Our Destiny (Chapter 7)

our destiny71-vert

Title : Our Destiny | Author : HCV_2

Main cast : Park Ji Eun(OC) Oh Sehun | Other cast : Kim Jong in, Luhan, Shin Taera (OC)

Genre : Romance, sad | Length : Chaptered | Rating : T

 

WARNING!! THIS NOT FOR SILENT READERS!!

 

Annyeong!!!!! I wanna go back I wanna go back *nyanyi bareng Tao* kekekekeke

Apa kabar teman-teman semua? Semoga semuanya dlm keadaan yg selalu baik yo’_’)/ hohohoho Author gila dan nista ini akhirnya datang dengan membawa chapter ke-7 dari fanfic Our Destiny huahahahahahahaha *terbahak  *plak *sinting lu thor*

Sebelumnya author mau meminta maaf ke para readerdeul sekalian karna ngupdatenya lama bgt *deep deep bow* Sebenernya fanfic ini uda jd lama sih cuman masa pembenahannya yg agak lama—atau bisa dibilang lama bgt— hohoho tapi yg penting uda diupdate kan? *kedip-kedip*

Oya author jg mau minta maaf karna chapter ini author bwt kepanjangan ;_; Serius deh.. padahal pas diawal ide author seret bgt. Tapi eh pas dr tengah kebelakang idenya malah melebihi kapasitas (•̯͡.•̯͡) semoga aja nggak ngebosenin yah critanya ^^

 

Yups sebelumnya author ingin mengingatkan kalau kalian DILARANG MENJADI SILENT READERS!!! Dan yang paling penting yaitu wordpress ini TIDAK MENERIMA PLAGIATOR a.k.a TUKANG JIPLAK!! Kalian pasti tahu kan tentang undang-undang perlindungan hak cipta? Bagi yang belum tahu mending baca buku UUD dulu hohohoho. Okelah ya dari pada makin banyak cing cong ni authornya mending kita langsung aja keceeeeerrriittttaaa.

 

Good readers? Enjoy the story^^

Silent readers? Go to hell!!!!!

 

“Se..Sehunnie..kau se-sedang apa di-disini?”

“Jadi kau.. ternyata kau dalang dibalik ini semua?!”

“Se-sehunnie ini tidak seperti yang kau lihat. Kau sal—“

“Shin Taera kau sudah melewati batasmu..”

 

Chapter 7

 

“Sehunnie..kau salah paham..“ tandas Taera sambil menggoyangkan kedua tangannya didepan Sehun.

Sehun mendengus geli sambil memalingkan wajahnya, “Salah paham?! Kau pikir aku tuli eoh? Aku sudah mendengar semuanya?! JELAS! Dengan telingaku sendiri!” ucap Sehun tegas sambil menatap mata gugup Taera tajam.

“Taera’ah aku tidak percaya kau bertindak sejauh ini. Aku tau kau tidak suka melihat Jieun bersamaku, tapi tidak seharusnya kau melakukannya dengan cara selicik ini. Mengancam Jieun dengan membawa-bawa aku dan Luhan hyung. Kau pikir kau siapa?!” bentak Sehun keras hingga membuat kedua gadis didepannya terkesiap. Jieun terhenyak, ini pertama kalinya ia melihat Sehun semarah itu. Kemarahannya bahkan lebih parah dari pada ketika ia melihat Jongin menyatakan perasaannya pada Jieun.

“Tapi aku hanya ingin meluruskan semuanya Sehunnie. Yang aku katakan itu benar kan? Karna Jieun, kau dan Luhan oppa bertengkar. Aku hanya ingin Jieun tau akan hal itu. Aku ingin dia sadar bahwa tindakannya salah. Kalau dia tau kau menyukainya seharusnya dia tidak lagi mendekati Luhan oppa”

Sehun menyeringai geli, “Cih.. Benarkah seperti itu? Benarkah itu tujuanmu?” tanya Sehun pelan yang dijawab anggukan cepat dari Taera.

“Kau pikir aku bodoh Shin Taera?! Sudah kubilangkan kalau aku sudah mendnegar SEMUANYA! Bukan untuk meluruskan semuanya, aku lebih menangkap kau ingin menyingkirkan Jieun untuk selamanya”

“Dengar Shin Taera.. selama ini mungkin aku sudah bersabar padamu. Aku maklumi kalau kau sering menjelekkan Jieun didepanku karna aku tau kau menyukaiku. Aku bersabar kalau kau terus menempeliku hingga membuatku sulit bersama Jieun. Tapi kali ini kau sudah kelewatan. Aku muak!”

Mendapat bentakkan dari orang yang begitu ia cintai, seketika itu airmata Taera terjatuh. Tubuhnya gemetar dan airmatanya mengalir deras, “Sehunnie..” ucap Taera disela isakkannya.

“Mulai sekarang menjauhlah. Jangan membuatku semakin tidak menyukaimu Shin Taera” ucap Sehun kali ini dengan nada pelan. Pelan tapi berhasil menohok dada Taera. Ia menggelengkan kepalanya dengan airmata yang mengalir deras. Dengan cepat ia masuk kemobilnya kemudian pergi dari tempat itu. Meninggalkan Sehun yang kini menatap mata Jieun lurus-lurus. Sementara Jieun terus berusaha menghindar dari tatapan itu.

Sehun menghela nafas berat kemudian berjalan mendekati Jieun. Tapi sayang gadis itu malah ikut berjalan mundur menghindari Sehun. Dan ketika Sehun menghentikan langkahnya gadis itu pun ikut berhenti.

“Hey bodoh! Jadi karna Taera seharian ini kau menjauhiku?! Kenapa kau sebodoh ini? Kenapa mau saja menuruti kata-kata gadis seperti dia?! Ini seperti bukan dirimu Park Jieun”

“Iya bisa dibilang begitu tapi bisa dibilang juga tidak” ketus Jieun sambil masih berusaha menghindari tatapan Sehun.

Sehun mengernyit, “Apa maksutmu?”

“Kau benar aku bukanlah gadis bodoh yang akan dengan mudah mengikuti kata-kata gadis semacam Shin Taera. Tapi setelah pemikiran panjang akhirnya otakku pun membenarkan apa yang dia katakan. Jadi ini bukan sepenuhnya karna ulah Taera. Tapi ini juga adalah kemauanku” ucap Jieun berusaha sesantai mungkin walau hatinya mulai mengerang kesakitan lagi. Ia masih ingin melanjutkan rencananya lagi walau ia tau kalau dirinya pasti akan menyesal. Hatinya sudah ingin menghentikannya tapi entah kenapa otaknya berpikir untuk meneruskannya.

“Jadi kau ingin menjauhiku?” tanya Sehun dengan wajah tak percaya.

“Itu yang aku pikirkan” jawab Jieun enteng walau sejujurnya ia berusaha menahan airmatanya. Diluar ia terlihat tegas dengan keputusannya padahal didalam hatinya ia dengan lantang meneriakkan bahwa ia tak sanggup menjauh lagi dari namja itu.

“Kau tidak sedang sakit kan Jieunnie?” ucap Sehun sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Jieun. Sehun pikir Jieun sedang sakit hingga bicara diluar kesadaran. Mendadak gadis itu membeku akibat sentuhan tangan Sehun. Jantungnya bergemuruh dan airmatanya semakin memberontak keluar. Dengan sigap ia menepis tangan Sehun dari dahinya yang membuat Sehun terkesiap.

“Aku tidak apa-apa. Sudah sana pulanglah” ucap Jieun ketus sambil berjalan masuk kegedung apartemennya. Mata Sehun membulat ketika melihat Jieun berlalu begitu saja meninggalkannya. Dengan cepat ia melangkahkan kaki menyusul gadis itu.

“JIEUNNIE! Tunggu!” pekik Sehun sambil terus berusaha menyamakan langkah dengan gadis berambut panjang itu. Tak menggubris panggilan Sehun, Jieun terus berjalan cepat menuju lift sambil terus mengusap airmata yang jatuh dipipinya. Ia tidak mau Sehun melihatnya menangis. Dan beruntungnya lagi, pintu lift yang dinaiki Jieun tertutup saat Sehun sampai beberapa langkah lagi.

“Sial!” umpat Sehun sambil memukul pintu lift didepannya. Tapi tak mau putus asa, Sehun segera menuju lift disebelah kirinya lalu melanjutkan aksinya mengejar Jieun. Tepat setelah pintu lift terbuka, Sehun menghambur dan mempercepat langkah kakinya mengejar Jieun yang tak jauh dari jangkauannya. Setelah berbelok kekoridor selanjutnya, 4 blok lagi akan sampai kerumah Jieun. Semakin dekat sampai akhirnya Sehun berhasil meraih tangan Jieun saat gadis itu baru saja memasukan satu nomor passcode rumahnya.

Jieun hanya diam sambil menetralkan nafasnya, sama sekali tidak menoleh kearah Sehun. Sedangkan Sehun menatap Jieun lekat dengan nafas terengah. Suasana hening seketika, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka mullut. Hanya nafas memburu mereka yang terdengar seperti musik pengiring.

“Kenapa? Kenapa kau ingin menjauhiku?” tanya Sehun akhirnya setelah beberapa detik. Sementara Jieun masih diam dan tak menjawab. Gadis itu hanya masih berusaha keras untuk menahan tangisannya. Sehun pun menarik tangan Jieun agar mereka berdiri berhadapan.

“Karna kau tidak menyukaiku?” tanya Sehun pelan dan terdengar ragu. Persaan gugup seketika menyelimutinya. Tentu saja.. pertanyaannya terdengar menjurus. Bagaimana kalau ternyata Jieun mengiyakan pertanyaannya?

“……………………….” Tidak ada jawaban. Jieun hanya diam sambil menunduk. Sehun mulai tidak sabar, ia tarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

“Apa aku berbuat salah padamu? Katakan saja.. agar aku bisa memperbaikinya” Sehun memegang kedua pundak Jieun sambil berusaha menatap wajah Jieun yang terus menunduk.

Jieun mendongak, “Sudah kubilangkan.. kalau kau tidak salah apapun” jawab Jieun datar sambil menyingkirkan tangan Sehun dari pundaknya.

Lagi-lagi Sehun terkesiap kemudian menghela nafas berat, “Lalu kenapa?! Ada apa denganmu?! Kenapa kau ingin menjauhiku?” nada Sehun meninggi, ia mulai kehilangan kesabarannya.

“Karna aku tidak ingin berurusan denganmu lagi! Sejak awal kau sudah menyusahkanku! Dan sekarang aku ingin berhenti hidup sulit!” ucap Jieun dengan tatapan tajam tapi dengan mata yang berkaca-kaca. Suara gadis itu terdengar bergetar tapi nada marah terdengar jelas disana. Sehun tersentak, jawaban gadis itu membuatnya tertegun. Apalagi melihat ekspresi wajah Jieun yang sulit ia mengerti. Kesedihan dan kemarahan tersirat sekaligus.

“Sejak pertama kali bertemu kau bahkan sudah menyusahkanku Oh Sehun! Jadi berhenti membawa lebih banyak masalah dalam hidupku dan pergilah!” bentak Jieun dengan airmata yang mengalir deras.

“Kau gila Park Jieun” ucap Sehun tak percaya dengan apa yang didengarnya. Gadis itu meminta Sehun pergi?! Apa dia tidak salah dengar?!

“Kau yang gila! Kau pikir kau hebat eoh?! Sok menjadi pahlawan dengan berkorban seperti ini?”

Mata Sehun membulat dengan alis terangkat. Jadi ini.. karna masalah itu lagi? “Apa? Jadi karna masalah itu? Kau masih mempermasalahkannya?”

“Tentu saja! Kau tau hidupku jadi tidak tenang karna itu?! Berada didekatmu membuatku terus dihantui rasa bersalah. Kurasa Taera benar, aku seperti parasit tak tau malu yang terus merugikan inangnya…” Jieun menghentikan kalimatnya karna isakan yang semakin menjadi. “…Aku tidak ingin membuat hidupmu semakin menderita. Kau bahkan bertengkar dengan Luhan oppa hanya karna diriku. Aku tidak ingin terlalu jauh. Aku tidak mau terus dihantui rasa bersalah Sehun’ah. Karna itu aku mohon jauhi aku” nada bicara gadis itu kini terdengar lirih. Airmata masih bersemangat membasahi pipi putih gadis itu.

Sehun menghela nafas, “Sudah kubilang jangan dipikirkan! Berapa kali aku sudah mengatakannya padamu kalau aku tidak apa-apa. Aku ikhlas Jieunnie.. baik aku yang dulu atau pun aku yang sekarang tetaplah sama! Kami hanya berharap kau selalu bahagia. Aku tidak peduli penyakit atau apa, karna yang terpenting bagiku adalah.. dirimu..”

“Sudahlah Sehun’ah pergilah” ucap Jieun lemah sembari membalikkan badan. Tak sanggup berhadapan dengan percakapan seperti ini lebih lama. Tapi dengan sigap Sehun menarik tangan gadis itu hingga membuat mereka kembali berhadapan.

“Dengarkan aku! Kalau kau pikir manjauh seperti ini akan menyelesaikan masalah. Kau salah besar! Kau menjauh malah semakin membuatku gila Jieunnie! Kau menjauhiku bukan berarti penyakitku akan pergi begitu saja kan? Maka dari itu, jika kau ingin membuatku bahagia tetaplah disisiku Jieunnie..” Sehun menangkupkan kedua tangannya dipipi Jieun.

“Hiks.. Tapi—“

“Kau bilang kau tidak mau dihantui rasa bersalah kan? Kau tidak ingin membuat hidupku semakin berantakan kan? Kau begitu jangan pergi. Karna jika kau pergi kau malah membuat hidupku makin berantakan. Kau akan semakin membuatku kecewa jika sudah memberiku penyakit dan sekarang kau malah meninggalkanku begitu saja. Bukankah itu lebih tidak bertanggung jawab? Bukannya kalau seperti itu kau akan semakin merasa bersalah?” ucap Sehun sambil menatap mata Jieun lekat. Jieun hanya diam, dalam hati dan pikirannya membanarkan ucapan Sehun.

“Aku butuh kau Jieunnie.. disaat-saat seperti ini kaulah yang paling aku butuhkan. Aku butuh kau untuk menghadapi penyakit ini. Bantu aku untuk bertahan.. agar aku bisa lebih lama bersamamu. Cukup dengan tersenyum dan terus disisiku, akan kuanggap hutang budimu lunas dan kau tidak akan perlu merasa bersalah lagi..”

Jieun mengangguk pelan, dan airmatanya semakin mengalir deras. Sehun tersenyum lega sambil mengusap airmata yang membasahi wajah gadis manisnya. Beberapa detik mereka tak bicara, hanya isakan Jieun yang terdengar menggema dikoridor yang lengang itu. Sampai akhirnya ucapan Sehun membuat Jieun mengkerutkan dahi.

“Jadi itu berarti.. kau.. sudah menerimaku?”

Jieun mengernyit, “Maksutnya?” ucap Jieun dengan tatapan innocentnya kearah Sehun.

“Bukankah kau sudah setuju untuk tetap disisiku? Itu berarti kau sudah menjadi milikku kan?” tanya Sehun dengan nada nakal.

Kedua alis Jieun terangkat dan kegugupan menyanderanya. Wajahnya merona merah saat menyadari bahwa ucapan Sehun benar. “Kurasa.. begitu..” jawab Jieun salah tingkah sembari memalingkan pandangannya dari Sehun.

Sehun tersenyum senang dan wajahnya berbinar, “Waah itu berarti aku boleh memanggilmu dengan panggilan sayang kan?” tanya Sehun sambil mendekatkan wajahnya kearah Jieun. Ia mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum sangat manis. Disitulah Jieun kehilangan seluruh tenaganya, kakinya melemas saat menyadari betapa sempurnanya paras namja dihadapannya. Jantungnya bergemuruh dan darahnya mendidih. Berada sedekat ini dengan Sehun membuat wajahnya merah padam karna malu.

“Bagaima? Boleh tidak?” tanya Sehun lagi saat sekian lama tak mendapat jawaban. Jieun tersentak dan akhirnya menganggukan kepala. Sehun tersenyum lebar lalu menghela nafas pelan. Jieun mengernyit melihat Sehun menghela nafas. Tapi mata gadis itu pun membulat ketika Sehun semakin mendekatkan wajahnya. Menghapus jarak diantara mereka hingga bisa merasakan nafas masing-masing. Sehun tatap mata takut-takut Jieun lurus-lurus. Gadis itu ingin menjauh.. tapi seolah ada yang menahan kakinya, bahkan untuk bergeser pun dia tidak bisa. Jieun memejamkan matanya erat saat sadar akan tindakan Sehun. Sedetik Sehun tersenyum kemudian melanjutkan aksinya.

Wajah keduanya pun memerah ketika dengan lembut Sehun memberi sapuan hangatnya pada bibir merah muda Jieun. Mengecupnya lembut penuh perasaan. Awalnya Jieun hanya diam, tapi seolah terbuai akan sentuhan hangat Sehun dibibirnya akhirnya gadis itupun membalas. Saling mengutarakan perasaan cinta masing-masing melalui ciuman tersebut. Kecupan-kecupan kecil itu kemudian beranjak menjadi lumatan-lumatan kecil. Setiap detiknya Sehun berusaha meminta lebih. Jieun meremas pundak Sehun ketika namja itu semakin memperdalam tautannya. Semakin memanas dan semakin menuntut lebih.

“Aku mencintaimu Park Jieun..” ucap Sehun sambil mengatur kembali nafasnya yang terengah. Wajah keduanya berwarna merah padam. Jieun tersenyum kemudian memeluk leher Sehun dan menyandarkan dagunya di pundak lebar namja itu. Sehun tersenyum lalu mengelus rambut panjang Jieun dengan lembut.

“Aku juga mencintaimu..Oh Sehun..”

 

 

¶¶¶¶¶

 

Braaak

 

Jongin membanting pintu kamarnya keras. Beberapa pelayan yang mengantar kepulangannya terkesiap kaget. Wajah Jongin terlihat kacau, pakaian formalnya bahkan sudah tidak serapi sebelumnya. Emosi sedang membelenggu namja itu, siratan kemarahan dan kekecewaan terlihat jelas dimatanya. Ia terduduk ditepi ranjangnya sambil menunduk.

“TINGGALKAN AKU SENDIRIAN!!!” teriak Jongin keras memberi perintah untuk para pelayan yang ia yakin masih menunggunya dibalik pintu kamarnya yang tertutup.

“Tapi tuan.. tuan harus makan malam dulu”

“AKU TIDAK NAFSU MAKAN! SUDAH SANA PERGI!!”

Jongin pijat keningnya yang terasa pening. Emosi itu memuncak akibat perasaannya yang berantakan. Ruang dihatinya kini sudah seperti kapal pecah, semua kacau dan bercampur jadi satu. Hatinya bukan lagi retak tapi sudah hancur berkeping-keping. Sakit hati.. itulah yang ia rasakan saat ini. Setelah melihat gadis yang ia cintai berpelukan bahkan berciuman dengan namja lain didepan matanya. Semua hancur.. semua harapan yang pernah ada dalam hatinya seketika menguap. Walau ia tau hanya harapan semu tapi tidak Jongin pungkiri dia sempat menaruh harapan jika Jieun tiba-tiba berubah pikiran dan jatuh cinta padanya. Tapi memang terlalu mustahil.. karna Jieun kini sudah benar-benar memilih Sehun.

 

[Flashback]

 

Jongin mengendarai motornya dengan senyum yang mengembang. Sangat senang karna akhirnya ia terbebas dari rapat membosankan yang sama sekali tidak ia tangkap apa isinya. Tentu saja.. selama rapat yang berlangsung hampir satu setengah jam itu yang ada dalam pikiran Jongin hanya bagaimana bisa keluar dari sana secepatnya. Ia ingin bebas, dia bosan karna ia sama sekali tidak mengerti apa yang orang-orang berjas itu bahas. Apalagi mengingat bagaimana kondisi Jieun ketika ia meninggalkan gadis itu membuat Jongin agak khawatir.

Jongin melaju dengan motor sport hitamnya menuju apartemen Jieun. Tapi ketika beberapa meter lagi untuk sampai kerumah sang pujaan hati, Jongin menghentikan motornya didepan sebuah toko bunga. Yang jelas itu bukan toko bunga bibi Jieun, karna toko bunga itu berlawanan arah dengan rumah Jieun. Setelah sepersekian detik berpikir mungkin tidak ada salahnya sesekali membawakan gadis itu sebuah buket bunga yang cantik.

Setelah mendapatkan bunga yang diinginkan, Jongin melanjutkan perjalanannya menuju rumah Jieun. Tapi tepat ketika sampai diambang halaman depan apartemen Jieun, Jongin menghentikan laju motornya ketika melihat pemandangan aneh diseberang sana. Sekitar 20 meter dari tempatnya menghentikan motor, ada 2 orang gadis dan seorang namja yang nampak tengah terlibat pembicaraan serius. Ia sedikit memajukan motornya agar bisa mendengar lebih jelas. Dan dengan sedikit bersembunyi Jongin mendengar samar-samar permbicaraan mereka. Apalagi ketika sesekali namja itu membentak gadis didepannya membuat Jongin makin penasaran.

“Ada dengan mereka?” gumam Jongin pada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan ketiga orang itu dengan seksama. Wajah sang namja terlihat penuh kemarahan.

Sampai akhirnya gadis yang dibentak namja itu pergi dengan berlinang airmata. Kini Jongin melihat dua orang yang tersisa nampak sedang berbincang. Tak cukup lama karna akhirnya sang gadis berlalu meninggalkan namja itu sendirian. Namja itu ternyata tak menyerah begitu saja, dia berlari mengejar sang gadis. Entah apa yang merasukinya hingga berubah menjadi penguntit, Jongin mengikuti namja itu dari belakang. Karna kedua lift sudah terpakai, Jongin terpaksa menunggu salah satunya. Sampai akhirnya kini dia sampai dilantai kemana sepasang manusia yang diikutinya itu pergi. Jongin berjalan pelan dan berhenti diujung koridor. Dari sana ia lihat sang namja dan sang gadis itu nampak berbicara serius. Dan telinganya pun dapat mendengar percakapan mereka dengan baik karna suasana koridor memang sedang lengang.

Jongin saksikan setiap pembicaraan yang berlangsung. Bahkan sesekali ia ingin sekali menghampiri namja itu dan menonjok wajahnya ketika ia dengar namja itu membentak sang gadis. Semakin lama pembicaraan mereka terdengar melembut. Dan situlah Jongin mendapatkan pukulan tepat dihatinya. Ketika ia dengar gadis itu kini sudah menerima sang namja secara resmi. Bahkan ia menginjinkan namja itu memanggilnya sayang? Oh Tuhan! Kaki Jongin seketika melemas.

“Jieunnie..” gumamnya pelan sambil mengepalkan tangannya. Dan nafasnya pun tercekat ketika melihat sepasang sejoli itu berciuman. Tanpa sadar bunga ditangan Jongin terjatuh. Dengan sekuat tenaga ia menahan airmatanya. Ia pun berbalik dan meninggalkan bunga itu disana. Sebuah buket bunga mawar putih untuk Jieun.

 

[Flashback end]

 

“Haaah..” Jongin merebahkan dirinya diatas King bednya. Menatap langit-langit kamarnya lekat. Seketika sebuah memori tentang masa kecilnya bersama Jieun terputar diotaknya. Dan kesedihan itu memuncak, tanpa sadar ia menangis dalam diam.

“Tidak bisakah berubah seperti dulu? Bahagia tanpa rasa seperti ini?” gumam Jongin lirih. Mengingat bagaimana bahagianya ketika rasa cinta ini belum ada membuat Jongin ingin kembali kemasa lalu. Bisakah ia memutar waktu? Tangan Jongin kemudian merogoh saku jasnya. Ia keluarkan sebuah kalung cantik dari dalam sana. Ia gantungkan kalung berinisial JJ itu ditangannya.

“Apa hanya sampai disini? Apa sekarang waktunya bagiku untuk menyerah Jieunnie?”

 

 

¶¶¶¶¶

 

Di pagi yang cerah seperti biasa Jieun berangkat kesekolah bersama seorang namja. Tapi kali ini namja yang menjemputnya bukanlah namja yang biasanya, melainkan adalah seseorang yang baru saja resmi menjadi kekasihnya. Sehun mengendarai mobilnya dengan wajah yang berbinar. Ini pertama kalinya wajahnya terlihat secerah itu. Jieun juga nampak menikmati perjalanan pagi itu. Walau hatinya masih sedikit gelisah akibat Jongin yang tumben sekali tidak menjemputnya. Jieun sudah berusaha menghubungi sahabatnya itu tapi sejak semalam ponselnya tidak bisa dihubungi. Jujur, gadis itu cemas karna takut terjadi sesuatu pada sahabatnya, tapi ia berusaha untuk tetap tenang karna takut Sehun merasa tidak nyaman.

“Chagiya? Bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita berkunjung ke kuil?” tanya Sehun dengan pandangan tetap tertuju pada jalanan didepannya.

Jieun mengangguk, “Baiklah..” sahut Jieun pelan.

“Aku penasaran bagaimana wajahku saat menjadi biksu”

“Pasti aneh..hihihi” cibir Jieun sambil terkekeh membayangkan tampang datar namja itu dengan kepala botaknya.

“Hey mana mungkin, aku tau dengan gaya rambut apapun wajahku akan tetap terlihat tampan” ucap Sehun sambil tersenyum bangga.

“Baik-baik aku percaya..” ucap Jieun setengah hati mendengar kepercayaan diri kekasihnya itu. “Oya chagiya? Bagaimana dengan Luhan oppa? Apa kalian sudah berbaikan?” tanya Jieun sambil menatap wajah Sehun antusias.

Sehun mengangguk, “Sudah.. semalam aku sudah meminta maaf padanya, dan dia dengan senang hati memaafkanku”

“Oh baguslah, untung saja Luhan oppa itu kakaknya yang baik. Memangnya kau..” ucap Jieun sambil mengembalikan posisi duduknya kearah depan.

Sehun seketika menoleh, “Hey hey hey jadi maksutmu aku ini bukan adik yang baik?!” ucap Sehun sambil mengacak-acak rambut Jieun.

“Ya hentikan! Iya iya kau juga adik yang baik chagiya.. “ tandas Jieun sambil menghentikan aksi jahil kekasihnya.

“Nah memang begitu seharusnya” sahut Sehun sambil terkekeh pelan.

Mobil mereka pun berhenti ditempat biasa Sehun memarkirkan mobilnya. Dan dahi Jieun mengkerut ketika ia lihat motor Jongin belum ada ditempatnya. Jieun menghela nafas lalu melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Pukul 7 kurang 10 menit, tidak biasanya Jongin belum datang.

“Chagiya?” panggil Sehun yang kini sudah berdiri disebelah Jieun. Namja itu sudah membukakan pintu tetapi Jieun sama sekali tidak berkutik dari tempat duduknya. Sontak gadis itu tersentak ketika mendapati kekasihnya sudah beridri disebelahnya kemudian segera turun.

“Ada apa? Sepertinya ada yang sedang kau pikirkan?” tanya Sehun seraya menutup kembali pintu mobilnya.

“Ah tidak chagiya. Tidak ada apa-apa. Ayo kekelas!” ajak Jieun sembari menarik tangan kekasihnya. Walau curiga tetapi Sehun berusaha berpikir positif, sambil tersenyum ia mengikuti Jieun berjalan kekelas. Mereka pun melenggang kekelas dengan langkah ringan. Beberapa pasang mata yang melihat mereka dikoridor terdengar berbisik. Sebagaian besar adalah siswi-siswi yang iri melihat kemesraan dua sejoli itu. Sampai akhirnya langkah mereka terhenti ketika seorang gadis berparas cantik datang menghampiri mereka. Wajah gadis itu nampak menyesal dan ia terlihat takut menatap mata Jieun maupun Sehun.

“Ada apa lagi?” tanya Sehun ketus dengan nada datar.

“Aku ingin bicara denganmu Sehunnie.. bisakah?” sahut gadis itu pelan dengan ekspresi memelas.

Sehun mendengus geli, “Maaf nona Shin Taera.. kali ini aku sedang sibuk dnegan kekasihku. Jadi lain kali saja” ucap Sehun santai sambil mengajak Jieun berlalu meninggalkan Taera yang seketika tertegun. Matanya membulat dan ia terpaku ditempatnya.

“Kekasih?” tanyanya pada diri sendiri. Seketika rasa perih menjalar dihatinya. Dadanya terasa sesak dan airmata sudah siap membasahi pipi putihnya. Ia rasa kini ia mengerti dengan pepatah ‘Senjata makan tuan’. Bukannya membuat Sehun semakin jauh dari Jieun sekarang renananya itu malah membuat Sehun membencinya. Dengan isakan yang semakin menjadi Taera berbalik kemudian berlari ketaman belakang. Jongin yang baru saja datang dan tidak sengaja melihat kejadian itu pun mengikuti gadis berambut kemerahan itu.

Ditaman belakang, dibawah sebuah pohon rindang dipojok taman didekat kolam ikan. Taera duduk sambil membenamkan kepalanya pada kedua lututnya yang tertekuk. Ia menangis terisak dan tubuhnya bergetar. Gadis itu menangis tanpa menyadari dimana letak kesedihannya. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Ia tidak mengerti, apakah ia menangis karna menyesali perbuatannya atau malah karna kesal pada Jieun yang sudah berhasil merebut Sehun? Disisi lain, hatinya marah pada dirinya sendiri karna akibat perbuatannya sendiri kini Sehun membencinya. Tapi disisi lain, hatinya juga menyalahkan Jieun yang sudah merebut seseorang yang begitu dicintainya.

“Ini..”

Seketika suara berat seorang namja menghentikan isakannya. Taera mengangkat wajahnya dan mengernyit ketika melihat Jongin berdiri didepannya sambil menyodorkan sebuah saputangan. Namja itu tersenyum sambil mendorong tangannya untuk mempertegas tawarannya. Tapi Taera hanya diam sambil memalingkan wajahnya. Menyadari tawarannya tidak diterima Jongin menghela nafas lalu duduk disebelah gadis itu.

“Hey kau yakin tidak mau menerima tawaranku? Kau sedang menjadi bahan pembicaraan karna menangis seperti anak kecil sepagi ini” ucap Jongin sambil sekali lagi menyodorkan saputangannya. Mendengar ucapan Jongin, dengan segera Taera menerawang memperhatikan sekelilingnya. Dan benar saja, banyak murid disekitar taman itu yang tengah menatapnya risih. Gadis itu lalu membuang muka, kemudian menerima saputangan Jongin.

Jongin tersenyum menang, “Pagi-pagi sudah menangis, sedang ada masalah?” tanya Jongin mencoba akrab. Sebenarnya ia tau benar apa sebab gadis itu menangis, mengingat bagaimana dirinya juga merasakan perasaan sakit yang sama. Bukankah ia dan gadis itu sama-sama korban cinta yang bertepuk sebelah tangan?

“Bukan urusanmu” sahut Taera ketus sambil membersihkan sisa airmata diwajahnya.

Jongin mengangguk, “Baiklah kalau kau tidak mau cerita..” ucapnya seraya menghela nafas ringan. “Ohya, kudengar kau yang sudah mengancam Jieun agar menjauhi Sehun?” ucap Jongin enteng yang sukses membuat lawan bicaranya terdiam. Seketika Taera menoleh dan menatap Jongin dengan tatapan yang menuntut penjelasan.

“Kau mau tau dari mana aku mengetahuinya? Karna aku juga ada disana. Semalam saat aku ingin mengunjungi Jieun, aku melihat kau, pangeranmu dan Jieun sedang terlibat pembicaraan didepan apartemen Jieun. Disitulah aku mengetahuinya..”

“Jadi kau menguping?”

Jongin menaikan kedua bahunya, “Bisa dibilang begitu”

“Lalu sekarang apa? Jika memang aku yang mengancam Jieun untuk menjauhi Sehun kau mau apa? Kau mau menyalahkanku juga?! Mau membentakku sama seperti Sehun? Iya?!” ucap Taera tiba-tiba terbawa emosi. Ia tatap Jongin dengan tatapan menantang, tapi saat melihat Jongin malah tertawa ia pun mengernyit.

“Kenapa tertawa?” tanya gadis itu dengan ekspresi wajah bingung.

“Kau lucu Shin Taera. Kenapa kau berpikir aku akan membentakmu seperti Sehun? Kau lupa kalau aku juga menyukai Jieun eoh? Dalam hatiku aku juga sangat ingin memisahkan mereka berdua”

“Lalu? Kau mau… mendukungku?” tanya Taera ragu-ragu.

“Ya seharusnya seperti itu…” ucap Jongin sambil menggaruk tengkuk lehernya. Ia menoleh dan melihat wajah Taera yang terlihat bingung dengan jawabannya, Jongin menghela nafas. “Awalnya aku pikir juga seperti itu. Bukankah seharusnya aku mendukungmu untuk menjauhkan Jieun dengan Sehun? Dengan begitu aku bisa mendapatkan Jieun kan? Tapi setelah aku telaah lebih dalam lagi, ternyata itu sama sekali bukan yang aku inginkan. Aku memang begitu mencintai Jieun, aku juga ingin melakukan apapun agar Jieun menjadi milikku. Tapi bukan seperti itu caranya, mendapatkan seseorang dengan menjauhkan dia dari orang yang dicintai agar orang itu melihat kearah kita itu salah..”

“..mencintai seseorang itu tidak hanya dalam artian fisik, tapi juga hati. Jika kita mencintai seseorang dan ingin memilikinya maka kita tidak boleh hanya memiliki dirinya tapi juga harus memiliki hati orang itu. Sedangkan untuk bisa memiliki hatinya kita juga harus menggunakan hati kita. Gunakan hatimu untuk memenangkan hatinya. Buat dia mencintaimu dengan menunjukan padanya bahwa inilah hatimu yang siap untuk menerima dia apa adanya. Bukan malah melakukan cara licik seperti yang kau lakukan..”

“Cih.. jangan naïf Kim Jongin. Bicara itu memang mudah. Kau pikir selama ini apa yang aku lakukan? Selama ini bahkan aku selalu memberikan hatiku pada Sehun. Tapi apa? Ia sama sekali tidak pernah melihatnya..”

“Itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan, dan cinta juga tidak harus memiliki. Jangan memaksakan cinta agar menjadi milikmu, karna itu hanya akan menyiksa dirimu sendiri. Mencintai seseorang memiliki banyak cara, bukan hanya dalam artian untuk memiliki orang itu, tapi kita dapat mencintai seseorang dengan cara membahagiakannya. Bukankah lebih baik melihatnya bahagia bersama orang lain dari pada melihatnya tersiksa karna keegoisan kita sendiri? Apa tidak terlalu sakit jika tubuhnya bersama kita tetapi hatinya ada pada orang lain? Kau mau cinta yang seperti itu eoh?” tanya Jongin pada Taera yang gadis itu jawab dengan gelengan pelan. Jongin menghela nafas kecil kemudian melanjutkan kalimatnya.

“..Karna itu lebih baik relakan dia bersama orang yang dipilihnya. Kau tau takdir kan? Jika memang dia ditakdirkan untukmu cepat atau lambat dia pasti akan menjadi milikmu. Tapi jika memang takdirmu bukan bersamanya itu berarti kau harus bisa membuka hatimu untuk orang lain yang ditakdirkan bersamamu” ucap Jongin sambil menepuk bahu Taera pelan. Memberi sedikit semangat untuk gadis itu, berharap gadis itu bisa mengerti akan maksut dari kata-katanya. Perkataan yang sejak semalam ia tanamkan pada dirinya sendiri.

Taera menghela nafas seraya menunduk, “Jadi kau menyuruhku untuk menyerah?”

“Itu terserah padamu.. jika kau memang masih ingin berjuang? Berjuanglah.. tapi ingat lakukan dengan hatimu, bukan otakmu”

 

¶¶¶¶¶

Bel istirahat pertama sudah berbunyi dan beberapa siswa sudah menghambur keluar kelas untuk segera pergi mengisi perut. Tapi tak sedikit juga yang masih sibuk didalam kelas dengan urusan masing-masing. Seperti bergosip, menyontek pekerjaan rumah untuk pelajaran selanjutnya atau bahkan hanya diam sambil memainkan ponsel mereka. Seperti sepasang anak kembar yang satu ini, setelah selesai merapikan buku-buku, kini duo Hyun itu sedang sibuk merayu sahabat yang duduk disebelah mereka agar mau meminjamkan mereka Pr Biologi.

“Jieunnie yang cantik, kami pinjam Pr biologi ya? Semalam kami sudah berusaha mengerjakannya, tapi tetap saja kami tidak bisa..” rayu Hyuna sambil bergelayutan dilengan Jieun yang masih sibuk membersihkan buku-bukunya.

“Kalian sudah kerjakan dengan serius belum? Kalau kerjakan dengan serius kalian pasti bisa..”

“Sudah Jieunnie! Rambut kami bahkan sampai rontok karna berpikir terlalu keras. Kau tau kan otak kami hanya sebatas pada rumus-rumus Fisika. Hanya satu pelajaran itu yang kami kuasai..” kini giliran Hyunji yang merengut sambil bersedekap didada. Jieun hanya terkekeh melihat tingkah kedua temannya itu. Dia hanya terlalu senang mengerjai sahabatnya yang berlangganan meminjam Pr padanya itu.

“Bahkan semalam kami sampai tidak menonton acara kesukaan kami hanya untuk mengerjakan Pr biologi yang sulitnya terlalu kurang ajar itu. Makanya tolong pinjamkan milikmu Jieunnie… Kami mohon..” ucap Hyuna sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya didepan Jieun untuk mempertegas permohonannya. Jieun hanya terkekeh melihat tampang memohon kedua sahabatnya. Sungguh mirip seperti anak kucing yang ingin diberi makan.

“Hey kalau kalian kerjanya terus meminjam Pr pada Jieun. Kapan kalian akan pintar? Apa salahnya mencoba sendiri dulu, salah saat masih belajar itu kan wajar..” Jongin yang memang sejak tadi memperhatikan aksi merayu kedua sahabatnya itu pun angkat bicara sambil memasukan tasnya kedalam kolong bangku.

Hyunji merengut, “Hey beruang hitam! Sebaiknya kau tidak usah ikut campur..” cibir gadis berambut sebahu itu sambil mehrong kearah Jongin.

“Ne baiklah, sekali ini kalian aku pinjamkan. Tapi lain kali berusaha untuk mengerjakannya sendiri ya?” Jieun mengobrak-abrik tas ranselnya lalu menyerahkan sebuah buku tulis berwarna biru pada kedua gadis manis didepannya. Dengan sigap Hyuna pun mengambil buku itu dari tangan Jieun.

“TERIMAKASIH JIEUNNIE YANG CANTIK” seru kedua gadis itu kompak dengan wajah berbinar. Suara lengkingan 7 oktaf mereka memecah suasana kelas yang cukup sepi. Mereka pun duduk dibangku dan segera menyalin Pr mereka dengan semangat 45. Jieun dan Jongin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua gadis yang sudah 2 tahun ini menjadi sahabat mereka itu.

Tapi saat sedang asik memperhatikan kedua gadis cerewet itu, seketika Jieun mengalihkan pandangannya pada namja yang sedang berjalan keluar kelas. Ia tercengang ketika melihat Jongin pergi begitu saja. Bagaimana tidak? Tidak biasanya sahabatnya itu meninggalkannya begitu saja. Saat disekolah kemana pun Jongin pergi ia pasti bersama Jieun. Tapi sekarang? Jongin melenggang dengan santainya bahkan tanpa mengatakan apapun pada Jieun?

Jieun pun segera mengejar Jongin keluar kelas tepat saat Sehun baru saja ingin mengajaknya kekantin. Dan tentu saja, kini Sehun ikut terkejut melihat kekasihnya pergi begitu saja.

“Jonginnie tunggu!” pekik Jieun sambil berlari menghampiri Jongin yang sudah menghentikan langkah. Jongin berbalik tepat saat Jieun sampai didepannya.

“Ada apa?” tanya Jongin santai dengan wajah polosnya. Sebenarnya ia tahu kenapa Jieun sampai mengejarnya seperti itu. Namja berkulit gelap itu tau pasti Jieun bertanya-tanya kenapa ia pergi begitu saja tanpa mengajak Jieun seperti biasanya. Ia tau.. tapi ia berusaha bersikap sewajarnya. Saat ini dia hanya sedang dalam tahap pemulihan. Ia ingin memulihkan hatinya yang terluka akan gadis itu. Ia tau bahwa hatinya kecewa, karna itu ia takut jika ia terus bersama Jieun untuk saat ini akan membuat gadis itu sadar akan kekecewaannya yang masih membuncah. Ia takut Jieun merasa bersalah padanya. Dan dia juga takut kalau dia tidak bisa menahan emosinya.

Jieun mengernyit, “Ada apa?! Pertanyaanmu aneh Jonginnie. Aku mengejarmu tentu untuk pergi kekantin bersama kan?” ucap Jieun sambil memukul pelan lengan sahabatnya. Jieun pun sama.. ia juga sebenarnya tau bahwa Jongin sedang menghindarinya. Ia tahu bahwa perasaan namja itu masih terluka. Bahkan selama jam pelajaran tadi pun tidak biasanya Jongin hanya diam. Saat Jieun mengajaknya bicara, Jongin hanya menjawab sekenanya. Ia tahu ini saat sulit untuk Jongin, tapi ia hanya tidak terbiasa jauh dari namja itu. Bukankah dengan membiarkan namja itu sendirian sementara dia bermesraan dengan Sehun malah akan semakin menyakiti Jongin?

Jongin tersenyum, “Lalu bagaimana dengan pangeran manjamu itu Jieunnie? Dia bahkan sudah mengejarmu kesini sekarang” ucap Jongin sambil menunjuk Sehun yang tengah berlari menghampiri mereka.

“Kenapa pergi begitu saja?” tanya Sehun yang sudah sampai disebelah Jieun sambil menetralkan nafasnya.

“Maaf chagiya.. tadi aku reflek mengejar Jongin hehe” Jieun tersenyum lebar kearah Sehun sambil menggaruk tengkuk lehernya. Sementara Jongin seketika tertegun mendengar panggilan sayang yang dilontarkan gadis didepannya. Jantungnya pun terpacu otomatis untuk bedetak lebih cepat. Hatinya ngilu dan sesak menguasai dadanya.

“Ya sudah kalau begitu ayo kekantin. Aku sudah lapar sekali..” ucap Sehun lembut sambil mengelus puncak kepala Jieun.

Jieun mengangguk kemudian menoleh kearah Jongin, “Ayo Jongin kita pergi bersama” ajak Jieun yang sontak membuat Jongin tersadar dari lamunanya.

“Eh? Apa?”

“Ayo kita pergi kekantin bersama. Aku, Sehun dan kau” ajak Jieun sekali lagi yang sukses membuat mata Jongin membulat. Apa gadis itu sudah gila? Dengan santainya gadis itu mengajaknya makan bersama dengan kekasihnya? Dia ingin membuat Jongin mati sesak karna melihat mereka bermesraan? Sejenak Jongin berpikir, ia tatap kedua manusia didepannya bergantian. Tatapan Jieun seolah meminta jawaban ‘Iya’ keluar dari mulutnya tapi tatapan namja disebelah gadis itu seolah mengisyaratkan kata ‘Tidak boleh’ dengan tegas.

“Tidak usah, kalian pergilah berdua. Aku bisa makan sendiri”

Ekspresi wajah Jieun berubah kecewa, “Kenapa? Kenapa kau tidak mau?” tanya Jieun cepat dengan nada memohon. Jongin tersenyum, tapi saat ia baru saja membuka mulut hendak menjawab seketika Sehun memotong kata-kata yang bahkan belum sempat keluar.

“Sudahlah chagiya, mungkin Jongin ingin makan sendirian”

“Tidak! Aku tau kau tidak biasa kalau hanya makan sendirian..” tandas Jieun cepat membeberkan salah satu kebiasaan sahabatnya. Jongin memang tidak biasa jika hanya makan sendirian, karna sejak kecil ia selalu makan ditemani pelayan-pelayannya dirumah. Dan jika ia ingin makan diluar, namja itu pasti meminta Jieun menemaninya.

“Aku hanya malas makan bersama pangeran manja” ucap Jongin dengan nada agak ketus. Jawaban yang membuat gadis didepannya mengangkat alis dan namja disebelah gadis itu mengernyit.

Sehun mendengus geli, “Tentu saja. Ini pasti karna kau masih belum terima karna aku berhasil mendapatkan Jieun kan? Kau iri padaku kan?” ucap Sehun santai namun terdengar menantang. Sontak wajah Jongin menegang mendengar ucapan Sehun. Kalimat yang dilontarkan namja itu seolah merobek kembali luka yang baru saja mulai mengering. Darah Jongin mendidih, dan dengan satu ucapan telak Sehun membuat hatinya kembalik menjerit.

“Iya! Aku iri padamu Oh Sehun. Kenapa? Kau tidak suka?” ucap Jongin tenang namun kemarahan terlihat jelas diwajahnya.

“Cih.. Kau kekanak-kanakan Kim Jongin”

Jongin tersenyum meremehkan, “Lalu apa? Kau mau apa jika aku tidak bisa menerima kau berpacaran dengan Jieun?! Kau mau memukulku seperti yang kau lakukan ketika aku menyatakan perasaanku pada Jieun?! Iya?!” sahut Jongin dengan nada yang mulai meninggi. Mata Jieun membulat ketika menyadari situasi tidak baik ini. Ia tau jika tidak diatasi kedua namja itu akan bertengkar(lagi).

“Tutup mulutmu” ucap Sehun sambil meremas kerah baju namja didepannya. Mata Jieun semakin membulat ketika melihat aksi kekasihnya, ia mulai panik dan berusaha menenangkan kedua namja itu.

“Hey sudah-sudah jangan bertengkar..” ucap Jieun sambil memperhatikan sekelilingnya. Tentu saja, semua mata dikoridor itu kini tertuju pada mereka.

Jongin menyeringai, “KAU YANG HARUS MENUTUP MULUTMU!”

 

Bruak

 

Satu hataman Jongin tepat mengenai wajah Sehun. Namja bermata sipit itu pun tersungkur dilantai sambil meringis. Mata Jieun membulat sambil menutup mulut melihat kejadian tak terduga itu. Dengan cepat ia berlari menghampiri kekasihnya yang tengah tertatih sambil membersihkan ujung bibirnya yang berdarah.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jieun khawatir. Setelah membantu kekasihnya kembali berdiri, Jieun menoleh kearah sahabatnya dengan tatapan tak percaya.

“Jonginnie kenapa kau memukulnya?!”

“Itu balasan karna kau sudah memukulku waktu itu..” ucap Jongin sambil menunjuk Sehun yang masih meringis. Mata namja itu sudah tak semarah tadi, tatapannya mulai melembut. “..Dan itu juga yang akan kau dapatkan.. jika kau berani menyakiti Jieun..” setelah selesai dengan kata-katanya, Jongin berbalik dan berlalu meninggalkan Jieun dan Sehun. Ia pergi dengan hati perih namun terasa lebih lega dari sebelumnya. Rasa untuk merelakan sahabatnya bahagia dengan namja yang dicintainya sedikit demi sedikit mulai terasa direlung hatinya. Sementara kedua manusia yang ditinggalkan malah menatap punggung Jongin yang berjalan menjauh dengan dua ekspresi yang berbeda.

Sehun tersenyum menang, “Kau kalah Kim Jongin..” gumam Sehun pelan sambil membersihkan darah yang masih terasa disudut bibirnya.

Ekspresi wajah Jieun malah terlihat bingung, “Eh? Apa.. apa itu artinya dia sudah menerima hubungan kita?” tanya Jieun sambil menatap punggung sahabatnya itu lekat. Sehun tersenyum lalu mengacak-acak rambut kekasihnya lembut.

“Kau hebat bisa memiliki sahabat seperti dia Jieunnie..” ucap Sehun sambil menunjukkan smile eyesnya pada gadis yang kini juga membalas dengan senyuman yang tak kalah manis. Sehun tertegun memandang pemandangan indah dihadapannya. Sangaaaat manisss..

 

Deg

 

“Uhuk! Uhuk!” seakan mendapat hantaman tepat didadanya, Sehun terbatuk sambil menutup mulutnya. Untuk sedetik ia rasakan kepalanya terasa pening. Dan ketika ia melepaskan tangannya, wajah Sehun memucat ketika melihat darah ditelapak tangannya. Jieun hanya mengernyit melihat perubahan ekspresi kekasihnya.

“Chagiya kau tidak apa-apa?” tanya Jieun panik. Dengan cepat Sehun menyembunyikan tangannya dan mencoba tersenyum setenang mungkin.

“Ah gwaenchana chagiya..”

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

Sehun dan Jieun berjalan bergandengan memasuki sebuah areal kuil. Wajah keduanya nampak berbinar, dan senyum bahagia mengembang dengan sempurna. Tentu saja.. dengan mendapat restu dari Jongin berarti mereka sudah mendapatkan 2 restu ditambah restu dari Luhan. Sekarang tinggal bagaimana membuat Taera berhenti berulah. Mereka bertekad ingin membuat Taera sadar bahwa Sehun mungkin bukanlah cinta sejatinya. Mereka ingin meyakinkan gadis itu bahwa masih banyak namja diluar sana yang pasti bisa mencintainya setulus hati.

Keduanya berjalan lebih dalam memasuki areal kuil tersebut. Kini mereka mulai bingung kuil mana yang harus mereka datangi. Ada banyak kuil kecil diareal itu dan mereka tidak tau yang mana kuil tempat abu mereka bersemayam. Sampai akhirnya seorang laki-laki berumur kira-kira setengah abad lebih datang menghampiri mereka dengan senyuman. Laki-laki itu menyambut mereka dengan ramah.

“Akhirnya kalian datang juga..” ucap kakek Park dengan nada lembut. Kelihatannya kakek itu tidak datang sendiri, dibelakangnya juga ada 2 orang biksu yang terlihat seusia dengannya.

“Oh ya tuhan.. ternyata reinkarnasi itu memang benar-benar ada. Wajah kalian benar-benar serupa” ucap salah satu biksu tua sambil menatap takjub wajah Sehun dan Jieun bergantian. Sepasang kekasih itu pun menyapa dua teman kakek Park dengan senyuman.

“Jadi kalian benar-benar Oh Sehun dan Park Jieun dimasa ini?” tanya biksu satunya lagi dengan wajah yang tak kalah terkejut.

Jieun mengangguk, “Ne..” jawabnya singkat namun ramah.

“Ya sudah biarkan dulu mereka mengunjungi makam tuan Oh dan nona Park..” ucap kakek Park memberi sedikit masukan untuk kedua temannya yang terlihat begitu antusias dengan kedatangan Sehun dan Jieun. Mereka tersenyum seraya mengangguk kemudian memberi jalan untuk sang tamu. Jieun dan Sehun pun mengikuti langkah kakek Park menuju kuil tempat abu dari diri mereka yang terdahulu diabadikan.

Setelah berjalan sekitar 10 menit akhrinya mereka sampai disalah satu kuil kecil. Kecil namun tak kalah indah dari kuil-kuil besar disekitarnya. Jieun menatap kuil itu dengan seksama, tatapannya menerawang sambil menerka-nerka apa yang kuil cantik itu simpan didalamnya.

“Mari masuklah..” ajak kakek Park sambil masuk lebih dulu kedalam kuil. Sedetik Sehun dan Jieun saling menatap kemudian mengekor dibelakang kakek Park. Dengan ragu mereka masuk kedalam kuil. Walau kuil itu terlihat cantik dari luar, tapi tidak dipungkiri kalau kuil itu sudah cukup tua. Beberapa lantai kayunya berdecit ketika sebuah langkah kaki menimpanya. Jieun dan Sehun menerawang memperhatikan ruangan berukuran 80 x 10 meter itu. Tidak ada yang spesial didalam kuil itu, hanya ada satu rak yang berisi buku-buku dan tembikar-tembikar tua. Serta sebuah meja tinggi dengan lukisan yang terpajang didinding kanan kuil.

Di meja itu ada beberapa lilin yang menyala dengan beberapa sesaji penghormatan disamping kanan dan kirinya. Ditengah-tengah lilin tersebut terdapat dua buah guci putih. Sebuah rangkaian vas bunga cantik juga ada disudut kanan dan kiri meja. Dua buah vas dengan dua bunga berbeda. Disebelah kanan, adalah vas bunga lili putih dan disebelah kiri vas untuk bunga mawar putih.

“Bukankah bunga itu adalah bunga kesukaan Sehun dan aku?” ucap Jieun sambil berjalan mendekati meja. Wajahnya menunjukkan ekspresi tak percaya. Sehun dan kakek Park pun berdiri dibelakang Jieun.

“Benar.. dan itu juga  bunga kesukaan Oh Sehun dan Park Jieun yang ada dilukisan itu..” ucap kakek Park sambil mendongakkan kepalanya memandang sebuah lukisan besar yang terpajang tepat diatas meja itu. Sehun dan Jieun pun mengikuti apa yang dilakukan kakek Park. Dan mata mereka membulat ketika melihat wajah mereka ada dilukisan itu. Wajah yang sama namun terlihat lebih dewasa. Sehun disebelah kanan dan Jieun disebelah kiri. Sehun merangkul pundak Jieun dan gadis itu menyandarkan kepalanya pada lengan Sehun yang merangkulnya. Senyum mereka mengembang dan mereka terlihat begitu bahagia.

“Itu aku dan Jieun dimasa lalu?” gumam Sehun sambil memandang lukisan itu lekat. Sungguh sama sekali tidak ada perbedaan diwajahnya antara dia dimasa lalu dengan dirinya saat ini.

Kakek Park mengangguk, “Iya.. dan foto itu diambil sekitar seminggu sebelum kondisi Jieun mulai kritis”

“Tapi di foto itu mereka terlihat begitu bahagia. Senyum mereka terlihat tulus.. Tidak ada sama sekali raut sedih atau semacamnya” ucap Jieun sambil terus memperhatikan foto tersebut. Tiba-tiba saja matanya mulai terasa berat, entah kenapa kesedihan menyeruak didadanya.

“Disitulah kekuatan hubungan mereka. Mereka selalu terlihat bahagia dalam kondisi seperti apapun. Mereka tidak pernah mau membuat orang lain khawatir akan kondisi mereka, mereka ingin orang-orang disekeliling mereka selalu bahagia. Mereka bilang bisa bersama seperti hubungan mereka saat itu saja adalah sebuah kebahagian terbesar yang Tuhan berikan untuk mereka, jadi mereka ingin selalu mensyukurinya dengan selalu tersenyum..” jelas kakek Park dengan senyum lembut yang terukir diwajahnya. Airmata Jieun sudah tak mampu lagi dibendung. Butiran kaca cair itu sudah jatuh membasahi pipinya. Terlalu tersentuh dengan kata-kata yang kakek Park ucapkan tentang pasangan serasi itu. Kedua pasangan itu nampak sangat saling mencintai. Dan hatinya mulai bertanya.. bisakah dia dan Sehun juga seperti itu untuk masa ini?

Berbeda dengan gadis yang berdiri didepannya, Sehun malah terlihat sibuk mengatasi pening dikepalanya yang mulai menjadi. Denyutan kecil yang ia rasakan disekolah tadi semakin lama semakin terasa makin tak karuan. Mendadak kepalanya terasa sangat berat dan penglihatannya mulai memburam. Suara yang ia dengar juga lebih terdengar seperti dengungan ditelinganya.

“Sehun-sshi kau tidak apa-apa?” tanya kakek Park saat melihat wajah Sehun yang nampak pucat. Ucapan kakek Park itu pun sontak membuat Jieun membalikan badan. Dan matanya mambulat ketika melihat cairan berwarna merah keluar dari hidung kekasihnya.

“Sehunnie! Hidungmu..kau..kau mimisan lagi..” ucap Jieun setengah berteriak. Dengan sigap ia menangkap tubuh Sehun yang terhuyung kesamping. Wajah namja itu terlihat sangat pucat. Dan kekhawatiran membucah dihati Jieun.

“Aku tidak apa-apa.. aku hanya kelelahan. Kau tau kan aku sering mimisan jika kelelahan?” ucap Sehun berusaha setenang mungkin. Ia tidak ingin kekasihnya semakin panik.

“Kalau begitu ayo ke ruangan kakek, akan kakek buatkan teh herbal untukmu” ucap kakek Park sambil membantu jieun membopong tubuh Sehun keluar kuil lalu membawa Sehun keruangannya.

Dari luar ruangan kakek Park terlihat sama dengan kuil-kuil yang lain, tapi didalamnya ruangan itu nampak seperti sebuah rumah kecil. Sehun berbaring disebuah tempat tidur kecil yang tersedia diruangan itu. Setelah meminum teh herbal dari kakek Park, kondisinya sudah mulai membaik dan wajahnya juga sudah tak sepucat sebelumnya. Setelah istirahat selama 15 menit akhirnya ia mulai membuka mata. Jieun yang menunggu dengan sejuta kepanikan dihatinya pun mulai bisa bernafas lega ketika kedua mata bening Sehun kini sudah kembali menatapnya.

“Sehunnie kau sudah bangun?” tanya Jieun dengan senyuman penuh arti. Sehun tersenyum lalu mengangguk, ia juga berusaha bangun dari tidurnya. Dengan sigap Jieun pun membantu namja yang tertatih itu.

“Dimana kakek Park?”

“Kau sudah bangun?” tanya kakek Park sambil memasuki ruangan itu. Ia nampak membawa secangkir minuman ditangannya. Ia tersenyum lalu duduk disebelah Jieun sambil menyodorkan minuman itu kepada Sehun.

“Ini.. minumlah untuk menghilangkan rasa sakit dikepalamu”

Sehun mengangguk lalu menerima minuman itu. Dengan satu tarikan nafas ia habiskan minuman tersebut. Dan ia meringis ketika mendapati kalau minuman itu terasa sangat pahit.

“Itu ramuan herbal..” ucap kakek Park seolah membaca ekspresi wajah Sehun yang terlihat heran dengan rasa pahit minuman yang baru saja diteguknya.

 

Drrrt

 

Drrrttt

 

Tiba-tiba saja getar ponsel Jieun menganggetkan semuanya. Jieun menarik tas ranselnya lalu mengambil smartphonenya. Sejenak ia tatap Sehun dan kakek Park bergantian seolah meminta ijin setelah itu mulai membaca pesan dari bibinya.

From : Bibi Han~

Subject : Bantu bibi di toko!

 

Jieunnie kau dimana? Saat ini toko sedang ramai, cepat kemari dan bantu bibi! Kalau tidak uang jajanmu bibi potong!

 

Status : Reading

 

“Dari siapa?” tanya Sehun saat melihat Jieun medengus kesal setelah membaca pesan yang baru saja masuk.

Jieun menghela nafas, “Dari bibi Han. Dia memintaku untuk cepat pulang dan membantunya ditoko” ucapnya sambil menunduk.

“Ya sudah ayo cepat kita kesana. Gawat kalau bibi mu sampai marah kan?” ucap Sehun seolah sangat mengerti bagaimana sifat bibi Jieun.

Jieun mendongak, “Eh? Tapi kondisimu masih—“

“Sudahlah, aku sudah tidak apa-apa. Ayo cepat bangun!” Sehun kini sudah berdiri tegak. Walau agak ragu, Jieun mengikuti perintah kekasihnya. Ia bangkit lalu menyandang tas ranselnya. Kakek Park pun juga bangun untuk mengantar Jieun dan Sehun.

“Kakek kami pamit dulu. Lain kali kami akan datang lagi..”

 

 

¶¶¶¶¶

“Sehunnie kau yakin mau ikut? Tapi kondisimu masih lemah..” tanya Jieun dengan nada tak yakin pada namja yang masih sibuk mengeluarkan sebuah sepeda gayung dari dalam garasi.

Sehun mangangguk, “Aku yakin chagiya.. kan sudah berulang kali kukatakan kalau aku sudah tidak apa-apa” jawab Sehun santai sambil memasukkan beberapa buket bunga kedalam keranjang depan sepeda. Jieun hanya menggeleng tak percaya karna sifat keras kepala kekasihnya.

Setelah kembali dari kuil, sesuai perintah Jieun langsung membantu bibinya di toko bunga. Toko memang sedang sangat ramai hari ini, dan bibinya cukup kelelahan jika hanya mengurusnya sendirian karna itu ia meminta bantuan keponakannya. Dan tentu saja dengan senang hati Jieun mau membantu bibinya. Tapi satu yang menjadi masalah baginya yaitu… Sehun.

Mengingat kondisi namja itu sedang tidak baik, Jieun jadi tidak tenang jika membiarkan Sehun ikut bekerja. Sudah berulang kali ia melarang Sehun untuk ikut membantu, tapi namja itu sama sekali tidak mau mendengarkan. Setiap kali Jieun menyuruhnya untuk tidak bekerja namja itu pasti selalu menjawab ‘Tenang saja chagiya.. aku sudah tidak apa-apa’. Memang wajahnya sudah tidak pucat dan dia terlihat jauh lebih baik dari saat ia mimisan dikuil tadi, tapi tetap saja kekhwatiran tak bisa lepas dari hati Jieun. Ia takut Sehun jatuh lagi karna kelelahan bekerja.

Seperti sekarang, bibi Han meminta dirinya untuk mengantar beberapa pesanan buket bunga dan Sehun bersikeras untuk mengantarnya. Sudah berulang kali Jieun katakan kalau ia bisa pergi sendiri, tapi Sehun tetap keras kepala meminta untuk mengantarnya dengan alasan takut terjadi sesuatu pada kekasihnya. Padahal buket yang perlu diantar hanya 3 buah, dan jarak alamat rumah pemesan pun sepertinya tidak terlalu jauh dari toko. Tapi Jieun sudah menyerah, memang sulit bicara pada orang yang memiliki otak batu seperti kekasihnya.

“Ya sudah kalau begitu mengantarnya naik mobil saja, jangan naik sepeda” ucap Jieun sekali lagi membujuk Sehun. Memang awalnya ia ingin mengantar buket bunga dengan naik sepeda seperti biasanya. Tapi sepertinya ia harus mengubah rencana mengingat bagaimana kondisi Sehun yang masih lemah. Gawat kalau kondisi namja itu semakin buruk setelah menggoncengnya naik sepeda.

Sehun menggeleng sambil menaiki sepeda gayung Jieun, “Tidak! Akan lebih romantis kalau bergoncengan naik sepeda kan? Lagi pula sudah lama sekali aku tidak naik sepeda” ucap Sehun sambil tersenyum kearah Jieun yang masih menatapnya dengan wajah khawatir. Sehun menghela nafas sadar akan maksut tatapan kekasihnya, “Harus bagaimana untuk meyakinkanmu kalau aku sudah tidak apa-apa” Sehun tersenyum simpul sambil mengelus puncak kepala Jieun lembut.

“Oke kau boleh ikut. Tapi biar aku yang menggoncengmu!” tegas Jieun sambil mencoba mengambil alih posisi kemudi. Tapi dengan cepat Sehun menggagalkan aksinya.

Jieun mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap didada, “Sehunnie!” bentaknya imut yang malah membuat Sehun terkekeh.

“Hey bodoh! Kau mau membuatku malu eoh? Seorang lelaki perkasa seperti diriku digonceng naik sepeda oleh gadis bertubuh kurus seperti dirimu? Tsk.. Kau gila..”

“Kau yang gila! Lihat kondisimu! Bagaimana kalau terjadi sesuatu setelah kau menggoncengku?”

“Tidak akan! Tidak akan terjadi apa-apa chagiya.. sudah cepat naik! Nanti kita terlambat mengantar pesanan”

Lagi-lagi percuma.. akhirnya Jieun hanya bisa menghela nafas karna kalah akan namja yang entah karna apa ia pilih menjadi kekasihnya. Dia rasa dia sudah gila karna jatuh cinta pada namja keras kepala seperti Sehun. Dengan setengah hati Jieun naik kekursi belakang lalu merangkul pinggang kekasihnya. Sehun tersenyum menang lalu mulai mengayuh sepeda berwarna putih itu.

Dengan senyum mengembang Sehun mengayuh sepeda itu menelusuri kota Seoul. Entah kenapa ini pertama kalinya ia merasa sebahagia ini. Bersepeda bersama seseorang yang begitu dicintainya membuat senyumnya tak pernah pudar. Walau sebenarnya ia merasakan ada yang aneh pada kondisi tubuhnya, tapi namja itu tidak ingin membuat Jieun khawatir. Bukankah perjuangannya berat hingga ia sampai pada fase ini? Ia ingin menikmatinya entah sampai kapan saat penyakit berbahaya itu merenggut nyawanya.

Jieun yang awalnya kesal pun akhirnya menikmatinya. Menikmati cuaca cerah dan angin yang bertiup lembut sore itu bersama kekasih hatinya. Ia semakin mempererat pelukannya dipinggang Sehun sambil menyandarkan kepalanya pada punggung namja itu. Bibirnya juga tak henti-hentinya mengembangkan senyum, sangat bahagia bisa bersama orang yang dicintainya. Ia terus saja berdoa.. berharap Tuhan memberi waktu lebih lama untuk Sehun.

Waktu 20 menit tak terasa sudah berlalu dan kini mereka sudah sampai pada alamat pertama. Sehun menghentikan sepeda yang dikayuhnya didepan sebuah rumah minimalis namun terlihat mewah. Tapi kening Jieun mengkerut ketika merasa familiar akan tempat itu.

“Sehunnie? Benar ini alamatnya?” tanya Jieun seraya turun dari sepeda lalu mengambil buket bunga dikeranjang depan. Sehun pun menjawab dengan sebuah anggukan sambil mendongkrak sepedanya.

“Alamatnya ternyata hanya satu chagiya.. kurasa orang rumah ini memesan tiga buket bunga sekaligus”

“Aissh.. dasar merepotkan!” umpat Jieun sambil berjalan mendekati gerbang rumah didepannya. Sehun mengernyit melihat kekasihnya mendadak kesal. Siapa yang merepotkan?

 

Ting

 

Tong

 

Dengan kesal Jieun memencet bel rumah tersebut. Ia terlihat sangat tidak sabar menunggu si pemilik rumah keluar dan ingin melempar buket bunga itu tepat kewajahnya. Sehun hanya diam sambil menatap Jieun bingung. Ia tidak mengerti namun entah kenapa ia malas bertanya. Sampai akhirnya suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah dan seorang namja tampan pun menampakkan dirinya dari balik pintu.

“Oh pesanannya sudah sampai ya?” ucap namja itu sambil tersenyum lebar.

“Issh.. dasar! Kenapa kau selalu saja merepotkan eoh? Tidak bisakah kau datang ketoko dan membelinya langsung disana? Kenapa harus menelpon dan minta diantar? Memangnya kau sesibuk apa sampai tidak sempat ketoko langsung?! Kau tau sekarang toko sedang sibuk sekali! Kau kan keponakan bibi juga, seharusnya kau membantunya bukannya malah semakin membuat kami repot!” ucap Jieun dengan satu kali tarikan nafas. Gadis itu bicara seperti kereta monorel yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Cepat namun jelas. Sehun hanya diam sambil menatap kekasihnya dengan alis yang mengernyit dalam. Sementara si pemilik rumah hanya terkekeh melihat gadis itu memarahinya.

“Kenapa oppa malah tertawa?”

“Memangnya bibi Han tidak bilang kalau aku yang memesan?” tanya namja tampan itu sambil berusaha menahan tawa.

“Tentu saja tidak!”

Pemuda itu mengangguk, “Benar juga.. kalau dia bilang aku yang memesan bunga ini, kau tidak mungkin mau mengantar..hihihi”

“Siwon oppa!” ucap Jieun geram karna kakak sepupunya itu malah menertawainya.

“Iyaya aku minta maaf Jieunnie. Tadi aku sudah bilang pada bibi Han kalau nanti aku yang akan mengambilnya sendiri. Aku hanya ingin pesan dulu karna takut kehabisan. Tapi bibi Han yang memaksa ingin mengantarkannya kerumah jadi aku hanya terima-terima saja” jelas Siwon sambil menaikan kedua bahunya. Ia tersenyum sambil mengacak-acak rambut adik sepupunya, “Terimakasih sudah mengantar pesananku adiku yang manisss…” ucapnya dengan nada gemas. Sementara Jieun hanya merengut diperlakukan seperti anak kecil. Sedangkan Sehun yang berdiri disebelah Jieun hanya diam seperti orang bodoh memperhatikan tingkah dua manusia yang ia dengar adalah saudara sepupu itu. Sampai akhirnya kedua mata namja tampan didepannya itu menangkap dirinya juga ada disana.

Sehun tersentak lalu tersenyum, “Annyeonghaseyo..” sapa Sehun ramah.

“Waah siapa ini? Tumben sekali kau pergi mengantar bunga bersama seorang namja. Sepertinya.. dia kekasihmu. Benarkan?”

“Iya dia kekasihku namanya Oh Sehun. Dan ini pesananmu!” ucap Jieun ketus sambil menyerahkan pesanan Siwon dengan kasar.

“Annyeonghaseyo Oh Sehun imnida.. Salam kenal..” ucap Sehun sambil menundukkan kepala memberi salam perkenalan.

Siwon tersenyum manis, “Salam kenal, Choi Siwon imnida.. Ayahku adik kandung ibu Jieun. Ahh jadi ini pangeran tampan yang sudah berhasil meluluhkan hati sepupu sematawayangku ini? Kau hebat Sehun-sshi!” ucap Siwon bangga sambil menepuk-nepuk pundak Sehun. Sehun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Sudah! Pesanannya sudah sampai, berarti kami sudah boleh pergi kan? Ayo Sehunnie!” ucap Jieun seraya berbalik dan menarik tangan Sehun menuju sepeda. Sehun hanya mengikuti kekasihnya secara sukarela.

“Hey tidak mau mampir dulu?” tanya Siwon saat Sehun dan Jieun sudah naik kesepeda.

“Tidak usah! Sampai jumpa..” celetuk Jieun sambil mengangkat sebelah tangannya kearah kakak sepupunya.

“Kami pamit dulu..”

 

 

¶¶¶¶¶

“Terimakasih..” ucap Jieun pada pramusaji yang mengantarkan pesanan mereka. Pramusaji itu tersenyum lalu berlalu meninggalkan Sehun dan Jieun untuk menikmati eskrim mereka.

Setelah lelah mengantar pesanan dengan menggunakan sepeda, Jieun dan Sehun memilih untuk beristirahat sambil memakan eksrim disalah satu kedai yang mereka lewati. Mereka duduk dibangku pojok didekat jendela. Mereka duduk berhadapan sambil menikmati sendok demi sendok eskrim yang mereka pesan. Beberapa detik hening menguasai sampai akhirnya Sehun membuka pembicaraan.

“Kelihatannya kau kesal sekali kalau kakak sepupumu itu memesan bunga ditoko bibimu” ucap Sehun sambil menyendok eskrim cappuccino miliknya.

Jieun mengangguk, “Bukan kesal karna dia memesan bunga disana.. Tapi aku hanya kesal, padahal arah restoran kami ke toko bunga lalu kerumahnya itu ada dalam satu jalur. Dan dia memesan bunga itu saat dia dalam perjalanan pulang kerumahnya, lalu kenapa dia tidak mampir saja dulu ke toko bunga? Kenapa harus memesan lewat telpon dan akhirnya menyusahkanku?! Menyebalkan kan?!” ucap Jieun sambil terus menyendok eskrim coklatnya. Ia bicara dengan mulut yang dipenuhi eksrim. Raut wajahnya juga nampak kesal tapi imut. Sehun hanya terkekeh melihat tingkah kekasihnya.

“Tapi sepertinya kalian sangat dekat?”

“Iya begitulah.. karna hanya dia saudara yang bisa aku ajak bergaul. Dari keluarga ibuku hanya dia satu-satunya sepupuku. Sedangkan dari keluarga ayah, sepupuku hanya anak bibi Han yang baru berumur 3 tahun. Jadi jelas hanya dia tempatku berbagi cerita”

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, ternyata masih banyak yang harus ia ketahui tentang keluarga kekasihnya itu. Sehun tersenyum lalu menyendok eskrim miliknya. “Nah ini ayo buka mulutmu..Aaaaaaaaa” ucap Sehun seraya menyodorkan sesendok eksrim kepada Jieun. Jieun mengernyit sambil menjauhkan wajahnya.

“Ah aku bisa makan sendiri chagiya..”

“Hey kau ini tidak romantis sekali. Memang seperti ini gaya orang berpacaran, ayo cepat makan!” Sehun mendorong sendoknya bermaksut mempertegas tawarannya. Sejenak Jieun mendengus lalu membuka mulutnya. Sehun tersenyum setelah eskrimnya masuk dengan mulus kemulut Jieun.

“Nah kalau begitu sekarang giliranmu..Aaaaaaa” kini giliran Jieun yang menyuapi Sehun. Dengan senang hati Sehun pun menerima eskrim dari kekasihnya. Wajah keduanya nampak berbinar, keduanya saling menatap kemudian tertawa bahagia. Sungguh.. saat-saat romantis seperti inilah yang sejak dulu mereka tunggu-tunggu.

“Eh? Chagiya.. lihat itu dibibirmu ada noda eskrim. Tsk.. kau seperti anak kecil saja, makan eskrim sampai belepotan seperti itu hihihi..” Jieun terkekeh sambil menunjuk wajah Sehun.

Sehun merengut, “Ya! Kenapa kau malah menertawaiku? Sebagai kekasih kau seharusnya membersihkannya kan? Ini cepat bersihkan..” ucap Sehun sambil mencondongkan tubuhnya kearah Jieun.

“Ya kau benar-benar seperti anak kecil chagiya. Bersihkan saja sendiri”

“Ya chagiya! Ayolah romantis sedikit..” rengek Sehun sambil mengerucutkan bibirnya. Sepersekian detik Jieun tertawa lalu akhirnya mengalah.

“Iya-iya, sini aku bersihkan” ucap Jieun sembari mengeluarkan selembar tisu dari kantong jaketnya. Sehun menghela nafas saat menyadari apa yang akan dilakukan kekasihnya. Ia menggelengkan kepala karna tingkah Jieun yang sama sekali tidak ada romantisnya. Jieun kemudian mengulurkan tangannya yang memegang selembar tisu kewajah Sehun. Tapi dengan sigap Sehun menggenggam tangan Jieun untuk menghentikan aksi gadis itu.

Tsk..Caranya bukan seperti ini chagiya. Tapi seperti ini” dengan satu gerakan cepat Sehun membersihkan noda dibibirnya menggunakan bibir Jieun. Walau hanya beberapa detik tapi gerakan itu berhasil membuat semburat memerah dipipi Jieun. Matanya masih membelalak akibat aksi kekasihnya yang hampir saja membuat jantungnya melompat keluar karna terkejut. Sehun menyeringai lalu kembali keposisi duduknya. Wajahnya terlihat santai sementara Jieun merengut karna malu.

“Ya! Kenapa kau menciumku disini? Malu kan dilihat banyak orang” Jieun menerawang memperhatikan pengunjung lainnya. Dan benar saja, banyak mata yang memperhatikan mereka. Ada yang berteriak kagum ada juga yang terlihat tidak suka.

“Sudahlah chagiya.. kita sedang berpacaran jadi wajar saja kalau— Eh? Jieunnie?!” panggil Sehun saat melihat Jieun berlari keluar kedai. Sehun pun bangkit untuk mengejar kekasihnya yang tiba-tiba saja kabur karna malu. Tepat didepan pintu Sehun berhasil meraih tangan Jieun.

“Ya! kenapa kau malah pergi?”

Jieun berbalik kemudian menatap mata sipit Sehun tajam, “Bagaimana aku tidak pergi?! Kau membuatku malu chagiya!” ucapnya sambil memukul lengan kekasihnya brutal.

“Hahaha.. begitu saja kau malu. Terlihat sekali kau tidak berpengalaman dalam berpacaran chagiya..”

“Memangnya kenapa?! Ini karna aku masih punya rasa malu! Tidak seperti dirimu yang tidak tau malu” cibir Jieun sambil bersedekap didada.

“Iyaya kalau begitu aku minta maaf.. Kau mau kan memaafkanku?” Sehun berpuppy eyes didepan Jieun sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

“Kalau aku tidak mau bagaimana?”

“Kau akan kucium lagi! Ditengah jalan itu” ucap Sehun sok tegas sambil menunjukan jalanan ramai didepan mereka. Jieun menelan salivanya kasar mendengar ancaman kekasihnya. Dengan setengah hati Jieun mengangguk, mengiyakan permintaan Sehun.

Sehun tersenyum menang, “Nah itu baru kekasihku..” ucap Sehun sambil mengacak-acak rambut Jieun.

“Ya Sehunnie hentikan!” rengek Jieun sambil berusaha menyingkirkan tangan Sehun.

Tapi seketika Sehun menghentikan aksinya ketika matanya menangkap satu objek diseberang jalan, “Eh? Disana ada photobox Jieunnie.. Ayo kita berfoto” Sehun menarik tangan gadis yang masih sibuk merapikan rambutnya itu. Mereka menyebrangi jalan untuk sampai ke photobox yang terletak disebelah kanan sebuah toko boneka. Jieun yang tadinya sibuk merapikan rambut terkejut karena tiba-tiba mereka sudah berada didalam sebuah photobox.

“Untuk apa kita kesini?”

“Untuk beli permen! Ya tentu saja untuk berfoto chagiya..”

“Mwo? Berfoto?! Aah aku tidak mau” ucap Jieun sambil melangkahkan kaki keluar. Tapi dengan sigap Sehun menarik tangan gadis itu hingga wajah Jieun membentur dadanya.

Sehun merangkul pundak Jieun dan mulai tersenyum didepan kamera, “Sudah diam dan berpose saja”

Sepersekian detik setelahnya mereka keluar dari photobox itu sambil tersenyum senang. Setelah mengambil hasil foto mereka, mereka berjalan bergandengan menyebrangi jalan kembali ketempat sepeda mereka terparkir. Sehun mengamati hasil foto mereka dengan seksama, memilih foto mana yang akan disimpannya dan foto mana yang ia berikan untuk Jieun.

“Haha difoto ini kau terlihat lucu chagiya..”

“Enak saja! Wajahmu tu yang aneh”

“Sembarangan! Wajahku ini kan tampan, berpose bagaimana pun aku akan tetap tampan” ucap Sehun seraya mehrong kearah Jieun.

Jieun terkekeh, “Iya-iya baiklah aku kalah”

“Ini, 3 foto untukmu dan 3 foto lagi untukku. Simpan baik-baik ya?! Awas kalau sampai hilang” ucap Sehun sambil memicingkan sebelah matanya kearah Jieun. Jieun mengangguk tanda mengiyakan kemudian tersenyum ketika melihat foto ditangannya. Satu diantara 3 foto itu yang ia pilih sebagai foto terbaik, yaitu foto saat sehun mencium pipinya sementara dia hanya memejamkan mata dengan wajah yang bersemu merah.  Lagi-lagi rasa bahagia itu membludak didadanya. Sangat senang hingga ia ingin waktu berhenti saat ini juga. Berhenti disaat-saat bahagia seperti sekarang. Ia tatap wajah Sehun yang masih saja terkekeh melihat hasil foto mereka. Menatap lekukan indah wajah itu intens seolah ini adalah kesempatan terakhirnya.

Oh Tuhan.. tidak bisakah aku terus bersama orang ini? Melihatnya tersenyum bahagia seperti ini selamanya?

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Sehun ketika sadar Jieun sedang menatapnya lekat.

“Tidak.. bukan apa-apa. Sudah! Ayo pulang nanti keburu malam”

Sehun mengangguk kemudian bersama Jieun mempercepat langkah menuju sepeda mereka. Tapi saat baru saja ia ingin naik kesepeda, tiba-tiba denyutan lagi-lagi terasa dikepala Sehun. Sempat Sehun terhuyung namun ia berhasil tegak kembali. Beruntung saat itu Jieun tidak melihatnya karna sibuk memasukan foto kedalam saku jaketnya. Sejenak Sehun menenangkan pikiran kemudian duduk disepeda. Setelah Jieun naik, ia pun mulai mengayuh sepedanya. Tapi baru saja mereka berjalan melewati satu blok, Sehun seketika menghentikan sepedanya.

“Akkh..” ringisnya sambil memegang kepalanya yang mulai terasa berat. Denyutannya semakin menjadi, terasa seperti mendapatkan lemparan batu besar diatas kepalanya. Wajahnya seketika pucat dan penglihatannya memburam. Merasa ada yang aneh pada kekasihnya, Jieun segera turun dari sepeda lalu berjalan kesebelah Sehun.

“Chagiya kau tidak apa-apa?” tanya Jieun panik saat melihat wajah Sehun yang mendadak pucat. Ia tempelkan tangannya pada kening Sehun, tapi suhu tubuh namja itu nampak stabil.

“Aku.. ti..tidak apa-apa chagiya..” ucap Sehun terbata. Tapi Jieun tau betul Sehun berbohong, bahkan wajah namja itu lebih pucat dari pada saat dia mimisan dikuil tadi.

“Mana mungkin tidak apa-apa! Wajahmu bahkan sepucat itu! Makanya sejak awal sudah kubilang kau lebih baik istira—“

“SUDAH KUBILANG AKU TIDAK APA-APA JIEUNNIE!” bentak Sehun yang sontak membuat Jieun terkesiap. Mata gadis itu pun mulai berkaca-kaca.

“AAAKKHHH..” ringis Sehun lagi sambil meremas kepalanya. Jieun semakin panik, ia bingung harus melakukan apa. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada Sehun?

“Kau tunggu disini! Akan kupanggilkan taksi”ucap Jieun seraya berlari kepinggir jalan. Ia lambai-lambaikan tangan kejalan untuk menghentikan taksi. Tapi sayangnya.. hampir setiap taksi yang lewat sudah terisi penumpang.

“Sial! Kenapa tidak ada satu pun yang berhenti..”

 

Bruak

 

Sontak Jieun membalikkan badan dan matanya membelalak ketika mendapati Sehun sudah terjatuh ditanah.  Kakinya melemas dan jantungnya berdegup tak karuan. Ia berlari lalu berjongkok disebelah Sehun. Dengan berlinang airmata, Jieun mengangkat kepala Sehun lalu meletakkannya dilengannya.

“SEHUNNIE!! BANGUNLAH!!! Kau kenapa? Aku mohon bangun!!” Jieun menggoyang-goyangkan tubuh namja yang terkulai tak sadarkan diri itu. Banyak orang yang melintas didaerah itu, datang mengerumuni mereka.

 

 

 

 

¶¶¶To Be Continued¶¶¶

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!!

73 thoughts on “Our Destiny (Chapter 7)

  1. Annyeong thor reader baru nih(^^)/
    Bacanya ngebut nih thor~~~
    Keren thor tp sedih jug😥
    Ya ampun jongin nya kasian cinta tak terbalaskan😥
    Sini sama noona aja yuk😄
    Btw next chap kpn publish thor?

    Jebballlll janga lama2 ya *booing booing*

  2. Lagi seru2nya kenapa harus ada tbc thor? (˘̩̩̩ε˘̩ƪ)
    Lanjut lg dong thor, lg seru bgt nih. Ak bener2 suka saat2 romantis Jieun&Sehun hihihi
    Hwaiting thor! Keep writing!
    Ditunggu next chap’a..
    Secepatnya yah😉

  3. Ya allaaaaaaah ada saatnya aku senyum2 sendiri ada saat nya aku nangis tapi banyaknya aku nangis T.T gara2 ngebayangin sehunnya kasian aku suka banget part ini🙂 banyak jieun sehun scene nya dan di part ini juga aku koment panjang*hehe* AKU YAKIN! PASTI NI ENDINGNYA SAD! HUWAAAAAAAAAAA AKU GAK KUAT KALO ENDINGNYA SAD YA ALLAH AUTHOR TANGGUNG JAWAB AIR MATA KU DERES KELUAR TAU GAK!? NGABISIN SEPERMPAT TISU!*lebe* THOR HIKS..HIKS TOLONG BAHAGIAIN MEREKA BERDUA DIDUNIA DAN DIAKHIRAT HUWAAA*sumpah nangis* gak bisa bayangin kalo mereka bakal pisah gara2 sehun punya penyakit ARGH! Ni ff favorit dah jadi author jangan kaget ya kalo ff ni kalo udah tamat aku masukin list ff favorit ku🙂 udahlah aku kebanyakan cakap pokoknya KEEP WRITING! :*

  4. so swet🙂 tapi sedih juga😦 haaa sehun-a kau baik-baik nae . bertahan lah. mian thor aku ngoment nya jarang palingan dua chap sekali😀 he.. aku suka ceritanya thor (y)

  5. Ni couple sweet banget yaaak.. tapi kenapa rada ngenes sih.. kasian Jieun nya.. aku jadi merasakan apa yg dia rasakan.. dan feel nya kerasa(?) Banget.. pokoknya ni ff rekomended banget..

    Ahh iya sepertinya aku telat komen ya? Hehe.. sebenernya aku readers lama dan sempet jadi siders karena aku belum ngerti caranya komen.. jadii maaf banget baru bisa komen sekarang..

    Salam kenal aja deh buat admin nya ^-^ sukses selalu.. daan ditunggu karya selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s