleh padanya. Namun sayang, keberuntungan tidak berpihak pada Sehi. Pekikkannya membuat namja itu malah tertarik untuk menghampirinya.

 

“Hai.. bukankah kau gadis yang kemarin?” ucap namja itu sambil memasukkan tangannya kesaku celana.

 

“Iya memang kenapa?” jawab Sehi acuh tak acuh.

 

Melihat sikap ketus gadis itu Luhan malah terkekeh, “Jadi kau sekolah disini?”

“Iya memang kenapa?”

 

“Tidak apa-apa. Oya? Apa saja yang kau jual?” tanya Luhan sambil menengok kedalam stand. “Waah stand mu ramai sekali ya?”

 

“Iya memang kenapa?”

 

“Kau pasti bertugas untuk menarik pengunjung kan? Kalau begitu lakukan tugasmu. Buat aku tertarik padamu” ucap Luhan yang seketika membuat Sehi menoleh kearahnya. “Eh? Maksutku.. umh tertarik untuk datang kestand mu”

 

“Untuk apa? Kami tidak butuh pengunjug sepertimu. Maaf”

 

“Hmpph.. benarkah? Kau yakin?”

 

“Tentu saja”

 

“Lalu bagaimana kalau aku—“

 

“Baekhyun’ah?!”

 

 

Deg

 

 

Tiba-tiba panggilan seseorang membuat Luhan tertegun. Ia seketika terdiam ditempat mendengar nama yang dipanggil orang itu. Sehi yang masih didepan Luhan mengernyit. Heran kenapa mendadak namja itu terlihat terkejut.

 

 

“Ne hyung?!” sahut Baekhyun sembari berjalan menuju seorang namja yang memanggilnya. Sementara Luhan masih bungkam menatap orang yang dengar bernama Baekhyun itu berjalan kearah seorang namja diluar stand. Sehi semakin mengernyit dalam, melihat cara Luhan menatap Baekhyun membuatnya bingung. Tatapan namja itu nampak terkejut namun sedikit sendu.

 

Sehi melambaikan tangannya didepan wajah Luhan, “Hey orang aneh” ucapnya. Namun Luhan tak menggubris. Tatapannya belum lepas dari Baekhyun.

 

“Baekhyun? Byun… Baekhyun?”

 

 

 

 

 

((To Be Continued))

 

16 thoughts on “State it(Chapter 1)

  1. yeeeey akhirnya chapter 1 keluar juga ^^
    ahahahaha sehi enak ya dibangunin dua cowo ganteng :p
    luhan kenal baekhyun?
    jangan” sehi cinta masa kecilnya luhan ya?

    next chapternya ditunggu ya thor ( ^◡^)
    author fighting ヽ(^o^)ノ

  2. yang ditunggu-tunggu akhirnya nongol jugaaa!!!
    sukasuka..
    hwaiting buat chapter selanjutnyaaa!!
    ngomong-ngomong,,,,, posternya keren. bagusss

  3. Laganya akhirnya bisa baca part 1. Ihhhhhhh Kenapa Luhan kaget liat Baekhyun, Sehi bangun tidur nya kalah sama Ayam. Ag jugaaaaaaa mau di traktir sama Chanyeol ……emmmmm, waaahhhhh Chen emang crewet bangettttttttttttttt

  4. Yeayy.. Akhirnya ada juga chapter 1 nya😀 pantesan tiba2 pengen buka wp ini eh taunya ada kabar baik hehehe..
    Eonni dua minggu lagi uts?? Haha kita samaan *ya terus??* gpp gak update jg klo slma uts deh. Saling memaklumi yah.
    Tp next chapter ini dilanjut sekarang-sekarang aja eon, biar pas uts tenang..aku penasran bngt sma ff ini. ya ya ya.. Chapter 2 ini ditunggu loh secepat cepat cepat cepatnya. Hehe Fighting!!🙂

  5. Ihh mau di bangunin sama sehun sama suho TT
    Irii u.u
    Haha aku ngakak pas bagian suho sama sehun bangunin sehi xD
    Eh itu luhan knal sama baekkie?
    Siapa nya luhan ya kira” baekhyun itu? O.o
    Next chap ditunguuuuu banget thor😀

  6. annyeong aku reader baru🙂 suka sama jalan ceritanya, mengalir dan bahasanya mudah dipahami, sederhana tapi mengena. lanjut terus ya, pengen tau kisah sehi luhan baekhyun. hwaiting!!

  7. Luhan bukannya blm bisa ngomong korea ya thor?._.
    Luhan apa hubungannya sm baekhyun?
    Jgn2 sehi itu ai, trs luhan sm baekhyun sm ai tuh tmnan eh tp karna ada sesuatu dia kepisah gt/? Wkwk
    lanjut thorrr hihihi

  8. Luhan bukannya blm bisa ngomong korea ya thor?._.
    Luhan apa hubungannya sm baekhyun?
    Jgn2 sehi itu ai, trs luhan sm baekhyun sm ai tuh tmnan eh tp karna ada sesuatu dia kepisah gt/? Wkwk
    lanjut thorrr hihihi
    Eh tp sehi dibanguninnya gt amat ya.-.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s