Our Destiny (Chapter 6)

our destiny6--vert

Title : Our Destiny | Author : HCV_2

Main cast : Park Ji Eun(OC) Oh Sehun | Other cast : Kim Jong in, Luhan, Shin Taera (OC)

Genre : Romance, sad | Length : Chaptered | Rating : T

 

WARNING!! THIS NOT FOR SILENT READERS!!

 

Haii~ Halo~ Annyeong~ Apa kabar~ Auuuu~ *dance wolf bareng Kai* ♫♪♫( ´▽`) Author HCV_2 kembali membawa kelanjutan dari ff Ouuuurrr Deeessstttiiinyyy~~~ YEAYYYY!!! *Duaaar *dilempar granat* kekeke

HCV_2 is back setelah lama tidak mengupdate FF *kedip-kedip* Oke untuk membuat chapter yang satu ini author nggak mendapat banyak kesulitan dalam ide karna memang isi ceritanya adalah plot-plot yang author tunggu-tunggu dari jaman dodol heheh Biasalah.. author ini emang setiap membuat FF pasti bagian pertama yang dipikirin adalah bagian konflik atau endingnya. Dan author sebenarnya paling males sama yang namanya membuat bagian awal atau perkenalan tokoh karna kadang adegannya menurut author rada flat.. gak greget gitu lo *aciee *sok amat lu thor* wkwkwkwk Tapi menurut author chapter kali ini adalah chapter yang paling menguras emosi dan juga menguras tenaga membuatnya. Ya.. semoga saja tidak mengecewakan untuk para readers sekalian ya *bow bareng Chanyeol*

Sip.. seperti biasa author tidak letih-letihnya mengatakan untuk para pengunjung wordpress sekalian kalau JANGAN pernah MENJADI SILENT READERS! Author bukannya nggak suka yang gimana-gimana sih, tapi author merasa nggak dihargai aja gitu rasanya kalau orang baca tapi nggak meninggalkan jejak. Itu tuh ya sama aja kayak kita jual barang, orang beli tapi dianya nggak bayar -__- pasti sakit ati kan? Jelaslah! lama-lama orangnya bisa bangkrut kalik. Makanya peulisss banget kasih jejak dibox komentar walau itu cuman seupil tapi author akan sangat menghargainya..

Yaudah dari pada kelamaan.. cerita ini hanya fiksi belaka. Typo bertebaran dan ceritanya makin gaje. Uda diingetin lo ceritanya GAJE! Jadi kalo nggak suka mending nggak usah baca dari pada cerita saya dihina. Dan satu yang nggak kalah penting..

Please don’t be a PLAGIATOR!!!

 

SIDERS? PLEASE… DON’T TOUCH MY FANFICTION!!!

 

Taera bangun dari duduknya seraya menyandang tas mahalnya. Ia menghela nafas kemudian menatap Jieun yang masih membeku ditempat dengan tatapan mengintimidasi.

“Aku hanya memberimu dua pilihan.. Lakukan dengan cara baik-baik atau kau ingin cara yang tegas dan kasar. Aku sangat yakin kau mengerti akan maksudku..Park Jieun”

 

Chapter 6

 

Tok

 

Tok

 

Tok

 

“Jieunnie!!! Apa kau ada didalam??!!”

“Park Jieun?!!! Tidak biasanya kau belum keluar kamar?!”

“Eh? @#%$%#&*#@” gumam Jieun seraya menggeliat diatas tempat tidurnya. Perlahan tapi pasti ia membuka mata bulatnya saat ia dengar sebuah suara memanggilnya diluar sana. Suara berat yang begitu ia kenal. Seketika ia menyipitkan matanya saat sinar matahari pagi menerobos masuk keretina matanya. Sadar kalau hari itu sudah pagi, bukannya langsung beranjak tapi gadis itu masih berbaring diranjangnya. Masih dalam tahap proses mengumpulkan kesadaran, Jieun menguap sambil mengucek matanya.

“YAA!! PARK JIEUN!! Kau sudah siap belum?! Ini sudah hampir kesiangan!!”

 

Deg

 

Sedetik itu juga mata Jieun membuka sempurna. Walau kesadarannya belum seratus persen terkumpul, tapi otaknya dengan sangat baik bisa mencerna apa maksud ucapan Jongin barusan. Dengan cepat ia bangun dan menoleh kearah jam weker yang tergeletak manis dimeja sebelah tempat tidurnya.

Kedua matanya membulat, “Mwo? Matilah aku!” ucap Jieun sambil menepuk dahinya. Ia alihkan pandangannya kesekeliling kamarnya, dan benar saja.. kamarnya berantakan dan tisu bekas berserakan dilantai. Ia ingat bagaimana dia menangis semalaman karna memikirkan kehidupan rumitnya saat ini. Semalam ia merenung tentang apa yang harus ia lakukan dihari esok. Mengikuti Taera atau tetap bersama Sehun?

“Aku pasti ketiduran setelah menangis semalam” gumamnya kemudian menunduk. Ia mengacak-acak rambutnya brutal sambil merutuki diri sendiri. “Lihat kan! Ini karna kau Oh Sehun! Hanya karna memikirkanmu aku bahkan bangun kesiangan!!” umpatnya kesal dengan suara teriakan yang tercekat ditenggorokan. Saat sedang asik merutuki diri sendiri, seketika suara teriakan seorang namja menyadarkannya.

“HEEY! PARK JIEUN!! KAU PINGSAN YA!? DALAM HITUNGAN KETIGA JIKA KAU TIDAK MENJAWAB AKAN KUDOBRAK PINTUNYA!” teriak Jongin memperingatkan. Ia hanya takut kalau ternyata terjadi sesuatu pada Jieun didalam kamarnya. Sontak Jieun pun beranjak dari ranjang saat mendengar Jongin mulai menghitung.

“SAT—“

“Iya Jongin aku sudah bangun!! Kau tunggu sebentar!” sahut Jieun untuk mencegah tindakan gila sahabatnya itu. Ia pun dengan sigap membersihkan sampah tisu yang berserakan dilantai kamarnya. Gawat kalau sampai Jongin melihatnya dan tau kalau ia menangis karna Sehun, bisa-bisa mereka bertengkar lagi. Setelah menyembunyikan sampah tisunya, sejenak Jieun bercermin untuk memastikan matanya baik-baik saja. Dan ia pun menghela nafas lega karna matanya tidak terlalu bengkak.

 

Ceklek

 

“Kenapa lama sekali? Tidak menjawab panggilanku, kau membuatku khawatir. Aku pikir kau pingsan dida— Tunggu! Kau belum siap?” tanya Jongin cepat dalam satu tarikan nafas. Dan ia tercengang ketika menyadari kalau gadis didepannya masih nampak kusut dengan piyamanya.

Jieun tersenyum lebar memamerkan deretan giginya, “Maaf Jonginnie.. aku kesiangan hari ini” Jieun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tapi aku akan segera bersiap Jonginnie. Aku janji tidak akan lebih dari 10 menit! Tidak akan terlambat sampai disekolah” ucap Jieun sambil menggoyangkan tangan didepan dada, meyakinkan Jongin agar tidak perlu khawatir.

Jongin menghela nafas berlebihan, “Tumben sekali kau kesiangan. Biasanya bahkan kau yang menerrorku untuk menjeputmu pagi-pagi”

“Heheh iyaya.. nanti saja bicara lagi. Aku bersiap dulu!” ucap Jieunnie sambil menutup kembali pintu kamarnya. Meninggalkan Jongin dengan tatapan heran.

“Seperti ada yang disembunyikan” Jongin memutar tubuh dan mulai berjalan meninggalkan kamar Jieun. Ia duduk disofa ruang tamu seraya memainkan ponselnya. Ia tidak pernah keberatan jika harus menunggu Jieun bersiap, karna ia tau Jieun berbeda dengan gadis-gadis diluar sana. Sahabatnya itu tidak pernah menghabiskan banyak waktu untuk berdandan. Dan itulah yang membuat dirinya tertarik, gadis itu natural dan cantik tanpa dibuat-buat.

10 menit kemudian..

Jieun akhirnya keluar kamar dan sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Tapi gadis itu masih beringsutan mengikat rambut hitam panjangnya. Jongin pun bangkit mengikuti Jieun yang sedang sibuk mengikat tali sepatunya.

“Tidak sarapan dulu?”

“Mana sempat sarapan.. gawat kalau kita sampai terlambat. Nanti saja sarapan disekolah. Kajja!” ucap Jieun seraya menarik tangan Jongin. Setelah mengunci rumah, mereka pun berjalan cepat menuju lift. Tapi dahi Jongin mengkerut ketika melihat perubahan sikap Jieun setelah mereka memasuki lift. Gadis itu tiba-tiba diam dan tatapannya nampak sendu. Ya.. Posisinya yang hanya berdua dengan Jongin didalam lift itu membuat sebuah memori teringat diotaknya. Memori saat Sehun mengantarnya pulang dan bagaimana Sehun membuat wajahnya merona ketika namja itu mengancam akan menciumnya jika tidak menjawab pertanyaan. Semua itu membuat rasa bimbang menghantuinya lagi. Rasa bimbang akan sikap bagaimana yang harus ia ambil. Benarkah kalau ia harus menjauhi Sehun? Jieun terus menunduk hingga keluar dari gedung apartemennya.

“Kau baik-baik saja? Kau terlihat murung..” ucap Jongin sambil menyodorkan sebuah helm pada Jieun ketika mereka sampai ditempat motor Jongin terparkir. Gadis itu tersentak dan langsung mendongak.

“Tidak.. aku tidak apa-apa Jonginnie. Mungkin karna masih mengantuk..” Jieun menerima helm dari Jongin kemudian mengenakannya.

“Memangnya apa yang kau kerjakan semalam hingga masih mengantuk dan bahkan bangun kesiangan” ucap Jongin sambil mulai menghidupkan mesin motor sportnya.

“Eh? Itu..karna aku… Aku membuat pr hingga larut semal—“ Jieun seketika memotong kalimatnya. Ia nampak terkejut mendengar ucapannya sendiri. Bodoh! Ia baru saja berbohong.. berbohong kalau semalam ia membuat Pr padahal ingat pun gadis itu tidak pada Pr Fisikanya. Jieun meringis ketika dengan bodohnya ia baru ingat akan Pr nya itu. Dan sialnya lagi, waktunya sudah terlalu mepet untuk bisa mencotek Pr disekolah.

 

 

 

¶¶¶¶¶

Jieun turun dari motor Jongin sambil menghela nafas lega, karna ia bersyukur mereka tidak sampai terlambat kesekolah. Waktu tinggal 5 menit lagi sebelum bel jam perlajaran pertama berbunyi. Setelah memarkir motor dan meletakkan helm pada kaca spion, Jongin dan Jieun pun memulai langkah menuju kelas. Tapi saat baru saja memutar balikkan tubuh, tiba-tiba sebuah mobil sport melaju kearah mereka. Mobil sport yang kemudian diparkirkan disebelah motor Jongin. Cukup gugup karna tau mobil milik siapa itu, Jieun menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya berusaha menenangkan diri. Sepersekian detik setelahnya, keluarlah dua orang manusia dari dalam mobil mewah tersebut. Seorang namja tampan dan gadis pemujanya. Jieun menatap Sehun yang tengah berusaha melepaskan diri dari Taera yang selalu saja bergelayutan ditangannya dengan tatapan sendu. Tak lama setelahnya seolah sadar sedang dipandangi, keduanya pun menoleh kearah Jieun. Dengan cepat Jieun pun membuang muka, takut tak sanggup menatap kedua mata bening Sehun.

Jongin yang sejak tadi memperhatikan Jieun mengernyit, “Kau tidak apa-apa?” tanyanya ragu.

“Gwaenchana.. ayo pergi” ajak Jieun sambil menggandeng tangan sahabatnya. Jongin tersentak ketika Jieun menggandeng tangannya, dapat ia rasakan darahnya mendidih dan wajahnya mulai terasa panas. Ia pun membalas genggaman tangan Jieun dengan senyum simpul yang mengembang. Sementara kedua mata Sehun yang melihat kejadian itu pun membulat. Darahnya juga mendidih, tapi berbeda Jongin.. darahnya mendidih karna rasa cemburu yang tiba-tiba membakar dadanya. Bagaimana bisa Jieun meninggalkannya dan pergi bersama Jongin seperti itu?!

Sontak Sehun melepaskan tangan Taera dan lengannya secara paksa, “Jieunnie tunggu aku!” seru Sehun seraya berlari mengejar pujaan hatinya.

“Isshh.. Sehunnie! Kenapa kau meninggalkan aku?!” pekik Taera sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya kesal. Ia menatap punggung Jieun tajam, kesal karna lagi-lagi gadis itu membuat Sehun mengabaikannya. “Awas kau Park Jieun” dengusnya sembari berlari mengejar Sehun.

“Kubilang tunggu Jieunnie!” ucap Sehun sambil menarik sebelah tangan Jieun yang bebas. Gerakan yang cukup kuat yang sontak membuat Jieun berhenti dan memutar tubuhnya. Jieun tatap Sehun yang tengah terengah setelah berlari. Sementara Jongin nampak kesal karna namja itu selalu saja mengganggu waktu berduanya dengan Jieun.

“Kenapa tidak mengindahkan panggilanku eoh?”

“Memangnya ada apa?” tanya Jieun ketus sambil menatap Sehun malas.

Mendengar pertanyaan gadis itu membuat Sehun mengkerutkan dahinya, “Tentu saja agar kita bisa berjalan bersama kekelas”

“Ya sudah jalan saja” celetuk Jieun lagi sambil menghentakkan tangannya yang otomatis membuat genggaman Sehun terlepas. “Ayo Jongin” ucap Jieun lagi melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Sehun tercengang.. matanya membulat dengan alis terangkat. Sikap Jieun jelas berubah lebih aneh lagi dari pada kemarin. Ia tatap punggung Jieun dengan tatapan tak percaya. Ada apa lagi? Apa ada yang salah lagi akan sikapnya? Bukankah mereka baru saja berbaikan kemarin?

“Sudah kubilangkan jalan denganku saja” ucap Taera dengan nafas yang sedikit memburu. Setelah berhasil menyusul Sehun dengan sigap ia merangkul lengan namja pujaannya itu. Mereka pun berjalan bersama menuju kelas. Taera menyeringai senang, ternyata Jieun begitu mengerti apa yang ia inginkan. Ia tidak terkejut dengan sikap ketus saingannya itu pada Sehun, karna Jieun.. sudah mulai menjauhi Sehun..

Berbeda dengan Taera tapi sama seperti Sehun, Jongin pun nampak terkejut. Ia tatap wajah gadis yang tengah berjalan disebelahnya dengan tatapan bingung. Perasaannya juga campur aduk, antara senang karna Jieun mengacuhkan namja itu tapi juga heran karna ini tidak seperti biasanya. Sementara Jieun.. gadis berambut panjang itu hanya berjalan dengan sejuta perasaan bersalah dalam hatinya. Sungguh sebenarnya dia tidak sanggup bersikap seperti itu pada Sehun.

“Bukankah karna kau Sehun jadi menderita penyakit separah itu? Apa kau tidak merasa malu eoh? Kau lebih terlihat seperti parasit yang menempel di inangnya jika kau didekat Sehunnie”

“Karna Sehun tau kalau Luhan oppa juga menyukaimu. Dan dia merasa Luhan oppa berniat merebutmu darinya, karna itu dia marah dan kini hubungan mereka tidak baik..”

“Karna itu berhentilah sekarang, atau kau ingin membuat hidup Sehun semakin berantakan”

Ucapan Taera semalam terngiang lagi ditelinganya. Serangkaian kata yang membuatnya berani bersikap seperti sekarang. Entah kenapa pikirannya mulai membenarkan kata-kata itu. Bukankah karna dia Sehun jadi menderita seperti sekarang? Tapi tidakkah ini terlalu kejam untuk Sehun?

“Maafkan aku Sehun’ah” bisik Jieun sambil menghela nafas.

Tepat saat bel jam pertama berbunyi, Jieun dan Jongin sampai dikelas mereka. Dan begitu pula dengan Sehun dan Taera yang menyusul dibelakang. Jieun dan Jongin pun segera berjalan kebangku mereka. Sama dengan siswa yang lainnya, mulai mempersiapkan diri untuk jam perlajaran Fisika yang sangat menguras otak. Banyak murid yang cukup segan dengan pelajaran yang satu ini, tapi sebenarnya tidak untuk Jieun. Dia termasuk siswi yang pandai dalam pelajaran hitungan, tapi sayangnya tidak untuk hari ini. Ingatannya tentang Pr yang belum ia kerjakan baru saja kembali.

“Aduh! Matilah aku” gumam Jieun seraya mengambil buku Pr Fisikanya. Mulai membuka setiap halaman dengan gelisah. Berharap akan sebuah keajaiban datang menghampirinya. Tapi sayang.. dewi fortuna memang benar-benar sedang tidak berpihak padanya. Ia pun meringis ketika melihat halaman yang seharusnya diisi dengan Prnya hari ini kosong. Dan kali inilah ia akan menulis untuk pertama kalinya dalam buku sejarah hidupnya kalau dia tidak mengerjakan pekerjaan rumah.

“Selamat pagi anak-anak” sapa guru muda nan tampan ketika memasuki kelas. Guru berpostur tubuh bak seorang model yang membuat semua orang sulit percaya bahwa dia adalah seorang guru sekolah menengah atas.

“Selamat pagi guru Jung” balas murid-murid didalam kelas itu bersemangat, khususnya para siswi-siswi yang sangat mengagumi guru tampan tersebut. Termasuk Jieun.. gadis itu juga sangat menganggumi kepintaran yang dimiliki guru bernama lengkap Jung Yunho itu. Apalagi ditambah dengan tubuh tinggi dan wajah tampannya, membuat banyak siswi hingga guru-guru mengejarnya. Tapi sayangnya lagi.. saat ini bukanlah saat bagi Jieun untuk berhisteris ria bersama gadis-gadis dikelasnya.

“Baiklah sebelum memulai pelajaran hari ini, guru minta kalian untuk mengumpulkan pekerjaan rumah kalian kedepan” ucap guru tampan itu seraya mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya diatas meja. Dan sesuai dengan intrupsi gurunya, para murid pun mulai beranjak dari bangku untuk mengumpulkan pekerjaan rumah mereka masing-masing. Dan disitulah Jieun mulai menegang, tenaganya seolah menguap dan membuatnya lemas. Inilah saat-saat memalukan baginya untuk memecahkan rekor dirinya sendiri.

“Sini Jieunnie.. biar aku kumpulkan Pr mu” tawar Jongin seraya mengulurkan tangan kanannya berharap Jieun menyerahkan buku Prnya. Jieun tersentak dan menatap Jongin dengan alis terangkat. Mana mungkin ia mengumpul buku kosong! Tapi bagaimana dia mengatakannya pada Jongin? Bukankah tadi pagi dia baru saja bilang kalau dia mengerjakan Pr hingga larut? Sialnya Pr untuk pelajaran hari ini hanya satu yaitu Pr Fisika.

“Eh? Itu..aku..”

“Ada apa? Jangan bilang buku Pr mu tertinggal”

“Tidak! Nanti aku kumpulkan sendiri saja Jonginnie.. aku ingin memperbaiki beberapa jawaban dulu”

“Baiklah” ucap Jongin seraya berjalan kedepan kelas. Walau agak curiga tapi Jongin berusaha untuk berpikir positif.

“Bodoh! Sia-sia kau berbohong! Sebentar lagi juga katahuan kan?!”rutuk Jieun sambil mengusap-usap wajahnya brutal. Hyunji yang baru saja kembali dari mengumpul Pr itu pun menatap Jieun heran. Ia berdiri disebalah meja Jieun lalu menggebraknya pelan.

“Hey Jieunnie.. kau kenapa? Sedang stress?” tanya Hyunji sambil memiringkan wajah menatap wajah Jieun yang nampak kusut.

Jieun mendongak, “Eh? Tidak.. tidak apa-apa Hyunji’ah” jawab Jieun yang dibalas anggukan kepala oleh sahabatnya itu. Tapi saat ingin kembali kebangkunya, alis Hyunji terangkat ketika melihat buku Pr Jieun masih tergeletak diatas meja.

“Kenapa belum mengumpul Pr? Sini biar aku kumpulkan” dengan gerakan cepat Hyunji mengambil buku Jieun, tapi tak kalah cepat Jieun pun kembali merebutnya yang sontak membuat gadis berambut kecoklatan itu terkejut.

“Kenapa Jieunnie? Kau tidak mau aku kumpulkan ya?” rungut Hyunji imut sambil bersedekap didada.

“Bukan! Bukan seperti itu Hyunji’ah” tandas Jieun cepat.

“Lalu kenapa?”

“Itu karna aku.. aku belum mengerjakan Prnya” ucap Jieun lemah sambil menunduk.

Mata Hyunji membulat, “APA?! KAU BELUM MENGERJAKAN PR JIEUNNIE?! BAGAIMANA BISA SEORANG PARK HMPHHH@#$&%$#@!%!@*” Dengan cepat Jieun membungkam mulut Hyunji dengan telapak tangannya. Menghentikkan lengkingan gadis yang sukses membuat semua mata dikelas itu tertuju pada mereka. Jieun pun melepaskan tangannya saat Hyunji sudah tidak bicara lagi. Suasana hening seketika, semua mata menatap Jieun dengan tatapan tak percaya, terutama namja yang sudah ia bohongi.. Jongin.

“Kau..kau belum mengerjakan Pr? Tapi bukankah tadi kau bilang kau mengerjakannya hingga larut—Kau berbohong..”

“Eh itu..” Jieun kehilangan seribu bahasanya. Terlalu bingung harus menjawab apa pada sahabatnya itu. Suara riuh pun mulai terdengar, bisikan yang Jieun tau ditujukan padanya.

“Park Jieun? Benar kau belum mengerjakan Pr?” tanya Yunho songsaengnim sekali lagi pada Jieun. Dia juga terlihat tak percaya murid unggulannya itu tidak mengerjakan pekerjaan rumah yang ia berikan.

Jieun mengangguk pelan, “Ne guru..Aku lupa mengerjakannya..”

Yunho songsaengnim menghela nafas, “Kalau begitu, pergi keruang guru lalu kerjakan soal hukuman yang ada diatas meja saya” ucap guru muda itu lembut memberi perintah. Bukan berarti karna Jieun adalah murid kesayangannya jadi gadis itu tidak mendapatkan hukuman atas keteledorannya. Jieun mengangguk kemudian berjalan keluar kelas. Seperti biasa Yunho songsaengnim pasti akan memberikan sejumlah soal fisika kelas berat bagi anak didiknya yang berani melanggar aturannya. Jumlah soal yang diberikan tergantung dari tingkat pelanggaran yang dilakukan. Dan tidak membuat Pr adalah pelanggaran tingkat 3 yang mendapat sebanyak 60 soal.

Jieun berjalan menuju pintu keluar dengan menundukkan kepala. Seolah baru melakukan pelanggaran berat, semua teman-teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan mengejek sambil berbisik. Terutama Shin Taera.. gadis itu nampak sangat gembira melihat Jieun menderita. Dapat Jieun liat dengan ekor matanya, gadis itu sedang menertawainya disebelah Sehun.

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

Jieun menghela nafas lega saat akhirnya ia selesai mengerjakan soal hukuman dari Yunho songsaengnim. Sungguh.. ia sangat lelah, tapi bukan lelah karena soal-soal rumit yang ia kerjakan. Soal itu tidak seberapa untuk dirinya yang dibisa dibilang sangat pandai dalam Fisika. Tapi karna mengerjakan soal itu diruang gurulah yang membuatnya lelah.. lebih tepatnya lelah dalam mental, menjadi pusat perhatian para guru yang berlalu-lalang diruangan itu membuatnya harus menebalkan muka. Ada guru yang memandangnya tidak percaya, tapi ada juga beberapa guru  yang memandang sinis kearahnya. Ada yang berbisik membicarakannya tapi bahkan ada juga yang secara frontal menyinggungnya didepan mata Jieun. Tapi Jieun hanya bisa diam dan menghela nafas sambil terus meningkatkan ketebalan topeng wajahnya. Tentu saja.. ini pertama kali dalam kiprahnya menjadi seorang murid, membuatnya bingung bagaimana harus bersikap.

Tepat saat Jieun menutup kembali buku tebal guru Fisikanya, bel untuk istirahat pertama berbunyi. Senyum Jieun mengembang karna akhirnya ia bebas dari neraka jahanam itu. Langkahnya terasa ringan berjalan keluar ruangan tapi beberapa langkah lagi sampai didepan pintu, Yunho songsaengnim datang yang otomatis membuatnya menghentikan langkah. Dan sudah bisa dipastikan beberapa guru wanita diruangan itu pun nampak histeris. Jieun mencibir melihat tingkah genit guru-guru disekolahnya. Jieun heran, sebagian besar dari mereka sudah bersuami dan memiliki anak. Bisa-bisanya masih mengincar daun muda?!

Melihat guru tampannya sudah semakin dekat, ia membungkuk memberi hormat. Yunho songsaengnim pun membalas dengan senyum manisnya. “Kau sudah menyelesaikannya?” tanya guru muda itu sambil menepuk pundak kanan Jieun.

Jieun mengangguk mantap, “Ne guru..”

“Tentu saja.. guru tau soal seperti itu tidak seberapa untukmu” ucap Yunho songsaengnim sambil tersenyum bangga.

“Ah tidak sehebat itu guru heheh” sahut Jieun tersipu, bagaimana pun dipuji oleh guru idolanya pasti membuatnya malu sekaligus senang.

“Tapi kalau guru boleh tau.. kenapa kau sampai bisa melupakan perkerjaan rumahmu? Ini pertama kalinya kan?”

“Eh? Ini karna.. karna..”

“Pasti karna kau sedang punya masalah dengan kekasihmu ya? Bertengkar dengan tuan Oh? Atau.. tuan Kim?” tanya Yunho songsaengnim sambil menyelidik kearah Jieun. Cukup terkejut dengan tebakan gurunya yang hampir mendekati benar. Tanpa sadar Jieun mulai gugup, ia nampak salah tingkah.

“Tidak guru! Aku hanya..umh..”

“Hahaha.. sepertinya sulit untuk mencari alasan” ucap Yunho songsaengnim sambil terkekeh. Jieun meringis karna dia tidak berhasil mengelak. “Ya sudah yang terpenting kejadian ini tidak boleh terulang lagi. Kau tidak boleh melupakan tugas utama sebagai pelajar hanya karna seorang namja. Cinta seharusnya menjadi motivasi bukan malah membuatmu terpuruk. Kau mengerti kan?”

“Ne guru aku mengerti. Aku janji ini akan jadi yang pertama dan terakhir” ucap Jieun sembari menganggukan kepala.

“Baiklah kau boleh pergi..”

“Terimakasih guru..” Sedetik Jieun tersenyum kearah gurunya, kekagumannya meningkat mendengar nasihat guru muda itu. Mungkin karna umur mereka yang tidak terpaut terlalu jauh membuat Yunho songsaengnim lebih mengerti perasaan remaja seusia Jieun. Jieun pun membungkuk memberi hormat sebelum ia pergi keluar ruangan.

 

Ceklek

 

Jieun kembali menghela nafas setelah menutup kembali pintu ruangan itu. Ia tersenyum kemudian mulai melangkah menuju kelasnya. Tapi langkahnya seketika terhenti ketika ia lihat seorang gadis berparas cantik namun berperangai licik datang menghampirinya. Jieun mendengus geli sambil membuang muka.

“Sudah selesai dengan hukumanmu Park Jieun?” tanya Taera dengan nada sinis, menatap Jieun geli seolah Jieun adalah seorang nara pidana yang baru dibebaskan dari jeruji besi.

“Sudah.. kau terlambat jika ingin membantu” ketus Jieun tak kalah sinis.

“Cih.. tentau saja tidak. Aku kesini hanya untuk mengucapkan terimakasih padamu. Terimakasih karna kau mau menuruti permintaanku. Tapi aku masih belum puas dengan caramu saat ini. Kau harus lebih baik lagi jika ingin membuatnya benar-benar menjauhimu. Jadi tolong berusaha lebih keras” ucap gadis sombong itu dengan seringai yang membuat Jieun seakan ingin menamparnya. Jieun menarik nafas dalam-dalam untuk menahan emosi.

“Jieunnie?!” tiba-tiba sebuah suara menganggetkan kedua gadis yang tengah beseteru itu. Alis Jieun terangkat dan Taera pun membalikkan tubuhnya. Keduanya sudah sangat tau suara berat milik siapa itu. Jongin berjalan menghampiri keduanya dengan tatapan sedikit bingung.

“Kalian sedang apa?”

“Hanya sedang saling menyapa dan memberi peringatan” ucap Taera sambil bersedekap didada.

“Apa maksutnya?” tanya Jongin memandang Jieun dengan tatapan yang menuntut penjelasan.

“Bukan apa-apa Jonginnie. Dia memang selalu bicara dengan bahasa yang sulit dimengerti manusia”

“Ya aku hanya memberi peringatan terakhir padamu Jieun’ah, kau punya dia disisimu kenapa kau harus menyusahkan namja yang lain lagi. Hargai saja apa yang sudah terlihat jelas didepan matamu, tidak usah mengharapkan hal yang terlalu jauh untuk kau jangkau” bisik Taera ditelinga Jieun. Sejenak ia menepuk pundak kanan Jieun kemudian meninggalkan Jieun dan Jongin begitu saja. Jieun memejamkan matanya berusaha menahan emosi yang sudah meledak didadanya. Sementara Jongin hanya mengernyit melihat tingkah aneh dua gadis didepannya.

“Apa yang dia katakan?”

“Bukan apa-apa.. tidak perlu dihiraukan. Ayo pergi” ucap Jieun seraya memulai langkahnya. Jongin tatap Jieun bingung, ia pikir ini pasti menyangkut Sehun. Bukankah Taera akhir-akhir ini sering menganggu Jieun hanya karna masalah pangeran manjanya itu? Jongin mengela nafas seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian mengekor dibelakang Jieun.

“Kau lapar? Bagaimana kalau sarapan dikantin?” tawar Jongin seraya menyamakan langkahnya dengan Jieun. Gadis itu menoleh lalu menggeleng pelan.

“Aku sedang tidak nafsu makan..” jawab Jieun dengan nada yang terdengar lirih. Jongin seketika itu juga terhenyak. Aura gadis itu mendadak berubah murung. Dadanya mulai bergemuruh, perasaan sesak seketika menyeruak. Apa karna Sehun hingga pertama kalinya ia melihat Jieun semurung ini? Ingin sekali sebenarnya ia menanyakan langsung pada Jieun, tapi segera ia urungkan niatnya itu karna tidak ingin gadis itu merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya. Selain itu ia juga tidak sanggup jika nantinya jawaban Jieun hanya akan membuatnya merasa sakit.

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

Teeeeett

 

Teeeeet

 

“Baiklah sekian untuk pelajaran hari ini, kalian harus ingat kalau minggu depan saya akan mengadakan tes lisan untuk bab ini. Mengerti?” ucap guru muda nan cantik itu diakhir jam pelajarannya. Jam istirahat kedua telah berbunyi dan itu menandakan Tiffany songsaengnim harus mengakhiri kegiatan mengajarnya didalam kelas.

“Ne songsaengnim..” jawab semua murid dikelas itu kompak.

“Baiklah sampai jumpa minggu depan”

Tepat setelah guru bahasa inggrisnya keluar dari kelas, dengan cepat Sehun berjalan memutar kebangku Jieun yang terletak dua bangku disebelahnya. Sehun memang sudah merencanakannya, ia tidak mau lagi melewatkan kesempatan untuk bertanya biduk permasalahannya pada gadis manis itu. Karna sejak pagi tadi hingga siang menjelang gadis itu terus saja bersikap acuh tak acuh padanya. Entah mengapa dan apa sebabnya ia sama sekali tidak tau. Sehun mempercepat langkahnya untuk sampai kebangku Jieun saat Sehun lihat gadis itu sudah hampir selesai merapikan bukunya. Ia hanya takut gadis itu berhasil menghindar lagi seperti yang sebelum-sebelumnya. Sementara Taera lagi-lagi merengut melihat Sehun yang lagi-lagi mengejar gadis yang menurutnya tidak pantas untuk namja tampan itu.

“Park Jieun aku mau bicara” ucap Sehun setelah sampai didepan bangku Jieun. Tanpa ia sadari Jongin dan Taera mulai memperhatikan dirinya dan Jieun.

“Ya sudah bicaralah” jawab Jieun ketus tanpa menoleh kearah Sehun sedikit pun. Sebenarnya bukannya tidak mau, tapi sekali lagi.. ia tidak sanggup jika menatap mata tajam namja itu. Ia takut jika terkunci dan akhirnya bentengnya runtuh lagi.

Sehun menghela nafas, “Lihat ini, kau ketus sekali padaku Jieunnie. Ada apa denganmu sebenarnya?” tanya Sehun sedikit tegas.

“Kenapa? Aku baik-baik saja. Memangnya apa yang salah?” Jieun bangkit dari bangkunya lalu sedikit merapikan seragamnya tanpa menatap Sehun sama sekali.

“Apanya yang baik-baik saja? Kau menjauhiku seperti ini”

“Memangnya tidak boleh? Apa aku harus berada didekatmu disetiap waktu? Tidak kan? Setiap orang membutuhkan privasi Oh Sehun” Akhirnya Jieun memberanikan diri menatap Sehun. Sekuat tenaga ia berusaha bersikap dingin, ia tatap mata bening Sehun tajam.

“Bukan begitu maksut—“

“Sudahlah..aku malas berdebat. Ayo Jongin, aku ingin ketaman” tandas Jieun cepat sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya. Ia menarik tangan Jongin seraya keluar melalui bangku namja itu. Tentu saja untuk mencegah Sehun mencegatnya. Jongin pun hanya mengikuti Jieun dengan sukarela. Sedetik ia menoleh kebelakang, dan tatapannya tepat beradu dengan tatapan tajam Sehun kearahnya. Jongin hanya membalasnya dengan sebuah seringai yang mengejek lalu mengembalikan pandangannya pada Jieun.

Mereka berjalan beriringan menuju taman belakang sekolah mereka. Letaknya cukup jauh dari kelas mereka, dan sepanjang perjalanan keheninganlah yang menguasai. Jieun sama sekali tidak membuka mulutnya, sementara Jongin bingung topik apa yang harus mereka bahas. Ini berbeda 360 derajat dari mereka yang dulu. Dulu hari-hari mereka selalu dipenuhi oleh lelucon dan humor, tiada hari tanpa mengerjai satu sama lain. Tapi kini berbeda, semenjak Sehun datang dan membuat Jongin harus menyatakan perasaannya.

Jongin hanya menatap Jieun sendu, perih dihatinya begitu terasa. Jieun jadi seperti ini karna Sehun kan? Gadis yang ia cintai bahkan murung hanya karna namja lain. Ia mulai bingung dengan keadaan, sebenarnya ini kesempatan besar untuknya mendekati Jieun atau malah ini adalah saat yang seharusnya membuatnya sadar bahwa perasaan Jieun tidak sama dengannya?

“Haaah” Jieun menghela nafas seraya menyandarkan tubuhnya pada pohon besar dibelakangnya. Jongin pun dengan segera mengambil posisi disebelah Jieun dan melakukan hal yang sama. Mereka duduk berdampingan dibawah pohon rindang dipojok taman dekat kolam ikan. Entah kenapa Jieun memilih tempat itu, biasanya Jieun lebih memilih untuk duduk dibangku taman didekat tembok.

Lagi-lagi hanya suasana hening yang melingkupi. Jieun hanya diam sambil memejamkan matanya, menikmati desiran angin musim semi disiang yang cerah itu. Sedangkan Jongin termenung sambil menatap lekuk indah wajah Jieun tanpa berkedip. Dan dadanya mulai bergemuruh lagi, perih itu lagi-lagi menyeruak. Dalam diam ia merutuki dirinya sendiri.

Ada apa denganmu Kim Jongin? Bukankah kau bilang kau akan berjuang? Lalu kenapa kau malah serapuh ini?!

Jujur.. jika boleh ia ingin sekali berteriak disana. Berteriak untuk sedikit melepaskan beban hatinya. Benarkah kalau ia harus menyerah untuk mengejar cintanya? Jongin menghela nafas berlebihan, lalu mengalihkan pandangannya. Sedetik ia tatap lagi wajah Jieun lalu tersenyum simpul.

Benar.. sebelum kau benar-benar menjadi miliknya. Aku tidak akan menyerah Jieunnie

Bisiknya dalam hati lalu merebahkan kepalanya dipundak sempit Jieun. Terkejut karna merasakan sesuatu menyentuh pundaknya, Jieun membuka mata lalu menoleh.

“Eh? Jonginnie apa yang kau lakukan?” tanyanya sedikit gugup.

“Aku mohon tetaplah seperti ini Jieunnie. Tidak apa-apa kan aku meminjam pundakmu?” sahut Jongin sambil memejamkan matanya menikmati aroma shampoo rambut Jieun yang menerpa wajahnya.

“Ta-tapi..Jonginnie..”

“Aku mohon sebentar saja..” ucap Jongin membenarkan posisi kepalanya. Dengan cepat Jieun menerawang keseluruh taman memastikan bahwa sikap mereka ini tidak apa-apa. Bukannya tidak suka, bahkan Jongin sudah terbiasa tidur dipundaknya tapi hanya saja ini disekolah, ia takut dilihat guru atau kepala sekolah. Dan situlah, matanya tiba-tiba menangkap sepasang manusia yang sedang berjalan kearah taman. Dengan cepat ia membuang muka sambil membenarkan posisi duduknya.

“Sehunnie.. bagaimana kalau kita duduk dibangku taman itu?” ucap Taera dengan nada yang dibuat manis sambil menarik lengan Sehun. Sehun hanya diam seraya mengikuti kemauan gadis itu, tapi tatapannya masih tertuju pada sepasang manusia yang duduk dibawah pohon yang berjarak sekitar 30 langkah dari tempat ia duduk. Sehun terus memperhatikan kedua manusia itu dengan tatapan tajam. Terutama pada namja yang tengah memejamkan mata dipundak gadis pujaannya.

“Beraninya kau Kim Jongin” gumam Sehun dengan tatapan berkilat-kilat kearah Jongin. Tapi seketika tatapan marahnya berubah terkejut ketika melihat Jieun mulai mengelus-elus kepala Jongin. Darah Sehun seketika itu juga mendidih hingga membuat dada dan wajahnya terbakar api cemburu.

Jongin tertegun saat merasakan Jieun mulai mengelus kepalanya. Ini Jieun lakukan memang dari hatinya atau hanya untuk memanasi Sehun? Walau sedikit sakit, tapi Jongin berusaha tersenyum sembari dengan seksama menikmati sentuhan lembut tangan Jieun, “Jieun? Mereka sedang memperhatikan kita” ucap Jongin masih dengan mata terpejam.

Jieun mengangguk, “Biarkan saja..” ucapnya pelan. Lengkingan Taera tadi memang tidak terlalu keras, tapi cukup untuk tertangkap oleh kedua telinga Jongin dan Jieun.

“Apa kau sedang punya masalah dengan namja itu?”

“Tidak.. aku hanya malas menanggapi perangai menyebalkannya” sahut Jieun sambil terus mengelus kepala sahabatnya, sesekali ia rapikan rambut Jongin yang berantakan karna diterpa angin. Bukannya tidak tau, Jieun melirik Sehun yang mulai gelisah ditempat duduknya. Ya.. kepala Sehun serasa ingin meledak karna emosinya yang memuncak. Jika Jieun tidak segera berhenti, Sehun tidak yakin bisa menahan emosinya lebih lama.

“Aku tau kau tidak suka jika aku membahas ini. Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau aku tidak akan menyerah. Perasaanku padamu tidak akan kubuang begitu saja hanya karna namja semacam Oh Sehun” ucap Jongin yang sukses membuat Jieun terpaku. Seketika ia menghentikan kegiatan tangannya. Jongin pun mengangkat kepalanya seraya menghela nafas. Ia tatap mata Jieun lurus-lurus.

“Kau tidak perlu cemas.. aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku. Apapun keputusan akhirnya akan kuterima, asalkan kau bahagia Jieunnie” ucap Jongin sangat lembut penuh perasaan. Sedetik itu juga Jieun merasakan perih dihatinya. Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Sekejam itukah dia hingga membuat sahabatnya sendiri tersakiti seperti ini? Mata Jieun memberat, butiran kaca cair mulai memenuhi pelupuk matanya. Perlahan Jongin mulai menghapus jarak diantara dirinya dan Jieun. Mata Jieun sontak terpejam karna tindakan Jongin. Dan sepersekian detik setelahnya dapat gadis itu rasakan sebuah sentuhan hangat dipipinya. Lembut dan sarat akan kelembutan yang didasarkan atas cinta. Bahkan ia sama sekali tidak keberatan dengan tindakan sahabatnya itu. Jieun membuka matanya setelah Jongin melepaskan ciumannya.

“Jong—“

“Ayo pergi!”

Ucapan gadis itu terpotong saat tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik paksa tangannya. Bahkan gadis itu hampir saja terjatuh karna tarikan yang terlalu kuat. Mata Jieun membulat ketika melihat punggung Sehun yang berjalan didepannya dengan tangan yang menggenggam tangannya.

“Sehun lepaskan!” pekik Jieun berusaha melepaskan diri. Tapi sudah dipastikan usahanya sia-sia, kekuatan tangan Sehun jelas berbeda dengannya.

“Sehun’ah lepaskan! Kau menggenggam tanganku terlalu kuat! Sakit!” pekik gadis itu lagi yang seketika membuat Sehun menghentikan langkah. Genggamannya mulai melembut dan namja itu membalikkan tubuhnya. Jieun terhenyak ketika melihat wajah Sehun yang nampak sangat marah. Nafas namja itu juga terdengar memburu.

Jieun menelan salivanya kasar, “Ada apa denganmu?”

“Kau tanya apa? Ada apa?! Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu Jieunnie! Ada apa denganmu? Kau menjauhiku lalu bermesraan dengan Jongin didepan mataku?!”

“Kau biarkan dia bersandar dipundakmu bahkan kau mengelus kepalanya seperti itu?! Kau pikir aku suka?”

“Memangnya kenapa? Jongin sahabatku, memang salah kalau dia meminjam pundakku untuk bersandar? Itu sudah biasa kami lakukan” ucap gadis itu berusaha setenang mungkin. Ia tidak akan kalah dari Sehun!

“Iya! Tapi itu menjadi tidak biasa karna kau melakukannya didepan mataku!” ucap Sehun dengan nada yang mulai meninggi.

Jieun mengernyit, “Apa?”

“Aku tidak suka kau melakukan hal itu dengan namja lain didepan mataku! Apalagi kau sampai membiarkan Jongin mencium pipimu seperti itu”

“Memangnya kau siapa? Siapa kau berani mengatur hidupku?” ucap Jieun tegas yang sukses membuat Sehun bungkam. Ia sendiri terkejut karna berani mengeluarkan kalimat seperti itu. Kalimat itu keluar dari alam bawah sadarnya.

Sehun tertegun, tatapan matanya yang berkilat-kilat berubah tak percaya. “Apa?”

“Kau bukan siapa-siapaku kan? Jadi kau tidak berhak mengatur apa yang boleh aku lakukan dan apa yang tidak boleh aku lakukan”

“Jieunnie..”

Jieun menghela nafas, “Sudahlah.. sudah kubilangkan kalau aku sedang malas berdebat” ucap Jieun sambil dengan sekuat tenaga memutar tubuhnya. Jujur.. sebenarnya ia sudah kehilangan seluruh tenaganya. Berkata sekeras itu pada Sehun membuatnya mengutuk dirinya sendiri. Tapi saat baru berjalan selangkah, tangan Sehun menahannya.

“Baiklah lupakan masalah itu, aku hanya ingin tau kenapa kau menjauhiku? Tolong katakan jika aku berbuat salah agar aku bisa memperbaikinya. Aku tidak kuat kau menjauhiku terus Jieunnie” ucap Sehun dengan nada yang mulai melembut. Tidak menjawab Jieun hanya menatap wajah Sehun lekat. Perlahan ia melepaskan tangan Sehun, pelan tapi cukup tegas.

“Jieunnie! Kau tidak apa-apa kan?” tanya Jongin yang baru saja berhasil menemukan sahabatnya yang dibawa lari oleh seorang namja.

“Aku tidak apa-apa Jonginnie.. ayo kembali kekelas” dengan  mata yang mulai memberat Jieun berjalan menuju kelasnya. Bukannya ingin mengabaikan Sehun, tapi gadis itu hanya sudah tidak kuat lagi berhadapan dengan namja itu. Ia takut benteng yang ia bangun dengan susah payah seketika runtuh hanya dengan melihat tatapan sendu Sehun kearahnya. Jadi lebih baik lari dari pada harus semakin menyakiti Sehun. Sedetik Jongin menatap Sehun yang memandangi Jieun dengan tatapan pilu lalu berlari menyusul sahabatnya.

“Maafkan aku Sehunnie” gumam Jieun pelan sambil memegangi dadanya.

 

 

 

¶¶¶¶¶

“Jieunnie? Aku tau kau mau menghindari pangeran manja itu, tapi bisakah kau pelan sedikit” ringis Jongin yang tengah diajak berjalan cepat oleh gadis yang menggandeng tangannya itu. Bel pulang sudah berbunyi dan sepasang sahabat itu sedang dalam perjalanan cepat menuju tempat parkir. Masih dalam usahanya menghindari Sehun, Jieun kini juga melibatkan Jongin didalamnya. Walau ia belum menceritakan apapun pada namja itu, tapi Jieun tau Jongin pasti akan mengerti dengan maksutnya. Tepat setelah bel pulang berbunyi Jieun dengan segera merapikan buku-bukunya berikut dengan buku-buku Jongin, lalu dengan segera pula ia menarik namja itu bersamanya meninggalkan kelas.

“Aku hanya malas kalau sampai berdebat dengan namja itu lagi Jonginnie” ucap Jieun masih terus menarik tangan Jongin. Sesekali ia menengok kebelakang, takut jika Sehun berhasil menyusulnya. Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda terlihatnya batang hidung namja itu. Jieun menghela nafas saat akhirnya ia sampai ditempat Jongin memarkirkan motornya.

“Ayo naik cepat, kau tidak ingin dia menyusulmu kan?” ucap Jongin pada Jieun masih saja celingukan memperhatikan sekelilingnya. Mereka bertingkah seperti seorang pencuri yang baru saja melancarkan aksi dan kini tengah menjadi buronan para warga sekitar. Merasa sudah aman Jieun naik dan Jongin pun segera menjalankan motornya keluar sekolah.

“JIEUNNIE!!!” pekik Sehun dengan nafas yang terengah. Tubuhnya dipenuhi keringat dan wajahnya nampak kusut. Ia baru saja menyelesaikan lari marathon mengejar gadis pujaannya yang telah lari bersama namja lain. Sehun berkacak pinggang sambil mencoba mentralkan kembali asupan oksigen ditubuhnya. Padahal sedikit lagi, lebih cepat sedikit saja ia pasti berhasil menyusul Jieun, tapi sayang karna gadis yang selalu menguntitnya itu ia jadi terlambat selangkah karna Jieun baru saja melewatinya bersama Jongin. Sehun mengumpat kesal sambil menendang kerikil dikakinya. Ada apa ini? Bahkan sebelum penyakitnya merenggut nyawa ternyata gadis yang ditakdirkan bersamanya sudah pergi menjauh lebih dulu?

Takut tersusul oleh mobil Sehun, Jongin masih terus mempercepat laju motornya sampai ketempat tujuan. Tapi masih beberapa meter lagi sampai ketoko bunga bibi Jieun, Jongin mulai merasa ada yang aneh pada gadis dibelakangnya. Posisi tubuh Jieun yang bertumpu pada punggung namja itu, membuat Jongin dapat merasakan tubuh gadis itu bergetar. Bagian pundak seragamnya juga terasa basah. Pasti.. gadis itu menangis..

Tepat didepan pintu toko, Jongin menghentikan motornya. Dengan cepat ia membuka helmnya dan meletakkannya dikaca spion. Jieun pun turun dari motor sambil menunduk. Walau tertutup kaca helm yang dikenakannya tapi isakan gadis itu terdengar jelas. Jongin mulai panik, bagaimana tidak? tiba-tiba saja gadis yang ia antar menangis diperjalanan. Jongin pikir mungkin karna ia membawa motornya dengan kecepatan penuh hingga membuat Jieun ketakutan.

“Jieunnie kau kenapa? Kenapa kau menangis?” tanya Jongin seraya turun dari motornya. Ia lepaskan helm Jieun pelan-pelan lalu menaruhnya diatas motor.

“Tidak Jonginnie.. aku tidak apa-apa” ucap Jieun masih menangis dan masih menunduk.

“Apa kau takut karna aku membawa motor terlalu cepat?” tanya Jongin lagi sambil menangkup pipi Jieun dengan tangannya. Dan Jieun hanya menjawab dengan sebuah gelengan kepala. “Lalu kenapa? Aku mohon ceritakan padaku. Kalau kau hanya diam dan menangis seperti ini, kau hanya malah membuatku khawatir Jieunnie”

Tidak menjawab, isakan gadis itu malah semakin menjadi. Awalnya Jongin makin panik tapi ia mulai tenang saat ia menyadari sesuatu yang ia pikir adalah sebab mengapa gadis dihadapannya menangis. Jongin menghela nafas lalu mendekap tubuh Jieun. Membiarkan gadis itu bersandar didadanya, ia elus rambut panjang Jieun lembut. Jieun terisak sambil menikmati kehangatan tubuh Jongin. Membiarkan kehangatan itu menyerap semua beban yang membludak didadanya.

“Maafkan aku Jonginnie.. aku hanya bisa menyusahkanmu” ucap Jieun disela isakannya.

“Tidak.. kau sama sekali tidak menyusahkanku”

 

Tap

 

Tiba-tiba suara derap kaki terdengar ditelinga kedua manusia itu. Mereka pun melepaskan pelukan mereka saat mereka dengar suara langkah kaki itu makin dekat dan terdengar cukup banyak, sepertinya lebih dari satu orang. Mereka datang dari sebelah kanan dan kiri, 5 laki-laki berjas hitam dan bertubuh besar.

“Ada apa ini?” tanya Jongin pada orang-orang yang ia tau adalah orang suruhan ayahnya.

“Kami diperintahkan untuk membawa tuan muda keperusahaan”

“Aisshh.. bukankah sudah kubilang kalau aku malas ikut rapat hari ini?!”

“Maaf kami hanya mengikuti perintah Presdir”

Jongin menghela nafas lalu mengalihkan tatapannya pada Jieun. “Maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu hari ini” ucap Jongin dengan nada menyesal. Ya, Jongin adalah anak tunggal dikeluarganya yang otomatis membuatnya menjadi pewaris utama usaha keluarganya. Sebenarnya ia adalah salah satu jenis orang yang benci acara formal seperti rapat direksi perusahaan, bahkan ia sering sekali kabur dari rapat dan membuat ayahnya geram. Tapi kali ini sepertinya mau tidak mau ia harus menuruti keinginan ayahnya. Karna ayahnya sudah sempat mengancam akan menerbangkannya sekolah keluar negri jika ia berani bertindak macam-macam lagi.

“Tidak apa-apa Jonginnie.. aku akan baik-baik saja” jawab Jieun sambil tersenyum simpul. Bagaimana pun ia tidak mau membuat sahabatnya itu khawatir.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi”

“Hati-hati dijalan” ucap Jieun sembari melambaikan tangan kearah Jongin yang mulai melajukan motornya. Setelah memastikan Jongin menghilang dari pandangannya dengan selamat, Jieun menghela nafas kemudian berjalan masuk kedalam toko. Tapi saat ia ingin mendorong pintu kaca itu ternyata tidak bisa. Jieun berdecak kemudian mengeluarkan kunci candangan dari tasnya. Setelah pintu itu berhasil dibuka Jieun pun masuk dengan langkah gontai. Dapat dilihat tokonya sedang sepi, sepertinya bibi Han sedang mengantar pesanan. Jieun hempaskan tubuhnya kesofa lalu menatap langit-langit ruangan lurus-lurus. Sejenak ia memejamkan mata lalu menegakkan tubuhnya kembali. Matanya kini menerawang memperhatikan sekelilingnya, dan rasa sesak itu lagi-lagi datang hingga memenuhi ruang dihatinya.

Memorinya bersama Sehun diruangan itu membuatnya menjatuhkan airmata lagi. Masih begitu ia ingat saat Sehun tiba-tiba ada ditoko bunga dan membantu perkerjaan bibinya, saat Sehun membuatnya memecahkan pot bunga hingga menghisap darah yang keluar dari jemarinya yang terluka. Bahkan hingga saking lelahnya namja itu mimisan dan pingsan diruangan itu. Semua terputar kembali seperti sebuah film pendek. Dan diruangan yang sunyi itu suara isakannya terdengar menggema.

“Sehun’ah? Apa yang aku lakukan ini benar?” lirihnya sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Menangis sendirian dan berharap ini semua bisa membuatnya lebih baik. Sampai akhirnya suara detingan lonceng pintu tokonya berbunyi. Dengan segera ia mengusap airmatanya, ia rapikan seragamnya yang sedikit berantakan lalu berjalan keluar ruang istirahat. Diangkatnya kedua alisnya ketika melihat sesosok namja cantik datang ketokonya siang itu. Seorang namja yang sebenarnya juga ingin dihindarinya.

“Luhan oppa?”

“Ah Jieun’ah.. kebetulan sekali aku kesini memang untuk mencarimu” ucap Luhan dengan senyum yang mengembang ketika melihat Jieun ada ditoko seperti yang diharapkannya.

“Oppa mencariku?” tanya Jieun sambil menunjuk dirinya sendiri.

Luhan mengangguk, “Sudah lama aku tidak bertemu denganmu Jieun’ah. Aku ingin mengajakmu minum kopi bersama. Kau ada waktu?”

Jieun mengangguk ragu mengiyakan ajakan Luhan. Sebenarnya kalau bisa ia ingin sekali menolak, tapi melihat bagaimana senangnya Luhan karna berhasil menemukannya ditoko itu membuat Jieun enggan untuk menolak. Mereka pun memilih untuk pergi ke kedai kopi disekitaran tokonya.

Sampai disalah satu kedai yang berjarak 5 blok dari toko bunga bibinya, mereka duduk disalah satu bangku didekat jendela. Namun sayang.. Jieun masih belum bisa mentralkan hatinya. Ia masih terbawa perasaannya pada Sehun, selama hampir 15 menit Luhan mengajaknya bicara gadis itu hanya menjawab sekenanya. Bagaimana tidak? Sepanjang pembicaraan, Luhan terus saja membahas tentang adik laki-lakinya.

“Oya bagaimana dengan Sehun? Apa ia bersikap baik disekolah?” tanya Luhan sambil menyeruput kopinya.

“Iya.. dia sudah tidak banyak berulah seperti dulu lagi”

“Ohh baguslah, dulu anak itu sering sekali bolos sekolah. Dalam sebulan lebih dari 15 hari dia membolos, gurunya bahkan banyak menyerah untuk mengurusinya. Tapi semua itu berubah total setelah ia masuk kesekolahmu. Ia bahkan tidak mau sekalipun terlambat kesekolah..” Luhan bercerita tentang adik semata wayangnya itu sambil tersenyum mengingat tingkah nakal adiknya dulu. Sementara Jieun hanya diam sambil berusaha menyunggingkan senyum diwajahnya. Ada apa ini? Apa tidak ada topik lain selain Sehun? Kenapa sedetik pun ia tidak bisa lepas dari namja itu?

“Oppa? Bisakah… kita berhenti membahas… Sehun?” ucap Jieun ragu yang sontak membuat Luhan cukup kaget. Ia mengedipkan mata berulang kali menatap Jieun.

“Oh? Ada apa? Apa kau sedang punya masalah dengannya?” tanya Luhan berhati-hati sambil memberi tatapan teduhnya pada Jieun.

Jieun menggeleng cepat, “Tidak! Aku hanya sedang malas membahasnya. Kita kan sedang berdua, kenapa tidak membahas satu sama lain saja?” tandas Jieun segera memberi penjelasan.

“Hmm.. baiklah kalau begitu” angguk Luhan mengerti seraya berpikir. “Bagaimana kalau kita bermain Truth or dare?” lanjut Luhan lagi meminta pendapat. Mendengar saran Luhan, seketika itu juga Jieun menganggukan kepalanya menyetujui. Benar! Permainan ini.. permainan yang akan memberikannya kesempatan untuk menanyakan hal itu pada Luhan. Untuk memastikan kebenaran ucapan Taera malam itu.

“Baiklah siapa yang memulai lebih dulu?”

“Umh.. Oppa saja” tunjuk Jieun kearah Luhan.

Luhan mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah, apa yang sebaiknya aku tanya—Ah, aku ingin tanya.. apa benar kau takut kelinci?”

“Eh? Dari mana oppa tau soal itu?” tanya Jieun dengan wajah terkejut.

“Waktu itu aku pernah datang ketoko bunga bibi mu untuk mencarimu, tapi ternyata kau tidak ada dan bibimu malah mengajakku minum teh sambil terus bercerita tentang dirimu. Disanalah dia memberitahuku. Jadi benar?  Itu berarti berbanding terbalik denganku yang sangat suka kelinci”

“Begitulah.. aku benci kelinci karna mereka tidak tau terimakasih. Dulu saat aku kecil aku pernah memelihara kelinci dan saat aku memberi makan mereka, mereka malah menggigit tanganku hingga membuat luka yang cukup dalam. Tidakkah mereka menyebalkan?” jelas Jieun sambil mengerucutkan bibirnya, Luhan hanya terkekeh melihat tingkah Jieun yang menurutnya imut.

“Baiklah.. sekarang giliranmu”

Jieun tersentak, sejenak ia berpikir lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia minum kopinya sedikit lalu membenarkan posisi duduknya. Luhan mengernyit melihat tingkah aneh gadis dihadapannya.

“Oppa? Pertanyaanku mungkin akan membuatmu tidak nyaman, tapi bagaimana pun aku harus memastikannya sendiri..” Jieun memotong kalimatnya sejenak hingga membuat Luhan makin mengernyit penasaran. “Benarkah.. benarkah oppa mempunyai perasaan itu.. terhadapku?”

 

Deg

 

Luhan terdiam ditempat, matanya membulat ketika mendengar pertanyaan gadis dihadapannya. Ia berpikir sedikit keras untuk mencerna pertanyaan gadis itu. Apa dia baru saja bertanya soal perasaannya? Bagaimana bisa?

“Oppa?” panggil Jieun meminta jawaban lebih cepat dari namja cantik itu.

“Eh? Itu aku..Jieun’ah..”

“Oppa pasti bingung dari mana aku mengetahuinya. Aku tidak bisa memberitau namanya, tapi ada seseorang yang semalam menemuiku dan memberitauku soal ini. Aku hanya ingin memastikan kebenarannya..”

Luhan mengangguk mengerti, mungkin memang ini saat baginya untuk menyerah. Dan sepertinya ia tau siapa yang memberitau Jieun soal ini—Sehun… “Baiklah.. aku mengaku kalah. Aku memang menyukaimu Jieun’ah tapi aku tau kau tidak memiliki perasaan itu terhadapku. Benarkan?” tanya Luhan mencoba tenang, bahkan namja itu masih bisa tersenyum lembut kearah Jieun.

“Maafkan aku oppa..” ucap Jieun pelan sembari menunduk.

“Tidak Jieunnie. Kenapa kau yang meminta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf karna perasaan yang tak diharapkan ini”

“Oppa..”

“Sudahlah.. aku tau perasaanku ini sudah salah sejak awal. Tapi dengan bodohnya aku tetap mempertahankannya. Jadi lupakan saja, karna aku sudah sangat merelakanmu. Bukankah orang yang kau pilih adalah adikku?”

 

 

 

¶¶¶¶¶

Dengan langkah gontai Luhan menaiki anak tangga rumahnya menuju lantai dua. Setelah mengantar Jieun pulang dengan selamat Luhan pun juga pulang kerumah. Sampai saat ini perasaannya masih tak karuan. Setelah pembicaraannya dengan Jieun dikedai kopi tadi membuatnya bingung harus bagaimana menata perasaannya. Dia baru saja menyatakan perasaannya pada gadis pujaan hatinya tapi bersamaan dengan itu pula ia menyatakan bahwa dia sudah menyerah untuk bertarung. Dia bilang dia sudah merelakan Jieun dengan Sehun? Benarkah?

Luhan menghela nafas sambil terus merutuki dirinya sendiri. Jujur didalam hatinya, ia sendiri masih sangat berharap ada keajaiban yang membuat perasaan gadis itu berbelok kepadanya. Ia acak-acak rambutnya sambil terus berjalan menuju kamarnya. Tapi seketika ia menghentikan langkah ketika mendapati Sehun sedang bersandar didepan pintu kamarnya. Alis Luhan terangkat sambil menatap Sehun bingung.

“Sehunnie?” panggil Luhan seraya menghampiri adik laki-lakinya itu. Sehun mendongak ketika mendengar suara seseorang yang ia tunggu akhirnya tedengar. Ia tegakkan kembali tubuhnya sambil memasukan kedua tangan kedalam saku celananya.

“Sedang apa disini? Kenapa tidak tunggu didalam?” tanya Luhan sambil menepuk sebelah pundak Sehun. Tapi sontak matanya membulat ketika dengan kasar Sehun menyingkirkan tangannya. Sehun tatap mata Luhan tajam, siratan kemarahan terlihat disana.

“Sehunnie kau kenapa?”

“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu hyung. Kenapa? Kenapa kau tidak mengindahkan peringatanku?” tanya Sehun dengan nada dingin. Luhan menambah kerutan didahinya, tidak mengerti dengan pertanyaan namja didepannya.

“Sudah kubilang kan, tolong jauhi Jieun. Kenapa kau masih saja..” Sehun memotong kalimatnya seraya menghela nafas. Ia berusaha menenangkan diri karna ia dengar nada bicaranya mulai meninggi. “Aku melihatmu tadi.. aku lihat kau dan dia minum bersama dikedai kopi itu hyung..”

Mata Luhan membulat, “Benarkah? Lalu.. apa kau mendengar pembicaraan kami?” tanya Luhan agak panik. Ia takut jika Sehun mendengar bahwa ia baru saja menyatakan perasaannya pada gadis yang Sehun cintai.

“Tidak..” jawab Sehun cepat yang langsung dibalas helaan nafas dari Luhan.

Kini malah Sehun yang mengernyit, “Memangnya apa yang kalian bicarakan hingga hyung takut aku mendengarnya?” tanya Sehun curiga.

“Ah bukan apa-apa.. bukan sesuatu yang penting”

“Kalau bukan sesuatu yang penting kenapa hyung takut aku mendengarnya?”

“Bukan takut…tapi.. karna aku dan Jieun..”

“Apa.. jangan-jangan hyung yang sudah menyuruh Jieun untuk menjauhiku?!”

“Apa? Menjauhi siapa? Menjauhimu? Apa maksutmu?” tanya Luhan tidak mengerti. Kenapa Sehun bertanya hal seperti itu?

Sehun mendengus geli, “Cih.. aku ragu, hyung benar-benar tidak tau atau hanya pura-pura tidak tau”

“Hey Sehunnie kau kenapa? Memangnya untuk apa aku meminta Jieun menjauhimu?”

“Agar kau bisa mendapatkannya?!”

“Kau gila?”

“Hyung yang gila! Sudah kukatakan aku tidak suka jika kau mendekati Jieun tapi kenapa kau masih saja mendekatinya eoh? Tidak puas hanya mengambil Soora dan sekarang hyung juga ingin mengambil Jieun?!” kini emosi Sehun mulai meluap nada bicaranya pada Luhan mulai meninggi.

“Tidak Sehunnie.. aku tidak bermaksut untuk merebut Jieun seperti yang kau pikirkan. Aku hanya sekedar mengajaknya minum kopi dan ngobrol bersama. Apa itu salah?” tanya Luhan berusaha lembut pada Sehun. Luhan tau adiknya itu hanya sedang salah paham.

“Sudahlah.. jika hyung tidak mau aku marah padamu lagi seperti waktu itu, lebih baik jauhi Jieun” ucap Sehun sambil berlalu meninggalkan Luhan yang hanya diam menatapnya.

Luhan tersenyum kecut, “Aku tau kau sudah jauh lebih unggul dariku Sehunnie—Ah tidak! bahkan bisa dikatakan kau lah pemenangnya. Aku tau kau begitu mencintainya karna itu kau tidak mau aku mendekatinya. Aku tau kau sangat takut kehilangan dirinya. Aku akui kalau aku memang sangat menyukai Jieun, aku mencintainya.. bahkan ini pertama kalinya perasaan ini begitu tulus. Tapi aku sadar bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Aku sadar perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi apa tidak terlalu kejam jika sudah tidak bisa memilikinya aku juga harus menjauhinya?” nada bicara Luhan terdengar lirih. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan air mata yang sudah menumpuk dipelupuk matanya. Sementara Sehun hanya terpaku ditempatnya, bahkan ia sama sekali tidak memutar tubuhnya.

“Aku sudah menyerah Sehunnie.. aku tidak mau membuatnya makin tersiksa akan perasaanku. Aku mencintainya dan aku ingin dia bahagia. Walau sakit dan perih, tapi aku akan merelakannya. Kau tidak perlu takut aku merebutnya darimu, karna itu berhentilah memintaku untuk menjauhinya. Aku akan menjaga jarak yang sudah dibentuk hatinya untukku. Aku tidak akan keluar dari zona yang seharusnya. Kau tidak perlu cemas..” ucap Luhan mengakhiri perkataannya. Tanpa basa-basi ia langsung masuk kekamarnya, meninggalkan Sehun yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Tatapan tajam Sehun memburam, dan otot tubuhnya mulai melemas. Seketika itu juga perasaan bersalah menyanderanya. Ia sandarkan tubuhnya pada dinding disebalah kanannya. Ia pejamkan mata sambil meremas dadanya. Tidakkah dia sudah terlalu kejam pada kakaknya sendiri?

Tanpa namja itu sadari, dari kejauhan ada seorang gadis yang memperhatikannya. Gadis itu diam sambil meremas tali tas mahalnya. Sejak tadi Taera diam ditempat yang berjarak 20 langkah dari lokasi pertengkaran itu tanpa ada yang menyadarinya. Bahkan dalam jarak itu ia dapat mendengar semua percakapan kedua namja itu dengan baik. Melihat Sehun sudah berjalan kembali kekamarnya, Taera pun memutar tubuh dan membatalkan niatnya menemui Sehun.

“Awas kau Park Jieun..” ucapnya sambil berjalan cepat.

 

 

¶¶¶¶¶

“Aaaahhh!!! Kenapa otakku tidak bisa bekerja dengan baik?!” keluh Jieun sambil mengacak-acak rambutnya brutal. Ia benamkan wajahnya diantara tangan yang ia lipat diatas meja belajarnya. Tidak mau melupakan pekerjaan rumahnya lagi, setelah membersihkan diri dan makan malam, gadis itu langsung berkutat dengan soal-soal matematikanya. Berharap bisa menyelesaikan Prnya dengan cepat. Tapi sayang.. perasaannya yang masih banyak dipengaruhi oleh Sehun membuat otaknya error seketika. Sudah setengah jam berlalu dan ia baru mengerjakan 2 soal dari 15 soal yang diberikan. Satu soal yang biasanya dikerjakan dalam waktu 5 menit sekarang baru bisa selesai setelah 15 menit.

Jieun tegakkan tubuhnya kemudian bersandar pada badan bangku. Ia tatap langit malam melalui benda transparan yang terpajang tepat satu garis lurus dengan matanya.  Bintang malam itu nampak terang nan indah seperti biasanya, sangat berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Ia hanya tidak habis fikir.. kenapa ia mendapat pilihan terlalu banyak dalam waktu bersamaan? Kenapa harus tiga padahal dia hanya boleh memilih satu?

Perasaannya saat ini lebih buruk dari sebelumnya. Setelah menemui Luhan dan lagi-lagi membuat namja itu tersakiti didepan matanya, Jieun merasa semakin berdosa. Bahkan karna rasa berdosa yang menumpuk dihatinya, bernafas pun sangat sulit ia lakukan.

“Oh Tuhan.. sejak kapan kau menjadi manusia berdarah dingin Jieunnie? Kau bahkan sudah menyakiti 3 namja sekaligus dalam satu hari” ucap Jieun sambil merebahkan kepalanya diatas meja.

 

Drrrrrtt

 

Drrrrttt

 

Jieun tersentak ketika tiba-tiba ponselnya bergetar tanda bahwa ada pesan yang masuk. Dengan langkah gontai, Jieun berjalan keranjang dan meraih ponselnya yang tergeletak diatas sana. Ia usap layar smartphonenya dan ia pun mengernyit ketika melihat nomor asing yang tertera disana.

From : xxxxx

Subject : Peringatan!

 

Ini aku Shin Taera. Aku menunggumu dihalaman depan gedung apartemenmu. Cepatlah turun

 

Status : Reading

 

Kerutan didahi Jieun semakin merapat, “Kalau dia yang ada perlu kenapa tidak dia saja yang kemari?! Dasar nenek sihir!” dengus gadis itu sambil melempar ponselnya ke ranjang. Dengan setengah hati Jieun keluar rumah untuk menemui Taera. Walau ia tahu gadis sombong itu hanya akan membuatnya kesal, tapi ia hanya tidak mau apartemennya menjadi ramai karna ada beruang hitam yang mengamuk dihalaman depan.

Tepat setelah Jieun menampakkan diri dari balik pintu kaca gedung apartemennya, Taera langung keluar dari mobil sedan hitamnya dan menatap tajam kearah Jieun. Sambil menghela nafas Jieun menghampiri gadis sombong itu.

“Ada apa lagi?!” tanya Jieun malas sambil bersedekap didada.

“Cih.. dasar gadis tidak tau diri” ucap Taera sinis sambil menatap Jieun dengan tatapan jijik. Mendengar ucapan gadis didepannya sontak Jieun menoleh dan membalas tatapan Taera tajam.

“Apa maksutmu?!”

“Kau gadis tidak tau diri yang sudah berhasil membuat hubungan kakak beradik pecah lagi”

Jieun mengenyit dalam, “Bicara yang jelas!” ucapnya tegas sambil menurunkan kedua tangannya.

“Bukankah sudah kuperingatkan berhenti membuat hidup Sehun berantakan. Aku juga sudah mengatakannya padamu kan? Jangan ganggu hubungan Sehun dan Luhan oppa”

“Hey Shin Taera bukankah sudah kau lihat sendiri tadi?! Aku sudah berusaha menjauhi pangeranmu itu tapi dia yang terus saja mengusikku”

“Aku juga sudah bilang kan kalau kau harus berkerja lebih baik Park Jieun. Usahamu masih sangat kurang! Dan lihat karna  kecerobohanmu Sehun lagi-lagi bertengkar dengan Luhan oppa!”

Ekspresi marah Jieun berubah terkejut, “Apa? Me..mereka bertengkar?”

“Iya! Karna Sehun melihatmu minum kopi bersama Luhan oppa tadi siang. Dia marah karna merasa Luhan terus berusaha mendekatimu. Dia salah paham bahkan dia membentak kakaknya sendiri hanya karna gadis semacam dirimu!” ucap Taera dengan nada yang meninggi. Sementara Jieun hanya terdiam ditempatnya. Jadi Sehun melihatnya dengan Luhan?

“Kau lihatkan? Kau itu hanya racun bagi hidup Sehunnie. Sudah memberi penyakit berbahaya padanya sekarang kau bahkan merusak hubungan Sehun dengan kakaknya. Apa lagi yang kau inginkan? Belum puaskah kau? Atau ingin membuat hidup Sehun lebih berantakan lagi?”

“Kata-katamu keterlaluan Shin Taera..”

“Cih.. Sudahlah, tidak perlu banyak basa-basi lagi. Sekali lagi aku memperingatkanmu Park Jieun. Jauhi Sehun dan berhenti membuat hidupnya makin sulit. Atau kalau perlu jauhi juga Luhan oppa. Aku tau kau bisa melakukannya sendiri. Tapi kalau kau memang butuh bantuan, katakan saja padaku”

“Hentikan..”

Tiba-tiba saja sebuah suara berat terdengar disela-sela pembicaraan dua gadis itu. Mereka sama-sama tau suara berat milik siapa kali ini. Keduanya tersentak dan mata mereka membulat. Terutama Taera, tubuh gadis itu seketika membeku. Wajahnya memucat dan jantungnya berdetak cepat. Sementara Jieun hanya memandang namja dibelakang Taera itu dengan tatapan terkejut. Taera menelan salivanya kasar lalu dengan perlahan memutar tubuhnya kebelakang. Dan jantungnya pun meledak ketika ia dapati namja yang menjadi topik utama pembicaraan mereka ada disana.

 

—Sehun

 

Deg

 

“Se..Sehunnie..kau se-sedang apa di-disini?”

“Jadi kau.. ternyata kau dalang dibalik ini semua?!”

“Se-sehunnie ini tidak seperti yang kau lihat. Kau sal—“

“Shin Taera kau sudah melewati batasmu..”

 

 

 

 

 

¶¶¶To Be Continued¶¶¶

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!!

97 thoughts on “Our Destiny (Chapter 6)

  1. Annyeong,, new reader ChaKi ibnida,,aku baca skilas ff ni conflic-nya menarik, tp aku mau minta izin bwt ubek2 di wp ni cari chap2 sblmnya, biar ntar bsa nyambung,,kkk

  2. ya ampun thor..
    lgi seru”nya baca,eh malah tbc -,-
    pdlh udh geregetan bgt bacanya…
    next chapt d tunggu ya…😀

  3. Aahhh…author kesayanganku yang unyu kece badai makasih udah dilanjutin ya
    Aku suka banget waktu sehun tau kalo taera yang nyuruh jieun jadi kayak gitu
    Saran dari readermu yang cantik ini #plak adalah bagusnya ditambahin satu tokoh lagi biar salah satunya ada pasangan,cuma saran loh
    Keep writing ya ^^

    • Hohohoho iya author jg makasi karna kamu uda mau baca dan komen di ff author yg abal ini
      Tambah tokoh? wuiih kamu bisa baca pikiran author ya? *upsss *jangan dibongkar dulu* kekeke
      Ditunggu aja ya sayang~ makasi atas sarannya~

  4. Anyeong…
    Hwang Seul Gi imnida. Reader baru di sini. Mau ijin baca crita” yg laen.
    Critax keren..konfliknya menarik.

  5. thor bisa cepet ga sih ?? nerusin cerita-nya ?? #gara-gara FF-nya greget jadi mulai ga nyantai nih tapi thor sumpah aku yg nunggu chapther 7-nya sampe lumutan soalnya cerita-nya bagus pake bangettttt🙂 sorry anak alay lewat

  6. Kyaaaa jebal lagi seru2’a TBC -_-
    alhamdulillah akhir’a ketauan juga tuh rencana busuk si Taera *syukuran 7 hari 2 malam #lah?
    oh iya genre ff ini sad thor ? kalo sad nanti sehun bakal mati gitu ? huaaa thor pls buat end’a happy ending aja pls😦 .. jangan nistain bias aku ya thor ..
    ok T.O.P banget Chap ini , dilanjut eaaa cepetan thor ^^

  7. Jujur aku selalu nunggu2 nih ff ARGH SHIN TAERA PERGI AJA LO DARI HIDUP JIEUN! MAMPUSIN LO KEPERGOK SAMA SEHUUUN MAMPUSIIIIIN LO HAHA ;>

  8. Ternyata FF ini disini kekekeke. aku tunggu chapternya di exofanfiction yang ini belum keluar, wuohhhhhh ini FF paling kusuka Daebak! keep Writing Thor!

  9. Haaaah Luhan memang pria yang baik…. Dan taera? Bisakah dia lenyap dari dunia ini(?). Hihi maaf ya authorr, aku terbawa suasana ini konfliknya kerasa banget kereeeen

  10. Assa! Mati kau shin taera !!

    Uu luhan emang paling baik dari dulu baca ff dia karakternya suka ngalah mulu hehe.

  11. Taera kena imbasnya asikasik jos/? Tpi maunya sih taera berubah baik terus pasangan sama jongin atau lu/? Tpi jong aja dh/?
    Se-Eun kembali bersatu aseek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s