Our Destiny (Chapter 2)

our destinycover-vert

Title : Our Destiny

Author : HCV_2

Main cast : Park Ji Eun(OC) Oh Sehun

Other cast : Kim Jong in, Luhan

Genre : Romance

Length : Chaptered

Rating : T

WARNING!! THIS NOT FOR SILENT READERS!!

A-yo waddhups’_’)/ Author HCV_2 datang membawa chapter 2 nya~ mudah-mudahan pada suka ya~ Oke enjoy the story readers~~

 

Gadis itu tersentak dengan siapa yang ia lihat.. seorang namja yang kini membuatnya terdiam dan terpaku. Matanya membulat dengan sempurna melihat kenyataan yang ada didepan matanya saat ini.

 

 

 

“O..Oh..Se..Sehun”

 

 

 

Chapter 2

 

 

 

“Apa kau mengenalnya Jieunnie?” tanya Hyunji pada sahabatnya yang samar-samar ia dengar menyebut nama anak baru yang sedang menjadi pusat perhatian itu.

 

Tidak menanggapi pertanyaan sahabatnya, Jieun mengucek-ngucek mata bulatnya dengan kasar seakan tidak percaya melihat siapa yang kini ada dihadapannya. Apa yang namja aneh itu lakukan disekolahnya? Dia anak baru? Oh Tuhan!

 

Sehun menerawang keseluruh penjuru kantin seperti mencari seseorang. Jieun menepuk-nepukkan kedua telapak tangan pada pipi putihnya, mungkin ia hanya berhalusinasi karna terlalu memikirkan namja aneh itu. Ia masih berusaha membangunkan dirinya dari kenyataan yang ia harap hanyalah sebuah mimpi. Tidak peduli seberapa rindu hatinya pada namja itu tapi dia lebih melilih untuk tidak bertemu dengan namja yang tidak tau terimakasih itu lagi.

 

Tanpa ia sadari.. saat Jieun sedang sibuk menyadarkan dirinya sendiri. Sehun berjalan santai dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana menghampiri orang yang ia cari.

 

“Mwo?! Di..Dia berjalan kearah kita?!” pekik Hyuna terkejut kemudian menggoncangkan tangan Jieun dengan hebohnya.

 

“Mau apa dia kemari?” dahi Jongin berkerut saat melihat anak baru itu berjalan ke meja mereka.

 

Jieun ternganga dengan mata membulat saat melihat Sehun berjalan kearah mereka sekarang. Jadi ini benar-benar nyata? Jieun clingak-clinguk berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Tapi baru saja dia beranjak dan ingin  pergi dari tempatnya, tiba-tiba sebuah tangan kekar menggenggam tangannya yang sontak menghentikan pergerakkannya lalu menoleh.

 

“Park..Jieun..”

 

Semua terdiam.. hiruk pikuk yang tadi terdengar begitu berisik ditelinga gadis itu tiba-tiba menghilang. Sebagian besar dari para siswi itu terkejut dengan mata membulat saat mendengar Sehun menyebut nama Jieun. Bahkan Jongin pun tampak bingung mendengar nama siapa yang baru saja Sehun ucapkan. Semua terkejut.. Sehun mengenal Jieun?

 

“Lepaskan aku!” ucap Jieun pelan tapi terdengar tegas. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Sehun dari tangannya. Tapi sayang.. usahanya sia-sia.. tangan Sehun jelas terlalu kekar untuk gadis sepertinya.

 

“Tidak bisa! Kau harus ikut denganku?!” Sehun menarik tangan gadis itu dengan kuat, yang mau tidak mau membuat gadis itu keluar dari bangkunya dan berjalan mengikutinya.

 

“Lepaskan aku Oh Sehun!” teriak Jieun memberontak masih mencoba untuk melepaskan diri dari belenggu namja yang menurutnya sudah gila itu. Tapi lagi-lagi semuanya percuma, kekuatan tangan Sehun jelas 2 kali lipat lebih besar dari kekuatan tangan kurusnya, dan ia yakin jika ia terus memberontak, itu hanya akan membuang-buang tenaganya. Jadi lebih baik gadis itu diam.. pasrah mengikuti kemana namja itu akan membawanya.

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

 

Tibalah mereka didepan sebuah pintu ruangan yang semua warga sekolah tau ruangan milik siapa itu. Beberapa siswi yang masih mengikuti mereka hingga sekarang mulai nampak bingung dengan tingkah idola baru mereka itu. Jieun pun mengkerutkan dahinya dalam saat melihat kemana namja itu membawanya.. Ruang kepala sekolah?

 

“Untuk apa kau membawaku keruang kepala sekolah?” tanya Jieun sambil menatap namja itu tajam.

 

 

 

Deg

 

 

Oh Tuhan.. perasaan ini mulai lagi?! Kenapa jantungku berdetak secepat ini? Apa aku sudah gila?!

 

 

Tapi belum saja Sehun menjawab pertanyaan gadis itu, ia langsung memutar kenop pintu ruangan lalu masuk begitu saja. Semua siswi nampak terkejut melihat sikap tidak sopan namja itu.. Dia masuk keruang kepala sekolah seenaknya tanpa permisi? Murid macam apa dia?

 

 

CEKLEK

 

 

Tepat setelah Sehun menutup kembali pintu ruangan itu. Dua orang namja yang ada didalamnya langsung bangkit lalu menoleh kearah Sehun dan seorang gadis yang digandengnya.

 

“Park Jieun?” ucap Luhan terkejut melihat siapa yang dibawa oleh adik laki-lakinya itu. Kedua alisnya pun terangkat saat melihat tautan tangan Sehun dengan gadis yang kini mulai mengusik hatinya. Jujur.. itu membuatnya sedikit terhenyak

 

“Dengannya.. aku ingin satu kelas dengannya”

 

‘Mwo?! Satu kelas denganku?” dahi Jieun kembali berkerut saat mendengar ucapan Sehun. Ia kembali dibuat bingung oleh namja berwajah dingin itu. Kenapa setiap berada dekat dengannya hanya perasaan bingung yang ia rasakan? Namja itu terlalu misterius dan penuh kejutan.

 

“Baiklah.. nona Park adalah sisiwi kelas 12A. Kau bisa masuk kekelasnya tuan Oh” ucap kepala sekolah sambil tersenyum manis kearah Sehun. Sementara Jieun hanya menatap kepala sekolahnya itu tidak percaya. Bagaimana bisa dengan mudahnya dia memasukkan murid baru kedalam kelas unggulan? Gadis itu bahkan harus mengikuti tes terlebih dahulu untuk bisa masuk kesana?! Gadis itu penasaran berapa biaya yang Sehun keluarkan untuk bisa masuk kedalam kelas itu?

 

“Baik. Boleh aku masuk kelas sekarang?” tanya Sehun sambil melepas genggamannya pada Jieun kemudian menyandang tas yang ia letakkan diatas kursi disebelah kursi Luhan.

 

Sedetik setelah namja itu melepaskan genggaman tangannya, Jieun langsung berbalik kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan itu tanpa permisi.

 

 

CEKLEK

 

 

Diluar ruangan Jieun sedikit tersentak ketika mendapati kerumunan para siswi yang masih dengan sabarnya menunggu namja yang sudah ia cap GILA itu. Para siswi tersebut menatapnya tajam dengan tatapan sinis. Dan dapat dia dengar pula para gadis itu berbisik mengucapkan sindiran-sindiran yang mereka tujukan padanya. Tapi.. gadis itu sudah berpengalaman dalam menghadapi keadaan seperti ini. Ia sudah kebal dengan celaan-celaan semacam itu dan ia lebih memilih untuk bersikap acuh. Gadis itu pun menerawang pada kerumunan manusia itu mencari seseorang, dan ia pun menangkap sesosok manusia yang sangat ia harapkan untuk ada disini sekarang. Jongin.. ternyata dia juga sangat mengkhawatirkan sahabatnya yang tiba-tiba dibawa lari oleh namja tidak jelas itu. Jongin pun menerobos diantara kerumunan kemudian menggenggam sebelah tangan Jieun.

 

“Kau tidak apa-apa kan? Mau apa namja itu membawamu keruang kepala sekolah?”

 

“Sudahlah kita bicarakan dikelas saja. Aku ingin sekali pergi dari sini sekarang juga. Kajja?!” Jongin mengangguk kemudian berjalan lebih dulu didepan Jieun. Tapi baru saja berjalan selangkah, tiba-tiba sebuah tangan kekar menggenggam sebelah tangan Jieun yang bebas. Dan mendengar teriakan histeris para siswi itu membuat Jieun tau.. bahkan sangat tau.. siapa yangl meraih sebelah tangannya.

 

“Kau mau kemana?”

 

“Bukan urusanmu! Ayo kita pergi Jongin”Jieun pun mengibaskan tangannya berusaha melepaskan tangan Sehun. Tapi berbeda dengan sebelumnya, kali ini genggaman namja itu lebih mudah untuk dilepaskan.

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

Jieun sudah ada didalam kelasnya. Dia duduk sambil meletakkan kepalanya dimeja dengan bibir yang berkerucut. Jongin yang duduk disebelahnya hanya memandangi gadis manis itu sambil bertopang dagu.

 

Suasana kelas saat ini sangat berisik dan berantakan, suasana wajar yang tercipta jika pelajaran belum diisi oleh guru yang bertugas. Beberapa siswa saling melempar-lempar kertas dengan brutalnya. Sedangkan para siswi pun masih gencar bergosip tentang murid baru yang menurut mereka mengagumkan. Dan tidak jarang juga mereka mengalihkan pandangan mereka pada Jieun saat membicarakan kejadian yang baru terjadi beberapa menit yang lalu. Mungkin mereka masih bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan gadis itu dengan pangeran hati mereka?

 

“Hey Jieunnie.. sebenarnya untuk apa namja itu membawamu keruang kepala sekolah tadi?” tanya Jongin akhirnya. Awalnya dia berharap gadis itu yang memulai sendiri penjelasannya. Tapi sejak sampai dikelas hingga 20 menit berlalu gadis itu hanya diam dengan wajah tertekuk.

 

“Eh? Dia membawaku hanya untuk menunjukkan kalau dia ingin satu kelas denganku. Bayangkan?! Seberapa anehnya dia?! Dia sudah tau namaku kenapa tidak katakan namaku saja? Kenapa harus repot-repot membawaku kesana? Dasar gila!” Jieun bangkit kemudian membenarkan posisi duduknya menghadap Jongin. Tiba-tiba dia begitu bersemangat menceritakan tindakan gila namja itu.

 

“Tapi.. aku bingung dari mana dia tau namamu? Dan kalian kelihatannnya saling kenal..” tanya Jongin ragu, takut jika ia salah bicara didepan gadis yang kelihatannya masih terbawa emosi itu. Salah-salah.. bisa dia yang babak belur karna pukulan gadis galak itu.

 

“Umh.. I..ya.. aku memang mengenalnya. Aku pernah menolongnya yang pingsan ditengah jalan”Jieun menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.

 

“Oh begitu..” Jongin mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

 

“Tapi Jongin.. tidakkah suasana seperti saat ini membuat mu ingat akan masa lalu? Saat kau pertama kali masuk kesekolah ini dan menemui dikantin sekolah? hihihi.. kejadiannya hampir sama kan?” Jieun meluruskan posisinya kembali menghadap kedepan lalu menopang dagunya sambil tersenyum manis saat kembali mengingat masa lalunya bersama Jongin.

 

“Ne.. aku ingat” ucap namja bermata indah itu sembari tersenyum simpul.

 

 

Ya.. Jongin dulunya memang bukan siswa disekolah itu. Pada kelas 10 semester kedua dia pindah dari sekolah elitnya ke sekolah Jieun dengan alasan tidak akan konsentrasi belajar jika tidak satu sekolah dengan sahabatnya itu. Sejak SD hingga SMP mereka selalu satu sekolah, tapi saat SMA Jongin harus masuk kesekolah khusus yang diperuntukan untuk para pewaris tahta dari keluarga berbisnis besar diSeoul karna itu dia dan Jieun tidak bisa masuk keSMA yang sama. Tapi akibat rayuan maut bertubi-tubi yang ia lakukan didepan ayahnya akhirnya dia mendapatkan ijin untuk masuk kesekolah sederhana untuk masyarakat menengah itu.

 

Saat awal masuk kesekolah itu Jongin langsung mendapatkan sambutan meriah dari para siswi disana. Sama seperti yang dialami Sehun, Jongin juga menjadi pusat perhatian dan topik hangat.. tidak hanya dikalangan para siswi tapi juga beberapa siswa. Bagaimana tidak? Saat itu bisa dibilang adalah pertama kalinya putra dari salah seorang konglomerat diKorea menginjakkan jejak pendidikannya disekolah sederhana itu. Tapi akibat sikap dingin Jongin yang bahkan terlalu sering membentak para gadis yang menguntilinya, apalagi melihat kedekatan Jongin dengan Jieun yang sudah seperti sepasang kekasih, membuat banyak gadis yang menyerah dan memutuskan untuk berhenti mendekati namja itu. Tapi hingga sekarang tidak sedikit siswi yang masih gencar melakukan pendekatan untuk mendapatkan hati pangerannya itu.

 

“Tapi bedanya kau tidak segila namja aneh itu. Dan saat itu perasaanku adalah perasaan senang karna kau akan satu sekolah denganku, bukan kesal karna dibawa kabur oleh namja aneh yang sudah tidak waras” ekspresi Jieun tiba-tiba berubah kesal kemudian memukul-mukul mejanya brutal.

 

Jongin hanya tertawa geli melihat tingkah gadis polosnya itu. Sikap Jieun yang seperti itulah yang membuat hatinya seakan tidak ingin jauh darinya. Senyum gadis itu bahkan mampu menghipnotisnya untuk ikut tersenyum bersamanya.

 

“Tiffany songsaengnim datang!!” seru seorang siswa yang tiba-tiba menghambur masuk kedalam kelas. Mendengar peringatan namja itu, semua murid didalam kelas itu pun mulai berhamburan mencari tempat duduk mereka masing-masing.

 

Suasana pun hening seketika..dan terdengar suara derap kaki yang mulai mendekati kelas mereka. Beberapa detik kemudian kenop pintu kelas itu terputar dan masuklah seorang guru muda cantik bersama seorang siswa tampan yang berjalan dibelakangnya. Siswa yang membuat mata Jieun membulat saat melihatnya..

 

“Jadi.. dia benar-benar akan satu kelas denganku?” gumam Jieun dengan masih menatap Sehun lurus-lurus dari bangkunya.

 

Berbeda dengan Jieun para siswi lainnya malah berteriak histeris saat melihat Sehun masuk dengan kerennya. Sehun pun berdiri dengan tangan masuk kesaku celana seperti biasa.. gaya andalannya. Dia berdiri satu garis lurus dari bangku Jieun dan itu membuat tatapan tajam Sehun sampai dengan tepat kemata gadis itu.

 

Setelah meletakkan tasnya dimeja guru, Tiffany songsaengnim pun berdiri disebelah Sehun sambil memegang pundak kanan namja itu.

 

“Selamat siang anak-anak” sapa guru muda itu sambil memamerkan senyum manisnya.

 

“SIAAANGG!!” balas para murid dikelas tersebut dengan semangat.

 

“Baiklah.. hari ini rupanya kita kedatangan seorang siswa baru. Namanya Oh Sehun, mulai sekarang dia akan menjadi bagian dari kelas ini. Baiklah tuan Oh perkenalkan dirimu pada teman-tamanmu” ucap Tiffany songsaengnim mempersilahkan Sehun untuk memperkenalkan dirinya.

 

“Ne.. Annyeonghaseyo Oh Sehun imnida. Aku murid pindahan dari SMA Shinhwa. Senang berkenalan dengan kalian”

 

“Oww..oww.oow.. satu lagi pangeran yang datang dari SMA Shinhwa ya? Jongin sepertinya dia teman lamamu” ucap salah satu siswa pembuat masalah dikelas itu sambil menoleh kearah Jongin. Ya.. kelas itu memang adalah kelas unggulan, tapi ada beberapa siswa yang memang memiliki otak pintar tapi punya masalah pada kepribadian mereka. Biasanya akibat dari keluarga mereka yang berantakan yang mereka lampiaskan disekolah.

 

“Tidak! Aku sama sekali tidak mengenalnya” ucap Jongin ketus tanpa memperdulikan tatapan mengejek namja itu.

 

“Baiklah Oh Sehun kau bisa mencari tempat dudukmu” ucap Tiffany songsaengnim sambil mempersilahkan Sehun untuk duduk disalah satu bangku kosong dikelas itu. Sehun menerawang mencoba melihat letak dimana bangku kosong yang tersisa untuknya. Hingga sampailah matanya pada satu-satunya bangku kosong disamping seorang gadis yang kini sedang mencoba tersenyum kearahnya. Melihat tempat duduk yang tidak sesuai dengan keinginannya Sehun pun mencoba meminta keringanan pada guru cantik disampingnya.

 

“Bolehkah aku memilih bangkuku sendiri guru? Aku ingin duduk dibangku itu” ucap namja itu sambil menunjuk kearah bangku yang dia maksud. Bangku disebelah gadis yang dia cari.

 

“A..apa kau ingin duduk dibangkuku?”mata Jongin membulat melihat kemana tangan Sehun mengarah. Tidak kalah dengan Jongin.. mata Jieun pun membulat saat mendengar dimana Sehun ingin duduk. Disebelahnya? Tidak bisa!

 

“Iya.. aku ingin duduk disana.. dibangkumu” Sehun memutar posisinya yang semula menghadap guru cantiknya kearah Jongin.

 

“Tidak bisa! Bangku ini milikku. Enak saja!” ucap Jongin sambil melipat tangannya didada.

 

“Baik, aku beli bangkumu”

 

Semua mata dikelas itu pun membulat mendengar ucapan namja itu. Apa sebegitu inginnya dia pada bangku itu hingga dia membelinya?

 

“Tidak bisa! Aku sudah membeli bangku ini”

 

“Kalau begitu akan kubeli dua kali lipat dari hargamu” ucap Sehun santai kemudian kembali memasukkan tangannya kedalam saku celananya.

 

Mendengar pembicaraan kedua manusia itu membuat mata mereka yang sudah membulat menjadi membulat dengan sempurna. Sebenarnya apa yang kedua namja itu bicarakan? Menghamburkan uang hanya untuk sebuah bangku? Dasar orang kaya!

 

“Hey! Apa-apaan ini?! Kelas ini bukan tempat untuk memamerkan kekayaan. Dasar orang kaya sombong!” seorang siswa berkacamata tibatiba mengeluarkan suaranya. Ia tampak muak mendengar Jongin dan Sehun melontarkan perkataan sombong seperti itu.

 

“Pokoknya tidak bisa! Guru? Aku sudah menetap disini, aku tidak mau jika tidak duduk disebelah Jieun”

 

“Iya guru.. Aku juga tidak mau duduk dengan namja itu! Kenapa harus disebelahku? Bukankah bangku disebelah Krystal kosong? Kenapa tidak duduk disana saja?!” Jieun bersikeras membela Jongin. Jelas saja.. sejak SD hingga sekarang dia dan Jongin selalu duduk bersebelahan. Mana mungkin dia mau berpisah? Apa lagi orang yang menggantikkan Jongin adalah namja menyebalkan yang tidak waras itu! Jelas dia tidak akan sudi!

 

“Aku tidak mau duduk disebelah yeoja genit. Pokoknya aku ingin dibangku itu!”

 

“YA! Beraninya kau bilang aku gadis genit?!” mata Krystal membulat saat mendengar apa yang Sehun katakan tentangnya. Dia berteriak sambil menunjuk namja tampang datar itu. Yeoja genit katanya?!

 

“Sudah cukup! Kenapa kalian ribut hanya karna masalah bangku?! Kalau begitu biar guru yang memutuskan..” guru muda itu nampak sudah hilang kesabaran dengan tingkah murid dikelasnya yang bertengkar hanya karna ingin duduk bangku yang mereka inginkan. Dia pun menarik nafas dalam kemudian melanjutkan perkataannya.

 

“..Baiklah, nona Park kau pindah kesebelah nona Jung. Dan kau Jongin pindah kebangku Jieun lalu kau Oh Sehun.. duduklah dibangku yang kau inginkan. Dengan begitu kalian dapatkan yang kalian inginkan.. Sehun mendapatkan bangkunya, Jongin tetap bersebelahan dengan Jieun dan Jieun tidak bersebelahan dengan Sehun..See?”

 

“Apa?! Tapi guru.. bukan itu yang aku maksud. Maksudku aku ingin duduk dengan Jieun. Aku tidak mau duduk dengan namja itu” ucap Sehun mencoba menjelaskan maksudnya yang sebenarnya. Dia bukannya menginginkan bangku itu, tapi dia ingin duduk disebelah gadisnya!

 

“Hey! Kau pikir aku sudi duduk denganmu eoh?”

 

“HENTIKAN! Duduk dibangku yang sudah saya tetapkan atau kalian saya hukum!”

 

Mendengar ancaman guru berumur 25thn itu pun membuat 3 orang tersebut menuruti kemauan guru mereka. Sehun berjalan dengan gontai menuju tempat duduk Jongin yang kini sudah menjadi miliknya. Sementara Jongin dan Jieun sedikit bersyukur… setidaknya namja itu masih duduk bersebelahan dengan Jieun walau deretan bangku Jieun berbeda dengannya dan Jieun bersyukur dia tidak duduk bersebelahan dengan namja gila itu. Sementara Sehun merasakan penyesalan dihatinya, bukankah seharusnya lebih baik jika ia duduk dengan Krystal tadi.. dengan begitu ia masih bersebelahan dengan Jieun. Tapi sekarang apa? Dia dan Jieun terpisah.. dihalangi oleh seorang namja yang menurutnya pasti adalah saingan beratnya.

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

Jam pelajaran sekolah sudah berakhir dan jam sudah menunjukkan pukul 2 siang tandanya mereka sudah bisa pulang kerumah masing-masing. Banyak siswa sudah berhamburan keluar kelas saking gembiranya bisa terbebas dari kegiatan yang memeras otak mereka dan membuatnya kehabisan tenaga.

 

Jieun masih duduk dibangkunya dengan wajah yang terlipat, bagaimana tidak? Sepanjang hari disekolah gadis itu seakan dibuat gila oleh tingkah namja tidak waras bernama Oh Sehun. Dan lagi.. Jongin sahabatnya juga malah ikut-ikutan.. selama disekolah mereka berdua bertengkar terus hanya karna ingin berada didekat Jieun, Jongin yang biasanya selalu didekat gadis itu tidak ingin tempatnya diambil Sehun, tapi Sehun juga tidak mau kalah dan juga ingin bersama Jieun. Gadis itu sudah cukup suntuk karna pelajaran disekolah, dan sekarang kedua namja itu malah menambah beban gadis berambut panjang itu. Bahkan gadis itu juga mendapat paket plus-plus dengan mendapat cemoohan dari semua siswi disekolah yang menganggapannya sebagai gadis tidak tau diri. Tentu saja.. dulu karna dia para gadis itu kehilangan kesempatanuntuk mendekati Jongin dan sekarang mereka juga harus menangis karna Sehun juga lebih memilih gadis itu? Tidak akan mereka biarkan?!

 

Saat sedang sibuk merapikan buku yang berserakan dimejanya, tiba-tiba sebuah suara yang baginya sudah seperti suara musik neraka terdengar di indra pendengarannya. Merasa kesal Jieun sama sekali tidak menanggapi Sehun yang bicara disebelahnya.

 

“Hari ini pulang denganku.. bagaimana?” tanya Sehun membujuk Jieun.. tapi entahlah.. Jieun tidak yakin Sehun sedang membujuknya atau apa. Karna nada bicaranya tidak terdengar seperti orang membujuk dan lebih terkesan datar tak bernada.

 

“Jieunnie~~ hari ini mampir kecoffee bean lagi bagaimana?” duo Hyun berlari memutar kedepan kelas menuju kemeja Jieun dengan riangnya. Tapi seketika langkah mereka terhenti, seperti bertemu dengan seekor naga penjaga kastil yang siap menerkam mereka jika mereka masuk kekastilnya, anak kebar itu  terhenti disebelah bangku didepan bangku Jieun. Kemudian tersenyum kecut kearah Sehun yang menatap mereka tajam.

 

“Eh.. sepertinya lebih baik kami pulang duluan. Annyeong Jieun~” duo kembar itu berteriak kompak sambil berlari keluar kelas meninggalkan Jieun yang menatap mereka dengan ekspresi “Hey! Awas kalian!” sementara Sehun menatap kepergian Hyuna dan Hyunji dengan tatapan terimakasih karna sudah mengerti maksudnya.

 

“Kau sudah selesai? Ayo pulang!” Sehun meraih tangan kiri Jieun kemudian menariknya. Sedikit terhuyung gadis itu berjalan mengikutinya. Tapi baru saja selangkah, seketika sebuah tangan menggenggam tangan kanan gadis itu yang tentu membuat mereka berhenti lalu menoleh kebelakang.

 

“Tidak bisa! Jieunnie kau pulang denganku” Jongin menatap Jieun tajam dan sedikit membuat gadis itu bergidik. Sungguh.. ini pertama kalinya sahabatnya menatapnya seperti itu, tatapan itu secara langsung mengisyaratkan “Tidak boleh pulang dengan Sehun!” dengan tegas.

 

“Aiissh.. kau selalu saja mengganggu.. lepaskan tanganmu!” sedetik Sehun menatap tajam genggaman tangan Jongin kemudian kembali menatap Jongin.

 

“Kau yang harus lepaskan! Jieun akan pulang denganku”

 

“Kau—“

 

“Cukup! aku tidak akan pulang dengan siapapun dari kalian! Aku pulang SENDIRI!” Jieun menghentakkan kedua tangannya yang sontak membuat tautan kedua namja itu terlepas. Sebentar Jieun memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Jongin dan Sehun. Sedetik setelah melihat pujaan hati mereka menghilang dibalik pintu kelas, Jongin dan Sehun kemudian saling menatap dengan mata yang berkilat-kilat.

 

 

 

 

¶¶¶¶¶¶

Jieun berjalan dengan cepat menyusuri koridor sekolahnya dengan wajah tertekuk hingga seribu lipatan. Gadis itu berjalan dengan hati yang dipenuhi rasa kesal. Beberapa murid yang ia lewati bahkan menatapnya dengan tatapan sinis, tapi dia tidak peduli. Yang ia inginkan adalah keluar dari sekolah dan pergi menjauh dari kedua namja yang sukses membuatnya ikut gila bersama mereka.

 

“Jieunnie!! Tunggu aku!” sebuah teriakan tiba-tiba membooming telinga gadis itu. Ia terhenti kemudian menoleh kesumber suara dan BINGO! Kedua namja gila itu mulai menyusulnya. Mata Jieun membulat kemudian dengan cepat ia berbalik kehaluannya, ia pun menambah kecepatannya berjalan agar Jongin dan Sehun tidak mampu menyusulnya.

 

Tapi saat ia mulai panik karna kaki panjang kedua namja itu sudah bisa mengalahkan langkah dari kaki mungilnya itu. Tiba-tiba sesosok manusia berjalan kearahnya bak malaikat penolong seketika muncul dihadapan gadis itu seakan memberi secercah harapan baginya untuk kabur dari kedua malaikat maut dibelakangnya. Mata Jieun membulat melihat Luhan muncul disekolahnya. Apa yang dia lakukan disini? Apa untuk menjemput Sehun?

 

Sadar ini bukan waktunya untuk penasaran dengan pertanyaan macam itu, Jieun menggelengkan kepalanya agar pikirannya kembali ketujuan semula. Sedetik ia menoleh kebelakang untuk memastikan jarak kedua iblis dibelakangnya, dan mata Jieun pun kembali melebar saat sadar bahwa Jongin dan Sehun sudah semakin dekat dengannya. Ia berlari kearah Luhan kemudian menggandeng tangan namja cantik itu. Dahi Luhan berkerut melihat tingkah aneh Jieun. Tanpa basa-basi lagi Jieun menarik tangan Luhan berbalik arah menuju ketempat parkir.

 

“Ji..Jieun?”

 

“Nanti akan kujelaskan! Yang penting antar aku pergi dari neraka ini dulu”

 

Dengan dahi berkerut Luhan hanya mengikuti langkah gadis itu. Tapi tidak cukup dengan tingkah Jieun,  Luhan mendapat lebih banyak lagi hal aneh saat ia menoleh kebelakang yang membuat matanya kembali membulat melihat adik laki-lakinya berlari bersama dengan seorang namja sambil melambai-lambaikan tangan kearahnya seperti memerintahkannya untuk berhenti. Luhan mengangkat alisnya menatap Sehun bermaksud meminta penjelasan lebih tentang apa yang terjadi.

 

“Sudah jangan hiraukan mereka oppa. Kita harus cepat pergi dari sini”

 

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

Merasa sudah cukup jauh dari sekolah Jieun, Luhan memarkirkan mobil sport putihnya dipinggir jalan kemudian menarik nafas dalam. Jieun pun melakukan hal yang sama sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi. Sejenak ia pejamkan mata kemudian memijat-mijat dahinya yang terasa keram.

 

“Terimakasih Luhan oppa.. kau sudah menyelamatkan nyawaku dari dua iblis itu” ucap Jieun sambil menatap lurus pemandangan didepan mobil Luhan.

 

“Iya sama-sama Jieun’ah. Tapi.. aku bingung sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Luhan lembut sambil menatap Jieun dengan ekspresi yang menuntut penjelasan.

 

“Aku baru saja dibuat gila oleh dua orang iblis yang sepanjang hari disekolah hanya bisa terus mengangguku” ucap Jieun sambil memutar bola matanya kemudian membalas tatapan Luhan.

 

“Dan dua iblis itu..” Luhan menggantung kalimatnya ditengah.

 

“Ya… adikmu Sehun dan sahabatku Jongin. Dua namja yang kau lihat berlari menghampiriku tadi”

 

“Oke umhh.. bagaimana kalau bicarakan lebih lanjut didalam coffee bean itu? Kau bisa menceritakannya sambil minum kopi” Luhan menunjuk sebuah coffee bean yang tepat berada disebelah tempat mereka memarkir mobil. Mendengar tawaran Luhan, Jieun pun mengangguk. Kemudian mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam restoran tersebut.

 

 

Mereka berjalan mencoba mencari tempat duduk yang nyaman, dan mereka pun memilih untuk duduk dibangku dipojok kanan dekat jendela. Setelah duduk, Jieun pun membiarkan Luhan untuk memesankannya minuman. Saat ini gadis itu bahkan tidak begitu bersemangat untuk memesan kopi kesukaannya, jadi dia akan menikmati dengan senang hati minuman apapun yang Luhan pesankan.

 

Setelah mendapatkan pesanannya, Luhan kembali berjalan menuju tempat duduknya bersama Jieun. Gadis itu menyipit mencoba melihat kopi apa yang Luhan pesankan untuknya. Dan matanya pun sukses membulat.. tidak percaya Luhan membawakan satu cup coffee Americano kesukaannya. Senyum simpul ia kembangkan diwajahnya menyambut kedatangan Luhan.

 

“Ini kopi untukmu..” ucap Luhan manis sambil tersenyum kearahnya. Senyuman yang mampu membuat hati gadis itu berejolak.

 

“Terimakasih oppa.. kurasa ini hari keberuntunganmu. Ini kopi kesukaanku..”

 

“Wah benarkah? Kalau begitu syukurlah.. awalnya aku agak takut jika kau tidak suka dengan kopi yang kupesankan” Luhan menggaruk tengkuk lehernya sedikit tersipu.

 

“Oya sekarang kau bisa memulai ceritamu Jieun’ah.. Tapi.. jika kau mau”

 

“Ah… aku ingin bertanya padamu oppa. Boleh?” tanya Jieun cepat setelah ia sedikit berpikir.

 

“Tentu saja.. bertanya apa?” jawab Luhan setelah meneguk kopi Moccacino yang ia pesan untuk dirinya sendiri.

 

“Sebenarnya apa yang sehari-hari adik laki-lakimu itu makan eoh? Kenapa dia bisa memiliki sifat segila, seaneh dan semenyebalkan itu? Kau tau hanya dengan melihat wajahnya saja mampu membuatku ingin menjambak rambutnya” Jieun berkata sambil meremas-remas tangannya didepan wajah Luhan seperti sedang benar-benar menjambak rambut Sehun.

 

“Hmmpphh.. hahaha.. Dia makan nasi dan lauk pauk sama sepertimu. Hanya saja dia tidak suka sayur” Luhan tertawa geli melihat tingkah gadis dihadapannya. Menurutnya Jieun sangat menarik..

 

“Tapi sungguh.. apa yang membuatnya pindah kesekolahku? Dan kenapa kau dan ayahmu mengijinkannya pindah dari Shinhwa kesekolah jelek seperti sekolahku?”

 

“Umh.. kalau ditanya alasannya pindah kesekolahmu aku tidak tau. Mungkin karna dia ingin satu sekolah dengamu. Lagipula semenjak kau pergi dari rumah sakit waktu itu, dia terlihat sedikit aneh dan terus bertanya tentangmu. Mungkin karna tidak ingin terpisah lagi denganmu.. dia pindah kesana.Tapi.. kalau jawaban untuk kenapa kami mengijinkannya pindah sekolahmu.. itu karna Sehun memang bukan anak yang mudah untuk dilarang. Dia adalah orang yang begitu percaya dengan kata hatinya. Jika tidak mengikuti kata hatinya dan tidak menuruti kemauannya dia tidak segan-segan untuk melakukan hal gila yang mungkin bisa membahayakan nyawanya..”

 

“..Kau ingatkan kejadian saat dia kabur dari rumah sakit? Itulah salah satu hal gila yang dia lakukan hanya karna dia sudah tidak betah ada dirumah sakit dan ingin keluar padahal keadaannya masih sangat buruk” Luhan tersenyum kecil sambil mengingat kembali beberapa tingkah gila adik satu-satunya itu.

 

“Ohh jadi bukan hanya otaknya saja yang gila.. tapi hatinya pun sudah tidak waras..Ckckck”

 

“Tapi memang seberapa menyebalkannya adikku hingga membuatmu begitu geram? Dan juga.. sahabatmu?”

 

“Ahh itu.. kau tau sepanjang hari disekolah adikmu dan sahabatku Jongin hanya terus mengangguku tanpa henti. Mereka terus bertengkar memperebutkan tempat disampingku. Awalnya hanya adikmu yang bertingkah gila, tapi entah karna terjangkit virus gila yang adikmu sebarkan atau apa. Tiba-tiba Jongin pun ikut serta bertindak gila. Padahal dulu sahabatku itu adalah salah satu namja yang jarang berbuat hal-hal yang menurutnya tidak penting dan dia juga lebih sering bersikap dingin. Tapi apa? sejak adikmu datang.. dia jadi tidak waras” jelas Jieun panjang lebar dengan semangat 45. Ia luapkan semua emosi yang ia pendam sejak tadi didepan Luhan.

 

Saking semangatnya gadis bahkan tidak menyadari perubahan ekspresi Luhan yang hanya tersenyum kecut mendengar ceritanya. Sebenarnya bukan Jieun atau cerita Jieun yang membuatnya jadi merasa tidak senang, tapi.. yang membuat hatinya sedikit tersentak adalah maksud yang ia tangkap kenapa Sehun dan juga sahabat Jieun terus ingin berada disampingnya dari penjelasan gadis itu barusan. Mereka menyukai gadis itu.. dan dia juga.. memiliki perasaan yang sama. Lalu apa itu artinya dia juga harus berseteru dengan kedua namja itu untuk merebut hati Jieun?

 

“Haah.. aku tidak tau akan jadi segila apa aku jika terus-menerus berada diantar dua namja aneh itu” Jieun menyandarkan tubuhnya di kursi lalu kembali meneguk kopi favotitenya.

 

“Mungkin kau hanya harus lebih mengerti kenapa mereka melakukan hal gitu itu untukmu. Mereka pasti punya maksud dibalik itu semua Jieun’ah” Luhan berusaha tersenyum semanis mungkin didepan gadis pujaan hatinya itu. Mungkin dia juga harus memulai usahanya dari sekarang.

 

“Iya aku tau.. tapi—“

 

 

Drrrrt

 

 

Drrrt

 

 

Perkataan gadis itu tiba-tiba terhenti merasakan ponselnya bergetar didalam tas gendongnya. Jieun pun mengambil ponselnya kemudian membaca nama yang tertera dilayar ponselnya..

 

“Bibi Han..” gumam Jieun pelan kemudian menatap kearah Luhan. Luhan tersenyum sambil mengangguk cepat. Gadis itu pun mengangkat telpon dari bibinya tersebut..

 

 

 

Pip

 

 

“Yeoboseyo?”

 

“Ya! Park Jieun! Kau dimana sekarang eoh? Kenapa tidak langsung datang ketoko?! Bukankah sudah bibi bilang kemarin.. setelah pulang sekolah jangan keluyuran karna bibi sangat membutuhkanmu ditoko! Toko sedang sangat ramai.. Cepat pulang!”

 

“Ah.. Mi..mianhae Bibi Han. Baiklah sekarang aku akan segera kesana”

 

“Oke! Cepat ya?! Jika dalam sepuluh menit kau tidak datang.. bibi akan memotong uang jajanmu!”

 

 

 

Pip

 

 

“Oppa ini gawat! Emergency.. sekali lagi aku meminta bantuanmu. Tolong segera antarkan aku ketoko bunga bibiku! Kalau tidak aku bisa mati”

 

 

 

 

¶¶¶¶¶

 

“Itu dia! Itu toko bunga bibiku” pekik Jieun sambil menunjuk sebuah toko bunga yang terletak dipinggir kanan jalan. Luhan pun mengangguk kemudian memarkirkan mobilnya didekat toko bunga yang gadis itu maksud.

 

Toko bunga itu nampak sangat ramai akan pengunjung. Pantas saja bibi Jieun begitu marah saat anak itu keluyuran disaat ia sedang membutuhkan bantuannya. Luhan memperhatikkan toko bunga itu dengan seksama sambil tersenyum manis. Toko bunga itu tidak terlalu besar tapi dengan begitu banyak bunga-bunga indah yang terjejer didepannya sungguh sangat membuatnya terlihat manis.

 

“Huaaa!!!! Ini sudah 20 menit!! Gawat!! Matilah aku sekarang!!” teriak Jieun setelah ia melihat jam diponselnya. Dia sampai lebih dari waktu yang ditentukan oleh bibinya, dan itu berarti… uang jajannya akan dipotong?! Tidak!

 

Sedetik setelah melirik jam diponselnya dan berteriak, Jieun langsung melepas sabuk pengamannya dan bermaksud cepat turun dari mobil Luhan. Tapi baru saja gadis itu memegang ganggang pintu disebelah kanannya.. tiba-tiba sesosok laki-laki keluar dari dalam toko bibinya sambil membawa beberapa tangkai bunga mawar dan membuatnya terdiam. Gadis itu menyipitkan matanya mencoba memaksimalkan daya akomodasi matanya memperhatikan namja tersebut. Namja bertubuh tinggi dengan rambut silvernya..

 

 

Deg

 

 

“SEHUN??!!” pekik Jieun keras dengan kedua mata membulat sempurna. Tidak percaya dengan siapa yang dilihatnya, Jieun mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali berpikir mungkin itu hanya sebuah fatamorgana. Tapi lagi-lagi perkiraannya salah. Ini nyata.. dan namja itu memang Sehun.

 

“Sehun? Apa yang dia lakukan disini?” Luhan juga nampak terkejut melihat adik laki-lakinya ada disana. Kening Luhan berkerut dengan sebelah alis terangkat. Melihat adiknya itu menggunakkan celemek dan saput tangan karet.. Apa iya dia bekerja ditoko itu?

 

Melihat Sehun sudah berjalan masuk ketoko, tanpa basa-basi gadis itu langsung membuka pintu mobil kemudian turun dan berjalan cepat masuk ketoko bibinya. Merasa penasaran Luhan pun melakukan hal yang sama dengan gadis itu, mengikutinya dari belakang.

 

 

Tring

 

 

Bel yang digantung diatas pintu toko itu berbunyi saat Jieun membuka pintu tersebut. Baru saja Jieun membuka mulut dan bermaksud akan berteriak memanggil Sehun, tapi segera ia urungkan niat rusuhnya itu saat melihat toko yang sedang ramai akan pengunjung. Karna jika ia nekat melakukannya ia yakin bukan hanya uang jajannya saja yang terancam terpotong tapi nyawanya pun akan terancam dipotong juga, dan dia jelas tidak mau itu terjadi.

 

Jieun pun berjalan pelan memasuki toko untuk menghampiri Sehun yang sedang merapikan beberapa tangkai bunga dipojok kanan ruangan. Sesampainya disana gadis itu langsung memegang lengan Sehun dan sontak membuat namja itu menoleh kearahnya.

 

“Oh Sehun?! Apa yang sedang kau lakukan disini eoh?” tanya Jieun berbisik sambil menatap Sehun tajam.

 

“Apa? Aku disini untuk membantu bibimu” ucap namja itu datar.

 

“Mw..Mwo? Memban—“ perkataan Jieun terhenti karna merasakan ada yang menarik tangannya yang otomatis membuatnya berbalik kebelakang dan melepas lengan Sehun. Sehun pun kembali melanjutkan pekerjaannya tidak memperdulikan gadis yang menjadi sebab kenapa dia bisa ada di toko bunga tersebut.

 

“Jieun’ah kau dari mana saja eoh? Kenapa baru datang?” tanya Bibi Han sambil mencubit kecil lengan keponakannya. Jieun meringis pelan sambil mengusap-ngusap lengannya.

 

“Ma..Maafkan aku Bik.. tadi aku ada urusan sebentar jadi aku telat datang. Aku mohon maafkan aku.. jangan potong uang jajanku.. aku mooohoon~~” Jieun memasang tampang memelas didepan bibinya sambil menggesek-gesekkan kedua telapak tanganya.

 

“Baiklah.. kau bibi maafkan kali ini. Tapi lain kali awas kalau kau sampai seperti ini lagi”

 

“Huaaaa.. terimakasih bibi Han~~ Kau memang bibiku yang terbaik” seru gadis itu sambil memeluk sebelah lengan bibinya kemudian mengelusnya.

 

“Berterimakasihlah pada Sehun.. berkat dia Bibi jadi terbantu. Kalau saja tidak ada dia, bibi tidak akan memaafkanmu” ucap wanita berumur 30thn itu sambil sedikit melirik Sehun yang masih sibuk membersihkan bunga. Namja itu nampak tekun melakukan pekerjaannya, sungguh ia terlihat berbeda dari biasanya. Jieun yang mengikuti arah mata Bibinya itu pun sedikit tersentak melihat ekspresi serius Sehun. Tidak gadis itu sangka namja manja dan aneh sepertinya bisa bersikap seperti itu.

 

“Sudahlah sekarang cepat ganti bajumu dan bantu kami” Bibinya melepaskan pelukan Jieun dilengannya kemudian kembali berjalan kekasir. Melihat bibinya sudah kembali melayani pembeli yang datang ketokonya, Jieun berbalik masuk keruang ganti untuk mengganti baju seragam sekolahnya.

 

 

Beberapa detik kemudian..

Jieun keluar dari ruang ganti sambil mengikat rambutnya yang tadi terurai panjang. Dahi gadis itu sedikit mengkerut, merasa lupa akan sesuatu. Sejak masuk keruang ganti hingga ia keluar dari sana, gadis itu terus berusaha untuk mengingat sesuatu apa itu?

 

 

Deg

 

 

“Aisshh.. aku lupa pada Luhan oppa!” gadis itu menepuk dahinya dengan telapak tangan putihnya. Sedikit kesal kenapa otaknya bergerak begitu lambat hanya untuk mengingat hal seperti itu?! Jieun pun berlari keluar toko untuk mencari Luhan. Ia pikir mungkin Luhan menunggunya diluar karna namja cantik itu tidak ada didalam toko.

 

Setelah sampai diluar toko, mata Jieun menerawang mencoba mencari sosok hangat yang tadi mengantarnya. Tapi dahinya kembali berkerut saat sadar kalau orang yang ia cari tidak ada disana, dan mobil Luhan pun juga sudah tidak ada ditempatnya tadi. Ia yakin sekali.. Luhan mengikutinya dibelakang tadi.

 

“Dia sudah pergi. Aku sudah menyuruhnya pulang” ucap Sehun yang sedang menata beberapa keranjang bunga dibelakangnya. Jieun pun berbalik menghadap Sehun sambil berkacak pinggang.

 

“Kau mengusir tamuku?!”

 

“Bukan mengusir.. tapi menyuruhnya pergi dengan sopan. Lagi pula Luhan hyung tidak keberatan aku suruh pulang. Dia juga punya pekerjaan yang lebih penting. Dia adalah sang penerus tahta ayahku” Sehun masih bercuap-cuap menggunakan bibir mungilnya seraya mengutak-atik keranjang bunga dihadapannya.

 

“Tapi..aku belum mengucapkan terimakasih padanya” ucap Jieun pelan sembari menurunkan tangannya kemudian menunduk agak menyesal.

 

“Sudahlah.. nanti aku yang akan menyampaikan ucapan terimakasihmu. Sekarang cepat bantu aku membuang bunga layu ini” ucap Sehun sambil menyodorkan sekantong bunga yang sudah layu pada gadis yang berdiri didepannya. Jieun pun mengangguk kemudian mengambil kantong plastik itu dan berjalan untuk membuangnya.

 

Saat sampai didepan tong sampah yang terletak beberapa meter disebelah toko, Jieun sedikit tersentak saat sadar kenapa dengan mudahnya dia mau menuruti perintah namja gila itu? Walau agak kesal.. tapi gadis itu juga merasa salut pada Sehun. Bagaimana tidak? Yang keponakan bibi Han disini itu adalah Dia bukan Sehun. Tapi dengan begitu giatnya anak itu berkerja membantu bibinya padahal dia sama sekali tidak digaji. Mungkin persepsi gadis itu tentang Sehun akan mulai berubah setelah ini.

 

 

¶¶¶¶¶

“Bibi akan mengantar bunga pesanan ketempat acara pernikahan. Kau dan Sehun tolong jaga toko ya” pesan Bibi Han pada kedua pegawainya sembari berjalan masuk kedalam mobil. Wanita itu akan pergi mengantar beberapa karangan bunga untuk acara pernikahan. Ya.. toko saat ini sudah sepi karna itu ia berani menyerahkan kendali pada kedua anak muda tersebut.

 

“Bibi.. tidak bisakah aku ikut denganmu?” rengek Jieun sambil memasang tampang memelas pada Bibinya. Ia berpikir mungkin lebih baik jika ia ikut bersama bibinya dari pada menjaga toko berdua bersama dengan namja gila itu.

 

“Tidak Jieunnie.. kau disini saja bersama Sehun. Lagi pula dia kan temanmu, kau tega meninggalkannya sendiri menjaga toko setelah dia menyelamatkan uang jajanmu?”

 

“Tapi—“

 

“Sudah jangan banyak alasan. Bibi berangkat dulu ya.. jaga toko dengan baik”Bibi Han pun melajukan mobil pick up birunya meninggalkan toko. Meninggalkan dua orang manusia yang entah kenapa jantung masing-masing dari mereka mulai berdegup kencang sekarang. Firasat Jieun mengatakan kalau sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang membuatnya jadi gila.

 

Setelah memastikan Bibinya mengendarai mobilnya dengan baik, Jieun kemudian berbalik masuk kedalam toko. Dia melakukannya agak gugup, dapat gadis itu rasakan dadanya mulai bergemuruh saat memikirkan apa yang akan terjadi disaat mereka hanya berdua ditoko itu. Tidak lama setelahnya, Sehun pun melakukan hal yang sama. Dia masuk kemudian langsung berjalan menuju pojok ruangan, ia pun kembali mengeluarkan beberapa bunga dari dalam karung yang tadi belum sempat ia selesaikan. Sehun salah tingkah.. tangannya jadi tidak bekerja dengan sempurna. Jieun yang sedang membersihkan meja kasir pun sedikit bingung melihat tingkah Sehun.

 

“Hey! Kenapa hanya diam.. ayo cepat bantu aku disini” perintah Sehun dengan gaya datarnya seperti biasa. Sehun sedikit bekerja keras untuk menyembunyikan perasaan gugupnya. Hatinya sunguh berdetak tidak normal sekarang. Sementara Jieun hanya merengut seraya berjalan menuju tempat Sehun.

 

Menuruti perintah namja aneh itu, Jieun pun merapikan beberapa bunga lili putih kedalam keranjang. Tiba-tiba sekelebat memori muncul didalam otaknya. Dia ingat waktu itu membawakan beberapa tangkai bunga lili putih untuk Sehun saat dia masih dirawat dirumah sakit. Saat itu hatinya dengan yakin mengatakan bahwa itu bunga kesukaan Sehun. Sejenak Jieun tatap bunga lili itu kemudian mengalihkan pandangannya pada namja disebelahnya yang terlihat sibuk dengan bunga mawar.

 

“Apa kau.. suka bunga lili?” tanya Jieun ragu sambil memiringkan kepalanya menatap Sehun yang kelihatan serius.

 

“Ne.. memangnya kenapa?” jawab Sehun ketus.

 

“Ani.. tidak apa-apa. Hanya sekedar bertanya” Jieun mengembalikan pandangannya pada bunga lili yang ia pegang. Sedikit terkejut dan tak percaya ternyata tembakkannya benar. Tanda tanya pun kini mulai memenuhi otak gadis itu lagi. Sebenarnya siapa Sehun? Dan ada hubungan apa dirinya dengan namja itu? Kenapa hatinya seakan mengetahui segalanya tentang Sehun seperti sudah mengenal lama?

 

“Tapi.. kenapa kau bisa tau aku suka bunga lili?”tanya Sehun setelah menyadari keheningan yang terjadi.

 

“Ah apa? Itu.. aku hanya sekedar menebak saja”

 

“Benarkah? Hanya sekedar menebak? Tapi kenapa aku merasa ada yang aneh ya?” Sehun pun memulai aksinya menggoda gadis manis disebelahnya.

 

“Umhh.. kupikir kau sengaja menyelidikinya” lanjut Sehun sambil menatap menyelidik kearah Jieun.

 

“Mwo?? Menyelidikimu? Untuk apa? aku tidak sekurang kerjaan itu” Jieun mencibir kearah Sehun.

 

“Aku tidak percaya.. kau pasti sengaja ingin tau kesukaanku, karna itu kau menyelidikinya” goda Sehun lagi. Yang kini mulai membuat Jieun merasakan panas diwajahnya. Dia merasa panas bukan karna marah atau kesal tapi karna merasa malu. Apa iya dia terlihat seperti itu?

 

“Terserah kau saja kalau tidak percaya.. Uuh”

 

Merasa tidak mampu lagi menyembunyikan semburat merah diwajahnya. Jieun pun memilih untuk pergi menaruh keranjang bunga yang sudah ia isi diluar toko. Dari pada lebih lama disana dan diam mati kutu karna Sehun lebih baik ia kabur dan mengerjakan tugas yang lain. Jieun bangkit kemudian berbalik untuk berjalan keluar. Tapi entah karna gugup atau apa.. gadis itu tanpa sengaja menyenggol sebuah pot bunga mawar yang terjejer didekat kakinya.

 

 

Prang

 

 

Pot itu pun terjatuh dan pecah. Bunga mawarnya berserakan dilantai. Sehun sedikit terkejut dan menoleh. Jieun pun segera menurunkan keranjang bunga yang ia bawa kemudian merapikan bunga mawar segar yang berserakan dilantai. Tapi lagi-lagi karna gugup, jari telunjuk gadis itu pun terluka karna tergores duri bunga mawar tersebut.

 

“Aww.. Aisshh” ringis Jieun pelan. Sehun yang melihat kejadian itu pun langsung berjalan kedepan Jieun.

 

Sehun jongkok untuk menyetarakan posisinya dengan Jieun. Kemudian bertanya sedikit panik “Kau tidak apa-apa?”

 

“Tidak aku tidak apa-apa” jawab Jieun sedikit meringis saat merasakan perih yang menjalar dijari telunjuknya. Mata Sehun pun membulat saat melihat darah yang keluar dijari telunjuk gadis itu. Dengan sigap ia meraih tangan Jieun kemudian tanpa ragu ia menghisap darah yang keluar dari luka ditelunjuknya. Tentu saja perbuatan namja itu sontak membuat mata Jieun membelalak.

 

 

Deg

 

 

Deg

 

 

Jantung gadis itu mulai berdetak lebih abnormal lagi. Hisapan Sehun ditelunjuknya seakan menjalarkan panas yang mampu membuat wajah gadis itu memerah. Tidak kuat lebih lama seperti itu, Jieun pun segera menarik kembali tangannya. Jieun bangkit kemudian berdiri didepan Sehun.

 

“Akan aku obati sendiri” gadis itu pun berjalan masuk kedalam ruang istirahat yang ada didalam. Jelas ia lebih memilih pergi dan mengobati sendiri lukanya, karna ia tidak tau akan seberapa merah lagi wajahnya jika berada didekat namja itu.

 

Jieun masuk kedalam satu ruangan yang cukup luas yang ada diareal lebih dalam toko itu. Ruangan itu tampak seperti ruang tamu kecil didalam rumah. Ruangan itu sengaja dibuat untuk tempat beristirahat jika toko memang sedang tidak ada pengunjung.

 

Jieun berjalan mengambil kotak P3K yang ada didalam laci meja televisi. Ia balut lukanya dengan plester kemudian mengembalikkan kotak itu ketempat semula. Jieun bangun kemudian berbalik dari posisinya, tapi ia kembali dikejutkan karna tiba-tiba tanpa ia sadari Sehun sudah berdiri didepannya. Sontak gadis itu melonjak kaget dan sedikit terhuyung kebelakang. Tapi dengan cepat Sehun berhasil meraih pinggangnya dan membuat kepalanya gagal membentur rak televisi dibelakangnya.

 

 

Deg

 

 

Sehun kini merangkul pinggangnya dan membuat jarak mereka sangat dekat. Dapat gadis itu hirup semerbak wangi mint yang terpancar dari tubuh Sehun. Wangi mint yang sungguh menyeggarkan.. entah kenapa lagi-lagi ia seakan sudah terbiasa dengan bau tersebut. Detak jantung keduanya pun kembali berdetak semakin cepat. Sekan memompa darah hingga naik kewajah mereka dan membuatnya memerah.

 

Lagi-lagi merasa tidak kuat.. Jieun langsung melepaskan tangan Sehun dari pinggangnya kemudian mencoba berdiri dengan tenang. Walau sebenarnya kakinya mulai merasa lemas karna gugup tapi ia berusaha bersikap senatural mungkin didepan namja itu. Bisa gawat kalau namja itu tau bahwa dia gugup. Sedikit terhenyak Sehun melepaskan tangannya kemudian juga berusaha bersikap natural. Tapi tiba-tiba sebuah denyutan dikepalanya membuatnya sedikit meringis. Hanya sedikit sehingga membuat Jieun tidak menyadarinya.

 

“A..aku akan merapikan pecahan pot tadi. Bisa gawat kalau bibi Han melihatnya” ucap Jieun seraya berjalan pergi keluar ruangan.

 

Sehun hanya menatap gadis itu samar-samar. Entah sejak kapan penglihatannya mulai memburam, ia juga tidak mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikatakan gadis itu karna suara gadis itu lebih terdenggar seperti dengungan ditelingannya.

 

 

Nyuut..

 

 

Denyutan itu semakin menjadi memberontak dikepala namja itu membuatnya sedikit terhuyung kebelakang. Ia meringis seraya memegang kepalanya.

 

 

Bruak

 

 

Jieun yang baru saja akan membuka pintu kaca pembatas antara toko dengan ruang istirahat itu pun sontak membalik. Matanya membelalak mendapati Sehun terkapar dilantai. Ia pun segera berlari menghampiri Sehun kemudian sedikit mengangkat kepala namja itu untuk bersandar dilengannya.

 

“Sehun’ah kau tidak apa-apa” tanya Jieun dengan nada panik yang terdengar dengan jelas. Sehun hanya diam sembari berusaha membuka mata sipitnya. Tapi tiba-tiba denyutan yang semakin kuat kembali terasa dikepalanya.

 

“Akkhhh..” Sehun meringis sambil meremas rambutnya sendiri. Kelihatannya rasa sakit itu sudah semakin menjadi. Dan seketika muncul sekelebat memori dipikirannya. Memori aneh yang lagi-lagi datang entah dari mana.

 

 

 

“Tenanglah Jieun’ah.. aku berjanji bahkan aku sanggup bersumpah untukmu. Jika dikehidupan selanjutnya kau harus mendapatkan penyakit sialan itu lagi. Aku sanggup.. aku mau untuk menggantikkan posisimu. Tidak akan pernah aku biarkan penyakit itu datang lagi dalam hidupmu”

 

 

“Lebih baik aku yang menderita dari pada melihatmu menderita.. aku akan memohon pada Tuhan agar jangan lagi menyertakan penyakit itu dalam hidupmu. Biar aku.. biar aku yang menggantikanmu..”

 

 

 

Seiring dengan hilangnya memori aneh itu.. mata Sehun pun menutup perlahan. Jieun jelas semakin panik. Matanya kini membelalak dengan sempurna, ia pun meraih pergelangan tangan Sehun dan memastikkan masih ada denyut di nadi namja itu. Dan jieun berhasil bernafas agak lega karna namja itu hanya pingsan.

 

Tapi baru saja ia menghembuskan nafas kelegaan, tiba-tiba nafasnya kembali tercekat saat melihat sebuah cairan kental yang keluar dari hidung namja yang terkulai lemas dilengannya.

 

“Ya Tuhan… Oh Sehun hidungmu berdarah!! Huaa bagaimana ini??!!”

 

“Hey! Oh Sehun ayo bangun!! Oh Sehun!!!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

¶¶¶To Be Continue¶¶¶

 

N/B : NO SIDERS!! NO PLAGIAT!! HARAGI KARYA ANAK BANGSA!!

31 thoughts on “Our Destiny (Chapter 2)

  1. wahhh….
    Chap 2 nya udah keluar ternyata….
    Dan tidak terasa sudah TBC… mehh
    Saengi~ itu Sehunnya sedih banget pas bagian akhir~ TT^TT
    Tapi pas yang diawal semuanya bikin ngakak… xD
    antara Kai dan Sehun.. xD..

    Duh, gak bisa bilang apa-apa lg~
    Semuanya udh KEREN. Gaya bahasanya juga oke~
    Pokoknya DAEBAK deh~

    Next Chapnya ditunggu lagi loh..
    ahh, penasaran gmn sm nasibnya Kai dan Luhan..
    Sehun sama Jieun juga deng~😄

    Oke Saeng~
    SEMANGAT ^^9

    • Waah kak hara uda komen trnyata😀
      Hehe makasi bgt lo kak uda baca sm komen
      Syukur deh kalo lucu.. awalnya takut kalo ceritanya garing kyk kripik keke
      Sipp kakak ditunggu ya~ Nasib kai dan luhan akan berakhir bersama aku kak *eh *dimakan Jieun*😀

  2. aku juga awal2nya ngakak bacanya
    trus di perebutin sama sehun-kai-dan luhaann… AAAAAAAA ::::::;AAAA;;;;;;;; *garuk2tembok*
    jieun ama sehun, ayo ayo/?
    tapi masa nnt sehunnya jadi punya penyakit ;-; jangaann

    tapi ffnya bagus, daebak,super,cetar,muah muah deh
    chap 3nya lanjut yaahh~~
    CAYOO ^^)oOo9

    • Haha authornya juga ngakak sendiri waktu buatnya xD keke
      Makasi uda komen ya chingu^^
      Seneng deh ada lagi yang suka sm ff author abal nan nista ini *bow bareng kailu*
      Sip chapter 3 nya ditunggu aja ya~

  3. waaa tambah seru… jadi sekarang yabg sakit itu sehun bukan jieun .. hwuaaa kasian jieun sekarang dia yang harus ngerasa kehilangan semoga sehun ga pergi dan tetap bersatu .. hihi ^^

  4. oh, jdi jnji sehun ama jieun adlh sehun akan mnggantikan jieun unk mnggung pnykit jieun d khdupan dlu*so sweeeeet*#mau(ngarep.com)
    jongin ama sehun brntem terus, luhan gmna nsibnya?
    GUD JOB THOR, Fighting!!! ^.^

  5. aigoo, sehunnie, kkamjongie kalian mau duduk aja beli bangku dulu -__________-
    btw, itu sehun rajin amat bantuin bibinya Jieun, cieee. padahal di dorm dia yang suka berantakin isi lemarinya D.O eomma ckckck

    tambah seru nih ceritanya. keep writing ^^
    oke, waktunya lanjut ke next chap

    p.s : EunHun fighting! Author fighting! jangan sad end jutheyo, ne?*bowbarengthehun*

  6. Tinggalin jejak dulu ahhh…
    Annyeong author eonni🙂
    Haha reader gaje dtang dg kterlambatan mmbaca ff ini… Mian ya baru komen di sini…udah trlmbat pula…mohon dimaklumi …kkk
    dan kli ini..kena lagi virus sehun …
    Aku suka ff ini juga..kkk wlwpun cast nya bkan yeollie,,tpi stdaknya sehun sudah lbih dr ckup..^^
    Pas diawal aku.baca kirain bakaln sad bnget, trnyata mlah bkin gemes..kkk
    kl bsa lbih sad lgi ya eon ..
    Gamsa…. Hwaiting🙂

  7. Wowww o.o
    Imutt banget jieun direbutin sekai keke
    Kyeowo
    Aduh mas sehun rajin banget sihhh
    Ngiasep ngisep segala hahha

  8. Ehmmm author ff ceritanya makin seru nihh aku mau lanjut bacanya lagiyahh thor soalnya penasaran dan ceritanya sama sekali gak garing,selamat yah…… Author

  9. Ahh~
    sehun so sweet banget mau nggantiin penderitaan jieun ..
    beruntungnya jieun direbutin 3 namja berwajah malaikat😄

  10. Jieun beruntung sekali diperebutkan 3 cowok ganteng.. ㅠㅠ Aku juga pengen~~ #ngarep
    Ckckck,, cuma gara-gara bangku, sampe mau bayar 2x lipat. dasar orang kaya. #plakk

  11. Hahaha sumpah aku ngakak liat klakuan 2 maknae it kai sm sehun😂😂😂😂😂.

    Aduhh terxata sehun skt y. Sedih dh😩😩😩😩. Sehunx jgn dibuat mninggal y😱😱😱..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s