Be My Love (Chapter 2)

COVER be my love chap 2-vert

Title     : Be My Love “Chapter 2”

Author  : HCV_1

Cast      : Kim Joonmyeon | Han Na Young

Genre   : Romance , little freak, little sad

Length : Chaptered

Rating  : T

Annyeong chingu !!!! *author lagi semangat *mohon dimaklumi

Apa kabar ? Pasti baik kan ? Iya dong , iya kan *maksa

Akhirnya chap 2 bisa selesai dengan selamat , yeayyy….maaf ya kalo author kelamaan buatnya *bow

Author harus menghadapi rintangan yang sangat amat sulit, tapi akhirnya author bisa melewati rintangan itu. Sampai akhirnya chapter 2 bisa di post, yeeaayyy berhasil ! #abaikan

Sebenernya sih author cuma mandet ide, terus ketagihan baca novel dan komik. Jadinya chapter 2 tidak terurus, bahkan tersentuh pun tidak *nangis di bahu Dio

Haloooooo para wolf !!!!!!! Ayo fans EXO angkat tangannya !!!!!!!!! Udah liat pacar author belum, itu loh yang kayak serigala itu. Yang ke-12 membernya ngedance ala-ala serigala itu ! Tau kan ? *jangkrik pun saling bersahutan *krik krik….krik krik*

Ayo yang udah pada nonton MV EXO – WOLF angkat kakinya tinggi-tinggi !!!! Kalo gak bisa angkat kaki , tangan aja deh yang di angkat #dilempar sendal

Author terpesona liat 12 member EXO , shock banget liat kai rambutnya gimbal , ngakak begitu liat teaser pas bagian baekhyun. Sumpah! Yang lain bener-bener menggambarkan serigala, tapi baekhyun ? terlalu imut buat jadi serigala. Lebih cocok jadi cihuahua #digebukin fans baekyun

Dan pada saat itu juga author makin cinta sama Kyung Soo. Suaranya bikin iler author ngeces sampe-sampe kamar author kebanjiran iler….Eaaaaa…..*coboy junior pun manggung *hush hush pergi lo *disini bukan tempat buat anak kecil *ini wilayah para serigala*

Sampe-sampe author lupa ngelanjutin ff yang udah dipending selama hampir 2 minggu #alesan aja nih author

Sumpah deh, begitu wolf keluar hal pertama yang author lakukan adalah belajar….ialah belajar author kan lagi ulangan kenaikan kelas. Biasa anak rajin. Iman author sempet tergoyahkan karena wolf itu kata temen-temen author keren bangeeeettttttt !!!! #dasar penghasut lo . Exo juga dapet triple win !!! EXO DAEBAK !!!

Ok deh sekian curcol author , author mauuuu minta maaf buat pada reader karena ff ini udah kepending selama berhari-hari , berminggu-minggu, berbulan-bulan, gak sampe bertahun-tahun sih ke simpen di laptop dan tidak terurus dengan baik.

Eh…tunggu-tunggu , sebelumnya author mau bilang maaf kalo ada typo di yang bertebaran di mana-mana , mungkin cerita ini menurut kalian aneh dan tidak menarik *bow bareng Dio

Buat lo yang ngaku anak K-Popers jangan pernah COPAS cerita orang lain atau berusaha menjadi plagiat ! Kalo lo anak K-Popers tunjukin ke orang-orang lo bukan plagiat dan lo juga anak yang keratif! Karena anak K-Popers adalah orang-orang penyuka Korea yang pemikirannya kreatif bukannya plagiator yang kreatif!

Author disini juga paling engga suka ada SILENT READER! Karena seorang siders sangat dibenci oleh para author seperi kami ini ! Maaf author keras , tapi ini untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan.

Ok deh , enjoy the story ^^

 

[Normal Pov]

Keesokan paginya…….

“Bagaiman kencan mu ?” Tanya ayah Nayoung pada putrinya itu. Ayah Nayoung tersenyum jahil begitu bertanya hal yang semestinya tidak ditanyakan pada putrinya itu. Ia ingin sedikit menjahili Nayoung.

Nayoung menggembungkan pipinya , ia tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia terlihat sibuk mengunyah sarapannya yang terdiri dari roti yang telah diberi selai dan susu sebagai pelengkapnya. Ia terlihat terburu-buru. Selain itu ia juga masih kesal dengan ayahnya yang seenaknya membuat pertemuan dengan pria menyebalkan itu tanpa persetujuan darinya.

“Appa aku berangkat dulu” ucap Nayoung pada sang ayah. Ia lalu bergegas mengambil tasnya yang ada di atas kursi lalu menggendongnya , kemudian berjalan ke luar rumah. Ia memasangkan headset yang tadi sempat ia masukkan ke dalam kantong seragam sekolahnya saat di kamar tadi.

“Nayoung, bagaimana kalau ayah meminta Joonmyeon untuk mengantarkan mu  ?”  ayah Nayoung menawarkan pada putrinya itu dengan suara yang keras, namun tak digubris karena anaknya itu sudah memasang headset di kedua kupingnya. Nayoung mulai menggembungkan pipinya lagi karena masih terdengar ucapa ayahnya itu walau samar-samar.  Ayah Nayoung hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya itu.

Nayoung berjalan menuju halte bus untuk barangkat ke sekolahnya dengan mengomel sepanjang perjalanan. Ia masih merasa sebal.

 

 

Namun saat hampir sampai beberapa langkah lagi di halte bus dan sibuk dengan omelannya sendiri tiba-tiba…….

 

BRAK

 

“AAWWWWWW!!!”

“Maaf kan aku , aku tidak berhati-hati. Apa kau tidak apa-apa ?”

“Apa kau tidak bisa menggunak…….”

 

Nayoung yang tadi sudah merasa kesal kini mejadi sangat kesal karena ia ditabrak oleh seorang namja , hingga ia jatuh terjerembab di tanah. Namun baru saja ia mengeluarkan sumpah serapah , ia sudah tidak mampu dibuat berkata-kata lagi oleh namja yang menabraknya itu.

Ia terpesona dengan namja yang tadi menabraknya

 

“Mari  ku bantu berdiri”

“Apa ada yang sakit ? Apa kau terluka “

 

Wajah namja itu terlihat sangat panik. Ia semakin panik karena gadis yang tadi ditabraknya kini hanya diam , bahkan gadis itu tidak berkedip sedikitpun walau ia sudah melambai-lambaikan tangannya di depan wajah gadis yang ia tabrak itu.

“Kau menginjak kotoran” ucap sang namja dengan sedikit tersentak.

Nayoung yang hanya diam sedari tadi , seketika itu juga terlonjak kaget. Ia sungguh terkejut karena ucapan sang namja yang mengatakan bahwa ia menginjak kotoran.

“Dimana ?? Mana ?? Bagaimana ini ???” ucap Nayoung panik. Wajahnya seketika itu juga berubah merah seperti kepiting rebus karena malu sekaligus panik.

Saat Nayoung sibuk dengan kepanikannya terhadap—kotoran , terdengar suara tawa dari namja yang ada di hadapannya.  Nayoung yang merasa dirinya tertipu kini menatap pria itu kesal. Nayoung menggembungkan pipinya pertanda ia merasa kesal….ia ditipu mentah-mentah oleh namja yang menabraknya tadi. Tapi kini namja itu malah sibuk menertawai dirinya.

“Yaaaa ! Apa itu lucu ?” bentak Nayoung dengan berkacak pinggang di hadapan namja yang masih tertawa terbahak-bahak itu.

“Aiiissshhh ! Jeongmal !” desis Nayoung. Kini ia menghentakkan kakinya dan menggembungkan pipinya.

“Maaf…..ku kira kau mati” ucap namja itu dengan tampang yang tak berdosa tapi masih dengan cengiran di wajahnya.

Nayoung hanya menatap namja itu dengan tatapan sinis yang membuat namja itu berhenti tertawa….namun ia tetap menyunggingkan senyum ramahnya pada Nayoung walaupun Nayuong mantapnya tajam.

“Apa kau baik-baik saja ?” ucap pria itu kini menatap Nayoung dengan tatapan serius.

 

 

 

-oOo-

Nayoung berlari menuju kelas karena tadi ada insiden kecil—tabrak menabrak—yang menyita banyak waktunya. Dan karena hal itu juga yang membuat ia harus berlari secepat mungkin, sebelum ia dinyatakan terlambat oleh guru yang akan mengajarnya di kelas.

Pagi ini adalah pelajaran guru yang paling mengerikan bagi nayoung. Pelajaran yang selalu membuatnya harus berpikir keras , berpikir keras mengenai reaksi antar molekul apalagi kalau bukan— Kimia.

Saat di depan kelas, ralat mengintip dari jendela yang ada di belakang kelas, ternyata pelajaran sudah di mulai , mau tidak mau Nayoung harus memutar otaknya untuk mencari ide agar ia bisa masuk ke kelas.

Dan untungnya kelasnya kini seperti kedatangan murid baru , murid baru itu sedang menunggu di luar kelas. Mungkin ia menunggu untuk di panggil. Sebelum akhirnya ia harus memperkenalkan diri di hadapan teman-teman Nayoung di depan kelas.

 

Aku berterimakasih ada murid baru yang masuk ke kelas ku ini , setidaknya aku bisa mengelabui Park-songsaengnim , hahahahahahaha

Tapi—

Tunggu dulu……

Dia bukannya orang gila yang menabrak ku tadi ?

Aiiiisssshhhh kenapa orang menyebalkan itu harus di masukkan di kelas ku sih ???

 Kutarik ucapan terimakasih ku tadi…. Batin Nayoung

 

Ia dengan segera menemukan ide untuk masuk ke kelas tanpa harus terkena hukuman dari songsaengnimnya yang terkenal kejam itu. Ia lalu berdiri di belakang murid baru itu. Murid baru itu nampaknya tidak menyadari bahwa Nayoung ada di belakangnya.

Saat Park songasaengnim memanggil murid baru itu untuk masuk , Nayoung-pun ikut masuk tapi tetap mengambil posisi di belakang murid baru itu. Ia memasang ekspresi yang meyakinkan.

“Nayoung , apa kau hari ini datang terlambat ?” Tanya Park songsaengnim dengan penggaris di tangannya yang sudah siap digunakan untuk memukul kepala Nayoung.

“Maaf , tadi aku harus menjelaskan sedikit dimana letak kelas ini pada murid baru ini” ucap Nayoung santai , ia menunjuk murid baru yang ada di depannya. Murid baru yang merupakan seorang namja itu refleks menoleh ke belakang.

“Aku juga tadi harus ke kamar mandi setelah menjelaskan di mana letak kelas padanya , ibu tau kan untuk apa saya ke kamar mandi” ucap Nayoung berusaha menunjukkan raut wajah yang meyakinkan.

“Baiklah kau lolos , kau boleh duduk” ucap Park songsaengnim, walaupun sebenarnya ia ingin menghukum Nayoung karena pada intinya ia terlambat. Tapi alasan Nayoung itu merupakan alasan yang masuk akal jika dilihat dari segi logika dan ia juga sudah baik mau menunjukkan letak kelas pada murid baru.

Nayoung kemudian dengan santainya berjalan menuju ke bangku tempat ia biasa duduk yaitu di pojok belakang. Tempat yang sangat nyaman untuk bengong , dan tempat itu selalu luput dari perhatian guru dan juga tempat yang sangat bagus jika Nayoung mulai merasa jenuh dengan pelajaran yang diberikan oleh guru-gurunya. Kini dengan tenang Nayoung duduk di bangku tersayangnya itu.

“Silahkan perkenalkan diri mu” ucap Park songsaengnim pada murid baru itu untuk mempersilahkannya untuk memperkenalkan diri di depan kelas.

“Annyeonghaseyo ! Xi Luhan imnida……..” ucap namja itu , sampai akhirnya ia selesai memperkenalkan diri. Para wanita yang ada di sana seperti terpukau dan takjub dengan wajah murid baru itu. Semua murid—wanita—memandangi Luhan dengan lekat tanpa berkedip sedikitpun. Tapi Nayoung hanya memandang kearah luar jendela. Ia asik dengan pikirannya sendiri. Ia bahkan tidak sedikitpun menoleh atau mendengarkan murid baru yang bernama Luhan itu berbicara tadi.

“Luhan kau boleh duduk di bangku kosong itu” ucap Park songsaengnim. Ia menunjuk kearah bangku yang ada di belakang atau tepatnya bangku kosong yang ada di sambping bangku Nayoung.

“Kita berjumpa lagi ya ?” ucap Luhan ramah.

“Apa yang kau lakukan ? Ini tempat duduk milik teman ku Eunji. Untuk apa kau duduk di sini ?” ucap Nayoung galak namun ia berusaha menekan suaranya agar tak terdengar oleh ‘harimau’ yang kini mulai menyuruh murid yang ada di kelas untuk membuka buku pelajaran.

“Maaf Park sogsaengnim” ucap Luhan dengan lantang.

“Ya , ada apa Luhan ?” Tanya Park songsaengnim

“Apakah aku boleh duduk di sini ? Tapi hanya kursi ini yang terliat kosong” ucap Luhan.

“Tentu saja kau boleh , kini kau bagian dari kelas ini. Jadi kau berhak memilih duduk dimanapun” ucap Park songsaengnim sambil menatap luhan.

“Baiklah , gamsahamnida songsaengnim” ucap Luhan ramah. Harimau itu pun kembali mengajar murid-murid di kelas.

Luhan kini memandang Nayoung dengan pandangan—kau dengar tadi bahkan diapun menyuruhku duduk disini—pandangan yang sangat menyebalkan bagi Nayoung.

 

Jieun !!! Kenapa kau tidak  sekolah ???

Karna kau , aku harus duduk bersebelahan dengan orang gila ini !!!! Teriak Nayoung kesal dalam hati.

 

Nayoung tidak memperhatikan pelajaran yang diterangkan oleh ‘harimau’ sepenuhnya karena moodnya  tadi sempat hancur namun dengan susah payah ia memperbaikinya , tapi dalam seketika hancur berkeping-keping menjadi serpihan yang jauh lebih kecil lagi dari sebelumnya  begitu saja karena orang yang kini duduk di sebelahnya.

Ia kini melirik orang yang ada di sebelahnya namun….orang yang dilirikya diam-diam malah menunjukkan deretan  giginya yang putih kearah Nayoung.

Nayoung yang merasa seperti terangkap basah wajahnya kini memerah….Luhan hanya tersenyum, senyum manis kearah Nayoung.

Nayoung kemudian mendengus kesal. Hari-harinya kini mungkin akan terasa melelahkan , siapa yang tahu. Ia menggemungkan pipinya lagi—bosan.

 

 

 

-oOo-

“Kenapa lama sekali sih kau datang ?” ucap sebuah suara yang sangat familiar bagi Nayoung. Suara yang sangat amat menyebalkan. Yang kini menghantui dirinya di rumah.

Nayoung hanya diam , tak menjawab. Ia begitu saja naik ke kamarnya tanpa mempedulikan pertanyaan itu.

Setelah berganti baju kemudian ia turun ke bawah , menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Namun baru saja ia membuka lemari pendingin tiba-tiba suara itu kembali terdengar.

“Hei gadis liar , apa kau tidak punya telinga ?”

Nayoung berusaha untuk tidak menggubris ucapan tersebut ia mengambil air dingin yang ada di dalam lemari pendingin dan meminumnya untuk mendinginkan kepalanya yang sudah sangat sembrawut dan kini semakin sembrawut. Ucapan pria it uterus terngiang-ngiang di kepalanya. Namun apa mau dikata, emosinya lebih menguasai dirinya. Ia mendelik ke arah suara tersebut.

“Yaaaa ! Apa yang kau katakan tadi? Gadis liar? Apa kau tidak merasa kau juga sama liarnya!” teriak Nayoung yang seakan-akan siap meledak. Sudah cukup ia merasa kesal hari ini. Mungkin ini sudah batas kesabarannya. Ingin rasanya ia menyemburkan air dari mulutnya ke wajah orang menyebalkan itu.

Tsk…lihatlah kelakuan mu yang liar itu” ucap suara yang ternyata milik Joonmyun.

“Kau itu menyebalkan! Untuk apa kau ada di sini?” uca Nayoung galak namun sudah tak berteriak lagi, karena ia sadar kelakuannya memang—liar.

“Ayah ku dan ayah mu yang menyuruh ku untuk tinggal di sini” ucapnya lalu pergi naik ke atas.

“Cih….pria menyebalkan” umpat Nayoung.

 

Tunggu dulu…..

Tinggal ?

Tinggal disini ?

Mwo ??? Appa ???

Aaakkkhhh !!!!  Apa lagi sih yang di rencanakan oleh appa !!??

 

Nayoung yang merasa kesal langsung mengubungi ayahnya untuk meminta penjelasan dan melakukan aksi protes.

TUUT

TUUT

TUUT

“Appa! Kenapa pria menyebalkan itu ada di rumah ?”

“………”

“Kenapa harus dia ? Lagi pula appa sudah sering meningalkan ku sedirian di rumah hingga berminggu-minggu kan ?!”

“………”

“Boo?? Da tidur di sebelah kamarku ?!?!”

“………”

“Appa!”

TUUT

TUUT

Baru saja Nayoung ingin melancarkan aksi protesnya namun sambungan telfon telah diputus oleh ayah Nayoung, yang ternyata sudah bisa menebak reaksi putrinya itu. Nayoung kini hanya bisa pasrah , ia harus bersabar untuk beberapa hari saja. Beberapa hari selama ayahnya masih bertugas di luar negeri.

“Hei gadis liar…..aku lapar cepat kau masak” perintah Joonmyun cuek.

“Nama ku Nayoung , Han Nayoung ! Bukan gadis liar !” bentak Nayoung.

“Dasar cerewet , cepat buatkan aku makanan” perintah Joonmyeon lagi. Nayoung hanya bisa mengomel sendiri karena tidak terima di perintah seperti itu oleh namja jelek seperti Joonmyeon.

Nayung menyiapkan alat-alat masak dan juga bahan-bahan untuk memasak. Nayoung bukanlah tipe gadis yang terampil dan telaten seperti gadis lainnya yang feminim dan modis. Ia tipe gadis yang tidak sabaran, tomboy dan ya seperti yang dikatakan oleh Joonmyeon—liar.

Begitu pula dalam hal memasak. Ia memotong bawang dengan tidak sabaran , potongan bawang yang semestinya tipis dan rapi malah menjadi besar-besar dan yang pasti sangat berantakan.

Begitupun dalam hal memotong sayuran, sayuran itu malah berbentuk sangat tidak wajar karena dicincang semaunya oleh Nayoung.

Beberapa menit keudian masakan yang dibuat oleh Nayoung hampir jadi, namun…

 

PRAANNGGGG

 

Joonmyeon langsung berlari kearah dapur begitu mendengar suara piring jatuh dari dapur.

“Yaaa , bisakah kau lebih hati-hati sedikit” desis Joonmyeon.

“Lebih baik kau diam saja” balas Nayoung kesal. Nayoung membersihkan pecahan-pecahan piring yang berserakan. Namun tanpa sengaja pecahan piring tersebut malah melukai jari manis Nayoung.

Dengan segera Joonmyeon menarik tangan Nayoung yang terluka itu , lalu menghisap darah yang keluar dari jari manis Nayoung. Nayoung sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Joonmyeon.

“Cepat ikut aku” ucap Joonmyeon kesal.

Nayoung masih terpaku di tempat. Joonmyeon langsung menarik Nayoung menuju ruang tengah, dan mengambilkan obat merah. Ia dengan segera meneteskan obat merah di kapas dan mengoleskannya di jari manis Nyaung yang terluka. Kemudian ia membalutkan plester luka untuk menutupi luka yang ada di jari manis Nayoung agar tidak infeksi.

“Kau ini sungguh ceroboh!” bentak Joonmyeon.

Nayoung hanya mengedip-ngedipkan matanya.

“Jumon….kau itu vampire ya? Kau menghisap darahku tadi—“ ucapan Nayoung terputus.

“Yaaa! Berarti kini dalam tubuh ku menglir darah ku. Andwe!” ucap Nayoung tidak terima.

“Cih, aku juga tidak sudi jika itu terjadi” ucap Joonmyeon.

Nayoung segera berjalan menjauhi Joonmyeon—tepatnya menjuju dapur. Karena masakannya tadi belum sepenuhnya selesai.

Tsk…bentuknya sungguh aneh” ucap Joonmyeon setelah melihat hasil masakan Nayoung yang telah dihidangkan di meja makan.

“Kau itu sudah memerintahku seenaknya. Masih untung aku mau memasakkannya untuk mu tapi kau malah mengomel hanya karena penampilannya saja” omel Nayoung lalu mengambil tempat duduk di tempat ia biasa duduk saat ia sarapan dengan ayahnya. Joonmyeon telah mengambil posisi duduk berhadapan dengan posisi Nayoung.

“Cepat makan, atau ku paksa kau untuk memakan masakan ku semuanya” ancam Nayoung sambil mengacung-acungkan sendok di tangan kanannya.

Dengan tatapan tidak yakin Joonmyeon mulai menyendok masakan Nayoung tepatnya—Kare Hitam. Ia lalu mencoba memakannya. Dengan hati-hati Joonmyeon memasukkannya ke dalam mulut sebelum akhirnya ia harus masuk rumah sakit akibat masakan Nayoung.

Namun, saat masakan itu sudah sampai di mulut Joonmyeon dan dengan berat hati menelannya….Joonmyeon malah menyendok lagi—Kari Hitam—Nayoung itu.

“Rasanya tidak seburuk rupanya” gumam Joonmyeon.

“Benarkan!” seru Nayoung.

“Jika aku yang memasak rasanya pasti enak” ucap Nayoung bersemangat.

“Cih….mungkin orang-orang akan muntah dulu saat melihat hasil masakan mu ini, sebelum mereka  tahu bagaimana rasanya” cibir Joonmyeon.

“Terserah apa pendapatmu saja” ucap Nayoung lalu ia mulai sibuk menyendok nasi dan kari hitamnya untuk mengisi perutnya yang  sedari tadi meronta-ronta untuk diisi.

Joonmyeon tersenyum tipis , senyum yang tidak dilihat oleh Nayoung. Senyum yang sengaja ia tutupi dari gadis yang ada di hadapannya.

 

 

 

-oOo-

“Yaaa Jumon!” pekik Nayoung dengan suara yang melengking.

Joonmyeon balas menatap tajam Nayoung. Nayoung kemudian menunjukkan deretan giginya yang bersih.

“Aku ingin bertanya pada mu” ucap Nayoung dengan suara yang tegas namun masih tetap menunjukkan deretan giginya.

“Kenapa kau mau tinggal di sini menemaniku selama ayah ku pergi ?” tanya Nayoung ingin tahu.

Tsk….” cibir Joonmyeon.

“Aku disini karena diperintah oleh ayah ku…sudah berhenti mengganggu ku” ucap Joonmyeon kesal.

Nayoung hanya membulatkan bibirnya, lalu mengangguk-ngangguk. Kemudian ia menatap Joonmyeon serius. Hingga dahinya berkerut-kerut.

Joonmyeon yang merasa dirinya dipandangi, kemudian menoleh kearah Nayoung. Ia kemudian ikut mengerutkan dahinya.

“Jumon….”

“Wajahmu itu…..”

“Banyak keriputnya” ucap Nayoung lalu melarikan diri dari amukan Joonmyeon. Nayoung tertawa puas setelah ia mengatai Joonmyeon seperti itu.

“Cih , dasar bodoh” ucap Joonmyeon ketus karena ia dikatai tua oleh Nayoung.

 

DRRTTT

DRRTTT

“Ne ahjussi”

“………”

“Ne , dia baik-baik saja”

“………”

“Baiklah , akan ku jaga dia baik-baik”

PIP

Joonmyeonpun memutus panggilan telefon itu.

 

 

 

-oOo-

 

 

[Nayoung Pov]

“Ehhmmmm…..”

“Tidak”

“Tidak”

“Aku tidak mau”

“Siapa kau?!” pekik ku. Aku segera bangun dari mimpiku itu. Mimpi yang aneh yang kembali muncul. Mmimpi yang tak aku mengerti tapi selalu muncul. Mimpi yang hampir sama yang selalu membuat ku terbangun ditengah malam.

Aku mengusap wajahku dengan telapak tangan. Mataku menatap menerawang. Terlalu banyak kejadian dalam mimpi itu yang berkelebat di dalam kepalaku. Seorang pria misterius dan seorang wanita yang aku bahkan tidak tahu siapa ia..bagaiman bentuknya dan bagaiman wajahnya. Pria misterius dan seorang wanita yang selalu saja muncul dalam kepalaku, bahkan hampir setiap malam juga muncul dalam mimpiku.

Aku memilih mengambil air yang ada di meja di samping tempat tidurku. Aku meminum air itu agar perasaan ku tenang tidak kacau seperti tadi. aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan secara perlahan. Aku kembali berbaring, tapi mata ku tak bisa terpejam. Aku mencoba membuka jendela kamar dan berjalan menuju balkon untuk menghirup udara malam.

“Setidaknya ada bintang dan bulan yang menemaniku” gumam ku melihat bulan dan bintang yang bersinar terang. Entah mengapa begitu melihat bulan dan bintang pikiranku menjadi tenang kembali.

DEG

“Apa Jumon itu vampire ya ? Kenapa selarut ini ia masih terjaga” gumamku. Aku menatap Joonmyeon yang masih sibuk dengan laptopnya. Untung saja ia berada di balkon seberang dan ia juga duduk dengan sedikit membelakangi ku. Jadi ia tidak bisa melihat ku, tetapi wajhnya masih dapat ku lihat dari samping. Jika ia melihat ku mungkin mulut ku ini akan refleks mengeluarkan sumpah serapah seperti biasanya.

“Ia terlihat seperti orang tua” gumamku lagi. Aku memperhatikan wajah Joonmyeon. Alisnya saling bertautan. Matanya menatap laptop dengan tatapan yang serius. Ekspresinya pun terlihat tegas.

Wajahnya lumayan tampan jika dilihat dari sini…Hahh ? Nayoung apa yang tadi kau katakana ?

Tampan ? Apa matamu sudah katarak ? Wajah seperti itu tampan ?

Wajah yang selalu memperlihatkan ekspresi menghina ? Ahhh….tapi ia sedikit tampan juga jika dilihat…ingat Nayoung hanya sedikit SEDIKIT !!

Tidak lebih dan tidak kurang ! Hanya sedikit !!!

Aku kembali masuk ke dalam kamar. Sudah cukup aku memperhatikan wajah Joonmyeon yang  menyebalkan itu. Wajah yang selalu ingin ku injak-injak.

Aku kembali membaringkan tubuh ku di ranjang, dan dalam hitungan detik mata ku sudah terasa berat, semakin lama mata ku mulai menutup. Dan akhirnya aku tertidur lelap.

[Nayoung Pov End]

 

 

 

-oOo-

 

 

[Normal Pov]

 

Keesokan paginya…..

 

“Jadi kau murid SMA seperti ku ya ?” ucap Nayoung begitu sampai di meja makan setelah ia melihat untuk pertama kalinya Joonmyeon menggunkan pakaian seragam sekolah lengkap , kemudian ia mengambil susu yang sudah ada di meja dan segera meminumnya.

“Dasar gadis liar” ucap Joonmyeon, namun ia nampak tidak memperhatikan Nayoung.

“Ku pikir kau 5 tahun lebih tua dari ku…ternyata wajahmu itu terlihat terlalu tua dari usia mu sebenarnya” ucap Nayoung lalu bergegas mengambil roti tawar dan langsung melahapnya.

“Aku berangkat dulu….Jumon ahjussi” ucap Nayoung berpamitan dan mencoba memancing amarah Joonmyeon, kemudian tersenyum jahil. Ia bergegas keluar rumah , dengan satu roti tawar di mulutnya dan satu lagi di tangannya.

“Cih , dasar kau gadis liar. Sarapan dengan benarpun kau tidak bisa” ucap Joomyeon menatap punggung Nayoung yang jaraknya semakin jauh.

Kemudian ia juga segera berangkat ke sekolah dengan mobilnya. Joonmyeon adalah anak seorang direktur , jadi tidak heran jika ia mengendarai mobil mewah. Dan sekolahnya pun merupakan sekolah unggul  yang sebagian besar muridnya merupakan  anak-anak orang kaya.

“Jieun !!! Bogoshipeo!” teriak Nayoung sambil berlari menghampiri Jieun dan segera memeluknya erat. Rasa kesalnya akibat Jieun tidak sekolah kemarin hilang begitu saja setelah melihat Jieun yang hari ini bersekolah.

“Jieun aku ingin bercerita banyak padamu” seru Nayoung.

“Aisshhh , gadis ini….lepaskan pelukan mu. Aku tidak bisa bernafas” ucap Jieun.

Nayoung melepas pelukannya. Ia tersenyum jahil ke arah Jieun.

“Kenapa kau tidak datang ke sekolah kemarin ?” tanya Nayoung.

Kini mereka berjalan bersama menuju kelas. Jieun kemudian menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya.

“Kemarin aku merasa tidak enak badan….eomma juga menyuruhku untuk tidak sekolah karena suhu tubuhku yang masih tinggi” terang Jieun.

“Jadi kemarin kau sakit ? Kenapa tidak memberitahukannya padaku ? Aku kan bisa menjenguk mu” ucap Nayoung khawatir.

“Maaf Youngie , lagi pula aku sekarang sudah sehat” ucap Jieun lalu tersenyum kearah Nayoung.

“Yaaa Jieun kau tahu….karena kau tidak sekolah kemarin, aku harus duduk dengan orang gila” ucap Nayoung sambil menunjukkan wajah cemberut.

“Kau tau jika kau terlalu membenci seseorang lama-lama kau akan jatuh cinta padanya” ucap Jieun menggurui Nayoung. Padahal ia juga tidak tahu apa-apa soal cinta dan hal sejenisnya yang berhubungan dengan cinta.

“Cih , apa karna kau demam kemarin otak mu jadi bermasalah ya ?” sindir Nayoung.

“Aish kau itu cerewet.  Jadi diam saja” ucap Jieun kesal karena Nayoung mengatainya.

“Untunglah kau sekolah , setidaknya aku tidka harus duduk dengan orang aneh itu” ucap Nayoung lagi.

“Berterima kasihlah pada ku” cibir Jieun.

Nayoung kemudian membalas ucapan Jieun dengan cengiran. Jieun pun ikut tersenyum. Sampai akhirnya mereka tiba dikelas.

Tapi……

“Annyeong!” sapa Luhan dari mejanya.

“Kau…kau kenapa duduk di sini?” ucap Nayoung shock. Karena hal yang terjadi berbeda dengan pemikirannya.

“Jieunssi kau tidak keberatan kan jika aku duduk di tempat mu ?” tanya Luhan dengan wajah tersenyum.

“Hmmm…Baiklah, kau bisa duduk di sana. Aku akan duduk di depan saja” ucap Jieun, ia tidak bisa menolak permintaan dari anak baru yang bernama Luhan itu.

“Jieun jangan pindah….tetaplah duduk disini” pinta Nayoung. Nayoug mulai bersikap seperti anak kecil. Ia menarik-narik baju Jieun.

“Kita masih tetap satu kelas kan ? Jadi jangan bertingkah seperti ini” ucap Jieun.

 

BRAK

 

“Ayo cepat duduk , keluarkan buku kalian” ucap guru yang masuk ke kelas Nayoung. Guru itu membuka pintu kelas terlalu kelas. Mungkin beberapa bulan lagi pintu itu sudah hancur.

Nayoung  menatap Luhan dengan tatapan sinis.                Luhan hanya membalas tatapan Nayoung dengan senyum.

“Aku bosan…” gumam Nayoung pelan. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja. Kemudian menatap langit dari arah jendela. Ia Nampak mengerutkan dahinya begitu melihat ada awan yang berbentuk aneh di langit. Kemudian kerutan itu berubah menjadi sebuah senyuman karena lagi-lagi ia melihat awan yang bentuknya aneh juga tapi menurutnya sangat lucu. Saat tersenyum sendiri itu ia tidak melihat ada sepasang mata yang menatapnya kini. Memperhatikannya.

 

PLETAK

 

“Awww….” ucap Nayoung meringis karena kepalanya dilempar sesuatu. Sesuatu yang padat berwarna putih, lebih tepatnya—kapur. Kapur yang sukses melayang mengenai kepalanya karena ia tidak memperhatikan pelajaran di kelas. Pelajaran Park songsaengnim. Si harimau loreng. Begitu julukan yang diberikan Nayoung pada guru itu. Hanya Nayoung yang memberikan julukan itu. sedangkan teman-temannya yang lain menyebutnya—siluman.

“Han Nayoung! Cepat maju ke depan kerjakan dua soal yang ada di depan!” bentak si—harimau loreng itu. Ia melotot ke arah Nayoung. Nayoung hanya mampu menunduk. Bagaimana tidak, sedari tadi ia tidak memperhatikan pelajaran yang diterangkan oleh Park songsaengnim. Ia sibuk memperhatikan awan yang bentuknya bermacam-macam dan unik di langit.

“Han Nayoung! Apa kau tidak mendengar apa yang ku katakan ? Cepat kerjakan! Kau sedari tadi tidak menyimak pelajaran ku dengan baik!” bentak Park songsaengnim. Membuat suasana kelas yang tadinya tenang  menjadi sepuluh kali lipat menegangkan dari sebelumnya karena Park songsaengnim seperti meminta tumbal hari ini. Dan tumbal itu Nayoung.

“Sssttt…Nayoung bawa buku ku. Aku sudah mengerjakannya. Cepat” bisik pria yang duduk di sebelah Nayoung yang tak lain adalah Luhan. Luhan dengan cepat memindahkan bukunya ke meja Nayoung. Ia kemudian sibuk membuka buku lain agar tidak ketahuan oleh Park songsaengnim.

Nayoung menatap Luhan. Menatap dengan tatapan ‘terima kasih’. Ia langsung maju ke depan menyalin jawaban yang tadi sudah di buat oleh Luhan. Dan untungnya Nayoung memiliki otak yang cukup pintar, sehingga ia mengerti dengan apa yang di buat oleh Luhan. Sehingga Park songsaengnim tidak tahu bahwa itu buku milik Luhan bukan dia dan ia menyalin cara yang ada di buku Luhan itu. Setelah selesai ia melihat kembali ke papan tulis untuk memastikan jawabannya. Kemudian ia kembali ke tempat duduk.

Park songsaengnim menatap Nayoung tajam. Kemudian ia kembali menerangkan pada murid lain yang masih tidak mengerti dengan apa yang di tulis Nayoung di papan.

Nayoung duduk di bangkunya. Dengan segera ia meletakkan buku itu di meja Luhan. Luhan menatap Nayoung. Nayoung kemudian mengucapkan kata ‘terimakasih’ tanpa mengeluarkan suara. Luhan membalas ucapan Nayoung itu dengan senyum manisnya.

Nayoung kemudian tersenyum. Sepertinya ia sudah bisa menerima Luhan sebagai teman duduknya. Setidaknya anggapan Luhan adalah orang yang menyebalkan berkurang.

 

 

 

-oOo-

“Hei Nayoung kau itu hampir saja menjadi tumbal si—harimau” ucap Jieun pada Nayoung. Jieun sangat hafal dengan sahabatnya itu. Jika ia merasa bosan ia akan mencari suatu hiburan yang bisa menghilangkan rasa bosannya itu. Tapi bersikap seperti itu saat pelajaran Park songsaengnim sangatlah berbahaya. Jieun merasa gemas dengan tingkah sahabatnya ini.

“Untung saja ada Luhan. Kau harus berterimakasih pada Luhan” Jieun mulai berwajah serius. Dulu saat Jieun duduk di sebelah Nayoung selalu saja dia yang harus was-was dan menyadarkan Nayoung bahwa ia harus menyimak pelajaran dengan baik. Tapi kini Luhan-lah yang duduk di sebelah Nayoung. Jadi mungkin Nayoung harus menghilangkan kebiasaan buruknya itu. karena sudah tidak ada lagi yang menyadarkan Nayoung dari lamunannya seperti dulu.

“Tadi kau mengatakan ingin cerita banyak hal pada ku…kau bisa menceritakannya sekarang” ucap Jieun.

“Yaaaa! Han Nayoung kau mendengarkan ku kan?” ucap Jieun kesal. Nayoung Nampak mengantuk. Matanya seperti akan terpejam. Ia memakan roti yang ia pegang dengan keadaan yang setengah sadar.

“Dasar kau!” ucap Jieun terlihat kesal karena perkataannya tidak di dengar oleh Nayoung. Jieun juga tau kebiasaan Nayoung yang ini. Ia akan merasa mengantuk saat jam pelajaran hampir usai. Jadi Jieun sudah tidak bisa protes ataupun membentak Nayoung karena tidak akan digubris oleh Nayoung.

“Luhan tunggu!” teriak Nayoung pada namja yang kini ada beberapa meter di depannya. Luhan pun menoleh.

“Ada apa Nayoung ?” ucap namja itu dengan nada suara yang genit. Nayoung merasa geli dengan nada suara Luhan yang terkesan di buat-buat itu. Dengan segera Nayoung mensejajarkan langkahnya dengan Luhan.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih pada mu” ucap Nayoung. Luhan yang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nayoung tadi tampak sedang berpikir. Ia mulai tersenyum. Senyum yang membuat Nayoung merasa akan ada hal aneh yang akan terjadi.

“Bagaimana untuk ucapan terima kasih mu itu, kau harus menemaniku jalan-jalan?” tawar Luhan. Benar dugaan Nayoung hal yang buruk akan terjadi. Dan itu akan di mulai dari sekarang.

“Sudah ku duga kau akan meminta hal yang aneh-aneh baiklah” ucap Nayoung. Nayoung adalah orang yang memegang teguh ucapannya. Jika iya bilang sanggup , ia akan menyanggupinya. Karena itu juga yang di ajarkan oleh ayahnya sejak kecil. Menjadi gadis yang mandiri dan bertanggung jawab.

“Kajja….aku mau kita berkeliling dulu” ucap Luhan pada Nayoung tak lupa dengan senyum yang terukir di kedua sudut bibirnya. Nayoung mencibir karena tingkah Luhan itu.

“Ayo kita mulai perjalanan kita” ucap Luhan lalu menarik tangan Nayoung. Ia terlihat tidak sabaran dengan rencananya itu untuk berkeliling.

“Yaaa! Luhan kau tidak perlu menarik ku seperti ini” desah Nayoung. Ia nampak tidak nyaman dengan kelakuan Luhan yang menarik tangannya. Luhan pun melepas tarikan tangannya. “Kau pikir kau tidak bisa jalan sendiri apa” cibir Nayoung.

“Kau itu terlalu banyak mencibir ya? Kau jadi terlihat seperti tante-tante” ucap Luhan dengan tatapan tidak bersalah. Nayoung yang mendengar perkataan Luhan itu langsung melotot kearah Luhan. “Wajah ku ini baby face kau tahu itu” ucap Nayoung tidak terima.

“Apa pantat babi?” ucap Luhan. Nayoung menatap tajam Luhan. Wajahnya di katai seperti tante-tante dan kini dikatai pantat babi. Nayoung diam, entah mengapa ia tidak bisa membalas ucapan Luhan. Padahal biasanya jika ada yang mengatainya pasti akan ia balas, bahkan balasan itu harus berimbas dua kali lipat.

Setelah berkeliling komplek pertokoan Luhan memutuskan untuk duduk sejenak di tempat duduk yang ada di sekitar sana. Nayoung juga terlihat sudah lelah. Bagaimana tidak mereka berkeliling  sekitar 3 jam.

“Apa kau lapar?” tanya Luhan pada Nayoung. Tanpa dijawab pun, Luhan tau bahwa Nayoung lapar karena perut Nayoung berbunyi sangat keras karena kelaparan. Mungkin sudah dari tadi Nayoung menahan lapar. Sehingga bunyi perutnya yang keroncongan itu lumayan keras. Wajah Nayoung memerah karena malu.

“Ayo kita makan” ajak Luhan. Mereka langsung pergi ke sebuah café yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk tadi. Mereka berdua masuk ke dalam café itu.

Namun baru saja mereka berdua masuk ada sepasang mata yang menatap mereka berdua lekat. Tatapan yang sangat tajam. Namun baik Nayoung maupun  Luhan tidak menyadari tatapan tajam itu.

“Jadi kau dulu pernah tinggal di sini ya ? Pantas saja untuk anak baru seperti mu, kau sangat mengenali tempat yang ada di kota ini” ucap Nayoung. Entah mengapa ia sangat akrab sekali berbincang dengan namja yang kini berada di hadapannya.

Luhan hanya tersenyum mendengar perkataan Nayoung. Ia masih mengunyah cake yang pesan tadi.

“Hey Luhan…ternyata kau tak seburuk dengan apa yang kupikirkan selama ini tentang mu” ucap Nayoung sambil mengunyah cheese cakenya. Pipinya menggembung karena memakan cheese cakenya sambil berbicara. Luhan tertawa melihat wajah Nayoung yang lucu itu.

“Memang apa yang kau pikirkan tentang ku ?” tanya Luhan penasaran. Ia masih menatap Nayoung penasaran. Namun ia tidak bisa berhenti tersenyum sampai Nayoung menelan cheese cake yang ada di dalam mulutnya itu. Nayoung akhirnya bisa menelan cheese cake kemudian ia tersenyum senang. Karena ia sangat menyukai cheese cake.

“Kau ingat saat pertama kali kita betemu ?” tanya Nayoung. Luhan kemudian mengangguk. Bagaimana ia bisa lupa kejadian itu. “Saat kau menabrak ku, saat itu aku sedang sangat kesal dan kau malah menabrakku. Itu membuat ku semakin kesal. Tapi , disaat itu pula kau membohongi ku dengan mengatakan aku menginjak kotoran” ucap Nayoung kemudian menyendok cheese cakenya dan memasukkannya ke dalam mulut. Dengan sabar Luhan menunggu Nayoung hingga menelan cheese cakenya.

“Saat itu kau tahu apa yang akan ku lakukan pada mu ?” ucap Nayoug dengan wajah yang dibuat-buat seolah kesal kemudian ucapannya terputus. “Aku ingin mendorong mu hingga kau tersungkur di tanah dan wajah mu berlumuran lumpur dan aku bisa menertawai mu dengan bahagianya. Itu untuk membalas perbuatan mu yang sudah membuat ku kesal” ucap Nayoung dengan nada suara yang sedikit di buat kesal. Luhan kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Yaaa! Kenapa kau tertawa sih ? Seharusnya aku yang tertawa” protes Nayoung pada Luhan. Luhan tidak menghiraukan ucapan Nayoung. Ia malah semakin terbahak-bahak. Nayoung manatap Luhan kesal. Ia mencibir kea rah namja yang ada di hadapannya itu yang kini sudah bisa meguasai dirinya dari tawanya.

“Mianhae….kau itu lucu” ucap Luhan. Ia masih tertawa kecil. Nayoung memelotot kan matanya. “Apanya yang lucu sih ?” cibir Nayoung. Ia kesal karena Luhan masih menertawainya. Dan ia bahkan tidak tahu apa yang membuat Luhan tertawa seperti tadi.

“Kau pasti membayangkan aku terjerembab di tanah dengan wajah yang kotor oleh lumpur , saat kau bengong dulu itu ya ?” ucap Luhan menebak. Wajah Nayoung seketika memerah. Sebenarnya bukan itu yang membuat Nayoung bengong saat ia jatuh akibat di tabrak oleh Luhan. Ia sangat terkejut saat melihat siapa yang menabraknya. Nayoung saat itu sedikit terpesoan dengan wajah Luhan yang tampan dan menggemaskan. Ingat hanya— sedikit— sedikit ! Tidak banyak!

“Kau sangat menggemaskan Nayoung” ucap Luhan. “Apa yang lucu sih ?” ucap Nayoung malu. Ia tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang, masih memerah atau malah bertambah merah. Ia sangat-sangat malu…karena baru kali ini ada yang mengatakannya menggemaskan. Biasanya teman-teman Nayoung bahkan Jieun mengatakannya — jantan — maco— tomboy—liar —yang terakhir itu adalah sebutan Joonmyeon untuknya.

“Ayo kita makan lagi…cheese cake ini sungguh enak” ucap Nayoung mengalihkan pembicaraan yang mebuatnya tidak bisa bernafas saking malunya. Sudah cukup ia merasa malu seperti ini.

Luhan terseyum mantap Nayoung. Namun kemudian senyuman itu berubah, berubah dengan tatapan sedih….Nayoung tidak melihat tatapan Luhan itu. Nayoung masih sibuk dengan cheese cakenya. Kemudian Luhan menunduk , melanjutkan memakan cakenya.

 

“Huaahhh aku kenyang…gomawo Luhan. Untung kau ajak aku pergi makan cake di café itu. Jika tidak mungkin aku sudah lupa bagaimana rasa cheese cake yang sangat enak itu” ucap Nayoung dengan wajah yang sumringah. Bagaimana tidak ia memakan tiga cheese cake dalam waktu sekejap. Dan itupun Luhan yang membayarnya. Dan saat melihat billnya…Nayoung sempat tidak enak dengan Luhan karena harga cheese cake itu lumayan mahal. Nayoung itu sangat amat—rakus.  Luhan kemudian tersenyum manis karena mendengar perkataan Nayoung yang seperti anak-anak.

“Cheese cake kan memang kesukaan mu” ucap Luhan. Kemudian ia terhenyak dengan ucapannya sendiri. Nayoung hanya mengenggukan kepalanya dengan senyum senang yang tidak lepas dari kedua sudut bibirnya sejak keluar dari café.

Tunggu bagaimana Luhan tahu kesukaan ku?

Nayoung menatap Luhan dengan tatapan terkejut. Luhan kemudian berusaha tersenyum.

“Kau terlihat sangat senang saat memakan cheese cake di café tadi” ucap Luhan dengan tetap tersenyum. Nayoung kemudian menyengirkan giginya. Luhan menatap Nayoung kemudian menghembuskan nafas.

“Kau mau pulang kan ?” tanya Luhan pada Nayoung. “Iya” ucap Nayoung singkat. Ia kemudian melihat jam kearah jam tangannya. “Haaaahhh !!!??? Aku kenapa sudah selarut ini sih!” pekik Nayoung. Luhan yang tadinya sedang memeperhatikan taman bermain yang sepi itu tiba-tiba terkejut karena Nayoung memekik keras.

“Luhan aku harus buru-buru pulang. Gamsahamnida~” ucap Nayoung lalu membungkukan badannya sedikit sebagai tanda hormat. Kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan tergesa-gesa. Luhan hanya menatapnya heran. Nayoung berhenti sejenak, lalu membalikkan badannya. “Terimakasih karena sudah mentraktirku~ Sampai jumpa besok!” teriak Nayoung sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Luhan tertawa denga apa yang dilakukan Nayoung. Nayoung kemudian berlari, semkin jauh. Hingga akhirnya tak terlihat.

“Sifat mu tidak berubah, kau masih Han Nayoung” ucap Luhan kemudian tersenyum, namun sedetik kemudian senyum manis yang tadi di tunjukkan oleh Luhan berubah menjadi tatapan sendu. Ia kemudian membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya.

 

 

-oOo-

“Hei gadis liar , kau itu kenapa selarut ini baru pulang ?” ucap sebuah suara. Nayoung yang hari ini sangat senang, menoleh ke arah suara itu. Kemudian ia tersenyum senang. Kali ini ia tidak marah-marah seperti biasanya saat dikatai gadis liar.

“Maaf Jumon, apa kau lapar ?” tanya Nayoung masih dengan senyum yang sangat manis menghiasi kedua sudut bibrnya. Jumon sedikit—terpesona dengan senyum Nayoung itu. Sedikit! SEDIKIT.

Joonmyeon kemudian mencibir kearah Nayoung. Nayoung masih tetap tersenyum senang. “Kau pasti senang ya ?” singgung Joonmyeon. Nayoung masih tetap tersenyum. Ia masih mampu berpikiran positif. Joonmyeon menatapnya dengan tatapan sinis.

“Oh iya Jumon , apa kau lapar ?” tanya Nayoung lagi. Senyum itu masih melekat di bibir Nayoung. “Tentu saja…kau tahu sudah berapa jam aku menunggu mu pulang. Kau harus memasak lagi untuk ku” ucap Joonmyeon memerintahkan Nayoung untuk memasak. Senyuman di bibir Nayoung belum luntur. “Baiklah Joonmyeon~” ucap Nayoung sambil menggerakkan tangannya seperti sikap hormat pada Joonmyeon. Joonmyeon tersenyum sekilas melihat tingkah konyol Nayoung. Senyum yang tadi melekat di bibir Nayoung seketika itu luntur…Nayoung terkejut, ia terdiam.

 

DEG

DEG

 

Ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Nayoung. Ia tidak tahu ini apa, tapi sungguh perasaan yang aneh baginya. Joonmyeon kemudian menatap Nayoung heran.

“Joonmyeon a..ap..apa kau tadi tersenyum ?” ucap Nayoung memastikan. Joonmyeon diam , ia terpaku dengan apa yang tadi barusan dikatakan Nayoung. Ia terdiam kaku.

“Joonmyeon k…kkau…membuatku mual” ucap Nayoung tiba-tiba. Senyum yang tadi melekat di bibir Nayoung kini menghilang seketika. Jadi perasaan tidak enak saat melihat senyum Joonmyeon , perasaan aneh yang ia rasakan saat ia melihat senyum Joonmyeon yang hanya sekilas itu adalah perasaan—mual. Ia ingin muntah.

“Yaaa! Han Nayoung kau!” desis Joonmyeon pada Nayoung. Ia mendekati Nayoung, Nayoung berjalan mundur secara perlahan. Ia merasakan firasat yang buruk yang akan terjadi padanya. Namun langkah Joonmyeon yang dua kali lipat dari langkah kakinya semakin membuat jarak di antara mereka berdua menipis dan semakin menipis.

Nayoung semakin menapakkan kakinya menjauh ke belakang untuk menambah jarak antara dirinya dan Joonmyeon namun tak bisa. Jarak antara dirinya dan Joonmyeon malah semakin tipis. Hingga akhirnya Joonmyeon hanya dua puluh centimeter dari Nayoung. Nayoung sudah memikirkan untuk mengambil langkah seribu untuk menjauh. Namun baru saja ia membalikkan badannya dan berlari, ia tersandung oleh kaki kursi.

 

BRAK

 

Nayoung terjatuh. Nayoung memejamkan matanya. Ia tidak berani membuka matanya. Ternyata saat tersandung tadi Joonmyeon sempat mencoba menarik lengan Nayoung agar tidak terjatuh, namun apa daya ternyata gaya gravitasi bumi jauh lebih kuat menarik Nayoung jatuh hingga Joonmyeon pun ikut terjatuh.

Kini Joonmyeon berada di atas Nayoung. Untung saja ia tidak menimpa Nayoung. Jika ia menimpa Nayoung mungkin gadis itu sudah—pipih karena di timpa olehnya. Joonmyeon hanya menatap Nayoung diam. Nayoung masih memejamkan matanya, namun ia berusah untuk mengambil posisi duduk. Baru saat ia membuka matanya—

Mata miliknya bertemu denagn mata milik Joonmyeon. Mata yang sangat indah. Nayoung bahkan sampai tidak berkedip. Ia terpaku diam. Jantung Nayoung merasa sedikit berdebar karena mata indah yang ada di depannya kini.

Joonmyeon juga merasa terpaku setelah matanya bertemu dengan mata Nayoung. ia kini melihat mata hitam pekat , bulat yang indah di depannya. Mata yang sangat-sangat indah baginya.

Mereka berdua saling beradu pandangan, mereka tidak mampu melepas pandangan mereka. Tatapan mereka seperti terkunci oleh sesuatu yang sangat kuat. Mata yang bertemu dengan mata. Begitulah yang terjadi pada mereka berdua. Mata yang tak bisa lepas sedetik pun. Mata yang menatap dengan rasa terkejut, kagum, indah…saling berpandangan.

“HAATSYYIII” beberapa titik air menempel di wajah Joonmyeon. Joonmyeon terkejut, ia tak mampu bergerak karena keterkejutannya itu.

“Huuuaaa , maaf kan aku” ucap Nayoung. Ia mengambil tisu yang selalu tersedia di kantong bajunya. Ia dengan sigap membersihkan titik air yang menempel mendarat di wajah Joonmyeon akibat ia bersin tadi. Joonmyeon masih diam terpaku.

Nayoung membersihkan wajah Joonmyeon namun saat tangannya mengelap di bagian dahi , mata mereka kembali bertemu. Mereka kembali beradu pandangan.

Namun tiba-tiba Joonmyeon memegang tangan Nayoung. Ia tersenyum licik, yang membuat rasa mual Nayoung yang sudah hilang kini kembali lagi. Nayoung menggidikan bahunya. Wajah Joonmyeon semakin menedekat ke arah wajah Nayoung.

“Kau harus membayarnya” bisik Joonmyeon di telinga Nayoung. Wajah Nayoung tiba-tiba menegang.

 

 

 

-To Be Continue-

 

 

Annyeong! Udah baca kan ? Gimana pendapat kalian ? Masih kurang panjang ya ?

Pendapatnya di tulis di kolom komentar aja ya~~

Hihihihhihihi , author bikin cerita ini sambil baca komik shinchan sih, jadinya muncul adegan-adegan aneh….maaf ya *bow bareng shinchan *eh ngapain sih si shinchan ikut-ikutan? *tendang shinchan *diaduin ke KPA

Inget jangan ada yang jadi silent reader ya !!!

Ok deh , author mau pamit dulu ya chingu…sampai jumpa di ff author selanjutnya~~^^

 

HARGAI KARYA ANAK BANGSA!!

34 thoughts on “Be My Love (Chapter 2)

  1. Kereeeeeen thorrr… Luhan itu udah lama ya kenal sama nayoung? Terus suho mau ngapain sama nayoung? Hahahahahaha. Cepat lanjut ya thor😀

  2. Ia thor, masih kurang panjang😄
    Itu Luhan jangan” teman lamanya Nayoung ya?
    Kalo iya, kasihan banget Nayoung g ingat sama Luhan ._.
    Terus itu Suho mau ngepain yok? –”

    Lanjutnya jangan lama” ya thor!
    Fighting ^^

  3. kyaaaaaaaa akhirnya dipost juga ^^
    luhan udh lama kenal nayoung?
    ko nayoungnya ga inget ya? kasian luhan ._.
    aaaaa suho kamu mau ngapain??????

    next chapternya di tunggu ya thor 🙂
    author fighting ヽ(^o^)ノ

  4. itu luhan tau nayoung dr mana? ._.a
    waah, ini hrs lanjut,. tbc nya ganggu lg adegan bagus tuh ama suho ><
    next chapter..~

  5. kayaknya akan ada aroma cinta segitiga niyyy…
    Luhan temen kecilnya Nayoung kah???
    ditunggu next chapnya ya thor…Penasarannn niyyy…Fighting

    • ayoooo penasaran ya ? #abaikan Aminnn~ ayo kita berdoa bareng2 buat Nayoung dan Suho (?) Gomawo sudah meninggalkan jejak~

  6. hai…aku reader baru dsini..suka bgt ama ff nya,,, dan anda sukses bwt saya pnsaran krna sya blum nmu lnjutan dr ff nie!!!

    Daebak deh,aku jga suka ama ff Our Destiny cerita nya seru tpi aku blum bca semua nya krn kburu nmu ff ini,,,next aja🙂

  7. Huuuaaa!! Dibayar pake apa Suho oppa?
    Haiiisshh, pasti gak bisa berkutik deh kalo jadi Na Young. . Bisa tatap2an gitu ama Suho oppa xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s