Be My Love (Chapter 3)

BML Chap 3 fix-vert

Title     : Be My Love “Chapter 3”

Author  : HCV_1

Cast      : Kim Joonmyeon | Han Na Young

Genre   : Romance , little freak, little sad

Length : Chaptered

Rating  : T

 

 

WARNING !

TIDAK SIDER | WAJIB KOMEN | TIDAK PLAGIAT | SAY NO TO PLAGIAT AND SIDERS

 

Author galau untuk sementara waktu, jadi ff ini lama tidak di sentuh. Ok, dibanding kalian lama baca pesen-pesen author yang semakin hari semakin tidak jelas , langsung aja ke cerita~

 

 

————

“Kau harus membayar ini semua” desis Joonmyeon tepat ditelinga Nayoung. Nayoung seolah membeku. Ia seperti tersihir oleh bisikan Joonmyeon. Ia hanya menatap Joonmyeon, bahkan ia tak mampu mengedipkan matanya. Otaknya berpikir sangat lamban. Ia tidak bisa mencerna maksud ucapan Joonmyeon dengan cepat.

Joonmyeon berdiri. Ia sudah tidak terikat lagi oleh tatapan Nayoung. Baru saja ia merubah sedikit pandangannya mengenai Nayoung, baru ia akan mencabut anggapannya terhadap Nayoung yang seorang gadis—liar baginya selama ini, namun… ucapan itu kembali melekat pada diri Nayoung setelah apa yang barusan terjadi. Nayoung menyemburkan air ludahnya yang berisi bermacam-macam virus dan bakteri.

“Dasar gadis liar.. kau bahkan menyembur wajahku dengan ludahmu ! Menjijikan! Ludah mu itu berisi berbagai macam bakteri dan virus yang mematikan” omel Joonmyeon. Ia merasa sangat-sangat kesal. Baru kali ini ada gadis yang menyembur wajah tampannya itu dengan air ludah. Baru kali ini ia merasa kannya, karena selama ini ia hanya dikelilingi oleh gadis-gadis yang baginya sangat—norak—kampungan yang selalu menjerit-jerit, memohon-mohon padanya untuk menjadi kekasihnya. Tapi ini berbeda. Ia malah dikerjai oleh seorang gadis yang baginya bersifat seperti binatang liar.

Joonmyeon berjalan semakin jauh. Ia tidak ingin medekat dengan Nayoung karena ia bisa terinfeksi oleh virus—Nayoung yang sangat berbahaya, bahkan virus ini sangat mematikan bagi dirinya. Nayoung masih terpaku. Ia hanya mampu duduk sambil memandangi punggung Joonmyeon yang semakin menjauh. Namun baru saja ia bisa lepas dari sihir yang disebabkan oleh Joonmyeon… Joonmyeon tiba-tiba membalikkan badan kemudian memicingkan matanya ke arah Nayoung. Nayoung bergidik melihat tatapan mata Joonmyeon yang menakutkan baginya.

Nayoung berdiri ia langung mengambil langkah seribu agar ia bisa menjauh dari Joonmyeon. Ia berlari menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Ia segera masuk dan menutup pintunya. Tidak lupa ia juga mengunci pintu kamarnya.

“Apa yang dipikirkan oleh pria mesum itu sih ?” gerutu Nayoung.

 

 

-oOo-

[Joonmyeon Pov]

“Cih gadis sial, kau seenaknya menyemburku” desisku kesal. Baru kali ini ada gadis yang berani bersikap seperti itu padaku. Aku berjalan menuju wastafel,  dan dengan segera membasuh wajahku yang terkena semburan—Nayoung tadi. Aku menatap cermin yang tepat berada di depan ku. Aku menatap wajahku. Sebuah senyuman muncul di kedua sudut bibirku.

“Kau harus membayarnya Han Nayoung” ucapku masih menatap cermin. Aku masih tersenyum, namun kini kepala ku dipeuhi oleh cara agar aku bisa membuat gadis liar itu merasa tersiksa. Aku membasuh wajahku lagi. Kini hatiku sudah tidak kesal lagi. Perasaan kesal itu sudah tergantikan dengan bayangan ekspresi wajah Nayoung yang memelas dan tersiksa.

“Bersiaplah Han Nayoung” desis ku tajam.

Setelah membasuh wajahku, hingga terasa benar-benar aman dari virus—Nayoung, aku segera naik ke lantai atas. Aku melirik ke sebelah, atau tepatnya ke kamar Nayoung. Pintunya tertutup. Sepertinya pintu itu dikunci olehnya dari dalam.

Tsk….dasar gadis liar” ucapku, lalu masuk ke dalam kamar.

 

 

-oOo-

[Normal Pov]

“Yaaa! Gadis liar! Cepat bangun!” teriak Joonmyeon sambil memukul-mukul pintu kamar Nayoung dengan keras. Nayoung mencoba membuka matanya yang terasa di beri pemberat 50kg. Ia memaksa badannya untuk bangun. Ia juga harus memaksa kakinya untuk berjalan. Ia berjalan terhuyung-huyung karena ia sangat mengantuk.

“Hmmm..tunggu” gumamnya pelan masih terus berjalan dengan terhuyung-huyung. Dengan susah payah ia berjalan. Sampai akhirnya ia sampai di  pintu. Ia membuka pintu yang dikunci itu. Namun….

“HHHHAAAAA!!!”

Sekantong es batu berhasil mendarat manis di samping kanan kiri  pipi Nayoung. Mata Nayoung yang sebelumnya susah untuk di buka, kini sudah terbuka sepenuhnya. Mulutnya pun terbuka dengan lebar karena berteriak.

“Bangun pemalas” desis Joonmyeon. Ia menempelkan sekantong es batu di kedua pipi Nayoung agar gadis liar itu bisa membuka mata sepenuhnya dan tidak merasa ngantuk lagi. Rencananya kini sukses.

 

BRAKKK

 

“Akkkhhh….” Pekik Joonmyeon. Ia tersungkur di atas lantai. Ia memegangi lututnya. Ia Nampak kesakitan.

“Rasakan itu, kau tahu aku ini jago karate haahh?!” ucap Nayoung dengan wajah sombong. Ia berkacak pinggang. Namun langsung memegangi pipinya yang masih terasa dingin. Ia menggosok-gosokkan pipinya dengan telapak tangannya, berusaha agar pipinya merasa hangat.

Joonmyeon berusaha berdiri dari posisinya tadi. Ia menatap Nayoung tajam tapi masih dengan memegangi lututnya yang terasa sakit itu. Mereka saling beradu pandangan mematikan. Dalam hati mereka saling memaki satu dengan lainnya. Saling melontarkan sumpah serapahnya.

Niat awal Joonmyeon yang ingin mengerjai Nayoung malah berimbas juga pada dirinya. Ia lupa jika Nayoun jago karate. Seharusnya ia harus mempersiapkan terlebh dahulu cara menangkis gerakan refleks Nayoung.

“Cepat kau masak. Aku lapar. Kau seenaknya saja masuk ke kamar dan tidur lelap. Sedangkan aku yang  terkena semburan mu itu harus menahan lapar” omel Joonmyeon. Nayoung hanya menyengir. Ia sedikit merasa  bersalah karena insiden tadi.

“Yaaa! Jumon, jika kau lapar katakan saja. Kenapa harus membangunkan ku dengan cara seperti itu sih ? Kau juga harusnya tahu ini sudah tengah malam. Ini waktunya untuk orang-orang seperti ku beristirahat. Kau itukan vampire jadi tidak masalah bagimu terjaga di tengah malam begini. Menyusahkan saja” omel Nayoung tak mau kalah dengan Joonmyeon. Joonmyeon hanya menatap Nayong dengan tatapan heran.

“Ahhh sudahlah! Kau tunggu saja di meja makan” ucap Nayoung. Ia langsung melesat menuju dapur sedangkan Joonmyeon  langsung duduk di meja makan menunggu masakan Nayoung siap—siap untuk di lahapnya.

Tiga puluh menit kemudian….

“Aku susah payah memasak tapi ia malah tidur nyenyak. Awas kau Jumon” desis Nayoung. Nayoung menatap wajah Joonmyeon yang sedang terlelap itu. Wajahnya polos, tidak seperti wajah Joonmyeon yang ia lihat selama ini. Wajahnya kini terlihat jelas, Nampak tanpa beban.

DEG

Tiba-tiba Nayoung merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia menatap wajah Joonmyen kembali, baru saj ahendak berteriak di kuping Joonmyeon ia menemukan sebuah ide. Sebuah ide untuk membalas kelakuan Joonmyeon tadi. Ia melesat ke kamar. Tentunya tanpa menimbulkan suara. Ia mengmbil spidol yang tergeletak di atas meja belajarnya dan juga ponselnya. Ia menuruni tangga dengan hati-hati.

Ia mulai menjalankan misinya. Ia membuat sebuah kumis di wajah Joonmyeon. Ia juga menambahkan sedikit—ralat beberapa kerutan lebih tepatnya gambar kerutan di dahi Joonmyeon. Setelah puas membuat wajah Joonmyeon sedikit sempurna—sempurna untuk ditertawakan. Ia mengambil ponselnya yang ia selipkan di kantong celananya. Ia mengambil foto wajah Joonmyeon yang—sempurna itu.

“Ahhh…sudah jadi” gumam Nayoung. Namun baru ia selesai mengambil gambar wajah Joonmyeon itu, Joonmyeon langsung terbangun. Ia mengucek-ngucek matanya dengan tangan. Dengan segera Nayoung menyembunyikan ponselya di saku celananya.

“Makanan ku sudah jadi ?” tanya Joonmyeon, ia masih belum sadar dengan apa yang menimpa dirinya. Nayoung langsung mencibir. Joonmyeon melihat sepiring mi berwarna hitam. Ia langsung menarik piring itu. Ia mengendusnya. Setelah yakin aman, ia langsung melahap mi hitam itu. Nayoung kembali mencibir setelah melihat kelakuan Joonmyeon tadi. Ia hendak berjalan menuju kamar. Namun baru saja ia berjalan selangkah.

GREP

“Kau harus diam disini, sampai aku selesa makan” ucap Joonmyeon dengan tatapan mata yang tajam. Ia memegang pergelangan tangan Nayoung. Ia memerintahkan Nayoung untuk menemaninya makan.  Mau tidak mau Nayoung harus menuruti ucapan Joonmyeon. Ia duduk di sebelah Joonmyeon. baru beberapa menit , rasa kantuk mulai menyerangnya. Semakin lama, semakin ia merasa mengantuk. Hingga akhirnya ia terlelap.

Beberapa menit kemudian….

“Kenyang, terima kasih makanannya” ucap Joonmyeon. Hening….namun

ZZZRRRR ZZZZZRRRR

“Bagaimana bisa ada gadis yang tidur seperti mu sih ?” gumam Joonmyeon heran. Ia baru kali ini melihat secara langsung seorang gadis tidur sambil mendengkur. Suara dengkuran Nayoung juga besar. Joonmyeon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap wajah Nayoung. Ia masih belum percaya, wajah gadis selugu ini tidur sambil mendengkur.

“ Wajah yang benar-benar polos” ucap Joonmyeon.

“Kasihan… kau pasti sangat lelah” gumamnya lagi. Joonmyeon beranjak ke dapur untuk meletakkan piring dan gelas yang ia gunakan untuk makan tadi. Ia kembali berjalan ke meja makan. Ia Nampak sedng berpikir.

“Hei gadis liar bangun!” teriak Joonmyeon tepat di kuping Nayoung. Tapi tidak mempan. Nayoung masih tampak belum berkutik. Ia masih tertidur pulas. Belum ada tanda-tanda ia akan bangun. Joonmyeon kembali berteriak, namun hasilnya tetap nihil.

“Aisshhh gadis ini” desis Joonmyeon. berbagai cara telah dilakukan Joonmyeon namun hasilnya selalu nihil. Mau tidak mau Joonmyeon harus mengambil langkah terakhir. Tidak mungkin ia membiarkan Nayoung tidur di sana hingga pagi. Ia menggendong Nayoung ke kamar. Untung saja Joonmyeon cukup kuat jadi ia bisa menggendong Nayoung ke kamarnya yang ada di lantai dua.

Ia membaringkan Nayoung di ranjang. Menarikkan selimut, dan menutup separuh badan Nayoung dengan selimut. Joonmyeon memegangi punggungnya yang terasa sakit. “Berat mu itu hampir sama dengan berat babi raksasa. Kau harus membayar ini gadis liar” ucap Joonmyeon menatap wajah Nayoung dengan tatapan kesal. Sebuah ide tiba-tiba muncul di dalam kepala Joonmyeon.

Ia berjalan menuju meja belajar Nayoung, mengambil spidol yang bertuliskan ‘waterproof’. Lalu menggambar guratan-guratan di wajah Nayoung. Sebelum mencoret-coret wajah Nayoung, Joonmyen sempat memandangi wajah Nayoung yang terlihat indah—indah hanya untuk beberapa saat saja sebelum coret-coretan menghiasi wajah Nayoung.

“Selamat tidur Nayoung” bisik Joonmyeon ditelingan Nayoung. Ia lalu beranjak keluar dari kamar Nayoung. Ia mematikan lampu kamar Nayoung, lalu menutup pintunya. Kini ia melangkah menuju kamarnya dengan seringai puas yang menghiasi wajahnya.

 

 

-oOo-

[Naayoung Pov]

“Ehhhmmmm….” aku membuka mataku. Karena matahari sudah bersinar makin tinggi. Aku melirik jam. Lalu beranjak dari tempat yang nyaman bagi ku itu menuju ke kamar mandi. Jika tidak mungkin aku harus berhadapan dengan kata-kata terlambat ke sekolah.

Aku melangkahkan kaki ku yang terasa berat itu, kemudian membuka kenop pintu kamar mandi. Aku melihat kerah cermin. Tersenyum melihat wajahku yang terpantul di cermin kamar mandi. Aku melangkahkan kaki ku lagi. Tapi…tunggu dulu….

Ada yang aneh

Aku membalikkan badan ku, memastikan hal yang aneh pada diriku ini. Aku kembali ke depan cermin.

“HHHHHHAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!” pekik ku. pantulan wajah ku di cermin….ini tidak dapat ku percaya….wajahku penuh dengan coret-coretan. Ini….

Aku kembali mengingat-ingat apa yang terjadi semalam…dan kenapa aku sudah ada di ranjang ???

“Akkkkhhhh !!!” pekik ku lagi. Aku segera membersihkan diri ku dan coret-coretan di wajah ku ini. Ini sungguh memalukan…bagaiman bisa ada coret-coretan di wajahku

 

 

-oOo-

[Joonmyeon Pov]

“Jadi anak itu sudah bangun ya ?” ucap Joonmyeon. ia beranjak ke kamar mandi, untuk bersiap pergi ke sekolah.

Aku tersenyum puas membayangkan wajah gadis liar itu saat berteriak tadi. Aku langsung membasuh wajah ku dengan air di wastafel lalu bercermin….

“Aaaakkhhhh!!! Dia juga mencoret-coret wajah ku !” pekik ku. aku mengamati wajah ku yang berisi coretan

Gambar kumis dengan bentuk yang aneh dan apa ini ? tompel ? dan apa ini ? ini…bagaiman bisa anak itu menggambarkan tanda bibir di wajahku !!!!

 

 

-oOo-

[Normal Pov]

Joonmyeon terlihat sedang asik memakan rotinya sambil membaca koran. Tapi ketenangannya tiba-tiba terusik oleh teriakan Nayoung yang sangat merdu. Hingga gendang telinga Joonmyeon seakan-akan pecah.

“Yaaaa!!! Kenapa kau mencoret wajahku dengan spidol sih ?!?” sungut Nayoung. Ia menatap Joonmyeon dengan kesal. Joonmyeon hanya menatapnya datar.

“Yaaaa!!! Kau mencoreti wajahku dengan spidol yang susah hilang tau !” ucap Nayoung kesal. Ia masih menatap Joonmyeon garang. Ia menatap wajah Joonmyeon yang bersih, tidak ada tanda coretan di wajahnya.

“Kau juga mencoreti wajahku…jadi kita impas kan” ucap Joonmyeon datar. Ia kembali melanjutkan aktivitas membaca korannya. Ia tidak memperdulikan tatapan Nayoung yang seakan-akan ingin melahapnya hingga tak tersisa. Nayung makin kesal dengan tingkah Joonmyeon. Tapi Nayoung tak bisa melakukan apa lagi…tak mungkin ia menyerang Joonmyeon. Jika ia menyerang Joonmyeon, pasti ayahnya akan kecewa terhadapnya…ia dan ayahnya juga akan mendapatkan pandangan negative dari ayah Joonmyeon yang juga adalah sahabat ayahnya.

“Butuh waktu yang lama untuk menghilangkan coretan itu, aishh kenapa ia harus mencoret wajah ku dengan tinta yang sukar di bersihkan” omel Nayoung. Ia terus mengomel sembari memakan sarapannya.

Tanpa di ketahui oleh Nayoung , diam-diam Joonmyeon melihat Nayoung. Ia sedikit merasa bersalah dengan mencoret-coret wajah Nayoung dengan tinta yang susah dibersihkan. Tapi dengan segera ia menarik rasa bersalahnya karena mengingat kejadian yang membuat wajahnya di penuhi titik air ludah.

Setelah selesai sarapan Joonmyeon pun bersiap berangkat ke sekolah. Ia mengambil tasnya, ia sempat melirik Nayoung yang sedang bercermin meratapi wajahnya yang masih ada beberapa bekas coretan.

“Aissshhh kenapa yang ini tidak mau hilang sih ?” gerutu Nayong sambil bercermin. Ia mencoba membersihan bekas coretan yang tidak mau hilang dengan tissue basah. Tapi usaha yang ia lakukan sia-sia. Noda itu tidak mau hilang.

Untung bekas coretan ini ada di pipi, jika di hidung ku…aku tidak tahu bagaiman harus menutupinya.

Mungkin aku harus mengurai rambutku agar tidak terlihat…akan ku urai rambutku. Ucap Nayoung dalam hati.

Ia mengurai rambutnya yang panjang dan berwarna hitam pekat itu. Saat Nayoung melepas ikatan rambutnya, Joonmyeon terpana dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menyangka gadis liar itu bisa terlihat cantik. Nayoung membalikkan badannya dan ia melihat Joonmyeon sedang mamandanginya.

“Jumon untuk apa kau memandangi ku  ? Kau ingin berbuat buruk ada ku kan” ucap Nayoung galak. Joonmyeon langsung tersentak dari keterpanaannya.

“Tsk…aku hanya heran pada mu, bukannya kau harus cepat-cepat ke sekolah ya?” ucap Joonmyeon sambil menaikkan sebelah alisnya. Nayoung mempoutkan bibirnya, ia melirik jam tangannya.

“Aku terlambat !” pekiknya. Ia langsung mengambil tasnya. Dan segera berlari keluar. Joonmyeon hanya memandanginya datar.

GREP

“Kaul lebih baik ku antar saja. Nanti siang kau harus pulang ke rumah. Tidak boleh pergi keman pun. Aku berjanji pada ayahmu untuk menjaga mu” ucap Joonmyeon. ia langsung menarik Nayoung masuk ke dalam mobilnya. Nayoung hanya diam. Ia heran kenapa Joonmyeon mau mengantarkannya ke sekolah.

 

 

-oOo-

 

“Suda sampai” ucap Joonmyeon ketus. Nayoung yang sedari tadi Nampak melamun, sedikit terkejut.

“Ah…iya” ucapnya lalu turun dari mobil sport milik Joonmyeon. ia melihat ke sekeliling, nampak sedikit lenggang. Ia melihat jam yang yang melekat manis di pergelangan tangannya. Ia mendelikkan matanya karena sebentar lagi kelas akan dimulai. Ia menoleh ke belakang, namun mobil milik Joonmyeon nampak mulai menjauh hingga akhirnya tak terlihat oleh matanya.

Nayoung menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ia terlihat sedang mengucapkan sesuatu. Lalu ia berlari menuju kelasnya.

“Jieun mianhae…aku tidak bisa menemani mu pergi ke toko buku” ucap Nayoung dengan wajah yang memelas. Jieun menatap Nayoung malas. Ia paling malas jika ada orang yang membatalkan janji seperti ini.

“Ya sudahlah” ucap Jieun malas. “Mianhae Jiuenie, Jumon menyuruhku untuk langsung pulang. Kau taukan Jumon itu sangat menyebalkan” ucap Nayoung lalu menggembungkan pipinya. Jieun tau itu. Saat pertama kali bertemu dengan Joonmyeon ia menganggap Joonmyeon adalah pria yang tampan dan sangat keren, tapi pandangannya itu berubah setelah Nayoung terjatuh di hadapan pria itu dan teman-temannya.

“Dan terimakasih, berkat kau coretan yang ada di pipiku bisa hilang. Untung kau membawa toner pembersih untuk waterproof. Kau menyelamatkan hidupku” ucap Nayoung dengan nada suara yang sedikit berlebihan. Sebenarnya ia sangat malu dengan coretan itu. Coretan itu berbentuk bibir yang baginya sangat memalukan.

“Ne arra….cepatlah kau pulang. Sebelum pria diktaktor itu mulai beraksi lagi” ucap Jieun sambil menggerak-gerakkan tangannya seakan-akan mengusir Nayoung. Nayoung hanya menyengirkan gignya. Ia merasa tidak enak dengan sahabatnya itu. Tapi mau apa lagi…ini sebagai balas budi dengan Joonmyeon karena sikapnya tadi pagi yang sudah seperti malaikat sesaat. Ingat SESAAT tidak lebih dan tidak kurang. Hanya sesaat.

Nayoung berjalan menuju rumahnya, ia berjalan di trotoar dengan riang. Bagaiman tidak, tadi saat ia sedang berjalan menuju kantin seniornya memanggil untuk memberitahu bahwa ia akan ikut menjadi peserta perlombaan karate. Ia sungguh sangat senang karena ia bisa mengikuti perlombaan karate.

Namun ia mendengar deru mobil yang lumayan kencang, ia menoleh ke jalan dan……

 

BRUASSHHHH

 

“AAAAKKKHHHHHHHHH!!!!!” pekiknya keras. Ia mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya. Mobil yang tadi melaju kencang itu pun berhenti seketika. Sang pemillik mobil itu menyembulkan kepalanya.

Nayoung mendekati mobil sport yang mencipratkan genangan air hujan ke arahnya tadi. Ia sudah siap mengamuk. Amarahnya sudah tidak bisa di tahan. Kepalanya seakan-akan siap untuk meledak karena tidak bisa menahan amarahnya.

“Akhhh mobil ku kotor terkena genangan air” umpatnya kesal. Ia tidak menghiraukan Nayoung yang sekujur tubuhnya basah terkena cipratan air yang maha dahsyat tadi. Nayoung mendelik matanya, ia sudah tidak tahan.

“YAAAA!!! Lihat apa yang telah kau perbuat padaku!” pekiknya kesal ke arah sanga pemilik mobil. Dari wajahnya Nayoung bisa menyimpulkan namja itu memiliki umur yang sama dengan Nayoung.

Sang pemilik mobil yang merupakan seorang namja itupun keluar dari mobilnya. Saat ia turun dari mobilnya Nayoung hanya bisa memandangi namja itu. Ia terperangah…baru kali ini—tepatnya sudah dua kali ia melihat namja yang menurutnya namja aneh setelah Joonmyeon. Ia mendekati Nayoung. ia menatap Nayoung tajam. Wajahnya mendekat kearah wajah Nayoung. Mendekat…semakin dekat…kemudian ia menunjukkan smirknya. Nayoung semakin terperangah. Ia merasa gerah dan ia semakin kesal dengan namja yang kini hanya beberapa centi saja ada di hadapannya.

 

BUAKK

 

“Akkhhhhh!” pekik namja itu. Ia memegangi kakinya.

“Rasakan itu…dasar pria aneh” ucap Nayoung. Ia lalu berjalan meninggalkan namja yang terlihat masih kesakitan karena kakinya di tendang oleh Nayoung. Karena Nayoung memilih klub—karate jadi tendangannya itu lumayan sakit—tidak bukan lumayan lebih tepatnya sangat sakit.

“Kau mau bermain-main dengan ku ya ?  Tidak bisa…kau melakukannya duluan jadi kau harus terima pembalasan dari ku dua kali lipat. Rasakan itu….” Nayoung mengomel terus sepanjang perjalanan pulang. Ia tidak peduli dengan tatapan orang yang menatapnya aneh. Sekujur tubuhnya basah…dan ia bicara sendiri.

 

 

-oOo-

[Nayoung Pov]

Akhirnya aku sampai di rumah juga

Batinku, kemudian mengehmbuskan nafas berat. Namun baru saja aku membuka pagar….

“Kenapa ada dua mobil di rumah ? Apa mungkin Jumon membawa temannya ?” ucap ku mengira-ngira.

“Tunggu dulu…aku spertinya tau mobil ini” ucap ku begitu berjalan di samping mobil sport hitam itu. Ada noda bekas cipratan air dibagian samping mobil itu. Aku mulai teringat suatu hal.

“Ini kan mobil yang tadi membuatku basah kuyup! Bagaiman bisa ?” pekik ku. Aku segera mengembil langkah cepat menuju ruang tamu. Dan namja itu…namaj menyebalkan itu ada di sana. Di ruang tamu. Ia begitu terkejut melihatku. Aku melotot ke arahnya. Ia hanya diam, masih terkejut melihatku.

“Tao kau kenapa berwajah seperti itu ?” tiba-tiba Joonmyeon muncul dair dapur dengan membawa dua buah minuman di tangannya. Ia membelakangi Nayoung, hingga ia tidak melihat ada Nayoung di sana.

“Hyung….apa dia pembantu mu di sini ?” tanya namja yang bernama Tao itu dengan menggerakan  dagunya kearah ku. Ucapannya barusan otomatis membuat Joonmyeon membalikkan badannya. Joonmyeon terlihat menyeringai lebar kearah ku juga.

“Iya dia bibi yang selalu membersihkan rumah ini” ucap Joonmyeon pada namja yang bernama Tao itu. Tao menunjukkan smirknya padaku. Tatapan matanya seakan-akan menghinaku.

Aku menatap Joonmyeon tajam. Ia kemudian tersenyum sadis kearah ku.

Apa kau bilang pembantu ? Bibi ?

Jadi kalian berdua bersekongkol  ingin mengerjai ku hah ?!?

Ini rumah ku, aku tidak mungkin dijajah di rumah ku sendiri !

Kau pasti ingin mengajak ku bermain rumah-rumahan kan Jumon ? Tapi sayang aku ini sangat jago dalam menghancurkan permainan seperti ini. Lihat apa yang akan ku lakukan pada kalian berdua

 

 

-oOo-

 

[Normal Pov]

“Jadi kau ini pembantu di sini ? Tsk….” Ucap Tao pada Nayoung meremehkan. Nayoung tersenyum kearah Tao. Ia berusaha agar senyumannya itu terlihat setulus mungkin. Walaupun sebenarnya ia ingin membungkan mulut namja yang bernama Tao itu dengan pukulannya.

Nayoung pergi menjauh dari namja yang bernama Tao itu. Jika berlama-lama di dekat Tao ia sudah tak tau bagaiman caranya menahan diri. Tao memandang nayoung lekat hingga akhirnya Nayoung sudah tidak nampak lagi. Tao nampak sedang bergumam sendiri. Entah apa yang ia katakan.

“Tao kenapa kau tiba-tiba ke sini ?” Tao terkejut karena Joonmyeon datag tiba-tiba. Ia mengelus dadanya agar keterkejutannya itu berkurang. “Aku hanya ingin merasa bebas sebentar hyung” ucap Tao pada Joonmyeoon yang dib alas dengan desahan nafas yang berat oleh Joonmyeon. Mereka berdua diam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka nampak memadangi langit malam. Langit malam yang tidak menampakkan sinar bintang di sana.

Nayoung tiba-tiba datang dari arah belakang. Ia mencoba berjalan dengan berhati-hati. Ia mencoba agar tidak terdengar. Mungkin saja ia berbakat untuk menjadi ninja.

“HHHHUUUUAAAAAA…”

Nayoung menepuk pundak kedua namja itu. Ia mencoba untuk membuat kaget mereka berdua. Namun hal itu tidak berhasil di lakukan pada Joonmyeon. Wajahnya masih tetap datar. Hanya Tao yang sepertinya terkejut. Ia nampak mengelus-eluskan dadanya. Wajahnya masih nampak tegang.

“Kau itu ! Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung ha ? Kau mau membayar biaya ruma sakit ku ha ?” ucap Tao sedikit keras. Nayoung hanya tersenyum simpul. Ia tidak membalas perkataan Tao itu karena ia menganggap wajah Tao saat terkejut itu sangat lucu. Kemudian ia melihat kearah Joonmyeon. Nayoung pun langsung menggembungkan pipinya karena mendapat pelototan dari Joonmyeon.

“Makan malam sudah siap” ucap Nayoug lalu pergi meninggalkan ke dua namja itu. Tao dan Joonmyeon pun akhirnya pergi menuju meja makan.

 

“Hyung kenapa pembantu itu ikut makan bersama kita sih ? Kau terlalu baik hyung terhadap bibi ini” ucap Tao. Nayoung melotot begitu mendengar ucapan Tao. Ingin rasanya ia melayangkan garpu yang kini ada di genggaman tangannya. Joonmyeon hanya diam.

Saat Tao melihat makan malam yang ada di meja semua caci maki keluar dari mulutnya itu. “Hyung ini makanan apa ?” “Kenapa ada makanan yang bentuknya seperti ini sih ?” “Pembantu macam apa yang membuat makanan tidak layak dimakan seperti ini ?” dan yang paling mengesalkan bagi Nayoung adalah “Yaa! Kau bibi! Apa kau ini sungguh-sungguh bekerja atau tidak sih ? Bahkan memasak pun kau tak becus!” Tao berteriak pada Nayoung. Nayoung yang hanya berdiam diri kini sudah akan meledak.

 

PLETAK

 

Nayoung melempar Tao dengan sendok makan yang ia pegang.

“Akkkhhhh…” Tao meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit akibat lemparan strike Nayoung. “Tutup mulutmu itu atau ku jahit mulut mu agar kau diam” ucap Nayoung tajam. Kemudian suasana menjadi hening. Tao hanya memandangi makan malam yang ada di hadapannya. Perutnya sudah berbunyi karena lapar namun ia tidak ingin memakan makan malam yang kini ada di hadapannya.

Tao memperhatikan hyungnya yang terlihat sangat menikmati makanan yang ia makan. Tidak ada tanda-tanda keracunan akibat makanan buatan Nayoung. Perutnya sudah mulai sakit karena ia belum makan dari siang tadi. Ia mulai menyendok makanan yang ada di hadapanya. Dengan mata yang sengaja di pejamkan ia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Ia tidak ingin melihat bagaiman keadaannya nanti setelah memakan makanan itu. Nayoung dan Joonmyeon hanya melihat kelakuan Tao itu. Joonmyeon hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian melanjutkan makan. Sedangkan Nayoung tertawa kecil.

Tao membuka matanya, ia kembali menyendok makan malamnya. Tetapi kini ia tidak menutup matanya seperti tadi. Wajahnya terlihat bahagia karena makanan yang ia makan ternyata tidak beracun. Ia makan dengan lahap. Ternyata makanan yang di buat oleh Nayoung tidak seburuk penampilannya, itu yang ada dipikiran Tao.

“Hyung ternyata masakan bibi ini tidak seburuk rupanya” ucap Tao. Nayoung menggembungkan pipinya kesal. Namun ia sedikit senang karena ia bisa mengerti maksud Tao  mengatakan itu. Tao sebenarnya memuji masakan Nayoung.

“Hyung mungkin aku akan menginap di sini untuk beberapa hari” ucap Tao setelah mereka bertiga selesai makan. Nayoung sedikit terhenyak.

Sial…kenapa ia juga ingin tinggal di sini sih ? Hari-hari ku yang dulu damai sekarang menjadi hancur lebur karena kedatangan kedua pria menyebalkan ini….ucap Nayoung kesal dalam hati.

“Baiklah hanya beberapa hari…setelah itu kau harus kembali ke rumah mu” ucap Joonmyeon tenang. Nayoung terbatuk begitu mendengar ucapan Joonmyeon itu. Nayoung menatap Joonmyeon seperti menentang, namun Joonmyeon hanya menatap Nayoung datar. Nayoung tak mengerti jalan pikiran Joonmyeon itu.

“Tapi kau tidur di sofa saja” raut wajah Tao seketika itu berubah. Namun ia tidak memiliki pilihan lain.

“Aisshhh kenapa aku harus tidur di sofa sih” gumam Tao. Ini baru pertama kalinya ia tidur di sofa. Biasanya dia tidur di atas kasur mahal yang nyaman. Tapi kali ini ia harus tidur di sofa. Ini membuatnya tidak nyaman.

“Suara apa itu ?” gumam Tao. Ia mendengar suara aneh. Suara yang samar-samar di dengarnya. Ia mengambil ponselnya untuk melihat jam. Di ponselnya tertulis pukul 00.20 dan itu langsung membuat bulu kuduk Tao berdiri. Ia mulai berprasangka buruk. Ia menutupi wajahnya dengan selimut agar rasa takutnya itu sedikit berkurang namun hal itu malah membuatnya semakin takut.

“Anniii….jangan ganggu aku…kumohon” gumam Tao. Ia semakin ketakutan karena suara samar-samar itu belum hilang juga. Ia sudah hampir menangis karena terlalu takut. “Kumohon jangan ganggu aku. Aku hanya menumpang disini…jangan ganggu aku” namun suara itu semakin mendekat. Suara wanita yang semakin lama semakin mendekat. Bulu kuduknya semakin berdiri, pikirannya kacau, tubuhnya sudah bergetar, ia sudah tidak tahu apa yang arus dilakukan. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Mulutnya seperti terkunci, ia tidak sanggup berbicara. Air mata sudah hampir menyeruak dari pelupuk mata Tao. Namun ia mati-matian berusaha untuk menahannya. Dan suara itu kian mendekat, hingga terdengar jelas di telinganya. Kini ia melihat sosok aneh di tangga. Sosok berambut panjang yang tidak ada wajahnya.

“HHHHHHUUUUUUUAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Joonmyeon langsung bangun begitu mendengar suara teriakan yang sangat kencang itu. Ia segera berlari menuju luar kamarnya.

“HYUNNNNGGGGG !!!! TOLONG AKUUUUU !!!!”

Joonmyeon bergegas menuruni tangga. Namun baru saja menuruni setengah tangga, ia melihat Nayoung berdiri di tangga. Rambutnya yang panjang terurai. Ia juga melihat Tao masih berteriak minta tolong.  Joonmyeon kini mengerti alasan mengapa Tao berteriak histeris seperti itu. Joonmyeon memegang bahu Nayoung lalu mebalikkan badannya, ia tersenyum sesaat.

“Yaaaa….Tao bisakah kau tidak berisik” ucap Joonmyeon pada Tao. Ia menyalakan lampu. keadaan yang tadi gelap kini sudah membaik.

“Ehhhmmm…ada apa sih rebut-ribut begini ?” tanya Nayoung sambil mengusap-usap matanya. Matanya hanya setengah yang terbuka, dan sepertinya sudah siap untuk menutup lagi.

Tao hanya diam , ia masih terkejut dengan apa yang barusan ia alami. Ia bahkan tidak mengedipkan matnya. Otaknya tidak mampu berpikir seperti biasanya karena ia tadi ketakutan. Joonmyeon hanya menatap heran saudara sepupunya itu.

Nayoung sudah berhasil membuka seluruh matanya. Ia melihat wajah Tao yang nampak linglung. Nayoung kemudian menatap Joonmyeon untuk meminta penjelasan. “Kau ingat-ingat saja sendiri. Kebiasaan yang sungguh jelek” ucap Joonmyeon tajam. Nayoung menatap Joonmyen dengan tatapan penuh tanya. Bukannya ia baru saja bangun, tapi kenapa Joonmyeon malah menyuruhnya untuk mengingat apa yang baru saja terjadi ? Nayoung diam ia hanya menatap punggung Joonmyeon yang semakin menjauh kemudian beralih manatap wajah Tao yang masih linglung  itu.

 

 

-oOo-

“Akkkhhhh”

“Kenapa kau memukul kepala ku sih ?” Nayoug mendelikkan matanya kesal. Tao tersenyum senang, akhirnya ia bisa membalas perbuatan Nayoung semalam. Sebenarnya itu bukan sepenuhnya kesalahan Nayoung, karena ia saat itu ia dalam keadaan—tidak sadar. Jadi tidak sepenuhnya salah Nayoung.

“Dasar pria aneh” Nayoung beranjak dari tempatnya. Setelah beberapa menit duduk di sofa sambil memandangi halaman belakang  rumahnya. Dan Tao…Tao hanya menatapnya heran. Entah apa yang ada di pikiran gadis yang tepat ada di hadapannya.

“Hei bibi kau mau kemana ?” tanya Tao. “Bukan urusan mu” Nayoung menjulurkan lidahnya lalu menjulingkan matanya. Ia pergi menjauh dari Tao. Sebenarnya ia hanya rindu…rindu pada ayahnya.

Nayoung berjalan menuju kamarnya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Jemarinya mulai mengetik sebuah pesan dengan lihai.

 

To : Appa

Appa bogoshipeo !!!! Kenapa kau tega meninggalkan anak mu yang manis ini dengan malaikat kematian yang kejam sih ? Appa cepat pulang TT_TT aku pasti akan mati karena appa tidak pulang….Appa aku terpilih untuk mengikuti pertandingan karate, appa harus melihat ku berjuang, ok

Status : Sending

Nayoung menatap layar ponselnya, dahinya sedikit berkerut. Ia keluar dari kamarnya, menuju halaman belakang rumah. Ia duduk di ayunan sambil menatap langit biru yang nampak indah.

DRRRTTT

DRRRTTT

Nayoung berhenti dari lamunannya begitu mendengar ponselnya bergetar. Ternyata ada sebuah pesan. Ia membuka pesan itu.

 

From : Appa

Malaikat kecil ku, appa juga merindukan mu….Maaf appa di sini sangat sibuk, jadi tidak sempat mengabari mu. Bagaimana keadaan mu ? Malaikat kematian yang kejam ? Bersikaplah yang baik pada Joonmyeon, ia sudah sangat baik mau menjaga mu. Appa pasti akan melihat mu bertanding, kau harus bertanding dengan keren, ok. Semangat !

Status : Reading

 

Wajah Nayoung nampak sumringah, ia tersenyum setelah membaca pesan dari appanya.

“Tsk selain sikapmu yang liar kau juga ternyata gila” ucap Joonmyeon datar. Nayoung terkejut karena Joonmyeon tiba-tiba saja datang dari arah belakang. Nayoung hanya menarik nafas panjang. Ia tidak ingin darahnya langsung naik ke ubun-ubun. Nayoung menatap Joonmyeon dengan menaikkan salah satu alisnya seolah mengatakan ‘apa masalahmu’.

Joonmyeon menatap Nayoung dengan tatapan menusuknya. Namun bukan Nayoung namanya jika ia kalah dengan tatapan yang dilempar oleh Joonmyeon itu, Nayoung membalas tatapan Joonmyeon dengan tatapan galaknya namun seteah sepuluh detik mereka saling bersaing menatap, Nayoung mulai merasakan matanya sakit. Dengan cepat ia menjulingkan matanya dan munjulurkan lidahnya. Dan dengan segera juga ia membalikkan tubuhnya kemudian bersiap mengambil langkah seribu.

Namun saat baru saja Nayoung mengambil satu langkah panjang, ia terpeleset dan….

“OMO !! Apa yang kalian lakukan pagi-pagi begini ?!?”

 

 

-To Be Continue-

 

Gamsahamnida *deep bow* jangan lupa komentarnya ya chingu ^^

14 thoughts on “Be My Love (Chapter 3)

  1. Jeenng jjjeng jeng jeng jeng *backsound musik engga jelas*
    HCV_1 mau nyampein pengumuman nih
    pengumuman penting ! eh, engga penting sih *senyum evil kyu*

    author mau nyampein kalo author HCV_1 mungkin tidak akan bisa membuat ff untuk sementara waktu karena suatu kesibukan *sok sibuk* alias hiatus
    sebenernya author banyak tugas dan musti rajin2 latihan karena sebentar lagi akan menghadapi suatu kejuaraan *alay* bukan kejuaraan sih cuma pertandingan olahraga doang , tapi tetep musti latihan yang giat dan belajar yang giat karena mungkin author bakalan ketinggalan pelajaran dan itu sangat tidak enak
    tapi komen2 kalian author bales kok satu-satu😀

    doain aja semoga engga mengecewakan, supaya author bisa bikin ff lain dengan lebih semangat mungkin saking semangatnya be my love ini bisa author bikin jadi 100chapter *kemungkinan yang mungkin mustahil dan juga fana dan kebohongan yang sangat tidak dapat dipercaya kebenarannya dan asalusulnya* #BingungBacanya? #AuthorJuga *ditimpuk Tao pake tongkat wushunya*
    ok sekian pemberitahuan author

    Dengan Hormat dan Cinta untuk para good readers (not siders)

    HCV_1

    oh iya kalian udah baca kan ? reviewnya ya. ok sip gamsahamnida~^^
    *menghilang di tengah derasnya hujan*kumat*

  2. Thor napa nayoung diem di tindes tao (?) Ingin bgt ngmong ‘gua bukan pembantu woyyy’ lupakan… di tunggu lanjutannya penasaran junmyoon ama nayoung dalam posisi apa (?) ^^

  3. WAH..akhirnya lanjutannya keluar😀
    Jumon kenapa gak bs jd malaikat asli gitu sbntr aja? Malah jd malaikat kematian ._. Aku sk crita ini eonn, soalnya kl baca ff Suho, pasti Suho itu baik lalu apalah..Baru nemuin Suho jd malaikat kematian:mrgreen:
    Next~

  4. TBC??apa yg terjadi??keknya nayoung kepeleset trus nimpa joomyeon
    hahaha penasaran ma kisah joonyong couple
    nextnya ditunggu thor
    #HWAITING!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s