The Twelve Power of Olympians (Chapter 8)

cover chap8(2)-vert

Title : The Twelve Power Of Olympians

Title chapter : Abduction | Author : HCV_2

Main cast : Kim Hana(OC), Kai, Sehun

Other Cast : EXO, Han Hyo sun(OC) SNSD| Genre : Fantasy, Romance, Brothership | Length : Chaptered

 

WARNING THIS NOT FOR SILENT READERS

 

Halohaaaaa~~~~~~~~ Author nista nan aneh ini kembali lagi~ (•̯͡.•̯͡)  Saya datang dengan next chapter dari fanfiction bergenre fantasy saya~~~~ hohohoho hihihihhi *lu gila ya thor?* Iye mang nape? masalah bwt lo?

Sebelumnya author memohon maaf kepada para readers sekalian karna ngupdatenya agak lama. Sama kyk pelajar lainnya kami author disini juga uda mulai sekolah lagi jadi mulai disibukin sm kegiatan sekolah dan membuat waktu menulis fanfic kita jg berkurang drastis. Bisa dipastikan jarak antar postingan kita bakal cukup lama =__= hehehe Kami memohon permakluman dari readers semua ya^^  Selain itu kita HCV juga baru msk kelas 11 jadi ada yang namanya pembagian jurusan, dan ternyata kita HCV UDA NGGAK SEKELAS LAGIIIII😥 Hueeeeeeeeeeeeeeeeee~~~ Ini bener-bener cobaan besar bwt HCV yang biasanya selalu bersama, kita bener-bener nggak nyangka bakal pisah. Bahkan awalnya saya HCV_2 dpt IPS o.O tp syukur saya uda pindah ke Ipa dan satu kelas sm HCV_1 eh malah HCV_3 yang kepental ke Ipa 1 ;_; dan karna perpisahan ini bener-bener bwt author jd ilang mood bwt fanfic -__- Bahkan mood bwt sekolah pun sempet leyap seketika. Masuk kelas baru jd hrs mulai beradaptasi lagi, dan author sungguh sangat tidak nyaman dengan kelas yang sekarang. Dan kenyamanan dikelas itu sangat berpengaruh dalam pencarian ide author. Tapi ya mau bagaimana lagi, ini keputusan dari sekolah ╮(“╯_╰)╭ Pokoknya HCV akan tetap hidup! We are one! Uri HCV oeo! Eh? Kok malah curhat panjang begini?

Oh ya! Dan satu lagi hal yang bwt author jadi bener-bener males ngelanjutin fanfic. Apalagi fanfic yang satu ini ni yang bintang utamanya adalah tuan Kim Jongin si item dekil itu! Sialan! Masak poto teaser MV baru f(x) itu si Krystal peluk-peluk Kai??????!!!! Author sebagai fans berat Kai langsung ngejleb dan nggak terima berat! GW NGGAK SUKA! ISSSSHHH.. Uda cukup saya toleran dengan adegan ciuman Taemin dgn itu cewek. Eh? Sekarang dia malah grepe-grepe si Jong lagi Ԅ(•‾̴̴͡͡o‾̴̴͡͡) Sumveh author keselnya nggak ketulungan nih jadinya >.< Author tau itu cuman kepentingan syuting tapi yang namanya juga fans berat author nggak terima aja adegannya mesra begitu. Tu cewek meluknya afdol bgt kayaknye =__= Pose nya padahal sama kyk waktu Kai sm cewek di ivy club tapi entah kenapa pose begitu sama krystal bener-bener bwt kepala author kepanasan plus pingin meledak! Duh Kai! LO GW END =_= PUTUS KITA PUTUS!!!! MINGGAT LO DARI RUMAH JONG!!! Pelukan yang puas aja sana sama Krystal!! GW NGGAK BUTUH LO!! Gw uda punya Luhan yang setia!! Sana lo pergi!!! *nangis dipelukan Luhan* *ni author ngelanturnya kebangetan ye-_-*

Udah ah.. yang diatas tu TOTALLY nggak penting banget bwt dibaca. Itu cuman curhatan nggak penting dari author nista yang isi otaknya gaje bgt jadi nggak dibaca juga gapapa -__- Sip! SIDERS MENDING MINGGAT JG TU BARENG KAI! Disini tidak menerima siders! TIDAK MENERIMA SIDERS! *diulang biar JELAS*

Okeh.. uda kepanjangan bgt nih. SELAMAT MEMBACA!!

SILENT READERS????? GET OUT!!!!

 

Kai yang berdiri disebelah Hana hanya menatapnya pilu. Perlahan ia lepaskan genggamannya dari tangan Hana. Mendengar ucapan Hana pada Sehun membuatnya terhenyak.

“Sebegitu khawatirkah kau pada Sehun?” lirih Kai dalam hati.

 

Chapter 8

 

 

BOOMM

 

Suara ledakan besar tetangkap di pendengaran 2 malaikat yang masih melayang di udara dengan seekor burung Phoenix raksasa. Dio dan Chanyeol masih dalam perjalanan menuju markas SNSD yang berjarak 500 meter dari posisi mereka sekarang. Bahkan asap hitam terlihat mengepul keudara. Mata mereka membulat dan Chanyeol pun memerintahkan bisonnya untuk terbang lebih cepat.

“Kelihatannya ini akan jadi pertarungan yang sulit” ucap Chanyeol sambil mempererat pegangannya pada burung yang terbang dengan kecepatan penuh itu. Ketika sampai di lokasi penyerangan, Chanyeol mengedarkan peglihatannya kearah bawah untuk mencari dimana tempat ia harus mendaratkan bisonnya.

“Hyung? Disana!” ucap Dio menepuk pundak Chanyeol lalu menunjuk kearah tempat dibawah pohon besar dibelakang semak-semak. Chanyeol mengangguk ketika melihat sebuah pusaran angin ditempat yang ditunjuk Dio. Itu kode dari Sehun. Namja jangkung itu pun segera mendaratkan bisonnya disana.

“Tempat ini sudah dikepung” ucap Suho sambil menatap serius kesebuah gedung megah didepannya. Posisi mereka sekarang ada dibagian kanan gedung, yang cukup tersembunyi dibalik semak-semak tinggi. Dari jarak itu dapat mereka lihat gedung megah nan mewah itu sudah setengah hancur. Dan beberapa Lucifer juga terlihat tergeletak tak bernyawa disekitar halaman samping.

“Tadi kami mendengar suara ledakan hyung” ucap Dio sambil berjalan mendekati Suho yang masih fokus akan objek didepannya.

Suho mengangguk, “Kami juga mendengarnya..”

“Itu ledakan dari bola api. Minho pasti ada disana” ucap Chanyeol yakin seolah sangat mengerti jenis dari ledakan itu.

“Dari mana kita akan menyerang hyung?” tanya Sehun pada Suho yang nampak sedang memikirkan strategi.

Sepersekian detik namja itu berpikir lalu berbalik dan menatap tajam ketiga adiknya itu satu persatu. Ia mengangguk lalu mulai membagi tugas. “Kita akan berpencar, sepertinya ada beberapa titik pertarungan didalam sana..” Suho menghela nafas lalu melanjutkan ucapannya. “Chanyeol dan Dio, kalian masuk kelantai dua dengan bison Chanyeol. Kalian bisa masuk lewat balkon atas. Setelah sampai dilantai atas kalian bisa membagi tugas lagi. Dan ingat saat kalian terbang nanti kalian mungkin akan mengalihkan perhatian mereka. Jadi bersiaplah..” ucap Suho memberi intrupsi pada Chanyeol dan Dio yang dijawab anggukan mantap dari keduanya.

“Lalu Sehun, kau masuk lewat pintu belakang dan aku akan masuk lewat pintu depan”

Sehun mengangguk, “Baik hyung”

“Bagus.. ingat kalau terjadi sesuatu dan kalian butuh bantuan, gunakan kalung kalian untuk memanggil yang lain. Mengerti?”

“Ne kami mengerti!” jawab ketiga prajurit Olympus itu kompak.

Setelah mendapatkan kode dari Suho mereka pun melancarkan aksi mereka. Chanyeol segera menerbangkan bisonnya bersama Dio menuju balkon lantai dua. Sementara Sehun menghilang dibalik anginnya yang mulai bergerak kearah pintu belakang markas. Sedangkan Suho berlari dibelakang semak-semak yang mengelilingi gedung menuju pintu depan markas besar tersebut.

Dan sesuai dengan apa yang diperkirakan, Sehun dan Suho tidak mendapatkan banyak masalah untuk masuk kedalam markas karna para Lucifer yang berjaga disekitar markas tengah sibuk berkutat dengan dua malaikat yang terbang bebas diudara. Banyak dari mereka yang mulai menyerang dengan anak panah atau melemparkan bahan peledak kearah Chanyeol dan Dio. Tapi itu bukan masalah sulit untuk kedua namja itu, karna dengan cepat Chanyeol melemparkan bola-bola apinya kearah para Lucifer, sementara Dio menggerakkan tanah hingga membuat para Lucifer itu terlempar jauh atau bahkan terkubur kedalam tanah. Tapi ada juga beberapa Lucifer yang berlari kedalam markas untuk melaporkan situasi yang terjadi pada pemimpin mereka.

Chanyeol mendaratkan burung Phoenixnya ketika mereka sampai dibalkon markas tersebut. Setelah menghilangkan kembali bisonnya, mereka berlari kedalam markas. Keadaan dilantai dua terlihat tidak jauh berbeda dengan keadaan yang nampak dari luar. Ruangan itu nampak hancur dan sangat berantakan. Ada beberapa jenazah Lucifer yang tergeletak tak karuan. Chanyeol dan Dio menerawang kesekeliling untuk mewaspadai jika tiba-tiba ada yang menyerang mereka.

 

BOOM

 

Suara ledakan lagi-lagi tertangkap indra pendengaran mereka. Dan bersamaan dengan itu, beberapa Lucifer tiba-tiba berlari kearah mereka dengan sebuah tombak atau sebuah anak panah ditangan masing-masing.

Dio mengambil sikap ancang-ancang, “Hyung kau pergilah! Biar aku yang mengatasi mereka” ucap Dio sambil mulai menggerakan beberapa reruntuhan bangunan yang ada disekitarnya. Chanyeol mengangguk mengerti kemudian pergi mencari sumber dari ledakan tadi.

Chanyeol berlari menyusuri lantai dua yang sangat luas itu. Ia rasa dia sudah berjalan kearah yang benar tapi entah mengapa ia sama sekali tidak berhasil menemukan sumber ledakan. Sampai akhirnya ia berhenti disalah satu ruangan rapat. Diruangan tersebut ia lihat seorang namja bermata merah dan 2 orang gadis yang tengah meringis kesakitan karna luka yang cukup banyak ditubuh mereka.

“Taeyeon noona! Yoona noona!” pekik Chanyeol seraya berlari menghampiri kedua gadis itu. Mata kedua gadis itu membulat melihat Chanyeol ada disana.

“Se..sedang apa..kau disini?” tanya Yoona dengan nafas yang terengah.

“Tentu saja untuk menolong kalian..” ucap Chanyeol sambil berusaha tidak menatap mata ketua Lucifer yang dapat dengan mudah menyerap cakranya itu.

Taeyeon mengedarkan matanya mencoba mencari apakah ada orang lain yang datang bersama Chanyeol. “Kau sendirian?” tanya gadis berambut pirang itu yang kemudian dijawab anggukan dari Chanyeol.

Onew menyeringai, “Waw.. Kau datang disaat yang tepat Chanyeol-sshi. Kebetulan kami sedang mencari tumbal untuk upacara kami. Awalnya kami sedikit kecewa karna dikelompok para gadis ini tidak memiliki keturunan Selma, tapi beruntung sekali kau datang. Kami mendapatkan mangsa yang kami inginkan..”

Chanyeol mengambil sikap ancang-ancang, “Coba saja! Kau tidak akan bisa mengalahkanku!”

 

 

*****

Sehun berlari menelusuri koridor-koridor dibagian belakang markas megah tersebut. Semua hancur berantakan, perabotan diruangan itu banyak yang hangus dan sudah terbagi menjadi beberapa bagian. Tembok-tembok dimarkas itu juga banyak yang hancur dan mempunyai spot bekas ledakan. Sehun juga terus memastikan setiap ruangan yang ia lewati kalau-kalau ada korban yang tergeletak disana. Dan Sehun bernafas lega, ketika yang ia lihat hanya korban dari kubu musuh mereka.

“Aissh.. Dimana mereka?” gumam Sehun sambil terus berlari.

“Aaaakkkkhhh!!” Suara teriakan berhasil membuat Sehun menghentikan langkahnya. Ia berhenti lalu mempertajam pendengarannya.

“Seohyun’ah!! Sunny eonni!!”

Satu teriakan lagi yang akhirnya meyakinkan Sehun tentang kepastian asal sumber suara. Sehun berlari keujung koridor hingga ia sampai disebuah aula tengah markas tersebut. Ia menghentikan langkah ketika ia lihat ada 3 orang yeoja tengah berhadapan dengan seorang namja tampan berjubah hitam. Disebelah namja itu ada seekor ular cobra raksasa, dan burung elang raksasa disebelah seorang gadis bertubuh jangkung. Ketiga gadis itu memiliki banyak luka ditubuh mereka, sedangkan sang namja hanya sedikit lecet dibagian pipi dan lengan jubahnya sobek.

Namja itu menyeringai kemudian melemparkan dua belati api kearah dua gadis yang tersungkur dilantai. Tapi dengan cepat elang raksasa tersebut berdiri didepan salah satu gadis bertubuh mungil menjadi perisai. Sedangkan satu gadis lagi menggunakan tubuhnya untuk melindungi temannya.

 

“AKKKHHHH”

 

Bluzzz

 

Gadis itu tertusuk belati dibagian perut dan elangnya juga menghilang terkena belati. Dengan cepat teman yang terlindungi itu menangkap tubuh temannya yang terjatuh.

“Sooyoung eonni!!!” teriak gadis itu memanggil temannya yang terluka karna melindunginya.

“Seohyun’ah awaass!!” pekik seorang gadis bertubuh mungil saat  melihat sebuah bola api mengarah ke kedua temannya.

 

Wuuuzzzzzz

 

Dengan cepat Sehun menghebuskan angin yang cukup kuat dari tangan kanannya. Angin itu berputar disekeliling bola api dan akhirnya melenyapkannya. Semua mata diruangan itu tercengang, dan segera mengalihkan pandangan mereka pada arah datang angin tersebut.

“Sehun’ah?!” ucap Sunny saat ia lihat seorang namja tengah berjalan kearah mereka.Wajah kedua gadis itu berubah berbinar, ketika mereka merasa Tuhan mengirimkan Sehun sebagai malaikat penolong untuk mereka. Ya, mereka sudah cukup kelelahan menghadapi Minho yang adalah seorang Selma terkuat.

Minho menyeringai, “Kau lagi..” ucapnya sambil memandang remeh kearah Sehun.

“Se..sehun’ah kenap..kenapa kau bi..sa ada disini?” tanya Sooyoung terbata mengingat belati api Minho masih menancap diperutnya.

“Ne, aku datang untuk membantu..” jawab Sehun sambil menatap Minho tajam.

Minho mendengus geli, “Cih.. membantu. Dasar orang-orang naif. Rasakan ini!” Minho menyemburkan kobaran api dari telapak tangannya. Tapi api itu berhasil dileyapkan dengan angin topan besar yang berputar di depan Sehun.

“Casus belli!” pekik Minho yang segera direspon oleh bisonnya. Bisonnya membuka mulut lalu menyemburkan racun kearah Sehun. Tapi beruntung Seohyun segera membuat perisai dengan airnya.

“Sial!” umpat Minho geram. Namun wajahnya tiba-tiba berubah senang ketika melihat salah satu dari lawannya mulai melemah.

“Akkkhhh”

“Sooyoung eonni bertahanlah! Ya tuhan bagaimana ini?” ucap Seohyun panik ketika sadar kalau wajah temannya sudah sangat pucat. Bahkan darah Sooyoung sudah membuat genangan dilantai.

Sunny bangkit lalu berlari menghampiri kedua temannya, “Gawat! Dia bisa kehabisan darah!”

“Kalian pergilah dan selamatkan Sooyoung noona” ucap Sehun sambil tetap fokus pada Minho yang masih menatapnya tajam.

“Kita harus membawanya pada Tiffany” ucap Sunny sambil membantu Seohyun mempodong Sooyoung.

“Tidak bisa! Tiffany eonni pasti juga sedang sibuk bertarung”

Mengerti dengan percakapan dua gadis dibelakangnya, Sehun mencopot kalung lambang Exo nya lalu menyerahkannya pada Seohyun. “Gunakan ini untuk memanggil Lay hyung. Dia bisa membantu”

“Terimakasih Sehun’ah. Tapi bagaimana denganmu?”

“Tidak apa-apa serahkan saja dia padaku”

“Baiklah.. Sooyoung’ah? Bisakah kau keluarkan elangmu?” tanya Sunny yang dijawab sebuah anggukan dari Sooyoung. Dengan sekuat tenaga gadis jangkung itu menjentikkan jari untuk memanggil seekor elang raksasa. Melihat ketiga gadis itu kesulitan naik kepunggung binatang itu, Sehun pun mencoba membantu.

“Cih.. aku muak melihat pemandangan seperti itu!” pekik Minho sambil melemparkan hujan bola api kearah musuhnya. Sontak mata Sehun membulat namun dengan cepat dia berlari kedepan elang Sooyoung lalu membuat angin besar berbentuk setengah bola mengerubungi mereka.

 

Duaaarr

 

Duuarrr

 

Bola-bola api itu terlempar dan  membentur kesembarang arah. Menghancurkan tembok-tembok diaula luas itu. Merasa sudah tidak ada lagi bola api yang datang, Sehun membuka perisainya lalu membiarkan elang tersebut terbang. Namun nafas Sehun tercekat ketika melihat sebuah bola api raksasa terbang mengarah ke elang yang baru saja akan terbang. Segera Sehun berlari untuk melindungi. Tapi sayang.. karna terlalu tiba-tiba angin yang Sehun keluarkan terlalu kecil untuk bola api sebesar itu. Alhasil tubuhnya terlempar dan lengan kanannya sedikit melepuh terkena api.

 

Bugh

 

“AKKKKHHH” Sehun meringis ketika ia rasakan tulang punggungnya membentur tembok. Lengannya yang terbakar juga terasa perih. Tapi syukurlah ketiga gadis itu bisa pergi. Dengan agak tertatih Sehun bangkit lalu memandang Minho yang tersenyum puas melihatnya terluka.

“Kau tidak apa-apa Sehunnie? Oh sepertinya tanganmu terluka?” ucap Minho dengan ekspresi kasihan yang dibuat-buat.

Sehun mendengus geli sambil membuang muka, “Bukan urusanmu..”

“Tunggu dulu! Bukankah jiwamu sudah terbagi sekarang? Kalau tanganmu terluka, itu berarti gadis cantik itu juga terluka? Benarkan? Ah apakah kau tidak kasihan pada gadis itu Sehunnie..”

“Tutup mulutmu!”

Minho menyeringai, “Bagaimana rasanya tidak bisa memiliki orang yang kau cintai Oh Sehun?” tanya Minho dengan wajah yang seketika berubah serius.

Sehun mengernyit, “Apa?”

“Bukankah kau sudah menjadi milik gadis berambut hitam itu. Berarti kau tidak bisa bersama Hana kan? Ah pasti rasanya sakit kan?”

“Hyung? sebenarnya apa modusmu melakukan ini semua padaku?”

Minho mengendikkan bahu, “Untuk apa lagi? Tentu saja untuk balas dendam” ucap Minho santai yang membuat kening Sehun mengkerut semakin dalam.

“Balas dendam?”

“Aku ingin membuatmu merasakan apa yang aku rasakan Sehunnie. Bagaimana rasanya jika kita mencintai seseorang tapi ternyata kita tidak bisa memilikinya” ucap Minho dan tatapannya berubah sendu. Sehun pun terdiam ketika sebuah memori teringat diotaknya. Ucapan Minho itu seolah memberinya petunjuk, dan ia mengerti kemana arah pembicaraan ini.

“Jadi kau masih belum merelakan Jihyun?” tanya Sehun sedikit hati-hati.

“Kau pikir bagaimana?! Seorang yang aku cintai ternyata malah mencintai adik sepupuku sendiri. Bahkan hanya karna adik sepupuku menolak cintanya, dia bunuh diri! Kau pikir bagaimana perasaanku hah?!” tatapan Minho kembali berkilat-kilat seolah ingin menerkam Sehun dan melumatnya hidup-hidup.

Sehun tersentak, “Hyung kau tau kan cinta itu tidak bisa dipaksakan! Kau tau aku juga merasa bersalah! Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah menyukai orang lain. Dan lagi pula siapa yang tau dia akan bertindak sejauh itu?!”

“Cih.. munafik!! Aku tidak peduli apa yang kau rasakan. Setauku.. nyawa haruslah dibayar dengan nyawa!!”

 

BOOOM

 

Sebuah bola api besar berhasil membakar tempat Sehun berdiri. Tapi beruntung gerakan Sehun cukup cepat untuk menghindar.

“Cih.. Kau hebat juga ya Sehunnie. Andai saja tidak ada Chanyeol disini, mungkin kau yang akan kami jadikan tumbal. Tapi tidak apa-apa kau bisa kami jadikan cadangan. Atau.. aku yang akan menghabisimu!”

 

Duaaarrr

 

*****

 

Hampir satu jam berlalu sejak keberangkatan 4 malaikat pemilik elemen utama. Semua masih berjaga diruang tengah dengan kewaspadaan penuh. Takut jika tiba-tiba Lucifer menyerang kemarkas mereka. Apalagi mereka menyimpan sebuah benda yang menjadi elemen utama dalam masalah ini. Jika mereka lengah dan benda itu jatuh ketangan para iblis tersebut, maka itu sama saja membuang sia-sia nyawa semua mahluk ciptaan Tuhan.

Hana duduk diruang tengah bersama 6 orang malaikat yang bertugas menjaga markas. Kegelisahan membuncah dihati gadis itu. Sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Bahkan untuk bernafas saja adalah sebuah kegiatan sulit yang bisa dia lakukan. Lorong dihatinya hanya penuh rasa cemas dan takut. Dipikirannya terus saja terputar mimpi yang ia alami semalam. Satu mimpi yang benar-benar semakin meningkatkan tingkat kecemasannya.

Kai yang duduk disebelah gadis itu hanya bisa terus menghela nafas. Dalam satu menit gadis itu bisa 3 kali merubah posisi duduknya. Kai tau kalau gadis itu sangat takut, karna dirinya juga merasakan hal yang sama. Semua orang diruangan ini cemas, takut jika terjadi sesuatu pada rekan mereka. Tapi melihat Hana tersiksa akan kegelisahan seperti itu membuat hatinya makin tak karuan. Kai menghela nafas lalu dengan cepat meraih tangan Hana yang tiba-tiba saja bangun dari duduknya. Hana berhenti lalu memandang Kai dengan tatapan pilu.

Kai mendongak membalas tatapan Hana dengan tatapan teduhnya, “Kau mau kemana?” tanya Kai lembut.

“Aku mau keluar Jongin’ah. Aku ingin melihat mungkin saja mereka sudah datang..” ucap Hana sambil melepaskan tangan Kai dan kembali melangkah. Sangat sigap Kai kembali menarik tangan gadis itu hingga kembali duduk ditempatnya.

“Tetap disini.. berbahaya kalau kau keluar” ucap Kai sambil mempererat genggaman tangannya.

“Kai benar Hana’ah, sebentar lagi mereka pasti datang..” ucap Baekhyun yang duduk disebelah kiri Hana sambil mengelus punggung gadis yang tengah kalut itu.

“Jongin’ah? Apa mereka akan baik-baik saja?” tanya Hana seraya menunduk dalam.

Kai mengangguk, “Tentu saja.. mereka adalah malaikat yang hebat. Mereka pasti—“

“Hyung! Itu.. kalungmu bersinar!!” pekik Chen memotong ucapan Kai ketika ia lihat kalung milik Lay bersinar. Mata Chen membulat seraya menunjuk kalung Lay yang duduk didepannya. Semua orang diruangan itu pun menoleh seketika. Semua mata membalak ketika melihat kejadian itu.

“Apa ada yang meminta bantuan?” tanya Xiumin sambil bangkit dari duduknya. Lay memejamkan mata mencoba mencari tau seberapa jauh orang yang meminta bantuan padanya.

“Kelihatannya tidak jauh dari sini.. orang itu dalam perjalanan” ucap Lay masih sambil memjamkan mata. Semua orang diruangan itu mencoba tenang sambil memperhatikan Lay dengan seksama. Tidak sabar menunggu ucapan yang keluar dari mulut namja lembut itu.

Mata Tao membulat saat ia tidak sengaja melirik jendela besar didepannya, “Itu disana!” seru Tao sambil menunjuk keluar benda transparan didepannya. Semua menoleh dan mengikuti arah telunjuk Tao. Dan mata mereka membulat ketika melihat sebuah elang yang terbang agak tertatih dengan 3 orang penumpang diatasnya.

Semua bangkit dari duduk kemudian berlari keluar markas. Kegelisahaan Hana semakin menyiksa, walau ia tidak tau bison milik siapa elang itu yang jelas ia berharap-harap cemas takut jika yang datang adalah salah satu dari empat namja itu dan dengan luka yang parah. Elang itu mendarat didepan pintu masuk markas. Para prajurit Olympus itu terkejut ketika mendapati elang itu sudah terkapar dilantai teras dan semakin tercengang ketika mereka lihat 3 orang gadis terluka parah terduduk disebelah elang tersebut.

“Noona?!” pekik Lay sambil berlari menghampiri ketiga gadis itu. Ia semakin terkejut ketika melihat salah stau dari mereka berlumuran darah.

“Cepat bantu aku membawa mereka kedalam!” ucap Lay memberi intrupsi pada teman-temannya yang kemudian dijawab anggukan mantap dari semuanya.

“Biar aku yang membawa Sooyoung noona..” ucap Kai sambil dengan segera menggendong gadis berambut panjang itu. Tanpa basa-basi Kai pun berteleportasi menuju ruang perawatan. Hana, Baekhyun dan Tao pun membantu Lay membopong Sunny dan Seohyun. Sementara Chen dan Xiumin yang membawa bison Sooyoung keruang perawatan bison diruang bawah tanah. Setelah membaringkan Seohyun dan Sunny disofa ruang tengah, Lay dengan segera berlari kelantai dua untuk mengobati Sooyoung.

“Baekhyun’ah? Ayo ikut aku mengambil obat untuk Seohyun dan Sunny noona” ucap Lay sambil berlari menaiki tangga menuju lantai dua dan Baekhyun pun mengekor dibelakang Lay.

Hana masih terdiam ditempatnya, memandang kedua gadis didepannya dengan tatapan pilu. Tanpa sadar matanya sudah memberat. Walau ia tidak mengenal kedua gadis itu tapi melihat bagaimana luka yang memenuhi tubuh mereka membuat Hana tak mampu menahan airmata. Akankah Sehun, Suho, Chanyeol atau Dio akan kembali dalam keadaan seperti ini?

“Noona? Apa yang terjadi?” tanya Tao dengan suara yang sedikit bergetar. Dapat Hana lihat kecemasan diwajah namja itu.

“Kami diserang Minho..” ucap Seohyun sambil meringis memegang lengannya yang sobek.

“Bagaimana bisa? Minho.. adalah Selma terkuat” ucap Tao dengan tatapan tak percaya.

Sunny berusaha bangun dan duduk disofa, “Sehun yang menolong kami. Untung saja dia datang, kalau tidak.. kami tidak tau apa yang akan terjadi pada kami”

 

Deg

 

Nafas Hana seketika tercekat ketika mendengar nama Sehun. Dadanya bergemuruh dan sesak lagi-lagi menyeruak. Airmatanya malah jatuh semakin deras. Mereka bilang Sehun?

“Lalu bagaimana keadaan Sehun? Apa dia baik-baik saja?” tanya Hana dengan nada yang terdengar menuntut. Ia tatap kedua gadis itu bergantian dengan wajah berlinang airmata. Seohyun dan Sunny hanya menunduk, membuat Tao dan Hana semakin khawatir.

“Ini obat untuk kalian.. Hana tolong bantu oleskan ini pada kulit Seohyun noona yang sobek. Kalian gunakan saja kamar Lay dan Luhan hyung” ucap Baekhyun yang datang membawa banyak obat ditangannya. Hana mengangguk kemudian mengambil obat yang sodorkan Baekhyun. Hana berjongkok disebelah sofa tempat Seohyun berbaring lalu membantu gadis itu bangun. Hana membopong gadis itu menuju kamar Lay dan Luhan. Seohyun duduk diranjang Lay, dan Hana pun mulai mengoleskan obat diluka yang ada dilengan dan kaki Seohyun.

“Maaf.. Tolong kau angkat bajumu..” ucap Hana lembut setelah selesai mengobati luka dikaki dan lengan gadis anggun didepannya. Seohyun mengangguk lalu mengangkat bajunya. Hana tersentak melihat luka sobekan yang cukup banyak dibagian perut dan punggung gadis itu.

“Akkkhh..” ringis Seohyun saat Hana mengoleskan obat pada luka dibagian pinggangnya. Luka itu sangat besar dan dalam, bisa dibilang luka itu adalah yang paling parah. Jika didunia manusia, sudah jelas itu harus dioperasi.

“Kenapa bisa separah ini? Pasti sangat sakit. Luka seperti ini bukankah seharusnya dijahit?”

Seohyun tersenyum, “Luka seperti ini bagi kami adalah hal yang biasa Hana-sshi”

Hana mendongak dan menatap Seohyun tak percaya, “Biasa?! Luka seperti kau bilang biasa?! Kau bisa infeksi bahkan bisa lumpuh!”

“Hihihi.. kau tau obat apa yang kau pegang itu Hana-sshi?” tanya Seohyun lembut yang dijawab gelengan polos dari Hana.

“Obat itu adalah obat ajaib, dengan obat itu luka sobek sedalam apapun dalam waktu 3 hari akan sembuh tanpa bekas..” ucap Seohyun sedikit berbisik seolah itu adalah rahasia besar.

Mata Hana membulat, “Benarkah?!”

Melihat reaksi Hana yang nampak takjub dengan ucapannya membuat Seohyun tertawa, “Hahaha tidak juga. Lukanya memang sembuh dalam waktu 3 hari, tapi bekasnya mungkin baru hilang setelah sebulan”

“Aishh.. Aku kira sungguhan..” cibir Hana lalu kembali melanjutkan aktivitasnya mengobati Seohyun.

Seohyun memandang gadis manis didepannya dengan seksama, mengamati wajah manis gadis itu membuatnya ingat akan seseorang. Seulas senyum pun tergambar diwajah Seohyun, “Kau pasti seorang Austrin yang hebat..”

“Eh? Mana mungkin.. mengendalikan satu elemen utama saja aku tidak becus” ucap Hana sembari menghela nafas lalu duduk disebelah Seohyun. Gadis itu memutar posisi duduknya kearah kanan agar Hana bisa mengoleskan obat dipunggungnya.

“Kau hanya belum terbiasa Hana-sshi”

“Semuanya terus saja mengatakan hal itu padaku. Entah kapan aku akan terbiasa..”

Seohyun terkekeh, “Seperti ini denganmu aku jadi ingat pada Yuri eonni..” gumam Seohyun pelan.

“Ne?”

“Ah tidak bukan apa-apa.. “

Keheningan pun menyeruak, tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Entah kehabisan topik atau apa, yang jelas suara jam dinding diruangan itu seakan menjadi musik pengiring. Hana masih sibuk mengolesi luka goresan yang begitu banyak dipunggung putih Seohyun. Cukup takjub karna gadis itu benar-benar kuat. Bahkan ia masih bisa tersenyum dengan luka sebanyak dan separah itu. Hana iri padanya.. bisakah dia sekuat itu?

“Chanyeol’ah?!”

Suara teriakan Chen membuat Hana dan Seohyun tertegun. Tangan Hana yang tadinya bergerak lihai mengolesi obat kini diam tak bergerak. Sedetik Hana dan Seohyun saling menatap kemudian dengan cepat Hana berlari keluar kamar menuju ruang tengah yang kemudian disusul oleh Seohyun. Hana berlari dengan kecemasan yang mencapai puncaknya. Segala pikiran buruk menerpa dan otaknya mulai berharap-harap cemas lagi. Perasaannya tak karuan, merasa senang sekaligus takut. Tanpa sadar airmata sudah kembali membasahi pipinya.

Sampai akhirnya dia sampai diruang tengah. Jangkauan matanya agak terganggu karna airmata yang menumpuk dipelupuk mata. Karna itu perlahan dia terus berjalan lebih dekat. Ia perhatikan setiap wajah namja yang ada diruangan itu. Chanyeol..Suho..Dio dan… Mata gadis itu pun membulat ketika ia tak melihat seseorang..

 

Deg

 

“Di..Dimana Sehun?!” tanya gadis itu setengah berteriak. Semua namja termasuk Sunny hanya menunduk dalam. Mata Suho berkaca-kaca, dan Chanyeol nampak sangat menyesal.

“AKU TANYA DIMANA SEHUN?!!!” pekik gadis itu keras. Suaranya bergetar dan airmatanya mengalir deras. Sadar kalau gadis itu takkan bisa menahan emosinya, Kai mendekat lalu mencoba menenangkan gadis itu.

“Maafkan kami..” ucap Dio yang juga sudah berlinang airmata.

Hana menggeleng tak percaya, “Tidak mungkin! Sehun pasti baik-baik saja! Dia berjanji padaku akan kembali dengan selamat!!” pekik gadis itu lagi dengan tangis yang semakin menjadi.

“Awalnya mereka mengincar Chanyeol. Tapi karna Chanyeol terlalu kuat mereka tidak berhasil mendapatkannya. Dan dengan kondisi tubuh Sehun yang hanya memiliki setengah cakra membuat Sehun mudah lemah. Apalagi dia melawan Minho, akhirnya… dia tertangkap..” jelas Suho dengan nada amat menyesal bahkan ia sama sekali tidak mengangkat wajahnya.

“Tidak mungkin..” kaki Hana melemas dan dadanya semakin sesak. Seolah mendapatkan hantaman keras, Hana seketika terduduk dilantai. Ingatan tentang mimpi itu kembali terbersit. Mimpi itu.. apa mimpi itu benar-benar sebuah pertanda?

“Padahal sudah kukatakan padanya jika butuh bantuan gunakan kalungnya. Entah apa yang bocah itu pikirkan?!”

Sunny dan Seohyun tersentak, mendengar ucapan Suho membuat mereka ingat kalau Sehun memberikan kalungnya pada mereka. Seohyun pun berjalan mendekat sambil mengeluarkan kalung Sehun dari saku celananya.

“Tidak Suho’ah.. Sehun memberikan kalungnya pada kami..” ucap Seohyun yang seketika membuat Suho mendongak. “Dia memberikan kami ini agar kami bisa meminta bantuan Lay untuk mengobati Sooyoung eonni yang sudah sangat kritis” lanjut Seohyun sambil menyerahkan kalung Sehun pada Suho. Dengan ragu Suho pun mengambil kalung tersebut lalu menatapnya tak percaya.

“Maafkan kami..” ucap Sunny pelan.

“Lalu Sehun akan jadi.. tumbal?” tanya Baekhyun ragu-ragu takut jika ia salah bicara. Chanyeol pun mengangguk tanda mengiyakan. Disanalah Hana kembali tertegun, menjadi tumbal berarti mati. Itu berarti Sehun akan dibunuh? Tidak boleh!

Hana bangun lalu mencoba menegakkan tubuhnya, “Tidak! Sehun tidak boleh jadi tumbal! Kita harus menyelamatkannya!”pekik Hana sambil berlari menuju pintu. Semua mata membulat melihat aksi Parakletos mereka itu.

“Hanie!” teriak Suho mencegah Hana tapi gadis itu sama sekali tak peduli. Pikiranya kalut dan emosinya sedang tak terkendali. Otaknya hanya terpatri pada satu objek—Sehun..

“Hana’ah tenanglah..” ucap Kai yang berhasil meraih tangan Hana. Ditariknya tangan Hana hingga sampai kepelukannya. Awalnya Hana terus memberontak namun akhirnya gadis itu mulai tenang. Kai mengelus lembut rambut gadis yang sedang terbawa emosi itu.

“Kita harus.. hiks.. menyelamatkan Sehun Jongin’ah..” ucap Hana disela isakannya.

Kai mengangguk, “Kami tau.. kita pasti akan menyelamatkannya Hana’ah. Hanya saja tidak sekarang. Kita akan pikirkan strategi dulu..”

 

 

 

*****

Hana duduk didepan jendela besar kamarnya sambil memandang bulan yang bersinar terang dilangit malam itu. Ukuran bulan dinegri itu memang terlihat lebih besar dari bulan yang biasa dia lihat diSeoul. Entah perasaan gadis itu saja atau memang bulan malam itu bersinar lebih terang dari biasanya. Seolah sedang bersemangat untuk membagi cahaya pada bintang disekelilingnya.

Bertolak belakang dengan suasana hati gadis manis dikamar itu. Cahaya yang biasanya terang kini redup karna kesedihan. Hana masih menangis sambil memeluk lututnya. Wajahnya benar-benar kusut dan matanya bengkak. Sejak tau kalau Sehun diculik dan akan dijadikan tumbal oleh para Lucifer tersebut, Hana tak henti-hentinya menangis. Ia menyesal dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa kalau dia sudah gagal menjadi seorang Parakletos. Sudah berulang kali para namja itu menenangkannya, tapi usaha mereka selalu sia-sia. Gadis itu terlalu terpukul dan terlalu takut akan kehilangan Sehun. Hingga saat ini firasat buruk terus saja menghantuinya. Pikiran-pikiran negative tentang mimpi yang ia alami semalam terus saja terbersit. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak, dan ketakutan akan mimpi itu akan menjadi nyata semakin membuncah.

Kondisi juga semakin tak terkendali. Para prajurit Olympus itu kini sedang mepercepat gerakan mereka untuk segera menemukan markas besar Lucifer. Bukan hanya karna ingin menyelamatkan Sehun tapi mereka tidak ingin semakin banyak korban yang berjatuhan. Semua sedang pergi bertugas kecuali Lay, Kai dan Luhan. Mereka diminta untuk menjaga Hana sekaligus menjaga Sooyoung yang masih kritis hingga saat ini. Apalagi tugas Lay semakin bertambah ketika satu pasien lagi datang dengan luka parah.

Hyosun.. Kris dan Luhan tiba-tiba datang dengan membawa seoang gadis yang terluka parah. Mereka sama sekali tidak mendapat serangan apapun, tapi tangan Hyosun melepuh, kepalanya bocor dan kulit di kakinya sobek cukup dalam. Dan itulah yang membuat Hana semakin tak bisa mengendalikan kekalutannya. Semua orang tau Hyosun sudah menyatu dengan Sehun, dan luka itu pasti ia dapat karna Sehun juga merasakannya. Sehun terluka separah itu dan kini ia disandera, tidak ada alasan lagi bagi Hana untuk tidak menangis.

 

Ceklek

 

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan derap langkah kaki pun terdengar berjalan kearahnya. Sementara sang pemilik kamar sama sekali tidak berkutik dari tempatnya. Tatapan kosong Hana masih memandang keluar jendela.

“Hana’ah? Ini aku bawakan kau susu coklat” ucap Kai mengambil posisi disebelah Hana lalu menyodorkan segelas susu coklat kesukaan Hana. Gadis itu bergeming tidak menggubris tawaran Kai. Disitulah hati Kai semakin teriris, melihat gadis yang ia cintai seperti itu karna namja lain. Kai tau merasa cemburu disaat seperti ini bukanlah waktu yang tepat, tapi ia hanya tidak sanggup melihat pujaan hatinya tersiksa akan kesedihan seperti itu. Melihat tatapan kosong gadis itu membuat Kai terhenyak, tatapan kosong yang dengan jelas menyiratkan kesedihan yang amat dalam. Lubang dihatinya semakin dalam, semakin mengerti bagaimana berartinya Sehun bagi gadis itu. Ia rasa ia sudah tak kuat lagi.

“Semua masih berusaha.. secepatnya kita pasti bisa menemukan markas Lucifer itu” ucap Kai sembari meletakkan gelas yang dipegangnya.

“Sehun berjanji kalau dia akan pulang dengan selamat Jongin’ah. Dia berjanji.. tapi.. tapi kenapa dia tidak menepatinya?” suara gadis itu terdengar serak dan airmatanya kembali menetes.

“Dia pasti akan kembali Hana’ah..” ucap Kai sambil mengelus punggung Hana lembut. Mencoba menenangkan gadis yang kembali terisak itu. Suasana hening seketika.. tidak ada lagi yang bicara, hanya terdengar suara isakan dari bibir Hana. Kai bingung harus bagaimana, terlalu tak sanggup melihat Hana terus seperti itu. Kai tau apa yang dibutuhkan Hana, dan ia harus membawa hal itu kembali agar gadis manis yang dicintainya bahagia.

“Hana’ah aku mecintaimu..” ucap Kai pelan namun cukup tertangkap ditelinga Hana. Hana tertegun, dengan masih terisak ia tatapan kedua mata bening Kai. Dengan susah payah menelaah ucapan namja itu.

Kai menunduk, “Aku sangat mencintaimu Hana’ah. Walau aku tidak tau bagaimana perasaanmu padaku tapi aku tetap harus mengatakannya. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab, aku hanya sudah tak sanggup menyimpan sendiri lebih lama..” Kai memotong kalimatnya sejenak, dan setelah ia menghela nafas ia kembali melanjutkan kalimatnya. “Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini Hana’ah. Aku tersiksa melihatmu menangis. Karna itu aku akan menghentikannya. Akan aku hentikan karna aku akan membawa Sehun kembali untukmu. Kalau perlu biar aku yang menggantikannya untukmu. Menggantikannya dan membiarkannya kembali kesisimu. Lebih baik aku yang pergi dari pada tersiksa melihatmu menangis. Aku rela menggantikan Sehun untuk mengembalikan seyummu..”

“Jongin..”

Kai mendongak, “Kau sangat ingin Sehun kembali kan?”

Hana mengangguk ragu, “I-iya tapi—“

“Kalau begitu aku mohon berhentilah menangis. Aku berjanji akan membawanya kembali untukmu. Segera dan dia pasti akan kembali dengan selamat. Tapi aku mohon jangan membuang airmatamu lagi. Tersenyumlah.. karna senyummu begitu berharga untukku Hana’ah..” ucap Kai sambil menggenggam erat tangan Hana. Hana hanya terdiam, tak tau harus menjawab apa. Jantungnya berdebar dan wajahnya tiba-tiba memanas. Benar ia begitu ingin Sehun kembali, benar ia menangis karna Sehun tak ada disisinya. Tapi ia sendiri tak mengerti kenapa ia bisa seterpukul ini. Dan ia juga tidak tau, apa jika hanya Sehun kembali maka akan membuat hatinya kembali tenang.

Kai menghela nafas ketika melihat gadis didepannya hanya diam dan menatapnya tak berkedip. Tapi ia pikir mungkin karna gadis itu terlalu senang hingga membuatnya tak mampu berkata. Kai melepas genggamannya kemudian berdiri.

“Berjanjilah untuk berhenti menangis Hana’ah..” ucap Kai sambil memulai langkahnya keluar kamar. Tapi langkahnya terhenti ketika sebuah tangan menahannya. Ia berbalik dan menatap wajah bingung Hana. Gadis itu malah nampak gelisah.

Kai mengernyit, “Ada apa?”

“Jongin’ah.. Aku..” Hana kehilangan kata-katanya. Ia sendiri bingung harus bagaimana. Ia senang Kai bertekad untuk membawa Sehun kembali dengan selamat. Tapi Kai rela berkorban menggantikan Sehun untuk dirinya? Bukankah itu keputusan yang salah? Saat ia masih sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, Kai tiba-tiba melepaskan genggamannya. Ia tersentak dan terkejut ketika melihat Kai sudah berjalan keluar pintu. Hana tiba-tiba saja panik, entah kenapa bukannya lega ia malah semakin merasa tak karuan. Hatinya berteriak dan memerintahkannya untuk menghentikan Kai tapi pikirannya malah memaksanya untuk diam. Ia semakin kalut melihat Kai pergi membahayakan nyawanya sendiri hanya untuk dirinya. Ia memegang kepalanya lalu terduduk diranjang.

“Mungkinkah aku.. juga mencintainya?”

 

 

*****

“Akhhh..” ringis Hyosun sambil berusaha duduk diranjangnya. Dengan tertatih Hyosun berusaha bangun dari tidurnya. Tangan, kaki dan kepalanya yang penuh perban membuatnya kesulitan bergerak. Apalagi rasa sakit yang masih sangat terasa.

Ruang perawatan itu nampak kosong dan gelap. Hanya diterangi lampu tidur yang ada diatas meja dekat tempat tidur. Diruangan luas itu juga hanya ada dia dan satu orang pasien lagi yang terlihat masih terbaring lemah. Dengan kerja keras Hyosun turun dari ranjangnya lalu mencoba berjalan kejendela yang ada disebelah kanan ranjangnya. Bermaksud untuk menyibak korden agar ia bisa memandang langit malam yang kelihatannya sangat indah malam itu. Hyosun menggigit bibir bawahnya karna kesakitan ketika ia mulai menggerakkan kaki kanannya yang penuh luka. Ia berjalan sambil berpegangan dimeja yang ada didekat ranjangnya. Ia ulurkan tangannya kedepan saat ia rasa jaraknya cukup dekat untuk meraih korden didepannya. Namun ternyata tangan mungilnya masih tidak sanggup menggapai korden itu.

 

Bruak

 

Hyosun jatuh terduduk dilantai. Kondisi kakinya yang masih sangat lemah membuatnya belum mampu menopang tubuh rampingnya.

“Aduuuh..” rintih Hyosun ketika lengannya yang terluka tidak sengaja membentur kaki meja yang tadi menjadi tumpuannya. Perbannya sedikit tergores hingga luka bakarnya sedikit terlihat. Hyosun melirik lengan kananya itu dan airmatanya tak terbendung ketika melihat luka bakar yang cukup parah ada disana. Ia terisak dan pikirannya kini tertuju pada seseorang yang juga memiliki luka yang sama dengannya.

“Sehun.. apa kau baik-baik saja?” gumam Hyosun disela tangisnya. Bukan hanya tubuhnya, tapi hati gadis itu juga terluka. Sakit saat membayangkan Sehun memiliki luka yang sama dengannya. Dengan luka separah itu apa Sehun mampu bertahan? Dia yang sudah mendapatkan perawatan seperti ini saja masih merasakan sakit yang luar biasa, apalagi Sehun yang sedang menjadi sandera diluar sana?

Hyosun tau jika perasaannya tak akan terbalaskan. Tapi entah kenapa hatinya tetap belum bisa melepas Sehun. Ditambah lagi kini dirinya dan Sehun sudah menyatu, membuatnya semakin sulit melepas namja yang membuatnya tertarik sejak pandangan pertama itu. Ia mencintai Sehun.. dan ia takut kehilangan namja itu.

 

Ceklek

 

Tiba-tiba saja suara decitan pintu terdengar. Seseorang menyalakan lampu ruangan lalu melangkah masuk.

“Hyosun’ah?” suara berat itu memanggil seorang gadis yang tiba-tiba saja tidak terlihat diatas ranjangnya. Kris seketika panik karna Hyosun menghilang. Tapi suara isakan tiba-tiba terdengar. Dengan cepat Kris berjalan menuju arah suara itu datang, dan matanya membulat ketika mendapati gadis yang ia cari tengah terduduk dilantai dengan wajah berlinang airmata.

“Hyosun’ah?! Kau kenapa?” tanya Kris seraya berjongkok untuk menyetarakan arah pandangnya dengan Hyosun. Gadis itu tak menjawab, hanya terus sibuk dengan tangisannya.

“Apa ada yang sakit? Katakan kenapa kau menangis Hyosun’ah?” ucap Kris lembut sambil mengelus puncak kepala gadis manis didepannya.

Hyosun mendongak, “Tidak apa-apa oppa.. tidak ada yang sakit. Aku hanya..aku hanya khawatir pada Sehun..” ucap Hyosun yang sukses membuat Kris tertegun. Tubuhnya membeku dan dia terdiam. Seperti baru saja mendapatkan hantaman telak, Kris merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Jadi perasaan Hyosun pada Sehun masih belum berubah? Walau gadis itu sudah tau betul kalau Sehun tidak memilihnya?

“Ayo kemarilah..” ucap Kris seraya menggendong Hyosun kembali naik keranjangnya. Ia baringkan gadis itu lalu menaikan selimutnya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba tetap bersikap tenang.

“Dia terluka parah oppa.. bagaimana kalau terjadi seuatu padanya? Ini salahku! Kalau saja dia tidak membagi cakranya denganku dia pasti tidak akan kalah..”

Kris menghela nafas, “Tidak Hyosun’ah! Ini bukan salahmu. Mungkin saja jalan kita memang seperti ini. Yang terpenting sekarang adalah terus berusaha untuk menyelamatkan Sehun. Kau juga tidak perlu cemas.. Sehun adalah namja yang kuat. Aku yakin dia akan bertahan..” ucap Kris sambil menangkup wajah Hyosun dengan telapak tangannya yang besar. Setelah Hyosun mulai tenang, Kris membalikkan badan lalu berjalan kearah jendela. “Kau ingin membuka korden kan?” tanya Kris seolah sangat tau kebiasaan gadis itu. Hyosun memang punya kebiasaan memandang langit malam dari jendela kamar setiap kali ia tidak bisa tidur. Kris tau itu karna ia sangat memperhatikan gadis yang berhasil memikat hatinya itu.

Hyosun mengangguk sambil mengusap airmatanya, “Ne oppa..”

“Kuharap Sehun benar-benar akan baik-baik saja..” ucap Hyosun seraya menunduk.

Setelah membuka korden, Kris tarik sebuah kursi lalu duduk disebelah ranjang Hyosun. Hyosun memberikan senyum manisnya pada Kris. “Terimakasih oppa..”

Kris tersentak, seperti biasa dadanya bergemuruh melihat senyum manis gadis itu kearahnya. “N..ne sama-sama..” sahut Kris sedikit gugup.

“Oya bagaimana oppa? Apa kalian sudah temukan alamatnya?”

“Eh? Belum, masih banyak sekali surat tanah yang perlu diperiksa. Apalagi banyak harta yang sudah diwariskan untuk anak cucu professor Kim. Itu membuat kami harus mengumpulkan semua surat harta itu terlebih dahulu” jawab Kris seraya menunduk.

Hyosun menghela nafas lalu mengelus lengan Kris, “Oppa.. berjuanglah. Aku tau kau dan yang lainnya pasti akan berhasil” ucap Hyosun berusaha memberi semangat. Dan benar saja, satu ucapan manis gadis itu memang menjadi candu untuk membangkitkan semangat Kris.

Kris tersenyum simpul, “Ne.. tapi ada salah satu anak dari professor Kim yang tinggal di Adena yaitu didaerah sebelah selatan Concordia. Kami akan memfokuskan penyelidikan kami disana..” jelas Kris yang seketika membuat Hyosun terdiam. Gadis itu nampak berpikir seolah menemukan sesuatu diotaknya.

Hyosun menjentikkan jarinya, “Oya oppa aku ingat! Dibuku yang aku baca menyebutkan kalau ritual Posteriori itu diadakan disebuah tempat di Adena!” ucap Hyosun bersemangat.

Kris mengangkat kedua alisnya, “Benarkah?! Lalu apa upacara Posteriori kali ini juga diadakan disana?”

“Mungkin saja oppa! Jika kita datang tepat saat upacara itu dilakukan, kita pasti bisa menyelamatkan Sehun..”

 

 

*****

 

Malam semakin larut dan jam dinding yang terpajang manis dikamar Hana sudah menunjukkan pukul 11.45 tapi gadis itu masih enggan untuk masuk kealam mimpi. Pikirannya masih tak karuan memikirkan dua namja yang selalu berhasil membuatnya gila karna stress akan tingkah mereka. Hana kini terbaring diranjang sambil menatap lurus langit-langit kamarnya. Menatapnya intens sambil berusaha mencari jawaban atas keraguan hatinya disana.

Pikiran dan hatinya masih berperang hingga sekarang. Berperang untuk menentukan sikap yang harus ia ambil. Entah kenapa perbedaan pendapat tidak bisa dihentikan. Pikirannya kini tidak lagi terfokus hanya pada Sehun tapi juga terpatri pada satu namja lagi yang baru saja mengakatan perasaannya pada Hana. Kata-kata ‘Aku mencintaimu’ yang dilontarkan Kai terus terngiang ditelinganya. Dan tiba-tiba saja semua kenangan panjangnya bersama Kai terputar diotaknya. Sikap menyebalkan, wajah tampan dan senyum teduh yang Kai tujukan padanya juga membuat hatinya bergejolak. Semua tawa, semua kesulitan yang ia lalui bersama Kai juga membuatnya semakin ingin mempertahankan Kai disisinya.

Hana bangun lalu duduk bersila diranjangnya. Menatap jendela besar yang ada didepannya. “Kim Jongin..” nama itu tiba-tiba saja keluar dari bibir merah muda gadis itu. Hana beranjak kemudian mengambil Krystal yang ia simpan dilaci-laci lemarinya. Menatap benda cantik itu intens.

Mimpi yang ia alami malam kemarin juga belum lepas dari pikirannya. Apa sebenarnya pertanda dari mimpi itu? Hana sendiri tau kalau ia sama sekali tidak ingin mimpi itu menjadi kenyataan. Ia duduk ditepi ranjang lalu mencoba mengingat dan menalarkan dengan jelas mimpi yang ia alami.

“Saat itu aku sedang berlari mengejar Jongin lalu Jongin masuk kesebuah gedung yang mewah. Saat aku pergi kegedung itu tiba-tiba saja Jongin dan Sehun sudah menjadi sandera dari para Lucifer didalam sana. Padahal awalnya Jongin sedang bermain bersamaku, itu berarti sebelum Jongin datang dan menjadi sandera, Sehun sudah menjadi sandera lebih dulu?”

 

Deg

 

Benar.. bukankah kejadiannya mirip dengan yang ia alami hari ini? Sehun sudah menjadi sandera para Lucifer itu, dan kini Kai bertekad untuk menyelamatkan Sehun yang berarti ia harus pergi kemarkas para Lucifer tersebut. Bukankah tidak kecil kemungkinan kalau saja Kai kalah dari para Lucifer itu lalu dia juga kan menjadi sandera? Kejadiannya akan sama dengan mimpinya. Dua namja itu akan menjadi sandera dan mungkin saja dia lalu menghilangkan Krystalnya dan itu sama saja akan menghilangkan nyawa dari kedua namja itu? Tidak! Itu tidak boleh terjadi!

Hana semakin panik, ketakutan malah semakin menggerogoti dadanya. Membayangkan bagaimana Sehun dan Kai terbunuh didepan matanya seperti yang terjadi dimimpinya membuat Hana terisak. Dadanya bergemuruh dan darahnya mendidih karna takut. Entah kenapa rasa takut kehilangan yang ia rasakan sekarang berbeda dengan rasa takut kehilangan saat hanya Sehun yang pergi. Kenapa membayangkan Kai pergi lebih menyayat hatinya? Ya.. pasti Kai yang membuat ini terasa semakin berat.

“Aku sangat mencintaimu Hana’ah. Walau aku tidak tau bagaimana perasaanmu padaku tapi aku tetap harus mengatakannya. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab, aku hanya sudah tak sanggup menyimpan sendiri lebih lama..”

“Aku tersiksa melihatmu menangis. Akan aku hentikan karna aku akan membawa Sehun kembali untukmu. Kalau perlu biar aku yang menggantikannya untukmu. Menggantikannya dan membiarkannya kembali kesisimu. Lebih baik aku yang pergi dari pada tersiksa melihatmu menangis. Aku rela menggantikan Sehun untuk mengembalikan seyummu..”

“Jongin..” semua perkataan yang dikatakan namja itu sebelum ia pergi membuat Hana merasakan perih yang amat dalam dihatinya. Seolah baru saja terbangun dari tidur panjang, gadis itu baru menyadari bagaimana isi hatinya sebenarnya. Ia baru sadar siapa yang sebenarnya hatinya inginkan. Ia baru sadar, perjalanan panjang yang ia alami bersama Kai telah membuat hatinya memilih. Semua sikap hangat dan perhatian Kai untuknya telah membuat hatinya merasa nyaman. Airmata semakin deras membasahi wajah gadis itu. Detik itu juga rasanya ia ingin sekali memeluk namja itu.

“Ya.. aku harus mengghentikan Jongin. Mimpi itu tidak boleh menjadi nyata!” Hana bangkit lalu menghambur keluar kamarnya. Ia berlari lurus dikoridor kamarnya menuju sebuah kamar yang terletak diujung satunya. Dengan harap-harap cemas Hana berlari berharap namja itu masih ada didalam kamarnya. Walau itu terdengar sedikit mustahil, tapi yang jelas semoga saja ia tidak terlambat untuk menghentikan namja itu dan mengakatan bahwa Kai salah paham jika mengira dirinya lebih memilih Sehun dari pada namja itu.

 

Jedeeerr

 

“Jongin’ah!!!” pekik Hana bersamaan saat ia buka pintu kamar Kai dan Suho. Dengan cepat ia mengedarkan matanya kesekeliling kamar itu. Tapi hasilnya..―Nihil. Ruangan itu kosong. Bahkan Suho juga belum tidur dikamarnya. Jantung gadis itu berdetak semakin cepat karna takut jika ia benar-benar sudah terlambat. Tapi tiba-tiba saja sebuah suara bass menganggetkannya.

“Hana’ah? Kau sedang apa disini?” tanya Chanyeol dengan kening mengkerut saat mendapati Hana berdiri diambang pintu kamar itu. Apalagi melihat wajah gadis itu berlinang airmata membuatnya semakin bingung.

“Kau? Kau menangis?” tanya Chanyeol agak panik. Dengan terisak Hana menganggukan kepalanya. Mata Chanyeol membulat ketika tangisan Hana malah semakin menjadi.

Chanyeol memegang pundak Hana yang bergetar, “Katakan padaku ada apa? Apa ada yang sakit? Apa kau sakit?” tanya Chanyeol semakin panik.

“Oppa.. kita harus..Hiks.. Kita harus menghentikan Jongin. Kita harus menghentikannya oppa..”

Chaneyol mengernyit tidak mengerti dengan maksut ucapan Hana, “Menghentikan Kai? Memangnya ada apa dengannya?”

“Dia bilang kalau dia akan menyelamatkan Sehun sendirian.. Aku takut terjadi sesuatu padanya oppa.. Bagaimana kalau Lucifer itu juga melukainya? Tolong hentikan dia..”

“Tapi bagaimana bisa? Jika dia mengetahui tempat pasti Sehun berada sekarang, mungkin saja dengan mudah dia mampu berteleportasi. Tapi sampai sekarang bahkan alamat pasti markas para Lucifer itu saja kita belum mendapatkannya. Dia.. dia tidak mungkin kesana Hana’ah..”

Hana menggeleng, “Itu bisa saja oppa.. Kai sudah bertekad padaku. Bagaimana kalau ternyata dia sudah berhasil mendapatkan alamatnya sendirian? Bagaima kalau—“

“Aku yakin Hana’ah. Kai bukanlah orang yang mudah bertindak bodoh. Dia orang yang bertindak berdasarkan sebab dan akibat. Dia bukanlah orang yang bertindak hanya karna pengaruh emosi..” ucap Chanyeol mencoba menenangkan gadis didepannya.

Hana mulai menghentikan tangisnya, mulai tenang jika benar Kai belum pergi kemarkas para Lucifer tersebut. Ia usap airmata dipipinya, “Kalau begitu dimana dia sekarang? Dia tidak ada dikamarnya..”

“Kalau itu aku juga tidak tau Hana’ah. Sejak aku pulang dari penyelidikan tadi aku tidak sempat melihatnya sama sekali. Mungkin dia pergi kesuatu tempat..” ucap Chanyeol seraya melepaskan kedua tangannya dari pundak Hana.

“Kalau begitu ayo cari dia oppa! Aku ingin memastikan bahwa dia benar-benar tidak pergi kemarkas Lucifer sendirian..” ucap Hana sambil menggenggam tangan Chanyeol erat dan menatap Chanyeol dengan tatapan memohon.

Chanyeol menghela nafas lalu mengangguk, “Baiklah kita cari dia. Tapi kau harus janji untuk tetap tenang dan jangan bertindak sembarangan.. mengerti?”

 

 

*****

“Haaah.. haaah.. Jongin’ah kau dimana?” gumam Hana dengan nafas terengah. Dia membungkuk sambil memegangi lututnya. Terlalu lelah sehabis berlari menelusuri sebuah gedung sekolah. Sudah hampir satu setengah jam dia dan Chanyeol mencari Jongin. Mendatangi tempat-tempat yang biasa Jongin kunjungi jika dia sedang butuh waktu sendiri. Dan ini sudah tempat yang ketiga, sebuah gedung sekolah menengah atas tempat Jongin bersekolah sebelum bergabung menjadi prajurit Olympus. Dulu saat Jongin merasa bosan dimarkas dia pernah mengajak Chanyeol bermain kemari. Hana dan Chanyeol berpencar untuk mencari Jongin digedung sekolah yang luas itu. Tapi hingga hampir setengah jam mencari Jongin belum juga ditemukan.

“Aku rasa dia tidak disini Hana’ah” ucap Chanyeol sambil berusaha menetralkan kembali deru nafasnya.

“Lalu kemana dia? Dimana dia sekarang?” ucap Hana seraya duduk disebuah bangku taman. Wajahnya memanas dan airmata mulai menumpuk lagi dipelupuk matanya. Cukup lelah dan putus asa, tidak tahu lagi kemana harus mencari Kai. Pikirannya mulai membayangkan hal yang tidak-tidak.

Chanyeol duduk disebelah Hana lalu mengelus pundak gadis itu lembut, “Tenanglah Hana’ah.. coba kita pikirkan lagi kira-kira dimana lagi tempat yang mungkin Jongin datangi..”

Hana hanya menunduk, entah kenapa otaknya tidak mampu lagi berpikir jernih akibat ketakutan yang terus menerus menghantuinya. Jantungnya berdetak lebih cepat, membayangkan hal buruk yang mungkin saja terjadi membuat bulu kuduknya meremang. Dan disitulah semua memori indahnya bersama Kai terputar otomatis. Membuat gejolak dihatinya untuk segera menemui namja itu membuncah. Semua memori itu terputar satu persatu, Ia ingat saat Kai pertama kalinya keluar dari dalam kotak, Ia ingat saat Kai membantunya mencontek ketika ulangan, ketika Kai menolongnya dari badai, ketika namja itu membantunya saat berlatih, ketika namja itu memberinya semangat saat ia mulai putus asa, dan satu yang paling tak bisa ia lupakan.. yaitu ketika Kai menciumnya di Lotte World—

 

Deg

 

Hana mendongak ketika ia merasa mendapatkan sebuah ide. “Oppa aku tau! Coba kita cari dia di Lotte World!” seru Hana sambil menatap Chanyeol bersemangat.

Chanyeol mengernyit, “Lotte World?”

“Ne! Waktu itu Kai pernah mengajakku bermain kesana. Dia bilang itu adalah tempat yang paling ia sukai waktu kecil. Mungkin saja dia ada disana sekarang..”

“Ya sudah kalau begitu kita coba mencari dia disana” ucap Chanyeol sembari memanggil bisonnya. Setelah semua naik, Chanyeol pun menerbangkan burung Phoenix nya segera menuju Lotte World.

 

Tap

 

Hana dan Chanyeol turun setelah binatang raksasa tersebut mendarat dengan sempurna. Hana mengedarkan matanya keselilingnya namun ia sama sekali tidak menangkap sosok yang ia cari disana. Apalagi karna malam yang terlalu larut membuat daya jangkau matanya berkurang.

“Bagaimana kalau kita cari bersama-sama saja? Tempat ini gelap sekali. Aku takut terjadi sesuatu padamu nanti..” ucap Chanyeol sambil memperhatikan sekelilingnya.

“Tidak oppa.. akan lebih mudah mencarinya jika kita berpencar. Kau tenang saja, aku bisa menjaga diri”

“Tapi tempat ini gelap dan sangat luas Hana’ah.. akan sulit menemukanmu jika terjadi sesuatu” ucap Chanyeol sedikit khawatir. Mengingat kemampuan Hana yang masih belum bisa diandalkan membuatnya takut jika membiarkan gadis itu sendirian, bisa saja Lucifer menyerang disaat yang tak terduga.

Hana menghela nafas berlebihan, “Oppa.. bukankah tempat ini sama saja seperti sekolah Jongin tadi? Tempat itu juga sangat luas dan gelap kan?” sahut Hana sambil bersedekap didada.

“Tapi—“

“Sudahlah lebih cepat lebih baik! Ayo kita cari Jongin. Oppa pergi kekanan dan aku kekiri..” Hana mejentikkan jarinya lalu keluarlah api kecil yang melayang diatas telapak tangannya yang terbuka. “Nanti kita bertemu disini lagi!” pekik Hana seraya berlari meninggalkan Chanyeol yang masih nampak belum setuju dengan idenya. Dan mata Chanyeol pun membulat ketika mendapati gadis itu sudah terlanjur berlari menjauh.

Tsk.. dasar bocah itu! Sifatnya memang mirip seperti Jongin..” gumam Chanyeol seraya memulai pencariannya. Ia berjalan kearah kanan sesuai intrupsi Hana.

Sementara Hana sudah berlari cukup jauh. Entah kenapa perasaannya kalau Kai ada ditempat itu sangat kuat. Ia yakin, kalau dirinya bisa menemukan namja itu disana. Ia berlari sambil terus mengedarkan matanya. Ia datangi beberapa wahana yang waktu itu ia naiki bersama Kai. Jarak setiap wahana yang cukup jauh membuat pencarian kali ini pasti akan menguras banyak tenaga. Angin malam yang dingin juga membuat membuat tubuhnya menggigil. Tapi ia tidak peduli, karna yang terpenting saat ini adalah menemukan Kai dan memastikan kalau namja itu baik-baik saja.

“Haaahh.. haaahhh” Hana berhenti untuk mengoptimalkan kembali asupan oksigen ditubuhnya. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berkacang pinggang.

Hampir setengah jam.. ia belum menemukan apapun. Semua wahana dan beberapa toko yang waktu itu dikunjunginya bersama Kai sudah ia datangi, tapi Kai tidak ada disana. Lagi-lagi Hana mulai putus asa, keyakinannya tadi seolah lenyap bersamaan dengan tenaganya yang sudah terkuras karna berlari. Semangatnya juga seketika menguap bersama angin malam. Hana perhatikan sekelilingnya dengan seksama. Mencoba mengingat kembali karna sepertinya dia mengenal tempat itu.

“Kursi itu!” seru Hana setengak berteriak ketika ia melihat sebuah kursi yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat ia menoleh kebelakang dan alisnya terangkat ketika melihat sebuah stan eskrim ada disana. Airmatanya tak terbedung, ia menangis sambil berjalan mendekati kursi lalu duduk disana. Ia ingat, saat dirinya dan Kai duduk disana sambil menikmati eskrim mereka.

“Jongin’ah.. kau dimana?” gumam Hana sedikit terisak.

Sunyi… kesan itulah yang terbentuk. Bahkan suara angin dan binatang malam pun sama sekali tidak terdengar. Hana menundukkan kepalanya kecewa. Ia menangis sambil menutupi wajah dengan telapak tangannya. Tubuh gadis itu bergetar, tapi ia berusaha untuk tidak terisak. Kenapa dia belum juga menemukan namja itu? Bukankah Kai mencintainya? Dan.. dia juga sudah menyadari bahwa hatinya juga mempunyai perasaan yang sama. Bukankah orang bilang jika kita saling mencintai maka hati kita akan saling terhubung? Tapi dia.. kenapa dia tidak tau dimana Kai berada sekarang?

“Jongin.. beritahu aku dimana kau.. Aku mohon..” ucap gadis berambut panjang itu disela isakannya. “Aku.. Aku juga.. mencintaimu..” kali ini tangisnya pecah. Ia menangis sejadinya. Memecahkan kehingan malam itu dengan suara isakannya. Sampai akhirnya suara derap kaki samar-samar terdengar ditelinganya. Hana melepas tangkupan tangannya dan melihat sebuah kaki berdiri didepannya. Dengan cepat ia mendongak dan matanya membulat saat ia lihat seorang namja tampan tengah menatapnya lekat. Sepasang mata indah yang sangat ingin dilihatnya kini ada didepannya.

“Hana’ah? Sedang apa.. kau disini?”

Dada gadis itu bergemuruh ketika mendengar suara berat itu. Suara yang selalu membuatnya tenang ketika mendengarnya. Hana mengucek matanya tak percaya. Takut jika ia hanya berhalusinasi. Tapi berulang kali matanya berkedip namja itu tetap disana. Ini nyata!

“Jong..Jongin..” Hana menghambur memeluk Kai dan membuat namja itu terhuyung kebelakang. Beruntung Kai bisa menopang tubuh kurus Hana dengan baik. Hana memeluk namja itu erat seakan mereka tidak pernah bertemu sekian tahun. Kai hanya mengernyit melihat gadis itu nampak sangat gembira bertemu dengannya.

“Kau kemana saja eoh? Aku mencarimu kemana-mana?!” ucap Hana disela tangisnya. Mendengar suara isakan gadis itu dengan cepat Kai melepas pelukannya.

“Kau menangis? Ada apa?” tanya Kai agak panik sambil menangkup pipi Hana.

“Aku menangis karna dirimu!” ucap Hana sambil mempoutkan bibirnya.

Kai mengernyit, “Karna aku?”

“Iya! Kau tau seberapa paniknya aku saat kau bilang kau akan pergi menyelamatkan Sehun sendirian?! Dan apa?! Kalau perlu kau ingin menggantikannya?! Gila!” ceroscos Hana sambil memukul-mukul dada bidang Kai. “Kau orang yang membuatku masuk kedalam hal mengerikan seperti ini! Kau orang gila yang tiba-tiba datang dan membuat hidupku seperti ini! Mana boleh kau lari dari tanggung jawab!”

“Hey! Hey! Hentikan! Sakit!” ucap Kai sambil berusaha menghentikan pukulan bertubi-tubi gadis yang memarahinya sambil menangis itu. “Aishh.. kau kuat sekali..” ringis Kai sambil mengelus-elus dadanya yang terasa perih karna pukulan Hana. Sementara Hana masih terisak sambil menunduk.

“Bukankah waktu itu kau berjanji untuk melindungiku? Kalau begitu lindungi aku hingga akhir.. Aku tidak mau kau pergi Jongin’ah. Aku memulainya bersamamu jadi mengakhirinya pun harus bersamamu..”

“Jadi.. kau kesini untuk mencariku?” tanya Kai lembut yang dibalas anggukan dari Hana.

“Aku pikir.. kau benar-benar pergi sendirian menyelamatkan Sehun. Aku takut.. takut kalau terjadi sesuatu padamu..”

Kai menghela nafas lalu membawa gadis yang terisak itu kedalam pelukannya. Memeluknya lembut dan memberinya kehangatan. Hana memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kai. Menikmati aroma mint tubuh Kai, dan angin malam yang dingin pun lenyap karna kehangatan yang disuguhkan tubuh itu.

“Aku takut kalau para Lucifer itu juga berhasil mengalahkanmu lalu menjadikanmu sebagai tumbal mereka juga. Aku takut..kehilanganmu Jongin’ah.. hiks.. karna aku.. aku juga mencintaimu”

 

Deg

 

 

 

 

 

 

 

――To Be Continued――

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!

 

Gimana? Ceritanya aneh ya? Ceritanya alot ya? *emang makanan alot?* heheh maap ya kalo ceritanya jelek *deep bow* Author jg minta maaf kalo curhatan author diawal tadi rada keras. Author cuman kebawa emosi doang kok. Entar juga kalo uda agak lamaan keselnya author sama Kai dan Krystal bakal ilang hehe😀 Para Exostan atau fans F(x) yang baca jangan kesel yak? Mohon dimakumi ya? Saya sih fanatik bgt sama Kai -_- jd begini deh heheheheh Itu hanya emosi sementara kok

Okeh.. terlepas dari emosi author yang lagi tinggi ini (?) Author mau kasih sedikit informasi bwt para readers setia disini. Karna kesibukan author yang mungkin bakal sulit nulis fanfic, kita rencanya mau buka author freelance gitu heheheheh Memang wordpress kita belum rame-rame amat sama pengunjung, tapi siapa tau ada readers disini yang punya fanfic tapi bingung mau ngepost dimana. Nah bisa deh nitip di wp kita ~(˘▾˘~)  hohohoho Tapi itu baru sekedar rencana, untuk mulai kapan tanggal pastinya kita belum bisa pastikan. Yaah kita pingin kasih tau aja dulu kekekeke

Siplah.. dan author ingin mengucapkan terimakasih banyak bwt para good readers disini’_’)b makasi yang sebesar-besarnya deh karna uda selalu dukung kita dan mau baca karya-karya kita yang padahal isinya gaje banget heheh WE ARE ONE!! LOVE YOU GUYS!!

100 thoughts on “The Twelve Power of Olympians (Chapter 8)

  1. Wah daebak thor!! ^^b
    ceritanya buat aku geregetan, dan aku paling suka adegan(?) terakhir waktu Hana bilang dia juga suka sama Jongin *aku sampe gigit2 bantal saking antusiasnya_-_
    Good job thor, chapter selanjutnya cepetan di publis yaaa:D

  2. annyeong thor hiks baru sempet baca sekarang soalnya hp rusak trs link nya ilang eh baru nemu tadi sore huh untung nemu hehe lanjut thor jangan lama lama ne ohya terus jongin jangan jadiin tumbal juga ne plis hiks semangat ya thor ^^

  3. Yaaaaaaaahhhh tegaa kan tegaaa,,
    Sehun jadii sandera..😥
    Jadinya Hana sm Kaii, nasib Sehun kaloo tauu Hana sm Kaii gimana ??😥
    Ga relaa siihh,, tapii yaa sudah lahh..
    Jangan” Sehun jadiny sm Hyosun ??
    Abang Kris gimana nasibnyaa ??😐
    Aaaaahhhhh, tegaanya tegaanya tegaanya tegaanyaa..😥

    Dan d akhir cerita akuu sempet mauu nangis loh..
    Dapett bngt feelnya pas Hana takut kehilangan Kai..😥

    Lanjuttannya kapaan ?? (ʃƪ ‾̴̴͡͡ ﻬ ‾̴̴͡͡)
    Sudah ga sabar pengen tauu kabarnya abang Sehun..
    Hahahaha😀
    Annyeong *bow ▔□▔)/▔□▔)/▔□▔)/

  4. waaa akhirnyaa hana tau kalo dia cinta sama kai :3

    annyeong, sy jg kaiporter loh. agak ga setuju juga sm kaistal. lebih suka kaisul! (loh) hehehe

  5. pls ini gimana sama sehun nya pls;-;
    separah itukah lukanya?atulah ga tega.

    terus ini gimana sama abang kris nya kalau hyosun sama sehun ?!?!?! ah sudahlah.. bang yukmari sama aku ajaa~/plak

    KAI DEMI APAPUN LU KAGA BOLEH NGOMONG KEK GITU KE HANA! Feel nya dapet banget peulisssss.

    Semangat ya thor! mangadh mangadh eaaa/?

  6. kaaaaaaiiiii … author kenapa kai nya bisa jadi so sweet banget gitu sih ??
    pokoknya ceritanya makin kesini makin keren banget deh thor ..
    lanjutannya jangan lama-lama ya eonni ..

    keep writing

  7. Aiiisshhh~~~~
    Kim jong in – kim hana!!!! Ahhh keren bgt thor, 10 jempol buat author *pinjem ke org2 jempolnya*
    Mana lanjutannya thor? Ayo cepet gk sabar thor hahaha….

  8. Thorr saya komennya dri chap1-8 di sini aja ya thor… Saya suka ff yg brbau(?) fantasy kaya gini thor, apalagi maincastnya kaihun><! Ceritanya seru thor.. Ditunggu next chapnya ya thor!?

  9. annyeong thor, aku reader baru😀, baca ff author dari chap 1-8 bikin deg2 an tauu, trus feelnya dapet banget pas hana nyari2 kai, uhh sweet

  10. Authorrrr yg kece sejagat raya~~~
    Ini lanjutan ffnya kapan di publish, ya ampun ngegantung bgt udah lama T^T
    Penasaran tingkat dewa sm endingnya –”

    Thor~~~~ ppalli ppalli *puppy eyes*

    • Hueeee maaaaaf :”””
      Baru saja abis uts nih. Masih diusahakan secepatnya chingu ;_;
      Saya mohon doanya agar ide saya cepet balik ya? Ini gegara dijejel sama pelajaran trigonom saya jd kliyengan. Mohon kesabarannya ya sayang~ *deep deep deep deep bow*

  11. astagaaaaa telat banget ini baru baca kakTT
    huaaaa gak tega itu hana sama kai
    maunya sama si sehun T_T
    ah gpp deh yg penting ini ceritanya makin seru kak, keren!! Lanjutan nya ditunggu sekali ya kak!
    btw kak dari bali ya?

  12. Sehunnya kasian tangannya melepuh gak ada yg nolongin. Dia baik bangettt demi sooyoung dkk. Hana milih kai😥 Terus sehunnya gimana nasibnya thor??? Seru thor lanjutkan! Bikin penasaran hehehe. Semangat (^^9)

  13. kalo sehun sama hyosun kasian kris…tapi kalo sehun sama hana kasian kai sama hyosun….kalo hana sama kai yang kasian itu sehun😦 knpa jadi kasian semua.a..?????

    • ehhhh… itu anak SNSD(kecuali yuri*leader Lucifer) selamat semua kan yaah..????
      tapi kmana jesica sama hyoyeon kok ga disebutin yaaah..????hehehehehe

  14. Oo jadi min ho saudara sehun … part ini aku baca dengan sangat2 menghayati rasanya sampe dadaku , kerasaaaaa’ BANGET
    #lebay-_-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s