Pabo! Saranghae

pabo

Title : Pabo ! Saranghae

Main cast : Do Kyung Soo (D.O) , Shin In Ah (OC)

Author : HCV_1

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Rating 16+

Annyeong~~~ !!!!

HCV 1 balik lagi nih bawa hasil karya ff terbaru

Huft akhirnya selesai dan bisa di post  juga FF ini ~~~

Maaf ya kalo typo masih banyak bertebaran dan mungkin ada kata-kata yang kurang pas  , jeongmal mianhae

Mohon komennya ya ~~~~ komen kalian sangat membantu membangun semangat author

Ok deh , happy reading guys ^^

 

 

[In Ah pov]

“Akhirnya….” Keluhku karena perjalanan yang cukup panjang yang ku lalui dengan duduk di dalam pesawat cukup menguras tenaga ku.

“Hanya duduk di dalam pesawat saja sudah membuat pantat ku sakit begini” ucap ku lagi. Aku menarik koper ku berjalan mencari taksi.

“Yaaaa….pabo !” panggil seorang namja yang berada di belakang ku kini.

“Aisshhh….siapa yang di katainya pabo tadi ?” gumam ku kesal sambil memicingkan mata dan membalikkan badan ke arahnya. Ia pun tertawa melihat ekspresi wajah ku yang kesal, karena ia memanggil ku dengan sebutan pabo. Ia terlihat berbeda, ia terlihat tampan dengan balutan celana jins panjang berwarna hitam dan baju kaos putih yang di lapisi oleh kemeja berwarna biru tua.

“Tsk….kau itu !” kataku kesal.

“Yaa…aku hanya bercanda” ia pun berhenti tertawa.

“Kau itu tidak bisakah berhenti mengatai ku pabo ?” tanyaku masih menunjukkan ekspresi kesal , yang di balas dengan tatapan angkuhnya.

“Ti-dak pa-bo” jawabnya putus-putus.

“Kau masih saja memanggil ku pabo. Itu memalukan” kataku kesal.

“Ok ok….Welcome in Korea. Selama liburan di sini , kau akan tinggal di rumahku” katanya bergaya seperti seorang guide seakan-akan aku ini adalah turis asing , kemudian ia kembali berekspresi sedikit angkuh. Aku hanya menatapnya heran. Ia lalu mengambil koper dari tanganku yang ku tarik dari tadi. Ia membawakan koper ku dan tiba-tiba saja ia juga menarik tanganku agar berjalan di sisinya. Aku terkejut dengan apa yang di lakukannya itu. Aku hanya menatapnya bingung.

“Kau itu baru sampai di sini. Jadi akan merepotkan jika kau sampai tersesat” katanya masih menatap lurus dan tetap menggenggam tangan ku erat dan tidak lupa juga koper milikku.

“Hey I’m not a child” kataku. Ia hanya menatap ku dan tiba-tiba perutku berbunyi. Aku menundukan kepala karena malu. Dengan wajahnya yang angkuh itu ia pun mempercepat gerakan kakinya yang membuatku harus bersusah payah untuk menyamai langkahnya karena ia masih menggenggam tanganku.

“Pabo” ucapnya. Ia lalu mengajakku pergi ke sebuah kafe.

Kami duduk di sudut ruangan kafe tersebut. Kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari bandara. Ia memesan 1 pancake dan 2 coffe latte. Karena pesanan yang di pesan belum datang suasana canggung pun merayapi kami berdua. Akupun mencoba memulai pembicaraan.

“Kau banyak berubah ya ?” tanyaku.

“Iya , kau juga berubah” cibirnya.

“Yaaa…kenapa kau ketus begitu padaku ?” balasku.

Pesanan yang di pesan pun datang.

Ia mengambil pancake yang di pesannya tadi dan meletakkannya tepat di hadapan ku.

“Ini untuk cacing-cacing di perut mu itu” katanya dengan wajah yang tidak bisa ditebak.

“Bagaimana dengan mu ?” tanya ku merasa tidak enak karena aku hanya makan sendiri.

“Sebelum menjemput mu tadi aku menyempatkan diri untuk makan” jawabnya sambil menatapku. Tatapan yang masih tidak bisa ku tebak.

Aku sangat merindukan namja yang kini duduk di depan ku ini , walaupun ia sekarang menyebalkan. Ia adalah teman masa kecil ku. Orang tua kami juga sudah saling mengenal karena dulu kami berdua tidak bisa di pisahkan. Kami pertama kali bertemu saat taman kanak-kanak. Saat itu ia sedang menangis , aku merasa kasihan dengannya tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya duduk menemaninya sampai tangisannya itu reda. Sejak saat itulah kami berteman hingga saat ini. Ia banyak berubah , tidak lagi seperti Kyung Soo yang dulu. Bukan lagi Kyung Soo kecil yang cengeng , penakut dan pemalu.

“Melamun seperti itu , tidak akan membuat pancake di hadapan mu habis” serunya.

“Arraseo~ tapi aku senang kau masih ingat makanan kesukaan ku” kataku lalu tersenyum ke arahnnya. Ia hanya memandang ku dengan tatapan….yang masih tidak bisa ku mengerti.

 

[Normal Pov]

Kyung Soo dan In Ah berjalan berdampingan setelah turun dari taksi. Selama di dalam taksi mereka masih merasa canggung. Setelah turun dari taksi Kyung Soo masih tetap membawakan koper milik In Ah walaupun In Ah sudah memaksa akan membawanya sendiri. Karena bingung harus berbuat apa , In Ah pun mulai membuka percakapan.

“Kyung Soo’ah gomawo” kata In Ah masih tetap berjalan.

“Untuk ?” tanya Kyung Soo tidak mengerti.

“Kau telah menjemputku di bandara , mengajakku makan dan mengijinkan ku tinggal untuk sementara di rumah mu. Gomawo Kyung Soo’ah” kata In Ah lalu tersenyum tulus.

“Aku merasa tidak enak dengan orang tua mu , apa kau yakin aku boleh menumpang untuk sementara di rumah mu ?” tanya In Ah ragu.

“Apa kau lupa bagaimana dekatnya orang tua kita ?” Kyung Soo balik bertanya.

Setelah beberapa menit mereka pun sampai di depan rumah yang cukup megah berlantai dua dengan desain paduan antara tradisional medern. Halamannya indah dan tertata rapi. Mereka pun masuk ke dalam rumah tersebut. In Ah mengenal rumah tersebut , rumah milik keluarga Kyung Soo.

“Annyeonghaseyo In Ah” sapa wanita paruh baya yang masih terlihat cantik untuk usianya. In Ah hanya membalasnya dengan senyuman. Ia juga mengenal wanita tersebut. Wanita yang ia anggap sebagai eommanya sendiri. Ia memeluk In Ah dengan penuh kasih sayang.

“Ahjumma sangat merindukan mu. Kenapa kau dan keluarga mu tidak pernah memberikan kabar sih ?” tanyanya masih memeluk In Ah. In Ah hanya tersenyum getir.

“Bogoshippo ahjumma , maaf kan aku karena tidak pernah memberi kabar” jawab ku. Wanita paruh baya tersebut lalu melepas pelukannya dari In Ah.

“Oh iya , tadi ahjussi ingin mengucapkan selamat datang. Tapi karena urusan pekerjaan ia tidak bisa mengatakannya padamu langsung” kata wanita paruh baya yang adalah eomma Kyung Soo tersebut.

“Gwaenchannayeo ahjumma. Gamsahamnida karena ahjumma dan ahjussi mengijinkan ku menumpang di sini” kata In Ah.

“Kau sudah kami anggap seperti anak kami In Ah , jadi jangan sungkan seperti itu” kata Kyung Soo eomma , dan ia pun tersenyum.

“Kyung Soo antarkan In Ah ke kamarnya” perintah ahjumma tersebut pada Kyung Soo.

“Ne eomma” jawab Kyung Soo.

In Ah mengikuti Kyung Soo menaiki tangga menuju lantai dua. Ia berhenti di depan pintu dan membuka kenop pintu tersebut.

“Ini kamar mu , ibu sudah merapikannya agar kau nyaman tinggal disini” jelasnya dengan ekspresi yang datar.

“Dan kamar yang tepat berada di depan mu itu adalah kamar ku. Jika kau mebutuhkan sesuatu kau bisa mengatakannya padaku” ucapnya sambil menunjuk kamar yang memang berada tepat di depan kamar yang disediakan untuk In Ah.

“Ah~ ne gomawo” jawab In Ah tetap menunjukkan senyum, walaupun Kyung Soo berekspresi sedikit angkuh.

Kyung Soo lalu meletakkan koper milik In Ah di samping ranjang tidur. Ia lalu keluar dari kamar yang sekarang adalah kamar In Ah.

“Baiklah , aku pergi dulu. Jika kau masih lapar kau bisa turun , eomma tadi menyisihkan makanan untuk bejaga-jaga saat kau lapar” kata Kyung Soo datar.

“Ne~” jawabku lalu duduk di ranjang.

Kyung Soo lalu menutup pintu kamar In Ah membiarkan In Ah beristirahat , dan masuk ke dalam kamarnya. In Ah kini merebahkan dirinya di ranjang karena merasa lelah. Ia tidak bisa berhenti tersenyum , mungkin jika ia berada di tempat yang ramai ia akan di anggap gila. Tapi ia tidak bisa berhenti tersenyum. Ia merasa senang , sangat sangat senang….tapi ia tidak tahu apa yang menyebabkan ia tersenyum sendiri seperti itu. Ia pun terlelap dalam mimpi yang sangat indah.

 

[Kyung Soo Pov]

“Kau juga banyak berubah. Kau tau itu kan ?” ucapku pada diri sendiri.

“Kau berubah menjadi gadis yang sangat cantik. Kau sangat berbeda dengan In Ah yang dulu. Tapi kau tetaplah In Ah yang sangat berharga bagiku” sambungku.

Akupun merebahkan diri di atas ranjang tidurku. Menatap langit kamar yang berwarna putih bersih tersebut. Tanpa diperintah oleh otakku bibirku menyunggingkan senyum.

“Kau tahu In Ah , aku sangat merindukan mu” ucapan itu keluar begitu saja dari mulut ku. Tanpa ku sadari aku sudah berada di alam mimpi.

 

[Normal Pov]

Kyung Soo terbangun dari mimpinya karena mendengar suara pintu yang terbuka. Ia pun segera bangkit dan membuka pintu kamarnya. Ia berjalan pelan-pelan menuruni tangga. Ia melihat ada seberkas cahaya yang keluar dari dapur. Ia semakin mendekati sumber cahaya tersebut.

Dan pada saat bersamaan pula , In Ah mundur beberapa langkah dari kulkas yang ia buka dan berdiri. Ia tiba-tiba merasakan ada orang yang berada di sampingnya. Dan ia pun bersiap untuk berteriak. Seketika juga mulutnya di tutup oleh sebuah tangan yang berukuran lebih besar dari tangannya. Ia meronta tapi In Ah memejamkan matanya karena tidak berani melihat. In Ah mulai ketakutan.

“Ssstttt….sedang apa kau malam-malam begini ?” tanya laki-laki itu. Ia lalu menyalakan lampu yang berada di tembok tepat di sebelahnya. Ia lalu melepaskan bekapan tangannya dari mulut gadis tersebut.

“Huft…kau tau aku ketakutan karena kau tiba-tiba berada di sampingku seperti itu” ucap In Ah kesal.

“Apa yang kau lakukan tadi ?” tanya Kyung Soo pada In Ah. Ia lalu menyuruh In Ah untuk duduk di depannya dengan tatapan matanya.

“Aku lapar , jadi aku mencari makanan di sana” ucap In Ah sambil menunjuk ke arah kulkas.

“Kau duduk saja di sini , akan ku masakkan sesuatu untuk kau makan” ucapnya lalu bangkit mendekati arah kulkas. Ia mengeluarkan beberapa bahan untuk memasak dari kulkas. Ia menyalakan kompor dan mulai untuk memasak. Karena rasa kantuk yang tidak dapat di tahan , In Ah pun merebahkan kepalanya di meja makan.

Masakan yang dibuat oleh Kyung Soo sudah selesai. Ia membawanya menuju meja makan. Tapi ia menemukan In Ah tertidur di meja makan. Ia lalu meletakan masakan hasil karyanya di meja makan. Kyung Soo memang pandai memasak. Masakan yang ia buat memang terlihat lezat dan rasanya tidak kalah dengan tampilannya.

“Tsk…dasar tukang tidur” ucap Kyung Soo kesal. Ia memperhatikkan wajah In Ah yang terlelap itu. Wajah In Ah terlihat sempurna. Matanya yang biasanya bulat kini menutup karena kantuk yang tidak dapat ditahan olehnya. Rambutnya yang lurus di potong sebahu menambah kesempurnaan wajahnya.

“Kau itu sungguh manis…” gumam Kyung Soo yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri. Kyung Soo segera menyadarkan dirinya agar tidak berpikiran yang aneh-aneh.

“Yaaa…pabo cepat bangun. Cepatlah kau makan. Aku tidak mau besok ditemukan mayat disini hanya karena kelaparan” ucapnya lalu mengguncang-guncangkan tubuh In Ah. Tapi In Ah tidak bangun juga.

“Dasar kau pemalas !” ucap Kyung Soo kesal.

Setelah mengguncang-guncangkan tubuh In Ah dan berteriak dengan frekuensi suara yang lebih besar , akhirnya In Ah pun terbangun dari tidurnya. In Ah membuka mulutnya lebar-lebar untuk menguap. Ia langsung membelalakan matanya yang bulat tersebut karena tepat di depannya telah terhidang makanan yang terlihat enak.

“Apa ini tidak beracun ?” tanya In Ah , yang di balas dengan tatapan melotot milik Kyung Soo karena masakan yang ia buat dikatakan beracun.

“Kau makan saja. Jangan banyak bertanya” seru Kyung Soo.

In Ah hanya membalas dengan cengiran, lalu tanpa berpikir panjang lagi langsung menghabiskan makanan yang ada di depannya , karena rasa lapar yang tidak bisa di tahan lagi.

Kyung Soo hanya menatap In Ah yang sibuk mengunyah makanan hingga pipinya penuh. Tanpa di ketahui oleh In Ah , Kyung Soo menyunggingkan senyum di bibirnya karena melihat pipi In Ah yang menggembung tersebut kerena penuh berisi makanan hal itu membuat In Ah telihat menggemaskan.

“Hei , pelan-pelan” Kyung Soo memperingati. Tapi In Ah masih sibuk mengunyah. In Ah tampak sibuk dengan makanannya tanpa memperhatikan sekitarnya.

“Haahhh…kenyang” kata In Ah sambil mengusap-usap perutnya.

“Gomawo Kyung Soo….” Kata-kata In Ah tiba-tiba saja berhenti karena ia melihat Kyung Soo tertidur. Kyung Soo melipat tangannya di atas meja dan menggunakannya sebagai penyangga kepala. In Ah tersenyum melihat wajah polos Kyung Soo yang sedang tertidur itu. Ini pertama kalinya In Ah melihat wajah Kyung Soo saat tertidur setelah 6 tahun tidak bertemu. Wajah yang biasanya terlihat sedikit angkuh dan cuek kini terlihat begitu polos. Seperti wajah anak kecil.

In Ah lalu membersihkan piring dan juga sendok yang ia gunakan tadi dengan hati-hati agar Kyung Soo tidak terbangun. Ia lalu menaiki tangga dan mengambilkan selimut. Ia menyelimuti tubuh Kyung Soo dengan hati-hati. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Kyung Soo.

“Gomawo Kyung Soo’ah , have a nice dream” bisik In Ah lembut di telinga Kyung Soo lalu ia pergi menuju kamarnya.

Setelah In Ah masuk ke dalam kamarnya , Kyung Soo terbangun. Ia menyunggingkan senyum di kedua sudut bibirnya.

“Dasar…” ucapnya masih dengan senyum yang terukir di bibirnya , lalu ia pergi ke kamarnya dengan membawa selimut yang diberikan oleh In Ah tadi.

 

Keesokan paginya……

“Yaaaa….In Ah cepat bangun !” teriak Kyung Soo , ia mengetuk pintu kamar In Ah dengan kasar. Tapi In Ah masih terlelap.

“Gadis malas , cepat bangun !!” teriak Kyung Soo dengan suara yang leih keras dari sebelumnya. In Ah masih juga belum bergeming sedikitpun dari ranjangnya.

“YAAA !!!! CEPAT BANGUN” teriak Kyung Soo dua kali lebih keras dari sebelumnya dan mengetuk pintu In Ah dengan lebih keras juga.

Sayup-sayup In Ah mendengar suara seseorang. Semakin lama semakin keras terdengar. Dan sampai akhirnya suara itu sukses membuat mata In Ah terbuka walau hanya setengah. Ia lalu beranjak dari ranjangnya dan mebuka pintu kamarnya yang diketuk dengan kasar tersebut.

CKLEK

“Cepat bangun !” seru kyung Soo dengan wajah angkuhnya.

“Ok sir” ucap In Ah sambil mengacungkan tangannya di depan wajah Kyung Soo yang membentuk huruf O tersebut. Tetapi matanya masih setengah terbuka.

“Cepat bersihkan dirimu , lalu turun untuk sarapan” ucapnya.

In Ah hanya membalas dengan anggukan dengan mata yang masih setengah terbuka tentunya.

Setelah Kyung Soo pergi In Ah segera menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia pun sudah terlihat segar dan matanya yang bulat tersebut sudah terbuka lebar.

“Di mana ahjumma dan ahjussi ?” tanya In Ah pada Kyung Soo saat ia masih menuruni tangga.

“Eomma tadi pergi pagi-pagi sekali. Ia menemani appa pergi ke luar kota untuk beberapa minggu” jawab Kyung Soo.

“Ah…kenapa lama sekali sih ?” terlihat raut wajah In Ah yang kecewa karena eomma dan appa Kyung Soo pergi ke luar kota beberapa minggu.

“Cepatlah makan , eomma sudah menyiapkan sarapan ini untuk mu pagi-pagi sekali” ucap Kyung Soo yang masih sibuk dengan sarapannya.

In Ah mempoutkan bibirnya. Ia kesal dengan Kyung Soo yang berubah 180° saat ia pertama kali bertemu di bandara. Kini In Ah hanya melihat wajah Kyung Soo yang sedikit angkuh tersebut. Wajah yang sepertinya menahan sesuatu.

“Baiklah , karena ini buatan ahjumma akan ku makan sampai habis” kata In Ah seperti anak kecil.

“Dasar pabo” gumam Kyung Soo. Mereka berdua sarapan dengan tenang. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Sampai akhrinya mereka berdua pun selesai sarapan.

“Kyung Soo ayo kita berkeliling” ajak In Ah dengan tatapan memohon.

“Baiklah…” ucap Kyung Soo terpaksa.

Mereka berdua pergi ke taman yang letaknya tidak jauh dari rumah Kyung Soo. Taman itu cukup sepi karena hanya ada beberapa orang saja yang berada di sana.

“Haaahhh~ disini menyenangkan” ucap In Ah dengan senyum manis terukir di bibirnya yang berwarna merah muda tersebut. Ia berlari seperti anak kecil di bawah daun-daun yang mulai jatuh berguguran. Pertanda akan dimulainya musim salju.

“Yaaa….pabo cepat kesini ! Kenapa jalan mu lambat sekai sih ?” teriak In Ah pada Kyung Soo lalu ia tertawa senang karena bisa membalas perkataan Kyung Soo sejak ia bertemu di bandara. Kyung Soo hanya membalas In Ah dengan cibiran.

“Yaaa ! Kyung Soo pabo !” teriak In Ah lagi , tapi kini ia menjulurkan lidahnya untuk mengejek Kyung Soo.

“Kau sudah ingin mati rupaya ya !” balas Kyung Soo. Ia pun mengejar In Ah. Mereka berlari-lari seperti saat mereka kecil dulu.

Setelah lelah berlari-lari mereka pun duduk di bawah pohon rindang yang cukup besar. Mereka menyandarkan diri mereka pada pohon dengan arah yang berlawanan.

“Aku merindukan masa saat kita kecil dulu” ucap In Ah.

“….”

“Dulu semuanya terasa lengkap. Tidak ada yang meninggalkan ku” ucap In Ah lagi.

“….”

In Ah pun memejamkan matanya , menghirup udara yang sangat ia rindukan. Udara saat ia terakhir kali bermain dengan Kyung Soo , sebelum ia pergi meninggalkan Korea dan ditinggalkan oleh orang yang amat disayanginya. Ia menikmati wajahnya diterpa oleh angin lembut. Ia menyunggingkan senyum di kedua sudut bibirnya.

Kyung Soo hanya menatap In Ah dari balik pohon. Lalu ia memandangi langit.

[Kyung Soo Pov]

Kenapa kau mengatakan sesuatu yang terdengar sedih seperti itu ? Apa kau tau aku selalu menunggu mu kembali. Aku tidak pernah meninggalkan mu , bahkan aku selalu berharap kau tidak pernah melupakan aku. Tapi setelah kau ada di sini , kenapa kau mengatakan hal yang sedih seperti itu ? Maafkan aku In Ah , untuk sementara waktu aku harus membuat jarak di antara kita. Aku tidak mau perasaan ini mengganggu pertemanan kita.

 

[In Ah Pov]

Kyung Soo’ah apa kau tau ? Aku kembali ke negara ini hanya untuk menemukan kembali kebahagiaan ku. Kebahagiaanku saat kita kecil dulu. Kebahagiaan yang belum direnggut oleh siapapun. Tapi kenapa kau seperti membentengi diri dariku ?

 

[Normal Pov]

Setelah beberapa minggu mereka semakin dekat karena mereka hanya tinggal berdua saja. Eomma dan appa Kyung Soo juga memberi kabar bahwa mereka harus tinggal lebih lama lagi di luar kota karena ada pekerjaan yang  belum terselesaikan. Dan selama beberapa minggu tersebut In Ah sering membuat Kyung Soo repot karena In Ah yang tidak tahu arah seringkali tersesat jika mereka berdua pergi berkeliling.

Tapi wajah Kyung Soo yang sedikit angkuh itu tidak berubah , hanya saja sekarang ia sudah bisa tersenyum. Bukan senyum yang dipaksakan lagi , saat ia bertemu dengan In Ah pertama kali di bandara. Tetapi senyum tulus.

Waktu liburan In Ah pun hanya tinggal 3 hari lagi

“Kyung Soo’ah aku ke Korea karena aku ingin mengunjungi eomma dan appa mu , aku merindukan mereka berdua. Tapi mereka sibuk sekali , karena urusan pekerjaan” keluh In Ah.

“Waktu liburan ku akan segera berakhir” sambungnya lagi.

“Hei pabo , kau itu berisik sekali sih” kata Kyung Soo.

 

*****

 

Malam haripun tiba , Kyung Soo dan In Ah sibuk di kamar mereka masing-masing. Tapi tiba-tiba listrik di rumah tersebut padam.

“Apa yang terjadi ?” tanya In Ah panik.

“Aku takut !” seru In Ah.

“Kyung Soo tolong aku” seru In Ah lagi, badannya sudah mulai bergetar.

In Ah segera mengambil selimut lalu di sematkan dipunggungnya. Ia cepat-cepat membuka pintu kamarnya dan langsung melesat masuk ke kamar Kyung Soo. Di saat yang bersamaan pula Kyung Soo berdiri hendak membuka pintu kamarnya untuk mencari In Ah. Karena keadaan yang gelap mereka berdua saling tertabrak. In Ah langsung memeluk Kyung Soo erat.

“Lepaskan aku pabo !” seru Kyung Soo karena tiba-tiba saja In Ah memeluknya erat yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Tapi In Ah tetap memeluknya.

Kyung Soo mulai merasakan tubuh In Ah bergetar. Refleks iapun membalas pelukan In Ah lebih erat lagi.

“Tenanglah , ada aku disini” ucap Kyung Soo lembut agar In Ah tidak ketakutan. Ia membelai rambut In Ah dengan lembut.

Kyung Soo pun tetap menjaga In Ah , sampai gadis itu berhenti merasa ketakutan. In Ah pun terlelap dalam dekapan hangat Kyung Soo karena merasa aman.

Pag ipun tiba , Kyung Soo lebih dulu terbangun dari tidurnya. Ia memindahkan pelan-pelan kepala In Ah yang bersandar di bahunya tersebut. Ia mengusap pipi In Ah dengan lembut , agar In Ah tidak terbangun. Ia lalu beranjak menuju dapur untuk membuat sarapan. Setelah ia selesai membuat sarapan ia segera membangunkan In Ah.

“Pabo ! Cepat bangun” ucap Kyung Soo. In Ah tidak seperti biasanya langsung bangun dan mengikuti Kyung Soo menuju dapur.

“Kyung Soo’ah maaf semalam aku merepotkan mu” ucap In Ah merasa tidak enak terhadap Kyung Soo.

“Kau itu memang selalu merepotkan ku” ucap Kyung Soo ketus.

“Aku ada janji dengan seseorang. Jangan pergi ke mana-mana. Aku tidak mau sampai ada berita seorang gadis SMA tersesat” sambungnya dengan wajah angkuhnya tersebut.

“Ne…” ucap In Ah menundukan wajahnya merasa tidak enak.

 

Setelah ditinggal Kyung Soo pergi In Ah bingung harus melakukan apa. Ia merasa bosan sendirian. Ia memutuskan untuk sedikit mebersihkan rumah. Ia pun mulai membersihkan debu-debu yang ada dan merapikan majalah dan buku-buku yang berserakan , mencuci piring dan gelas yang kotor dan mengepel lantai. Ia pun sudah selesai membersihkan dapur dan ruang tamu.

“Saatnya membersihkan kamar Kyung Soo. Ini untuk balas budi karena ia sudah mengijinkan ku tidur di kamarnya” ucap In Ah.

“Lihat saja nanti , kau akan terkejut melihat betapa bersihnya kamarmu” kata In Ah dengan tingkah yang seperti anak kecil.

Ia pun menuju kamar Kyung Soo. Ia segera merapikan buku-buku yang berantakan di atas meja belajar Kyung Soo. Karena terlalu semangat merapikan kamar Kyung Soo, In Ah tidak sengaja menyenggol kotak yang tidak terlalu besar yang berada di rak buku milik Kyung Soo yang menyebabkan isi yang ada dalam kotak tersebut tercecer berantakan.

“Harus cepat-cepat ku rapikan , Kyung Soo akan marah besar jika ia tau aku menjatuhkan kotak ini” ucap In Ah. Ia mengambil isi kotak tersebut yang berceceran. Ternyata itu adalah setumpuk amplop. Amplop-amplop itu semuanya terbuka. In Ah mengambil salah satu amplop tersebut. Ia membaca isinya. Amplop tersebut berisi kata-kata yang menunjukkan Kyung Soo menyukai seorang gadis. Kata-kata yang terdapat dalam surat tersebut sangatlah berbeda dengan kata-kata yang selalu keluar dari mulut Kyung Soo pada In Ah. Hal ini membuat hati In Ah terasa perih. Ia tidak rela jika Kyung Soo dimilki oleh orang lain.

Ia membuka amplop lainnya , isinya juga sama. Sampai akhirnya ia membuka amplop yang sepertinya masih baru. Ia terkejut karena isi dari surat tersebut mengatakan bahwa Kyung Soo akan menyatakan perasaannya hari ini juga.

In Ah terjatuh , kakinya tiba-tiba tidak sanggup menopang badannya. Ia memandang lurus dengan tatapan yang menyiratkan perasaan takut, terluka, dan marah. Setitik air mata lalu menetes keluar melewati pipinya yang halus tersebut.

“Kyung Soo’ah apa kau juga akan meninggalkan aku ?” tanyanya lirih.

“Aku tidak rela kau sampai dimiliki oleh orang lain” ucapnya lagi. Ia menghapus air mata yang membasahi pipnya. Ia segera merapikan amplop-amplop tersebut dan meletakkannya didalam kotak lalu menaruhnya di tempat semula.

Karena hatinya kacau , ia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dekat rumah Kyung Soo tersebut. Ia duduk di bawah pohon yang daunnya tidak terlalu banyak tersebut yang berwarna kekuningan karena musim gugur. Pohon itu juga terletak di samping danau. Ia membenamkan kepalanya di atas lututnya yang ditekuknya tersebut.

****

“Kenapa rumah sepi sekali sih ?” tanya Kyung Soo.

“Yaaa…pabo cepat turun. Aku membelikan mu pancake !” seru Kyung Soo tapi tak ada jawaban dari In Ah.  Kyung Soo naik ke kamar In Ah tapi , kamar tersebut kosong. Kemudian ia membuka pintu WC tapi di situ juga kosong. Ia mencari In Ah di kamar miliknya tapi tetap kosong. Ia mulai panik, ia takut terjadi sesuatu pada In Ah. Ia menyusuri rumahnya tapi In Ah tetap tidak ditemukan. Pikirannya mulai kacau. Tiba-tiba terlintas di otaknya kata taman.

Kyung Soo berlari secepat mungkin menuju taman. Ia mengelilingi taman tersebut tapi In Ah tidak ada. Ia mengatur napas , dan bersikap setenang mungkin agar ia dapat memikirkan tempat yang mungkin di kunjungi oleh In Ah. Tapi sayup-sayup ia mendengar suara isak tangis. Kyung Soo mendekati suara tersebut. Suara yang berasal dari balik pohon. Ia segera menghamprii suara tersebut. Dan disanalah ia menemukan In Ah. In Ah membenamkan wajahnya di lututnya. Ia menangis.

Kyung Soo lalu menarik In Ah berdiri , dengan kasar. Ia memeluk In Ah erat. In Ah terkejut , karena Kyung Soo tiba-tiba memeluknya seperti itu. Air matanya tiba-tiba mengering karena terkejut.

“Sudah ku katakan jangan pergi” bisik Kyung Soo lembut.

Seketika air mata In Ah mengalir keluar lagi.

“Kyung Soo , jangan tinggalkan aku sendirian” ucap In Ah sambil terisak.

“Tenanglah , aku selalu ada di sisimu” ucap Kyung Soo yang tidak terdengar ketus lagi. In Ah lalu melepas pelukan Kyung Soo.

“Aku sudah merelakan mu , bersama gadis lain. Kau bisa meninggalkan aku sendirian di sini. Jadi cepat nyatakan perasaan mu pada gadis itu sebelum terlambat” ucap In Ah, yang masih mengeluarkan air mata.

“Pabo !” ucap Kyung Soo kesal. Ia mulai mencium bibir In Ah lembut. Rasa hangat mulai menjalar keseluruh tubuh Kyung Soo dan In Ah. In Ah yang awalnya meronta kini menerima bibir hangat Kyung Soo. In Ah memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dan hangat dari bibir Kyung Soo. Kyung Soo kemudian memeluk In Ah. Ia mempererat pelukannya. In Ah membalas ciuman lembut Kyung Soo tersebut. In Ah dapat merasakan nafas mereka berdua saling memburu. Mereka pun melepaskan ciuman mereka karena nafas mereka yang hampir habis. Kyung Soo tersenyum, senyum yang benar-benar tulus.

“Apa kau tau , siapa gadis yang ku cintai itu ?” tanya Kyung Soo.

“Pabo ! Kenapa kau malah mencium ku ?” tanya In Ah.

“Pabo ! Saranghae…” ucap Kyung Soo lembut. Ia kembali mencium bibir In Ah dengan lembut.

“Yaaa…kau itu dasar pabo !” ucap In Ah. In Ah lalu memeluk Kyung Soo erat. Kyung Soo pun membalas pelukan In Ah.

“Nado saranghae…” ucap In Ah dalam dekapan hangat Kyung Soo. Keduanyapun tersenyum bahagia.

 

****

 

Sesampainya mereka berdua di rumah…..

“Dari man saja kalian berdua ? In Ah kenapa kau terlihat kacau seperti itu ?” tanya Kyung Soo eomma.

“Eomma , appa kapan kalian datang dari luar kota ?” tanya Kyung Soo terkejut karena appa dan eommanya tiba-tiba sudah ada di rumah.

“Baru saja” ucap Kyung Soo appa.

“In Ah appa mu sangat khawatir terhadap mu, Kenapa kau tak pernah memberi kabar padanya ?” ucap Kyung Soo eomma , lalu memeluk In Ah.

“In Ah , katakan saja yang sejujurnya. Tadi appa mu menelpon , ia menanyakan keadaan mu karena kau tidak pernah memberi ia kabar. Kami pasti mendengarkan mu” ucap Kyung Soo appa. Ia tersenyum ke arah In Ah. Kyung Soo yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi hanya diam saja.

Mereka pun duduk di ruang tamu. Mereka memandang In Ah dengan tatapan khawatir.

“Ahjumma , ahjussi dan Kyung Soo aku ingin jujur pada kalian” ucap In Ah ragu.

“Sebenarnya aku datang ke sini ingin memberikan surat yag dititipkan oleh eomma dan appa tidak tahu aku pergi ke Korea seorang diri. Yang appa tau hanya aku pergi untuk berlibur…” air mata In Ah pun mulai keluar.

Ia memberikan surat yang dititipkan eommanya pada eomma dan appa Kyung Soo tersebut.

“Sebenarnya eomma mengalami kecelakaan 1 tahun yang lalu. Ia koma selama 3 minggu. Selama beberapa hari ia mulai sadar dan keadaannya mulai membaik. Tapi…” air mata  mulai membanjiri pipi In Ah.

“Eomma…eomma meninggal. Itu membuatku sangat terpukul dan meninggalkan trauma pada diriku. Sejak saat itu aku hanya tinggal berdua saja dengan appa” In Ah mengusap air mata di pipnya.

“Tapi appa sangat sibuk bekerja , hingga tidak pernah sekalipun appa meluangkan waktu untuk bersama ku…. sebelum eomma meninggal , ia menitipkan surat ini pada ku….eomma mengatakan surat ini untuk ahjumma dan ahjussi” ucap In Ah berusaha menahan air matanya agar tidak turun lagi. Dulu ia sudah bertekad untuk tidak menangis lagi agar eommanya tidak sedih saat melihatnya dari langit.

Eomma Kyung Soo pun langsung mendekap erat In Ah. Ia membelai rambut In Ah dengan lembut.

“Tenanglah In Ah….kami semua ada di sini untuk mu” ucapnya lembut.

 

****

 

Keesokan harinya….

“In Ah , appa mu sangat menyayangi mu. Ia khawatir terhadap mu. Ia menelpon kami saat ia baru mengetahui kau pergi ke Korea seorang diri” kata Kyung Soo eomma.

“Jadi appa sudah tahu , aku pergi ke Korea ?” tanya In Ah.

“Ne In Ah , saat kau berada di dalam pesawat appa mu menelpon ahjussi. Ia meminta agar kau tinggal di sini dan meminta tolong agar kau bisa senyaman mungkin tinggal di sini. Ia bahkan terdengar sangat panik saat ia memberitahu kami. Ia sangat menyayangi mu. Beritahu appa mu bahwa kau baik-baik saja” jelas Kyung Soo eomma.

“Gomawo ahjumma~” jawab In Ah dengan senyum di bibirnya.

“Yaaa pabo ! Cepatlah , nanti kau terlambat” seru Kyung Soo.

“Baiklah” sahut In Ah.

“Ahjussi terima kasih banyak. Maaf selama ini aku , eomma dan appa selalu merepotkan ahjussi” ucap In Ah lalu memeluk Kyung Soo appa.

“Jagalah dirimu baik-baik In Ah” balas Kyung Soo appa.

“Ahjumma , terima kasih kau mau menerimaku disini. Dan terimakasih sudah mengatakan sesuatu yang telah menyadarkan diriku bahwa appa sangat menyayangi ku” ucap In Ah , lalu memeluk Kyung Soo eomma.

“Sering-seringlah berkunjung ke sini” ucap ahjumma dan ia pun tersenyum.

In Ah melambaikan tangannya dan sambil memasuki taxi yang akan mengantarnya ke bandara.

“Kau itu lama sekali , dasar pabo !” ucap Kyung Soo yang di balas dengan cengiran oleh In Ah.

Kyung Soo menemani In Ah menuju bandara. Dalam perjalanan mereka berdua sibuk pada pikiran mereka masing-masing.

Sesampainya di Bandara , Kyung Soo menarik tangan In Ah yang membuat gadis tersebut berada dalam pelukan Kyung Soo yang hangat. Dapat In Ah rasakan debaran jantung Kyung Soo. Ia pun tesenyum.

“Tunggu aku , aku akan kembali ke sini” ucap In Ah dengan senyum terukir indah di wajahnya yang indah.

“Aku pasti akan merindukan mu” ucap Kyung Soo.

“Itu pasti. Aku juga akan sangat merindukan mu” ucap In Ah , ia lalu mencium lembut bibir Kyung Soo. Kemudian ia tersenyum.

“Pabo  ! saranghae” bisik In Ah di telinga Kyung Soo. Kyung Soo pun melepaskan pelukannya. Ia hanya tersenyum kearah In Ah.

In Ah pun berjalan menjauh , semakin jauh hingga akhirnya pesawat yang ia naiki lepas landas meninggalkan Korea.

Kyung Soo hanya tersenyum menatap pesawat yang dinaiki oleh In Ah yang semakin jauh.

“Shin In Ah pabo ! Nado saranghae” ucapnya lalu tersenyum.

 

Aku akan menunggumu kembali Shin In Ah. Teman masa kecil ku yang aku cintai…….Aku akan selalu ada di sisimu. Seperti yang yang dititpkan ibumu dalam suratnya. Saranghae….Pabo

 

 

–END–

 

 

NB : NO SILENT RIDER !!!! READ AND COMMENT

18 thoughts on “Pabo! Saranghae

    • Gomawo~~~ hehehehehe😀
      komen’a sangat membantu sekali , makasi juga udah mau jadi pembaca setia di wp ini ^^
      bingung mau comen apa itu maksudnya gara2 gak ngerti cerita’a ya ??? hahahahahah😀

  1. kalau dilihat-lihat D.O, dongho, sama song jongki wajarnya miriiippppppp banget, ntar aku copy dulu baru kommen lagi
    ok

  2. Sesuai janji, aku komen pas hari sabtu. Ceritanya bagus, trus masalah rating, aku agak shock karena aku belum 16 tahun. Kekeke. Mau nyaranin aja. Pas di antar POVnya itu spasinya di tambah biar gag bingung. It aja sih sarannya. Yg aku gag habis pikir emang DO bisa masak? Aku jamin kalau yg asli masak pasti gag enak *eh

    • Eviiitop!! D.O itu chef di exo =_=’
      Kalo masalah enaknya kagak usah ditanya dah wkwk
      mksudnya kagak usah ditanyak sm saya.. soalnya belum pernah nyobak juga

  3. ok deh , makasi komen’a evi~~~
    hahahaha , kan udah jdi kakak kelas , jadi bole2 aja
    ok deh ff slanjutnya bakalan ku tambhn spasinya , di tunggu ya
    bisa dong , mka’a D.O d blag eomma’a EXO

  4. iy nok , ni lagi mungutin uang arisan’a
    ok tan , lagi proses ^-^)b
    d tunggu aja ya !!!
    makasi udah mau baca & komen ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s